haii haaiii, saatnya menjawab review kaliaaan, aku... aku makin cinta sama kaliaaan XD review kalian panjang-panjang sekaliii, itu membuatku makin semangat loh XD

Sindi 'Kucing Pink: kalau untuk masalah ketauan ortu itu pasti #iya loh spoiler lagi XD

riestiyani aurora: aamiin, sayangnya sampai sekarang pelakunya belom ketangkep, polisi lelet nanganinnya T_T

Hikari Meiko EunJo: iyaa, lagi marak2nya, para kaum hawa hati-hati yaah, bawa semprotan merica kalo kemana-mana, kayak aku XD

Sabaku no Uzumaki: iyaa, aku juga jatuh cinta sendiri sama karakter sai disini... oh tenang, Sai bakalan dapet kok pasangan yang ngertiin dia nanti ;)

Naomi azurania belle: Sai nanti bahagia kok :) dijamin happy ending XD

uchiharuno phorepeerr : hiks... aku terharu... makasih yah, ucapan kamu bermanfaat banget, ngga bohong loh :), untuk apdet tiap hari kayak dulu aku masih belom bisa nih, soalnya masih harus ngurus ke polisi, besok aja harus nemenin kakak bikin berita acara lagi T_T, maaf yaah...

Bluremi: makasih yah... and yup! Sakura itu first love nya sai XD

Animea Lover Ya-ha : romancenya disini ga terlalu banyak untuk SasuSaku, chapter ini dan chapter depan mungkin banyak SaiSakuSasu

FhYyLvRhYy ELF: XD, ini... sakura disini udah mulai bisa ngomong XD, hhmm, adegan lemon? XD~ aku minta tolong temenku dulu yah buatinnya, mau apa ngga dia XD, usul ditampung! siip!

Ai Kireina Maharanii: kyaaa, ternyata kita sama, suka ber fangirling ria sama karakter yang seseorang bikin XD

Ren - Kirei Azura: ini sudah di apdeet, maaf yah kalau lamaa T_T

Eun Jin Tsubaki-san: iyaah, enak jadi sakura disini tapi ngga enaknya bisu XD

Lucifer Montediesberg: whooaaa, kalo udah publish PM aku aja, nanti pasti aku baca and review kok XD

Your Voice

Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, tragedy/hurt/comfort

Rated : T – M (kekerasan, narkoba dan bahasa, no lemon)

Sasuke terdiam.

Bagaimana bisa, Sai mempunyai banyak lukisan Sakura begini banyak?

Dia merasa kalah.

Dia merasa Sai mengalahkan perasaannya pada Sakura.

Dan Sasuke… tidak suka itu.

Sasuke tidak mau ada orang lain yang mengalahkan rasa cintanya pada Sakura, siapapun itu.

Dikepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia merobek-robek lukisan itu, konyol bukan? Cemburu pada secarcik kertas, tapi Sasuke adalah laki-laki yang bisa menghargai karya orang, makanya Sasuke hanya…

BRAAAK

"Heeii! Apa yang kau lakukan!" tegur Ino saat Sasuke menendang kanvas itu.

Sasuke tidak menjawab teguran Ino, dia pergi keluar meninggalkan apartemen itu, sebelum dia benar-benar pergi, Sasuke mangambil satu gambar yang tergeletak di lantai.

Saat Sasuke pergi, Naruto dan Hinata hanya saling pandang.

"Maafkan sikap Sasuke yah," ucap Hinata sopan.

"Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, tapi dia! Si Tuan Muda itu!" ujar Ino.

"Si Sasuke itu…" Shikamaru berucap sambil menyalakan rokoknya, "Menyukai Sakura kami yah?"

"Hah? Mana mungkin, Sakura kan sudah menjadi adiknya," sangkal Hinata.

"Tidak… Hinata," Naruto memotong, "Bisa jadi, mereka tidak ada hubungan darah, coba pikirkan kebelakang, dulu Sasuke begitu ketus pada Sakura, namun akhir-akhir ini perlakuannya berubah."

"Dia juga lebih lembut memandang Sakura," sambung Ino.

"Aku sih sama sekali tidak masalah, asalkan Sasuke tidak berbuat hal bodoh seperti Kabuto dulu, hanya saja… status mereka sekarang sudah tidak pantas untuk menjalani hubungan romantis, mereka harus ingat moral," kata Shikamaru.

"Dan juga," Naruto berjalan mengambil salah satu lukisan Sai, "Apa Sasuke bisa menang dari Sai? Aku sih sebagai Sasuke mendukungnya, kalau dia benar-benar menyukai Sakura."

"Kau gila yah, ingat moral! Moral!" ucap Ino menegaskan.

"Tapi pada dasarnya kan mereka tidak ada hubungan darah!" Naruto membela Sasuke.

"Tetap saja, status mereka sekarang adalah keluarga!" balas Ino.

"Tidak ada gunanya berdebat di sini, lebih baik kita bereskan barang-barang yang sudah berantakan ini, lalu keluar dari sini," ucap Hinata.

"Dia benar," sambung Shikamaru.

~Your Voice~

Drap drap drap

Langkah berat yang tercipta di lorong rumah kediaman Uchiha membuat para pelayan membungkukkan badannya ketika melihat salah satu tuan muda mereka berjalan dengan raut wajah yang kesal. Dinaiki tangga menuju kamar Sakura, dan dibuka pintu itu dengan kencang.

Terlihat ada Sakura yang masih terbaring namun tidak tertidur, Sasuke menghampiri adik sekaligus kekasihnya itu.

"Apa maksudnya ini?" tanya Sasuke sambil memperlihatkan kertas bergambar wajah Sakura.

Wajah Sakura yang terlihat sedang tersenyum bahagia.

"Kau tahu kan kalau Sai diam-diam melukis wajahmu? Kau tahu semua ini dari awal kan!" bentak Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi panic, memang Saura tidak tahu apa-apa tentang lukisan itu, Sakura sendiri juga kaget, kenapa Sai bisa melukisnya begitu? Padahal seingatnya Sai tidak pernah memintanya menjadi model lukis.

Karena tahu Sasuke akan marah, Sakura menggenggam tangan Sasuke dan menatap onyx itu dengan tatapan serius, Sakura menuliskan sesuatu di telapak tangan Sasuke.

Aku tidak tahu apa-apa tentang lukisan ini!

"Benar kau tidak tahu? Kau tidak sedang bersandiwara kan? Kau tidak akan berpaling pada Sai kan! Kau-"

Sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Sakura mencium bibir Sasuke, dan itu membuat Sasuke sedikit tenang, dengan tindakan, Sakura menunjukkan pada kakaknya itu bahwa hanya Sasukelah yang dia cintai.

"Kau tahu kan… aku sangat mencintaimu," nada Sasuke melemah, kini laki-laki itu memijit leher belakang Sakura dengan lembut sambil menempelkan kening masing-masing.

Sakura tersenyum, dan Sasuke pun kembali melanjutkan ciumannya.

Ciuman kali ini sangat lembut, dan tahap ciuman mereka juga sudah meningkat, saat Sasuke meminta Sakura untuk membuka mulutnya, Sakura mengizinkan lidah Sasuke masuk untuk berdansa dengan lidahnya sendiri.

Sasuke menghentikan kegiatannya, sambil tersenyum Sasuke berkata, "Cukup sampai tahap ini untuk hari ini, selanjutnya… aku tidak tahu bisa mengontrolnya atau tidak."

Seminggu berlalu dengan cepat, hari ini adalah hari dimana Sai akan tiba dari urusan melukisnya, dan hari ini juga lah Sasuke merasa sangat was-was, apa yang akan disampaikan oleh Sai nanti? Akankah Sakura berubah pikiran setelah Sai membiayai operasinya Sakura?

Shikamaru dan Ino menjemput Sai di bandara, mereka menemukan Sai sedag berjalan memakai kacamata hitam, kaos kuning ditutupi jaket putih dan celana jeans panjang.

"Selamat datang, Sai," sapa Ino memeluk laki-laki itu.

"Aku pulang,"

"Bagaimana? Sukses?" tanya Shikamaru.

"Sangat, tapi yaah… begitu…" jawab Sai malas-malasan.

"Kenapa? Modelnya suka padamu?" tebak Ino, dan Sai hanya mengangguk.

"Serius? Kok bisa?" tanya Shikamaru kaget.

"Yaah, saat aku melukisnya, dia terus menatapku, dan dia sangat puas dengan hasil lukisanku, akhirnya dia meminta nomor teleponku," jawab Sai menatap kearah lain.

"Kau kasih?" tanya Ino.

"Yah, dia memaksa, padahal aku sudah bilang aku menyukai seseorang, dan orang inilah satu-satunya yang akan kucintai sampai akhir hidupku."

"Waah waah, Sai kau berlebihan," kata Shikamaru yang terkejut mendengar ucapan Sai.

"Aku serius," timpal Sai.

Ino dan Shikamaru hanya saling tukar pandang, mereka paham siapa yang Sai maksud, sepertinya sekarang Sai akan memulai aksinya untuk merebut hati Sakura. Tapi kalau tebakan Shikamaru benar tentang perasaan Sasuke pada Sakura, maka mereka tidak bisa melakukan apa-apa, itu semua tergantung bagaimana perasaan Sakura.

~Your Voice~

Sakura sedang berjalan di taman bersama Sasuke, itu adalah kegiatan rutin mereka sepulang sekolah, Sakura tahu hari ini adalah hari kepulangan Sai. Tapi Sasuke tidak mengizinkan Sakura langsung menemui Sai, biar Sai saja nanti yang datang kerumah. Tidak ada percakapan khusus antara Sakura dan Sasuke, hanya saja Sakura yang kadang merangkul lengan kakaknya itu dan kalau ada laki-laki yang memandang Sakura, Sasuke langsung menatap seolah akan membunuh laki-laki itu, tatapannya cukup untuk mengusir para serangga, itulah sebutan laki-laki yang mengincar Sakura dari Sasuke.

"Sakura," panggil Sasuke dengan lembut, "Apa kau siap dengan operasi nanti?"

Sakura menatap Sasuke dengan tatapan seolah heran, kenapa Sasuke bertanya seperti itu.

"Jangan salah paham, maksudku, kalau kamu belum siap-"

Ucapan Sasuke terputus saat Sakura menyodorkan hpnya di hadapan wajah Sasuke.

Aku sangat siap, aku ingin cepat-cepat berbincang-bincang dengan kalian semua, dan lagi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu kalau suaraku bisa keluar.

Sasuke tersenyum dan kembali bertanya, "Lalu, saat kamu bertemu Sai nanti, apa yang akan kau lakukan? Maksudku, tentang lukisan itu."

Sakura terdiam, dia sendiri bingung harus bagaimana nanti ketika bertemud engan Sai, haruskah lukisan itu dibahas? Kalau Sakura membahasnya, bisa-bisa Sai tahu kalau Sasuke mengambil salah satu lukisannya dan memasuki kamarnya diam-diam, semua bisa runyam.

Aku tidak tahu, aku masih belum menemukan jalan keluarnya.

Melihat wajah Sakura yang terlihat khawatir, Sasuke menggenggam jemari Sakura dan mengelus punggung tangan kekasihnya itu, "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja."

Sakura tersenyum lembut mendapatkan perlakuan Sasuke yang begitu lembut, sangat berbeda seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu, mungkin ini semua sudah terikat oleh benang merah dari awal.

Malam pun tiba, Sasuke dan Sakura kini sedang berada diruang keluarga bersama dengan kedua orang tuanya, serta Itachi.

"Jadi, bagaimana persiapan festivalnya, Itachi?" tanya Momoko yang posisinya duduk di sebelah Fugaku.

"Kau harus membuat festival kali ini lebih bagus lagi, Itachi," usul sang ayah yang merangkul istrinya.

"akan ku usahakan, makanya aku persiapkan dari sekarang, oh iya Sasuke, kelasmu akan bertanding dengan kelas Sasori, kalian berdua terkenal dengan kelas yang paling unggul dalam permainan basket," ucap Itachi.

"Aku tidak mau, bikin repot saja," tolak Sasuke.

Ucapanmu lama-lama seperti Shikamaru.

"Itu karena di kelas dia selalu berucap begitu," geram Sasuke setelah melihat layar hp Sakura.

Suara tawa tercipta di ruangan bernuansa damai itu, sampai bunyi bel rumah mengalihkan semua perhatian mereka.

"Ah, biar aku saja," ucap Sasuke bangkit dari duduknya yang dari tadi berada di samping Sakura.

Sasuke melangkahkan kaki ke depan pintu, namun salah satu pelayan mereka sudah lebih dulu membukakan pintu tersebut, saat Sasuke melihat siapa yang datang…

"Mau apa kau?"

"Mengunjungi sahabatku, keberatan?"

"Apa besok tidak bisa?" lontar Sasuke ketus.

Namun sosok yang ternyata Sai itu mengabaikan lontaran Sasuke, Sai melangkahkan kaki memasuki kedalam rumah, dan menyeletuk, "Aku ada urusan dengan ibu Sakura." Sambil berlalu meninggalkan Sasuke di belakang.

"Wah, Sai… apa kabar? Katanya kau melukis model yah?" sapa Momoko sambil berdiri dan merangkul Sai seolah dia anak sendiri.

"Baik, yaah, begitulah, aku kesini untuk emminta izin pada kalian semua," ucap Sai to the point.

"Ada apa?" tanya Fugaku penasaran.

"Aku mau lusa Sakura menjalani operasi yang sudah kuatur jadwalnya," jawab Sai dengan wajah serius.

Sakura yang sedang duduk sontak langsung berdiri, bahkan Itachi yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung terkejut sehingga berkas-berkas itu jatuh ke lantai, pasangan suami-istri yang kini sedang berdiri di hadapan Sai tersenyum lembut, sedangkan Sasuke membuang mukanya sambil mendengus.

"Harusnya kau tidak perlu repot-repot, Sai… kami-"

"Kalian sudah janji padaku," potong Sai dengan nada seolah memohon.

Momoko dan Fugaku saling pandang, setelah Momoko menghela nafas, Momoko menepuk pundak Sai, "Terima kasih banyak yah, Sai."

"Kalau begitu, karena lusa operasinya dilaksanakan, hari ini bisakah Sakura menginap di rumah sakit? Sebelum operasi harus ada beberapa hal yang harus di periksa lebih du-"

"Whoa whoa, tunggu dulu Tuan Sai! Tidak secepat itu kau bisa mengambil kesimpulan, memangnya kau pikir keluarga Sakura hanya terdiri dari yah dan ibu saja? Kau bahkan tidak meminta pendapat kak Itachi dan aku!" potong Sasuke dengan nada sewot.

"Aku tidak masalah," saut Itachi, "Aku ingin cepat-cepat mendengar suara Sakura bernyanyi lagi."

Kemudian Sai melirik Sasuke dengan sinis, "Sepertinya hanya kau yang keberatan, eh? Tuan Sasuke."

Sakura yang menyadari suasana antara mereka makin memanas bergegas menempatkan dirinya ditengah-tengah. Sambil tersenyum, Sakura menunjukkan layar hpnya.

Terima kasih banyak Sai, aku siapkan pakaian dulu yah.

Kemudian Sakura menolah kearah Sasuke.

Aku mohon jangan begitu, aku ingin cepat-cepat bicara agar bisa mengobrol denganmu.

Jujur Sakura sangat lelah berkomunikasi dengan cara seperti ini, dia sangat gembira karena tiba saatnya Tuhan memberikan kesempatan dirinya untuk menjalani operasi, Sasuke mendengus sedikit kemudian berucap, "Aku yang antar kerumah sakit."

"Lihat, Sasuke seperti anak kecil yah," ejek Momoko pada Fugaku.

"Dia memang masih kecil, tidak bisa mengontrol emosinya dengn benar," timpal kepala rumah tangga itu.

"Cih," Sasuke kembali mendengus sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya, mengambil jaket dan kunci mobil, sebelum dia kembali keruang keluarga tadi, Sasuke menghampiri kamar Sakura dan membuka pintu kamar gadis itu.

"Sudah selesai?" tanya Sasuke ketika dia melihat Sakura akan mengangkat tas besarnya, Sakura mengangguk, dan Sasuke datang untuk membawakan tasnya itu.

Saat akan keluar, Sakura menarik jaket Sasuke, sehingga Sasuke menghentikan langkahnya, begitu Sasuke menoleh, dia melihat wajah adiknya sedikit merona. Ada apa ini? Apa yang diinginkan Sakura? Kenapa wajahnya bisa merona seperti itu?

"A-Ada apa?" tanya Sasuke dengan canggung.

Sakura memalingkan kedua bola matanya, tidak berani menatap kedua onyx kakak dan juga kekasihnya itu, saat ini… Sasuke merasa…

"Ya Tuhan… dia manis sekali…"

"Ehem! Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke sekali lagi, kali ini Sasuke memberanikan mendekatkan tubuhnya dan menepuk pundak Sakura.

Dengan tiba-tiba, Sakura langsung mencium bibir Sasuke, tindakannya benar-benar membuat Sasuke melayang, siapa yang sangka Sakura akan menciumnya seperti ini, sambil melingkarkan kedua lengannya dileher Sasuke.

Bruuk.

Sasuke menjatuhkan tas Sakura karena kedua tangannya kini merangkul pinggang Sakura dan mendekap tubuh gadis itu kepelukannya, Sasuke melanjutkan ciuman itu makin panas. Tangan Sasuke pun tidak diam, perlahan Sasuke memasukan tangannya kedalam baju Sakura dan meremas pelan payudara Sakura yang masih tertutup bra itu.

Entah harus bersyukur atau tidak saat ini Sakura tidak bisa mengeluarkan suara, yang jelas kalau dia bisa mengeluarkan suara, Sakura berani jamin saat ini dia sedang mendesah akibat perlakuan Sasuke yang memanjakannya.

Tok tok tok.

"Sakura, sudah siap belum? Sai menunggumu nih," panggil Momoko dari luar.

Sasuke dan Sakura tidak menghentikan kegiatan mereka, Sasuke masih mencium Sakura dengan panas dan meraba dada Sakura, Sakura sendiri yang mendengar suara ibunya berusaha mendorong tubuh Sasuke, namun laki-laki itu tidak mau melepaskan tubuh Sakura.

Akhirnya Sasuke berhasil Sakura dorong dengan pelan, Sasuke tersenyum lembut melihat wajah Sakura yang sangat memerah, dicium kening adiknya itu, "Kita lanjutkan saat kau selesai operasi, aku ingin mendengar desahanmu, juga suaramu saat menjerit namaku," bisik Sasuke menggoda.

Sakura masih menahan rasa malunya sambil mengetikkan sesuatu.

Dasar mesum!

"Mesum, eh? Siapa duluan yang menyerangku?"

Sakura mendorong tubuh Sasuke agar cepat keluar, saat mereka keluar.

"Loh? Ada Sasuke?" kata Momoko yang sedikit kaget.

"Ya, aku membantu Sakura menyiapkan apa saja yang diperlukannya," jawab Sasuke sambil memperlihatkan tas Sakura yang dia bawa.

"Oohh, terima kasih yah Sasuke, nah sekarang ayo berangkat."

Saat akan menapakkan kaki menuju mobil, Sakura berdoa dalam hatinya agar operasi ini sukses, dia sudah capek berkomunikasi menggunakan hp, dia ingin tertawa bersama teman-temannya, kini langkah yang Sakura ambil adalah langkah menuju masa depannya.

~Your Voice~

"APAAA! BESOK SAKURA OPERASI DAN TIDAK ADA YANG MEMBERI TAHUKU!"

"I-Ino, suaramu kencang sekali!" protes Shikamaru pada Ino yang teriak tepat di samping telinganya.

"Kenap tidak ada yang memberi tahuku? Ketika aku mencari Sakura di kelas tadi, kau dengan santainya menjawab Sakura sedang berada di rumah sakit! Kau anggap aku ini siapanya Sakura? Hah!" bentak Ino sambil menunjuk wajah Sasuke juga sambil mengunyah makanannya.

"Cih, kau ini tidak ada femininnya sama sekali, heran Shikamaru kenapa bisa tahan," gerutu Sasuke.

"Sudahlah, yang penting Sasuke kan sudah memberi tahu kita, nanti kita jenguk Sakura saja," ucap Hinata.

"Aku tidak bisa, hari ini ada acara dengan ayahku," gumam Ino sedih.

"Aku juga, ibuku sudah membaik kondisinya, dia ingin aku pulang cepat dan membawa Hinata," kata Naruto.

"Yasudah kalau tidak bisa jangan dipaksakan, Sakura juga pasti mengerti kok, kalian datang saat operasi berjalan saja," ucap Sasuke dengan santai.

Mendengar jawaban Sasuke, mata Ino mendelik, dan saat Ino akan mengatakan sesuatu, Shikamaru menyelaknya, "Ino, nanti aku ikut kerumahmu yah."

"Hah? Untuk apa? Ayah sedang tidak ada," kata Ino yang kembali seperti semula.

"Justru karena tidak ada," utar Shikamaru memperjelas sambil tersenyum menggoda, dan itu sukses membuat Ino merona.

"Hhhh, yaa yaa, kalian silahkan bermesraan, aku pergi dulu," Sasuke beranjak dari duduknya dan meninggalkan teman-temannya yang sedang bermesraan.

.

.

Hari di mana Sakura akan di operasi pun telah tiba, Sasuke dan keluarga menunggu di ruang tunggu yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit, Sai berdiri, jalan mondar-mandir yang membuat mata Sasuke risih, sebenarnya Sasuke tidak terlalu membenci Sai, andai saja Sai tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Sakura, buktinya, se-overprotective nya Shikamaru, Sasuke masih bisa menerima laki-laki mantan pengobat itu dengan sedikit ramah.

Selagi menunggu berjalannya operasi, datanglah Ino, Shikamaru, Naruto dan Hinata bersamaan, mereka menyapa Fugaku dan Momoko terlebih dahulu, Itachi lalu Sasuke.

"Masih belum selesai?" tanya Hinata pada Sasuke.

"Hn, sudah 3 jam sejak dimulainya operasi itu," ucap Sasuke resah.

"Sai, duduklah, kau mondar-mandir begitu malah membuat kami makin tegang tahu," tegur Ino pelan.

"Ah, maaf," ucap Sai yang langsung menuruti teguran Ino.

5 jam berlalu, kini kesabaran mereka benar-benar diuji, sampai akhirnya datanglah dokter yang menangani operasi Sakura keruang tunggu.

"Dokter! Bagaimana anak saya?" tanya Momoko.

Sang dokter terdiam, menahan nafas, tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

"Sukses! Saat ini dia sedang istirahat, kalau nanti dia sudah sadar, mungkin dia tidak akan bisa langsung mengeluarkan suaranya, harus mengikuti beberapa therapy dulu."

"Aahhh, syukurlaaaah~" terlihat semua kompak menghela nafas dan memegang dadanya masing-masing.

"Apa kami boleh melihatnya?" tanya Sasuke.

"Jangan sekarang, dia masih butuh istirahat, mungkin besok pagi kalian baru boleh menjenguk dikamarnya," ucap sang Dokter, "Kalau begitu, aku permisi."

"Terima kasih."

"Syukurlah, aku tidak sabar ingin bergossip dengan Sakura," Ino dengan girang berbicara pada Hinata.

"Kau, hanya tahu gossip atau apa sih?" sewot Shikamaru pada pacarnya sendiri.

"Syukurlah Sakura bisa bicara lagi, asal therapy dengan rajin, aku yakin Sakura bisa bernyanyi seperti dulu lagi, aku ingin dia mengikuti kontes di festival nanti," ujar Itachi pada Momoko.

"Yah, kita doakan yang terbaik yah, Itachi," balas Momoko sambil membelai pipi anak sulung suaminya itu.

Sementara Sai, masih terdiam, padahal dari tadi Sai yang paling khawatir, tapi kini Sai terdiam seolah menutupi sesuatu, ekspresinya sulit untuk diartikan.

~Your Voice~

Sinar mentari menyinari sebuah ruangan putih, seorang suster membuka lebar tirai jendela sehingga sorot matahari langsung mengenai pasien yang kini terbangun akibat sinar itu.

"Selamat pagi, Uchiha," sapa Suster.

Sakura terdiam, menggerakan sedikit bibirnya untuk berucap dan…

"Mat… gi…"

Sang suster menoleh sambil tersenyum girang.

"Ternyata benar-benar berhasil, operasimu berjalan dengan lancar, kamu tinggal ikuti therapy yang rajin yah, agar bisa lancar bicaranya.

Sakura tersenyum lebar pada suster dan berucap, "… ri… ka… sih…."

"Iya sama-sama, kalau ada apa-apa tekan tombol di belakangmu saja yah."

Saat suster membuka pintu, sang suster terkejut melihat sosok pemuda yang sudah berdiri di hadapannya, wajah suster itu merona merah.

"Ah p-pagi," sapa sang suster.

"Pagi," sapa balik pemuda itu.

"Sa…I," sapa Sakura dengan nada kaku.

Sai yang ternyata adalah sosok itu menatap lembut Sakura.

"Akhirnya aku berhasil membuatmu bisa bicara lagi," ujar Sai sambil membelai rambut Sakura, namun sepintas Sakura teringat bahwa Sasuke tidak menyukai tindakan Sai yang kelewat romantis itu, tapi apa daya, Sakura tidak bisa menolak kelembutan Sai.

"Sakura… ada yang ingin kubicarakan, ini sangat penting," ucap Sai dengan wajah serius, Sakura memiringkan kepalanya, bingung kenapa pagi-pagi Sai sudah datang dan ingin bicara serius dengannya.

"Aku… mendapatkan beasiswa ke Paris, setelah itu aku di rekrut oleh perusahan lukis intenational di sana," sambung Sai.

Sakura terkejut mendengar berita ini, dia menggenggam tangan Sai dan memasang ekspresi gembria.

"Dan…" Sai melanjutkan, "Aku ingin kau ikut denganku, masa depanku sudah kelihatan, aku akan jadi orang sukses, aku bisa menghidupimu…"

Ekspresi Sakura berubah, kini Sakura yakin apa yang akan Sai katakan.

"Aku mencintaimu… menikahlah denganku."


A/N : dan mereke pun hidup tidak bahagia, hahahahaa becanda becanda... sekali lagi MAAF KALO BANYAK TYPO! XD lagi-lagi kacamataku hilaaang =3=

ah, untuk Lover Eternal... jujur... aku mungkin sedikit lama apdetnya, soalnya aku mau bikin ngga kalah kerennya sama versi novelnya, jadi mikirin idenya harus mateng banget supaya kalian ngga kecewa nantinya, gapapa kan? XD

nah, untuk chapter depan, sebenarnya adalah konflik kedua utama dari cerita ini, kalo konflik intinya mah nanti XD, kepanjangan yah ceritanya? maaf kalo bikin bosen T_T di chapter depan nanti bakalan ada adegan pertengkaran antara saisakusasu, oh iya... untuk masa-masa voice therapy... menurut kalian aku bikin adegannya atau skip aja? ini aku bener-bener tergantung kalian loh khusus adegan voice therapy-nya.

okee, boleh minta review panjang lagi? XD