Park Chanyeol/Byun Baekhyun
The Sweetest Thing
Book III: Love
Souls do not have calendars or clocks,
nor do they understand the notion of time or distance.
They only know it feels right—
to be with one another.
Chapter 13: Souls
Tiga hari setelah lamaran dadakan di toilet apartemen mereka, Chanyeol mengajak Baekhyun pergi ke taman di dekat sekolah tempat mereka pertama kali bertemu saat kelas tujuh. Lelaki itu mendudukkan Baekhyun di ayunan, berlutut di hadapannya dan melamar Baekhyun sekali lagi.
"Byun Baekhyun, aku melamarmu sekali lagi di tempat yang menurutku sangat pantas dan berkesan karena tempat ini adalah tempat di mana aku pertama kali melihatmu. Kau duduk di sini, seperti ini, kelihatan indah sekali meskipun tinggimu hanya sedadaku—jangan protes, Rudolph!—dan pada saat itu aku tahu aku harus bersamamu selamanya atau aku akan mati. Tidak, itu ungkapan yang tepat dan tidak berlebihan jadi jangan menatapku seolah-olah aku ini baru saja memakan novel Brontë Sisters. Sst, diam saja dan dengarkan aku bicara, Rudolph.
Byun Baekhyun, aku cinta ketika kita berdebat mengenai temperature ruangan meskipun pada akhirnya aku secara suka rela mengalah padamu dan kau selalu jadi pemenang dalam setiap perdebatan. Aku cinta ketika kau mengeluarkan suara seperti bayi anjing ketika tidur. Itu menggemaskan sekali. Aku cinta ketika hidungmu berkerut ketika melihatku memakan ketimun atau es krim pisang seolah-olah kau sedang melihat orang gila. Aku cinta ketika setelah menghabiskan waktu seharian denganmu, bau tubuhmu menjadi seperti bau tubuhku. Aku cinta ketika kau menghina telingaku yang lebar ini tapi diam-diam menciumnya ketika aku sedang tidur.
Aku ingin kau tahu bahwa aku memintamu untuk menikah denganku bukan karena aku butuh seseorang untuk menemaniku atau mengurus keperluanku. Aku memintamu untuk menikah denganku karena aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri, menghabiskan waktuku denganmu bahkan sampai rambut kita putih dan wajahku kelihatan tidak menarik lagi dengan keriput dimana-mana. Kau tahu, kan, ketika kau menyadari bahwa kau ingin menghabiskan seluruh hidupmu dengan seseorang, kau ingin seluruh hidupmu dimulai sesegera mungkin. Byun Baekhyun, menikah denganku, ya? Harus bilang iya soalnya aku sudah capek-capek ngomong panjang begini padamu."
Bukannya menjawab iya, Baekhyun malah tertawa seperti orang gila. Tapi ketika Chanyeol menatapnya dengan pandangan takut, anak itu menangkup kedua pipi Chanyeol lalu mencium ujung hidungnya penuh afeksi.
"Manisnya. Beberapa bait tadi meniru kalimat Harry Burns untuk Sally Albright, ya? Aku suka."
Chanyeol mengomeli anak itu karena masih sempat-sempatnya bercanda disaat Chanyeol merasa seperti akan dihukum mati. Baekhyun sengaja belum menjawab iya. Tapi kemudian anak itu langsung menangis ketika Chanyeol mengeluarkan sebuah cincin lalu memasangkan cincin itu di jari manisnya—tanpa ijin, omong-omong padahal Baekhyun, kan, belum bilang apa-apa. Sambil menangis terisak-isak, Baekhyun menuduh Chanyeol tidak romantis tapi sebenarnya Chanyeol tahu itu tidak benar.
Anak itu tidak butuh bentuk lamaran yang romantis di sebuah restoran mahal. Ia membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya luar dalam dan mencintainya meskipun kadang-kadang tingkahnya menyebabkan orang lain sakit kepala.
"Jadi, untuk mengakhiri lamaran formal ini, kau harus menjawab iya dan menciumku."
Baekhyun melemparkan tubuhnya ke pelukan Chanyeol lalu memberikan satu kecupan polos di bibirnya.
"Seribu kali iya, giant," bisiknya penuh cinta. "Terima kasih ya sudah mau menonton film favoritku hanya untuk mengutip dialog favoritku dan mengubahnya menjadi sebuah lamaran."
Chanyeol membungkam omongan tidak penting Baekhyun dengan ciuman panjang penuh cinta dan baru melepaskan diri saat mereka berdua jatuh ke tanah dengan posisi Baekhyun di atas tubuh Chanyeol.
Di bawah langit biru bulan Juni yang pucat seperti linen, mereka berdua tertawa bersama seperti anak-anak yang mengira mereka tidak perlu tumbuh dewasa dan selalu merasa bahagia atas hal-hal kecil.
Segera setelah Baekhyun memiliki cincin di jari manisnya, ia dan Chanyeol datang ke rumah untuk secara resmi meminta ijin pada Yifan dan Junmyeon. Chanyeol duduk di sofa dengan posisi formal sambil menggenggam tangan Baekhyun. Begitu melihat cincin di jari Baekhyun, Yifan dan Junmyeon langsung bisa menebak apa yang akan Chanyeol katakan.
"Yifan hyung, Junmyeon hyung, aku datang ke sini untuk meminta ijin pada kalian untuk menikah dengan Baekhyun. Kalian adalah orang tua pengganti bagi Baekhyun dan aku tidak akan membawa Baekhyun pergi tanpa seijin kalian."
Junmyeon sudah menangis sejak menyadari ada cincin di jari Baekhyun. Ia menatap kedua anak laki-laki yang dulu masih setinggi perutnya dan sekarang sudah siap menjalani kehidupan mereka sendiri.
"Aku sudah bisa memprediksikan ini bahkan sejak kalian kelas tujuh. Mana mungkin aku tidak mengijinkan kalian berdua menikah. Tapi maaf ya aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis."
Yifan memeluk suaminya dan mencium pelipisnya sebagai bentuk dukungan sedangkan ia tersenyum pada kedua adiknya.
"Asal kau janji untuk selalu membuat adikku bahagia, maka tidak ada alasan untukku dan Junmyeon untuk melarang kalian menikah."
Chanyeol dan Baekhyun menangis sambil memeluk Yifan dan Junmyeon, berterima kasih untuk semua dukungan yang sudah mereka berikan.
Malam itu Baekhyun sengaja tidur di rumah bersama dengan Yifan, Junmyeon, Jongdae dan Sophia di satu ranjang yang sama sedangkan Chanyeol pulang ke rumah untuk membicarakan masalah pernikahan dengan keluarganya.
Saat Chanyeol dan Baekhyun memberitahu teman-temannya yang lain bahwa mereka akan segera menikah, Luhan langsung melemparkan bantal ke wajah Baekhyun dan menuduhnya mencuri start karena pernikahan Luhan dan Sehun baru bisa dilaksanakan tahun depan. Baekhyun menyumpahi tingkahnya yang kurang ajar dan berkata bahwa seharusnya Sehun mencari pasangan yang lebih sopan dari Luhan. Luhan yang sedang sangat sensitif karena pernikahannya ditunda langsung menangis sambil menggumamkan betapa takutnya ia jika sampai hal itu terjadi. Baekhyun yang merasa bersalah akhirnya ikut menangis sambil membujuk Luhan kalau yang dia bilang tadi cuma candaan.
Yang lain cuma menonton drama murahan mereka berdua sambil geleng-geleng kepala.
"Selamat, Yeol. Pasti rasanya lega sekali, ya?"
Chanyeol tersenyum pada Kyungsoo.
"Ya. Lega sekali. Terima kasih sudah berada di sisinya selama lima tahun belakangan ini, Soo."
"Kalian temanku. Tentu saja aku akan melakukan apapun untuk temanku. Tapi untungnya meskipun aku dan Jongin dulunya juga berteman, kami tidak sedramatis kalian."
Tiba-tiba Jongin muncul dari belakang Kyungsoo dan mencuri satu kecupan di pipinya.
"Itu benar sekali, Sayang."
Sehun mendengus. "Ew, berhenti bertingkah sok manis begitu, Jongin."
"Seperti kau tidak begitu saja dengan Luhan!" balas Jongin sengit.
Sebelum perdebatan tidak penting mereka semakin berlanjut, Kyungsoo akhirnya memotong di tengah-tengah.
"Jadi, kapan pernikahannya dilaksanakan?"
"Bulan depan. Di gereja dekat rumah Baekhyun."
Kyungsoo menghampiri Chanyeol lalu memeluknya sambil berkata bahwa ia bangga pada Chanyeol karena sudah membuat keputusan yang benar. Jongin dan Sehun juga memeluknya, memberitahu betapa lega mereka tidak perlu melihat Chanyeol dan Baekhyun menderita lagi. Luhan yang tiba-tiba muncul di depan Chanyeol, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap temannya dengan alis menukik.
"Dengar ya, kalau sampai kau pergi lagi atau melukai Baekhyun, aku nggak segan-segan menonjokmu!"
Chanyeol tersenyum. "Itu tidak akan terjadi, Lu. Jangan khawatir. Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkan Baekhyun. Kau sayang sekali padanya, iya, kan?"
"Tentu saja aku tahu itu tidak akan terjadi. Dan, tidak. Aku bilang begini bukan karena aku sayang pada Baekhyun. Tapi karena kelakuannya sudah cukup membuatku pusing!"
Tentu saja semua orang tahu semua itu cuma bualan. Baekhyun yang mendengar ucapan Luhan merasa tersentuh sehingga ia memeluk temannya dan bersungguh-sungguh mengatakan pada Luhan bahwa ia sayang padanya.
Baik Baekhyun maupun Chanyeol tidak menginginkan pernikahan yang ramai maupun mewah. Mereka hanya ingin pernikahan mereka dihadiri keluarga dan teman-teman terdekat saja. Gereja yang mereka gunakan untuk menikah tidak terlalu besar. Tapi ketika Baekhyun berjalan melewati altar dan melihat orang-orang yang ia cintai ada di sana untuk mendukungnya, ia merasa cukup dan bahagia.
Kemudian, ada Chanyeol.
Lelaki itu berdiri di samping pendeta, terlihat bersinar dan tersenyum lebar sekali. Ketika Yifan menyerahkan tangan adiknya ke Chanyeol, lelaki itu meraih tangan Baekhyun lalu membawanya untuk berdiri saling berhadapan sementara pendeta mulai mengucapkan bagiannya. Janji setia yang mereka ucapkan sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan jutaan kali oleh pasangan lainnya, meskipun Chanyeol dan Baekhyun tidak menyangka bahwa mereka berdua akan mengucapkan janji setia itu untuk satu sama lain.
Alunan wedding march tidak begitu mereka dengarkan ketika waktu tiba-tiba saja berjalan begitu lambat setelah kata 'aku bersedia' mereka ucapkan dengan nada menang. Setelah pendeta menyatakan mereka sah sebagai pasangan hidup, tangan Chanyeol yang lebar menyentuh pipi Baekhyun seolah-olah anak itu serapuh kelopak bunga mawar. Emosi di dalam matanya membuat Baekhyun tersentuh dan mata-matanya berkaca-kaca karena merasa dicintai.
Lalu, Chanyeol menciumnya. Rasanya seperti ciuman pertama mereka, lembut dan tidak peduli pada dunia karena mereka saling memiliki. Baekhyun menekan bibirnya di bibir Chanyeol, ada kebahagiaan mendalam ketika orang-orang bertepuk tangan sambil melempari mereka dengan bunga.
Ketika ciuman mereka akhirnya berakhir setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Chanyeol mencium ujung hidungnya penuh afeksi sambil menggumamkan kalimat magis yang sampai saat ini membuat Baekhyun terpesona.
"Aku mencintaimu, Baekhyun. Aku mencintaimu dengan seluruh diriku. Saat ini, dulu, dan nanti."
Baekhyun menarik leher wajah suaminya dengan lembut hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."
Baekhyun merasakan tubuhnya langsung menyerah ketika Chanyeol membimbingnya masuk ke dalam apartemen. Mereka bahkan belum sampai di kamar dan masih menggunakan jas pernikahan ketika tiba-tiba Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun, membuat suaminya memekik kaget namun reflek otomatis tubuhnya adalah mengaitkan kedua kakinya dipinggul Chanyeol dan memeluk lehernya erat-erat. Chanyeol tidak langsung menciumnya, ia hanya mendekap Baekhyun sambil menatap ke dalam matanya. Tatapan Chanyeol begitu lembut sehingga rasanya dapat menembus ke dalam jiwa Baekhyun yang terdalam dan anak itu menurunkan pandangan matanya karena malu.
"Baekhyun,"
"Y-ya?"
"Baekhyun," bisik Chanyeol lagi. Bibirnya tepat di atas bibir Baekhyun, napas mereka saling betabrakan. "Aku sangat ingin menciummu sekarang."
Baekhyun tertawa, suaranya berdengung di ruang tamu mereka. Anak itu mengelus rahang Chanyeol, kepalanya miring sedikit sementara matanya menatap Chanyeol dengan sorot main-main.
"Giant, kau serius meminta ijin dariku? Aku milikmu."
Chanyeol mengeluarkan geraman dari tenggorokan dan Baekhyun berjengit dipelukannya. Sebelum ia sempat bereaksi, bibir Chanyeol sudah menyentuh bibirnya, menciumnya dengan kekuatan yang sanggup melumpuhkan lutut Baekhyun. Bahkan hanya dengan bagaimana caranya mencium Baekhyun, anak itu tahu bahwa suaminya sedang mengklaimnya. Sisi posesif Chanyeol membuat Baekhyun merasa dicintai dan ia secara suka rela menyerahkan dirinya pada Chanyeol, sepenuhnya percaya pada lelaki itu.
Chanyeol membawa mereka masuk ke dalam kamar. Begitu pintu terbuka, aroma lavender yang tajam langsung menyerang indra penciuman Baekhyun dan ia secara tidak sadar mengerang di dalam mulut Chanyeol tepat ketika suaminya memperdalam ciuman mereka dan menggerakkan pinggulnya secara bersamaan.
Chanyeol merebahkan Baekhyun di atas ranjang dengan hati-hati, takut melukai anak itu atau membuatnya kesulitan bernapas. Ia berada di atas Baekhyun dan berhenti sebentar untuk menatap suaminya. Sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka memantulkan biasnya di wajah Baekhyun, membuat anak itu terlihat begitu indah dan memukau meskipun rambutnya berantakan dan napasnya terengah-engah akibat ciuman mereka.
"Rudolph,"
Baekhyun terkikik geli, sekarang sudah terbiasa dengan nama panggilan itu.
"Ya, giant?"
Chanyeol menyusuri rambut Baekhyun yang halus dengan jarinya, terpesona merasakan kelembutannya. Matanya yang besar menatap mata Baekhyun yang bersinar. Pada saat itu lah Chanyeol tahu bahwa ia telah menang.
Chanyeol mencium kening Baekhyun sementara jari-jarinya secara perlahan-lahan melepas kancing jas Baekhyun. Bibir dan tangannya bekerja bersamaan dan Baekhyun menahan napas ketika jari Chanyeol menyentuh kulitnya tanpa pembatas. Mereka sepakat untuk tidak melakukan seks sebelum pernikahan karena Chanyeol bilang ia menghormati Baekhyun dan ingin melakukannya diwaktu yang tepat. Sewaktu Chanyeol bicara begitu padanya sambil berlutut dan menaruh tangannya di kedua lutut Baekhyun, anak itu menangis dan baru berhenti setelah Chanyeol membujuknya untuk membeli es krim stoberi di Hongdae.
Bibir Chanyeol bergerak turun ke kedua kelopak matanya yang tertutup, di hidungnya yang memerah pada bagian ujung, di kedua tulang pipinya yang menonjol karena Baekhyun kehilangan banyak berat badan sebelum menikah sampai-sampai Chanyeol harus ngambeg dulu supaya anak itu berhenti diet, lalu turun ke dagu dan rahangnya. Ketika bibir Chanyeol bergerak naik ke bibir anak itu, Baekhyun sudah setengah telanjang dan ia berjengit merasakan udara dingin menyengat kulitnya.
"Baek, baby, kau percaya padaku?"
Baekhyun memerah mendengar panggilan baru itu dan ia mengangguk, tidak punya tempat untuk menyembunyikan wajahnya karena Chanyeol memblok semua aksesnya; kedua tangannya berada dileher Chanyeol sementara lelaki itu menyatukan kening keduanya untuk mencegah Baekhyun berpaling darinya.
Chanyeol menghela napas. Napasnya berhembus di wajah Baekhyun, hangat dan familiar. Perasaan hangat yang mengingatkan Baekhyun akan potongan kayu di perapian pada malam-malam dingin di bulan Desember.
"Aku mencintaimu, tidak tahu seberapa banyak. Mungkin lebih banyak dari yang bisa kubayangkan sehingga aku tidak dapat mengukurnya. Dan kuharap aku tidak akan pernah bisa mengukurnya supaya kau tahu bahwa cintaku padamu tidak terbatas. Aku tahu kita akan sering bertengkar karena hal-hal kecil dan mood swing-mu kadang-kadang membuatku pusing sekali, tapi aku tidak akan pernah mengeluh untuk yang satu itu. Aku mau lima puluh tahun lagi kita duduk berdua di ayunan tua di belakang rumah dan berkata 'kita berhasil melakukannya' dan merasa bangga sekali karena semua ungkapan cinta kita bukan sekedar omong kosong. Rudolph, bisakah kau melakukan satu hal untukku?"
Baekhyun tidak sadar dirinya sudah menangis ketika ia menjawab 'ya' dengan suara serak, nyaris tidak terdengar. Chanyeol menghapus air matanya sambil menatapnya dengan tatapan yang sama; penuh cinta dan kehormatan.
"Bisakah kau berjanji untuk tidak berhenti mencintaiku? Kalau kau berhenti melakukannya, nanti aku akan membujukmu dengan seember es krim atau kaos kaki baru yang aku rajut sendiri. Apapun, asalkan kau tetap mencintaiku."
Baekhyun tertawa sampai-sampai tubuhnya berguncang, namun air matanya semakin deras mengalir. Ia kemudian menangkup kedua pipi Chanyeol.
"Aku tahu nanti pasti tidak akan mudah. Pernikahan bukan hal yang mudah, tapi tidak pernah terlalu sulit juga. Giant, jika ada satu hal yang sangat ingin aku lakukan hingga menua nanti adalah mencintaimu dan terus bersamamu. Lima tahun sudah cukup untuk membuatku tidak mau lagi merasakan bagaimana dunia tanpamu. Kalau nanti kita sudah mulai tua dan melupakan hal-hal penting, aku akan mencari cara untuk selalu memastikan kau tahu bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Apapun yang terjadi. Tapi, janji ya kalau nanti aku sudah jelek dan tua, kau tidak boleh menunjuk-nunjuk ubanku."
Chanyeol tertawa. "Aku rasa rambut putih akan membuatmu kelihatan seksi."
Dengan itu, Chanyeol menyatukan bibir mereka dengan cara paling lembut dan menakjubkan yang belum pernah Baekhyun rasakan sebelumnya. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang meledak di hatinya, tapi rasanya sangat menyenangkan dan membuatnya luar biasa bahagia. Ketika udara terasa semakin panas, Baekhyun mendapati dirinya dan Chanyeol sudah sama-sama telanjang. Saat kulitnya yang sensitif bersentuhan dengan kulit Chanyeol, ia merasa tubuhnya seolah terbakar.
Tangan Chanyeol menyentuh setiap inci tubuhnya dengan sentuhan lembut, dengan tepat mengetahui titik sensitif suaminya, dan bibirnya yang semula menginvasi mulut Baekhyun bergerak turun menyapu seluruh tubuhnya di bagian tertentu yang membuat Baekhyun mengeluarkan desahan paling merdu yang pernah Chanyeol dengar. Baekhyun akan mengeluarkan suara yang sama setiap kali Chanyeol menandai tubuhnya dan jeritannya terdengar untuk pertama kali ketika Chanyeol menandainya di bagian dalam pahanya.
"Chanyeol!"
Baekhyun menjerit ketika Chanyeol mengaitkan satu kakinya dipinggulnya sementara tangannya meremas bokong Baekhyun, membuat wajah anak itu memerah.
"Baby, tolong suruh aku berhenti jika kau kesakitan. Okay?"
Baekhyun mengangguk, tidak mempercayai suaranya untuk menjawab. Chanyeol melebarkan kedua kakinya, memposisikan dirinya di antara Baekhyun. Ketika sebuah jari memasuki dirinya, Baekhyun menahan napasnya tapi tidak melawan. Chanyeol bergerak begitu hati-hati dan secara konstan menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman lembut sementara jari keduanya masuk dan mulai bekerja di bawah sana. Saat akhirnya jari ke tiga Chanyeol memasuki Baekhyun, anak itu melengkungkan tubuh dan mengeluarkan desahan panjang yang membuat sekujur tubuh Chanyeol merinding.
"Cha-Chanyeol! A-ah!"
Chanyeol melengkungkan jarinya yang berada di dalam Baekhyun dan menyentuh sesuatu yang membuat suaminya melemparkan kepalanya ke belakang dengan mata tertutup rapat dan bibir terbuka meloloskan sebuah desahan penuh kenikmatan. Chanyeol melakukannya berkali-kali, menyentuh bagian paling sensitif di dalam sana sampai suaminya mengeluarkan desahan panjang menjemput pelepasannya.
Baekhyun terengah-engah dengan wajah merah ketika Chanyeol memberikan kecupan dibibirnya dan tersenyum padanya.
"Baekhyun, kau cantik sekali. Aku mencintaimu."
Dengan itu, Chanyeol secara perlahan-lahan memasuki Baekhyun. Prosesnya terjadi begitu lambat dan Baekhyun merasakannya dengan begitu jelas. Ia merasa tubuhnya terbelah menjadi dua bagian ketika Chanyeol akhirnya berada di dalamnya, memenuhinya. Baekhyun menyambut rasa sakit itu, menerima Chanyeol sepenuhnya dan suaminya tahu kapan Baekhyun siap untuknya. Jadi ketika anak itu mengeratkan pelukannya di leher Chanyeol, mereka secara konstan bergerak bersama.
Tiba-tiba saja semua tampak kabur. Baekhyun tidak begitu ingat pola langit-langit kamar atau aroma lavender yang memenuhi udara. Yang ia ingat adalah bagaimana dirinya menyatu dengan Chanyeol dengan cara yang membuat Baekhyun diam-diam menangis karena merasa bahagia. Aroma tubuh mereka yang menyatu membuat anak itu nyaris pusing karena terlalu memabukkan. Samar-samar, kejadian-kejadian di masa lalu muncul di kepala Baekhyun saat Chanyeol mulai mempercepat gerakannya, nyaris membuat Baekhyun tersedak.
Baekhyun ingat saat Chanyeol menggendongnya ke rumah karena Baekhyun tertidur di dalam bus, ingat padang rumput di dekat rumah yang menjadi tempat pelarian mereka saat musim panas, perdebatan tidak penting mereka di toko es krim mengenai es krim rasa apa yang paling enak (Baekhyun selalu menang, tidak diragukan lagi), buku-buku pelajaran yang tersebar di lantai saat mereka mengerjakan tugas bersama, convers kembar pertama miliki mereka berdua yang Baekhyun simpan di dalam kotak rahasia, juga seluruh momen yang mereka bagi.
Fokus Baekhyun terpecah dan ia menjerit ketika Chanyeol membuatnya melihat surga.
"Cha-Chanyeol! Chanyeol!"
Chanyeol mengangkatnya ke pangkuannya, memeluk pinggang Baekhyun dengan posesif sementara mulutnya bekerja di dada Baekhyun, memberikan kenikmatan bertubi-tubi dan Baekhyun nyaris tidak dapat menahannya lagi.
"B-Baek!" Chanyeol mengerang, nyaris seperti menggeram ketika merasakan Baekhyun melingkupinya dengan keketatan yang menggetarkan.
Beberapa dorongan dan mereka meledak bersama setelah mencapai puncak tertinggi.
Malam itu Chanyeol dan Baekhyun tidur bersama setelah membisikkan ungkapan cinta untuk satu sama lain dan baru bangun pada saat jam makan siang.
TBC
Cuma ini satu-satunya chapter terpanjang di The Sweetest Thing. LOL.
Kurang dua chapter lagi, ya. dadaaaaaah~~
/nangis pelangi/
