Jihand Setyani Mempersembahkan :
Second Fict
"Sasuke itu AYAH-ku"
Rate : M *nyempil lemon dikit2*
Genre : Romance/ Family/ Hurt/Comfort
Characters : Sasuke U. & Sakura H.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
==oOo==
Summary :
Akasuna Cherry adalah Puteri tunggal Haruno Sakura yang lebih sering tinggal bersama dengan Akasuna Sasori, Pamannya. Ia hidup dengan segala penyakit yang menimpahnya demi sebuah harapan dan keyakinan. Yaitu, bertemu dengan Ayah kandungnya.
==oOo==
AUTHOR AREA :
Sepertinya saya harus memberikan bayaran dua kali lipat kepada HARUNO SAKURA yang berActing dengan sangat baik hingga membuat semua teman-teman dan hampir para readers saya yang setia ini menjadi kesal sendiri. Hahaha. Hey, tidak akan ada pelangi tanpa hujan kawan-kawan. Jadi bersantailah sedikit, karena fict ini juga hampir habis, tidak mungkin semua akan berisi konflik.
Queenshila : Mehehe, sudah saya usahakan update kilat, senpai :D terima kasih banyak sudah review. Ending? Sad anding atau happy ending ya enaknya?
ikatainaka : terima kasih, ini sudah saya lanjutkan :D
Kyara Kazuya : Nah, ini dia tokoh favorite saya yang kalo review selalu membuat saya semangat. Ya, semua akan indah pada waktunya senpai :D. Oya, Ino disini sebenarnya tidak membela siapapun, dia hanya mengatakan hal yg sebenarnya. Bahwa, perilaku sang anak itu menurun dari orang tuanya. Maksudnya menyadarkan si Sasuke dalam bertindak sesuatu hal di depan anaknya. Namun, bagaimanapun sikap seorang anak ia tetap butuh orang tua yang lengkap. Maklum dia berlaku demikian karena dari dulu dia emang ga pernah di didik sama seorang 'ayah'. Thanks for reviewnya, senpai :D
Nina317Elf : Mungkin memang pendek, karena saya waktu itu mengerjakannya terburu-buru. Tapi kalo saya baca di BB panjang loh XD #Plak. Makasih udah mau ngikutin cerita ini dan makasih atas reviewnya XD
akasuna no yui-chan : Gomen, Yui-chan kalau meleset dari harapan yui. Hehe, tapi tenang aja, saya kasihan banget sama para pemain yang sudah letih diberi konflik, sudah saatnya mereka bersantai ria. Terima kasih atas reviewnya~
nadialovely : Bocoran deh buat kamu, enggak kok pernikahan bukan maenan. Jadi, gak mungkin diundur. Mereka semua udah lelah berada dalam lingkaran konflik yang gak udah-udah. Sudah waktunya mereka menyelesaikannya, ya 'kan?. Eh dimarahain Kohana loh ngata-ngatain dia XD hehe, ini belom juga nikah udah nanyain adek buat Cherry XD wkwkwk. Soal penyakit Cherry karena tidak terlalu penting, akan ada di Chapter akhir. Hehe, makasih ya udah review lagi :D
ericachristy77 : saya sempet liat kalo balasan review kamu agak error. Kayaknya salah computer saya deh. Soal Kohana, aku juga dapet dari orang lain. Aku baca fict tapi versi komiknya ada nama Kohana, hehehe. Thanks for review ya :D
SRZ : Tuntutan diterima komandan! Tapi sayang, gak ada chapter panjang disini karena mereka baru saja menyelesaikan masalah utama. Ini sudah update tanpa alur kilat XD hahaha.
Aden L kazt : sudah dilanjutkan, pernikahannya gak akan batal ko :) thanks for review
Akasuna Cherry kini duduk termenung di atap sekolahnya yang sepi. Tidak memperdulikan panas matahari yang menyentuh kulitnya, tidak peduli juga kepada bel yang selalu berdering disetiap jamnya. Ia benar-benar lelah, tidak punya semangat hidup. Padahal ujian tengah semester tinggal menghitung hari, ia tidak yakin akan mendapat nilai bagus kali ini. Sudah dua hari sejak kejadian itu, kejadian yang membuatnya menyesal karena harus berpisah dengan Ayahnya. Terlebih pria itu tidak pernah mau bertatapan lagi dengannya, menyuruhnya untuk maju ke depan dan mengerjakan soal-soal di papan tulis juga tidak. Ibunya sedang berada di luar kota karena artisnya harus menjalani shooting. Sasori? Ia sudah kembali ke London untuk berkerja. Ia benar-benar kesepian.
"Disini kau rupanya," ujar sebuah suara mengagetkan Cherry.
"Mau apa Sasuke-sensei kemari?", tanya Cherry dengan raut wajah kesal.
"Sejak tadi pagi ku dengar kau tidak mengikuti pelajaran. Kau membolos, eh?"
Pria yang dipanggil Sasuke itu tertawa kecil. Ia mendudukkan tubuhnya tepat di samping gadis kecilnya, seakan merasakan déjà vu dan ia bernostalgia tentang kenakalannya di masa kecil. Gadis kecil ini mengingatkan dirinya kepada masa lalunya yang indah, yaitu membolos pelajaran.
"Apakah ada untungnya buat sensei bertanya demikian?"
"Kau terlihat aneh saat menyebut kata 'sensei' ditempat sepi seperti ini,"
"Apanya yang aneh?"
"Kau ada masalah?", tanya Sasuke melembutkan suaranya.
"Tidak,"
"Lalu kenapa kau berada disini?"
"Ini kan tempat umum,"
"Ya, kau benar. Tapi kebanyakan orang akan kesini saat mereka berada dalam masalah, sekedar untuk menghindar dari pemikiran kalut, mungkin"
"Dari mana kau tahu?"
"Karena aku juga sering melakukannya sewaktu aku masih menduduki bangku sekolah menengah"
Cherry menatap Sasuke dengan pandangan penuh ingin tahu. Rupanya pernyataan Sasuke sukses membuatnya tertarik.
"Kenapa Sensei suka membolos juga?", tanya Cherry antusias.
"Hobby mungkin,"
"Itu bukan jawaban bagus,"
"Kau sendiri kenapa berada disini?"
"Aku lelah,"
"Lelah? Kau habis berlari maraton?", tanya Sasuke dengan tawa kecilnya.
"Iih, bukan! Sensei ini menghancurkan moodku saja," jawab Cherry dengan pipi yang menggembung.
"Hahaha, maaf-maaf. So, what's your problem? Don't say if you're feel alone"
"Aku memang sendirian," jawab Cherry dengan suaranya yang parau.
"Kau tidak sendirian, Cherry"
"Aku sangat menyesal membuat Ayah dan Ibuku berpisah, aku sudah mencoba untuk memperbaiki sikapku pada Ayahku..hiks..tapi yang aku dapatkan..hiks..malah Ayahku tidak mau menatapku lagi..hiks.."
Sasuke tertegun mendengar pernyataan Puterinya di sela-sela isak tangisnya. Ia menyandarkan punggungnya kepada dinding yang berada di belakangnya, ia menghela nafas berat.
"Kau tahu dari mana kalau Ayahmu tidak mau menatapmu?"
"Aku..hiks..saat aku mencoba mendekatinya..hiks..dia..hiks..dia malah semakin menjauh..hiks.."
Untuk yang kesekian kalinya Sasuke Uchiha menghela nafas berat. Ia melirik Puterinya yang masih sibuk menyeka air matanya. Dengan lembut, Ayah satu anak itu akhirnya menghapuskan air mata Puterinya dengan ibu jarinya. Memandang lembut iris zamrud Cherry dan tersenyum kearahnya.
"Aku tidak pernah menjauhimu, aku pikir kau sudah sangat bahagia hidup tanpa Ayahmu yang tidak berguna ini," ujar Sasuke dengan lembut.
"Omong kosong kalau aku bilang akan bahagia! Tujuanku ke Jepang untuk bertemu Ayahku, mana mungkin aku akan bahagia hidup tanpa Ayahku. Aku merindukan Ayahku!", jawab Cherry dengan air mata yang berlinang lagi.
Sasuke merengkuh tubuh kecil gadisnya. Ia memeluk dalam-dalam tubuh darah dagingnya dengan penuh kasih sayang, menyalurkan segala rasa rindu karena selama dua hari hanya bisa melihat Cherry, namun tak bisa menyentuhnya. Ada sebersit kekhawatiran menatap anak sematawayangnya jika saat pulang sekolah ia harus menunggu jemputan yang sering terlambat, membuat sang Ayah harus menungguinya secara diam-diam. Apabila mobil sudah datang, tugas Sasuke hanya mengikutinya dari belakang dan memastikan apakah Puterinya pulang dengan selamat atau tidak.
"Ayah,"
Suara Cherry menghentikan aktifitas melamunnya, Sasuke segera melepas pelukannya dan menghapus air mata Puterinya dengan lembut. Ia tersenyum kala mendengar bahwa Cherry memanggilnya Ayah, sungguh panggilan yang sangat ia rindukan.
"Ayah tidak akan membatalkan pernikahan dengan Ibu 'kan?"
"Aku akan berusaha sebaik mungkin, kau berdoalah", jawab Sasuke sembari menepuk pucuk kepala Puterinya.
"Ayah harus berjanji padaku, Ayah tidak akan meninggalkanku dan juga Ibuku. Ayah harus berjanji padaku kalau suatu saat kita akan-"
"Menjadi sebuah keluarga," tukas Sasuke dengan cepat disertai dengan senyumannya.
"Aku sudah berjanji sejak kau menginjakkan kaki di sekolah ini, aku tidak akan melepaskan darah dagingku. Trust me!," sambung Sasuke lagi.
Sebuah mobil Lamborghini Urus Super Sonic merah baru saja menghentikan lajunya di depan sebuah rumah bergaya Eropa. Sasuke Uchiha, keluar dari mobilnya dengan menuntun Cherry mendaki anak tangga menuju ke pintu utama untuk memasuki rumahnya. Setelah sampai di depan pintu, tangan mereka segera lepas dari pautan satu sama lain. Mata mereka saling menatap seolah tak ingin terpisah secepat ini, Sasuke membungkukkan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan sang gadis kecil keturunan Uchiha ini. Menepuk pelan pucuk kepala Puterinya, lalu tersenyum- memaksakan tersenyum.
"Jangan lupa makan siang, aku mencintaimu"
CUP
Sasuke mendaratkan ciumannya pada kening Puterinya, nafasnya seakan terasa berat saat menatap wajah sendu Puterinya. Tubuh gadis itu berbalik dan segera memasuki rumahnya, meninggalkan sosok Sasuke yang masih memendam rindu pada buah hatinya. Kakinya melangkah dengan sangat berat meninggalkan rumah yang ditempati Puterinya, entah kenapa hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Puterinya.
PIP PIP
Suara alarm menandakan kalau pintu mobil Lamborghini Urus SS merah itu telah unlock secara otomatis. Tangan kekar Sasuke baru saja berhasil menyambar pintu dan akan membukanya kalau saja tak ada suara teriakan dari buah hatinya yang memanggilnya. Dahi Sasuke berkerut mendapati buah hati tercintanya sedang berlari menuju kearahnya. Pakaiannya bukan lagi seragam sekolah, melainkan kaos merah dengan celana pendek.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, hime?", tanya Sasuke bingung sembari mengangkat tubuh Puterinya.
"Apa Ayah akan pulang dan membiarkan aku sendirian?"
"Tidak,"
"Kalau begitu bawa aku ke taman bermain!", seru Cherry dengan bersemangat.
==oOo==
"Baiklah, ku rasa sudah cukup untuk hari ini. Tetap jaga kondisimu, Kisame!"
Sakura Haruno berdiri menatap artisnya yang saat ini sedang meneguk sebotol minuman. Tangannya masih sibuk membuka-buka sebuah buku memo kecil yang berada di tangannya, kemudian menatap artisnya dengan tangan yang terlipat di dada.
"Nanti malam akan ada pertemuan dengan produser Beappared, jangan lupa itu"
Kisame menatap managernya dengan seringai kecil yang tertanam di bibirnya, "Aku saja yang akan hadir, kau pulanglah"
"Kenapa aku harus pulang?", tanya Sakura dengan wajah curiga.
"Aku tahu kalau kau terus memikirkan Puterimu itu, walaupun ku akui hari ini kerjamu maksimal, aku tahu kau sedang banyak pikiran,"
"Kisame, ayolah! Aku ini profe-"
"Kau lebih memilih berlembur ria dan membiarkan Puterimu sendirian? Bagaimana kalau ia ternyata bersama si Uchiha itu?", tukas Kisame sembari membuang botol minumnya ke sembarang arah.
"Entah kenapa firasatku mengatakan hal yang sama," jawab Sakura dengan pelan.
Ya, hubungan Actor dan Manager yang satu ini cukup unik. Hubungan mereka bahkan hampir seperti saudara, meskipun terkadang berlebihan mengingat segala masalah mereka sering melakukan sharing dan bahkan Kisame adalah sahabat dekat Sasori di bangku sekolah menengah atas. Jadi, pada dasarnya mereka sudah saling mengenal. Itulah sebabnya Kisame mau berkerja dibawah pimpinan Sakura, ia percaya kalau Sakura bukan seperti manager pada umumnya.
"Lalu bagaimana dengan si Uchiha itu? Kau tetap akan membohongi perasaanmu seperti ini?"
Pertanyaan Kisame mampu menghanyutkan perasaan Sakura. Pasalnya, Ibu muda itu sedang berusaha untuk menyibukkan diri dan melupakan Sasuke. Ya, meski ia sendiri tahu kalau itu tidak akan pernah terjadi. Nama Sasuke selalu ada dalam benaknya, namun menarik kembali ucapannya juga akan semakin melemahkan harga dirinya di depan pria Uchiha itu. Mengingat nama Kohana juga masih meninggalkan luka untuk Sakura, sebenarnya disini siapa yang munafik? Siapa yang bersikap kekanak-kanakkan? Siapa yang menjadi korbannya? Jawabannya adalah kau sendiri- Sakura. Dan korban dari keegoisanmu, adalah Puterimu sendiri.
"Kisame," panggil Sakura dengan suara yang pelan.
"Hn, kau kenapa?", tanya Kisame sembari menatap Sakura.
"Menurutmu, kalau seorang pria yang sudah ditolak, apakah ia akan tetap berusaha mengejar cintanya?"
Kisame tersenyum, "Kalau yang kau maksud adalah Sasuke, aku akan beri tahu satu hal padamu"
"Satu hal apa?", tanya Sakura penasaran.
"Sasuke itu pria mapan. Dari segi fisik ia sempurna, dari segi harta bahkan ia lebih sempurna. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan sangat mudah memilih seorang wanita. Hanya tinggal menunjuknya, lalu menikahinya. Tapi, Sasuke yang kita bicarakan ini berbeda. Ia tetap mengejar cintamu, walau kau sudah bersikap seperti apapun. Sebenarnya apa yang kau cari? Apa kalau Sasuke sudah menemukan perempuan lain, kau baru akan mengejarnya kembali?"
Sakura diam seribu bahasa. Nafasnya bahkan sangat berat untuk di hirup, ia tak habis pikir semua kelakuannya selama ini yang membuat semuanya menjadi berujung runcing. Ia sudah berubah, bukan lagi sebagai Sakura yang dikenal Sasuke-kun dulu.
'Apa yang sudah aku lakukan?', Inner Sakura.
DRRT DRRT DRRT
Sakura meraih handphonenya saat sebuah getaran muncul dari tasnya. Ia tersenyum kecil saat mendapati nama Puterinya disana, yang menghubunginya.
"Cherry, apa kabar?", tanya Sakura dengan lembut.
"Fine, Mom. I want to say something to you," ujar suara di seberang sana.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku sedang bersama dengan Ayah, kami baru saja pulang dari taman bermain. Um~ aku.."
Sakura mendesah panjang saat kalimat Puterinya tergantung disana, "Kau kenapa?"
"Can I sleep with my father? Just for one day. Please,"
"Kau punya rumah yang sama besarnya, kenapa harus tidur bersama Ayahmu?"
"Simple, I'm scared!", jawab Cherry lantang membuat sang Ibu hanya menghela nafas.
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan pulang sekarang"
FLIP
Setelah sambungan telefon terputus, yang terdengar hanya suara gelak tawa Kisame dan disusul dengan beberapa pukulan kecil dari Sakura. Lagi-lagi Sakura masih saja dikalahkan oleh pesona Uchiha. Hahaha.
Sebuah mobil Accord putih susu dengan goresan merah muda itu memasuki halaman rumahnya, ia melihat ada kendaraan lain di teras rumahnya. Sebuah motor Kawasaki Ninja berwarna biru yang ia yakin adalah milik Sasuke Uchiha- calon suaminya. Sampai detik ini, kau masih mengakuinya sebagai calon suamimu? Baguslah. Ia keluar dari mobilnya dan segera berjalan memasuki rumahnya, ia tak menemukan siapapun disana. Ia segera naik ke lantai dua dan menemukan pintu kamar anaknya tengah terbuka, dengan langkah pelan-pelan ia merapatkan tubuhnya pada dinding dan mengintip sedikit apa yang sedang terjadi di dalam kamar anaknya. Karena ia yakin, Sasuke Uchiha berada disana.
"Lalu nasib Cinderella bagaimana? Apakah ia akan segera menikah dengan pangerannya?"
Ia melihat Puterinya bertanya kepada sosok Pria yang sedang bersandar pada penyanggah kasur dengan memegang sebuah buku cerita dongeng. Pria itu membalikkan lembaran demi lembaran buku yang ia pegang.
"Disini dikatakan, pangeran menemukan pasangan sepatu kaca Cinderella dan akhirnya ia menikah dan hidup bahagia", sahut Sasuke sembari menunjuk halaman buku tersebut.
"Waw, sepatu kacanya cantik. Kalau Ayah dan Ibu menikah, aku ingin memakai sepatu kaca agar aku bisa bertemu pangeranku", sahut Cherry lagi.
"Pangeran Konohamaru maksudmu, eh?", suara Sasuke kini terdengar seperti ledekan.
"Ayah ini apa-apaan sih,"
Sakura menyandarkan tubuhnya mendengar pernyataan Puterinya. Tubuhnya mendadak kehilangan tenaga sehingga ia jatuh beringsut ke lantai, air mata tak lagi dapat dibendung. Ia sadar kalau ia benar-benar sudah menghancurkan impian Puterinya. Impian memiliki dan bersatu dengan Ayahnya.
"Sakura,"
Sebuah suara membuatnya terpaksa harus berdiri dan memaksa tangannya harus bergerak cepat untuk menghapus air matanya. Sasuke berdiri di ambang pintu dan menutup pintu kamar Puterinya, ia membantu Sakura untuk berdiri dan tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Sakura.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis? Apa ada yang mengganggumu?", tanya Sasuke bertubi-tubi.
Sakura menggelengkan kepalanya, sebelah tangannya masih sibuk menghapus air matanya. Saat itu juga, genggaman tangan Sasuke segera lepas dari pergelangan tangannya.
"Syukurlah kau sudah pulang, kalau aku mengganggumu aku akan segera pulang. Aku tidak akan terlalu khawatir kalau Cherry ada yang menemani,"
Sasuke segera membalikkan tubuhnya dan segera meninggalkan Sakura, langkahnya pelan menuruni anak tangga tanpa mengetahui bahwa Sakura tengah menatapnya dengan air mata yang berlinang. Sosok Sasuke kini sudah berada di lantai dasar, masih dengan keraguan yang berkecamuk dalam hatinya. Apakah ia harus mengejar Sasuke atau tidak? Jawabannya adalah iya! Karena ia tidak mau lebih larut dalam penderitaan. Dengan sekuat tenaga, ia berlari menuruni tangga dan mengejar Sasuke yang baru saja akan membuka pintu untuk keluar.
"Sasuke-kun!," teriak Sakura dan segera berlari menghampiri Sasuke, memeluknya erat tanpa memperdulikan pandangan heran Sasuke kepadanya.
"Kau akan meninggalkan aku sendirian di rumah ini?! Apa kau sudah tidak mengkhawatirkan wanitamu yang akan tinggal sendirian disini? Apa kau tetap akan pergi meninggalkan aku dan Cherry disini sendirian?! Jawab aku, Sasuke-kun! Jawab aku..hiks..ku mohon"
Hardik Sakura panjang lebar dengan air mata yang semakin mengalir di pipi ranumnya. Sasuke tersenyum, tangannya balas memeluk erat wanita yang menangis di dalam pelukannya. Mereka akan segera menjadi utuh kembali, karena mereka sudah lelah. Tidak akan ada habisnya jika tidak ada pihak yang mengalah disini.
"Sakura-chan, jangan menangis lagi"
Sasuke melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Sakura dengan ibu jarinya. Sakura menatap Sasuke dengan penuh rasa penyesalan, saat jemari itu tak lagi menyentuh pipinya, tubuhnya segera beringsut ke lantai- ia bersujud kepada Sasuke Uchiha. Melupakan semua harga dirinya, martabatnya. Ia benar-benar menyesal dan ia harus mendapatkan kata 'aku memaafkan semuanya, Sakura'. Ia tidak peduli bahwa Sasuke menatapnya dengan penuh pertanyaan, namun dengan satu gerakan saja, tangan Haruno Sakura ditarik oleh Sasuke- menyuruhnya untuk bangkit dan segera berdiri.
"Apa yang kau lakukan, Sakura?!", tanya Sasuke menaikkan suaranya.
"Maafkan aku, Sasuke-kun"
Sasuke menghela nafas, "Kau tidak perlu melakukan itu, cukup dengan membuatmu sadar saja aku sudah bahagia. Kau tidak perlu meminta maaf padaku"
"Sasuke-kun, aishiteru", kata Sakura sembari menghambur ke pelukan Sasuke.
"Aku bahkan sangat mencintaimu, Sakura"
Ya, mereka berpelukan erat. Seolah berbagi kehangatan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Tanpa mereka sadari, sepasang mata zamrud Uchiha mungil tengah menatap mereka dari balik tangga dengan senyum kemenangan. Masalah satu sudah terselesaikan, sekarang sudah saatnya mereka menghadapi masalah lain yang mungkin lebih sulit. Yakni, restu dari Akasuna Sasori.
*TBC*
Oke segini dulu untuk malam ini, para aktor pemain sudah pada kelelahan dan mereka baru saja berbaikan. Untuk ke depannya bahkan tidak ada konflik, tapi yang ada kerja sama keluarga Uchiha kecil ini untuk tetap bersatu dan meminta hak mereka untuk restu dari seorang Akasuna Sasori yang keras kepala.
Sampai bertemu di Chapter 15 mendatang!
Sekali lagi saya tanya, Mind To Review Again? Thank you :D
