Peringatan!
Chapter ini dan chapter-chapter ke depan akan penuh dengan hal sedih dan menyakitkan. Bagi teman-teman pembaca yang tidak menyukai tema tersebut, saya tidak keberatan jika kalian tidak melanjutkan baca. Saya tahu tidak semua pembaca menyukai cerita sedih. Tapi saya tidak bisa mengubah plot, demi kepentingan cerita. Jadi, saya ucapkan terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai sini.
Buat yang masih mau melanjutkan, selamat membaca! :)
Note: jangan lupa sedia tisu yang banyak, hihii
Bahagia Tanpa Senyum, Bersedih Tanpa Tangis
Di sebuah taman, seorang gadis kecil berlari keluar dari rumah jamur, tawa riangnya memecah hening sore itu. Jejak-jejak kecilnya tertinggal di atas salju, membentuk pola garis putus-putus seperti barisan semut yang meliuk-liuk. Si gadis kecil berlari ke balik pohon besar, menemukan seseorang yang sedang bersembunyi di sana. Gumpalan bola salju yang dipegangnya dengan tangan terbungkus sarung tangan merah muda dilemparkan pada pria itu.
"Ayah kena!" jeritnya girang, lantas tergelak.
Sang ayah pura-pura roboh. Sedetik kemudian langsung menangkap si gadis kecil ketika dia melangkah mendekat. Gadis kecil itu menjerit nyaring lagi, terkejut sekaligus senang.
"Tuan Putri kena jebakan!"
Ayahnya menggelitik pinggangnya hingga tergelak-gelak.
"Ayah curang!" protes si gadis kecil dengan wajah memberengut, pura-pura melotot. Sedetik kemudian menarik-narik tangan ayahnya, merengek, "Aku bosan. Ayo kita pulang, Yah! Aku mau makan sup jamur buatan Ibu."
Sang ayah tersenyum. "Tuan Putri sudah lapar, ya?"
Melihat si gadis kecil mengangguk penuh semangat, ayahnya mengabulkan keinginannya, menggendongnya di atas pundak. Kemudian mereka meninggalkan taman sembari menyanyikan salah satu lagu anak-anak, dinyanyikan bersama dalam satu harmoni. Suaranya menggema di sepanjang jalan yang mereka lalui, mengiringi langit sore yang perlahan-lahan berubah semakin merah.
Pemandangan semacam itu selalu membuat hati Sakura hangat. Terbayang di dalam benaknya; pria yang berdiri di sana adalah Sasuke, dan gadis kecil itu adalah putri mereka, menghabiskan waktu bersama dalam keakraban sehangat itu. Namun ironis, rasa cemburu menyentilnya. Semua itu hanya sebatas angan-angan, tidak akan jadi nyata. Karena Sakura menyadari bahwa dirinya, Sasuke, maupun anak mereka, tidak cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mencicipi hangatnya sebuah keluarga utuh.
Hatinya yang hangat, seketika menjadi dingin lagi.
Tanpa sadar tangan Sakura bergerak mengelus perutnya yang masih rata. Teringat beban pikiran yang sudah seminggu ini menggelayuti benaknya. Tentang reaksi Sasuke ketika mendengar dirinya hamil.
Bagaimana raut wajah Sasuke, bagaimana cara Sasuke menanggapi; Sakura tidak menemukan kebahagiaannya jika memang benar itu yang Sasuke rasakan.
Meskipun pada akhirnya Sasuke bersikap lebih perhatian terhadap kepayahan yang Sakura alami dalam kehamilan trimester pertama ini. Hampir seluruh pekerjaan rumah diambil alih olehnya jika sempat dikerjakan sebelum berangkat ke Lab atau sepulangnya; mencuci pakaian, membuat sarapan, bahkan membersihkan rumah. Sasuke juga rajin membelikan buah-buahan segar, lalu mengupasnya untuk Sakura demi meminimalisir rasa mual dan pusingnya. Sasuke tampil layaknya seorang suami siaga.
Namun tetap saja Sakura tidak merasa Sasuke bahagia dengan kenyataan bahwa dia akan jadi seorang ayah. Satu kalipun Sasuke tidak pernah membahasnya; satu kalipun dia tidak pernah membicarakan bagaimana perasaannya, atau menanyakan sesuatu tentang bayi mereka. Seakan-akan Sasuke tidak ingin tahu soal itu.
Ingin sekali Sakura menanyakan langsung pada Sasuke; apakah dugaannya benar, atau itu perasaannya saja yang kini jadi lebih sensitif akibat perubahan hormon semasa hamil. Sakura ingin tahu, ingin mendengar sendiri apa yang sebenarnya Sasuke pikirkan mengenai bayi yang ada di dalam perutnya. Tapi Sakura takut. Bagaimana jika dugaannya benar? Bagaimana jika Sasuke benar tidak bahagia dengan kehadiran seorang anak? Apa yang akan dilakukannya nanti?
Mengabaikan keingintahuannya yang menakutkan, Sakura berpura-pura saja semua berjalan baik. Sepandai mungkin dia menutupi segala ketakutan dan kecemasan di hati. Memasang wajah ibu hamil yang bahagia. Di hadapan orang-orang, terutama di hadapan Sasuke, suaminya sendiri.
Tetap saja selihai mungkin Sakura menutupi, keresahannya dengan mudah terbaca oleh Gaara. Seakan tidak ada yang bisa disembunyikan Sakura dari sahabatnya itu. Kecurigaan Gaara dimulai pada saat mereka sedang duduk bersama di kafetaria Universitas Konoha, ketika Sakura memesan air jeruk hangat untuk dirinya sendiri.
"Tidak biasanya kau menolak secangkir kopi," kata Gaara.
Khawatir semakin dicurigai, Sakura mengarang alasan. "Aku hanya sedang tidak ingin minum kopi. Tidak masalah kan kalau sesekali aku minum air jeruk atau susu?"
Tapi tampaknya bersahabat selama hampir tujuh tahun membuat Gaara jeli membedakan kapan Sakura bicara jujur dan kapan dia membuat alasan.
"Sedang tidak ingin, atau sedang tidak boleh?" Gaara mendeliknya dengan mata menyelidik. Diperhatikannya Sakura baik-baik sebelum berkata, "Wajah pucat, tubuh lemas, dan tidak minum kopi. Jika terjadi pada wanita, dan wanita itu sudah menikah, bisa dipastikan kalau dia sedang mengandung. Jadi ..."
Sakura tidak menjawab pun Gaara sudah pasti yakin dengan dugaannya. Tidak ada yang bisa Sakura lakukan selain memalingkan mata seiring rona kemerahan menghias pipinya.
Gaara tersenyum lebar, ikut bahagia. "Selamat, Sakura."
Tapi Sakura tidak menanggapi lebih dari seulas senyum yang tidak sampai ke matanya dan ucapan terima kasih yang singkat. Dia menghirup air jeruk hangat yang baru diantarkan pelayan demi menutupi rasa canggung.
"Itu tidak seperti reaksi seorang wanita yang tahu dirinya akan jadi ibu. Kau kelihatan tidak bersemangat. Ada apa?"
Sahabatnya itu menatap Sakura dengan wajah cemas dari seberang meja. Ketahuan sudah. Sebal rasanya jika sudah begitu, kenapa Gaara selalu bisa membongkar apapun yang dia simpan rapat-rapat di dalam hati? Dan kenapa Gaara tidak pura-pura saja tidak tahu demi menjaga perasaannya? Bukankah mereka bersahabat? Baiklah, meskipun mereka bersahabat, bukan berarti Sakura bisa mengakui semuanya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya mual dan sedikit tidak bertenaga karena morning sickness yang kualami sepanjang hari," kilahnya, pura-pura kepalanya sedang berputar sepuluh keliling.
Gaara meletakkan cangkir kopi yang baru saja diteguknya ke atas meja. Sejenak menatap Sakura dalam diam. Matanya itu seakan mengatakan, kau jelas terlihat tidak baik-baik saja.
"Kau tahu, kau selalu bisa menceritakan apa saja padaku, Sakura. Kau selalu bisa melakukan itu, dan aku akan selalu jadi pendengar yang baik. Meskipun sekarang kau punya seseorang tempatmu bergantung, telingaku selalu ada untuk mendengarkanmu kapan saja. Kau masih menganggapku sahabat, kan?"
Sekarang Sakura jadi merasa bersalah karena berpikir lebih baik menutupi rapat-rapat semuanya dari Gaara. Mendengar ucapan Gaara barusan, Sakura tersadar bahwa sahabatnya itu masih memiliki perhatian yang sama besar terhadapnya, tidak berubah atau berkurang sedikitpun, meskipun dia telah 'meninggalkan' Gaara demi memilih laki-laki lain. Gaara tetap seperti dulu, selalu ada untuk mendengarkan segala keluh-kesahnya. Sakura menghargai itu, ikatan persahabatan terhangat yang menyatukan dirinya dengan Gaara seperti saudara.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kupikirkan," kata Sakura pada akhirnya. "Aku takut, juga sedih. Entahlah ..." Ucapannya terhenti sesaat, dia menelan ludah yang terasa perih menusuk kerongkongan. Ketika menatap Gaara, mata zamrudnya berkaca-kaca, dipenuhi kecemasan dan ketakutan seperti yang dirasakannya di dalam hati. Berbeda dari sebelumnya, dia kini merasa tidak perlu menutupi apapun lagi.
"Sepertinya Sasuke tidak menginginkan kehamilanku."
Meja mereka lengang sejenak.
Gaara terdiam di kursinya, seolah baru saja dihempaskan angin dingin sehingga membuatnya beku. Dia pasti terkejut.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Gaara kemudian.
Sakura menggeleng tak yakin, buru-buru mengusap air mata yang meleleh di pipinya. "Entahlah. Kuharap ini perasaanku saja. Tapi ..." Tangannya mencengkram cangkir. "Aku sudah menduganya, Sasuke tidak mengharapkan anak setelah tahu dirinya tidak akan punya masa depan."
" 'Menduga' ?" Gaara menatapnya, lembut, namun ada ketegasan di sana. "Itu artinya hanya perasaanmu, Sakura. Karena kondisimu sekarang membuat perasaanmu lebih sensitif, kau jadi memikirkan terlalu banyak hal. Dan sayangnya, pikiran itu cenderung pada gagasan-gagasan negatif. Itu wajar terjadi pada ibu hamil, ketakutan dan kecemasan yang tidak beralasan."
"Tapi aku tahu kecemasanku bukan tidak beralasan," sahut Sakura, menyerang Gaara dengan tatapan tersinggung. "Sasuke memang merawatku setelah tahu aku hamil. Tapi dia tidak sedikitpun menanyakan bagaimana bayi kami. Apakah dia mulai bergerak, apakah dia sehat, atau apakah dia menyusahkanku dengan membuatku merasa pusing sepanjang hari. Seolah-olah Sasuke tidak peduli sama sekali dengan janin yang tumbuh di dalam rahimku."
Sakura terhenti karena air matanya jatuh lagi, tetes demi tetes bagai keran bocor, tidak tertahankan lagi. Bukan keinginannya menjadi cengeng seperti ini. Tapi dirinya kali ini benar-benar sulit mengendalikan emosi.
"Aku takut dia benar-benar tidak peduli pada bayi kami ...," lirihnya dalam suara gemetar.
Gaara menyodorkan sapu tangan. Lalu tersenyum padanya. "Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku jadi semakin yakin; kau bicara begitu, juga memikirkan semua itu, karena kau sedang hamil, Sakura."
Sakura tidak menjawab. Sibuk menghapus air mata di wajahnya dengan sapu tangan Gaara. Tidak seharusnya dia menujukkan kelemahannya seperti itu.
"Pikirkanlah ini," kata Gaara kemudian. "Sebelum kabar kehamilanmu, Sasuke lebih dulu tahu bahwa dia tidak punya kesempatan untuk hidup lebih lama. Kenyataan bahwa dia harus meninggalkanmu membuatnya tertekan oleh rasa sedih dan putus asa. Sekarang dengan adanya calon bayi di dalam rahimmu, bertambah satu lagi kesedihannya. Aku yakin kebahagiaan itu ada di hatinya—tentu saja, dia akan jadi seorang ayah. Tapi kesedihan yang dirasakannya jauh lebih besar, Sakura. Karena menjadi ayah tidak ada artinya, jika pada akhirnya dia tidak bisa hidup untuk membesarkan anaknya. Itu adalah kesulitan yang bahkan tidak bisa diatasi oleh dirinya sendiri."
Diam-diam Sakura meremas kuat sapu tangan Gaara di pangkuannya. Kepalanya tertunduk dalam.
Rasanya seperti baru saja ditampar dengan keras. Semua yang Gaara katakan membuat Sakura tersadar. Dirinya telah menjadi begitu egois. Merasa sedih dan tersiksa oleh reaksi Sasuke terhadap kehamilannya, tanpa memikirkan perasaan Sasuke yang sesungguhnya. Menangisi dugaan buruknya jika saja Sasuke tidak menginginkan bayi di dalam perutnya, tanpa mempertimbangkan apa yang membuat Sasuke tidak menginginkannya. Dia hanya tenggelam dalam kesedihannya sendiri, tanpa menaruh perhatian pada apa yang sebenarnya Sasuke rasakan. Sakura merasa marah pada dirinya sendiri.
"Aku seharusnya tidak begini, kan?"
Sakura mengangkat kepala, menatap Gaara dengan mata basah. "Kau pasti membenciku karena aku menangis seperti ini. Aku sendiri membenci diriku. Sudah seharusnya aku kuat untuk Sasuke. Bukannya jadi egois, membiarkan dia menderita sendirian."
Gaara tersenyum, tampak lega melihat semangat dan harapan yang telah kembali di mata Sakura.
"Kalau kau sudah bangun, aku jadi lebih mudah menceramahimu." Tangannya gesit menangkap sapu tangan basah yang dilemparkan Sakura tanpa peringatan, lantas tertawa.
Wajahnya kembali serius ketika berkata, "Sasuke akan mampu menerima kondisi dirinya sendiri, jika tidak ada lagi kekhawatiran di hatinya. Makanya kau harus membuatnya yakin. Sekalipun Sasuke harus meninggalkanmu, yakinkanlah dia bahwa kau akan baik-baik saja melewati hari-hari tanpa dirinya. Tunjukkan padanya bahwa kau bisa melanjutkan hidup dengan baik. Kau dan anakmu."
Sakura menghela napas dalam-dalam. Meskipun hatinya sedih memikirkan dirinya akan ditinggalkan, Sakura sependapat dengan Gaara. Dia tersenyum demi menguatkan dirinya sendiri, dan mengangguk demi tekad untuk tidak akan menyerah terhadap masalah apapun yang harus dia hadapi.
"Eh, sebentar. Aku punya sesuatu."
Gaara memperlihatkan pada Sakura sebuah foto di ponselnya. Sepasang suami-istri, bersama bayi mereka dalam gendongan sang istri. Sakura mengenali pasangan itu, yang wanita adalah teman satu angkatan di kampusnya, dari Fakultas Kedokteran seperti Gaara. Sakura mengenalnya lewat Gaara karena dulu mereka sekelas, dan Sakura cukup dekat dengannya. Karena calon suaminya termasuk kalangan orang berada, wanita itu berani mengambil keputusan menikah pada tahun ke dua kuliahnya. Namun malang, mereka tidak juga dikaruniai anak sampai si wanita menyelesaikan kuliahnya.
Sudah lama sekali Sakura tidak berkomunikasi dengannya, sejak perpisahan mereka saat wisuda. Sakura tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Tapi melihat foto di ponsel Gaara dan mendengar ceritanya, temannya itu sekarang sudah memiliki bayi laki-laki yang lucu.
"Ada banyak pasangan yang baru mendapatkan anak setelah bertahun-tahun menikah. Bahkan ada yang tidak beruntung memilikinya," kata Gaara. "Sementara itu, kau dan Sasuke mendapatkannya begitu cepat. Bukankah itu sebuah anugrah?"
Sejenak Sakura bergeming menatap wajah si bayi di dalam foto. Memaknai ucapan Gaara dalam benaknya. Anugrah? Tentu saja. Seperti sebuah keberuntungan yang terselip di antara kemalangan-kemalangan yang harus dijalaninya bersama Sasuke. Satu titik cahaya yang berkelip dalam suramnya masa depan mereka. Keberuntungan itu adalah bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Sakura tersenyum. Terima kasih untuk Gaara, karena telah menunjukkan bintang keberuntungan mereka.
"Apa yang kaulakukan di sini, Sakura?"
Terkejut, Sakura menoleh dan menemukan Sasuke sedang berdiri hanya beberapa langkah jauhnya dari meja mereka. Sejak kapan Sasuke berdiri di sana? Mengapa tidak memberitahu? Sakura juga bertanya-tanya saat menyadari tatapan tak suka dari sorot mata Sasuke.
Sakura bangkit dari kursi, baru akan buka mulut untuk bicara, tapi Gaara yang juga sudah berdiri lebih dulu bersuara.
"Hai, Sasuke. Apa kabar? Lama tidak bertemu."
Melihat cara Sasuke menatap Gaara dengan tajam dan dingin, Sakura mulai paham apa yang membuat suaminya tidak suka.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau punya banyak kesibukan di Tokyo?" tanya Sasuke. Tanpa membalas sapaan Gaara, tanpa repot-repot memasang wajah ramah.
Sakura tidak tahu Sasuke bisa seimpulsif itu hanya karena menemukan dirinya duduk bersama Gaara di sebuah kafetaria. Sasuke cemburu? Bisa jadi, jika dia hanya memaknai sebatas apa yang dia lihat tanpa mempertimbangkan apa yang tidak dia ketahui. Jika benar begitu, Sakura bisa memakluminya. Itu otomatis membuat Sakura merasa bersalah karena membiarkan Sasuke berpikir demikian tentang dirinya. Namun secemburu apapun, Sakura tahu Sasuke akan menahan diri, tidak akan bertindak mentah-mentah menuruti perasaannya. Tapi apa yang terjadi padanya sekarang?
Gaara tersenyum menanggapi sikap tak bersahabat Sasuke, mungkin berusaha tidak terpengaruh agar suasana tidak semakin runyam. Dengan santai dia menjawab, "Hari ini aku diundang menjadi pembicara bedah buku di Fakultas Kedokteran kampus ini. Sebenarnya aku berencana mampir ke rumah kalian. Tapi aku lebih dulu bertemu Sakura—"
"Aku yang meminta Gaara menemaniku mengobrol sambil menunggumu," sambar Sakura.
Tatapan tajam Sasuke belum berubah ketika terlempar pada Sakura. "Menunggu? Kenapa kau tidak langsung pulang setelah mengajar seperti yang biasa kaulakukan?"
"Kita jadi makan malam di luar, kan? Kaubilang padaku di telepon agar menunggumu."
Wajah Sasuke berubah bingung. "Telepon?"
Sakura terdiam sejenak, lebih bingung daripada Sasuke. Entah kenapa Sasuke seakan-akan tidak ingat bahwa setengah jam yang lalu dia menelepon Sakura, mengajaknya makan di luar agar Sakura malam ini tidak perlu memasak, dan meminta Sakura menunggu sebentar jika pekerjaan di Lab belum selesai. Saat tadi tiba di kampus, Sakura mengirim pesan pendek untuk memberitahu Sasuke bahwa dia sudah di sana dan akan menunggu di kafetaria. Tidak ada balasan dari Sasuke, Sakura pikir itu karena dia terlalu sibuk untuk menulis pesan balasan. Tapi sekarang Sasuke bersikap seolah-olah mereka tidak pernah membuat janji makan malam.
"Kau meneleponku, Sasuke-kun. Beberapa menit sebelum aku meninggalkan sekolah. Kau tidak ingat?"
Selama beberapa saat Sasuke hanya diam, seakan sedang menggali ke dalam memorinya. Siapa tahu ingatan itu terkubur di tempat paling dasar. Ketika Sasuke mengangguk, wajahnya masih tampak tidak yakin, namun dia membenarkan perkataan Sakura.
"Hm, aku ingat. Konsentrasiku hanya sedikit terpecah karena tes yang tadi kujalani cukup berat," Sasuke mengakui. "Kau masih berminat makan malam di luar?"
Sakura mengangguk, tersenyum padanya. Bersikap seolah kejadian tadi hanya masalah kecil yang tidak perlu dibahas lebih lanjut—padahal itu menjadi beban pikiran Sakura untuk berhari-hari kemudian.
Saat mereka berpisah dengan Gaara, itu menjadi perpisahan yang canggung karena sikap Sasuke tidak juga mencair. Tidak peduli Sakura telah menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Sasuke tetap enggan beramah-tamah pada Gaara. Sebetulnya Gaara tidak terlalu menanggapinya, namun ucapan-ucapan bersahabatnya jadi terasa kosong jika Sasuke menyikapinya dingin. Sasuke bahkan tidak mau menjabat tangannya, membiarkan Gaara menarik kembali uluran tangannya dengan sedikit kikuk.
Jika itu bentuk kecemburuan Sasuke, maka itu adalah sikap cemburu yang berlebihan, pikir Sakura. Seperti anak-anak. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Bahkan sebelum dia jadi jenius.
...
Sakura sedang duduk bersandar menonton video pendek di ponsel ketika Sasuke memasuki kamar. Sasuke sempat melihatnya tertawa sebelum video itu dimatikan. Sembari tangannya meletakkan ponsel ke atas meja lampu, Sakura tersenyum pada Sasuke yang baru saja naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Sasuke, mengusap pelan kepala Sakura.
"Sekarang rasanya sulit untuk cepat mengantuk. Aku lelah, tapi tidak bisa memejamkan mata."
Kemudian Sasuke menggeser duduknya lebih dekat pada Sakura. Seperti kejutan, dia mulai memijat tengkuk Sakura dengan lembut. Sakura membiarkannya, menikmati setiap pijatannya dengan mata terpejam. Bukan hanya sentuhan, tapi juga bentuk perhatiannya.
"Aku merasa seperti di surga," guraunya.
Sasuke hanya tertawa kecil. Sementara pijatan lembutnya membuat Sakura semakin nyaman dan rileks. Ibarat baterai yang semula kosong, kini tiba-tiba penuh terisi dengan tenaga baru. Entah karena Sasuke memiliki bakat terpendam dalam urusan pijat-memijat, atau itu lebih dipengaruhi oleh perhatiannya.
"Kau masih merasa pusing dan mual?" tanya Sasuke.
"Hm, pagi hari. Malam seperti ini tidak terlalu parah, aku hanya sedikit pusing. Tapi sekarang jauh lebih baik karena pijatanmu." Sakura menoleh pada Sasuke, memberinya senyuman terima kasih yang hangat.
"Apa yang tadi kaulihat sampai tertawa sendiri?"
"Oh, itu. Sebuah video lucu. Kau mau melihatnya juga?"
Sebelum Sasuke menjawab, Sakura mengambil ponselnya dan memutar kembali video yang dikirimkan temannya atas permintaannya, berisi rekaman bayi laki-laki mereka yang sedang merangkak mengejar sang ayah. Tingkah-polahnya lucu dan menggemaskan, membuat Sakura tersenyum, kadang tertawa kecil. Tapi berbeda dengan Sasuke. Dia sama sekali tidak tersenyum saat menontonnya, apalagi tertawa. Sasuke hanya bergeming. Matanya tertuju ke layar ponsel, tapi sepertinya pikirannya bukan ke sana. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Itu Akai. Bayi yang menggemaskan, ya?" Sakura berceloteh. "Ibunya adalah teman kuliahku di Tokyo. Matsuri menikah pada semester ke empat. Lima tahun menikah baru memiliki anak setelah dia dan suaminya menjalani program bayi tabung yang ke dua kalinya, usahanya yang pertama gagal. Akai lahir musim semi tahun lalu, usianya hampir satu tahun. Sekarang dia adalah kebahagiaan terbesar yang dimiliki Matsuri dan suaminya."
Sasuke masih bergeming menatap layar ponsel dengan tatapan kosong. Sudah jelas dia tidak memperhatikan video itu dari tadi, dia tidak sadar videonya sudah berakhir sejak dua menit yang lalu.
Sakura mengambil ponselnya dari tangan Sasuke.
"Sasuke-kun, kau tahu kenapa aku membicarakan ini?"
Mata hitam Sasuke berpindah pada Sakura. "Kau ingin membicarakan soal bayi kita?"
"Aku hanya ingin membuatmu mengerti," kata Sakura lembut. "Beberapa pasangan butuh bekerja keras dan bersabar sedemikian lama untuk mendapatkan anak. Matsuri contohnya, dia butuh lima tahun untuk mendapatkannya. Sementara kita ... Tuhan sudah sangat baik memberi kita hadiah itu begitu cepat. Apa kau tidak merasa begitu?"
Sasuke bergeming lagi seakan tidak punya jawaban. Tatapannya berpaling. Sakura tahu dia ingin sekali menghidar. Mungkin tidak ingin Sakura melihat kecemasan yang sekarang terpancar jelas dalam sorot matanya.
"Sasuke-kun, aku masih belum tahu bagaimana perasaanmu mengenai bayi kita. Tapi aku berharap kau bisa menerimanya ..."
"Apa kau benar-benar menginginkan bayi itu?"
Pertanyaan Sasuke yang sangat tiba-tiba membuat Sakura terpaku tidak percaya. Suaminya sendiri bisa bertanya seperti itu padanya. Sama saja seperti menikam dadanya dengan sebilah pisau, rasa nyeri membuatnya kesulitan bernapas. Tapi Sakura mencoba memahami bahwa Sasuke jadi seperti itu karena rasa cemasnya. Cemas akan hal apa, itu yang belum Sakura tahu.
"Ya. Aku menginginkannya, sangat menginginkannya, Sasuke-kun." Sakura tersenyum, hanya untuk menyamarkan kesedihan di wajahnya. Tangannya mengelus perut. "Ini adalah bayi kita, buah cinta kita berdua. Bagaimana mungkin aku tidak menginginkannya?"
Ketika wajahnya terangkat untuk menatap Sasuke, mata zamrudnya berkaca-kaca. "Kau juga menginginkannya kan, Sasuke-kun?"
Sekali lagi Sasuke berpaling mata. Bahkan dia turun dari tempat tidur, melangkah tak bergairah menuju jendela. Entah menatap apa dalam kegelapan malam di luar sana.
Sekarang kecemasannya tampak semakin menjadi-jadi. Cemas yang berubah menjadi rasa takut. Itu tidak sama dengan ketakutannya terhadap mimpi-mimpi buruk masa lalunya, atau ketakutannya saat menghadapi kamar di mana dia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah sehingga membekas menjadi luka hati. Itu jenis ketakutannya yang lain. Jika ketakutannya yang dulu itu adalah kegelisahannya terhadap sesuatu yang pernah terjadi, maka ketakutannya kali ini tampaknya lebih kepada sesuatu yang belum terjadi. Sesuatu yang belum dia tahu seperti apa jadinya. Dan sesuatu itu membentuk bayangan mengerikan dalam benaknya.
"Aku takut, Sakura," ucapnya pada kaca jendela yang berembun karena terpapar napasnya.
Sungguh, tanpa Sasuke katakan pun Sakura dapat merasakannya, seakan-akan rasa takut itu juga ikut menggores hatinya. Dan ketika Sasuke mengatakannya dengan suara gemetar, rasanya hati Sakura lebih sakit daripada disayat-sayat.
"Apa yang kautakutkan, Sasuke-kun? Kau memikirkan nasibnya jika kau pergi sebelum dia lahir? Jika itu yang kautakutkan, percayalah padaku, aku akan membesarkannya dengan baik. Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuknya. Kau tidak perlu khawatir."
Sasuke masih bergeming menatap ke luar jendela, seakan tidak mendengarkan Sakura.
"Setelah kepergianmu, semua tentu saja tidak akan jadi mudah. Tapi aku akan melewatinya dengan baik, Sasuke-kun. Kau percaya padaku, kan? Aku wanita yang kuat. Aku bisa membesarkan anak kita meskipun hanya sendirian. Akan kupastikan dia tumbuh dengan baik, dia akan bahagia—"
Tiba-tiba dia berpaling menatap Sakura di atas ranjang. "Apa kau tetap akan menerimanya jika anak itu cacat?"
Dalam tatapan mata kelamnya, lubang besar itu terlihat, ketakutan yang mengaga lebar, kapan saja siap menyedotnya ke dalam kegelapan tanpa dasar.
"Bagaimana jika anak itu terlahir seperti diriku? Jika dia lahir terbelakang ... apakah kau masih menginginkannya?"
Sakura menelan kepedihan yang menusuk-nusuk kerongkongannya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu, Sasuke-kun? Belum pernah ada yang membuktikan jika seorang terbelakang akan menghasilkan anak yang juga terbelakang. Anak ini tidak akan—"
"Belum pernah ada bukan berarti tidak akan pernah ada!" Sasuke berteriak. "Itu mungkin saja, kan? Ayahnya seorang terbelakang sejak lahir. Dia hanya mendapat sedikit kecerdasan karena sebuah eksperimen gagal, lalu sebentar lagi kecerdasannya itu akan terhapus dari kepalanya. Dia akan jadi seorang terbelakang lagi, setelah itu dia akan mati menyedihkan."
Sekuat apapun Sakura membentengi perasaannya, air matanya jatuh juga. Meluncur pilu di pipinya.
"Kumohon jangan bicara seperti itu, Sasuke-kun. Anak ini akan baik-baik saja. Akan kupastikan dia tumbuh dengan sehat. Aku akan makan apa saja demi kesehatannya, akan kulakukan apa saja agar dia tumbuh sempurna. Dia tidak akan—"
"Kau bukan tuhan yang tahu segalanya, Sakura!" Mata Sasuke merah memelototinya. Dalam marahnya, ada kesedihan mendalam di sana.
Sakura menundukkan kepala, air matanya mengalir semakin deras.
Dia mengangguk, "Baiklah. Aku tidak tahu apapun yang akan terjadi ke depannya. Aku tidak bisa mengira-ngira akan seperti apa bayi kita nanti. Tapi aku bisa melakukan apapun demi kebaikannya, aku bisa berusaha. Kalaupun nanti anak ini lahir dalam keadaan seperti yang kautakutkan ... aku akan menerimanya."
Sakura berusaha tersenyum dalam linangan air mata, mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Rahim, dalam bahasa Arab artinya kasih sayang. Saat kau mengatakannya, aku hanya memahaminya secara harfiah. Tapi sekarang aku benar-benar paham mengapa dinamai seperti itu. Kasih sayang. Ketika dia hadir di sini, berkembang hari demi hari di dalam perutku, aku dapat merasakannya, Sasuke-kun. Kasih sayang itu tumbuh seiring dengan pertumbuhannya. Dia hidup seiring detak jantungku, bernapas bersama helaan napasku. Dia adalah bagian dari diriku.
"Aku mencintainya, dan itu tidak akan berkurang sedikitpun. Bagaimanapun kondisinya ketika dia lahir nanti, dia tetaplah bayi yang sama, yang kucintai sejak dia hadir di dalam rahimku. Meskipun dia lahir tanpa tangan atau kaki, meskipun dia lahir tanpa bisa melihat atau bicara, meskipun dia lahir terbelakang ... cinta dan kasih sayangku untuknya tidak akan pernah berubah."
Kepala Sakura terangkat, menatap Sasuke di tempatnya berdiri. "Begitulah cinta seorang ibu. Kau sudah merasakannya, karena itu adalah apa yang dilakukan ibumu padamu, Sasuke-kun ..."
Saat itu tatapan mata Sasuke melembut, mungkin hatinya telah tersentuh oleh kesungguhan dan air mata Sakura yang mengalir tulus di wajahnya.
"Kau tetap akan mencintainya?"
Sakura mengangguk, sekali lagi tersenyum.
"Aku telah mempelajari sesuatu yang berharga dari ibumu. Ketulusan cinta seorang ibu. Itulah yang dilakukan ibumu padamu, mencintaimu seperti apa adanya dirimu. Karenanya sekalipun kau memiliki kekurangan, kau tumbuh menjadi seseorang yang berhati tulus."
Sakura perlahan turun dari ranjang, melangkah ke tempat Sasuke. Diraihnya tangan Sasuke, ditempelkan ke perutnya.
"Jadi, biarkan aku memilikinya. Biarkanlah aku menerima hadiah terakhir darimu, Sasuke-kun. Satu-satunya hartaku yang berharga setelah dirimu. Jika aku harus kehilanganmu, kumohon ... aku tidak ingin kehilangan anak ini. Anak kita ..."
Jemari Sasuke menghapus air mata Sakura yang mengalir lagi di pipinya. Kemudian Sasuke memeluknya. Sasuke juga menangis di balik punggungnya, Sakura bisa merasakan itu.
"Maafkan aku, Sakura," ucapnya gemetar.
Sakura hanya mengusap punggungnya, memberikan sentuhan lembut agar Sasuke tidak perlu merasa takut lagi.
"Bayi ini ... anak kita ...," gumam Sasuke ketika mengelus lagi perut Sakura. Sekarang dia seperti seorang calon ayah yang baru saja dikabari bahwa istrinya sedang mengandung. Wajahnya berseri. Sakura tidak lagi melihat kecemasan dan ketakutannya di sana.
"Ya, Sasuke-kun. Ini anak kita, anakmu."
Tiba-tiba wajahnya berubah penasaran. "Kenapa aku tidak bisa merasakannya bergerak?"
Sakura tertawa kecil. "Masih terlalu dini baginya untuk bisa bergerak, kau harus bersabar. Nah, bagaimana kalau lusa kau mengantarku ke dokter? Kau ingin melihat seperti apa si kecil di dalam sana, kan?"
Sasuke mengangguk setuju.
...
Jumat pagi Sasuke dan Sakura pergi ke Rumah Sakit Konoha untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Ini pemeriksaan ke dua untuk Sakura, tapi menjadi yang pertama untuk Sasuke.
Sasuke tampak tegang ketika memasuki ruang pemeriksaan bersama Sakura. Sakura mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya, lalu tertawa kecil, berkata bahwa semua akan berjalan santai saja. Tapi tampaknya Sasuke tidak bisa tenang semudah itu. Sampai-sampai Dokter Rin, dokter wanita spesialis kandungan yang memeriksa Sakura, tidak tahan untuk menggodanya.
"Jangan berwajah tegang seperti itu, Sasuke-san. Nanti bayinya bersembuyi loh!"
Entah Sasuke tidak memahami gurauan itu atau memang ketegangannya sulit dikalahkan. Dia menanggapi Dokter Rin dengan mata sedikit melotot. Membuat wanita berambut cokelat itu tersenyum canggung, wajahnya tampak merasa bersalah. Agaknya setelah itu Dokter Rin menyerah untuk sekali lagi berusaha mencairkan suasana.
Satu per satu proses pemeriksaan kehamilan standar dijalani Sakura, Sasuke setia mendampingi meskipun ketegangan di wajahnya belum reda. Sesekali Sasuke bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran atau hal yang membuatnya cemas selama pemeriksaan. Dokter Rin menjelaskan dengan sabar, tampak sangat memaklumi calon ayah baru ini. Dan pada saat Sakura diminta berbaring di tempat tidur untuk pemeriksaan USG, wajah Sasuke tampak semakin tegang saja. Sakura menggenggam tangannya lagi.
"Kau pasti akan menyukai bagian ini," bisik Sakura, tertawa kecil.
Benar saja. Ketika layar monitor menampilkan pencitraan janin di dalam perut Sakura, pandangan Sasuke sama sekali tidak berpaling dari sana. Dia bergeming, menatap takjub tanpa kata.
Dokter Rin menjelaskan sembari menunjuk-nunjuk layar monitor. Pada usia kandungan 7 minggu, janinnya memang belum terlihat seperti bayi. Kepalanya sudah mulai terbentuk, namun badannya masih serupa lintah yang melengkung. Ukurannya kira-kira baru sebesar butiran beras. Dia sudah memiliki jantung yang berdetak. Dan mulai terlihat tunas-tunas yang akan menjadi kaki dan tangan.
Seperti sebuah keajaiban. Siapapun yang menyaksikannya akan terdiam takjub. Betapa Tuhan Maha Mencipta, ketika Dia berkehendak, maka jadilah. Seorang manusia yang terbentuk dari dua sel yang begitu kecil; sperma dari ayahnya, dan ovum dari ibunya. Kemudian tumbuh secara bertahap di dalam rahim sang ibu. Dari segumpal darah, menjadi segumpal daging. Kemudian daging itu akan membungkus tulang, hingga sempurna bentuknya menjadi bayi yang lemah. Terbungkus dengan begitu aman di dalam lapisan yang disebut dengan kasih sayang.
Tanpa sadar air mata Sakura yang hangat meluncur dari ekor matanya, dadanya dibuncah perasaan haru.
"Apakah bayinya sehat, Dok?" tanya Sasuke, wajah tegangnya sekarang berganti cemas.
Dokter Rin tersenyum. "Ya, bayinya sangat sehat. Pertumbuhannya normal sesuai dengan usianya."
Ketika Dokter Rin mengatakan pemeriksaan USG sudah selesai, Sasuke menahannya. "Boleh aku melihatnya sekali lagi?"
"Tentu saja boleh, Sasuke-san. Kalau mau, aku akan mencetak fotonya agar Anda bisa memandanginya sampai bosan."
Sakura hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia sungguh berbeda dengan Sasuke dua minggu yang lalu, saat pertama kali mendengar bahwa Sakura hamil. Sekarang Sasuke benar-benar seorang calon ayah yang antusias, ingin mengetahui segalanya tentang bayinya, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Dan melihat bagaimana cara Sasuke menatap layar monitor tanpa kedip untuk ke dua kalinya, Sakura yakin dia tidak akan pernah bosan seperti kata Dokter Rin.
Apalagi ketika Sasuke mendengar suara detak jantung si bayi setelah Sakura meminta Dokter Rin membesarkan volume speaker-nya. Mata hitamnya tampak berkaca-kaca menatap perut Sakura—sesuatu yang dibayangkannya bersemayam di dalam sana.
"Dia hidup, Sakura," gumamnya.
Sakura tersenyum, meletakkan telapak tangan Sasuke di atas perutnya. "Tentu saja, Sasuke-kun. Dia hidup bersamaku. Di dalam sini. Di tempat teraman. Kau mungkin belum merasakan apapun, tapi dia merasakan kehadiranmu."
Tatapan Sasuke melembut, selembut usapannya pada perut Sakura—pada bayinya di dalam sana.
"Halo, Sarada ..."
"Wah, kalian sudah memberinya nama? Sarada? Terdengar seperti nama anak perempuan," celoteh Dokter Rin. Mata cokelatnya menatap Sasuke penasaran, "Anda tahu kalau bayinya akan berjenis kelamin perempuan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku menginginkan bayi perempuan," kata Sasuke. "Agar dia menjadi seperti ibunya, juga neneknya. Perempuan-perempuan hebat. Karena itu kuharap dia perempuan."
Sasuke tidak pernah membicarakan itu sebelumnya. Ketika Sakura mendengarnya, haru dan sedih bercampur menjadi satu perasaan yang membuat air matanya lolos lagi. Kehangatan melingkupi relung hatinya.
Dokter Rin tersenyum, tampak menghargai jawaban Sasuke.
Di akhir sesi pemeriksaan, Sasuke bicara sesuatu pada Dokter Rin ketika Sakura sedang merapikan pakaiannya.
"Entah aku bisa datang lagi untuk pemeriksaan ke tiga atau tidak. Tapi kuharap, Anda membantu Sakura menjaga bayi kami. Kumohon."
Sakura sedikit mengintip dari balik tirai, tertegun melihat Sasuke membungkuk dalam demi menegaskan keseriusannya. Sepertinya Dokter Rin juga terkejut. Sejenak dia tidak berkata-kata, mungkin tidak mengerti mengapa Sasuke bicara seperti seseorang yang akan mati sebentar lagi.
"Aku ... Tentu saja aku akan menjalankan tugasku dengan sebaik mungkin. Itu adalah tanggung jawabku sebagai dokter pada pasien."
"Aku meminta Anda lebih daripada tanggung jawab Anda sebagai seorang dokter," kata Sasuke lagi, punggungnya belum juga terangkat.
Dokter Rin terdiam di balik mejanya. Menatap Sasuke lamat-lamat, seakan mencoba mengerti arti permohonannya itu. Akhirnya dia tersenyum dan mengangguk, wajah cantiknya penuh dengan pengertian dan kepedulian.
Setelah meninggalkan rumah sakit, ternyata Sakura dan Sasuke tidak langsung pulang. Sasuke tiba-tiba meminta pada supir taksi untuk mengantar mereka ke pusat perbelanjaan. Sakura tidak tahu kalau hari ini mereka punya jadwal berbelanja. Sasuke bilang itu rencana dadakan, terpikirkan begitu saja.
"Mungkin sekarang masih terlalu cepat, tapi aku takut tidak punya waktu untuk menundanya. Aku ingin menemanimu membeli semua perlengkapan bayi," kata Sasuke.
Sakura sudah sering mendengar mitos yang berkaitan dengan itu, katanya tidak boleh menyiapkan perlengkapan apapun sebelum bayi di dalam kandungan mencapai usia matang. Orang-orang tua selalu menasihati ibu hamil seperti itu. Sekali lagi, itu hanya mitos, sebuah kepercayaan turun-temurun yang belum tentu benar. Saat ini Sakura hanya memercayai satu hal, bahwa dia akan menyesal jika tidak memenuhi keinginan Sasuke secepat mungkin. Mitos belum tentu terjadi, tapi kemunduran Sasuke adalah satu hal yang pasti.
Jadi, Sakura menyambut baik ajakan suaminya hari itu.
Mereka berkeliling pusat perbelanjaan hampir seharian, mendatangi banyak toko perlengkapan bayi. Tapi Sakura diminta duduk saja di dalam toko agar tidak kelelahan, Sasuke yang memilah-milah, nanti juga Sakura akan kebagian kesempatan untuk memutuskan barang mana yang akan mereka bawa pulang. Mereka membeli tempat tidur, bantal dan selimut. Membeli baby stroller, baby carrier, bahkan baby walker yang masih lama sekali dipakainya. Membeli baju-baju mungil, sepatu dan kaus kaki lucu, juga pita dan bando-bando cantik.
Sakura tidak terlalu mengerti mengapa Sasuke merasa yakin sekali bayi mereka perempuan, tapi Sakura juga tidak tega melarangnya membeli semua barang yang berbau feminin. Kalaupun nanti yang lahir adalah bayi laki-laki, biarlah semua barang itu menjadi kenang-kenangan. Karena Sakura tidak ingin merusak kesenangan Sasuke hari ini. Mungkin bagi Sasuke, ini adalah caranya menjadi ayah. Jika dia tidak bisa hadir untuk membesarkan anaknya, setidaknya dia telah menyiapkan segala yang terbaik untuk pertumbuhannya kelak. Sasuke tampak benar-benar bahagia saat memilah-milih barang. Sakura pikir, itulah perasaan Sasuke yang sesungguhnya. Dia menginginkan bayi itu.
Di rumah, Sasuke benar-benar menyiapkan segalanya untuk bayi mereka. Termasuk kamar bayi. Sasuke melapisi seluruh dinding dengan kertas dinding—bernuansa merah muda, dan menggantung banyak origami bintang dan bangau warna-warni yang dibuatnya sendiri di langit-langit kamar. Sasuke juga yang mengatur letak setiap barang. Tempat tidur bayi di dekat jendela. Di dekatnya ada kabinet empat susun, Sasuke juga yang mengisi semua raknya dengan pakaian-pakaian dan sepatu mungil si bayi. Foto USG dipajang di dalam pigura cantik, diletakkan di atas kabinet, bersanding dengan kotak musik bersuara merdu—juga berwarna merah muda.
Bukan hanya pada si bayi, perhatian Sasuke pada Sakura juga semakin besar. Sasuke jadi sering pulang dari Lab lebih cepat, bahkan sebelum Sakura tiba di rumah, hanya agar bisa menyiapkan makan malam untuknya. Sasuke juga tidak pernah absen membelikan buah-buahan segar untuk mengurangi rasa mual Sakura. Tiap malam sebelum tidur, Sasuke membuatkan segelas susu khusus ibu hamil untuknya, dan tidak lupa memijat lembut tengkuk dan pundaknya.
Kini mengelus perut Sakura dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang menjadi agenda rutin Sasuke tiap sebelum tidur dan sebelum berangkat ke Lab.
Sakura tidak pernah melihat Sasuke sebahagia itu. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Sakura yakin, Sasuke telah benar-benar menerima kehadiran bayi mereka. Mungkin Sasuke tidak peduli lagi tinggal berapa lama sisa waktunya. Selama dirinya masih mampu, dia akan memberikan seluruh perhatian dan cintanya untuk sang anak. Untuk terakhir kalinya. Sasuke tidak sedikitpun terlihat sedih. Dia. Bahagia.
...
Sakura mendengar denting irama yang mengalun lembut dari kotak musik di kamar bayi. Ketika Sakura datang ke sana, dilihatnya Sasuke sedang berdiri di samping boks bayi, mata hitamnya sendu menatap tempat tidur yang dialas perlak merah muda itu. Sepertinya Sasuke tidak menyadari kehadirannya. Jadi, Sakura hanya diam, memperhatikan Sasuke dari bawah birai pintu.
Sasuke membetulkan letak bantal dan guling mungil di sana meskipun letaknya memang sudah betul. Kemudian tangannya menggoyangkan mainan yang digantung di atas bantal hingga bergerincing. Sasuke tersenyum, pilu. Hati Sakura seakan teriris demi melihatnya.
Sasuke meletakkan sebuah boneka beruang merah muda di sana. Matanya lagi-lagi memandang sendu tempat tidur yang kosong. Seolah-olah membayangkan ada bayi perempuan yang sedang tersenyum padanya, dengan tangan mungil berusaha menggapai jemarinya.
"Sarada ..." gumam Sasuke.
Sakura menggigit bibir. Mendengar Sasuke menyebut nama itu membuat hatinya teriris lebih dalam lagi.
Sungguh ironis ketika seharusnya Sasuke berada di tengah-tengah kebahagiaan menantikan seorang anak, dia justru tidak bisa menahan pasir waktu yang terus mengalir turun. Sasuke tidak mampu membekukan waktu agar kemundurannya ditangguhkan. Dia tidak bisa.
"Sakura?"
Seketika dia terkesiap menyadari tatapan Sasuke sekarang tertuju padanya. Dirinya baru saja ketahuan. Canggung kakinya melangkah ke dalam, dia menghampiri Sasuke yang masih berdiri di samping boks bayi.
"Suara kotak musiknya membuatmu terbangun?" tanya Sasuke.
Sakura menggeleng. "Aku terbangun karena harus ke toilet," ucapnya bohong. "Apa yang kaulakukan di sini tengah malam begini, Sasuke-kun?"
"Tidak ada. Aku hanya tidak bisa tidur, dan aku tidak tahu mau melakukan apa. Jadi, aku ke sini," jawab Sasuke sembari sekali lagi membenahi letak bantal dan guling, juga boneka beruang merah muda yang tadi dia taruh di sana.
Mata zamrud Sakura kemudian terpana pada tulisan yang dibordir tebal dengan benang merah di dada boneka. Sarada no Papa.
"Sarada ... Kita akan memberinya nama ini?"
Sasuke mengangguk, menatap lembut Sakura. "Kau suka?"
"Aku suka. Nama yang manis," jawab Sakura dengan wajah cerah. "Aku juga berharap dia perempuan, agar kau menjadi cinta pertamanya. Orang bilang, ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan."
Ketika Sakura mengangkat kepalanya untuk tersenyum pada Sasuke, senyumnya langsung terhapus melihat Sasuke memegangi kening sementara matanya terpejam erat, wajahnya berubah pucat. Tangan Sasuke mencengkram erat pinggiran boks, cepat-cepat Sakura menahan tubuhnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Sasuke berusaha berdiri tegak, tapi dia justru terhuyung nyaris roboh. Sakura membantunya duduk di sofa.
"Sasuke-kun, haruskah aku membawamu ke rumah sakit?" Sakura mengusap wajah Sasuke yang masih tampak pucat, dan keningnya mengilap karena keringat dingin. Wajah Sakura sendiri panik, juga ketakutan.
"Tidak usah ..." Mata Sasuke masih terpejam, tampak berusaha menahan sakitnya. "Aku ... akan baik-baik saja."
Sebenarnya Sakura ingin membantah, ingin keras kepala membawa Sasuke entah ke klinik atau rumah sakit agar mendapat pertolongan lebih lanjut saat ini juga. Tapi menatap wajah Sasuke yang kesakitan justru membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Sakura menyadari bahwa apa yang dialami Sasuke bukanlah gejala sebuah penyakit yang dapat disembuhkan oleh resep dokter. Itu hanya serangan sakit kepala sesaat, gejala ringan yang akan reda setelah beberapa menit. Yang perlu diwaspadai bukanlah sakit kepalanya, kata Profesor Sarutobi. Tapi munculnya gejala itu menjadi pertanda bahwa jaringan-jaringan di dalam otak Sasuke mulai tidak berfungsi. Dan Sasuke sudah mengalaminya beberapa kali sejak sebulan belakangan. Itu jelas bukan kabar baik.
Tanpa bisa dipungkiri, semakin hari berganti, gejala-gejala disfungsi otak pada Sasuke bermunculan satu demi satu. Pertama sakit kepala. Ke dua adalah lupa.
Ya, lupa. Gejala itu Sakura sadari pertama kali pada tiga minggu yang lalu ketika Sasuke tidak mengingat soal janji makan malam. Tadinya Sakura pikir Sasuke tidak sengaja melupakannya benar karena tes-tes berat yang dijalaninya di Lab seperti yang dia katakan pada waktu itu. Tes-tes itu mungkin saja mengganggu fokus pikirannya. Dan Sakura akan terus berpikir seperti itu jika saja gejala lupa Sasuke tidak berlanjut.
Memang yang mulai sering dilupakannya adalah hal-hal kecil. Tapi Sakura tidak bisa menganggapnya sepele, karena gejala lupa yang muncul berikut dan berikutnya berujung pada masalah yang lebih serius.
Seperti ketika dua minggu yang lalu Sasuke lupa membawa kotak bekal yang sudah disiapkan Sakura. Dia meninggalkannya di atas meja makan. Untungnya Sakura melihat kotak itu sebelum dia melangkah terlalu jauh dari rumah. Sakura masih sempat mengejarnya, mengantarkan kotak itu padanya.
"Terima kasih, Sakura. Dengan ini, aku tidak perlu makan masakan kantin yang membosankan," kata Sasuke, menerima kotaknya. Kemudian dia memberikan kecupan selamat tinggal pada Sakura yang juga dia lupakan.
Sakura melepasnya dengan lambaian tangan. Dalam hati terselip rasa khawatir, akankah Sasuke melupakan hal-hal yang lebih serius daripada sekadar kotak makan. Tapi melupakan kecupan selamat tinggal juga terhitung masalah yang cukup serius—bagaimana bisa Sasuke melupakan salah satu ritual yang selalu dilakukannya sebelum pergi kerja?
Itu berlanjut dua hari berikutnya. Sasuke lupa mematikan keran sehabis mencuci piring setelah makan malam, air di wastafel mengucur semalaman. Akibatnya tagihan air membengkak, bulan itu mereka terpaksa mengeluarkan lebih banyak biaya untuk sesuatu yang sia-sia.
"Maafkan aku, Sakura. Padahal ini akan lebih berguna untuk kebutuhan si kecil kalau saja aku tidak lupa," gumam Sasuke dengan wajah menyesal menatap surat tagihan.
Sakura hanya bisa memaklumi dan sedikit menghiburnya. "Bukan salahmu, Sasuke-kun. Kadang aku juga melupakan sesuatu," katanya. Dalam hati bersyukur karena Sasuke hanya melupakan keran air, bukan kompor yang menyala. Semoga suatu hari dia tidak sampai melakukan itu, doanya.
Seminggu yang lalu, Sasuke tidak ingat di mana meletakkan buku yang terakhir dibacanya. Semula Sasuke yakin sekali buku itu ditaruhnya di atas meja lampu samping tempat tidur, Sasuke yakin buku itu ada di sana sampai dia bangun di pagi harinya. Namun pagi itu Sasuke tidak menemukannya.
"Kaupindahkan ke mana buku Teori Fisika Kuantum di sini, Sakura?" tanyanya.
"Buku? Aku tidak lihat ada buku apapun di situ tadi malam," jawab Sakura, alisnya bertaut bingung.
Sasuke mulai kesal menatapnya. "Buku Teori Fisika Kuantum, Sakura. Semalam aku membacanya sampai larut, dan aku menaruhnya di sini sebelum tidur. Buku itu tidak punya kaki, dia tidak mungkin pindah sendiri," keluhnya panjang lebar.
Sejenak Sakura terdiam. Cara bicara Sasuke seakan menuduhnya telah memindahkan buku itu sembarangan. Jujur, itu melukai hatinya. Tapi sebisa mungkin Sakura menahan diri, jangan sampai ungkapan kekecewaannya terlontar, atau urusan sepele ini jadi lebih rumit dan berbuntut panjang. Sakura mengalah, membiarkan Sasuke menuduhnya, sementara dia mencarikan buku itu agar marah Sasuke reda dan masalah cepat selesai.
Ketika Sakura menemukan buku Teori Fisika Kuantum di dalam susunan majalah di ruang tengah, barulah Sasuke teringat kejadian sebenarnya. Malam itu dia berjalan keluar kamar masih dengan mata menempel pada buku, menenggak segelas air demi menyiram kerongkongannya yang kering, dan melanjutkan membaca di ruang tengah. Buku itu disisipkan begitu saja di tengah-tengah susunan majalah setelah dia menguap lebar, lalu pergi tidur. Dengan begitu, jelas sudah itu kesalahannya, Sasuke mengakui. Karena tidak bisa mengingat semalam dia sempat meninggalkan kamar, Sasuke keliru mengasumsikan kebiasaannya membaca di tempat tidur dan meletakkan buku di meja lampu dengan kejadian ketika dia tidak dapat menemukan bukunya di sana.
"Maafkan aku, Sakura. Aku tidak bermaksud menuduhmu," lagi-lagi hanya itu yang bisa Sasuke katakan, meskipun wajah menyesalnya bukan pura-pura.
Dan lagi-lagi Sakura hanya bisa memakluminya.
"Itu bukan salahmu, Sasuke-kun. Kadang aku juga mengira telah melakukan sesuatu yang tidak kulakukan."
Kemarin sore, hal yang pernah Sakura takutkan akhirnya terjadi juga. Rumah mereka hampir terbakar akibat Sasuke lupa mematikan kompor. Ketika Sakura baru saja pulang mengajar, hidungnya langsung mencium bau hangus begitu membuka pintu rumah. Asap mengepul berasal dari arah dapur. Saat diperiksa, panci sup di atas kompor sudah berubah menjadi hitam, dijilati lidah api yang membesar. Untunglah Sakura tidak menjadi panik, mampu menangani itu seorang diri dengan semprotan pemadam api. Sasuke baru muncul setelah semua asap nyaris lenyap keluar dari jendela-jendela dan pintu yang dibuka lebar. Wajahnya ketakutan setengah mati melihat Sakura yang masih berusaha mengisi paru-parunya dengan udara segar di halaman bersalju mereka.
"Kali ini jelas salahku. Aku sama sekali tidak ingat sedang merebus sup saat meninggalkan rumah," kata Sasuke.
Namun Sakura tetap tidak bisa menyalahkannya. Sasuke meninggalkan rumah karena alasan khusus, membantu Nenek Chiyo, wanita renta yang hidup sendirian di tiga rumah di sebelah mereka, untuk mengganti bohlam di kamar mandinya yang putus. Sakura bisa membayangkan bagaimana Sasuke tak mampu menolak Nenek Chiyo ketika datang padanya dengan wajah tua yang letih. Walaupun setelah mengerjakan permintaannya, Sasuke diajak mengobrol panjang lebar, tapi itu pasti semacam bentuk penghiburan Sasuke atas rasa kesepian Nenek Chiyo yang tidak lagi memiliki siapapun kecuali seorang cucu yang tinggal jauh darinya dan bersikap tak acuh padanya.
"Jangan salahkan dirimu, Sasuke-kun. Ini kecelakaan," kata Sakura.
Tapi Sasuke tidak menyukainya. Tiba-tiba dia tersulut marah.
"Kenapa kau selalu begini padaku? Bilang tidak apa-apa, bukan salahku. Pada kejadian sebelumnya, aku bisa menerima kalau ucapanmu itu untuk menghiburku dari rasa bersalah. Tapi kali ini aku hampir mencelakaimu, dan kau masih bicara seperti itu? Kau membuatku merasa bodoh."
"Aku ..." Seakan sebilah anak panah baru saja menancap ke lehernya, Sakura kesulitan bicara. Matanya menatap nanar, berkaca-kaca. "Aku tidak bermaksud ..."
"Kau tahu, Sakura? Orang normal selalu akan mengatakan tidak apa-apa, bukan salahmu, ketika seorang idiot melakukan kesalahan. Mereka bicara seperti itu hanya untuk menyenangkan si idiot. Aku tahu itu, karena aku telah menerima banyak ucapan seperti itu sepanjang hidupku. Dan kau juga bicara begitu pada murid-muridmu di SLB, bukan?"
Cara Sasuke menatapnya membuat air mata Sakura jatuh saat itu juga.
...
"Aku sudah membuatnya terluka," kata Sakura pada Profesor Sarutobi, mengingat-ingat kejadian kemarin sore, seakan itu baru saja terjadi di depan matanya.
Dia memandang kosong pada deretan pohon kering yang tumbuh di sepanjang pagar kampus. Merapatkan mantel, merasakan dingin bukan karena udara yang pagi ini bahkan cukup cerah, namun menggigil karena rasa bersalah.
"Kupikir Sasuke merasa tertekan setiap kali melakukan kesalahan, padahal sejak menjadi jenius dia selalu mengerjakan segala hal dengan sempurna. Itu kenapa aku berusaha menghiburnya, hanya dengan maksud membuat hatinya tenang. Tapi aku tidak tahu kalau caraku yang seperti itu justru melukainya."
"Sasuke bukan ramalan cuaca, Sakura," kata Profesor Sarutobi. "Kau tidak bisa memperkirakan hari ini dia akan menjadi badai, atau hari ini akan cerah. Bahkan bagiku, dia seperti studi yang masih sulit untuk dipelajari."
Pria tua itu kemudian menatap ke kejauhan.
"Sekarang ini Sasuke sedang berjalan mundur. Gejala yang pertama muncul adalah lupa, karena itu merupakan tanda awal kerusakan otak, seperti pada penderita alzheimer. Pertama-tama dia melupakan hal-hal kecil; lupa meletakkan barang, lupa pembicaraan, lupa melakukan apa sebelumnya—seperti yang sudah terjadi padanya belakangan ini. Pendapatmu tadi benar, Sasuke merasa tertekan setiap kali melakukan kesalahan. Kecemasannya bertambah seiring dengan gejala kemunduran yang muncul satu per satu. Dalam kondisi seperti itu, dia jadi cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak segan berkata atau bersikap kasar, bahkan pada teman dekat atau orang-orang yang dia cintai. Kejiwaannya yang tertekan membuatnya sulit mengontrol emosi dan perilakunya sendiri."
Sekarang Sakura mengerti mengapa Sasuke jadi bersikap sangat impulsif pada Gaara tempo hari, jelas-jelas memperlihatkan ketidaksukaannya pada Gaara hanya karena cemburu. Sikap tidak bersahabatnya juga karena itu rupanya.
"Jadi, apa yang sebaiknya kulakukan, Profesor?" tanya Sakura putus asa. "Aku ingin membesarkan hatinya. Tapi aku tidak tahu harus bicara apa agar Sasuke tidak salah mengerti maksudku."
Profesor Sarutobi tidak langsung menjawab. Tampaknya dia berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk Sakura.
"Pada saat ini, komunikasi adalah masalah yang kompleks," katanya kemudian. "Kau mengatakan A, tapi Sasuke menanggapinya B. Sehalus mungkin ucapanmu, sebaik mungkin kata-katamu, Sasuke tetap akan tersinggung jika kemampuannya untuk memahami situasi terus menurun."
"Maksud Profesor, tidak ada yang bisa kulakukan untuk bisa menghadapi Sasuke?"
"Aku tidak akan berbohong, demi kebaikanmu dan Sasuke. Saat ini kalian mulai sulit untuk saling memahami pembicaraan. Suatu hari akan ada saatnya di mana kalian tidak bisa bercakap-cakap lagi karena kondisi Sasuke."
Sakura terdiam. Matanya mulai tergenang, gemuruh kesedihan berkecamuk di dadanya.
"Sakura," Profesor Sarutobi meletakkan tangannya di pundak Sakura. "Kau harus siap jika suatu saat kau harus berpisah dengannya. Ketika Sasuke semakin lemah dan kau tidak lagi mampu merawatnya, dia akan kami kirim ke Amegakure."
Tatapan Sakura berpaling pada Profesor Sarutobi. Pada saat itu air matanya jatuh.
"Apa?"
"Ya, Sakura. Jika tiba saatnya, kami terpaksa membawa Sasuke ke Panti Amegakure, pusat rehabilitasi orang-orang berkebutuhan khusus."
Sakura menggeleng keras. "Tidak. Sasuke tidak harus ke sana. Sasuke memilikiku. Aku yang akan merawatnya sampai dia ... sampai dia ..." Sementara bibirnya bergetar karena tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, air matanya jatuh lagi. Lagi. Dan lagi.
"Kalian tidak boleh membawanya, Profesor ... Kumohon ..."
Profesor Sarutobi menatap Sakura dengan jeri. Tampak penyesalan di mata sayunya. Mungkin tidak mudah bagi pria tua itu menyampaikan apa yang harus disampaikannya sekarang. Dia pun tampak tidak suka dengan ide ini. Namun kelihatannya dia tidak punya pilihan.
"Ini permintaan Sasuke sendiri," katanya. "Saat kepergian kami ke Tokyo bulan Desember lalu, Sasuke meminta kami mampir ke Amegakure. Katanya dia ingin melihat-lihat pusat rehabilitasi di sana. Lalu dalam perjalanan kembali ke Konoha, dia berkata padaku dan Kakashi, meminta kami membawanya ke sana jika kondisinya sudah tidak memungkinkan dirawat olehmu."
Dalam kegemingan, hanya air mata yang terus bergulir jatuh di pipi Sakura.
Berpisah dari Sasuke sebelum kematiannya adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Sakura. Semenjak mengetahui kemunduran intelijensi hingga kematian akan menimpa Sasuke, Sakura telah menyiapkan diri dan hatinya untuk sebuah perpisahan. Sebelum itu terjadi, Sakura bertekad untuk tetap bersama Sasuke, menjaga dan merawatnya sampai saat perpisahan itu tiba. Sakura akan terus mendampingi Sasuke sampai ajalnya datang menjemput. Tapi mendengar perpisahan itu datang lebih cepat daripada kematian adalah hal terakhir yang diharapkan Sakura.
Bahkan jika kematian yang datang menjemput, Sakura tidak yakin dirinya akan siap melepaskan Sasuke. Bagaimana mungkin Sakura sanggup melepasnya pergi ke panti rehabilitasi?
Lamunannya tiba-tiba terpecah oleh bel pintu rumahnya yang berdering nyaring.
Sakura menghapus jejak air matanya, bergegas membukakan pintu untuk tamunya sore itu. Bukan tamu, ternyata Sasuke. Tumben sekali dia memencet bel untuk masuk ke rumahnya sendiri. Dan tumben sekali dia membawa sebuket mawar putih yang segar dan harum, diserahkannya pada Sakura sebelum sempat berkata apa-apa.
"Maafkan sikapku kemarin, Sakura," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. "Seharusnya aku tidak bicara begitu padamu, kan? Bukan hanya membuatmu menangis, aku juga pasti membuat Sarada ikut merasa sedih. Maafkan aku."
Sakura menerima bunganya, memandanginya sesaat, kemudian air matanya jatuh.
"Apa aku membuatmu sedih lagi?" gemetar suara Sasuke bertanya, takut-takut menatap Sakura.
Sakura menggeleng, menghapus air mata di pipinya.
"Air mata wanita punya banyak arti. Kesedihan, kekecewaan, juga kebahagiaan. Sekarang aku menangis bukan karena aku merasa sedih. Tidak, Sasuke-kun. Ini karena aku bahagia."
Bohong. Sakura menangis bukan karena alasan itu. Tapi karena kesedihan yang bertumpuk-tumpuk memikirkan perpisahan dengan Sasuke. Sakura tidak harus mengakui itu padanya. Biar dia saja yang tenggelam ke dasar kesedihannya sendiri.
Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini Sasuke yang menghapusnya.
"Lalu boleh aku tahu apa yang membuatmu bahagia?"
Sakura menatap Sasuke, lurus pada matanya yang hitam sebening mutiara. "Aku bahagia karena memilikimu di sisiku."
Itu kejujuran. Satu-satunya alasan Sakura untuk tetap bahagia dalam situasi menyedihkan ini adalah berada di sisi Sasuke. Mendekapnya. Menguatkannya. Hingga waktunya tiba.
Benar, hanya kematian yang boleh memisahkannya dari Sasuke. Apapun yang terjadi, dia akan terus bersama Sasuke. Dia tidak akan menyerahkan Sasuke pada siapapun, dan tidak ke manapun.
Bersambung
[25.02.2016]
