Chapter 13 : Plan

.

.

The Zombie

Main cast : Hunhan!

Support cast : muncul saat di butuhkan

Rating : 13+ (T/M)

Length : Chaptered

Genre : Action, Adventure, Gore, Horror,(minor)Romance

WARNING! YAOI

.

.

.

Previous Chapter

"Bagaimana?"

"Bahan bakarnya masih full, kita tak perlu mengisinya."

"Baguslah, kalau begitu aku duluan. Aku tunggu kau disana." Ucap Sehun sebelum menutup pintu mobil RV itu.

Kemudian Mark mengotak-atik apa saja yang ia ketahui untuk menjalankan mobil putih itu. Beruntung ia masih mengingat semua yang di ajarkan oleh ayahnya walaupun awalnya ia belajar karena terpaksa. Dan untuk sekarang, ia benar-benar sangat berterima kasih pada ayahnya.

.

.

.

.

.

"Oi... Sehun!/ Sehunna.."

Kris dan One memanggil bersamaan Sehun yang sedang dalam posisi diam dan bersender pada mobilnya. Mereka berdua baru saja sampai di tempat yang telah di rencanakan sebelumnya, tempat untuk bertemu kembali setelah selesai mencari persediaan.

"Kalian lama sekali." Ucap Sehun.

"Kris! Penyebabnya Kris. Jika dia tak berbuat macam-macam, kami pasti sudah berada disini lebih cepat." Protes One sambil menunjuk Kris yang berada disampingnya.

"Berbuat macam-macam?"

"Bukan masalah, hanya sedikit bermain untuk mendapatkan tambahan persediaan kita." Jawab Kris dengan senyuman di wajahnya tanpa merasa bersalah. Sedangkan One memutar matanya malas mendengar jawaban Kris, sedikit bermain, ingin rasanya ia melemparkan sesuatu ke kepala Kris. Sedikit bermain apa hingga hampir membuat orang lain celaka karena diikuti oleh para walkers.

"Terserah kau."

"Dimana Mark? Dari tadi aku tidak ada melihatnya." Tanya One pada Sehun yang sekarang sudah menegakkan tubuhnya, tak lagi bersender.

"Dia ada di RV itu." Jawab Sehun sambil menunjuk mobil putih besar yang terparkir beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

"Sedang apa?"

"Kau bisa melihatnya sendiri disana. Ah ya, katakan padanya, cepat selesaikan pekerjaannya, sudah waktunya kita kembali ke perkemahan." Suruh Sehun saat melihat One ingin beranjak pergi menuju mobil putih besar itu. Terlihat One menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan Sehun.

Lalu tersisa Sehun dan Kris yang sekarang hanya sama-sama diam tidak tahu harus melakukan apa atau lebih tepatnya tengah bersantai sembari menunggu Mark menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki mesin RV agar dapat hidup kembali dan bisa segera mereka bawa ke perkemahan.

Sehun kini memilih untuk mengambil dan mengeluarkan tas-tas yang berisi persediaan dan kebutuhan mereka di hadapan Kris yang hanya menatap bingung ke arah temannya itu.

"Berapa tas yang kau dapatkan?" Tanya Sehun yang langsung dapat dimengerti oleh Kris. Sebenarnya tas yang di letakkan Sehun di hadapannya ini sudah lebih dari cukup untuk mereka bawa ke perkemahan, tapi sepertinya keberuntungan masih berpihak pada mereka.

"Lima tas full." Jawab Kris dengan sedikit kesombongan di nada ucapannya yang membuat Sehun berdecih pelan, merasa tak terima dengan kekalahannya yang cuma berbeda satu tas dari milik temannya itu.

Lalu Kris menertawakan ekspresi wajah Sehun yang tadinya memandang remeh sekarang berubah menjadi datar. Baru saja Sehun ingin melemparkan kaleng kosong yang ada di tangannya ke wajah Kris, One muncul dari dalam RV dan menarik perhatian keduanya.

"Sehun! Kris!"

"Apa?" Sahut Kris. Keduanya kini memandang One yang sedang memberikan gestur seperti memanggil dan menyuruh mereka untuk segera menuju mobil putih besar itu.

"Ada sesuatu yang harus kalian dengar!" One sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh kedua temannya.

Tanpa banyak bertanya, Sehun dan Kris pun melangkahkan kaki mereka. Tapi sebelum itu, Sehun kembali mangambil tas-tasnya yang juga tentu saja di bantu oleh Kris dan membawanya bersama mereka menuju RV tempat dimana One tadi memanggil.

.

.

.

.

.

"Luhan kembalikan pisau milikku!" Teriak Baejin sambil mengejar tubuh mungil yang sedang berlari menghindarinya dengan lincah.

"Tidak! Siapa suruh kau tak mau mengajariku!"

Setelah itu terdengar kekehan yang keluar dari bibir Luhan saat melihat sang pengejar kesulitan menangkapnya. Biarpun tubuhnya mungil seperti itu, tapi jangan pernah remehkan kecepatan dan kelincahan yang dimilikinya. Jika tidak ada kedua itu, mana mungkin dia menjadi posisi penyerang di tim sepak bola sekolahnya dan hampir selalu memenangkan pertandingan yang diadakan antar sekolah.

"Berhenti Lu! Jangan bermain-main!" Ucap Baejin menahan senyumannya. Sebenarnya ia tak kesal sama sekali dengan apa yang dilakukan si mungil sekarang. Malah ia sangat senang bisa bermain-main dengan teman barunya itu berlawanan dengan ucapannya tadi.

"Tak mau! Kau ingin pisaumu? Ambil dan kejar aku bwek!" Ejek Luhan bersamaan dengan kekehan yang masih keluar dari bibirnya. Dan itu benar-benar menggemaskan di mata sang pengejar.

"Baiklah. Kalau aku sudah menangkapmu, jangan harap kau bisa lepas dengan mudah Lu!" Baejin akhirnya menunjukkan senyumannya yang sejak tadi ia tahan. Baru kali ini ia tersenyum sendiri seperti orang yang hilang akal dan semuanya disebabkan oleh namja dengan mata yang mirip seperti rusa itu.

Dan lihatlah mereka berdua sekarang, kejar-kejaran seperti anak kecil yang membuat siapa saja yang melihatnya menggelengkan kepala. Mereka-tidak Luhan bahkan hampir saja menjatuhkan tumpukan pakaian yang baru saja dicuci karena tak sengaja menabrak Amber yang kebetulan lewat di hadapannya dan untungnya yang ditabrak masih bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tak jatuh.

"Maaf hyung!" Ucap Luhan tanpa menolehkan kepalanya dan semakin menambah kecepatan berlarinya.

Dapat ditebak apa yang dilakukan Amber setelahnya yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghela nafas lega. Jangan salah, ia bukan lega karena Luhan sudah meminta maaf padanya, tetapi lega karena tumpukan pakaian yang ia bawa di tangannya tak jadi jatuh menyentuh tanah.

"Dasar anak kecil." Tunggu- Itu bukan Amber yang berucap, melainkan Taecyeon yang baru saja datang dan segera membantu Amber membawa setengah dari tumpukan pakaian yang baru saja dicuci tersebut.

"Thanks.." Ucap Amber.

"Kau ingin menjemur semua pakaian ini?" Tanya Taecyeon berbasa-basi membuat Amber menatap bingung setelahnya. Dia tidak bodoh, dia sangat mengetahui kedatangan teman tingginya ini pasti memiliki maksud dan itu sudah terlihat sangat jelas.

Dia dan Taecyeon berteman bukan satu atau dua bulan saja, bahkan dari kecil pun mereka berdua sudah berteman yang membuat keduanya layaknya seperti saudara, jadi dia mengetahui dengan pasti sifat dan tingkah laku dari lelaki tinggi tersebut.

"Langsung saja Taec.. Apa yang kau inginkan?" Tanya Amber langsung yang sontak membuat mimik wajah Taecyeon berubah menjadi serius.

.

.

.

.

.

Di suatu tempat yang agak jauh keberadaanya dari perkemahan sekarang terdapat sekumpulan walkers karena seseorang sedang mengumpulkan makhluk mengerikan tersebut dengan cara menangkapnya menggunakan jebakan yang dibuat sendiri.

"Dimana kau?!" Sebuah suara muncul di talkie walkie yang berada di saku milik seseorang itu.

"Sabar sialan!" Jawab seseorang itu.

"Cepatlah! Kami sudah menunggu."

Pria itu tak menjawab dan malah menyeringai bagai seorang psikopat yang kesenangan membayangkan bagaimana aksinya nanti. Entahlah, yang pasti itu adalah suatu rencana yang tentu saja sangat tidak baik sampai harus melibatkan para walkers di dalamnya.

.

.

"Tunggulah.. kalian tak mau menyerahkan, nikmatilah para makhluk sialan ini!"

.

.

.

.

.

TAP!

TAP!

TAP!

Luhan masih berlari menghindari kejaran dari Baejin yang sudah bermandikan keringat, sama halnya dengan Luhan. Yang sejak tadi melihat mereka, kini tak lagi mempedulikannya atau bisa disebut bosan.

Kekehan demi kekehan terus dikeluarkan si lelaki cantik, ternyata berlari menghindari ini lebih mudah daripada harus melewati lawannya saat bermain sepak bola. Tidak dengan Baejin yang sekarang mulai kesal, kali ini dia benar kesal. Mengapa dirinya tak bisa menangkap Luhan yang faktanya lebih kecil darinya. Jangankan menangkap, mengejarnya pun tak bisa, itulah yang ada di pikiran Baejin.

"Hahaha... kau tak bisa menangkapku Baejin, karena kau lambat." Tawa Luhan sambil menolehkan kepalanya ke belakang.

.

DUUGGH!

.

Baru saja ia tadi ingin mengejek kembali Baejin yang tertinggal cukup jauh di belakangnya, tiba-tiba dirinya menabrak sesuatu yang keras membuatnya seketika limbung dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Memejamkan mata, itulah yang dilakukan Luhan sekarang menanti tubuhnya menyentuh tanah. Setelah Seperkian detik muncul kerutan di dahi mungilnya, ia sama sekali tak merasakan sakit, malah rasa sesak yang sekarang menghinggapinya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Mino pada Luhan yang berada di dekapannya. Kemudian Luhan membuka matanya perlahan setelah mendengar pertanyaan seseorang dan mendongak ke atas menatap Mino yang juga sedang menatapnya.

Luhan baru tersadar, ternyata yang ia tabrak tadi bukan benda keras seperti tiang atau kayu melainkan dada bidang seseorang, dan itu merupakan milik orang yang sedang mendekapnya ini.

"Kau tak apa?" Mino mengulangi lagi pertanyaannya karena sejak tadi tidak mendapatkan jawaban dari Luhan.

"Eh-.. Ya, aku tak apa hyung." Jawab Luhan bersamaan dengan lepasnya dekapan Mino pada tubuhnya.

GREP!

"Dapat kau!" Baejin langsung memeluk kuat Luhan dari belakang, menangkapnya. Dia benar-benar sudah sangat kelelahan dan tak sanggup lagi mengejar jika sampai si mungil kabur dan berlari kembali.

"Lepaskan Baejin!"

"Tidak! Kembalikan dulu pisau milikku!"

"Tak mau! Lepaskan aku lebih dulu!"

"Kalau begitu kau tak akan kulepaskan." Baejin tambah mengeratkan pelukannya membuat Luhan meringis pelan.

"Ya..iya.. aku menyerah!" Ucap Luhan pada akhirnya sambil melengkungkan bibirnya ke bawah. Melakukan itu bukannya terlihat jelek malah semakin terlihat menggemaskan dan juga imut disaat bersamaan.

Mino yang memperhatikan mereka sejak tadi hanya tersenyum tampan, kedua matanya tak bisa lepas dari lelaki cantik yang membuatnya akhir-akhir ini tak karuan. Mungkin-bukan, ia benar-benar yakin saat ini dan juga ke depannya dirinya akan terus jatuh pada pesona Luhan yang memang siapa saja akan mengalami hal yang sama saat pertama kali melihat atau mengenal sosok mungil tersebut. Apalagi ditambah dengan sifat ceria dan polosnya, akan membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum ikut terbawa efek dari keceriaannya. Contoh nyata adalah dirinya sendiri.

.

.

.

'Aku berharap kau juga merasakan hal yang sama padaku Lu. Selama hidup, aku tak pernah merasa sedikit pun menginginkan seseorang dengan berlebih seperti sekarang ini. Jika ada kesempatan untuk memilikimu, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.' Batin Mino. Di wajahnya tercetak jelas seringaian yang sangat cocok dan membuatnya terlihat berkali-kali lebih tampan.

.

.

.

.

.

.


To be Continued


.

.

Yo..Yo.. D balik lagi kawan~ wkwk. iya tau D Updatenya kelamaan, chap ini sebenarnya udh selesai dari seminggu yg lalu. tapi baru bisa update sekarang biasa ngaret berkepanjangan wkwk.. Btw bgaimana kabarnya Readers yang masih nunggu ff ini? Sehat atau udh mulai pda bosan?

D berharap kali ini pada rame REVIEW T_T. curahkan pendapat, kritik, saran atau apalah untuk ff ini, biar D pada tau kalian suka atau gak. kalau banyak yg suka kan D bisa semangat nulis*ketikkaliahh ff nya jdi bisa cepat juga Updatenya wkwk..

beberapa chap lagi D akan membuat kalian terkejut*alay . Smoga kalian masih sabar menunggu..

See u gaess

.

*HappyR&R*