.Happy Read.

Ost op: No Pain No Game (NaNo)

¤Uchida Tokugawa¤

-Present-

.Naruto belong's Masashi Kishimoto.

Naruto © Kishimoto M.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Summary: Aku hanya terlalu lelah dengan semua ini, Impian? Cinta? Harapan? Persahabatan? Semua hal tersebut indah pada awalnya namun memuakkan pada akhirnya, bahkan terkadang aku sering tertawa miris mengingat semua hal yang kulakukan selama ini tentang impian dan ambisi bahwa 'tidak akan mengubah jalan ninjaku' , semua hanyalah kebahagian semu yang memuakan percayalah bahwa seorang Uzumaki Naruto bahkan bosan dengan hal yang bernama impian dan ambisi.

.

.

.

(New Day)

Kring!

Kring!

Kring!

Tep!

Sebuah tangan kekar berkulit tan dengan pelan terulur kearah sebuah jam weker yang berdering di diatas meja kemudian mengklik bagian tombol atasnya membuat deringan jam tersebut terhenti.

Set!

Pemilik tangan berkulit eksotis tersebut sesaat terdiam sesaat sebelum membuka kedua matanya menampakkan sebuah iris safir teduh yang sangat indah untuk dipandang.

Pemuda tersebut yang lebih dikenal dengan nama Uzumaki Naruto atau Naruto Springfield namanya didunia ini membuka kedua iris safirnya memandang langit langit kamarnya sesaat kemudian melirik jam disampingnya yang menunjukkan pukul 06'00 pagi, namun detik berikutnya dirinya melirik kearah samping tubuhnya saat merasakan sebuah tangan putih memeluknya dari samping.

Naruto melirik datar kearah Kaguya yang masih terlelap disampingnya sambil merangkul lengannya erat entah mengapa Dewi disampingnya ini selalu membuatnya risih, bukannya ia membenci Dewi tersebut namun dari hari ke hari tingkah Kaguya entah mengapa semakin aneh, awalnya Dewi tersebut berdiam didalam tubuhnya kemudian keluar dibeberapa waktu hingga akhirnya bertingkah seperti ini, memang mungkin banyak pria akan senang jika diperlakukan seperti ini oleh wanita cantik namun entah mengapa semua hal tersebut tidak berlaku untuknya.

Set!

Naruto dengan pelan memegang tangan Kaguya kemudian mengangkatnya agar lengan kanannya dapat terlepas dari pelukan Dewi kelinci tersebut namun sepertinya detik berikutnya Dewi tersebut mengerejapkan kedua matanya sebelum membukanya menampakkan kedua iris lavender yang menatapnya sayu khas baru bangun tidur.

"Oh sudah pagi ya?"

"Seperti yang kau lihat" balas Naruto singkat sebelum melangkah keluar kamar berniat menuju toilet meninggalkan Kaguya yang masih terdiam menatap sekelilingnya dengan pandangan ngantuk.

Sssh!

Suara air kran wastafel yang Naruto buka dan perlahan dirinya membasuh wajahnya beberapa kali sebelum terdiam sesaat karena kembali mengingat pertarungannya dengan Issei kemarin, dirinya dapat merasakan kekuatan luar biasa kuat dari pria yang menyelamatkan inang Draig tersebut, kekuatan setara dengan Juubi bahkan melebihinya, sebenarnya dunia yang ia tempati sekarang ini cukup menarik perhatiannya namun entah mengapa semua hal tersebut seperti ada lapisan demi lapisan yang saling berhubungan dan menyembunyikannya membuat dunianya saat ini penuh akan hal menarik.

Beberapa saat kemudian terlihat Naruto yang telah memakai seragam akademi lengkap dan berniat berangkat namun sebelum keluar dirinya menyempatkan melirik kearah kamarnya dan melihat Kaguya yang kembali terlelap.

"Apakah Kaguya saat ini hanyalah manusia biasa?"

Isi pikiran Naruto ketika menatap kearah Kaguya yang terlelap, dirinya sudah beberapa kali memastikan bahwa Dewi tersebut sudah tidak mempunyai chakra lagi bahkan terlihat layaknya manusia normal pada umumnya namun dirinya entah mengapa selalu merasa was was dengannya seolah ada sesuatu yang ganjal dibalik semua ini akan tetapi Naruto memilih mengabaikannya karena selama Kaguya tidak mengusiknya maka dirinya akan memperlakukan Dewi tersebut secara baik juga.

Beberapa menit berjalan yang Naruto lakukan hanya menatap sekelilingnya dengan pandangan biasa seolah tidak ada hal menarik baginya bahkan beberapa murid akademi Kuoh sama sepertinya yang saling berbisik bisik sambil menatapnya hanya dirinya hiraukan dan kembali terus melangkah namun detik berikutnya Naruto sedikit memelankan langkah kakinya saat tidak jauh dari hadapannya terlihat seorang gadis bersurai pirang yang berlari kecil kearahnya sambil sesekali melambaikan tangannya.

"Naruto!"

Jeanne berlari pelan kearah Naruto yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya, niat awalnya yang akan menunggu bus menuju akademi kuoh menjadi berubah ketika melihat siswa pirang yang kemarin menunjukkan aksi luar biasa dihadapannya ketika bertarung dengan Kaisar Naga merah.

"Kau mau kemana Naruto?" Ucap Jeanne ketika sampai dihadapan Naruto yang juga ditatap oleh pemuda pirang tersebut dengan pandangan aneh dalam waktu sesaat, apakah gadis dihadapannya ini waras? Menanyakan dirinya akan kemana? Dengan seragam yang ia kenakan saat ini? Serta waktu sekolah saat ini? Ayolah gadis Prancis dihadapannya ini buruk dalam membuat kalimat basa basi.

"Seperti yang kau lihat Jeanne" Naruto menatap malas kearah Jeanne yang tertawa pelan ketika sadar pertanyaan yang ia keluarkan barusan adalah pertanyaan bodoh namun ekspresi gadis tersebut langsung berubah dengan pandangan kagum sambil masih menatap Naruto yang melangkah pelan disampingnya.

"Aku benar-benar terpukau dengan kekuatanmu waktu itu Naruto" Ucap Jeanne mengingat ketika waktu Naruto menggunakan jubah emas yang mengobar ganas saat melawan Issei kemarin, kekuatan Naruto saat itu sangatlah menakutkan namun disatu sisi juga terasa sangat menenangkan, "Apalagi bola bola hitam yang kau bentuk menjadi pedang aneh tersebut sangatlah luar biasa, kurasa fraksi manusia diprancis akan kagum mendengar ceritaku nanti" sambung Jeanne tersenyum tipis.

Tep!

Naruto seketika menghentikan langkahnya sesaat mendengar kalimat Jeanne barusan begitupula gadis pirang tersebut yang langkahnya ikut terhenti.

"Naruto?" Jeanne menatap bingung kearah Naruto yang meliriknya datar sesaat setelah pemuda tersebut menghentikan langkahnya.

"Bisakah kau tidak membicarakan semua itu dengan atasanmu Jeanne?" Ucap Naruto datar yang hanya dibalas Jeanne dengan tatapan heran, kenapa? Kenapa Naruto tidak mau diketahui oleh pihak fraksi diprancis? Bukankah dengan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda tersebut maka fraksi manusia akan semakin melangkah maju.

"Kenapa Naru-!"

"Aku tidak berminat bergabung dengan siapapun Jeanne, mau itu fraksi Manusia, iblis, angel, Datenshi, Youkai ataupun Mitologi lainnya" Ucap Naruto datar kemudian kembali melangkah pelan meninggalkan Jeanne yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.

"Hah? Kenapa Naruto? Jika begitu maka kau akan diburu oleh fraksi yang takut akan konspirasi mengingat kekuatanmu yang luar biasa besar" Jeanne mencoba menjelaskan mengapa ia menarik Naruto untuk bergabung dengan fraksi Manusia dengan begitu Naruto akan aman untuk kedepannya dan juga dunia ini masih banyak fraksi yang takut akan mahluk kuat contohnya mitologi Olympus yang masih takut dengan mahluk kuat sebenarnya bukan seluruh dewanya namun hanya Zeus selaku dewa tertinggi disana yang takut akan mahluk kuat, takut akan menggelindingkan kekuasaannya di Olympus.

Naruto hanya terdiam sesaat tanpa memelankan irama langkahnya ketika mendengarkan perkataan Jeanne barusan, diburu oleh fraksi lain? Baru ini dirinya dengar tentang hal tersebut, bahkan diawal ingatannya kembali saja Cao Cao tidak menceritakan hal tersebut dan bukankah pemuda Mandarin pemegang True Longinus tersebut termasuk fraksi Manusia? Namun detik berikutnya Naruto tertawa pelan.

"Diburu?" Naruto terkekeh pelan sebelum ekspresinya kembali datar, "bukankah itu hal yang menarik?" Sambungnya pelan langsung membuat Jeanne terdiam saat melihat iris Safir Naruto yang sesaat memancarkan sebuah kilatan perasaan dari mahluk yang telah berkali kali menghadapi maut atau bisa dikatakan seseorang yang telah berdiri dipinggir jurang maut dan sudah tidak mempunyai rasa takut sama sekali terhadap maut itu sendiri, selama dirinya hidup baru kali ini Jeanne melihat tatapan tersebut.

Beberapa menit melangkah dirinya bersama Naruto akhirnya sampai di gerbang akademi dan Jeanne kembali terkagum melihat struktur akademi kuoh terutama arena rating game yang kemarin dirinya lihat sendiri bahwa area tersebut telah hancur lebur rata dengan tanah saat ini sudah kembali seperti semula tanpa ada cacat sedikitpun.

"I-itu Naruto!"

"H-hoy! Yang benar saja! Mana mungkin sipecundang itu menang dari Issei-sama!?"

"Itu benar! Bahkan kepala sekolah sendiri yang mengumumkan hasil dari duel tersebut adalah Naruto Springfield yang keluar sebagai pemenang"

"Argh! Sayang kemarin aku pingsan akibat tidak kuat dengan tekanan energi Issei-sama, bahkan kupikir jika pecundang tersebut akan mati saat itu"

"Yah mungkin Issei sedang dalam kondisi kurang baik waktu itu dan Naruto hanya beruntung memenangkan duel tersebut"

"Kheh pecundang yang beruntung"

Jeanne menatap tajam kearah segerombolan murid akademi yang berada tidak jauh dari hadapannya saat ini, apa yang barusan dirinya dengar? Beruntung? Naruto beruntung karena telah mengalahkan Issei? Hey kids kau tidak mengetahui yang sebenarnya karena kalian pingsan dipuncak duel tersebut kemarin, bahkan jika bukan karena kemunculan pria asing yang menolong Issei waktu itu mungkin saja pemuda tersebut sekarang hanyalah tinggal nama dan Heavenly Dragon Albion tidak akan mempunyai rival lagi saat ini, entah mengapa hati Jeanne menjadi emosi mendengar bacotan para siswa&siswi tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Sedangkan Naruto hanya menatap datar sekelilingnya dan memilih berjalan terus menuju kelasnya menghiraukan tatapan kagum dan benci murid disekitarnya serta papan rank yang saat ini di LCD tersebut tertulis.

Top Rank Academy:

1. Naruto Springfield

2. Issei Hyoudo

3. Grayfia Lucifuge

4. Gabriel

5. Vali Lucifer

Entahlah namun Naruto kurang tertarik dengan hal seperti itu dan memilih masa bodoh dengan semua hal tersebut, dirinya memilih melanjutkan langkah menuju kelasnya menghiraukan semuanya bahkan Jeanne yang seolah malah terlihat tidak terima dengan cibiran siswa&siswi bukankah dirinya yang dikatai oleh mereka? Kenapa malah gadis tersebut yang tidak terima?.

"Oy Naruto!"

Seorang gadis bersurai biru sepunggung melangkah pelan sesaat keluar dari ruangan OSIS yang Naruto lewati ketika menuju kelasnya.

Naruto menatap kearah Medaka yang tersenyum sambil melangkah kearahnya dan tepat ketika gadis tersebut telah berdiri dihadapannya dengan pelan Medaka memukul bahu depan Naruto dengan kepalan tangannya sambil tersenyum.

"Selamat atas kemenanganmu Naruto" Medaka tersenyum kearah Naruto yang menatapnya dengan ekspresi sama seperti sebelum sebelumnya, dirinya sejak awal ketika beradu tinju dengan Naruto telah merasakan bahwa pemuda ini penuh akan kejutan sejak dirinya kembali dari libur panjangnya, "kurasa kau saat ini akan mewakili Kuoh dalam rating game Internasional" sambung Medaka tertawa pelan ketika melihat wajah datar Naruto.

Teng!

Teng!

Suara lonceng akademi yang berbunyi menandakan waktu belajar telah dimulai membuat Medaka terdiam sesaat sebelum menatap kearah Naruto yang juga menatapnya dengan pandangan 'apakah aku sudah boleh pergi?' .

"Aku juga akan kembali ke kelasku Naruto" Medaka mengangguk paham kemudian melangkah berlawanan arah dengan Naruto karena kelasnya dengan kelas pemuda pirang tersebut cukup jauh.

.

.

.

Siang harinya waktu istirahat dimana banyak murid murid pergi menuju tempat favorit mereka untuk beristirahat maupun mengisi dengan hal menyenangkan lainnya seusai mereka menuntut ilmu, dan dibagian atap akademi atau lebih tepatnya tempat satu satunya dari seluruh bagian akademi yang Naruto sukai, terlihat saat ini pemuda tersebut duduk menyandar di bangku sambil menatap langit dalam diam menghiraukan dua gadis pirang disampingnya yang malah ikut terdiam dan juga suasana disana malah menjadi canggung, Naruto dapat merasakan hawa tersebut namun memilih diam masa bodoh hingga akhirnya Asia membuka suara karena sudah kurang nyaman dengan suasana sunyi disana.

"A-ano Naru-kun" Asia tergagap sesaat ketika membuka sebuah percakapan kearah Naruto yang masih menatap langit, entah mengapa dirinya menjadi gugup akibat suasana saat ini, bukan canggung karena malu atau apa namun akibat kehadiran Jeanne yang entah mengapa dirinya tidak mengetahui apa hubungan gadis tersebut dengan Naruto namun mengapa bisa ada disini? Bukankah berisitirahat diatap berdua hanyalah kebiasaan dirinya dengan Naruto?, "Arigatou karena telah menyelamatkanku kembali"Asia menunduk merasa bersalah kearah Naruto, dirinya sadar selama ini Naruto selalu bertarung hanya karena dirinya lemah, dimulai dari waktu Raiser yang menyerangnya hingga Issei yang menjadikannya sandera agar Naruto mau berduel dengan inang Sekiryuteii tersebut.

Naruto hanya melirik kearah Asia sekilas sebelum kembali menatap langit biru Kuoh, dirinya sebenarnya tidak mempermasalahkan hal tersebut bahkan sebenarnya Asia tidaklah perlu meminta maaf karena gadis tersebut tidaklah bersalah, semua yang dirinya lalui selama ini adalah takdir dari Kamii-sama dan mengapa gadis tersebut malah meminta maaf? Memang mungkin dirinya beberapa kali bertarung tanpa alasan yang jelas dengan murid diakademi ini akibat gadis tersebut namun itu sebenarnya adalah takdir hidupnya didunia inilah bukannya kesalahan gadis tersebut, kalaupun boleh protes maka Naruto akan memprotes kepada Kamii-sama bukanlah kepada Asia.

"Jangan terlalu dipikirkan" ucap Naruto singkat membuat Asia terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil ketika melihat Naruto yang meliriknya.

"Apakah kalian teman sedari kecil?" Jeanne membuka suara sesaat setelah melihat interaksi Naruto dan Asia yang malah dirinya rasakan seperti teman akrab masa kecil.

"A-ah bukan seperti itu Jeanne-san" Asia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, "Naru-kun hanya teman pertamaku diakademi ini mengingat diriku dan Naru-kun adalah peringkat terbawah" sambung Asia diakhir kalimat ekspresinya menjadi sedih karena Naruto saat ini telah menjadi peringkat 1 sedangkan dirinya malah menjadi yang terbawah dan teman satu satunya tersebut terlihat sangat jauh dihadapannya susah untuk dijangkau.

"Tingkahmu mengingatkanku dengan teman satu timku dulu Asia"

Asia serta Jeanne seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah Naruto yang saat ini menatap mereka.

"Teman satu tim Naru-kun/Naruto?" Gumam Asia dan Jeanne bersamaan membuat Naruto yang mendengarnya tersenyum tipis.

"Teman satu timku dulu, seorang gadis bersurai Buble Gum bernama Haruno Sakura, gadis tersebut sama sepertimu mempunyai teknik healing yang disebut ninjutsu medis namun teknik tersebut dikuasainya ketika beranjak remaja saat menjadi murid Hokage 5, sedangkan waktu masih kecil atau bocah, gadis tersebut bisa dikatakan Useless dalam tim kami yang beranggotakan Aku, Sasuke dan gadis tersebut Haruno Sakura." Naruto tersenyum kecil mengingat kenangannya dulu waktu didunia Shinobi, "Disaat aku dan Sasuke tersudut dan terluka parah waktu penyerangan Zabusa dan Haku di jembatan yang dinamakan Jembatan Naruto akibat timku yang berhasil mengalahkan Beberapa bandit serta mendukung pembangunan jembatan tersebut, Sakura gadis tersebut hanyalah menangis dan menangis terutama saat melihat Sasuke yang terluka parah tidak denganku yang hanya dirinya abaikan seolah aku hanyalah sampah waktu itu." Sambung Naruto tertawa pelan mengingat tingkah bodohnya dulu waktu semasa genin, dimana ia sangat mencintai seorang Haruno Sakura yang selalu memandangnya sebelah mata dan hanya selalu dan selalu menatap kearah seorang Uchiha Sasuke.

"Awalnya memang begitu namun percayalah bahwa seiring berjalannya waktu gadis tersebut melakukan perubahan menjadi semakin kuat dan kuat hingga kami berdua merasa tertinggal dengannya" ucap Naruto kembali menatap kearah Asia yang terdiam bahkan dirinya ingat waktu dimedan perang dimana Sakura yang menantang seorang Uchiha Madara meskipun dapat dikalahkan dengan cepat namun dirinya akui bahwa Sakura telah semakin kuat dari waktu ke waktu, "Tidak ada mahluk lemah didunia ini selama mereka berusaha Asia" sambung Naruto datar membuat Asia maupun Jeanne terdiam mendengar perkataan Naruto.

Apa yang pemuda tersebut katakan? Teman satu tim dulu? Bukankah umur Naruto saat ini 16-17 tahun? Umur normal seorang anak sekolah, namun pemuda tersebut mengatakan bahwa dirinya mempunyai tim dan bertugas menyelamatkan pembangunan jembatan dari para bandit dan hal lainnya? Sebenarnya apa yang telah kau lakukan dulu Naruto? Begitulah yang dipikirkan oleh Jeanne sesaat setelah mendengar perkataan Naruto barusan, dirinya semakin penasaran dengan pemuda pirang tersebut, sejak awal charmnya telah bereaksi dengan Naruto ditambah melihat pertandingannya melawan Issei semakin membuat rasa penasaran tumbuh semakin besar.

Set!

"Aku kembali ke kelas"

Naruto bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju pintu keluar atap akademi berniat kembali menuju kelasnya mengingat bel telah berbunyi beberapa saat lalu menandakan waktu istirahat telah usai, mungkin dirinya tidak akan dihukum jika membolos ataupun terlambat masuk kedalam kelas namun mengingat dirinya sejak kecil dulu sudah memegang pribadi disiplin meskipun terkenal nakal dan urakan akan tetapi seorang Uzumaki Naruto selalu memegang teguh prinsip disiplin dan janjinya, bahkan janji bodohnya dulu kepada Sakura ia sudah tepati juga sesudah perang aliansi Shinobi yaitu membawa seorang Uchiha Sasuke pulang ke Konoha.

Naruto melangkah pergi setelahnya meninggalkan Asia dan Jeanne yang masih terdiam karena mendengar cerita Naruto barusan namun detik berikutnya kedua gadis pirang tersebut saling bertatapan sebelum tertawa pelan.

"Naruto orang yang menarik ya" Jeanne tertawa pelan kearah Asia yang juga tersenyum tipis.

"Kurasa memang Naru-kun sejak kejadian pembullyan Raiser waktu itu telah sedikit berubah" balas Asia tersenyum tipis karena sejak sehabis pembullyan Raiser waktu itu dirinya tidaklah bodoh untuk menyadari ada yang berbeda dengan Naruto, bukan hanya kekuatannya namun sifatnya sangatlah jauh berbeda dengan Naruto yang dulu meskipun pemuda tersebut sangatlah pintar menyembunyikannya.

Jeanne terdiam mendengar perkataan Asia barusan, dirinya entah mengapa kembali tersadar dengan suatu hal, gadis tersebut bilang bahwa Naruto berubah? Entahlah yang pasti dirinya sadar bahwa jika memang seorang Naruto Springfield mempunyai kekuatan sekuat waktu ia melihatnya duel dengan Issei waktu itu maka seharusnya nama seorang Naruto Springfield telah terkenal dimana mana sebelum pertandingan tersebut menandakan ada hal janggal yang terjadi dengan pemuda pirang tersebut hingga mempunyai kekuatan besar seperti saat ini.

"Berubah? Bisa kau jelaskan secara lebih rinci Asia?" Jeanne berusaha menggali informasi tentang Naruto kepada Asia, meskipun dirinya tidak akan melaporkan segala hal menarik dikuoh kepada atasannya namun tetap saja ia tertarik dengan informasi ini dan memilih akan menyimpan informasi tersebut seorang diri.

Sedangkan Asia terdiam mendengar kalimat tanya dari Jeanne barusan, dirinya sedikit bimbang dengan hal apa yang harus ia ceritakan kepada gadis pirang tersebut.

.

.

Sore harinya dimana langit mulai menggelap menjelang malam diakademi kuoh yang terlihat sepi akibat seluruh siswa maupun siswi telah pulang dikarenakan jam sekolah telah usai namun dibagian lorong sekolah dapat terlihat jelas seorang siswa bersurai pirang berjalan pelan melewati lorong demi lorong hingga langkahnya terhenti didepan sebuah pintu kayu bercat coklat tua dengan gagang pintunya dihiasi sebuah ornamen Naga.

Cklek!

Krieet!

Dengan pelan dirinya mengulurkan sebelah tangannya kearah knop pintu kemudian membuka pintu tersebut menampakkan bagian dalam ruangan yang terlihat sebuah meja berbentuk bundar serta disetiap sisinya terdapat bangku yang diisi oleh siswa maupun siswi akademi kuoh dan terlebih Naruto mengenali mereka.

Dirinya dapat melihat Gabriel, Grayfia, Vali serta Cao Cao yang menduduki setiap bangku disisi meja berbentuk bundar tersebut namun ia melihat dua bangku kosong di sana.

"Akhirnya yang ditunggu datang juga" Cao Cao mencoba mencairkan suasana yang terlihat kaku dan malah semakin kaku saat kedatangan Naruto.

"Ditunggu?" Naruto mengulang kalimat Cao Cao sambil menatap pria Mandarin tersebut yang malah terkekeh pelan.

"Tentu saja harus menunggumu Naruto, karena kau saat ini adalah ketua dari tim ini"

Cao Cao menyeringai tipis melihat ekspresi Naruto yang menatapnya datar, dirinya tidaklah salah karena memang Naruto telah mengalahkan Issei kemarin yang otomatis peringkatnya direbut oleh pemuda tersebut dan juga posisi ketua menjadi milik Naruto.

Naruto dapat melihat seringai Cao Cao yang sepertinya merasa puas karena berhasil membuatnya ikut campur dalam kejuaraan rating game ini dan juga berarti kursi kosong satunya itu adalah milik Issei yang tidak hadir saat ini seusai bertarung dengannya kemarin, sedangkan yang lain memilih diam memandang percakapan antara Cao Cao dan Naruto barusan.

¤TBC¤

Note: Jeane D'arc yang ada di fic ane ini mengambil dari tokoh Jeanne di Anime Shingeki no bahammut Genesis.

.Dont Like Dont Read.

END OST: Itowokashi (Yadoriboshi)

.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.

.Mirai Wa Aka Belong's Uchida Tokugawa.

.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.

-SAYONARA-