Memasuki pertengahan bulan Desember, semua orang bagai dipaksa terkungkung dalam dingin dan mantel tebal. Tembok seolah tidak bisa lagi diandalkan meredam serbuan hawa beku dari luar. Perapian-perapian listrik mendadak menjadi lokasi favorit penepis dingin siswa di kamar masing-masing. Kaca jendela tertugur beku. Diluar bangunan sekolah, tumpukan salju tampak menimbun dimana-mana seperti serpihan parutan es, membuat segalanya serentak bertransformasi sewarna putih, pucat dan muram. Bunga-bunga merunduk menggigil sementara hutan Vachgaux jadi jauh lebih sunyi dari biasanya. Kegembiraan musim salju tidak akan terjadi kali ini sebab salju datang bersama kawannya yang disebut badai, sangat rentan beraktivitas outdoor.
Diluar sana angin masih melolong kencang ketika kutarik dua sisi gorden jendela dapur hingga menutup menyisakan celah kecil. Satu menit lalu baru rampung menyiapkan makan malam, memasak steak wagyu menggunakan kompor induksi. Sebelumnya aku lebih suka menggunakan kompor listrik biasa seperti saat masih sekamar dengan Seungri, tapi setelah selama lebih dua bulan resmi menjadi kekasih Kyuhyun dan itu artinya aku harus mulai belajar menyebut apapun yang dimiliki Kyuhyun sebagai milikku juga, aku akhirnya mulai terbiasa.
Sembari duduk di kursi makan menanti Kyuhyun setelah sebelumnya sibuk menata masakan berikut alat-alat santap diatas meja, benakku mengembara merenungkan hubungan cinta kami. Dua bulan yang terasa bagai dua hari. Menurut pandanganku yang kuyakin tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan, sebenarnya tidak ada perasaan cinta sempurna dikehidupan realitas siapapun, terlebih untuk sosok berlabel kekasih, kecuali itu adalah pemanis di drama-drama picisan khas remaja dalam masa pubertas. Bahkan tidak sedikit figur ibu yang tidak mencintai anak dari rahimnya sendiri, padahal lambang cinta yang disebut-sebut merupakan simbol kasih sayang paling tinggi adalah cinta seorang ibu terhadap anaknya. Apabila cinta sosok ibu saja sudah mulai diragukan, apalagi cinta dari seorang kekasih. Dalam situasi serba menuntut masa kini, manusia sudah terbiasa bersikap realisetis. Cinta dan kasih sayang ditempatkan dalam urutan nomor kesekian. Tujuan orang-orang berpacaran tidak lebih dari sekedar gengsi atau kebutuhan badaniah, kalaupun ada cinta diantaranya, itupun cinta yang sengaja ditumbuh-tumbuhkan, cinta yang mudah goyah, mudah terlarut keadaan. Sedari awal akupun telah mendoktrinkan diri agar jangan begitu menaruh harapan besar akan memiliki kekasih dengan cinta sesempurna seperti yang semua orang dambakan. Aku tidak percaya dan tidak pernah berusaha tertarik sampai Kyuhyun menepis penilaian skeptisku tentang kesempurnaan kasih sayang. Entah karena dia memang sangat mencintaiku atau aku yang berlebihan, akumulasi dari cinta seorang kekasih, orang tua, saudara dan sahabat seolah tersalur padaku melalui diri Kyuhyun.
Sepanjang dua bulan lebih ini tidak pernah kutemui sikapnya yang dapat membuat amarahku terlecut. Sedapat mungkin dia senantiasa berusaha berbuat sesuatu demi menciptakan senyum di bibirku serta dilarangnya aku memikirkan hal-hal berat. Nilai-nilai juga lebih baik berkat Kyuhyun. Beberapa pengarahan sulit dari songsaenim, anehnya menjadi mudah seketika bila Kyuhyun menjelaskan ulang. Nyaris setiap seusai jam sekolah, aku dan Kyuhyun kembali berlatih vokal, tarian dan akting di kamar tidur. Belajar beberapa teknik triple threat dalam adegan berbeda, dan yang paling disukai Kyuhyun, tentu saja, adalah adegan ciuman. Mendadak ia menjadi begitu bersemangat ketika aku menyodorkan naskah beradegan tersebut. Aku pribadi sangsi menyebutnya sekedar latihan jika mengingat Kyuhyun meraup bibirku dengan kepulan hasrat berapi-api yang turut menjalarkan panas pada tubuhku. Kemudian seperti dapat ditebak, adegan kami sudah melampaui jauh skenario. Berlanjut lebih dari sekedar ciuman, kami sama-sama sengaja melupakan latihan, merapat semakin intim lantas segalanya berakhir dengan lenguh panjang penuh kepuasan.
Dibalik segala rutinitas sehari-hari penuh romantika khas sepasang kekasih, ada saat-saat dimana beberapa tingkah laku Kyuhyun terasa ganjil. Kerap kali kudapati menghilangnya ia saat aku tidak sengaja terbangun lewat tengah malam. Terakhir kali dalam kondisi terjaga, masih kuingat jelas kepalanya tertidur diatas dadaku yang telentang dengan lengan saling memeluk, gaya tidur kebiasaan kami setelah Kyuhyun puas mengecap bibir dan seputaran leherku yang pasrah menggelinjang di bawahnya, menghabiskan sepanjang satu jam, semacam ritual mesra sebelum tidur. Awalnya aku tidak menaruh kecurigaan berarti atas menghilangnya Kyuhyun, untuk kemudian meneruskan lelap kembali, mungkin Kyuhyun hendak mengambil minum atau membutuhkan kamar mandi hingga pikiran diluar itu tidak melintas sekejap pun. Namun pada akhirnya, aku tidak bisa lagi berpura-pura menganggap Kyuhyun sekedar mengambil minum atau membutuhkan kamar mandi saat tidak hanya satu dua kali ia tidak ada disisiku ketika larut malam, melainkan telah lebih tujuh kali. Merasa ini aneh, seminggu lalu kuputuskan sengaja tidak tidur semalaman, disisi lain dapat dipastikan Kyuhyun mengiraku telah terbawa lelap. Tepat pukul dua dini hari ia melepaskan lingkaran tangannya dari pinggulku, sangat perlahan seolah takut membuat gerakan yang akan memicu keributan kecil, sempat mendaratkan kecupan ringan pada sudut bibirku, lantas beranjak meninggalkan kasur. Selang beberapa menit, aku mengendap-endap keluar mencarinya sebelum mendapati kenyataan Kyuhyun tidak ditemukan dimanapun dalam bagian ruangan hingga aku menunggunya kembali di pembaringan dan tepat pukul empat pagi kurasakan pergerakan kasur, tahu-tahu lengan Kyuhyun menyelip memeluk persis posisi tidur terakhir kami, yang pada akhirnya begini terus sampai terbangun pukul enam.
Apa sebenarnya maksud tujuan Kyuhyun bangun larut malam? Apa yang ia kerjakan? Mengingat tidak ada di seluruh ruangan, kemungkinan besar ia pergi keluar entah kemana. Jika sampai keluar kamar, berarti kemungkinan besar bukan hanya sekedar pertanyaan 'maksud tujuan dan apa', melainkan 'siapa'. Yeah, siapa yang hendak Kyuhyun temui? Mengapa tidak memberi tahuku? Ia tidak pernah menyembunyikan apapun lagi semenjak kami berpacaran. Ia selalu menceritakan kegiatannya, perasaan dalam hatinya, meminta izin jika hendak ke suatu tempat bahkan e-mail dari Ren tentang keadaan di sekolah barunya kami baca bersama-sama.
"Sayang? Tidak baik melamun begitu."
Suara Kyuhyun diiringi tepukan lembut di pipi, menyeretku kembali ke alam nyata. Kyuhyun tengah berlutut di sisi kursi, mengenakan kimono rumah, tersenyum memandangku. Pastilah baru selesai mandi uap. Harum campuran aroma lavender dan kayu gurjum menguar dari kulitnya. "Banyak pikiran? Terlalu lama menunggu? Dari tadi tidak merespon sama sekali. Katakan saja, biar aku ambil alih dan menyelesaikannya apabila itu adalah masalah."
Aku mengangkat bahu sesantai yang kubisa. "Bukan masalah, hanya... mmm... bisakah kita makan sekarang?"
Kekehan Kyuhyun meluncur sembari beranjak duduk mengisi kursi seberang meja. Tangannya disibukkan mengambil makanan memenuhi piring kami. "Lapar rupanya."
Diam-diam cukup lega Kyuhyun tidak bertanya apapun lagi, melupakan perihal lamunan. Biasanya, ia tidak begitu saja puas bila pertanyaannya dialihkan. Jauh didalam hati, ingin sekali menanyakan langsung tentang hilangnya ia dilarut malam, kebetulan menurut rencana beberapa hari lalu, aku sudah bertekad meminta penjelasannya malam ini juga. Melalui pertimbangan apa yang akan kutanyakan kemungkinan adalah sesuatu yang sensitif, biarlah ditangguhkan dulu hingga perut terisi penuh. Berharap semoga nantinya Kyuhyun tidak diam saja atau mengalihkan pembicaraan, akan lebih baik jika ia menjawab bohong apabila jujur terasa sulit, setidaknya aku masih punya sesuatu untuk dijadikan petunjuk. Menguntit Kyuhyun di malam sunyi senyap bukanlah ide bagus sebab Kyuhyun bukanlah tipe orang ceroboh, ia memiliki kewaspadaan tinggi dibalik pembawaan tenang, pasti tidak perlu waktu lama baginya untuk menyadari kekasihnya sendiri mengendap-endap mencari tahu di belakang punggungnya.
Aku baru saja membubuhi saus mustard mengaliri daging ketika Kyuhyun bergumam di tengah kunyahan. "Kau bisa menjadi chef hebat sebenarnya, jika kau tidak memilih melakoni musikal."
"Jadi menurutmu pilihanku salah?" Tanyaku, masih sibuk dengan saus.
Kyuhyun tertawa. Ia jarang murung lagi semenjak aku pindah sekamar dengannya. "Tidak salah. Tapi bagus kan kalau tersedia pilihan kedua saat pilihan pertama tidak berjalan sesuai harapan? Seandainya tidak berhasil di teater musikal, kau bisa mencoba menjadi chef."
Mendengar ucapannya, aku semakin yakin Kyuhyun merupakan seorang penganut 'sedia pegangan sebelum jatuh', maka ia akan selalu dalam keadaan aman. Secara kasat mata, prinsip hidup yang bagus dan patut dijalankan. Namun menurutku, terdapat sisi kelemahan dimana Kyuhyun akan selalu menggenggam pegangan siaganya sebelum jatuh, itu berarti Kyuhyun tidak pernah benar-benar terjatuh, ia malah berupaya menghindarinya dengan membuat pilihan-pilihan alternatif tanpa mencoba untuk sanggup menghadapi secara berani. Titik kelemahan karakter Kyuhyun yang secara tidak sengaja ia ungkapkan padaku, yaitu dia tidak berani terpuruk sebab tidak akan tahan dengan sakitnya. Bukan tipe lelaki cari mati, memang, tapi itu sangat wajar dan realistis, meski sedikit pengecut.
Suapan potongan kecil daging kelima baru saja meluncuri kerongkongan ketika aku berkata setengah yakin, mencoba memancing perdebatan. "Aku sedikit sangsi hidup kita tergantung dari sepenuhnya pilihan diri sendiri."
"Hidup itu pilihan sayang, apa gunanya hidup kalau tidak bisa menentukan sendiri pilihan kita." Notasi suaranya masih santai, belum menunjukkan gejolak apapun.
Senyumku mengembang tipis. "Menurutku hidup inilah yang memilih kita, bukan sebaliknya. Jangankan memilih hidup, memilih lahir dari rahim siapa pun, kita tidak bisa kan? Tapi terserahmu kalau kau punya persepsi berbeda," ucapku dengan hati bergolak. Membayangkan aku tidak pernah memilih menjadi perantara arwah-arwah berlumur dendam demi keberlangsungan keselamatan seisi Vachgaux, membuat perasaanku terpilin oleh beraneka ragam kefrustasian.
Kyuhyun tidak merespon sepatah pun, melainkan membungkam diam. Menatapku lekat seolah ingin sekali mengubah pikiranku menjadi kaca bening hingga ia bisa melihat yang tersimpan di dalamnya. Aku tidak mengindahkan, namun mendadak perasaan letih itu menyerang lagi. Perasaan takut, gelisah, tidak siap dan bingung seakan berkooperatif menekan jaringan syarafku, mengingat seminggu lagi gerhana bulan itu telah dipastikan terjadi. Segalanya diperparah dengan tuntutan membunuh si pelaku. Untuk membayangkan eksekusi mati terpidana yang benar-benar bersalah saja aku tidak mampu, bagaimana dengan membunuh langsung? Mengapa sesuatu yang paling kuhindari malah harus kulakukan? Akan sangat beruntung seandainya kepalaku adalah sebuah bom sehingga bisa meledakkannya, bukan tertampung paksa seperti saat ini. Mendadak seperti ada gerak yang membimbing tanganku terangkat, jemariku mengurut intens bagian kening berharap bisa menetralisir denyut menyakitkannya, tanpa peduli kemungkinan besar Kyuhyun kian curiga. Toh, cepat atau lambat, dia akan tahu sendiri.
"Butuh aspirin?" Kyuhyun sudah hendak beranjak dari kursi.
Kepalaku menggeleng otomatis. "Tidak perlu sayang."
Ia duduk lagi, tampak tidak puas, kecemasannya mulai mengemuka. "Tapi kau seperti orang sakit."
"Aku tidak sakit." Dengan refleks berbohong ketika jelas-jelas kepalaku makin pening dengan wajah kian memucat. Aku memutuskan melahap kembali potongan daging tersisa untuk menyamarkan sumber kekhawatiran Kyuhyun.
Kyuhyun mendecakkan lidah tidak setuju. "Kau sakit sayang."
Napasku terhembus lelah. "Aku baik-baik saja," ucapku sabar. Tahu setelah ini sifat keras kepala Kyuhyun akan muncul.
Seperti dapat diduga, Kyuhyun membantah. "Kau tidak baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Kau sakit."
"Tidak."
"Kalau begitu istirahatlah sehabis makan, pasti akan baikkan setelah itu."
"Aku baik-baik saja."
"Kesannya tidak begitu."
"Sudahlah."
"Akan lebih baik jika kita membicarakan ini."
"Tidak ada yang harus dibicarakan."
"Aku tidak bisa dibohongi."
"Aku tahu."
"Kau menyembunyikan sesuatu."
"Kau pikir kau tidak?!"
Entah apa yang menjadi pemicu kemarahan, intonasi suara meninggi meluncur sedemikian mendadak dari mulutku. Mungkin ini dikarenakan cetusan nada menuduh Kyuhyun disaat dia sendiri pun menyembunyikan sesuatu. Bagaimana mungkin dia begitu tidak tahu diri?
Serta merta, kubenamkan wajah menekan pergelangan tangan diatas meja setelah sebelumnya menggeser piring menyingkir. Sekilas tampak seolah ingin menangis, tetapi tidak. Aku tidak akan pernah berpikir menangis di saat-saat segenting ini.
"Sayang, tidak ada siapapun disini selain kekasihmu. Begitu sulitkah sekedar mengatakannya?" Dengan sigap, Kyuhyun beranjak menempati kursi samping, menyelusupkan lengan memberi pijitan lembut menekan-nekan tengkukku. Berusaha mengalirkan kenyamanan bertahap. Tatapanya melunak.
Terdiam beberapa jeda, aku berkonsentrasi menyusun pikiran sebelum mengangkat wajah kembali menatapnya diiringi sisa kefrustasian membayang samar pada sorot mata. "Setiap jam dua malam, kau kemana?"
Ketertegunan menghiasi wajah Kyuhyun tanpa mampu ia selubungi dengan ekspresi dalihan. Bersama suara tegang, berupaya mengelak. "Hey, tentang apa ini?"
"Jangan pura-pura bodoh karena akulah yang dibodohi disini! Kau tahu betul tentang apa! Aku masih ingat janjimu untuk tidak lagi merahasiakan apapun kan?! Berikan aku penjelasan sementara aku masih mau mendengar!"
Kyuhyun memandang membujuk, telapak tangannya beralih membelai punggungku. "Sayang tenanglah."
"Aku tidak mau tenang!" Kutepis elusan tangannya.
Kentara sekali keterkejutan atas sikap kasarku tidak dapat Kyuhyun selubungi. Kini giliran Kyuhyun memijit keningnya sebelum meluncurkan kata-kata permohonan. "Tapi aku tidak ingin ada pertengkaran, oke? Kita diskusikan dengan netral. Tanyakan saja apapun itu."
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, aku langsung memberondonginya serentetan kalimat berujung tanda tanya. "Seperti yang kutanyakan tadi, kemana kau pergi saat malam begitu larut? Mengapa tidak ada di pelosok ruangan? Apa kau keluar? Jika ya, kemana? Menemui seseorang? Siapa? Mengapa terkesan takut ketahuan olehku? Apa maksud semua ini?" Seluruh kalimat kucurahkan dalam satu tarikan napas.
Kyuhyun menggeleng tidak percaya. "Harusnya aku memastikan kau terlelap dengan baik."
"Jadi?" Tanyaku tidak sabar.
Beruntung makanan Kyuhyun telah habis sehingga mau tidak mau tidak bisa menghindar dengan dalih hendak meneruskan santapan. "Kau pikir aku keluar kamar?" Ia malah balik bertanya, entah bertujuan mengulur-ulur waktu atau sebagai pancingan menuju jawaban yang kuinginkan.
Tidak perlu berlama-lama, aku menjawab yakin. "Tentu saja."
"Kau yakin sepenuhnya?"
"Ya."
"Tidak adakah teori lain?"
"Tidak."
"Kalau begitu ya, aku keluar kamar," Kyuhyun mengaku, yang lebih seperti pengakuan diada-adakan.
Aku menatapnya jengkel. "Kyuhyun seriuslah!"
"Apa aku terlihat bercanda sayang?"
Ya, ia tidak terlihat bercanda namun tidak terlihat serius juga, gamang adalah deskripsi paling pas. "Mengapa ada kalimat 'kalau begitu ya', saat bilang kau keluar kamar? Tidakkah itu mengesankan jawaban bukan berdasarkan kejujuran, melainkan hanya membenarkan dugaanku semata." Kejarku tidak menyerah.
Kyuhyun mendengus agak geli. "Membenarkan yang salah itu terasa lebih bisa dimaafkan daripada menyalahkan yang benar. Kau tentulah pernah mendengar ungkapan, lebih baik membebaskan seratus orang bersalah daripada memenjarakan satu orang tidak bersalah." Nada bicaranya menyiratkan suatu petunjuk.
Helaan napasku menyeruak lelah, lagi-lagi kode. "Bisakah mengatakan langsung tanpa belitan-belitan merepotkan?" Tanyaku menahan kesal.
Pembelaan diri meluncur dari suara Kyuhyun. "Kau yang membuatnya berbelit-belit. Aku paling tidak pintar berbasa-basi. Gunakan otakmu, seandainya kau lebih pa-
"Aku tahu otakku tidak sepintar kau dalam merangkai potongan petunjuk. Kalau hendak berbicara hanya dengan maksud mengataiku bodoh, lebih baik tutup mulut sehingga aku bisa kembali ke kamarku yang lama. Setidaknya Seungri tidak pernah meremehkanku!" Mungkin ucapan sengit bisa membuat Kyuhyun patuh. Terlepas entah ucapanku tadi bisa dikatakan sengit atau lebih mirip rengekan.
Diluar harapan, Kyuhyun malah tersenyum geli. "Mengapa akhir-akhir ini lelaki cantikku gemar sekali merajuk?" Ia memandangku persis anak kecil haus perhatian. Tanpa sempat dicegah, mendaratkan lumatan gemas menggerayangi permukaan bibirku. Menubruk tiba-tiba, membuatku terdiam bingung untuk beberapa detik.
Oh Tuhan, aku tidak suka selingan ini. Harus dihentikan sebelum kami sama-sama lepas kontrol. Mau tidak mau, kuhisap sangat kuat belah bibirnya hingga tautan kami terpisah.
Ia mendelik tidak menyangka. Mengusap bagian bibirnya yang berkedut. "Ganas sekali, ayo lanjutkan di kamar kalau kau begitu tidak sabar."
"Bukan begitu!" Lelaki ini bermaksud memutar haluan pembicaraan atau apa? Kentara sekali ia lebih tertarik bermesraan daripada membahas masalah utama.
Jam klasik besar dari arah dinding ruang santai berdentang. Membelah kesenyapan ruang. Kyuhyun mengurungkan niat melempar argumen dari mulutnya yang sudah bergestur hendak berucap sesuatu. Gaung nyaring sembilan ayunan dentang memantul dari tembok ke tembok. Merupakan rekor makan malam terlama. Biasa pukul setengah sembilan kami telah bermesraan di kamar tidur apabila tidak ada tugas. Aku sendiri merasa tidak banyak yang bisa kukerjakan disini selain berputar disekitar tugas sekolah, memasak makan malam, dan bercinta. Terkadang aku merasa tidak lebih berguna dari sebuah gudang yang... Tunggu dulu!
Refleks sistem liukan jaringan otak menemukan pencerahan. "Gudang..." Aku bergumam tersadar.
Kyuhyun yang tengah sibuk meletakkan piring di tempat pencucian tak jauh dari meja makan, bergumam seraya berjalan kembali ke kursi. Sempat mengerling sekilas ke arah dapur. "Apa?" Lalu menjatuhkan diri di kursi samping lagi.
Aku menatapnya dengan campuran pandangan lega dan menuntut. Badai diluar sayup-sayup terdengar tidak sekencang sebelumnya. "Gudang di dekat kulkas dapur. Oh, bodohnya aku baru menyadari ini. Sekiranya tidak keluar kamar, tentulah kau sedang di gudang, itulah satu-satunya ruangan minus pengecekanku karena kuncinya ada padamu." Aku berbicara seolah sudah berhasil memecahkan teka-teki tanpa perlu konfirmasi dari Kyuhyun.
"Lupakan soal gudang, tempat itu sama tidak penting dengan barang di dalamnya."
Andai aku sedang lupa bahwa lelaki yang kini tengah menampilkan ekspresi penuh keengganan adalah berstatus kekasihku, kupikir tidak perlu waktu lama pergi jauh-jauh darinya. Sepanjang kurun masa pacaran, tidak pernah Kyuhyun semenyebalkan ini. Aku sudah merasa sangat baik hati tidak memaksa menjawab gamblang. Kuturuti permainan teka-tekinya demi mengabulkan permintaan agar tidak bertengkar, meski aku sangat berhak untuk marah. Namun dia malah menunjukkan raut wajah pemantik emosi. Apakah sebegitu besar rahasia 'larut malam'nya itu? Aku tidak bermaksud ikut campur melangkahi batas privasi, semua orang pastilah punya urusan pribadi yang tidak layak diutak-atik siapapun selain diri sendiri, tetapi urusan pribadi versi Kyuhyun selain ganjil, juga cenderung mengundang kecurigaan sehingga aku sebagai kekasihnya merasa terpanggil memastikan ia tidak melakukan hal-hal mengandung kerugian personal maupun melibatkan pihak lain.
Sebisa mungkin kustabilkan dentum jantung, mencoba tidak tampak kelihatan terlalu cemas. Tidak lupa berpikir memilah-milah pertanyaan yang sekiranya dapat membuat Kyuhyun lebih terbuka. "Jika benar tidak penting, mengapa harus takut?"
Kyuhyun mendecak setengah jengkel. "Takut?" Kernyitan di keningnya pertanda ia kurang berkenan.
Bukan tanpa gagasan menuduh Kyuhyun takut. Terlepas dari raut wajah menegang serta sikap pertahanan yang jelas-jelas ia kokohkan, ada alasan khusus sehingga tanpa perlu berpikir panjang memberi penilaian seperti itu. Baru teringat, diawal-awal masa pacaran, ia pernah tak sengaja bilang bahwa benda kenangan paling berharganya ada banyak di dalam gudang. Tersebab ketika itu daya fokusku sebagian besar tercurah pada hapalan naskah, kendati masih bisa mendengarnya, aku tidak memberi tanggapan apapun. Ia pun seperti tidak sadar telah membeberkan suatu rahasia karena setelah itu tidak pernah menyebut-nyebut lagi.
"Ketakutanmu kentara sekali, soalnya."
Masih menampilkan wajah serius meski tidak setegang beberapa detik lalu, Kyuhyun berkata tegas. "Baiklah kita ke gudang dengan syarat aku hanya akan menjawab pertanyaanmu satu kali. Setuju atau tidak sama sekali."
"Tapi... oh baiklah, setuju." Mempertimbangkan bahwa jangankan lingkup gudang, seisi Vachgaux merupakan miliknya, hingga buang-buang waktu saja rasanya jika dihabiskan untuk membantah.
Kyuhyun mendecak. "Ikut aku." Ditariknya tanganku meninggalkan kursi. Aku mengikut dengan debaran gugup berbaur ingin tahu.
~Audaces Atropine~
Terlampau teratur untuk sebuah gudang, rekaman kesan itulah yang kucerna akan isi gudang Kyuhyun. Pada lantai kayu bagian tengah, terhampar karpet wol biru tua tanpa motif. Disamping kesan, pertanyaan lintasan pertama di benakku yaitu apakah benar ini sebuah gudang, bukannya tempat penyimpanan wine?
Seperti biasa, Kyuhyun dapat menebak pikiranku. Ia masih mengawasi ketika suaranya memecah hening diantara kami. "Jangan berpikir ini tempat penyimpanan wine. Aku tidak berbohong karena disini memang gudang."
"Tapi bu... oh yeah, tentu saja, semua botol wine kosong. Kupikir tadi masih baru." Nyaris saja aku membantah tepat di detik menyaksikan seluruh botol wine berjajar rapi menempati sepanjang jajaran dua rak, tidak lebih dari sekedar botol kaca tanpa isi, namun masih lengkap dengan cork dan label sehingga aku bisa membaca beraneka ragam merk seperti Dehlinger Pinot Noir Russian River Valley, Chateau de St. Cosme Gigondas Valbelle, Cabernet Sauvignon, Chenin Blanc dan beberapa wine produksi abad 18-20. Benar-benar koleksi aneh.
Seraya menjelajah rak, membaca berbagai merk, aku berusaha menahan lidah tidak melontarkan pertanyaan sia-sia. Kesepakatannya hanya satu pertanyaan, memperingatkanku harus mengontrol kalimat hingga jauh dari kesan bertanya sebelum waktunya. Rugi sekali apabila keluar tanpa tambahan petunjuk baru.
Mau tidak mau, beberapa hipotesis mesti lahir melalui dugaan sendiri, sampai pada tahap kesimpulan. Pertama kali menginap, aku ingat betul malam dimana suara penghancuran benda dan teriakan gaib bergaung di dapur seiring dengan hantaman keras daun pintu gudang dari dalam, seolah ada seseorang yang sangat ingin keluar. Entah bisa disebut seseorang atau tidak, kuyakin pastilah terselubung 'sesuatu' yang berkaitan erat dengan pembunuhan alumni Audaces. Firasatku mengatakan, inti atau kunci dari pembunuhan kemungkinan terselip disini. Dulu Kyuhyun berkata benda kenangan paling berharganya ada banyak di dalam gudang, namun tadi ia malah berargumen barang disini tidak penting. Mengapa pernyataannya bertolak belakang? Tidak dipungkiri, jawaban plin-plan Kyuhyun membuat lesatan keyakinanku tentang sesuatu tersembunyi di gudang ini kian meninggi. Botol-botol wine kosong inikah kenangan yang dimaksud Kyuhyun? Kenangannya seorang diri atau bersama seseorang? Jika bersama seseorang, kemungkinan dulu Kyuhyun meminum isi wine yang kini telah berbotol kosong dengan seseorang yang bersamanya. Sebegitu berharganyakah sosok entah siapa itu sampai botol-botol kosong enggan Kyuhyun buang demi mempertahankan suatu kenangan? Apakah lenyapnya ia di larut malam demi merenung disini bernostalgia bersama si kenangan?
Tengah sibuk menduga-duga, mendadak pandangan dicegat oleh satu botol wine di susunan rak paling akhir. Kucermati tanpa menyentuh. Tercantum merk Screaming Eagle Cabernet tercetak di permukaan kertas labelnya. Ini semakin membuatku tertarik karena bahwa wine inilah satu-satunya yang masih lengkap beserta isi, pertanda belum dibuka apalagi diminum. Lalu mengapa turut disimpan di gudang?
Kubatasi hening dengan satu deheman. Alih-alih bertanya, aku memutuskan menggunakan kalimat perintah. "Jelaskan tentang wine ini."
Kyuhyun sedang berdiri diatas karpet biru, terdiam beberapa jeda seperti mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya menjelaskan. "Oh itu kudapatkan melalui sebuah acara lelang, sayang. Belum sempat kami minum karena dia harus pergi. Aku tidak akan meminum wine itu dengan orang lain kecuali bersamanya, jadi kubiarkan diletakkan disini sampai dia..." Kyuhyun terdiam, menerawang menatap wine lelang. Kemudian pandangannya bergeser padaku. Ia tampak didera pergolakan batin sebelum melanjutkan. "Sampai dia menyadarinya."
Mendadak jantung berdebar keras seakan berniat menghancurkan tulang dadaku ketika aku menangkap fakta baru. Ternyata benar seluruh wine menggambarkan kenangannya bersama seseorang. Merasa sudah waktunya, aku bertekad untuk bertanya sesuatu. Masalahnya, banyak sekali pertanyaan mendesak didalam benakku. Setelah memastikan ini adalah yang paling vital diantara semua kerumun keingin tahuan, suara tercekatku terlontar serius. "Siapa 'dia' yang kau maksud?"
Kyuhyun menatap semakin lekat. Ekspresi enggan kembali membingkai roman wajahnya. Suaranya meluncur berintonasi memohon pengertian. "Ini pertanyaan pertama sekaligus terakhir sayang. Jangan bertanya terlebih mengungkit-ungkit lagi setelah ini."
Tidak ingin membuat semuanya bertambah rumit, aku mengangguk setuju. Kyuhyun menarik dan menghembuskan napas pelan, seperti berupaya menguatkan hati. Terlintas di benakku untuk memeluk atau mengecup bibirnya agar Kyuhyun bisa lebih tenang, namun tidak kulakukan. Kyuhyun dilanda gamang tetapi bila kuberi pelukan dan ciuman sebagai bujukan, itu berarti aku sendiri telah luluh. Ada perasaan bersalah pada ucapannya ketika ia berkata pelan. "Dia yang kumaksud adalah... kekasihku sebelum bersama Ren."
~Audaces Atropine~
Nyaris saja jurnal kelas Audaces tiga tahun silam rekomendasi petunjuk dari Ryeowook kubiarkan tersingkir dari perhatian utama hingga bagaikan kejutan ulang tahun, ide melakukan riset berdasar jurnal ini menyeruak mendadak menjelma dalam otakku. Dua keberuntungan seperti sedang berpihak penuh, sehingga mudah saja si jurnal tergeletak di pangkuanku sekarang tanpa perlu dilakukan usaha berarti selain tetap siaga akan keberadaan Kyuhyun. Keberuntungan pertama, Kyuhyun mengantuk lebih dini dari biasa -mungkin sesi percakapan di gudang meletihkan pikiran dan matanya- jadi tidak akan ada yang mengganggu penyelidikan. Keberuntungan kedua, kebetulan aku mengemas serta jurnal diantara buku-buku sekolah saat pindah kamar sehingga tidak perlu repot-repot menggedor kamar lamaku pukul satu dini hari demi mendapatkannya dengan konsekuensi memancing kekesalan Seungri.
Daftar vertikal nama-nama siswa rasanya tidak perlu lagi dicek. Pada lembar ke lembar berikut penuh catatan sekretaris pada umumnya yaitu kolom kehadiran, izin dan lain-lain. Waktu terus bergulir lebih cepat dari yang kuharapkan, kursi malas ruang santai mulai terasa tidak nyaman lagi diduduki, seolah melingkar semacam ular derik mematikan di bawah bokongku. Sesekali tidak lupa mengarahkan pandang cemas ke pintu kamar tidur, berdoa semoga Kyuhyun tidak sedang mimpi buruk agar tidak secepatnya terbangun kemudian memergokiku. Lampu baca menekuk berpenerangan lima watt di meja kecil samping seakan turut mempersulit suasana dengan cahaya yang makin lama makin redup. Aku tidak berniat mengambil resiko menyalakan lampu utama. Keputus asaan mulai menghantui karena tidak kunjung menemukan petunjuk sama sekali, berniat segera menyudahi usaha sia-sia ini ketika lembar paling akhir terpampang.
Ada tulisan disana, tidak beda dengan lembar-lembar sebelumnya. Gaya tulisan pun sama, menandakan masih tulisan tangan si sekretaris, Choi Minrae. Hanya saja ini bukan daftar hadir, keterangan absen atau catatan biasa bidang sekretaris. Lebih mencurigakan lagi, kalimatnya ditoreh dengan tulisan kacau balau -bersyukur masih bisa terbaca dan berurutan-, persis seperti ditulis dalam keadaan sangat terdesak dan buru-buru. Keningku mengernyit membacanya. Menilik dari susunan kalimat, ini bisa disebut sebagai catatan pribadi seolah Minrae menganggap jurnal ini buku diary curahan kegalauan hati. Diatas kertas tertulis:
Cara ia memperlakukanku istimewa
Hari-hari seperti dipenuhi kejutan
Orang ini berbeda...
Sampai akhirnya terbawa perasaan
Entah mengapa, aku jatuh cinta
Untuk ia seorang, tidak yang lain
Namun ternyata ini cinta sepihak
Rasa cintanya bagai lintah darat
Ia hanya memanfaatkanku...
p.s :
ia pembunuhku, lihat haluan.
Inikah catatan aneh yang Ryeowook maksud? Kemungkinan terbesar, ya. Tidak salah lagi. Tengkukku meremang mengetahui kenyataan Minrae dibunuh, bukan bunuh diri. Kemungkinan besar tulisan ini sengaja dibuat Minrae tatkala masih hidup sebagai petunjuk untuk menguak seseorang yang... membunuhnya? Apakah catatan di pangkuanku ini semacam pesan terakhir? Sayangnya ia tidak menyebutkan nama. Atau catatan ini berarti lain? Mengapa memakai teka-teki segala? Begitu sulitkah sekedar menuliskan secara terus terang? Kecuali Minrae takut ketahuan si pembunuh, jadi dia terpaksa menyelipkan kode melalui karakteristik sikap si pelaku. Merunut dari catatan, pembunuhnya adalah seseorang yang Minrae cintai tetapi seseorang itu tidak mencintainya, malah hanya memanfaatkan Minrae semata. Yang perlu kucari tahu sekarang adalah siapa saja lelaki yang pernah dekat dengan Minrae. Aku bisa bertanya pada Yesung songsaenim untuk masalah satu ini. Disamping Yesung songsaenim, mungkin Kyuhyun boleh juga. Ren adalah mantan kekasih Kyuhyun, mustahil rasanya jika Kyuhyun tidak kenal Minrae. Paling tidak, pastilah Ren kerap membicarakan Minrae saat belum pindah sekolah.
Ia pembunuhku, lihat haluan. Soal 'ia pembunuhku' sudah jelas. Kalimat diatasnya pasti ditujukan tentang perilaku si pembunuh pada Minrae. Sedangkan 'lihat haluan' masih abu-abu bagiku. Minrae dibunuh ketika berada di kapal atau bagaimana?
Bersamaan dengan situasi yang sangat tidak tepat, cahaya lampu baca padam tanpa permisi. Menyisakan kegelapan dan atmosfer aneh. Ini konyol karena sepengetahuanku, kualitas perabot berikut barang-barang sekecil apapun di kamar Kyuhyun bukanlah keluaran kualitas rendahan terlebih mudah rusak. Tidak bisa tidak, warna hitam gelap praktis menyelimuti seisi ruang. Terusan cahaya bulan muram dari celah-celah ventilasi yang sinar pucatnya jatuh menimpa permukaan lantai menjadi penerangan minimum tunggal disini. Jika didengarkan secara seksama, suara tiupan salju dari luar jendela persis seperti tangisan lirih berkepanjangan, membuat keadaan sekitar terasa lima kali lipat lebih mencekam.
Dengan perasaan gelisah buah dari faktor internal dan eksternal, aku memilih secepatnya bergegas meninggalkan ruang santai daripada mendekam lebih lama disini. Baru saja bangkit dari kursi, langkahku tercegat oleh suara deritan pintu utama yang mengarah langsung ke koridor. Untuk beberapa jeda, fokus pandangan kubiarkan menyorot pintu sembari menguatkan harapan bahwa hal ini terjadi akibat campur tangan angin. Sayangnya dugaan positifku runtuh saat mengingat sebelum memasak makan malam, pintu itu jelas-jelas sudah kukunci. Si kunci sendiri ada di atas meja samping kursi malas. Tidak ada kunci ganda, siapa yang membuka pintu?
Seraya memantap-mantapkan hati, kusambar kunci di atas meja, melangkah menuju pintu setengah terbuka. Dalam posisi mental di batas antara takut dan berani seperti ini, lagi-lagi aku merasa seperti ada puluhan pasang mata memperhatikan dari sudut-sudut tergelap, mengawasi pergerakanku. Bayangan-bayangan aneh pun seperti lalu lalang dari arah sudut mata. Berkelebat cepat di permukaan dinding. Namun apabila berpaling untuk memeriksa, mendadak lenyap, tidak ada apapun. Mungkin mereka ingin bermain-main. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa bermain-main versi 'mereka' tentulah berbeda cara dan akibat dengan bermain-main versi manusia. Jantung serasa nyaris meledak saking kencangnya ia berdegub, aliran aroma ketakutan menghujam seluruh persendianku. Ini bukan permainan menyenangkan, sudah sewajarnya menyingkir sebelum terlambat.
Kenop pintu telah berada di genggaman ketika telingaku mendengar langkah kaki bergema setapak demi setapak dalam ritme lambat beriringan dengan suara goresan aneh seperti semacam cakaran kuku menekan sepanjang dinding tanpa jeda. Siapa keluyuran dini hari begini? Terbayang ada seseorang yang melangkah sambil menyeret kukunya menghujam dinding. Lampu koridor telah dipadamkan sebelum pukul dua belas, sesuai peraturan tata tertib nomor kesekian, siswa tidak diperkenankan keluar kamar larut malam. Meski ada kejadian beberapa siswa yang melanggar, tapi mereka cukup tahu diri untuk tidak menciptakan suara atau paling tidak membekali diri dengan senter kecil. Tidak ada objek yang dapat tertangkap di koridor dengan tanpa bantuan cahaya -cahaya bulan sudah tidak dapat diharapkan lagi, efek dari musim salju berbadai- walaupun jendela-jendela besar di beberapa area tidak dilapisi kain penutup, tetap saja orang normal butuh alat bantu penerangan. Itu mutlak.
Keringat dingin menyembul dari pori-pori ketika suara rancapan kuku dan langkah kaki itu semakin nyata berdesir di telinga, meski terasa kian lamat-lamat, terdengar seperti langkah yang menjauh dari tempatku berdiri. Desau angin terhisap entah kemana, yang tertinggal hanya keheningan bersama suara aneh itu. Aku mencoba menjernihkan pikiran dari beraneka ragam segenap ketakutan. Berupaya mengingatkan diri sendiri bahwa kemungkinan ini adalah petunjuk lain yang tidak boleh luput diselidiki. Apapun yang kulihat atau kutemui nanti, semengerikan apapun, adalah sebuah konsekuensi. Sudah semestinya hal tersebut bisa mengasah keberanianku lebih tajam.
Kegelapan koridor di depanku terpapar cahaya jingga pada sebagian lantai berikut dua sisi dindingnya, cahaya yang bersumber dari lentera di bawah genggamanku. Beberapa detik lalu, setelah menghimpun keberanian sebanyak menyusutnya ketakutan, segera kusambar lentera tradisional milik Kyuhyun di dalam lemari pajangan barang-barang klasik. Keheningan begitu menusuk hingga membuatku dapat mengikuti irama menggila degupan jantungku. Langkah demi langkah menghasilkan gaungan gema mencekam sepanjang koridor yang seperti ruangan berkabung saking muramnya.
Pada langkah kelima, keterkejutan menjalariku di detik pertama kusaksikan darah segar menetes-netes di permukaan dinding. Seketika aroma karat menghujam indra penciuman. Tertancap lima garis sayatan tembok persis bayanganku tentang sosok yang menancapkan kuku. Entahlah apakah ada kuku setajam ini hingga mampu membuat cat dinding tergerus. Namun tidak sejauh ini karena tidak ada darah dalam dugaanku. Tembok seperti sedang menangis darah.
Mengabaikan nyaliku yang sudah berteriak untuk segera kembali ke kamar, aku berjalan maju perlahan seraya masih mengangkat lentera memandang dinding sisi kanan. Lima goresan darah merata horizontal, mengalir turun ke lantai. Terus seperti itu hingga aku terdiam mendadak ketika mendengar suara bibir mencecap-cecap dari arah luar jangkauan cahaya lentera. Gemetar dan basah oleh keringat dingin, kuangkat gantungan lentera lebih tinggi hingga sosok yang tersorot cahaya disana membuat persendianku lemas. Sosok wanita berambut awut-awutan dengan mulut hancur melebar tengah memakan jari-jarinya sendiri, menatapku nyalang. Darah memenuhi dagu dan jatuh merembes pada pakaiannya. Lima kuku sebelah tangannya masih merancap di dinding dengan kulit tangan pucat menyembulkan urat-urat menonjol seperti nanah.
Napasku memburu, kakiku terpaku ke lantai. Lentera tergelincir begitu saja melewati genggamanku ketika sosok itu melayang mendekat. Suara hantaman lentera menghempas lantai bergaung sampai ujung lorong. Cahaya lenyap, kegelapan sepenuhnya mengitari. Tidak tahu arah mana menuju ke mana sementara pastilah sosok itu kian dekat. Aku bisa merasakan hawa dinginnya yang mematikan merambati persendian.
Aku sudah pasrah ketika tanpa terduga, ada yang menyambar tubuhku. Menjepit sesak dadaku hingga terasa sulit bernapas. Aku meronta, memberontak dengan gemetar luar biasa. Sangat tidak siap apabila kematian merenggut nyawaku sekarang.
"Sayang tenang, ini aku... Kyuhyun, astaga."
Masih menggigil, aku merasakan deru napas cemas Kyuhyun menerpa wajahku. Lengan-lengannya melingkupi tubuhku dengan pelukan protektif. Aku memeluknya lega bercampur ketakutan.
"Kamar... ayo ke kamar," suara Kyuhyun bernada tidak ingin dibantah. Ia menarikku menembus gelap menuju pintu kamar kami.
.
.
TBC
A/N:
Hallooo, maaf~ kami tau ini sudah sangat telat dan kami juga tau menunggu cerita update itu menyebalkan, apalgi cerita macam penuh teka teki gini~ jadi kami sangat meminta maaf, agak susah mencari mood sekarang. Banyak sesuatu yang terjadi aduh aku jadi pusing tugas merajalela, otp diterpa angin dari sana sini TT yah itulah~ pokoknya semua kejadian ini diluar prediksi -_-
Oke sekian kicauan dari saya, sekali lagi maaf yaaaaa maaaafff banget buat update telatnya. Semoga aja cerita ini masih ada yang berminat.
Terakhir, TERIMA KASIH atas segala dukungannya, makasih yang sudah review, fav, foll sampe pm dan juga baca cerita ini plus yang masih masih setia nunggu cerita ini hiks hiks makasih yaaaa. Makasih. Makasih. Makasih *,* ah ya, kami juga meminta maaf atas segala kekurangan dari cerita ini. Heheeh
See u next chap, bye! ;) LOVE!
