Unexceptionable

Disclaimer: It's sad, but I just own the plot

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.

A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf

.

.

Enjoy!

.

.

Kadang Sasuke tidak mengerti bagaimana dunia berputar. Tentu, seseorang tidak mungkin terus bertahan di atas roda kehidupannya, tapi dia juga tidak mungkin terus berada di bawah roda yang sama. Posisi semua orang di dalam kehidupan tidak pernah statis.

Kali ini hal yang membuatnya tidak mengerti dengan perputaran roda itu adalah posisinya yang sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari terakhir kali ia beranjak. Sasuke tidak tahu apa yang salah sehingga roda kehidupannya berhenti berputar. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sudah ia lakukan sehingga membuat posisinya enggan bergeser.

"Kau harus berhenti berpikir sebelum kerutan di dahimu berubah menjadi permanen, otouto."

Sang Uchiha bungsu menghela napas dan menyandarkan kepala ke punggung sofa yang sejak tadi menahan tubuhnya. Ia melemparkan pandangan kepada sosok yang baru saja duduk di sampingnya dan menyalakan televisi yang sejak tadi ia abaikan.

"Darimana saja kau? Bukankah essay-essay itu harus segera diperiksa?"

"Kau tidak tahu? Kaasan tidak memberitahumu?"

"Hn?"

Sepasang mata milik sang Uchiha muda masih mengarah lurus ke sosok sang kakak. Apa yang ia lewatkan? Apa yang tidak ia ketahui?

"Aku baru saja bertemu calon tunanganku."

"HN?"

"Calon tunangan."

Perkataan Itachi nampaknya berhasil memutar kembali roda kehidupan seorang Uchiha Sasuke.

Tunangan? Sejak kapan kakaknya memiliki seorang tunangan? Sejak kapan kedua orang tuanya menjodoh-jodohkan anak mereka? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?

"Bukankah aku sudah memintamu untuk berhenti berpikir, hn?"

Sasuke menggelengkan kepala, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun segera menutupnya kembali saat tidak ada satu kata pun yang bisa ia lontarkan. Kacau. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Semuanya terlalu buram dan ia tidak bisa melihat apapun.

"Aku baik-baik saja, otouto," Itachi mengacak rambut sang adik. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

Tidak perlu? Ia tidak bisa. Walaupun ia tidak ingin mengkhawatirkan kakaknya, ia tidak bisa. Bagaimana bisa orang tuanya melakukan ini kepada mereka, anak-anak mereka?

"Sasuke—"

"Bagaimana dengan Naruto?"

Sasuke bisa merasakan bagaimana napasnya tersendat saat melihat raut kekecewaan sang kakak. Itachi tidak termasuk orang yang mudah jatuh cinta, tapi saat lelaki itu memiliki orang yang ingin dijadikan sebagai seorang kekasih, kenapa hal bodoh semacam ini harus terjadi?

"Kaasan tidak bisa melakukan ini padamu, niisan. Dia tidak bisa melakukan ini pada salah satu di antara kita," Sasuke menggelengkan kepala, sama sekali tidak menyetujui keputusan salah satu Uchiha senior itu.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, Sasuke, dan kuharap kau tidak melakukan hal yang bisa membuat situasi lebih membingungkan daripada ini."

Sasuke memang menyukai senyum seorang Uchiha Itachi, tapi bukan senyum yang kini terulas jelas di wajah asisten dosen muda ini. Bukan senyum putus asa seperti ini. Bukan senyum terpaksa seperti ini. Bukan senyum yang berusaha menyampaikan 'aku baik-baik saja' padanya.

.

..

-0-0-0-

..

.

Jika kemarin Sasuke tidak menyukai roda kehidupannya yang berhenti berputar, maka hari ini ia tidak menyukai kenyataan kalau roda kehidupannya berputar dengan sangat cepat. Ia baru tahu bahwa ada hal selain pertunangan kakaknya yang bisa membuat kepalanya terasa akan meledak hanya dalam hitungan detik.

"Sasuke, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami tidak—"

"Oh, ya. Kalian baru saja melakukannya."

Sang Uchiha yakin ucapannya sudah menunjukkan nada datar dan dingin yang biasa ia berikan kepada orang-orang yang ia benci. Sasuke mengulaskan seringai tipis dan menggelengkan kepala.

"Perkiraanku benar. Seharusnya aku tidak pernah mempercayai ucapanmu," ungkapnya tenang. "Well, kurasa aku harus berhenti mengganggu kalian. Silakan lanjutkan apa yang sedang kalian lakukan dan maafkan aku karena sudah berani mengganggu."

Sasuke tahu tidak satu pun diantara kedua orang itu akan melakukan apa yang mereka lakukan dengan sembarangan. Sasuke yakin mereka tidak mungkin mencium orang sembarangan. Mereka tidak mungkin melakukan apa yang tengah mereka lakukan kepada sembarang orang.

Sasuke juga tahu kalau dua orang yang tidak sengaja ia lihat tadi sangat menikmati kegiatan mereka. Bagaimana tidak? Salah satu di antara mereka melingkarkan kedua lengan di leher sosok di hadapannya, sementara sosok yang lain melingkarkan lengannya dengan begitu posesif di pinggang lawannya.

"Oh, kau datang."

Sang Uchiha bungsu menganggukkan kepala mendengar sapaan yang dilontarkan seorang gadis berambut merah muda. Ia duduk di samping mantan lawan mainnya dan meraih naskah yang ada di atas meja. Satu-satunya tempat yang bisa ia pikirkan untuk melarikan diri adalah ruangan ini.

"Kalian sudah mulai bersiap lagi?" tanyanya pada siapapun yang duduk di meja kerja milik klub drama yang ia masuki.

"Tentu saja, tapi kami belum tahu kapan akan melakukan casting. Kau berniat untuk berpartisipasi lagi, Sasuke?" tanya Tenten sembari menyamankan diri di kursinya.

"Hn."

"Bagus! Kami akan membuat pengumuman untuk mengabarkan jadwal casting, mungkin posternya akan selesai minggu depan," Kiba menganggukkan kepala.

"Drama klasik, eh?" gumam sang pemilik rambut raven setelah membaca sekilas naskah yang sudah ia taruh kembali ke atas meja.

"Tantangan dari Kakashi sensei. Kau tahu, akan sangat menyenangkan kalau kau lulus casting dan mendapatkan peran utama."

"Kau hanya ingin melihat sisi lain dari seorang Uchiha Sasuke, Sakura," Kiba menggelengkan kepala. "Tapi aku juga tidak keberatan untuk melihatmu menjadi seorang putra bangsawan yang keras kepala, bodoh, cerdik dan menggelikan disaat yang bersamaan."

"Tenten, apa kita tidak bisa langsung menunjuk Sasuke sebagai pemeran utama pria?"

"Apa kau sudah gila, Sakura? Kita punya peraturan untuk itu, aku yakin kau tahu itu."

Sasuke menghela napas melihat gembungan pipi yang ditujukan sang Haruno kepada gadis dengan rambut dicepol dua yang ia ajak bicara.

"Sasuke, kita harus bicara."

Semua perhatian tertuju pada pemilik suara yang baru saja datang. Pemuda yang dipanggil terlihat melemparkan tatapan tajam sebelum bangkit dari duduknya. Ia tidak bisa kehilangan kendali atas emosinya di depan semua anggota klub.

"Sasuke, apa yang kau lihat tadi—"

"Aku tidak melihat apapun," Sasuke menghentikan langkah saat ia yakin mereka sudah ada di koridor sepi yang amat jarang dilewati para mahasiswa. "Kalau kau takut aku memberitahu semua orang tentang rahasiamu, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak melihatmu berciuman dengan Naruto, Neji."

Lelaki berambut coklat yang berdiri tiga langkah di hadapan sang Uchiha terlihat mengerang frustasi. Ia sama sekali tidak menyangka tindakan yang dilakukannya bersama Naruto di ruangan klub kesehatan akan dipergoki sang kouhai.

"Aku tidak marah karena kau mencintainya. Aku tidak marah sama sekali mengenai hal itu. Tapi kenapa kau harus membohongiku? Bukankah aku sudah menanyakan padamu berkali-kali apakah kau menyukainya? Dan bukankah kau berkata kalau kau tidak berniat memperumit situasi kalian dan Itachi?"

Sang pemilik marga Hyuuga terlihat menghela napas berat. Sebelah tangannya masih meremas segenggam rambut coklatnya yang jauh dari kata rapi. Ia tahu ia akan berada di posisi yang sulit mulai saat ini, tapi ia tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan untuk berada di posisi yang aman.

"Aku berbohong padamu," ungkapnya singkat.

Sasuke melepaskan tawa sinis saat menyadari bahwa pada akhirnya tidak ada satu orang pun yang bisa ia percaya.

Kepercayaannya kepada Naruto sempat sirna saat pemuda itu membalas permintaan maaf yang ia lontarkan, ketika Tenten memaksanya berbincang dengan si pemuda pirang, dengan kalimat 'Aku tidak peduli, itu bukan urusanku'. Kepercayaannya kembali sirna saat pemuda yang sama menghindarinya sejak lelaki itu keluar dari rumah sakit.

Kepercayaannya kepada Neji sendiri sejak awal memang tidak kuat dan Sasuke selalu memiliki keraguan saat keinginan untuk menaruh kepercayaan kepada putra tunggal keluarga Hyuuga itu muncul. Dan ternyata benar, ia memang tidak bisa mempercayai seorang Hyuuga Neji. Berbeda dengan Naruto, Neji nyatanya lebih sering menghancurkan kepercayaan yang ia berikan.

Sasuke tentu ingat bagaimana Neji menghancurkan kepercayaan yang ia berikan sebagai sahabat dari sang kakak. Walaupun ia tidak menyukai Neji, ia tidak bisa memaksa Itachi untuk tidak bersahabat dengan wisudawan muda itu.

Pertama kali Neji menghancurkan kepercayaannya adalah ketika Itachi memberitahunya bahwa sepertinya Neji menjalin hubungan dengan Naruto. Latihan kendonya saat itu sama sekali tidak terganggu dengan penuturan sang kakak yang menemaninya, tapi Sasuke jelas meluncurkan serangan yang salah ketika Itachi memberitahunya bahwa ia mendapati kedua sahabatnya berciuman ketika Uchiha sulung itu mampir ke apartemen sang Uzumaki. Itulah alasan kenapa keesokan harinya ia memberikan bogem mentah kepada Neji saat mereka bertemu di gedung pertunjukkan, beberapa saat sebelum latihan drama dimulai.

Walaupun ia tidak menyukai Neji, nyatanya ia tidak bisa menahan diri untuk mempercayai ucapan lelaki itu saat mereka tidak sengaja bertemu di rumah sakit. Ia masih ingat perkataan Neji yang tidak akan memperumit keadaan antara dirinya, Naruto dan Itachi. Dan Sasuke percaya pada perkataan pemilik iris mata keperakan itu karena sebagai seorang adik, ia hanya ingin kakaknya selalu ada dalam keadaan yang aman dan baik-baik saja.

Tapi ternyata kepercayaan yang ia berikan lagi-lagi harus sirna saat ia mendapati sang Hyuuga dan sang Uzumaki berpelukan erat di perpustakaan. Ya, alasannya lari dari Sakura yang datang menyusulnya saat itu adalah karena ia tidak ingin melihat kejadian itu lebih lama. Ia tidak ingin memikirkan bagaimana kecewanya Itachi jika melihat apa yang ia lihat.

Dan kalau saja ia tidak melihat apa yang dilakukan dua orang yang menjadi tokoh utama di pemikirannya saat ini di ruangan klub kesehatan saat ia hendak meminta aspirin untuk sakit kepala yang dideritanya, ia mungkin akan kembali mempercayai Neji setelah kedekatan mereka selama beberapa hari terakhir.

"Aku berbohong padamu tentang banyak hal, tapi kau harus tahu alasan kenapa aku melakukannya," Neji mengangkat kepala dan menatap lurus sepasang iris oniks pemuda yang masih memberikan raut wajah datar dan sulit dibaca.

"Apa yang harus kutahu tentang semua kekacauan ini?"

Neji menarik napas panjang dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tanpa ragu ia membuat panggilan dari speed dial-nya.

"Moshi-moshi. Apa dia baik-baik saja? Ya. Aku tahu. Aku akan datang sekarang dan kau harus membantuku membereskan sesuatu. Tidak, aku akan kesana sekarang. Jangan biarkan dia keluar dari kamarnya. Terimakasih, aku berhutang banyak padamu."

Sasuke menaikkan alis saat Neji melangkah maju dan menarik pergelangan tangannya sebelum menyeretnya pergi, meninggalkan gedung fakultas.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke tanpa memberikan penolakan.

"Berusaha memperbaiki semuanya sebelum terlambat," tuturnya sebelum mendorong Sasuke pelan untuk masuk ke dalam taksi yang baru saja ia hentikan. "Walaupun sebenarnya aku sudah cukup terlambat," gumamnya pelan, namun masih tertangkap telinga sang Uchiha muda.

.

.

TBC

.

.

A/N: Update kilat karena saya terlambat meng-update di awal minggu ini. Saya sudah membongkar beberapa 'misteri' dari sudut pandang Sasuke di bagian akhir chapter ini~ Kalau reader masih bingung, saya kasih clue chapter-nya; chapter 6, 7 dan 9. Sekarang harusnya reader tau siapa-siapa yang muncul di chapter
-chapter itu ^^

.

.

Review Reply:

.

.

NamikazeNoah: saya sudah mulai mengungkap beberapa misteri di chapter in, dan mungkin di chapter depan pertanyaan Noah bisa terjawab ^^