The Middle

Apa yang menjadi sebuah penengah diantara kita, ternyata hadir pada suatu waktu yang tak disadari…

"Semoga hari kalian menyenangkan!" Chanyeol buru – buru pergi ketika sudah sampai depan pintu. Ia melambaikan tangan pada Sehun dan Jongin yang saling berpelukan. Mereka terlihat sangat serasi. Dan masalah Kai, mungkin ia akan mencoba bertanya di lain waktu jika anak itu mampir ke restorannya.

"Hati – hati dijalan, Chanyeol!" Ucap Sehun serta Jongin bersamaan, sebelum mereka masuk kedalam rumah dan menutup pintu.

Sementara mobil di sebrang jalan itu juga pergi setelah melihat Chanyeol keluar.

_I'm Me Bagian 14_

Duduk termangu di tepian ranjang. Setelah pulang dari kediaman Kai, Chanyeol begitu saja menjajakan kaki ke rumah susunnya. Menghubungi Kibum bahwa hari ini ia kurang enak badan dan memutuskan untuk mengurung diri didalam rumah sederhananya. Ia masih bujang, membeli rumah loteng yang kecil – kecilan, meskipun Chanyeol memiliki kekayaan pribadi yang bisa dibilang lumayan. Tatapannya kini kosong, menatapi bunga kaktus kekuningan yang ia rawat didekat jendela kamar. Teman bicara katanya. Kemelut pikiran membuatnya seolah linglung. Ia yakin bahwa pemuda yang tadi ditemuinya adalah benar – benar seorang Kai. Sehun ada disana sehingga memperkuat dugaannya bahwa lelaki itu benar Kai. Tapi mengapa Kai yang ditemuinya siang ini begitu berbeda. Menjadi seorang yang malu – malu, terlebih lelaki itu sama sekali tak mengenali Chanyeol. Terlihat sekali pada alis yang mengerut ketika sebuah senyum idiot Chanyeol muncul dari balik pintu rumah besar itu.

Chanyeol tak bisa berhenti merenung dan merenung hingga kepalanya pening. Hingga satu fakta yang ia baru ingat menamparnya keras – keras. Perut Kai membuncit cukup besar. Kali ini Chanyeol benar – benar yakin bahwa Kai telah menutupi kehamilannya pada semua orang di restoran, dan ia sangat yakin bahwa Kai benar hamil. Chanyeol ingat betul ketika terakhir kali Kai berkunjung, pemuda itu sudah tampak lebih berisi.

Berjalan lungkrah menuju sebuah meja komputer. Hanya melakukan beberapa hal random menuruti naluri. Chanyeol mengeluarkan sebuah Macbook silver dari dalam laci, membuka buku pintar itu, setelahnya jari – jari hanya menari samar diatas papan ketik. Ia ingat betul, ada sebuah foto keluarga tak jauh dari tangga di rumah Kai, letaknya memang tak begitu terlihat dari ruang tamu, namun ia menemukannya ketika tak sengaja mata menjelajah karena rasa gugup. Didalam foto didekat sebuah lukisan puing – puing Alhambra, ia mengenali sesosok pria setengah baya yang duduk pada kursi utama. Kim Dongwook. Seorang pengusaha sekaligus arsitektur terkenal pada masanya. Pria itu sering kali menghiasi halaman utama korang – koran bisnis yang seringkali Ayahnya baca.

Dengan cepat jari – jari panjang Chanyeol mengetikkan beberapa huruf guna melancarkan pencariannya tentang Kim Dongwook. Ia membuka – buka biodata lelaki setengah baya itu. Mencantumkan nama, pendidikan, karir, serta sedikit gambaran tentang keluarganya. Pria itu memiliki seorang isteri dan tiga orang anak kembar, dengan dua lelaki dan satu perempuan. Tak ada keterangan lebih lanjut mengenai keluarganya. Dan hal itu sungguh membuat Chanyeol lapar akan rasa penasaran.

Ia melanjutkan pencariannya. Dimulai dari jenjang karir Kim Dongwook, pengaruh dirinya pada industri perhotelan yang dirasa hanya biasa – biasa saja. Chanyeol sudah terlalu kenyang akan isu – isu dunia bisnis serta politik seperti yang di geluti oleh Ayahnya. Ayah Chanyeol dulunya merupakan salah seorang yang bekerja di kantor KPK sebelum akhirnya mengambil pensiun tiga tahun lalu. Tak ada yang menarik. Chanyeol rasa, Kim Dongwook sama seperti kebanyakan pembisnis yang bersinar namanya. Hingga satu isu yang akhirnya menuntun Chanyeol pada sebuah portal berita dengan judul besar dan tebal membahas tentang sebuah penculikan yang berakhir pembunuhan. Ini menarik.

Disebutkan bahwa korban merupakan isteri serta salah seorang anak lelaki kembar Kim Dongwook. Kejadian kelam itu terjadi di tahun kambing. Itu artinya kejadian berlangsung ketika Chanyeol berusia tiga belas. Chanyeol begitu serius ketika membaca kata perkata yang tertera pada layar Macbooknya. Mengernyit dalam sebelum matanya tiba – tiba membola lebar. Ada sebuah foto seorang wanita cantik serta anak lelaki yang Chanyeol yakin itu adalah isteri serta anak Kim Dongwook. Chanyeol tampak tak asing dengan wajah anak itu, dia mirip sekali dengan Kai.

Tak puas disitu. Chanyeol akhirnya menelusuri rekam jejak pemberitaan memilukan lima belas tahun silam. Mengantarkannya pada sebuah jalan buntu, karena polisi serta para penyidik begitu saja menutup kasus yang Chanyeol rasa masih menyimpan begitu banyak misteri. Dari sana Chanyeol mendapat nama anak lelaki yang menjadi salah seorang korban penculikan, Kim Jongin. Jika tidak salah dengar, Sehun sempat memanggil nama Kai sebagai Jongin tadi.

Berbekal rasa penasaran yang begitu menggebu. Chanyeol secara acak mengetikkan nama Oh Sehun akhirnya dalam kolom pencarian. Seperti dugaannya. Sehun merupakan seorang pemuda panas yang mampu meraih kesuksesannya di usia muda. Berdarah Korea-China-Kanada, pria itu di lahirkan di Tanah Hijau bagian Amerika Utara, pada satu kota terbesar bernama Nuuk. Ayahnya merupakan pengusaha dibidang perhotelan, orang asli Korea Selatan yang menikahi seorang wanita berdarah China-Kanada berkebangsaan Kanada. Sehun menjadi satu – satunya penerus bisnis keluarga, melirik usaha bisnis meubel yang akhirnya mengantarkan namanya pada satu titik yang bersinar. Menjadi bujang paling diminati, terlebih kehidupan asmara yang begitu tertutup dimata publik, membuat beberapa orang menjadi sangat penasaran. Hingga satu artikel melebarkan senyum Chanyeol. Pada judul di jelaskan bahwa akhirnya terkuak siapa kekasih Oh Sehun selama ini.

Ada satu dua foto – foto curian yang menampilkan Sehun berkunjung pada sebuah rumah. Di jelaskan dalam kata – kata bahwa kunjungan Sehun memiliki frekuensi sering yang cukup padat ke rumah besar tersebut. Dan Chanyeol sangat yakin bahwa rumah yang di kunjungi Sehun merupakan rumah yang tadi siang ia datangi. Itu rumah Kai, tidak salah lagi.

Tak hanya sampai disana. Di artikel berikutnya menyampaikan satu pembahasan yang lebih seru. Mengungkap bahwa rumah yang seringkali Sehun kunjungi merupakan rumah peninggalan almarhum Kim Dongwook. Kuat dugaan kekasih pengusaha muda ini adalah salah satu putera Kim, bernama Jongin. Berdasar data yang ada, Kim Taemin dan Kim Krystal melebarkan sayap karirnya di luar negri, hingga satu konklusi didapat bahwa Kim Jonginlah seseorang yang seringkali di kunjungi oleh Oh Sehun.

Rasa laparnya akan hal – hal baru yang menakjubkan, menggugah Chanyeol pada satu rasa menggebu untuk tahu siapa itu Kim Jongin. Secara asal ia pun mengetikan satu nama pada kolom pencarian berikutnya. Kim Jongin, menjadi sosok kekasih Sehun yang begitu misterius. Dari seluruh artikel yang dibacanya, belum ada satu fotopun yang mengungkap wajah asli Kim Jongin ini. Sampai akhirnya satu gambar membuatnya bertepuk tangan dan menunjuk heboh bahwa Kim Jongin ini benar – benar Kai yang dikenalnya. Meski tak terlihat wajahnya, tapi Chanyeol masih ingat betul ketika terakhir kali Kai berkunjung ke restoran. Memakai jubah panjang berwarna abu serta rambut yang memanjang berwarna hitamnya. Gambar itu di ambil tepat didepan restorannya. Terlihat Sehun yang tengah mencium pemuda itu didepan mobil, dan Chanyeol bersumpah, ia melihat kejadian itu secara langsung. Satu peristiwa romantisme di simpang lima ketika senja datang, tapi menyimpan satu kengerian ketika ia melihat seseorang bertopeng mengawasi pasangan itu dari gang sempit sebelah restoran.

Chanyeol harus cukup puas atas pencariannya, meski rasa haus akan kebenaran masih saja mencekik lehernya. Teka – teki yang masih berputar menyebalkan adalah, siapa Kai dan Kim Jongin sebenarnya? Apa mereka orang yang sama? Atau adakah hal besar yang berusaha Kai tutupi darinya.

Sehun mengusap kepala kasar. Mengesah nafas dalam diatas meja kerja. Ia kembali ke kantor tepat sepuluh menit Krystal pulang. Menyita surat panggilan pekerjaan Kai dari tangan Jongin. membiarkannya terbengkalai diatas meja dengan posisi terbuka. Sehun tahu bahwa pekerjaan ini adalah salah satu pekerjaan yang begitu di harapkan oleh Kai, namun disatu sisi ia tak bisa membiarkan Kai-Jongin berkecimpung dalam dunia luar yang liar. Terlebih bisikan Ibu kemarin masih saja menghantuinya dengan begitu kejam.

"Sehun!" Kris datang seraya memasukkan kedua tangan dalam saku. Ibu bilang ia harus hati – hati pada orang ini.

"Warta berita? Ap-" Sehun langsung merebut surat itu ketika Kris hendak mengambilnya.

"Bukan apa – apa." Kemudian melipat dan menyelipkan diantara map – map tebal didalam rak duduk. "Ada apa?"

"Kudengar kau membatalkan rencana ke Jepang minggu ini." Sehun mengerutkan dahi. Memandang Kris dengan tatapan menelisik. "Bukan apa – apa, hanya saja investor kali ini bukankah sudah kau incar dari dulu?" Lanjut Kris menyadari air wajah Sehun yang tak bersahabat.

"Aku tak bisa membiarkan Jongin sendiri." Menunjukkan satu tatapan mengancam. Kris tahu bahwa Sehun telah membangun sebuah jarak tak kasat mata terhadapnya. Kris bukan orang bodoh. Ia sangat yakin bahwa Nyonya Edith telah meracuni Sehun dengan kalimat – kalimat berdasar premis tak berdasar yang dibuatnya sendiri.

"Kuharap kau lebih pandai menyamarkan gerak – gerikmu, Oh Sehun!" Seolah merapikan dasi, membenahi kerah jas. Kris bermaksud mengejek.

"Berkencan dengan Minseok bukan hal yang buruk." Kemudian mengeluarkan sisir kecil dari saku jas. "Apa aku sudah terlihat tampan? Ah kurasa aku memang selalu tampan." Lalu berdiri, beranjak pergi keluar dari ruangan Oh Sehun. Menghentikan langkah ketika sampai di ambang pintu, Kris tersenyum penuh arti.

Melihat tingkah aneh Kris, membuat Sehun semakin bimbang. Ia tak tahu tengah berdiri antara kebenaran atau sebuah kepalsuan. Ia tak dapat mempercayai siapapun kali ini. Tidak satupun, termasuk Ibunya.

Sehun kembali meraih amplop berisi surat panggilan untuk Kai. Untuk beberapa waktu kedepan akan lebih baik ia melupakan masalah kepercayaannya terhadap Ibu dan Kris. Sehun membaca pelan – pelan kata demi kata yang tercetak jelas dalam balutan gaya Times new roman. Nama lengkap Kai tertera jelas disana. Ada satu getar kerinduan dalam hati Sehun ketika mengingat kembali kebersamaannya bersama Kai. Meski Jongin selalu berada disisinya, tak bisa dipungkiri bahwa Kai dan Jongin jelas berbeda. Ia sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Kai, bukan berarti ia tak bisa menerima Jongin. Fakta bahwa perlahan ia juga mulai menyayangi Jongin, membuat Sehun seperti membagi cintanya pada dua orang yang berbeda, meski nyatanya dua pribadi itu berada dalam tubuh yang sama.

Sehun membaca keseluruhan biodata Kai yang tertera. Menaikkan satu alis ketika ia baru mengetahui bahwa sebenarnya Kai berada di usia dua tahun diatas Jongin. Keduanya memiliki angka kelahiran yang berbeda. Kai tidak mengenyam bangku sekolah dasar, ia menamatkan sekolahnya dalam rangkaian home schooling. Sehun rasa ia mengerti alasan ini. Dilanjutkan pada jenjang sekolah menengah pertama hingga menengah atas di sekolah seni yang disebut Lila. Sekolah yang sama dimana Jongin mengenyam pendidikannya. Hanya itu, Kai tak menyebutkan identitas diri lebih lanjut.

Seperti tertampar, Sehun menyadari sesuatu yang salah dalam dirinya. Selama ini ia masih kekanakan dan egois. Daripada menelaah bagian – bagian yang salah dari awal, ia lebih memilih menata hati untuk dicintai dan mencintai seseorang. Bukan hal yang salah. Hanya saja sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah, menjadi seorang lelaki sejati yang harus mampu membimbing serta menjadi pelindung keluarganya. Menjaga Jongin ataupun Kai dan satu lagi nyawa yang kini tengah berjuang didalam perut kekasihnya. Ia sadar betul bahwa selama ini hanya menjadi lelaki lemah yang kurangnya ketegasan dalam diri. Ia terlalu terlena akan kesenangan semata, sama sekali tak memperhitungkan dampak – dampak negatif yang pasti akan membuat sebuah boomerang besar, bagi dirinya, keluarga, bahkan orang yang sebenarnya tak mengerti apapun akan ikut terseret kedalam kasus rumitnya.

Dalam sebuah lamunan panjang. Sehun tiba – tiba di kagetkan karena dering ponsel yang tergesa. Nama Jongin tertera pada layar ponselnya. "Hallo!"

"Sehun cepat kemari!" Itu suara Krystal. Seperti tergopoh tidak jelas, wanita itu memberikan sebuah perintah pada Sehun. Bulu kuduk meremang tiba – tiba.

"Tenangkan dirimu, Krys! Bicara pelan – pelan! Ada apa?" Ucap Sehun menenangkan.

"Cepat kemari, aku tak bisa menjelaskannya sekarang!"

"Oke, aku kesana!" Tanpa berpikir panjang. Sehun langsung meraih kunci mobilnya. Melesat secepat yang ia bisa ke kediaman keluarga Kim. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Jongin. Ia takut terjadi sesuatu hal yang buruk.

Sehun seperti kesetanan. Menempuh perjalanan ke rumah Jongin dalam waktu duapuluh menit, yang harusnya jika dilakukan dengan perjalanan normal, dari kantornya menuju rumah Jongin akan memakan waktu kurang lebih empat puluh delapan menit.

Begitu memarkir mobil, Krystal telah menyambutnya. Menuntun Sehun kedalam kamar Jongin. lelaki itu hanya diam. Tak melakukan apapun selain keterdiaman yang ia suguhkan. Sehun pernah melihat Jongin yang seperti ini ketika ia bertukar posisi dengan sang alter. Pagi tadi sebelum ia memutuskan untuk berangkat ke kantor, Jonginlah pribadi yang ditemui oleh Sehun, lalu apakah saat ini Kai yang tengah berada dihadapannya.

"Apa dia Kai?" Sehun bertanya pada Krystal yang hanya berdiam diri disamping Sehun, tak berani menghampiri kakak kembarnya sendiri untuk saat ini.

"Dia Ji." Sehun mengernyit dalam memandang Krystal.

"Satu alter Jongin yang tak pernah muncul sejak lima tahun terakhir." Sehun membola sempurna. Jongin memiliki tiga sisi kepribadian?

Tapi nada bicara Krystal seolah ketakutan ketika menyebut nama Ji. Seolah sebuah pribadi yang berbahaya, Krystal hanya memandang sang saudara dari jauh.

"Apa yang telah ia lakukan?" Sehun bertanya hati – hati. Tak ingin mengganggu waktu Ji untuk melamun diatas tempat tidur.

"Dia menangis dan menangis, marah dan membanting beberapa benda ketika menyadari perut buncitnya." Krystal menatap sudut ruang kamar Jongin yang berantakan. Benda – benda berserakan, hasil amukan Ji beberapa waktu lalu.

"Dia adalah seorang traumatic holder yang dimiliki Jongin. Ji berperan sebagai sisi sedih serta gelap dari Kim Jongin. Menurut Psikiatri yang pernah menangani Jongin, ia membagi pengalaman sedih serta traumatic hebat atas kasus menyedihkan itu pada Ji. Dan selama ini Ji-lah yang menanggung segala kesedihan Jongin. Perlu kau tahu bahwa Jongin berperan sebagai Host juga pribadi Jongin yang sebenar – benarnya. Seseorang yang innocent, pure, ramah dan pemalu." Sehun mengambil nafas panjang. Kepalanya benar – benar terasa pening. Pikiran – pikiran seperti Kris adalah penjahatnya tergeser sudah dengan fakta baru tentang Ji. Sehun akhirnya memilih untuk menghampiri Ji yang tengah duduk melamun dengan sesekali terdengar sebuah isak memilukan.

"Ji?" Sehun meraih tangan Jongin, kemudian ia genggam dengan begitu lembut.

Ji mendongak, menatap matanya dengan tatapan ketakutan. Ji beringsut mundur. Menyudutkan diri pada kepala ranjang. Meraih apapun untuk melempari Sehun agar lelaki itu pergi. "Jangan mendekat!" Suaranya begitu parau. Hati Sehun entah kenapa terasa tercabik dan teriris memilukan melihat Jongin yang seperti ini. Tatapan ketakutan itu benar – benar terpancar. Matanya masih mengembun serta seluruh tubuh yang gemetar ketakutan. Sehun tak sanggup membayangkan betapa Jongin dulu sangat tersiksa akan sebuah rasa takut yang begitu hebat. Terlebih anak Sembilan tahun itu mengalami sebuah kekerasan secara verbal dan non verbal. Sehun benar – benar mengutuk siapapun penjahat biadab itu. Dan ia bersumpah akan menemukan siapa dalang dibalik kasus penculikan Jongin serta ibunya lima belas tahun lalu. Untuk saat ini, ia tak sepenuhnya percaya jika Krislah orangnya. Lelaki itu baru berusia lima belas ketika insiden berlangsung. Sehun akan mencari tahu.

_To Be Continue_

Ehem, hai XD

Beberapa waktu ini aku coba liat film – film bertema DID meski gak sampai selesai. Aku takut masa XD

Aku bukan ahli, aku hanya menulis berdasar secuil pengetahuan yang aku lihat dan baca dari internet. Jadi mohon koreksi jika ada pakarnya XD

This just a fiction. Don't take it serious guys :)

Btw aku lagi tertarik sama drama Burning Sun :"

(Best regards… Caesar)