GRAVITY
Third last chapter
Backsound : Kim Ez – Shine (recomended)
Tidak ada seorang pun yang ia dengarkan, wanita itu nyaris sekeras kepala prianya yang terlihat enggan membuka mata.
Tangisnya sudah reda, namun semua orang tahu bahwa saat ini Baekhyun adalah satu-satunya manusia paling merana di samping brangkar tempat di mana Chanyeol setia terbaring dan terpejam.
Jejak air mata di pipi menjadi saksi sedalam apa penyesalannya saat ini. Bahkan karena merasa begitu bersalah dan berdosa, Baekhyun tidak sedikit pun melemahkan genggaman tangannya pada deretan jemari yang dulu selalu sanggup memberinya kehangatan.
Baekhyun telah bertemu dengan tuan dan nyonya Park, respon yang ia beri atas penyesalan keduanya hanya seadanya.
Tentu, sejak semuanya hanya menyisakan luka dan ceceran air mata, Baekhyun menjadi sulit untuk kembali menjadi seorang pemaaf. Terlebih kepada mereka yang pernah memisahkannya dengan Park Chanyeol.
Wanita itu bahkan sanggup menghukum siapa pun yang bertanggung jawab atas kondisi prianya saat ini.
Benarkah?
Apakah Baekhyun masih berhak memanggilnya Chanyeol sebagai prianya ketika bahkan kini ada pria lain yang mungkin tengah menyebut Baekhyun sebagai calon istri di hadapan keluarga besarnya
Oh ya, bahkan beberapa jam telah berlalu, deretan panggilan dan pesan singkat yang tak terjawab memenuhi kolom notifikasi.
Itu sudah pasti dari Kris.
Baekhyun mengabaikan segalanya kecuali sosok pria yang setia memupuk rasa bersalah di dalam hatinya.
"Dia belum makan apapun, Ahjumma. Bisakah kau membujuknya?"
Itu jelas suara Kyungsoo, pelan dan hanya membiarkan nyonya Park seorang yang mendengarnya.
"Baekhyun tidak akan mendengarkan siapapun. Apalagi diriku, dia marah kepadaku dan suamiku. Kau tahu situasinya seperti apa." Sahut nyonya Park yang masih betah memperhatikan Baekhyun yang duduk tertunduk di samping brangkar putranya sejak beberapa jam terakhir.
Kyungsoo mendengus kecil sebelum kemudian memutuskan mendekat pada Baekhyun, menepuk bahunya yang telah lama kehilangan ketegaran. "Biar aku yang menjaganya sebentar, makanlah dulu paling tidak—"
"Tidak." Baekhyun menjawab singkat sementara pandangan matanya tak sedikit pun lari kemana-mana.
"Tapi kau belum makan apapun sejak siang."
Tidak ada lagi jawaban.
Tim medis tidak memberi harapan kapan Chanyeol akan siuman, namun jemari yang perlahan bergerak setelah beberapa jam lalu kaku menjadi alasan kuat atas kedua kornea Baekhyun yang melebar.
Wanita itu terkesiap sebelum berdiri dan menunduk, menunggu sepasang mata mengerjap dengan pelan.
Keajaiban itu pun tentu disambut antusias oleh Kyungsoo dan nyonya Park, keduanya lalu mendekat.
Sepasang iris kelam yang dulu selalu sanggup membuat Baekhyun tunduk di bawah pesonanya kini melempar tatap lemah kepada wanita asing yang membuat kernyitan di dahinya mengemuka.
Baekhyun menarik diri, ditatap sebagai orang asing yang secara langsung menusuk ulu hatinya dengan jutaan belati.
Chanyeol lalu melirik Kyungsoo dan nyonya Park yang telah lebih dulu waswas akan kondisinya. "Noona..." Suaranya parau.
Kyungsoo mengangguk lalu mengusap puncak kepala Chanyeol. "Ya? Apa kau baik-baik saja?"
Chanyeol menggeleng lalu bangkit dan beringsut melepas genggaman tangan Baekhyun dan membelakangi wanita itu.
Melahirkan ekspresi yang sukar diartikan di wajah Baekhyun.
"Ada apa, Chan?" Kyungsoo heran mendapati Chanyeol seolah semakin menjauh dari jangkauan Baekhyun.
Pria itu menggeleng serupa anak kecil yang enggan berbagi coklat dengan teman sebaya.
Sementara Baekhyun mulai merasakan aroma karat karena menggigit bibirnya terlalu kuat.
Apa dalam keadaan seperti itu pun Chanyeol tidak lupa bahwa Baekhyun telah melukai hatinya?
"Tidak apa-apa, dia bukan orang jahat. Dia... Baekhyun." Kyungsoo mencoba menepis kegelisahan yang menyergap Chanyeol sejak saat ia membuka mata dan bersitatap dengan Baekhyun. "Chan..."
Pria itu bergeming masih enggan menunjukkan wajah yang ia sembunyikan di balik kedua telapak tangan sebelum sebuah sentuhan kecil di punggung sanggup membuatnya kembali berbalik, menatap si pelaku seolah dia adalah orang jahat yang pantas untuk diwaspadai.
Dan di saat yang sama Baekhyun mengerahkan segala upaya untuk mengulur tangis yang nyaris luruh.
Tepukan tangan nyonya Park di bahu Baekhyun cukup membantu. Wanita itu lantas mendekat dan mesejajarkan wajahnya dengan Chanyeol.
Baekhyun tahu banyak tentang kondisi pria itu karena Kyungsoo telah menjelaskan.
Satu lagi alasan atas penyesalan yang semakin ia rasakan.
Chanyeol menunduk takut meski mulai enggan melepaskan tatapannya dari sepasang iris bening yang menenangkan.
"Hei, namaku Baekhyun." Wanita itu mengulurkan tangan. "Bolehkan aku menjadi temanmu?"
Chanyeol menatap tangan yang menggantung, berniat menjabatnya. Lantas ia kembali melirik Baekhyun dan mengerjap pelan mendapati senyuman yang terpatri di bibir wanita itu. Dan secara ajaib Chanyeol mulai lepas dari kekhawatiran. "Noona mau jadi temanku?"
Baekhyun menganguk cepat, menghindari rasa sesak yang semakin mendera ulu hati. "Tentu, siapa yang tidak mau bertema dengan orang tampan."
Hidung Chanyeol mengembang lantas tanpa diduga senyumannya mengemuka, seperti bocah yang bangga dan senang akan sebuah pujian.
Nyatanya kedua sudut bibirnya yang terangkat itu menular, Baekhyun sedikit melupakan kesedihan dan ikut tersenyum karenanya.
"Tapi aku idiot." Senyum Chanyeol lenyap berganti rengutan yang membuatnya tampak tidak ada bedanya dengan bocah taman kanak-kanak.
Baekhyun menggeleng dengan cepat. "Tidak. Kau tidak idiot. Siapa yang berani mengataimu seperti itu? Noona akan menghukum mereka!"
Dan kalimat itu sanggup mengembalikan senyuman Chanyeol. Pria itu bangkit, mengabaikan pening di kepala lalu menarik lengan Baekhyun dan mengajaknya keluar dari ruang IICU.
Kyungsoo dan nyonya Park bahkan belum pulih dari keterkejutan karena aksi Chanyeol tersebut.
"Hei, kita mau kemana?" Baekhyun setia mengekori langkah Chanyeol yang sedikit tertatih. "Kau belum pulih sepenuhnya. Chanyeol—"
"Noona bilang akan menghukum Ahjumma itu—" Chanyeol mengedarkan pandangan pada setiap penjuru taman dan mencari sosok wanita paruh baya yang memaki dan memukul kepalanya. "di mana dia?!"
Baekhyun meringis kecil. Chanyeol terdengar seperti seorang anak yang tengah mengais pembelaan dari sang ibu karena telah dicurangi oleh teman sepermainan.
"Kemana Ahjumma itu?!"
"Chanyeol, ini sudah petang. Kita harus masuk."
Pria itu berbalik lantas menatap Baekhyun dan menunjukan penolakan di balik ekspresi wajah yang cukup menggemaskan.
"Ma-maksud Noona, kita akan mencarinya lagi besok. Sekarang sudah petang, kau tidak boleh berkeliaran seperti ini."
Adalah hal baru bagi Baekhyun. Jika biasanya Chanyeol akan merangkul, merengkuh serta menenangkannya dengan jutaan kalimat bernada lembut dan hangat, keadaannya kini berbalik, Baekhyun harus menahan ragam perasaan bergejolak menghadapi Chanyeol yang saat ini melipat kedua tangan di dada dan melempar wajah merajuk.
Baekhyun menggeleng kecil sebelum pertahanan dirinya runtuh. Ia mengikis jarak dan memeluk pria bertubuh besar itu seraya menepuk punggungnya perlahan. "Jangan merajuk seperti ini, Noona janji akan menghukum siapa pun yang sudah berbuat jahat padamu. Noona tidak akan membiarkan mereka lolos." Lalu ia menarik diri dan menangkup wajah Chanyeol yang kini memerah. Terlihat gugup dan terkejut karena pelukan yang didapatnya tiba-tiba. "Kau mengerti?"
Chanyeol mengangguk dengan cepat lalu memeluk Baekhyun tanpa sadar. "Ini nyaman. Ayo berpelukan seperti ini setiap hari, Noona." Tukasnya dengan polos. Entah mengapa aroma tubuh yang menguar dari wanita yang ia peluk terasa begitu familiar dan menyenangkan.
Baekhyun cukup terkesiap. Chanyeol yang ia kenal sebelumnya tidak pernah sekalipun mengucapkan keinginan secara gamblang dan juga sosok yang tertutup serta kerap menjaga citra diri di hadapan siapapun, dan jelas Park Chanyeol yang kini memeluknya dengan erat adalah jelmaan bocah berusia lima tahun yang candu terhadap pelukan seorang ibu.
Dan dari kejauhan Kyungsoo merasa tugasnya telah selesai. Ia pikir Chanyeol ditangani oleh seseorang yang memang seharusnya. Wanita itu mengangguk kecil dan menepis kenangan bersama Chanyeol yang memang sepenuhnya belum lenyap dari benak, melihat bagaimana ikatan kuat antara pria itu dan Baekhyun cukup membuatnya sadar bahwa tidak akan ada lagi tempat untuknya.
Kyungsoo hanya harus menata perasaan dan merelakan pria itu bukan?
-oOo-
"Ahjumma tahu kau tidak akan dengan mudahnya memaafkanku dan suamiku. Itu memang sulit. Tapi, nak... Chanyeol terlihat begitu bergantung padamu." Nyonya Park memulainya dengan hati-hati karena sejak awal Baekhyun tidak menunjukan minat lebih terhadap kehadirannya.
"Tentu. Dari dulu kami saling membutuhkan dan bergantung satu sama lain sebelum anda memutuskan menjodohkan Chanyeol dengan wanita gila itu." Tutur Baekhyun sedikit ketus tanpa melepaskan atensinya dari Chanyeol yang tengah menghitung di balik pintu kaca kamar inap.
Nyonya dan tuan Park memaklumi kemarahan Baekhyun saat ini, untuk itu mereka tak kuasa membantah sedikit pun ucapannya.
"Ya. Karena itu kami akan memberimu ruang untuk mengurus dan menjaga Chanyeol di rumah sakit ini. Kami akan datang jika benar-benar diperlukan." Sahut tuan Park.
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menjaga dan mengurusnya."
Tuan dan nyonya Park beradu pandang lalu mengangguk. Setelahnya mereka pamit untuk pulang, memberi Baekhyun tanggung jawab penuh untuk mengurus putra mereka.
"B..."
Baekhyun urung memutar gagang pintu dan berbalik dan terhenyak mendapati Kris berdiri sekian meter darinya.
Kris memandangngnya lekat di balik pintu, lantas kembali melirik Baekhyun setelah cukup yakin bahwa yang sedari tadi ia pandangi adalah Park Chanyeol bukan seorang bocah laki-laki yang tengah belajar menghitung.
Dan Kris masih tidak percaya Chanyeol mengalami cedera separah itu.
Baekhyun mengangguk lalu menunduk dalam kesedihan. "Seperti yang kau lihat. Dia..."
"Berubah." Kris menimpali.
"Dan itu salahku."
Dahi Kris mengernyit. "Kenapa menyalahkan dirimu sendiri ketika ada pihak yang lebih tepat untuk disalahkan? Aku sudah melihat beritanya, Lee Sunbin terbukti melakukan kejahatan yang dituduhkan dan sidang pertamanya memutuskan dia dihukum seumur hidup."
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Ya. Dan untuk Lee Minki dan istrinya, sebagian asetnya telah dibekukan oleh pengadilan menyusul sidang pertama yang akan digelar minggu depan karena para penyidik masih mengumpulkan sejumlah bukti akurat untuk setiap kejahatan yang mereka lakukan baik di masa lalu maupun yang baru-baru ini tercium media."
Baekhyun tertinggal banyak hal, korneanya melebar dan dengusan lega lolos terdengar. "Aku akan pastikan mereka membusuk di penjara."
Kris menepuk bahu Baekhyun. "Luangkan waktumu sejenak untuk Chanyeol. Aku akan menunggumu. Kita bahkan bisa memundurkan tanggal pernikahan."
Dan Kris terdengar seperti tengah menegaskan bahwa Baekhyun buntu dan tidak mempunyai jalan untuk mundur. Katakan saja Kris tega, namun ia juga tidak bisa kehilangan Baekhyun terlepas dari keadaan Chanyeol saat ini.
Untuk itu Baekhyun menatapnya dengan sukar. Ia mulai menyesali keputusannya menyetujui lamaran Kris hanya karena ingin membalasakan kemarahannya kepada Chanyeol.
Astaga. Mengapa ia berubah menjadi sosok yang membuat semua orang muak?
Mengapa Baekhyun begitu egois?
Wanita itu tidak lagi menyahut dan meminta Kris untuk segera pulang. Lantas pandangannya kembali lekat pada Chanyeol yang menyambut kedatangannya denga wajah bosan.
"Kenapa Noona lama sekali?"
Baekhyun benar-benar terjerambab pada jurang penyesalan yang begitu dalam. Ia mengutuk dan enggan memaafkan dirinya sendiri atas kekacauan yang saat ini terjadi.
Apa yang harus ia lakukan kepada dua orang pria yang begitu berperan penting dalam hidupnya?
Baekhyun tidak ingin kembali kehilangan Chanyeolnya yang berharga namun ia pun enggan membuat Kris patah hati.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Ponselnya berdering, Baekhyun yang masih bertahan meladeni tingkah Chanyeol yang kekanakkan; memeluk perut dan mengusakkan wajahnya di sana, segera menggeser tombol hijau, menerima panggilan Luhan.
"Apa semuanya baik-baik saja? Di mana kau sekarang?"
Baekhyun tidak yakin. Ia melirik Chanyeol yang setia bertingkah manja lalu menyisir rambutnya dengan lembut. "Aku tidak tahu, Lu. Aku... benar-benar terjebak." Matanya perlahan memanas. "Bagaimana... Bagaimana mungkin aku sanggup melukai hatinya lebih jauh dengan menikahi pria lain? Aku tidak bisa lebih jahat dari ini, Lu. A-apa yang harus aku lakukan?"
Mendengar tangis kecil pecah di atas kepalanya, Chanyeol sontak mendongak dan mengerjapkan mata. "Noona..." pria itu merengut lalu mengucek kedua mata karena merasa panas dan perih. Terasa ingin ikut menangis.
Baekhyun menggeleng kecil lalu memutus sambungan telepon. "Maafkan aku!" tangisnya semakin pecah dalam pelukan. "Maaf karena telah banyak mencurangimu. Maaf untuk luka yang aku toreh di dalam hatimu. Aku egois, aku berdosa dan aku pantas dihukum!"
"Noona..." Chanyeol terisak kecil karena kesedihan yang menular meski ia tidak tahu apa yang saat ini terjadi. "Jangan menangis." Kini ia terdengar lebih menuntut."Apa ada yang mengganggumu? Katakan saja padaku, aku akan menghukum mereka."
"Tidak. Tidak. Aku yang akan menghukum mereka karena membuat keadaan kita menjadi sesulit ini. Aku tidak akan memberi ampun." Desis Baekhyun di balik rahang yang mengatup.
Chanyeol mengangguk patuh. Tingkahnya serupa anak penurut.
Baekhyun menarik diri dan merangkai ketegaran. "Jangan melakukan apapun, cukup diam dan nikmati pembalasanku terhadap mereka. Kau mengerti?"
Chanyeol kembali mengangguk meski Baekhyun tidak yakin pria itu mengerti ucapannya.
Sebelum kalian merangkak ke dasar bumi, akan aku pastikan kalian tidak akan mendapatkan pengampunan!
-oOo-
Pagi itu menjelma menjadi awal yang baru. Baekhyun tidak pernah sekali pun berpikir bahwa ia akan dihadapkan pada satu keadaan di mana ia harus menunggu Chanyeol di depan pintu kamar mandi setelah pria itu merengek tidak lagi bisa menahan kandung kemih yang telah penuh.
"Noona, ini bagaimana?"
Baekhyun terkesiap sementara kornea matanya melebar setelah suara Chanyeol bergema di dalam kamar mandi. "Y-ya? A-apa maksudnya itu? Kau kesulitan?" wanita itu nyaris meringis, berharap Chanyeol tidak meminta bantuan lebih dari sekedar menunggunya di depan pintu.
"Basah. Celanaku basah."
Baekhyun menggigit bibir sementara kakiknya mengetuk lantai dengan gelisah. Jika seperti itu, apa yang harus ia lakukan?
Tidak mungkin aku masuk dan... dan...
Lamunan Baekhyun terurai saat seorang perawat laki-laki muncul di balik pintu, membawa menu sarapan untuk Chanyeol.
"Oh, anu... bisakah saya meminta tolong?" Otak Baekhyun bekerja bersamaan dengan dengus lega yang lolos dari mulutnya.
"Ya, nona?"
"Noona!"
Baekhyun meringis saat suara Chanyeol kembali terdengar. Ia menunjuk pintu kamar mandi dan sang perawat yang tahu akan kondisi pasiennya tersenyum maklum.
Baekhyun mendengus lega lalu menunggu sang perawat membantu Chanyeol di dalam kamar mandi.
"Celananya hanya sedikit terciprat air keran."
Mereka kembali. Baekhyun telah lebih dulu memusatkan atensi pada Chanyeol yang terlihat tidak nyaman dan menutupi bagian tengah celananya seolah takut akan ada yang terbang dari sana.
"Hei, hanya basah sedikit. Tidak apa-apa." Tutur Baekhyun setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat laki-laki tadi. "Kemarilah, waktunya sarapan dan minum obat."
Chanyeol bertahan di depan pintu kamar mandi dan menggeleng kecil.
"Sayang—" Baekhyun meralat lalu menutup mulutnya dengan cepat. Satu tindakan yang sia-sia karena Chanyeol telah lebih dulu mendengarnya.
Kini pria itu menatap Baekhyun dengan wajah bingungnya.
Baekhyun lantas mengikis jarak dan menuntun Chanyeol duduk di depan overbed table. "Buka mulutmu..."
Chanyeol menurut sebelum memuntahkan apa yang Baekhyun suapi ke dalam mulutnya. Pria itu lantas batuk berkali-kali lalu meremas kepalanya. "Sakit! Kepalaku!" desis pria itu dengan rintihan kecil yang sontak membuat Baekhyun terkesiap panik.
"A-apa... mana yang sakit—dokter, dokter!" wanita itu berteriak karena kini mendapati Chanyeol terkapar kesakitan di atas brangkar. "Dokter!" tangis Baekhyun mulai pecah, lalu beberapa tim medis datang memberi pertolongan kepada Chanyeol.
"Selamatkan dia! Selamatkan Park Chanyeolku!"
"Mohon tenang , nona. Kami sedang menangani pasien."
Baekhyun tersungkur ke atas lantai, tangisnya menjadi dan ia merangkak mengikuti brangkar yang bergerak untuk dipindahkan ke ruang ICU.
Sepertinya kondisi Chanyeol kembali melalui fase mengkhawatirkan dan Baekhyun tidak bisa mengendalikan diri ketika dilihatnya tubuh Chanyeol kejang berkali-kali. "Park Chanyeol!"
"Baekhyun?"
"Ahjumma! Chanyeol... Chanyeol..."
"Ada apa?" nyonya Park mengikuti arah pandang lantas menutup mulut melihat putranya di balik kaca ruang ICU, wanita paruh baya itu pun tidak tinggal diam dan segera memeluk Baekhyun yang mulai histeris. Tangis keduanya saling bersahutan. "Dia akan baik-baik saja."
Baekhyun menggeleng tidak yakin, ia yang paling menderita hingga tidak lagi sanggup merangkai kekuatan lebih. Wanita itu merosot lalu kesadarannya lenyap ditelan oleh kesedihan.
Wanita itu terbujur di atas brangkar instalasi gawat darurat. Tiga puluh menit telah berlalu dan kesadarannya masih belum pulih meski samar telinganya mendengar ragam suara, bahkan hidungnya mencium bau antiseptik yang kuat.
Tubuhnya terasa begitu lemas, untuk itu Baekhyun bahkan tidak yakin sanggup untuk bangkit.
Semula ia hanya ingin mengistirahatkan diri, terpejam lebih lama dan meresapi lebih jauh kesedihan yang mendera, namun usakan kecil di pipi cukup mengusik. Baekhyun bahkan mulai terhipnotis oleh belaian lembut di puncak kepala.
Dahinya mengernyit dan perlahan matanya mengerjap kecil.
Sebuah senyum lembut menyapa, untuk itu Baekhyun harus menajamkan atensi juga meyakinkan diri bahwa ia tidak salah.
"Hei..." Suaranya lembut, sedikit berbisik.
Dan Baekhyun merasa begitu nyaman oleh caranya menggenggam tangan.
Park Chanyeolnya selalu sehangat itu.
Ya, Park Chanyeol.
Sosok yang sedari tadi menunggunya terjaga. Pria itu ada, terlihat lebih bugar dan bahkan memberinya seulas senyum lembut.
"Kau... kau sudah bangun?" Baekhyun terkesiap lalu bangkit dan menatap Chanyeol. "Astaga, kau baik-baik saja? Aku mencemaskanmu tadi. Aku... oh!" Baekhyun mengikis jarak sebelum pelukannya disambut dengan hangat.
"Tentu. Aku baik-baik saja."
Baekhyun menarik diri lalu menangkup wajah Chanyeol. "Kau sudah ingat semuanya? Kau ingat padaku?"
Chanyeol kembali tersenyum. "Aku tidak pernah melupakanmu, sayang."
Mata Baekhyun memanas lalu tangisnya luruh. Ia menangkup kedua tangan Chanyeol lalu tertunduk dalam sesal. "Maafkan aku. Ini semua karenaku, seandainya aku bisa menahan diri dan tidak egois—"
"Aku mengerti. Kau hanya kesal. Tidak apa-apa..."
Baekhyun kembali mendongak lalu membelai wajah prianya. "Kenapa wajahmu sangat pucat?"
Ia bahkan merasa sedikit heran akan aura dingin yang menguar di sekitar pria itu.
Chanyeol menggeleng. "Aku... merindukanmu."
Baekhyun tersenyum haru lalu mengangguk. "Aku pun sangat merindukanmu."
"Aku tahu... maka dari itu bangunlah..."
"Aku sudah bangun..."
"Tidak. Buka matamu... Baekhyun, aku membutuhkanmu... sayang, buka matamu! Bangunlah."
Baekhyun mengernyit, dunianya kini berputar dan suara Chanyeol berubah menjadi gema yang memenuhi gendang telinga, lalu ia terkesiap karena sekeliling atensi berubah buram bahkan Chanyeolnya perlahan memudar.
"Buka matamu, sadarlah. Sayang..."
Baekhyun menggeleng keras lalu menutup telinga.
"Sayang, bangun! Buka matamu!" Suara Chanyeol semakin menggema dan Baekhyun cukup tersiksa.
"Bangunlah, bangun! BYUN BAEKHYUN!"
Bentakan keras itu membawa satu tarikan napas menuju dunia sesungguhnya.
Kornea Baekhyun melebar, napasnya tersengal, satu hal yang merajai kesadarannya saat ini ialah tidak ada Chanyeol yang duduk di sampingnya karena apa yang ia lalui hanyalah mimpi belaka.
Wanita itu mengedarkan pandangan pada keramaian yang tercipta di seluruh penjuru ruang instalasi gawat darurat, lalu memeluk diri saat rasa hampa menyerangnya secara telak. Ia menunduk meresapi kesedihan yang belum lenyap dari ingatan.
Isak kecilnya lolos meski tak lama kemudian tangannya terkepal erat, matanya memicing.
Siapapun kau, adalah kesalahan fatal karena telah menyentuh Park Chanyeolku!
Aku akan menghancurkan kalian semua!
Kemarahan Baekhyun terbukti, setelah merangkai keyakinan, wanita itu berhasil menjejakkan kaki di atas lantai rumah tahanan.
Ia sedikit menepis rasa cemas karena meninggalkan Chanyeol di rumah sakit namun rasa geramnya tidak lagi dapat dibendung.
Tidak. Baekhyun tidak merasa bersalah karena menyalahi aturan dengan menyuap salah satu sipir untuk memberinya akses langsung menuju ruang tahanan tempat di mana penyihir keji itu berada.
Itu sepadan dengan ekspresi syok Sunbin yang melihatnya berdiri di ambang jeruji besi.
Ekspresi Baekhyun dingin, hentakan stiletto nya bahkan terdengar mengintimidasi dan membuat Sunbin beringsut ke sudut ruangan yang gelap.
"Hai, Lee Sunbin. Ingat aku?" Baekhyun berlutut sebelum mencengkram dagu Sunbin dengan kuat. "Ini aku, adikmu!" lalu membuang wajab Sunbin dengan kasar.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" Sunbin jelas merasa waswas melihat kabut amarah yang tercetak jelas di kedua bola mata Baekhyun dan ia tahu alasannya.
Baekhyun mengangkat bahu lantas menelisik Sunbin dengan remeh. "Kenapa kau begitu memaksakan diri? Park Chanyeol hanya milikku, kenapa bersusah payah ingin merebutnya dariku."
Sunbin terpancing dan ia mulai berang. "Park Chanyeol adalah milikku dan—"
Dua tamparan keras hinggap di kedua pipi, wanita itu merintih kala rambutnya ditarik ke belakang untuk membuatnya sadar bahwa Baekhyun adalah si sempurna, satu-satunya yang dilahirkan untuk memiliki Park Chanyeol seutuhnya.
"Berani sekali pembunuh sepertimu!" geram Baekhyun semakin menjadi-jadi. "Alih-alih menginginkamu, Park Chanyeol hanya akan jijik hanya dengan mendengar namamu! Pembunuh tidak tahu diri! Park Chanyeol hanya menginginkanku! Dia mencintaiku begitu pun aku! Parasit sepertimu seharusnya enyah dan menjauh!"
Sunbin meradang, ia nyaris bertindak ganas jika petugas sipir tidak lebih dulu menjauhkan Baekhyun dari pikopat itu.
"Aku akan membunuhmu jalang! Park Chanyeol hanya milikku!" teriak Sunbin setelah Baekhyun menariki diri seraya meludah di atas kepalanya.
"Kau tahu? Bukan hanya sanggup mendatangimu langsung ke ruangan sempit dan kotor ini, aku bahkan sangat mampu membuatmu membusuk di sini! Ya! Sementara kau menderita, aku akan hidup bahagia dengan Park Chanyeolku!"
"Byun Baekhyun! Aku akan membunuhmu!"
Baekhyun berbalik lantas berlalu. Ia hanya menegaskan satu kepada Sunbin karena ia tahu wanita cukup pemarah dan itu bagus. Baekhyun hanya berimprovisasi untuk membuat Sunbin marah dan merasa terhina.
Sejujurnya membalas kejahatan dengan kebencian yang meluap tidak sama sekali cocok dengan karakter Baekhyun yang dikenal manis serta pendiam, namun tentu saja sakit dan derita yang ia tanggung selama hidupnya tidak sepadan dengan tatapan yang kini ia tujukan kepada sosok paruh baya yang memakai baju tahanan dan kedua tangan diborgol di atas meja.
"Apa kabar, paman Lee?" Baekhyun menekan suara di akhir kalimat, ia lantas terkekeh malas. " Untuk apa berbasa-basi, langsung saja. Kau akan membusuk di penjara bersama istrimu, aku jamin kau akan menebus kejahatanmu dengan penderitaan yang tiada akhir."
Lee Minki meresponnya dengan tawa kecil. "Gadis kecilku, kenapa kau repot-repot melawan orang tuamu sendiri?"
Baekhyun menggebrak meja karena emosinya tersulut. "Seingatku kau hanyalah tukan kebun yang bermimpi tinggal di istana megah, kenapa? Paman lupa semenyedihkan apa kau dulu? Oh ayolah, aku bahkan masih ingat kau dan istrimu yang kumal mengais iba di depan tembok tinggi rumah orang tuaku. Jadi berhenti mengatakan omong kosong, paman. Hasilnya tetap sama. Kau dan istrimu akan membusuk di penjara hingga tubuhmu habis digerogoti oleh tikus sel!"
Satu hal yang mengusik benak Lee Minki saat ini.
Dari mana Baekhyun yang terkenal lemah lembut mempunyai keberanian untuk mengujarkan kebencian dan obsesi pembalasan dendam?
Dan bahkan sanggup membuat pria paruh baya itu terintimidasi.
"Itu tidak akan lama, hakim akan mengetuk palu dan persiapkan diri untuk menderita di dalam jeruji besi" Baekhyun bangkit dari kursi. "Oh ya, kau tidak punya hak apapun lagi pada perusahaan, rumah dan aset yang lain. Aku, Byun Baekhyun telah membeli seluruh saham di seluruh sektor dan kepemilkan rumah, kini kau tidak mempunyai apapun selain dosa besar!"
Final Baekhyun sebelum menyambar tas dan berlalu, menyisakan rasa geram di dalam diri Lee Minki yang kini merasa tidak lagi mampu untuk sekedar berdiri.
-oOo-
Sejak awal Baekhyun menutupi dirinya dengan baik. Mantel panjang, kacamata hitam serta scarf tebal yang melilit di leher seharusnya menjadi tameng kuat untuk menghindar dari setiap orang, terutama awak media yang belakangan memburunya untuk dimintai keterangan karena semua orang tahu nama Byun Baekhyun tercatut dan berkaitan dengan kasus yang saat ini menghebohkan jagad Korea.
Wanita itu masih menginjakkan kaki di koridor rumah sakit setelah kembali dari rumah tahanan lalu seseorang menghadang jalan.
"Byun Baekhyun-ssi?"
Adalah seorang pria, berpenampilan seperti seorang jurnalis yang siap mewawancarai.
"Dia di sini!" sambung pria lain yang menenteng kamera.
Baekhyun belum pulih dari keterkejutan ketika beberapa orang berseru seolah tengah memburunya. Bahkan kini sekumpulan para wartawan itu mengerubungi dan menciptakan kegaduhan di sekitar koridor yang Baekhyun pijak.
"Tolong katakan apa benar anda bukan putri kandung Lee Minki beserta istrinya?"
"Benarkah orang tua kandung anda dibunuh?"
"Beri kami jawaban!"
"Byun Baekhyun-ssi!"
Si mugil beringsut, silau lampu kamera yang memotret dari segala arah cukup mengusik dan wanita itu terjebak di antara lautan manusia yang tengah berburu informasi untuk memuaskan rasa penasaran.
Wanita itu menggeleng kecil tatkala pertanyaan-pertanyaan seputar masa lalu yang menyakitkan mencuat di sekitarnya.
"Dari laporan yang kami dengar orang tua kandung anda dibunuh oleh Lee Minki dengan cara yang keji. Bagaimana pendapat anda?"
"Apa itu artinya seluruh aset Byun jatuh ke tangan anda sepenuhnya?"
"Kami mendapat informasi bahwa anda menderita hilang ingatan selama belasan tahun—"
Baekhyun limbung dan luruh di atas lantai, meski begitu para wartawan itu tidak sedikit pun memberi rasa iba pada si mungil yang kian memucat dengan wajah syok. Obsesi mereka tentang informasi keluarga Byun yang tekenal lebih besar dibanding rasa empati.
Kegaduhan yang tercipta tentu menarik perhatian, para petugas medis tak tinggal diam dan memanggil petugas keamanan untuk mengusir biang keladi dari kekacauan yang mengganggu ketenangan pasien.
Tenaga Baekhyun terkuras. Ia terlalu lemas untuk bangkit meski begitu menolak pertolongan setiap orang yang mengulurkan tangan. Kejadian buruk di masa lalu terngiang sejak saat para wartawan menggali lebih dalam masa kelam itu. Baekhyun tidak berdaya, wanita itu menunduk sepenuhnya, tangis kecilnya lolos bersamaan dengan sebuah rengkuhan hangat yang membalut seluruh tubuh.
Aromanya kuat dan Baekhyun mengesampingkan kebingungan dan memilih mencari perlindungan di dalam dada bidang yang tak pernah berubah. Lengannya melingkar pada leher dan Baekhyun membiarkan pria itu menggendongnya menjauhi keramaian.
"Aku di sini..."
Dahinya mengkerut dalam setelah pulih dari ketidaksadaran. Pria itu lantas mengedarkan pandangan dan mencari seseorang.
Selain perawat, Chanyeol tidak menemukan Baekhyun di mana pun. Lalu kepanikan melanda.
"Noona..." Cicitnya seraya mencabut selang infus, mengabaikan pening yang masih mendera isi kepala.
Seolah candu, Chanyeol perlu melihat Baekhyun setiap waktu. Pria yang kini menjejakki koridor dengan langkah gontai itu terus mencari dan menyerukan nama yang sama.
"Noona... Noona..."
Ia mengabaikan delik tajam dan makian dari setiap orang yang tak sengaja ditabrak lalu satu kegaduhan yang menyapa indera .
Pria itu berhenti dan meneliti lalu terkesiap melihat 'Noonanya' tersungkur di tengah kegaduhan yang menyita perhatian. Dahinya mengerut tidak suka, dadanya sesak dan tangannya terkepal untuk alasan yang masih menjadi misteri.
"Noona." Langkah Chanyeol berubah tegar dan tegap, mendekat dan berlutut, semua berada di luar kendali ia bahkan tidsk sadar telah berhasil merengkuh tubuh mungil Baekhyun ke dalam gendongan dan membawanya menjauh dari segala bahaya yang mengancam. "Aku di sini..."
Chanyeol bertahan setelah berhasil membawa Baekhyun masuk ke dalam ruang pasien. Napasnya tersengal karena emosi yang tidak stabil. "Aku... aku mencari Noona."
Baekhyun mendongak lalu menatap Chanyeol dengan lekat. "Maafkan aku."
"Sekarang Noona turun. Biar aku memarahi mereka yang menggangumu."
Baekhyun menggeleng lalu mengeratkan pelukan, merasa tengah bercengkrama dengan Park Chanyeol yang ia kenal sebelumnya.
Chanyeol mengerjap kecil. "Noona, tapi aku pegal." Cicitnya seraya merengut, meski begitu ia enggan menurunkan Baekhyun dari gendongan.
"Sebentar saja. Aku... aku merindukanmu." Lantas mimpi itu kembali berputar di dalam ingatan. "Aku sangat merindukanmu." Kini ia turun lalu memeluk Chanyeol dengan erat.
"Tapi Noona tidak ada saat aku bangun." Chanyeol menarik diri lantas merengut dan memangku tangan.
Baekhyun membelai wajah tampan itu. "Noona mempunyai urusan demi memperjuangkan kebahagiaan kita."
Chanyeol memiringkan kepala dan Baekhyun tersenyum pada tingkahnya yang polos dan tidak mampu memahami banyak hal.
"Syukurlah kau sudah sadar. Aku... aku sangat mencemaskanmu." Baekhyun lantass menangkup wajah Chanyeol. "Kau harus berjanji satu hal..."
Chanyeol mengangguk seolah mengerti.
"Jangan sakit lagi. Pastikan kepalamu baik-baik saja dan berhenti tidak sadarkan diri. Aku mohon, aku sangat tersiksa melihatmu seperti itu."
Sementara Chanyeol memiringkan kepala, meskipun tidak memahami sepenuhnya apa yang Baekhyun ucapkan namun pria itu tetap mengangguk dengan patuh. Ia kemudian merentangkan tangan dan menuntut Baekhyun untuk kembali memeluknya.
-oOo-
"Jika sakit kepalanya terjadi lagi dalam jumlah dan waktu yang intens maka hanya akan ada dua kemungkinan."
Baekhyun dan nyonya Park saling melempar pandang mendengar penjelasan sang dokter.
"Kemungkinan pertama yang paling besar adalah tuan Chanyeol akan mulai mengalami kelumpuhan di beberapa titik syaraf yang terhubung pada jaringan otak yang cedera, jika begitu bukan hanya tidak mampu menghitung atau mengingat seseorang, tuan Chanyeol bahkan akan menderita lumpuh fisik, kehilangaan kemampuan berbicara dan menderita disabilitas lain."
Napas Baekhyun tercekat, lalu matanya memanas. Sementara nyonya Park sudah lebih dulu menangis.
"Adapun kemugkinan kecil yang mustahil akan terjadi adalah otak tuan Chanyeol sedang berusaha memulihkan diri untuk sembuh total karena banyak mendapat dukungan moril, sebetulnya itu beresiko selain karena tingkat keberhasilannya yang minim, memaksakan otak yang cedera untuk pulih dalam waktu sekejap akan lebih berbahaya dari sekedar kelumpuhan total dan intensitas reaksi yang diberikan akan semakin tinggi, tuan Chanyeol akan sering mengalami kejang dan sakit kepala yang tidak biasa. Dan itu cukup mengkhawatirkan."
Sejak awal Baekhyun tidak keberatan jika harus menjalani sisa hidupnya dengan Park Chanyeol yang tak lagi sama, namun apa yang kini membuat kesedihannya semakin mendera adalah membayangkan pria itu sakit seorang diri.
Baekhyun tidak sanggup jika harus melhat pria itu merintih dan kesakitaan untuk ke sekian kali.
Tangis Baekhyun kembali pecah.
Apa rasa cemas dan takut kehilangan sedahsyat ini yang selama ini Chanyeol rasakan saat Baekhyun mengidap kanker ganas?
Apa rasanya semenyakitkan ini?
Dan mengapa Baekhyun tidak berpikir sejauh itu?
Park Chanyeolnya rela menukar kebahagiaan dengan hidup Baekhyun yang nyaris berada di ambang kematian.
Jika rasanya sesakit dan sesulit ini, Baekhyun tidak akan menghakimi pria itu secara berlebihan.
Dan untuk ke sekian kalinya Baekhyun menyalahkan diri di atas penyesalan.
Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan hidupmu?
Karena aku yakin tidak akan sanggup jika Tuhan menuliskan satu kehendak di mana Ia lebih memilih merenggutmu dari pelukanku.
-oOo-
Hari ke sekian dan Baekhyun masih setia berada di samping Chanyeol, menjaga dan merawatnya setulus hati.
Ada satu waktu di mana wanita itu kewalaha karena tingkah manja Chanyeol yang tak terduga. Dan ada satu waktu di mana Baekhyun menangis keras saat Chanyeol kembali digiring ke ruang ICU karena sakit kepalanya kembali mendera.
Jantung Baekhyun tidak lagi sehat, ia akan dihadapkan pada situasi yang berpotensi membuatnya syok jika itu berhubungan dengan kondisi Chanyeol yang terlihat semakin memprihatinkan.
"Jangan. Jangan maka kulitnya. Itu pahit."
Peringatan Baekhyun tidak didengar, Chanyeol menyuap kulit jeruk, mengunyahnya lantas mengernyit dalam.
Baekhyun tertawa melihat tingkahnya.
Kapan lagi melihat seorang Park Chanyeol bertingkah konyol dan ceroboh.
"Oh, baiklah... jangan merajuk." Baekhyun berhambur memeluk Chanyeol saat melihat pria itu merengut tidak suka ditertawakan, lalu tak lama ia kembali menarik diri sebelum menyuapkan buah jeruk itu ke dalam mulut Chanyeol.
"Bagaimana? Manis?"
Chanyeol tersenyum lebar lalu mengangguk antusias.
"Nah... karena sudah sore sekarang saatnya membersihkan diri."
Baekhyun menuntun Chanyeol memasuki kamar mandi. "Sikat dulu gigimu. Ingat jangan memakan pasta giginya, itu bukan untuk dimakan." Lalu ia kembali ke kamar karena handuk kecilnya tertinggal.
Chanyeol mengangguk patuh lalu mulai berdiri di depam cermin dan menyikat giginya dengan kemampuan setara bocah taman kanak-kanak.
Pria itu masih sibuk berkumur sebelum gelas air yang ia pegang jatuh. Tangannya secara otomatis berpegang pada wastafel saat pening merajai isi kepala secara tiba-tiba, pandangannya menjadi buram dan terbagi dua, perlahan ia merintih serta meremas rambutnya dengan kuat.
Yang memutari benak itu beragam. Chanyeol bahkan melihat Baekhyun dan semua orang berkelebat dalam bayangan.
"Akh!" pria itu terhuyung. Dahinya berlipat, menjadi tanda sedahsyat apa rasa sakit yang mendera kepala. Lalu ia limbung dan ambruk ke atas lantai dingin kamar mandi.
"Apa kau sud—Astaga!" Baekhyun berteriak saat kembali. Wanita itu lantas berhambur memangku kepala Chanyeol di atas pahanya. "A-apa.. bertahanlah. Sayang, ku mohon— dokter, dokter..."
Baekhyun berlari keluar dan berteriak meminta pertolongan karena Chanyeol sudah tak sadarkan diri.
Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Jantungnya sesak, hatinya kembali teriris menyaksikan Chanyeol yang harus kembali bergelut dengan peralatan medis di ruang ICU.
Ku mohon Tuhan...
Ini sudah ke sekian kali!
Ku mohon berbaik hatilah kepadanya!
-oOo-
Matanya sembab, penampilannya berantakan. Namun Baekhyun enggan beranjak dari sana.
Enam jam berlalu. Biasanya Chanyeol akan terbangun dengan cepat namun kali ini Tuhan enggan memberi Baekhyun harapan meski menyerah bukan sebuah pilihan.
Sisa tangis masih menemani.
Tuan dan nyonya Park turut hadir saling menguatkan.
Lantas mereka memberi Baekhyun ruang, meninggalkannya bersama elektrokardiodraf yang tak kunjung memberi asa.
Tangannya menggenggam erat sisa kehidupan, dan Baekhyun tidak sanggup merana lebih dari ini.
Prianya tak kunjung membuka mata meskipun cakrawala telah lama bergelut di ufuk barat.
Baekhyun tidak sedikit pun lelah, bahkan ia akan merasa sangat berdosa hanya dengan melemahkan genggaman tangan.
Ada banyak cerita yang terlontar. "Kau ingat merengek kue beras pedas yang dimakan salah satu perawat beberapa hari lalu? Noona akan mengizinkanmu memakannya kali ini, asal kau bangun." Cairan bening itu lolos, bercecer dengan kepedihan. "Noona tidak akan melarangmu berlarian di sekitar taman, Noona percaya kau tidak akan terjatuh, Noona akan mengizinkanmu melakukan apapun, asal kau membuka matamu sekarang."
Wanita itu mulai terisak dan menempelkan tangan Chanyeol di dahi. "Ku mohon... bangunlah. Bangunlah..."
Suaranya mulai parau karena enam jam terakhir dilaluinya dengan tangis pilu. Dan hal itu cukup mengusik, karena terlalu lama tersedu-sedu membuat kelopak mata yang semula terpejam kinj bergerak pelan.
Baekhyun menarik wajah dan hendak meracau untuk ke sekian kali jika saja sepasang mata yang sedari ia tunggu untuk terjaga kini berkesistensi, sayu dan menatapnya dengan lekat.
Ada yang mulai mencerna situasi saat satu ingatan terangkai utuh di dalam otak.
Baekhyun menyeka pipinya yang basah lalu berhambur memeluk Chanyeol yang telah sadar. "Kau sudah berjanji tidak akan seperti itu lagi!" tangisnya kembali pecah. "Terima kasih. Terima kasih sudah berjuang."
Chanyeol bergeming, kembali mengerahkan seluruh atensinya terhadap tangis Baekhyun yang menyayat hati.
"Noona sangat mencemaskanmu."
Sebelah alis Chanyeol terangkat, cukup terusik dengan tangis yang tak kunjung reda. Tangannya terulur sebelum menarik lengan Baekhyun hingga wajah keduanya hanya berjarak hembusan napas. "Berhenti menangis. Aku mengorbankan segala hal bukan untuk mendengar tangismu yang menyebalkan, Noona."
Baekhyun terkesiap. Ia belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan dan bertanya-tanya di mana sosok polos dan jenaka yang beberapa terakhir ia jaga dan temani?
Ya. Suaranya berubah. Lebih berat
Ekpresi wajahnya tidak lagi menunjukkan banyak minat serupa bocah berusia lima tahun, yang terpampang jelas di depan mata adalah satu garis rahang tajam yang mengatup terbalut aura dingin dan mengintimidasi seperti yang dulu kerap menyita atensi.
P-park Chanyeol?
Kornea Baekhyun melebar dan perasaan syoknya adalah apa yang wajar terjadi.
TBC
An:
Kak kok udah third last chapter aja?
Karena konfliknya udah kelarrr tinggal ampasnyaa wkwkwk
Ps: Itu yang nagih update + maksa + nyinyir masalah buku coba introspeksi diri, dikasih bacaan gratis kok ya malah nyinyir tanpa peduli permasalahan orang lain. Kamu yg baca ini jgn beraninya pake guest!
