Music
A-E-I-U-E-O-AO : Gekidan Hitotose [Hinako Sakuragi (CV: M・A・O), Kuina Natsugawa (CV: Miyu Tomita), Mayuki Hiiragi (CV: Yui Ogura), Chiaki Ogino (CV: Hisako Tojo), Yua Nakajima (CV: Marika Kouno)]
0000000000
Arc 3. You are My Servant
Lecture 13: High Shool of Magic
Setelah berhasil menyelesaikan pelatihan melelhankanku selama 3 tahun atau lebih tepatnya 2 tahun 9 bulan penuh. Aku akhirnya kembali ke kerajaan dimana aku harus menyelesaikan pendidikan formal Sekali lagi selama 3 tahun.
Aku mendesah ketika kami bergerak menuju kerajaan melewati laut dari perairan Mizu no Kuni (Land of water/ dekat desa Kirigakure) sepanjang perjalanan di kapal aku tidak melakukan banyak hal selain tertidur dan menatapi lautan.
Aku sudah tidak sabar untuk menginjak daratan sekali lagi. Yah itu masuk akal ketika kau terperangkap di lautan dengan kapal layar selama 6 hari penuh. Kali ini di siang hari ini aku memilih untuk terbangun karena kapten kapal mengatakan jika kami akan sampai di pelabuhan Tanah api (Hi no Kuni)
Dengan tidak sabar aku terus menunggu walau aku tahu jika aku akan menunggu selama 3 jam penuh. Dan sekarang jam 14.00 waktu setempat waktu menungguku terbayar ketika ku lihat pelabuhan di wilayah Kerajaan Alborz. "Akhirnya sampai juga" Aku menarik nafas dengan dalam dan bersiap untuk turun dengan semangat.
Aku mengenakan bajuku dengan benar agar aku tidak meninggalkan apapun di dalam saku mengingat aku sedikit ceroboh jika mengenai barang-barang. Aku selalu meletakkan baran-barang di dalam saku jaketku maupun di saku bajuku. Dan ketika aku lupa aku berakhir saling tanya pada siapapun yang aku temui.
Pakaian yang aku kenakan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang aku kenakan saat di Yuki no Kuni. (Pakaian yang dikenakan terdiri dari baju kemeja panjang berwarna biru dilapisi baju putih tangan pendek model jaket dengan kerudung dibiarkan terbuka menampilkan baju kemeja dalam) aku kemudian membantu para kru mempersiapkan barang yang akan diturunkan maupun bersiap untuk kembali berlayar.
Sesampainya di pelabuhan suara burung dan suara pantai bernyanyi di telingaku dan membuatku nyaman akan sesuatu. Aku kemudian melihat jemputan kami dari kerajaan untuk kembali ke ibu kota negara. "Albert-sensei. Ayo kita pergi" namun aku melihat Albert memandang sebuah surat dengan wajah serius.
"Naruto. Kau pergi duluan. Aku akan menyusul nanti" Albert kemudian berbalik badan dan pergi melangkah menjauh menuju arah Barat laut tepatnya kearah Konohagakure no dari arah Albert menuju nampaknya dia tidak menuju Konohagakure melainkan arah lain.
Aku hanya mengangkat bahu tanpa tahu menahu lalu aku pergi menaiki kereta dan menuju ke ibu kota Alborz. Sepanjang perjalanan memakan waktu selama 1 jam 30 menit lebih cepat dari yang aku duga. Dan ketika kota di pinggir laut dan di dekat Air terjun sudah terlihat aku mendesah lega karena setidaknya aku bisa istirahat sebentar lalu besoknya aku bisa masuk sekolah Lagi dan lagi-lagi aku harus mengalami masa SMA satu kali lagi.
"Naruto-dono semoga berhasil" supir kereta memberiku senyuman hal yang cukup langka daripada di Konohagakure. Setidaknya itu yang aku ketahui hingga saat ini. Aku kemudian menuju ibu kota lalu ke istana untuk melapor pada Raja Arthur. Sesampainya aku di istana kerajaan aku disambut oleh Raja dan juga oleh para prajurit.
Di dalam istana
"Selamat datang kembali Naruto. Aku lihat kau sudah bertumbuh sedikit ya" aku tahu jika Raja hanyabercanda namun setiap kali aku di bilang seperti itu malah membuatku kesal sendiri.
"yah seperti itulah... jadi Raja Arthur. Bisa beritahu aku kenapa aku harus di panggil kemari?"
Raja arthur kemudian teringat akan sesuatu lalu menyerahkan sebuah kertas padaku beserta sebuah kunci. "Ini adalah kunci ruangan Asrama mu Naruto. Mulai besok kamu akan menjadi pelajar di Alborz. Semoga beruntung besok"
Lalu setelah aku menerima apa yang diberikan oleh raja aku kemudian mengangguk lalu pergi meninggalkan istana dengan Raja masih tersenyum dan memberi salam perpisahan.
"Sampai jumpa Raja" Naruto memberi hormat lalu berbalik badan dan pergi menuju Asrama yang tertulis ruangan dimana aku akan menempati. 'Ternyata pendidikan di kerajaan ini ternyata lebih modern dari dapa di Konohagakure no Sato ya' aku membuat kesimpulan ketika melirik kearah kunci asrama.
Sistem pendidikan yang tidak jauh berbeda dengan di jepang modern. Hal itu sudah cukup membuatku tenang sedikit karena nampaknya aku akan menerima ilmu umum di kerajaan ini. Jika dipikirkan kembali, sangat masuk akal jika kerajaan ini sangat makmur tanpa bantuan negara lain. Mereka menggunakan teknik chakra dan merubahnya menjadi teknik yang bisa dipakai sipil maupun militer ditambah dengan pemimpin yang sangat baik dalam mengelola maka kerajaan Alborz bisa dikatakan paling makmur.
Aku melihat dimana banyak penduduk demi-human keturunan kucing dan serigala maupun Manusia normal saling berinteraksi bagaikan sesama manusia. Aku mengingat lagi bagaimana tanggapan penduduk konoha terhadap Demi-Human. Banyak penduduk mengabaikan dan memilih menghina dari belakang kaum Demi-Human.
Aku kemudian sedikit tersenyum lalu menuju Asrama para Murid yang berlokasi mengarah paling pinggir dari kota atau bisadi bilang dekat tebing lautan. 'Hmmm... Terlihat cukup normal' Aku melirik desain luar dari Asrama murid laki-laki yang terbilang normal dengan dua lantai namun cukup luas. Itu mengingatkanku aku sendiri tidak tahu dimana akademinya berada karena aku sempat di beritahu oleh Albert jika akademi tidak berada di dalam kota. Lalu aku masuk dan kulihat suasana masih sepi. Kemungkinan siswa masih di akademi, lalu aku menuju lantai dua dimana ruangan untukku berada di nomor 71.
"Ini...?" Aku melihat pintu ruanganku lalu saat aku masuk aku cukup terkesan karena ruangan tidak di desain sangat rumit melainkan di desain sederhana untuk sebuah kamar dengan lemari buku dan meja untuk belajar.
Aku kemudian duduk di kasur sebentar lalu melihat surat yang di berikan padaku ketika aku di istana. 'Naruto. Besok kau akan masuk SMA Alborz. Ruangan kelasmu akan di beritahukan kepada kepala sekolah. Lokasi sekolah berada di sebelah Timur laut sekitar 700 meter dari kota dan berada di balik hutan.
Dan juga semoga beruntung akan kejutanmu' Aku sedikit curiga akan maksudnya sebagai Kejutan namun aku memutuskan untuk tidak ambil peduli.
Aku kemudian meletakkan surat itu di meja dan menuju lemari pakaian, hal itu mengingatkanku. Aku tidak ada pakaian ganti apapun. Yah tapi melakukan pemeriksaan terhadap lemari bukan hal yang buruk. Benarkan?
Saat aku melihat lemari yang terbilang cukup besar. Dengan penasaran aku membuka dengan wajah 'aku sangat curiga akan hal ini' aku kemudian membuka dengan cepat dan alangkah kagetnya aku akan kejutan.
"Naruto-sama Okaerinasai!" Gadis berpakaian Maid dengan berambut perak dan telinga kucing tertentu melompat keluar dari lemari pakaian setelah aku membukanya.
Aku ditindih olehnya dengan pelukan yang sangat kuat. "Noel onee-san?!" aku sangat terkejut ketika noel memelukku dan bahkan dia mendengkur bagai kucing yang sedang aku elus.
"Naruto-sama. Aku merindukanmu" Masih di posisi menindih tubuhku noel makin mengeratkan pelukan.
"Aku juga Noel onee-san. Tapi bisa turun dariku sebentar" Aku bukan tidak suka seperti ini hanya saja mencegah kesalah pahaman jika seseorang datang.
Saat Noel dan aku bangkit ku lihat wajah noel semakin dewasa dan bisa di katakan sangat cantik (21 tahunan mungkin) dengan ekor dan telinga kucing bergerak-gerak.
"Ne... Kenapa Noel onee-san ada di kamarku?" aku menatapnya sementara Noel hanya memiringkan wajah.
"Kenapa?.. Bukankah Naruto-sama sendiri yang memintaku untuk datang kemari?"
Aku baru ingat akan hal itu. Bagaimana aku bisa lupa jika sebenarnya aku meminta raja untuk membawa Noel onee-san kemari. Namun apa yang aku harapkan adalah bukan sesuatu yang seperti ini.
"Tapi bukankah aku meminta pada Raja untuk memberimu rumah sendiri. Jadi kenapa onee-san tetap dikamarku?"
Lalu saat itu juga Noel memelukku kembali dan menatap wajahku. "Itu karena Onee-san tidak mau kau menjadi penjahat wanita... Nyan..." Kalimat terakhirnya membuatku hampir tersedak.
Masih bertingkah bagai anak kucing aku mulai menenangkan pikiranku sejenak. "Onee-san. Apa maksudmu dengan penjahat wanita?" Aku melirik Noel yang mulai mengembungkan pipi dengan cara yang sangat imut.
"Habisnya Naruto-sama mulai terlihat sangat tampan sekali bahkan Onee-san bisa jatuh untukmu" Noel mengatakan dengan nada merajuk.
'Apakah benar?' aku sendiri saja bertanya-tanya sendiri. Jujur untuk dikatakan selama 17 tahun hidupku aku melihat cermin hanya 2 kali. Kali ini karena melihat wajah merajuk Noel aku mendesah dan melirik kearah jendela kaca dimana pantulan wajahku terlihat.
Aku menyipitkan mata karena marah. Wajahku memang dan bahkan berubah bagaikan wajah aku ketika masih muda di dunia lama. Hanya mataku yang berbeda yaitu mataku berwarna biru bagai orang keturunan barat tidak coklat khas penduduk asia.
Wajahku jika di katakan tampan maka aku tidak tahu sama sekali seperti yang aku katakan sebelumnya. Itu semua hanyalah opini belaka. Jika aku mengatakan aku tampan ternyata pandangan orang sebaliknya dan itu juga berlaku sebaliknya ketika aku merasa aku biasa saja ternyata opini orang berbeda.
"Onee-san aku yakin kau paling tahu bagaimana aku kan? Aku sangat benci di kenal orang banyak" Aku melipat tangan ketika melihat wajah noel masih menggembungkan pipi.
"Tapi tetap saja..." aku memotong kalimat Noel dengan mrnepuk kepalanya pelan lalu mengelusnya.
"Sudahlah yang terpenting sekarang onee-san kau harus kembali ke rumah yang sudah diberikan oleh Raja" saat itu juga aku merasa jika diriku menginjak sebuah ranjau darat.
Noel hanya tersenyum dengan pipi kemerahan. "Humhum... Aku sudah di rumah" Noel kembali mendengkur ala kucing aku mulai mendesah dengan keringat.
"Jangan bilang..."
"Hai... Aku dirumah ini sekarang Danna...sama" Aku tahu jika norl menggodaku namun kali ini sudah di luar batas toleransiku.
Aku memarahi noel sejenak dan menjelaskan apa yang akan terjadi jika ada yang menemukan hal ini. Apa yang akan terjadi namun noel hanya tersenyum main-main padaku.
'Ini alasan aku tidak menyukai gadis remaja' Naruto mental mendesah.
Hari pun di habiskan dengan berceletoh maupun berdebat pada Noel mengenai dimana Noel berontak agar tetap di ruangan Naruto. "Naruto-sama... Anda tidak sedang merencanakan untuk berduaan dengan seorang gadiskan?"
Aku dalam benak membuat perkataan tersendiri. 'Bersama dengan Noel di ruangan seperti inikan sudah bisa dikatan sebagai berduaan'
Namun saat Noel sudah di depan wajahku dengan senyuman dan bayangan menutupi daerah matanya. "Naruto-sama... Kau tidsk akan bermain curangkan?" aku menelan ludah ketika mendengar suara menyeramkan dari seorang gadis untuk kedua kalinya
"Tidak-tidak... Aku tidak memiliki rencana seperti itu" aku berusaha agar Noel menghentikan suara menyeramkan itu.
Dengan kekalahan aku terpaksa menerima tuntutan Noel untuk mengijinkannya tinggal di kamar asramaku. Jujur aku sudah ketakutan jika ada yang menemukan hal ini. Jika posisi akademi dari kota berkisar 700 meter dari balik hutan sementara posisi asrama berada 500 meter dari kota. Singkatnya hanya 200 meter dari balik hutan akademi berada.
Aku mendesah lelah lalu membiarkan semuanya berlalu dengan tertidur dan Noel mengawasiku dengan senyuman. Yang aku takutkan bukan para siswa yang mengetahui akan hal ini. Melainkan masa kawin hewanlah yang aku takutkan. Demi-Human umumnya tidak jauh berbeda dengan hewan jika berbicara mengenai hormon.
Dengan kata lain jika datang musim kawin untuk hewan maka besar kemungkinan Noel dan aku akan lepas kendali dan membuatku terperangkap di situasi dimana aku tidak bisa berputar arah. Baik kekanan maupun kekiri atupun maju dan mundur sekalipun. Jadi aku di posisi checkmate jika hal itu terjadi terlebih lagi aku memiliki psikologis 47 tahun lebih.
Aku memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh dan tertidur agar pikiranku dapat tenang keesokan hari.
Pagi itu
Aku bangun ketika sinar matahari menembus kaca jendela dan menuju tepat ke mataku. Aku baru menyadari jika aku tidur selama berapa jam? Akumenguap dan menggosok mata agar menyesuaikan diri dengan cahaya.
Saat aku merasa berat di tubuh bagian atas aku melihat kenapa tubuhku besar sekali. Aku kemudian melemparkan selimut dan alangkah kagetnya aku. "Uah...!"
Noel tidur diatasku dengan tubuh sepenuhnya tidak berbusana. "No... Noel-onee-san!" Aku panik dan melompat keluar dari kasurku.
"Apa-apaan kau ini" aku sedikit menjauh dari kasur dan saat noel bangkit dan menampilkan tubuhnya aku meludah kaget ketika tubuh putihnya terekspos.
"Cepat pakai bajumu!" aku berbalik badan ketika noel berusaha bangun dan duduk sambil melihatku dengan senyuman licik.
"Kyyaaah... Naruto-sama mesum" Noel menggunakan nada main-main padaku membuat kepalaku berkedut.
"Aku Tidak!" Aku sedikit menaikkan nadaku dan saat itu juga noel berbalik badan dengan memluk tubuhnya kegirangan akan sesuatu.
'Jangan bilang!' Aku menggelap ketika membuat sebuah kesimpulan dimana prediksiku apakan benar atau tidak.
"Kyah!" Noel mencicit kecil ketika aku menindih tubuhnya.
"Tidak!" Noel berteriak pelan dan mengalihkan wajah dengan wajah memerah karena malu. 'Naruto-sama apakah akan melakukan itu padaku'
Dan ketika aku melirik tubuhnya aku menggunakan indra penciuman dan indra perasa dimana apakah aku mendeteksi sesuatu. 'Untung saja... Ternyata dugaanku salah' Aku mendesah lega karena aku tidak mengalami hal gila.
"Naruto-sama... Ini pertama kalinya untukku... Jadi yang lembut ya" (What the fuck) aku melihat wajah noel mengalihkan pandangan dengan memerah. Saat aku mengingat lagi posisi kami aku ikut memerah karena ini seperti aku ingin melakukan suatu 'hal' dengan kakak perempuanku.
"Uah... Maaf" aku langsung melompat dan segera menukar pakaian baru yang ada di dalam tasku lalu aku cabut melarikan diri menuju akademi namun sebelum aku membuka pintu keluar.
Tanganku di tahan dan ketika aku berbalik badan Noel memberiku sebuah 'Hadiah' aneh. (Chump) "Naruto-sama Ganbatte Kudasai ne" Noel setelah melepaskan ciuman padaku dan memberi dukungan sedikit. Aku langsung memerah ketika ia tersenyum dengan ekor dan telinga bergerak-gerak.
"I... I... Ittekimasu" Aku melarikan diri secepat mungkin menjauh dari Demi-Human yang sudah mulai mabuk. 'Dugaanku dari tingkahnya. Berarti musim kawin hewan sudah sangat dekat. Ini bahaya! Ini sangat-sangat Bahaya bagiku!' aku menduga dari tingkah noel yang sangat agresif sekali.
Hal ini terjadi ketika aku berumur 8 tahun dimana Noel hampir membuatku melakukan 'hal' itu. Beruntung aku cepat melarikan diri dari perempuan yang dilanda nafsu sangat tinggi.
"Huuah... Selamat juga aku akhirnya" Aku mendesah ketika aku sampai di hutan dan ketika aku terus berjalan-jalan sambil menikmati hutan. Aku melirik kearah matahari dimana kemungkinan ini masih jam 07.00 tidak masalah jika berkeliaran dulu benarkan?
Aku berkeliling sejenak dan melihat keindahan hutan. Lalu setelah lima menit aku berjalan aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku
Seorang gadis sedang duduk minum teh dengan gadis berpakaian Maid bertubuh kecil (156)
Maid itu memiliki rambut kuning terang dengan mata berwarna biru lautan. Lalu gadis yang duduk minum teh bagai gadis bangsawan adalah Gadis berambut putih dengan tubuh tinggi sekitar 164 cm. Berkulit putih dengan Pakaian terdiri dari gaun hingga lengan berwarna hitam dan putih pendek hingga pahanya dengan aksesoris seperti gelang terbuat dari kain hitam di setiap pergelangan tangan, bersama dengan sepatu hitam dengan memiliki ikat sepatu putih. Stokingnya berwarna putih, dengan yang kanan memiliki garter belt di bagian atas.
Di sekeliling lehernya ada pita hitam dengan permata pink, dan di kaki kirinya ada pesona perak dengan permata pink di tengahnya.
"Apa kau mau ikut minum teh bersamaku tuan pengintip" Perempuan berambut putih mengatakan dengan senyuman kearahku ketika aku menontonya dari balik pohon.
"Oi..." Aku melangkah keluar dari persembunyianku karena aku ketahuan.
Aku berjalan dengan santai menuju mejanya. "Jadi apa yang kau lakukan disini tuan pengutit" Masih dengan senyuman gadis itu melanjutkan minum teh.
Gadis pelayannya mulai ketakutan melihat majikannya berani sekali menghina orang asing.
"Maaf jika tidak sopan aku hanya kebetulan lewat dan berujung tersesat" Aku mengatakan dengan bohongan tentu saja.
Gadis itu tersenyum padaku. "Oh...?... Jika begitu bisa katakan padaku tuan anda mau kemana?"
Nah pertanyaan ini yang membuatku membenci bualan. Karena jika kau berkata tersesat maka orang menjawab pasti 'anda mau kemana?' hal yang bisa aku lakukan adalah membuat sebuah alasan logis dan kemudian membual dengan mengatakan jika aku ingin berkeliling sekitar hutan menikmati alam namun saat ingin kembali malah membuatku tersesat
Aku berpikir apakah alasan seperti ini dapat di terimanya walau hasil bualan omong kosong? "Oh begitu ya... Jika begitu mari aku tunjukkan jalan"
Saat kami berjalan dengan Maid sedikit takut-takut menatapku aku berusaha yang terbaik agar tidak terlibat sesuatu yang gila.
Saat kami diperjalanan gadis itu memperkenalkan diri. Namanya adalah Tiara dan pelayannya Namanya Mayuki Hiiragi.
(Note gadis berambut putih itu menggunakan pronoun bahasa lama jika memanggil saya/aku dengan sebutan Warawa. Warawa adalah sebutan lama tahun edo dimana para gadis memiliki derajat paling tinggi pada masa shougun. 1407-1864)
Saat aku terus berjalan dengan bercerita pada Tiara sesekali aku juga bertanya mengenai akademi sihir Alborz. Dan Tiara menjelaskan padaku mengenai akademi dimana akademi itu terdiri dari banyak q gadis bangsawan dan para siswa keturunan terhormat.
Aku terus memproses informasi dan juga aku mencari tahu kenapa dan apa sistem pendidikan di akademi. Namun aku memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Jadi Tiara-san. Bisa beritahukan aku kenapa anda minum teh di tengah hutan?" Aku sangat penasaran kenapa.
Namun tiara membuat wajah senyuman. "Itu karena aku suka"
"Terima kasih sudah menunjukkan jalan keluar dari hutan Tiara. Aku sangat menghargainya" aku sedikit menundukkan kepala. Tiara hanya mengangguk dan memberi balasan ala Ojou-sama padaku.
"Hiiragi-san aku juga berterima kasih padamu" Aku menundukkan kepala sedikit pada gadis kecil.
"Ehhh..." Hasilnya sang Maid malah memerah malu .
Aku kemudian berjalan sebentar melewati Tiara. Karena sepanjang perjalanan Tiara menuntunku. Jujur saat di hutan aku memang tersesat namun aku bukan berarti membutuhkan bantuan saat itu.
Namun entah angin apa tiba-tiba kakiku terpeleset. "Ah!" Aku mulai jatuh namun aku terjatuh dengan menyeret tiara bersamaku.
"Kyah!" Tiara menjerit kecil ketika ikut terjatuh bersamaku.
"Naruto-sama... Tiara-sama..." Hiiragi dengan panik segera menuju kami berdua yang terjatuh.
Namun ketika Mayuki ingin menolong sebuah pemandangan membuatnya melebarkan mulut dan bahkan memerah. Posisi Kami berdua adalah posisi paling sering menimbulkan kesalah pahaman.
Aku menindih tubuh Tiara dengan tangan kananku meremas dadanya dan mulut kami berdua saling menyatu. Dari setiap kejadian aku harus mengatakan jika kejadian ini adalah murni kecelakaan.
Aku melebarkan mata begitu juga dengan Tiara saat aku menyadari jika kami masih di posisi yang membuatku ingin melarikan diri.
"Waaa..." aku menjauh dengan wajahku masih memerah
"Na... Naruto-sama.. Tiara-sama" Aku melihat Mayuki masih terkejut dengan tangan bergetar.
"..." Saat aku panik dan menelan ludah ketakutan ku lihat Tiara dengan Aura kegelapan datang dari tubuhnya.
"N.. Naruto... Beraninya kau... Beraninya kau mencuri ciuman pertamaku" Saat aku melihat wajah gelap Tiara aku sudah panik.
Lalu ketika tiara menatapku dengan wajah menangis dan tubuh bergetar. "Eh... Ano Tiara-san" Aku mulai panik ketika melihat Tiara menciptakan sebuah Rune di tangan kanannya
"Mati kau!" Tiara melemparkan teknik api biru aangat panas membuatku cepat melarikan diri.
"Oi... Tenang dulu" Aku berusaha menghindari setiap serangan.
"Lima dewi pembunuh serang sampah ini" Serangan sangat berbahaya langsung mengenaiku dan saat itu juga aku jatuh tidak sadarkan diri.
"Eeee... Ti... Tiara-sama?" Miyuki masih ketakutan saat melihat wajah mengerikan Tiara terhadap tubuh yang di serangnya.
"Mayuki ikat sampah ini"
"Ha... Hai Tiara-sama" Mayuki langsung mengikat dengan kuat lalu menyeret tubuh Naruto.
000000000000000000
Kegelapan... Suasana gelap yang dapat aku lihat sepanjang mataku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku. "Ugh...!" aku berusaha membuka mata dan satu hal yang bisa aku rasakan.
Aku seperti diseret. Yang benar saja ketika aku membuka mata aku melihat aku posisi diikat dan diseret. "Apa!" Aku berusaha membuka ikatan.
"Oh... Kau sudah bangun desuka?" Tiara menatapku dengan wajah menghina.
"Apa-apaan?!" Tiara menyeretku dengan teknik miliknya jadi tali yang mengikatku seolah-olah tali ini bergerak sendiri.
"Sudah diam.. Dasar laki-laki bejat!" Tiara mengatakan dengan wajah marah.
"Setelah kau mencuri... Ci... Ciumanku... Aku akan membawamu kepada ayahku" Tiara mengatakan dengan wajah memerah malu.
'Ini gawat' Aku bergumam ketika melihat arah kami menuju Alborz Akademi. Dan ketika kami melewati hutan terlihat Sekolah sangat besar dengan arsitektur seperti kerajaan.
Saat aku terus diseret paksa aku keringat menetes ketika melihat tatapan murid-murid wanita maupun laki-laki. Mereka menatapku dengan wajah kasihan akan sesuatu.
Di kantor kepala sekolah.
"Permisi" Tiara memberi salam dan saat masuk kedalam kantor alangkah terkejutnya aku.
"Raja Arthur?"
Tiara langsung berbalik badan dan melihatku dengan terkejut. "Kau kenal dengan otou-sama"
"Yo... Naruto-kun.. Aku lihat kau mengalami masalah sejenak ya" Arthur memberi senyuman.
"Otou-sama juga mengenalnya" Arthur hanya tersenyum pada putrinya.
"Ya... Dia adalah anak pindahan itu. Dan juga calon pasukan Number" Tiara melebarkan mata pada Naruto yang masih diikat.
Ketika Tiara mulai mengatakan dengan marah jika aku mencuri hal pertamanya Raja hanya tertawa terbahak-bahak dan membuat putrinya malu di hadapan Naruto.
Dengan menggeram marah Tiara kemudian lekas keluar dari kantor kepala sekolah dan menatap tajam pada Naruto. "Dengar urusan kita belum selesai!" Tiara membanting pintu dan keluar dikuti Mayuki yang ketakutan
"Hahaha... Kau menarik Naruto" Raja arthur kemudian menggunakan mantra angin untuk melepaskan ikatan pada Naruto.
"Jadi anda adalah raja dan kepala sekolah lalu anda juga seorang penyihir?" Naeuto menatap tidak percaya pada Raja yang masih tersenyum pada Naruto.
"Oh kau kurang satu hal lagi Naruto. Aku juga adalah pasukan Number"
Perkataan terakhir Raja Arthur membuat Naruto sangat kaget padanya. Naruto selama di pelatihan sudah mempelajari pasukan number dimana albert bekerja sebagai Shooter. "Tapi aku kira pasukan number hanya 14 di kerajaan" saat itu juga Arthur menganggukkan kepala.
"Aku adalah Number 10 the Assault. Dulu sewaktu ayahku masih menjabat sebagai Raja aku sangat tidak tertarik pada politik. Setelah aku mencapai cita-citaku sebagai pasukan number, tanpa aku tahu aku menjadi raja berikutnya" Arthur mengangkat bahu seolah-olah bertindak bagai orang malas.
(Note. Seperti namanya, Assault adalah pasukan yang sangat berbagai dalam menyerang secara brutal. Bisa dikatakan untuk menjadi Assault membutuhkan persyaratan sangat tinggi dan menguasai lebih dari 7 teknik S class. Raja Arthur menempati posisi tertinggi sebagai pasukan Number namun karena sudah pensiun selama lebih dari 15 tahun. Hanya sedikit yang mengetahui jika Arthur adalah SSSS+ Number)
"Lagi pula aku cukup terkejut kau bisa berbicara dan bahkan membuat putriku marah Naruto kun" Raja tertawa saat Naruto mendengar kalimat ini Naruto membuat kesimpulan jika Tiara adalah penyendiri.
"Ano... Raja"
"Ah.. Tidak Naruto-kun.. Saat di sekolah panggil aku kepala sekolah"
Naruto menganggukkan kepala. "Maaf jika tidak sopan kepala sekolah, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Tiara?"
Arthur menganggukan kepala. "Tujuh tahun lalu saat Tiara masih umur 9 tahun. Ibu tiara atau istriku, dibunuh oleh pria bernama Orochimaru. Aku tidak tahu tujuan orochimaru tapi beruntung saat itu aku berhasil mengalahkannya. Akibat kematian istriku. Tiara, putriku satu-satunya menjadi pemurung dan bahkan menjauhkan diri dari orang lain. Bahkan dia sangat fokus untuk membuat teknik agar bisa menjadi jajaran pasukan Number" Arthur menjelaskan dengan wajah muram.
Naruto mendengarkan kisah menyedihkan ini membuatnya teringat akan insiden yang sama dimana Naruto masih menjadi personel aktif di jepang dulu. Menjadi yang terbaik dari kalangan US Navy Seals membuat Naruto menjalankan misi berat yaitu membunuh Osama bin laden (2011)
Dimana dulu Naruto adalah anggota SEAL team Six sekaligus eksekutor Osama bin Laden beserta keluarganya. Misi dimana Naruto harus membunuh satu keluarga Osama bin Laden olh presiden Amerika Serikat.
Karena hal itu Naruto ikut terbawa suasana ketika Arthur menceritakan masa lalunya. "Oleh karena itu Naruto. Ketika melihat wajahnya yang seperti itu aku sangat bahagia"
Naruto keringat menetes. "Walaupun itu artinya aku mencuri hal miliknya?"
Kepala sekolah hanya mengangkat bahu. "Baiklah Naruto. Karena kau sudah disini, akananku sambut kau. Selamat datang di Magic Academy Alborz. Akademi ini terdiri perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Jadi ku harap kau tidak membuat masalah Naruto-kun" Arthur membuat wajah main-main pada Naruto.
"Dan juga. Ini seragammu dan pembantumu akan tiba beberapa menit lagi"
"Apa?!" Naruto terkejut bahkan menggebrak meja. "Apa maksud anda. Kepala sekolah"
"Ini adalah sekolah dimana siswa dapat berkembang jadi diperlukan sebuah Servant. Ahh itu dia" Arthur kemudian memberi ijin pada pendatang baru.
"Noel?!"
Raja menjelaskan jika ini adalah permintaan Noel untuk menjadi Servant Naruto. Dan karena Noel memiliki keahlian bertarung maka Raja mengijinkan.
Setelah menghabiskan waktu untuk berdebat akhirnya Naruto menerima jika Noel adalah Servant Naruto.
Naruto kemudian menuju kamar mandi dimana ia menukar pakaian. Pakaian terdiri dari kemeja putih, celana hitam, diikat dasi merah dengan Blazer hitam. Sepatu yang Naruto pakai juga berwarna hitam. Logo blazer terdiri dari sebuah perisai Merah dengan huruf A lalu dibawah huruf A tertulis dengan tulisan sambung. Alborz Magic Academy. Naruto kemudian meluhat cermin dimana wajahnya tidak kusut seperti zombie. Lalu merapikan rambut belakangnya yang tidak terlalu panjang dengan cara diikat. Hanya saja rambut samping Naruto yang terbilang cukup panjang hingga melewati batas daerah wajah. Hampir seperti Kirigaya Kazuto dari anime duniaku berasal. Anime dijepang sudah menjadi trandmark dimana banyak sekali pejualan Visal novel, Doujinshi, DVD bluray, maupun Hentai. (anime Porno)
Naruto sudah siap berpakaian dan dengan segera menuju ruangan kelas dengan Noel mengikuti dari belakang. 'Kelas 1-A' Naruto melirik kertas petunjuk dimana kelasnya.
"Ah.. Anda pasti murid baru itu. Ayo silahkan masuk" seorang sensei wanita mungkin seumuran dengan Noel menunggu di depan pintu.
Naruto hanya menganggukkan kepala lalu masuk kedalam kelas. Sensei kemudian tersenyum ke semua murid-murid yang dimana aku melihat sekitar 40 murid hanya 10 laki-laki. "Ano.. Minna-san. Perkenalkan, namaku Naruto Uzumaki. Aku dari desa Konohagakure semuanya senang berkenalan dengan kalian" aku menundukkan kepala Sopan.
"Nah.. Naruto silahkan duduk disana" sensei wanita itu menunjukkan tempat duduk paling belakang dekat jendela. Namun mataku tertuju pada Gadis berambut putih tertentu. Apa yang aku heran adalah kenapa dia mengenakan pakaian biasa?
Murid laki-laki mengenakan pakaian yang sama denganku begitu juga perempuan hanya saja berbeda di bagian rok/skart pendek sepaha dengan model berlipat. Tiara dia menatapku dengan mata tajam seolah-olah dia sangat marah padaku.
Aku keringat drop saat itu juga. 'Ini akan sangat berat bagiku'
000000
yo sampai jumpa dan selamat berpacaran dimalam nanti.
Dasar kelompok populer berengsek. Aku sudah 25 tapi masih single... Dammm
XD lol
