A/N: hum um... saya membuat err—dua kesalahan di chapter sebelumnya yang sudah saya perbaiki atas koreksi Tambal Panci karena saya benar-benar lupa, orz. Terima kasih banyak atas koreksinya.
Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. I only own the storyline, Vippra and of course, crazy idea.
Warning(s): SLASH, AU/AR, OOC, minor death chara, and typo.
Pairing: Tom Marvolo Riddle Jr. / Harry James Potter and others
:::
Chapter 14: Escape From the Death
November 1942
"—Jadi benar kalau sesuatu menyerang Meliflua?"
"Yeah, aku tidak sengaja melihatnya di Hospital Wing tadi pagi ketika Madam Marsh menyibak tirai. Dia membeku seperti patung!"
"Tidak bergerak? Apa yang terjadi padanya?"
Harry tidak mendengar lagi kelanjutan dari pembicaraan yang baru saja didengarnya dari dua orang anak perempuan yang duduk tepat di belakangnya karena tiba-tiba saja Profesor Dumbledore bangkit dari kursi empuk di depan kelas dan mulai berjalan mengelilingi kelas Transfigurasi. Harry bisa melihat pria tersebut mengamati seluruh murid-murid Slytherin dan Gryffindor yang sedang memeraktekkan kegiatan mengubah benda mati ke bentuk benda hidup. Ia segera mengalihkan pandangannya ketika melihat pandangan pria itu mengarah padanya.
Harry masih ingat sekali kehebohan yang terjadi di Aula Besar tadi pagi. Awalnya semua tampak seperti biasa kecuali raut wajah Tom yang terlihat marah dan kesal—namun Harry sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi ketika kegiatan sarapan murid-murid Hogwarts selesai, tiba-tiba saja Kepala Sekolah berdiri di depan meja panjang para pengajar; mengumumkan sesuatu telah menimpa Araminta. Pria itu mengatakan kalau sesuatu telah menyerang teman satu asramanya dan mulai kemarin malam sudah diberlakukan jam malam yang lebih awal. Para murid-murid Hogwarts dilarang berkeliaran setelah jam makan malam berakhir.
Pria itu tidak mengatakan apa yang telah menyerang Araminta karena pihak sekolah masih menyelidiki hal itu.
"—Ah, Mr. Evans. Bisakah kau tinggal di kelasku setelah jam pelajaran selesai?"
Seeker Slytherin itu mendongakkan kepalanya. Ia yang baru menyadari keberadaan pengajar Transfigurasi di sampingnya hanya mengangguk singkat; sama sekali tidak mempunyai bayangan mengapa ia harus tinggal di kelas.
Tiga puluh menit kemudian, Harry duduk di sebuah kursi yang berada tepat di hadapan meja Dumbledore dengan sebuah cangkir berisi teh yang masih mengepulkan uap panas di tangannya. Berkali-kali Harry melirik ke arah Dumbledore yang saat itu sedang sibuk membuka sebungkus lemon drop sebelum memasukkan benda itu ke mulut.
"Err—apa yang ingin Anda bicarakan, sir?" Harry memberanikan diri untuk bertanya. Ia tidak bisa berlama-lama di sini karena kurang dari setengah jam lagi ia harus pergi ke lapangan Quidditch untuk latihan rutin. Ia tidak ingin Flint sampai memberikan latihan ekstra hanya karena ia datang terlambat. "Profesor Dumbledore?"
Albus mengedipkan matanya beberapa kali. Ia tidak sadar kalau sejak tadi pikirannya berada di tempat lain. Senyum terpatri di wajah pria berjenggot itu ketika melihat Harry menatapnya dengan wajah cemas.
"Well, kau pasti bertanya-tanya mengapa aku memintamu berada di sini. Bukan begitu, Harry?" Pemuda di hadapannya menggangguk; membuat Kepala Asrama Gryffindor itu kembali bergelut dengan pikirannya sendiri. Sejak kemarin, Albus berulang kali memikirkan apa yang akan dikatakannya. "Apa kau ingat saat tahun pertamamu aku pernah menanyakan apa Mr. Riddle terlihat melakukan sesuatu hal yang tidak wajar?"
Harry yang sedang meminum teh dari cangkir di tangannya mendadak menghentikan kegiatannya. Dengan ragu ia menggangguk. "Aku ingat, Profesor. Apa ada hubungannya dengan mengapa Anda meminta berbicara denganku?"
"Sejujurnya memang ada." Albus menyeruput teh dari cangkirnya sendiri. "Kau pasti sudah mendengar apa yang menimpa Miss Meliflua kurasa. Aku menduga kalau ini ada hubungannya dengan Mr. Riddle. Ah, bukan menduga. Aku bahkan yakin dengan hal itu."
Albus bisa melihat tubuh Harry tersentak dengan pandangan yang segera teralih ke arah lain. Mata biru miliknya sedikit menyipit; menduga kalau mungkin saja Harry tahu sesuatu. "Apa ada yang ingin kausampaikan padaku, Harry? Mungkin kau tahu apa yang tidak kuketahui."
Harry memilih untuk diam. Pikirannya tiba-tiba saja kembali ke malam sebelumnya di mana ia merasakan kembali rasa sakit pada bekas luka di dahinya. Luka itu tidak pernah lagi sakit sejak tiga tahun yang lalu. Tapi semalam, ia merasakan kembali hal itu. Ia tidak perlu berpikir lama mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tom yang sedang marah besar adalah satu-satunya yang bisa membuat bekas luka itu sakit.
Dugaannya terbukti ketika Tom kembali dari patroli sebagai tugas Prefeknya. Pemuda itu masuk ke kamar mereka dengan wajah yang menyiratkan kemarahan. Harry hanya bisa menduga-duga apa yang menyebabkan Tom seperti itu. Dan sekarang setelah dipikir-pikir, mungkinkah Tom marah karena apa yang terjadi dengan Araminta?
Bagaimana kalau kemarahan Tom tadi malam terjadi karena Araminta diserang?
Harry bisa merasakan hatinya mencelos memikirkan hal seperti itu.
Tom menaruh perhatian lebih kepada gadis itu. Ia tahu akan hal tersebut.
"—Harry, Anakku?" Harry tersentak dan segera menatap pria di hadapannya. "Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Harry menyunggingkan senyum tipis. "Hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak penting, Profesor," ujarnya dengan suara pelan. "Mengapa... mengapa Anda berpikir kalau ada sesuatu yang harus kusampaikan, sir? Aku tidak tahu apa-apa."
"Katakan saja itu intuisiku, Nak," Albus berujar sambil kembali menikmati sebungkus lemon drop. Senyum tipis di wajahnya menyiratkan kalau ada hal yang hanya dia yang tahu. Ia kembali memikirkan dari mana harus memulai apa yang ia ketahui itu. "Harry... apa kau mengetahui sesuatu tentang Kamar Rahasia?"
Perlu beberapa saat bagi Harry untuk mengerti apa yang ditanyakan pengajar Transfigurasi di hadapannya. Gelengan kepala darinya menjawab pertanyaan Dumbledore. Dalam keterdiamannya, ia mendengarkan cerita Dumbledore mengenai Kamar Rahasia dan apa yang disembunyikan Salazar Slytherin di dalam sana. Ia masih tidak mengerti mengapa pria itu menceritakan hal seperti ini padanya. Awalnya ia memang tidak mengerti. Namun seiring pria itu bercerita, Harry mulai menyadari apa yang ingin disampaikan pria itu.
"—Lubang itu mengarah ke Kamar Rahasia," gumam Harry yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Ia teringat dengan lubang besar mirip pipa yang dibuka Tom hampir dua bulan yang lalu. Harry memang tidak tahu banyak mengenai Salazar Slytherin, namun ia cukup tahu tentang Sejarah Hogwarts. Salah satu Pendiri Hogwarts itu tidak menyukai keberadaan Darah Lumpur atau Muggleborn dan sangat menjunjung tinggi kemurnian darah penyihir. Hanya satu yang tidak dimengerti olehnya. Mengapa monster Slytherin menyerang Araminta yang notabene adalah Darah Murni?
"Apa yang kaukatakan memang benar. Lubang itu memang menuju ke Kamar Rahasia dan mungkin kau sudah bisa menebak siapa yang membukanya."
Harry terhenyak. Ia tidak menyadari kalau pria di hadapannya mendengar apa yang ia ucapkan barusan. Suaranya tidak sekeras itu sehingga bisa didengar oleh Dumbledore.
"Dari—"
"—Aku mempunyai sumber tersendiri, Anakku," kata Dumbledore dengan senyum misteriusnya. "Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengatakan kepada Kepala Sekolah kalau Tom berada di balik semua ini asalkan kau melakukan sesuatu untukku."
Harry hanya diam saja ketika Dumbledore beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela terdekat. "Seseorang pernah menemuiku dan mengatakan kalau suatu saat nanti, Tom akan membuka Kamar Rahasia dan menebarkan teror di sini," pria itu memulai. "Terdengar sangat tidak masuk akan pada awalnya jika saja aku tidak melihat siapa orang itu. Dia memberitahuku kalau seorang Muggleborn akan meninggal karena Kamar Rahasia dibuka. Tapi semalam orang itu datang menemuiku lagi dan mengatakan kalau masa depan berubah. Bukan hanya seorang Muggleborn yang menjadi korban tapi seorang Darah Murni lain."
"A-Araminta?"
Albus Dumbledore menggelengkan kepalanya. Kedua iris matanya menatap langit mendung di luar kelasnya. "Eileen Prince dan seorang gadis dari asrama Ravenclaw. Miss Prince akan meninggal malam ini kalau tidak ada yang menghentikan Tom. Apa kau mau hal itu terjadi, Harry?"
Harry menahan napasnya. Masih sulit percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Dumbledore. Sampai seberbahaya itukah apa yang akan dilakukan Tom? Bukankah kalau hal ini sampai didengar Profesor Dippet pemuda itu akan dikeluarkan?
"Mengapa... mengapa Anda mengatakan hal seperti ini padaku?"
"Karena hanya kau yang bisa menghentikan Tom, Anakku."
"Aku? Tapi bagaimana—"
Pengajar Transfigurasi itu tidak menjawab. Hanya tersenyum ke arah Harry seolah-olah mengatakan kalau jawaban sudah berada di tangan pemuda itu. Dumbledore kemudian berjalan ke arah ruang pribadinya dan meninggalkan Harry sendirian di kelas tersebut.
Harry sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia merasa marah dan bingung karena Dumbledore tidak mengatakan apa pun. Bagaimana mungkin orang sepertinya bisa menghentikan monster Slytherin sendirian? Bagaimana ia menghentikan Tom kalau pemuda itu sendiri tidak pernah memedulikannya?
Seeker Slytherin itu mengerang frustrasi; antara bingung dan tidak bisa mencerna apa yang baru saja dikatakan Dumbledore. Ia mengedarkan pandangan ke arah luar jendela. Tersentak ketika menyadari langit malam sudah menggantung di luar sana. Mendadak ia teringat apa yang dikatakan Dumbledore.
Nyawa Eileen dan seorang lagi akan hilang kalau ia tidak segera menemui Tom. Tanpa membuang waktu, Harry berlari keluar dari kelas Transfigurasi tersebut. Ia terus berlari sampai langkah kakinya tiba di Aula Besar di mana makan malam akan segera berlangsung. Ia tidak menemukan Tom berada di sana. Hanya melihat Eileen yang duduk dengan Walburga di ujung meja Slytherin. Ia memutar tubuhnya hendak mencari ke asrama. Terdiam di tempat saat menyadari kalau sekarang mungkin saja Tom tidak sedang berada di asrama Slytherin.
Hanya satu-satunya tempat yang mungkin didatangi oleh pemuda itu.
Harry menatap pintu yang mengarah ke kamar mandi anak perempuan. Ia yang tidak menunggu apa pun segera memasuki tempat tersebut. Terkejut ketika mendengar teriakan dari arah sudut ruangan.
"—Apa yang kaulakukan di tempat ini? Kau anak laki-laki dan itu dilarang! Keluar!"
Harry tidak menggubris kata-kata seorang gadis berkacamata dari asrama Ravenclaw di hadapannya. Ia berjalan ke arah deretan wastafel dan menunduk ke arah keran-keran di sana. Seingatnya ia melihat Tom berada di sekitar tempatnya berdiri saat ini.
"Hei! Jangan menghiraukanku!"
Pemuda berambut hitam berantakan itu mengerang pelan. Ia mengalihkan pandangan ke arah gadis berkacamata yang sekarang sedang menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Dengar—err—siapa namamu?"
"Myrtle."
"Dengar Myrtle, tolong jangan menggangguku. Ada hal penting yang harus kulakukan sebelum semuanya terlambat. Ada baiknya kau keluar dari tempat ini sebelum terlambat," Harry berujar. Ia sekarang ingat siapa gadis di hadapannya. Gadis bernama Myrtle itu adalah gadis yang sama yang hampir ditabraknya di tribun penonton saat pertandingan Quidditch melawan Gryffindor waktu itu.
Myrtle mengerucutkan bibirnya dan berkacak pinggang. "Hei! Ini kamar mandi anak perempuan. Harusnya kau yang pergi dari tempat ini, kau tahu? Ah, aku ingat. Kau Evans yang pernah dibicarakan ketahuan menyelinap ke sini oleh Peeves, bukan? Apa yang sebenarnya kaulakukan di sini?"
Oke, Harry sudah tidak tahan lagi sekarang. Kalau ia terus berdebat dengan gadis bernama Myrtle itu, ia yakin kalau ia tidak akan bisa menghentikan Tom. Dengan cepat ia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah gadis itu.
"Keluar," desisnya. "Keluar atau aku tidak akan segan-segan mengutukmu, Myrtle."
Sepertinya gadis Ravenclaw itu cukup tahu keadaan. Myrtle berjalan ke arah pintu kamar mandi dan berlari keluar setelah meneriakkan kalau dirinya adalah orang yang aneh. Harry tidak ada waktu untuk berurusan dengan apa yang akan diceritakan gadis itu nanti. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada deretan wastafel untuk menemukan cara masuk ke Kamar Rahasia. Begitu ia menemukan sebuah simbol ular di tempat itu, ia berbisik. "Buka."
xoxoxo
Tom Riddle terlihat sangat marah. Kedua iris gelapnya menatap tajam ke arah Basilisk yang tampak bersantai di dekat pahatan wajah Salazar Slytherin. Ia belum bisa meredakan amarahnya yang semalam muncul setelah mendengar Dumbledore mengatakan kalau sesuatu menyerang Araminta.
Tentu saja ia bukan marah karena Basilisk telah menyerang gadis itu. Araminta sama sekali tidak ada arti di matanya. Ia marah karena ternyata Eileen bahkan tidak terluka sedikit pun. Tampak terlihat dalam keadaan tanpa luka atau membatu—ia tidak mengacuhkan syok yang masih dialami gadis itu.
Padahal dirinya membuka Kamar Rahasia agar Basilisk bisa menyerang Eileen tapi nyatanya Araminta yang terbaring seperti patung di Hospital Wing. Apa monster Slytherin itu tidak mengerti dengan yang telah ia perintahkan? Hell! Ia tidak perlu makhluk yang tidak bisa menuruti perintahnya.
"—Kau gagal mengerjakan apa yang kuperintahkan," desis Tom. Suaranya segera menggema di tempat itu. "Kau harusnya menyingkirkan Prince dan bukannya Meliflua."
"Kau tidak berhak berkata seperti itu, Child," balas Basilisk dari atas sana. "Kau tiba-tiba datang dan membuka tempat ini lalu menyuruhku untuk menyerang seorang Darah Murni? Berikan aku satu korban baru aku akan melakukannya."
"Korban, huh?" Tom berbalik bertanya. "Kau bisa memakan Prince begitu kau membunuhnya!"
Basilisk tampak tidak menggubris seruan Tom. Ular besar itu perlahan turun dari tempatnya dan bergerak ke arah Tom; berhenti tepat di depan sang Pewaris Slytherin itu.
"Aku dilahirkan bukan untuk memangsa Darah Murni." Kedua kelopak mata Basilisk perlahan terbuka; menampilkan iris berwarna kekuningan. Ular itu mendesis karena pemuda di hadapannya menutup mata tepat sebelum kedua kelopak matanya terbuka sepenuhnya. "Darah Lumpur. Berikan aku Darah Lumpur atau Darah Campuran maka akan kuberikan apa yang kauminta. Ah, bukankah kau sendiri seorang Darah Campuran? Aku bisa menciumnya dengan jelas."
Belum sempat Tom membalas kata-kata Basilisk, ia mendengar gerakan dari ular besar itu. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Kepala ular yang mengarah ke arah pintu masuk—dengan kedua mata ular itu yang terpejam dan lidah bercabang membaui udara—adalah hal pertama yang dilihatnya.
"Ah, aku tidak tahu kalau kau membawa makanan ke sini, Child."
Tom sontak memutar kepalanya ke arah pandangan Basilisk. Kedua mata pemuda itu melebar melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri di depan pintu Kamar Rahasia dengan tongkat sihir yang berpendar menyinari keadaan sekeliling pemuda itu. Napasnya tercekat.
Ia tidak pernah mengharapkan Harry untuk berada di sini. Tidak dengan adanya Basilisk di sekitar mereka.
Harry tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana mungkin ada ular sebesar itu di dunia ini? Ia bahkan tidak bisa menebak berapa panjang dari makhluk besar dan mengerikan yang sekarang dilihatnya.
Ia benar-benar beranggapan kalau apa yang dilihatnya mungkin hanya mimpi dan ia sungguh berharap untuk segera terbangun; menyadari kalau ia berada di kamarnya di asrama Slytherin yang nyaman. Namun walau sekarang ia berusaha untuk terbangun dari mimpi buruk ini, ia tidak bisa. Ia menyadari kalau ini adalah kenyataan.
Kenyataan bahwa Tom melanggar kesepakatan mereka untuk tidak masuk ke tempat seperti ini.
Jadi makhluk inikah yang disebut-sebut Dumbledore barusan?
"—Ini aneh."
Tubuh Seeker Slytherin itu tersentak mendengar suara yang berasal dari makhluk ular yang berada tidak jauh darinya. Ia mengalihkan pandangan ke arah sosok Tom. Pemuda itu terlihat tidak bergerak sedikit pun. Harry bahkan bisa melihat wajah ketakutan yang jelas terlihat dari pemuda itu.
"—Aku tidak mengerti mengapa kau bisa mempunyai aroma yang sama dengannya. Tidak ada yang mempunyai kesamaan seperti itu di dunia ini."
Harry hanya bisa menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan makhluk mengerikan itu. Sudut matanya bisa melihat Tom yang berjalan ke arahnya. Raut wajah yang dingin kembali terpasang di diri Tom.
"Aku tidak pernah mengijinkanmu berada di sini, Evans," desis Tom. Kedua iris gelap pemuda itu berkilat marah. "Apa kau tahu apa yang bisa terjadi padamu jika berada di sini?"
"Aku hanya ingin menghentikan apa yang akan kaulakukan. Aku tidak akan membiarkan makhluk itu sampai melukai Eileen. Tidak akan pernah."
Kedua mata Tom membulat. "Dari mana kau—"
"—Aku punya sumber tersendiri, Tom." Harry mengutip kata-kata yang sempat Dumbledore katakan. "Aku tahu semuanya. Jadi ini yang sudah kausembunyikan dariku? Makhluk mengerikan seperti ini? Aku bertaruh kalau monster itu yang sudah menyerang Araminta."
"Bukan urusanmu."
Harry mengepalkan tangannya yang sedang menggenggam tongkat sihir. Kedua matanya menatap tajam kepada pemuda di hadapannya. "Ini akan menjadi urusanku jika kau tidak menghentikan semua hal konyol ini, Tom Marvolo Riddle. Aku bersumpah kalau aku sendirilah yang akan melakukannya jika kau tidak mau. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa pun dengan monster itu," ancam Harry dengan napas yang mulai tersengal. Perjalanan menuju tempat seperti ini bukanlah hal yang ingin ia lakukan lagi. "Katakan padaku, Tom. Katakan padaku apa alasanmu ingin membunuh Eileen. Aku tidak pernah melihat dia melakukan sesuatu yang buruk padamu."
Tanpa diduga oleh Harry, Tom tertawa. Namun tentu saja bukan tawa yang seperti biasanya. Tawa itu sanggup membuatnya merasakan perasaan yang tidak nyaman. Perasaan yang sama ketika Tom melakukan sesuatu kepada Malfoy.
"Tidak melakukan kesalahan padaku, huh?" Tom berbicara sembari mendekatkan tubuhnya ke arah pemuda berambut hitam berantakan tersebut. Ia kembali merasakan perasaan asing ketika mengingat bagaimana gadis dari keluarga Prince itu mencium Harry. "Dia melakukan kesalahan yang sangat besar padaku, Harry."
"Apa? Apa kesalahan yang sampai membuatmu melakukan hal seperti ini?"
Rahang Pewaris Slytherin itu mengeras. Ia menggeretakkan giginya menahan amarah. Namun ketika melihat pemuda di hadapannya terdengar membela Eileen, ia merasa... cemburu?
"Dia menciummu," desis Tom setelah tidak bisa lagi mengontrol apa yang ia rasakan. Tangan kanan pemuda itu bergerak dan menyentuh pipi Harry—membuat pemuda itu tersentak. Perlahan, jemari tangan Tom bergerak ke arah bibir Harry dan menyentuhnya. "Dia menciummu tepat di hadapan semua orang. Kau tahu, aku tidak akan pernah suka jika ada orang yang menyentuhmu selain diriku. Tidak ada orang yang boleh menyentuh milikku."
Harry bisa merasakan napasnya tercekat ketika merasakan sentuhan Tom. Ia memang tidak pernah suka jika ada orang yang menyentuhnya setelah kejadian itu. Namun tidak dengan Tom. Ia tidak pernah merasa ketakutan jika pemuda di hadapannya tidak sengaja menyentuhnya. Jauh dalam dirinya ia selalu yakin kalau Tom tidak akan pernah menyakitinya. Tom adalah orang yang selalu menolongnya walau terkadang pemuda itu selalu menampakkan ekspresi tidak suka atau tidak peduli.
Dan sekarang, ketika Tom mengatakan kalau dirinya adalah milik pemuda itu, ia merasa... entahlah. Ia tidak tahu apakah harus senang atau marah. Ia senang ketika mendengar Tom tidak suka jika ada orang lain yang menyentuhnya. Tapi ia juga marah. Dirinya bukanlah barang yang bisa dimiliki. Tubuhnya adalah miliknya sendiri. Ia itu manusia, ingat?
"T-Tom—"
"—Apa kau tidak mau membalas apa yang pernah dilakukan Malfoy padamu?" Tom memotong kata-kata Harry. Jemari Pewaris Slytherin itu masih bermain-main dengan bibir Harry. Ia bisa merasakan bibir Harry yang bergetar ketika mengucapkan namanya. "Apa kau tidak ingin memberi pelajaran kepada Malfoy? Aku bisa melakukannya jika itu yang kauinginkan."
Kalimat terakhir dari Tom kembali menyadarkan Harry. Ia menggenggam pergelangan tangan Tom dengan tangannya yang bebas. Kecewa ketika jemari dingin itu meninggalkan permukaan kulitnya. Merlin, apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"Jangan lakukan itu," desis Harry dengan nada putus asa. Tidak bisakah Tom melupakan hal semacam itu? "Aku tidak akan merasa senang jika kau menyakiti Malfoy. Apa gunanya? Kau bisa membuat dirimu terlibat masalah yang besar jika tetap melakukan hal ini!"
"Aku sudah terlibat masalah jauh sebelum kau sadari hal itu, Evans!" seru Tom tiba-tiba. "Aku masih belum bisa memaafkan apa yang dilakukan Malfoy atau Prince padamu. Mereka pantas mendapatkannya!"
"Maka hentikan sebelum semuanya terlambat!" Harry balas berteriak. Ia menyentak tangan Tom. Ekor matanya menangkap sosok badan ular yang berada tepat di belakang Tom; berusaha mengenyahkan bayangan apa yang bisa dilakukan ular itu. "Kumohon, kembalilah. Jauhi tempat ini! Apa pun akan kulakukan jika itu bisa membuatmu melepaskan kedua orang itu."
"Apa kedua orang itu begitu penting bagimu?" Tom bertanya.
Harry menggelengkan kepalanya. "Kau jauh lebih berharga dibandingkan dengan apa pun di dunia ini, Tom. Kau harus tahu itu."
Harry sudah berpikir kalau Tom akan kembali berdebat dengannya. Ia sangat terkejut ketika pemuda di hadapannya malah semakin mendekat. Belum sempat mengerti dengan apa yang ada di pikiran Tom, Harry sudah lebih dulu merasakan sentuhan di bibirnya. Ia tahu itu bukanlah jemari tangan Tom melainkan bibir pemuda itu ketika melihat bagaimana dekatnya wajah mereka. Mendadak, seluruh pasokan udara di sekitarnya lenyap.
Ciuman itu bukanlah ciuman yang lembut. Kasar dan bahkan mendominasi dirinya; sangat berbeda dengan ciuman sepihak yang pernah diberikan Eileen padanya. Tom melumat bibirnya sampai ia tidak bisa menghirup udara. Ia bisa merasakan tubuhnya bergetar dengan kaki yang mendadak hanya berupa daging tanpa tulang ketika Tom terus menerus menyerang bibirnya. Ia yakin kalau dirinya akan terduduk di lantai jika lengan pemuda itu tidak menahan pinggangnya.
Ia tidak mengerti mengapa Tom melakukan hal seperti ini padanya.
Mengapa Tom menciumnya?
Kedua bibir yang saling bertaut itu perlahan terlepas ketika Tom menarik wajahnya menjauh. Kedua kelopak mata Harry yang setengah terpejam menatap tidak mengerti ke arah Pewaris Slytherin tersebut. Banyak pertanyaan yang saat ini muncul di kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti. Ia tidak mengerti dengan semua ini.
"Kau... kau milikku. Ingat hal itu baik-baik, Harry."
Suara Tom menjadi satu-satunya suara yang bisa didengar oleh Harry. Pemuda itu membuka mulutnya sebelum menutupnya kembali ketika melihat Tom mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia baru menyadari kalau lengan kanan Tom masih memeluk pinggangnya.
"Tom...?"
"—Kau tidak boleh menyentuhnya. Tidak sehelai rambut pun. Ingat itu." Tom menatap tajam ke arah Basilisk. Sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan apa yang ia lakukan barusan. Ia masih punya urusan dengan makhluk penghuni Kamar Rahasia.
"Tidak ada yang bisa memerintahku termasuk kau, Pewaris Slytherin. Sudah beratus tahun aku terjebak di sini. Berikan anak itu atau kau sendirilah yang akan menggantikannya. Aku sudah tidak sabar untuk membunuh dan mencabik-cabik tubuhnya. Bunuh..."
Desis marah terdengar dari Basilisk. Ketika melihat ular itu mulai bergerak, Tom segera mencengkeram lengan Harry dan berlari menjauhi Basilisk. Ia tidak tahu bagaimana jika seekor Basilisk marah. Ia hanya tahu kalau nyawanya bisa saja melayang kalau tidak cepat pergi dari tempat ini.
"Apa yang akan kaulakukan?" Harry bertanya padanya. Tom tidak menjawab. Hanya melirik ke belakang di mana Basilisk kini masih bergerak mengejar mereka. Ia bisa melihat makhluk itu mengeluarkan dua buah taring tajam yang sangat beracun. Dengan cepat Tom melemparkan beberapa kutukan ke arah Basilisk yang tentu saja tidak mampu menghalangi gerakan ular tersebut.
"Mantra-mantra seperti itu tidak mempan padaku, Child!" Basilisk mendesis marah. Walau tidak membuka matanya, ia bisa tahu keberadaan kedua mangsanya dari menciumi udara di sekitar tempat itu; membuat Tom harus bekerja lebih keras untuk bersembunyi.
Dengan napas terengah-engah akibat berlari, Harry menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar di tempat itu di mana Tom membawanya untuk bersembunyi. "Kita tidak akan mungkin terus berlari seperti ini, Tom," ujarnya. "Makhluk itu akan membunuh kita!"
"Aku tahu. Tapi sebelum Basilisk membunuh kita, aku yang akan menghancurkannya terlebih dahulu. Ingat, jangan menatap kedua matanya jika tidak ingin mati, Harry."
Harry tidak perlu menanyakan apa yang akan dilakukan Tom. Ia hanya mengamati pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekitar mereka. Ia menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara sekecil apa pun di tempat itu. Ia tidak mengerti mengapa bisa terlibat dalam kondisi seperti ini. Oh, ia ingat karena Dumbledore memintanya untuk menghentikan Tom sebelum Basilisk menyerang Eileen.
Suara gerakan yang berasal tidak jauh dari pilar membuat kedua orang itu tersentak. Tom menarik tubuh Harry mendekat ke arahnya. Tongkat teracung ke arah asal suara. Sang Pewaris Slytherin itu berpikir keras untuk mencari mantra atau kutukan yang bisa melawan Basilisk.
Satu kutukan terlintas di kepala Tom. Dengan cepat ia meluncurkan kutukan itu ke arah di mana Basilisk berada. Sebuah Chimaera yang terbentuk dari kutukan Fiendfyre segera menerjang monster Slytherin itu. Tom tidak tahu apakah kutukan Fiendfyre mempan untuk melawan Basilisk. Ia hanya diam mengamati bagaimana kobaran api dengan bentuk dan panas yang tidak normal itu mengenai ekor Basilisk kemudian mulai membakar habis. Desis marah terdengar dari ular besar tersebut sebelum kulit bersisik itu terbakar sedikit demi sedikit. Tom yang mengakui kalau dirinya tidak yakin bisa mengendalikan api itu memilih untuk menarik tangan Harry dan membawanya ke arah pintu keluar.
"Tutup!" desis Tom dengan teriakan keras ke arah dua ekor pahatan ular. Perlahan kedua ular itu bergerak membelit satu sama lain seiring tertutupnya pintu yang menuju Kamar Rahasia. Tom segera menghempaskan tubuhnya di atas lantai berdebu begitu pintu itu tertutup.
"—Aku harap ini terakhir kalinya kau melakukan hal berbahaya seperti ini," kata Harry yang terduduk di sampingnya. Tom menggumamkan 'lumos' untuk menerangi tempat di sekitar mereka. Ia masih bisa melihat wajah Harry yang sedikit memucat dengan keringat menetes di kening pemuda itu. Tanpa sadar Tom mengulurkan tangannya yang bebas untuk membelai wajah pemuda itu; membuat Harry terkejut sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jangan lakukan itu," bisik Harry. Ia berusaha meredakan debaran jantungnya; tidak tahu apakah debaran itu karena pengaruh apa yang dialaminya tadi ataukah karena sentuhan Tom. Ia menggigit bibir bawahnya merasakan panas merambat di wajahnya karena teringat dengan ciuman yang diberikan Tom padanya.
"Aku tidak boleh menyentuhmu, huh?"
Harry tidak menjawab; lebih memilih untuk menatap pintu yang baru saja tertutup. "Apa yang terjadi dengan Basilisk?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan. Ia tidak berkomentar ketika Tom mendengus.
"Mati kurasa. Kalaupun tidak, Basilisk akan tetap terkurung di sini karena aku tidak berniat untuk membuka lagi tempat ini."
Kali ini giliran Harry yang mendengus; membuat Tom menatap heran kepadanya. "Apa yang kaulihat? Kaupikir aku akan percaya? Aku pernah memintamu untuk tidak datang ke tempat ini tapi kau tidak mengacuhkannya. Sekarang lihat kekacauan apa yang sudah kautimbulkan. Kita hampir mati di dalam sana, kau tahu?"
"Kita tidak akan menghadapi kejadian barusan kalau kau tidak datang ke tempat ini. Lagi pula kapan aku mengiyakan permintaanmu? Jangan bercanda, Evans."
Harry menyunggingkan senyum sinis ke arah Tom. Ia tidak mengerti mengapa perilaku pemuda itu kini berubah. Padahal tadi Tom terlihat begitu baik dan tampak mengkhawatirkannya. Tapi sekarang, pemuda itu kembali ke tingkahnya yang menyebalkan.
"Terserah padamu saja," desah Harry sambil menegakkan tubuhnya. Ia membersihkan sisa debu yang menempel di jubah miliknya sebelum berjalan ke arah terowongan gelap yang membentang di hadapannya. Ciuman yang dilakukan Tom di Kamar Rahasia segera terlupakan begitu saja.
"Kau mau ke mana?" tanya Tom yang ikut menyusul langkah Harry.
"Tentu saja kembali ke atas. Aku tidak mau berada di sini selamanya. Aku lelah dan ingin tidur."
Tom mendecakkan lidah dan berjalan di sebelah Harry. Barulah ketika mereka sampai di ujung pipa yang dilalui saat datang ke tempat ini, Harry menghentikan langkah kakinya dan terdiam sejenak. Tom melihat kedua alis pemuda itu bertaut satu sama lain.
"Err—kau tahu bagaimana kita bisa kembali ke atas?" tanya Harry dengan wajah polos; membuat Tom memutar bosan kedua matanya sebelum bergumam 'Bodoh!' yang ditujukan untuk pemuda di sampingnya.
xoxoxo
20 Agustus 1994
Ruangan di sekitar tempat itu terlihat sangat tua dan tidak terawat lagi. Debu menutupi hampir setiap jengkal tempat itu; menutupi semua perabotan yang dulunya pastilah terlihat sangat mengilap dan juga baru. Tidak ada penerangan lebih di ruangan itu. Hanya pendar jingga kemerahan yang berasal dari perapian tua di tempat tersebut. Tidak jauh dari perapian, sesosok tubuh terlihat berlutut di dekat sebuah kursi berlengan yang menghadap ke arah perapian yang menyala. Tidak jauh darinya, ada sosok lain berdiri dengan kedua tangan yang bersilang di dada.
"—Apa kau menemukannya?" Sebuah suara bernada tinggi menggema di ruangan tersebut; membuat sosok yang berlutut di lantai sedikit bergidik. "Di mana dia?"
Tidak ada jawaban dari sosok yang ditanya membuat pemilik suara pertama itu mendesis.
"Apa kau menjadi tuli setelah dua belas tahun dalam bentuk tikus, Wormtail?"
Kedua mata biru berair milik Wormtail seketika melebar ketika menyadari sepasang iris merah menyala mendelik ke arahnya. Nyali pria bertubuh gemuk itu segera menciut. Ia menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh lantai kayu berlapuk di tempat itu. Sosoknya sekarang bahkan bisa disamakan dengan peri rumah yang kedapatan melakukan suatu kesalahan oleh majikannya.
"T-tentu saja tidak, M-My Lord," cicit Wormtail sambil memainkan jemari tangannya yang kotor. Sudut matanya melirik ke arah Barty Crouch Jr yang terlihat memandangnya dengan tatapan meremehkan.
"Lalu di mana dia!"
"Dia ti-tidak berada di Hogwarts, M-My Lord," kata Wormtail dengan cepat setelah mendengar teriakan sosok di dekatnya. Suara jerit kesakitan segera terdengar di ruangan tersebut ketika sebuah kutukan Cruciatus mengenai tubuh Wormtail. Pria mirip tikus tersebut mengerang kesakitan di atas lantai berdebu.
"Aku tahu dia tidak berada di Hogwarts sejak tiga tahun yang lalu, Wormtail." Pemilik suara pertama mengacungkan tongkat sihir ke arah Wormtail. "Kau sama sekali tidak berguna. Padahal selama dua belas tahun kau bersembunyi di keluarga pecinta Muggle itu tapi tidak satu pun hal berharga yang kaudapatkan? Menyedihkan. Aku lebih baik mengumpankanmu kepada Nagini daripada menghabiskan ruang di sekitarku."
'T-tapi, My Lord. A-aku adalah orang pertama y-yang me-menemukanmu d-dan membawamu ke sini—"
"DIAM!"
Nyali Wormtail kembali menciut. Tubuhnya bergetar karena ketakutan mendengar teriakan tersebut. Ia tahu kalau sedikit saja salah bicara, ia yakin nyawanya pasti akan segera hilang. Wormtail tidak perlu pintar untuk tahu hal seperti itu.
"Ta-Tapi mungkin aku bisa menebak d-di mana dia berada, My Lord." Wormtail memberanikan diri mendekati sosok yang duduk di kursi berlengan tersebut. Ia berusaha tidak mengalihkan pandangannya dari sosok buruk rupa—dan nyaris tidak menyerupai manusia lagi—karena itu hanya akan membuat tuannya merasa dihina. "A-aku mendengar Du-Dumbledore tahu di mana ke-keberadaannya. A-aku bisa membawanya ke-ke hadapanmu, My Lord."
Sosok tuannya mendesis. "Maka bawa dia padaku. Segera jika kau masih menyayangi nyawamu sendiri."
Baru saja Wormtail ingin berbicara, terdengar desis lain dari arah pintu ruangan tersebut. Tidak lama kemudian, seekor ular berukuran besar muncul dari balik celah pintu yang setengah terbuka. Wormtail merinding ketika mendengar desis dari ular tersebut yang kemudian dijawab dengan desis lain dari sosok tuannya. Ia selalu tidak menyukai mendengar bahasa Parseltongue itu; membuatnya tidak tahu apa yang direncanakan tuannya. Siapa tahu kalau tuannya akan menyerahkan dirinya kepada Nagini.
"—Rupanya kita kedatangan tamu."
"Siapa, My Lord?" Barty Crouch Jr berbicara untuk bertama kalinya. Pria berambut hitam itu segera mengacungkan tongkat sihir miliknya tanpa disuruh siapa pun.
"Seorang Muggle," sosok itu bersuara. "Nagini mengatakan kalau ada seorang Muggle tua yang berdiri di depan pintu. Menguping tentu saja. Muggle tidak tahu diri. Undang dia untuk masuk, Wormtail."
Tanpa perlu diperintahkan dua kali, Wormtail segera berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu tersebut lebih lebar. Sepasang iris biru berair miliknya menatap terkejut ke arah sosok pria itu yang berdiri di depan pintu. Wormtail hanya diam saja ketika melihat tuannya berbicara dengan Muggle tersebut. Tidak lama kemudian, sebuah warna hijau cemerlang melintas tepat di depan matanya dan mengenai sosok pria tua itu.
Tidak sampai dua detik, tubuh sosok Frank Bryce sudah terbaring kaku di atas lantai berdebu. Raut ketakutan terpatri jelas di wajah penjaga rumah yang dulunya milik keluarga Riddle itu.
To be continued
Next chapter, Harry bertemu dengan Voldemort dan para Death Eater #evillaugh. Semoga saja chapter ini tidak terlalu membingungkan walau saya sudah mencantumkan tanggal di setiap penggantian setting waktu. Chapter yang, IMO, lebih sulit saya ketik. Dan ah—saya tidak tahu apakah Fiendfyre bisa membunuh Basilisk. Tapi jika dilihat mantra itu bisa menghancurkan Horcrux dan Kamar Kebutuhan, saya rasa itu mungkin. Akan terlihat dipaksakan jika Harry sampai mengeluarkan Pedang Gryffindor dari Topi Seleksi karena dia berada di Slytherin. Yosh! Terima kasih banyak atas semua review yang diberikan selama ini (HAGU) Review and concrit please!
