Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Malfoy manor terlihat sangat ceria. Wajah semua orang bersinar, bahkan wajah kaku Severus dan Lucius sedikit melembut. Tentu saja terkecuali wajah seorang pria berambut keriting dan bermata almond yang terus mengeluarkan aura membunuh pada seorang remaja pirang.
Evan terus melotot pada sang pewaris Malfoy, ah.. Maksudnya pada sang pewaris kegelapan dengan aura suram. Kalau saja ia tidak mengingat rengekan anak kesayangannya, ia pasti sudah membantai habis remaja didepannya ini.
Draco menghembuskan nafasnya perlahan, berpikir bagaimana menemui kekasihnya tanpa harus berhadapan dengan ayah kekasihnya. Belum lagi tentang surat menyebalkan para sahabatnya, dan bagaimana cara menghindar dari kedua dark lord yang saat ini sibuk membahas cara memasuki Hogwarts.
"Huft... Dingin sekali diluar. Morning semua."
Keempat pasang mata menoleh. Draco, Evan, dan kedua Dark Lord kini berkumpul di ruang tengah menunggu sadarnya Daniel. Karena jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, mereka hanya bisa menunggu dan mencicipi teh pagi.
"Ms. Archilles.."
"Panggil aku Ivory, blondy. Bagaimanapun aku kakak Daniel." Sela Ivory dingin. Ia segera berlalu diikuti Luna menuju kamar Daniel.
"Jangan diambil hati, dia memang seperti itu. Bagaimana kabarmu dragon?" Tanya Arlo dengan seringai kecil. Lengan Arlo merangkul pundak Draco main-main.
"Mmn..."
"Sakit?"
Daniel menggeleng. "Gatal."
Narcissa tersenyum kecil, kembali membuka lilitan perban dileher Daniel dengan hati-hati. "Ivo belum datang, Cissa?" Tanya Kirke yang baru datang.
"Belum madam. Kupikir sebentar lagi." Tepat setelah lady Malfoy berucap, pintu terketuk pelan.
Ceklek.
"Maaf terlambat, madam. Aku harus mengurus Luna dulu." Sosok tinggi Ivory memasuki kamar diikuti Luna yang melambai riang pada Daniel.
Sebenarnya Daniel sedikit canggung pada gadis itu, karena selalu menatap Daniel terlalu intens.
"Periksa dia sebentar." Ivo mengangguk lalu duduk dikasur, mengambil telapak tangan Daniel dan mengeluarkan aura perak yang segera menyelimuti tubuh kecil itu.
Sementara Ivory memeriksa Daniel, Narcissa dibantu Luna menggelar berbagai macam selimut bulu dilantai atas arahan Kirke.
Gelar selimut, tata bantal, susun meja kecil, rapikan sedikit lagi pot tanaman yang tersebar. Sempurna. Tunggu, ada yang kurang? Nyonya Malfoy itu mengerutkan kening, melihat sekeliling apa yang kurang. "Tentu saja! Perapiannya belum menyala, pantas agak dingin disini."
Tar!
"Biar dobby nyalakan, Mrs."
Sekali jentikan jari, perapian berkobar pelan. Secara perlahan menghangatkan ruangan. "Ada apa kemari, dobby?"
"Mr. Draco menyuruh dobby bertanya, Mrs. Bagaimana keadaan kekasih kecilnya sekarang? Mr. Draco tidak dapat datang sekarang karena harus mengikuti rencana dari kedua dark lord, Mrs." Jawab Dobby ceria.
"Dia baik-baik saja. Untuk sekarang selama tiga hari, ia hanya akan menyerap aura magis karena penyesuain tubuhnya dengan aura Draco." Jelas Ivory setelah ia selesai memeriksa Daniel.
Kirke dan Narcissa tersenyum kecil. Itu artinya tidak ada penolakan dari wujud Elf nya terhadap wujud Dragon Draco.
Kedua nyonya itu pun saling bergosip ditemani cemilan ringan dan teh yang disuguhkan dobby pada mereka. Peri rumah kecil itu terus mengangguk antusias pada perkataan kedua nyonya tersebut. Ivory dengan tenang mengawasi Luna yang mengobrol berdua dengan Daniel.
Suasana terasa hangat, tapi tidak dengan hati Daniel yang terlalu tenang. Bagai air laut yang tenang sebelum badai datang. Daniel hampir tidak bisa menahan tangis saat telapak tangan dingin Ivory meremas pundaknya pelan. "Semua akan baik-baik saja.."
'I'm sorry Dray...'
Sorakan berbagai pendukung terdengar dari berbagai arah. Daniel menatap takjub sekelilingnya. Ia kini bersama keluarga Malfoy tengah berada dimana Kejuaraan Quidditch berlangsung. Sebenarnya Evan ingin ikut, hanya saja atas beberapa kata kecaman dari Kirke dan dengusan sinis para Dark Lord membuatnya harus tetap berada di Rosier Manor.
"Lucius.."
"Arthur.."
Melalui celah lengan Narcissa, Daniel mengintip. Ah, keluarga Weasley dengan Neville Longbottom ternyata.
"Apa yang kau lakukan, hm..?" Daniel mendongak, menatap kearah Lady Malfoy yang tersenyum geli dengan tingkah pasangan anaknya ini.
"Hehe aku suka baumu, mum. Wangi sekali.."
Narcissa memandang anaknya lalu terkekeh. Ia membawa Daniel kembali kearah Draco sebelum membalas sapaan sang nyonya Weasley, Molly. Kini tinggal tersisa anak-anaknya, dan Draco terlalu malas untuk peduli. Ia lebih suka memainkan jemari lentik kekasihnya sembari melihat-lihat.
"Kau tidak diganggu mereka lagi kan, Ron?"
"Uh, tidak Percy."
Si kembar diam-diam mendengus, mengabaikan perkataan saudaranya, mereka dengan riang memanggil nama Daniel.
"Hai Dan.."
Daniel menoleh, melihat si kembar yang melambai padanya, ia balas tersenyum tipis. Disebelah sikembar, Ron yang memang sedang menatap Daniel segera terpesona. Baru kali ini ia melihat Daniel tersenyum, walau tipis.
'Manis.' Batin Ron kagum.
Tiba-tiba saja pandangan Ron tertutup. Bayangan tubuh kecil Daniel segera tergantikan oleh tubuh seorang yang lebih besar, dengan pandangan tajam dan dingin yang diarahkan padanya.
Gulp.
'Semoga aku masih hidup.'
Dan tatapan tajam itu masih terasa oleh Ron walau Draco sudah lama pergi dengan keluarganya, plus Daniel.
"Morsmorde.."
"Itu Death Eaters!!"
BLARR!!!
Pandora
A Drarry Fanfiction
Harry Potter belong to J.K Rowling
Pandora belong to Racquel
BL, Typo(s), Dark but not evil
Dragon!Sage!Draco x Dark!Moon Elves!Sub!Harry
Draco Malfoy x Harry Potter
slight Luna Lovegood x OC
DON'T LIKE DON'T READ!!
Enjoying :)
Sepasang mata abu-abu dingin itu melirik acuh pada antusiasme para siswa baru Hogwarts. Ia dan keempat sahabatnya melihat dari koridor kedua sembari menunggu kekasihnya yang masih berada di dungeon bersama ayah baptisnya.
Selepas acaranya pada natal tahun lalu, kini Draco benar-benar dipandang sang pewaris oleh anak-anak asrama slytherine. Ini juga membuat beberapa murid patah hati karena Draco telah mengumumkan pernikahannya dengan Daniel dalam status creatures.
"Dray, menunggu lama?" Sebuah suara manis menggetarkan hati pangeran Slytherine itu. Menoleh pelan, Draco menemukan kekasihnya berjalan beriringan dengan ayah baptisnya, Severus.
"Bagaimana, Sev?" Tanya Draco pada Severus. Membiarkan Daniel memeluk lengannya sambil mengobrol riang dengan sahabat-sahabatnya.
"Tidak ada masalah." Draco mengangguk paham.
Mereka bertujuh pun segera berjalan menuju aula besar. Dengan Daniel yang terus bergelayut pada Severus didepan, dibelakang mereka terdapat Draco dan Blaise yang entah membahas apa dan terakhir Pansy, Daphne, dan Theo yang sibuk membahas masalah produk kecantikan baru asal Jepang yang dijual secara diam-diam di Hogwarts oleh seorang anak Hufflepuff, Cho Chang.
"Terkadang aku suka berpikir, melihat Daniel dan uncle Severus berdua, terlihat seperti ayah dan anak." Bisik Blaise pada Draco tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok SevRry didepan.
"Mereka terlihat imut." Balas Draco diancungi jempol oleh pemuda Itali itu.
Yah, Draco juga menyukai saat dimana kekasihnya bermanja pada ayah baptisnya. Kesannya manis dan membuat hatinya tenang. Jika Evan ayah yang konyol dan tegas, Severus adalah ayah yang dingin namun sangat lembut. Draco hampir tidak mendengar kata tidak dari Severus saat Daniel meminta sesuatu. Hmp, kadang membuat jengkel sendiri.
"Kita berpisah disini. Draco, jangan lupa malam ini." Ucap Severus datar. Tangannya mengusap pelan rambut Daniel sebelum pergi berputar, menuju pintu khusus guru.
Mereka pun beriringan memasuki aula, mengacuhkan bising yang terjadi. Posisinya kini Draco dengan Daniel, Pansy dan Daphne, serta Blaise dan Theo.
"Entah aku yang merasa atau memang semakin hari, para ular itu akan menunduk hormat pada kelompok ferret itu, 'mione? Neville?"
Gadis dengan rambut bergelombang panjang yang sedang membaca Daily Prophet dengan judul 'Death Eaters beraksi dalam kejuaraan Quidditch' itu melirik malas, "Biarkan mereka Ron. Kau tidak kapok dikerjai mereka apa?"
"Tsk, aku hanya bertanya." Jawab Ron sebal, ia menopang dagu sambil menatap tidak minat pada acara seleksi didepan.
"Ngomong-ngomong, aku masih tidak paham apa maksud ayahmu tentang tahun ini akan menjadi menarik, Ron." Ucap Neville tiba-tiba, membuat Ron dan Hermione saling berpandangan lalu mengangkat bahu bersama, tidak tahu.
"Tunggu, bukankah itu Alastar Moody?"
"Siapa dia?"
"Dia mantan auror terhebat pada masanya. Hampir sebagian dari penghuni Azkaban hasil tangkapannya."
"Apa yang ia lakukan disini?"
"Jangan-jangan karena penyerangan kemarin malam..?"
Bisik-bisik dari asrama tetangga, Hufflepuff, sampai ketelinga golden trio. Mereka serempak melihat ke deretan meja guru, dimana mereka melihat seorang lelaki dengan satu mata yang terus berputar aneh.
"Baiklah anak-anak. Tahun ini, Hogwarts menjadi tuan rumah kehormatan pada acara Turnamen Triwizard. Mengesampingkan apa yang telah terjadi pada kejuaraan Quidditch kemarin malam, Hogwarts secara khusus mengundang Alastar Moody sebagai pengajar di Hogwarts pada mata pelajaran DADA. Sekaligus pengawas jalannya turnamen. Dan untuk itu, dua sekolah besar lain akan bergabung selama setahun bersama kita."
Pada saat itu, Flint dengan tergopoh memasuki aula sembari menenteng sebuah piala tua besar. Dengan hati-hati ia meletakkan piala tersebut didepan podium.
"Inilah dia, Akademi Sihir Beauxbatons pimpinan Madame Maxime."
Suara siulan memenuhi langit-langit aula begitu segerombolan gadis-gadis cantik jelita memasuki aula dengan gaya khas dan melakukan sedikit tarian. Para remaja laki-laki langsung bergairah dan bertingkah konyol. Seperti Ron yang saat ini melongo dengan mulut terbuka lebar, membuat Hermione berdesis jijik karena Ron masih mengunyah ayam tadi.
"Selanjutnya Institut Durmstrang yang dipimpin oleh Igor Karkaroff."
Kali ini para gadis menjerit kencang tak kala kumpulan para lelaki gagah memasuki aula, jubah merah mereka berkibar pelan sesuai langkah kaki. Bahkan mereka semakin menjerit kencang saat melihat salah satu pemain Quidditch nasional Bulgaria berada disini, Victor Krum berjalan berdampingan dengan Igor.
Para murid Beauxbatons dan Dumstrang segera berdiri disisi Ravenclaw dan Slytherine yang dengan otomatis tersedia meja dan kursi panjang untuk mereka.
"Jadi, ini yang dinamakan hierarki Slytherine, huh?"
"Well, hai juga untukmu Victor."
Victor Krum terkekeh mendengar nada malas dari Daphne. Pemuda Bulgaria itu duduk disebelah Arlo yang menyengir lebar.
"Hey bung, jika aku tidak ingat kalau kau juga murid disini aku akan menyeretmu berjalan bersamaku tadi."
"Aku sudah lulus dari sana, man." Balas Arlo sambil terbahak.
"Apa kabarmu, Dan.. Kau semakin menawan." Goda Victor pada Daniel.
Baru saja Daniel akan menjawab, sebuah suara dingin menghentikannya. "Berani menyentuhnya walau seujung kukumu Vic, akan kulempar kau ketengah sarang Gorgon milik Pansy."
"Hey!"
Para murid tahun pertama dan kedua menatap kagum ditengah meja panjang Slytherine. Dimana Victor Krum bisa terbahak dan berbincang santai dengan Draco cs. Sedangkan para murid tahun ketiga keatas menatap iri, terkecuali asrama Ravenclaw tentu saja.
"Dengan ini, Turnamen Triwizard dimulai."
Wosshh
Begitu Dumbledore selesai bicara, api biru berkobar dari dalam piala. Menuai seruan ooh atau woahh dari para murid.
"Piala ini memiliki mantraku dimana hanya mereka yang berusia 17 tahun yang dapat memasukkan nama mereka kedalam piala. Jika kalian yang belum berusia 17 tahun berani mencoba, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Mr. Alastor Moody akan mengawasi kalian."
Suara antusias dan ribut memenuhi gendang telinga Daniel, membuat remaja berambut keriting itu memijat kepalanya pelan.
"Sakit?"
"Mmn, pusing. Sepertinya aku butuh istirahat."
"Bagaimana dengan makan malam dulu?"
"C'mon Pans, makan malam bisa diantar kekamarnya."
"Ck. Aku hanya bertanya Theo idiot!"
"Apa?!"
"Hentikan! Kalian membuat keadaan Daniel semakin buruk. Bawa Daniel kembali, Dray. Aku dan Blaise akan menangani dua idiot ini. Makan malam kalian akan diantarkan kekamar."
Draco mengangguk pelan, dengan lembut diangkatnya tubuh lemas Daniel ala bridal. Mengacuhkan adu mulut antara Pansy dan Theo dengan kata sarkas Daphne. Mereka kini sedang berada diaula besar. Awalnya Daniel ingin melihat bagaimana anak-anak lain memasukkan nama mereka kedalam piala, lama-kelamaan mereka bosan dan Daniel sakit.
"Saksikanlah! Pertunjukkan spektakuler dari kembar Weasley. Dengan ramuan ajaib ini, kami akan menembus lingkaran umur kepala sekolah!"
Mereka berdua keluar dari aula tepat pada si kembar Weasley mencoba trik konyol. Juga melewatkan sebuah bola mata yang terus berputar, menatap mereka dengan tajam dan aneh.
"Bagaimana?"
Daniel memijat kepalanya sambil mengangguk, "Lumayan. Kau tidak makan?"
"Tidak." Draco menatap Daniel intens. Ia berjongkok disebelah ranjang sambil bertopang dagu.
Daniel yang merasakan sebuah tatapan yang diarahkan padanya secara terus menerus akhirnya menoleh. Draco masih setia menatap, Daniel akhirnya tersenyum lembut. "Ada apa hm?"
"Hmm, hanya berpikir."
"Tentang apa?"
"Aku mengerti kalau kita baru diperbolehkan bonding saat sudah 15 tahun. Tapi aku sangat ingin menciummu sekarang."
"Eh?"
Kedip kedip, kemudian..
Blushh. Daniel memerah.
"A-apa yang kau katakan.."
Melihat gerakan gugup kekasihnya, kilau mata Draco semakin tajam. Ia mencondongkan tubuhnya kearah Daniel. Sebelah tangannya mendukung tubuhnya agar tidak menimpa tubuh kecil itu, sedang yang lain mengelus lembut pipi merah Daniel. "Tidak boleh?"
"Uuh..." Wajah Daniel semakin memerah. Wajahmu terlalu dekat Draco!
Draco semakin mendekat, dekat, dan dekat. Daniel hanya bisa pasrah dan menutup matanya, tatapan tajam Draco membuatnya semakin malu.
Sedikit lagi.. Dan...
Tar!
"Dobby membawakan makan malam untuk Mr. Draco dan Mr. Daniel, sir."
"Sir?"
"Ah.. Ahahahahaha, letakkan disana saja Dobby, kau boleh pergi."
Peri rumah kecil itu dengan bingung meletakkan makanan dimeja. "Tapi Mr. Daniel, Mr. Draco.."
"Tidak. Dia tidak apa-apa.."
Mau tidak mau peri rumah kecil itu mengangguk patuh. Walau ia bingung luar biasa dengan tingkah tuannya yang dibekap dengan bantal oleh kekasih tuannya.
Tar!
Duh! Mati aku..
Tarik nafas.. Hembuskan.. Tarik nafas.. Grap!
"Mau sampai kapan wajahku dibekap?"
Daddy, tolong Danieelll!!
"Hatchiu!!"
Tiga kepala menoleh.
"Menjijikkan, Evan. Tidak sopan."
"Bukan salahku, Kirke. Ada yang membicarakanku sepertinya."
Kirke mendengus jijik lalu kembali melihat kartunya.
"Ada yang punya nomor sembilan?"
Kedip, nguap, kucek mata, kedip lagi. Jeritan gemas tertahan dan desahan menahan diri membuat alis Draco berkedut kesal. Pangeran Slytherine itu terus menerus menebar aura mematikan, tapi mereka semua telah teralihkan oleh tingkah manis dari remaja yang sedang menyender didada Draco itu.
"Berhenti menebar aura berbahaya itu Dray. Kau membuatku panas!" Hardik Pansy jengah, dia juga dominan disini. Jika Draco terus menebar aura bermusuhan begitu, lama-lama ia yang akan menerima tantangan Draco.
"Pengendalian dirimu kurang bagus, girl. Blaise, lain kali ajarkan ia dengan benar."
Pemuda yang namanya disebutkan oleh Daphne hanya mendengus tidak perduli, ia lebih suka memejamkan mata dan memeluk pinggang kekasihnya.
"Itu karena ia belum memiliki mate, Daph. Makanya ia lebih sensitif terhadap dominan lain." Balas Theo dengan seringai.
"Sialan kalian berdua! Daphne juga belum memiliki mate!"
"Jika kau lupa Ms. Pansy Parkinsons. Aku bukan makhluk creatures, aku hanya seorang alchemist biasa. Dan tidak, aku memiliki kekasih." Ucap Daphne angkuh. Gadis itu sengaja mengibaskan rambut pirangnya dan membusungkan dadanya bangga.
Blaise, Theo, dan Daphne terbahak melihat raut murka diwajah Pansy. Walau dimata anak asrama lain mereka hanya terkekeh kecil.
"Baiklah. Selamat malam anak-anak."
Suasana seketika hening ketika kepala sekolah aka Albus Dumbledore bangkit dan berdiri didepan podium.
"Seperti yang kita tau, beberapa hari yang lalu pendaftaran turnamen telah dibuka. Dan sekarang waktu pendaftaran telah habis, dan malam ini adalah malam penentuan. Hanya akan ada tiga pemenang yang akan menjadi delegasi turnamen yang akan berjalan selama setahun kedepan. Bagi yang namanya belum terpilih, jangan berkecil hati. Temanmu yang terpilih akan mewakili kalian."
Albus berjalan kedepan beberapa langkah dan melihat sekeliling, sedikit menatap kearah asrama Slytherine dengan kilat aneh sebelum kembali membuka mulutnya.
"Delegasi pertama, dari Beauxbatons adalah..."
Woshhh
Api berkobar, memuntahkan sepercik perkamen yang terbakar. Kelompok Draco cs bahkan sudah mulai bosan dan sibuk mengobrol satu sama lain dengan suara rendah. Draco dengan santai mengelus kepala Daniel yang terletak di pahanya. Beberapa murid tahun kelima keatas Slytherine tak lupa ikut dalam percakapan.
"Baiklah. Ketiga pemenang sudah terpilih. Kini saatnya..."
Woosshhh...
Albus terdiam, menatap kearah perkamen yang melayang-layang dengan pandangan kosong. Kenapa ini? Dengan sekali sabet, jemarinya telah menangkap perkamen tersebut. Seluruh aula terdiam, menunggu dengan bingung apa yang terjadi. Dari meja guru, Severus dan Remus sudah saling berpandangan cemas.
Dan sebuah nama yang keluar dari mulut Albus membuat kedua professor itu terbelalak. Juga membuat gempar beberapa anak dengan koneksi tinggi.
"Harry Potter?"
Hahahahaha, siapa yang masih nunggu ini? Muah banget dah wkwk.. Akhirnya, bayanganku semakin dekat.. Uuuh, beberapa part lagi bakal ada adegan yang buat blink-blink. Muehehehe.. Ada typo ga btw? Ra pake hp sih, jadi kadang walau uda diperbaiki berapa banyak kali juga pasti muncul :(
Sampai jumpa Part 13
