Unforget Memories

by Razux

Sequel from "A piece of memories" by Yuuto Tamano

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana.


Kaname POV

Aku hanya tersenyum saat melihat para tamu undangan yang menyelamatiku saat hadir dalam pesta pertunanganku dengan Mikan-chan ini. Aku sama sekali tidak pernah mempercayai hari ini akhirnya tiba juga, mulai hari ini Mikan-chan adalah tunanganku.

"Selamat atas pertunangannya."

"Terima kasih." Balasku sambil tersenyum.

"Di mana tunanganmu? Di mana satu lagi tokoh utama pesta ini?"

"Dia sedang berdandan, sebentar lagi dia akan hadir."

"Tentu saja, wanita memang akan berdandan secantik-cantinya pada hari penting dalam hidupnya ini." Tawa salah satu tamu begitu mendengar jawabanku.

"Kau beruntung sekali bisa mendapatkan calon istri dari keluarga Hyuga." Tambah salah satu tamu lagi.

Aku hanya tersenyum saat mendengar apa yang mereka katakan. Mereka benar, aku sangat beruntung karena bisa memiliki Mikan-chan.

Aku mengamati para tamu yang berada di dalam mansion Hyuga ini, aku bisa melihat para pengusaha, politikus, orang-orang penting dan terkenal yang hadir dalam pesta ini.

"Silakan menikmati pesta ini, aku permisi dulu." Ujarku pelan.

Para tamu itu tersenyum dan menangguk kepalanya. Aku berjalan menjauhi mereka, aku ingin melihat Mikan-chan, aku tahu, Hotaru sedang mengmake-upnya sekarang. Namun, langkah kakiku terhenti saat aku mendengar percakapan dua orang tamu yang berdiri tidak jauh dariku.

"Aku sama sekali tidak percaya dengan kata Ioran Hyuga bahwa ini sama sekali bukan pertunangan demi perusahaannya . Aku dengar putrinya itu terus mengurung diri di kamar setelah kakaknya atau lebih tepatnya laki-laki yang dicintainya itu meninggal dunia dua tahun yang lalu."

"Aku setuju denganmu, kau masih ingat pidatonya dua tahun yang lalu pada pemakaman kakaknya itu. Itu adalah kegagalan terbesar Ioran Hyuga. Aku yakin sekali, dia menadopsi anak perempuan pasti dikarenakan dia mau memanfaatkannya untuk memperluas perusahaannya. Dia pasti tidak pernah menyangka menadopsi anak perempuan ternyata menyebabkannya kehilangan putra kandung yang merupakan pewarisnya."

"Tidak ada banyak orang yang tahu bahwa putrinya yang hari ini bertunangan itu sama sekali bukan anak kandungnya. Dan juga, tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya putri angkatnya itu mencintai putra kandungnya yang telah meninggal itu. Mereka merahasiakannya dan menyembunyikannya dari media dan masyarakat. Aku kagum dengan cara mereka untuk merahasiakan aib itu, padahal pidato putri angkatnya itu sangat mengejutkan."

"Kau benar. Aku sebenarnya penasaran sekali, apakah Kaname Sono yang hari ini bertunangan dengan putrinya itu tahu sesungguhnya yang terjadi dua tahun yang lalu?"

"Mungkin tidak. Tapi, kalaupun dia tahu, kurasa dia juga akan berpura-pura tidak tahu, sebab jika kelak dia menikahinya, maka perusahaan raksasa Hyuga akan menjadi miliknya."

"Benar, siapa yang sanggup menolak godaan untuk menjadi suami dari pewaris perusahaan raksasa Hyuga."

Mereka berdua sama sekali tidak menyadari keberadaanku, mereka berdua terus tertawa dan melanjutkan topik pembicaraan itu. Aku sangat marah saat mendengar ucapan mereka, aku bersedia untuk bertunangan dengan Mikan bukan disebabkan karena perusahaan keluarganya, aku bersedia bertunangan dengannya karena aku mencintainya.

"Aku sama sekali tidak begitu yakin jika Kaname Sono ini kelak bisa mengendalikan perusahaan raksasa itu. Dia kelihatannya sangat lemah, perusahaan raksasa Hyuga pasti akan mengalami kemunduran jika kelak dipimpin olehnya."

"Dibandingkan dengan putra kandung Ioran Hyuga, Kaname Sono sama sekali tidak ada apa-apanya. Aku pernah melihat putra kandungnya yang bernama Natsume Hyuga semasa hidup, meski masih kecil, dia sangat pintar, berwibawa dan berkharisma. Meski aku tidak suka, aku mengakui putra kandungnya yang telah meninggal itu sangat luar biasa, dia pasti bisa menjadi pemimpin yang sangat mengagumkan dan manakjukkan jika sudah besar."

Aku mengepalkan tanganku saat mendengar pembicaraan mereka berdua. Natsume, Natsume dan Natsume, mengapa di mata siapapun dia selalu berada di atasku? Mengapa di mata semua orang dia selalu lebih hebat dariku? Aku sama sekali tidak kalah darinya, kenapa semua orang lebih memilihnya dari pada aku? Terutama Mikan, kenapa dia lebih memilihnya yang sudah meninggal itu dari pada aku yang masih hidup?

Tsubasa POV

Aku dan Yoichi menatap Natsume yang berjalan di samping kami dengan pandangan tidak percaya.

"Kalau kalian terus menatapku seperti itu, aku akan membunuh kalian." Ujar Natsume dingin.

Aku segera menolehkan wajahku ke depan. Namun, aku tetap saja tidak bisa menghentikan niatku untuk menatapnya lagi, begitu juga dengan Yoichi. Siapa yang dapat menghentikan niat untuk menatap Natsume Hyuga yang hebat dan penuh kebanggan itu menyamar jadi wanita. Dalam mimpipun tidak pernah ku bayangkan.

Demi menyusup ke dalam mansion Hyuga ini, mau tidak mau, Natsume harus menyamar jadi wanita dan ku akui satu hal, Natsume itu luar biasa cantik saat menyamar menjadi wanita, dengan menggunakan wig berambut hitam panjang dan lensa contac berwarna hitam untuk menyembunyikan warna mata merahnya serta sedikit make-up yang dipakaikan Misaki padanya, dia benar-benar luar biasa cantik.

Dia menggunakan celana jeasn panjang berwarna biru dan sebuah kaos putih. Misaki dan Aoi sebenarnya telah menyiapkan sebuah gaun untuknya, yang mana ditolaknya dengan cepat dan kesal saat kami menyuruhnya untuk mencobanya. Kami tidak memaksanya untuk mengenakan gaun itu lagi, sebab tanpa menggunakan gaunpun, dia sebenarnya benar-benar kelihatan mirip dengan wanita. Ku tambahkan, dia kelihatan seperti seorang foto model dari majalah-majalah fashion terkenal.

"Kau tahu Natsume, kalau kau benar-benar wanita, pasti akan banyak sekali laki-laki yang rela melakukan apa saja untuk menjadi kekasihmu." Ujarku pelan.

"Jika kau katakan kata-kata seperti itu satu kali lagi, bersiaplah menemui raja neraka." Balasnya sambil menatapku dengan penuh niat membunuh.

Aku hanya bisa menelan ludah saat mendengar ucapannya itu. Namun, yang aku katakan padanya itu sama sekali bukan kebohongan, sejak kami masuk ke dalam mansion Hyuga ini, semua tamu yang ada langsung menolehkan kepalanya menatap Natsume. Kami sama sekali tidak ingin menarik perhatian siapapun. Namun, tidak tahu mengapa kami kini sudah menjadi pusat perhatian dari semua yang ada di sini.

"Yoichi-kun, Tsubasa-nii, Natsumi-nee!" Teriak Aoi-chan tiba-tiba dan berlari mendekati kami saat melihat kami bertiga.

Natsumi-nee? Maksudnya Natsume ya? Aku hanya bisa menahan tawaku saat mendengar nama yang diberikan Aoi-chan pada Natsume itu. Benar deh, Aoi-chan itu benar-benar hebat, otaknya itu benar-benar penuh dengan ide-ide yang luar biasa.

Ide Natsume menyamar menjadi wanita untuk menyusup ke dalam mansion ini sebenarnya adalah ide dari Aoi-chan. Aku sesungguhnya sangat lega saat Aoi-chan dan Yoichi memihak kami setelah kami menceritakan kenyataan sesungguhnya pada mereka. Namun, yang lebih mengejutkan dan melegakanku adalah Natsume memutuskan untuk menemui Mikan serta membawanya keluar dari mansion ini, sepertinya apa yang dikatakan Misaki padanya berhasil masuk ke dalam otaknya.

Aoi-chan dan Yoichi bersedia membantu kami dan bantuan mereka itu merupakan sesuatu yang luar biasa menguntungkan kami, sebab dengan begitu, mereka bisa memberitahu kami dengan jelas gerak gerik keluarga Hyuga, Rei Yukihira, Ruka Nogi, Hotaru Imai dan juga keberadaan nona Mikan supaya kami bisa menculiknya, ku koreksi, membawanya keluar sesuai dengan rencana.

"Mikan-nee ada di kamar Natsume-nii. Dia bersama Okaa-san dan Hotaru-nee saja sekarang. Aku akan mencari alasan untuk membuat okaa-san dan Hotaru-nee keluar dari kamar itu, kalian harus memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Mikan-nee keluar secepatnya."

Kami telah menyusun rencana untuk membawa nona Mikan keluar dari mansion ini. Aku, Natsume dan Yoichi akan menyusup ke dalam mansion ini, yang mana telah berhasil kami lakukan. Setelah berhasil masuk ke dalam mansion ini, Yoichi akan memisahkan diri dari kami dan menyamar menjadi salah satu pelayan, sedangkan aku dan Natsume akan bersembunyi di kamar nona Mikan yang memang terletak di samping kamar Natsume tempat nona Mikan berada sekarang. Aoi-chan akan masuk ke dalam kamar tempat nona Mikan berada untuk membujuk semua yang ada di sana keluar dan meninggalkan nona Mikan sedirian. Aku dan Natsume akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Mikan keluar dari kamar itu dan menemui Yoichi di salah satu kamar kosong yang telah menunggu mereka dengan sebuah kotak sampah besar. Natsume dan nona Mikan akan bersembunyi di dalamnya dan dibawa keluar dari mansion ini oleh Yoichi yang menyamar sebagai pelayan melalui jalan belakang di mana Misaki telah menunggu dengan mobilku yang akan membawa mereka keluar dari kota ini secepatnya.

Rencana ini disusun oleh Natsume dan dia mengatakan pada kami bahwa yang paling penting dari rencana ini adalah waktu dan keberanian. Namun aku tahu, sukses tidak suksesnya rencana ini sebenarnya tergantung pada Natsume. Natsume harus dapat menyakinkan nona Mikan bahwa dia benar-benar merupakan Natsume Hyuga dan dia sama sekali belum mati. Jika nona Mikan mau berkerja sama dengan kami, maka rencana ini pasti akan berhasil.

Yoichi POV

"Berhentilah menatapku, Aoi." Perintah Natsume-nii.

"Maaf. Aku hanya berpikir, apakah aku juga akan seperti ini saat dewasa nanti?"

"tu tidak mungkin. Wajahmu mungkin memang mirip dengan Natsume-nii, tapi kau itu sangat pendek, kau tidak mungkin bisa setinggi dia." Jawabku tanpa menatapnya.

"Natsumi-nee, Yoichi-kun." Koreksi Aoi kesal.

Aku dan Natsume-nii hanya diam mendengar ucapan Aoi itu, sedangkan Tsubasa berusaha ntuk menahan tawanya.

"Tsubasa! Aoi!" panggil seseorang pemuda berambut pirang dan bermata biru tiba-tiba.

"Gawat, itu suara tuan muda Ruka." Ujar Tsubasa dengan wajah pucat.

Aku bisa melihat pemuda itu tersenyum dan berjalan mendekati kami.

"Kita harus berpisah di sini, Natsume, Yoichi. Cepat kalian berdua pergi dari sini, jangan sampai tuan muda Ruka melihat kalian." Perintah Tsubasa.

"Tunggu aku di kamar Mikan-nee, Natsume-nii. Aku akan segera menyusulmu." Tambah Aoi cepat.

Aku dan Natsume-nii menangguk kepala kami dan segera memisahkan diri dari Tsubasa dan Aoi.

Tsubasa dan Aoi segera berlari mendekati Ruka Nogi.

"Tuan muda Ruka, lama tidak bertemu." Tawa Tsubasa.

"Iya. Siapa mereka berdua? Kenapa mereka tidak bergabung dengan kita saja?" tanya Ruka Nogi dan aku yakin, dia pasti sedang menatap kami berdua yang masih berada tidak jauh darinya.

"Mereka temanku, mereka tadi menanyakan letak toilet, Ruka-nii." Jawab Aoi tenang sambil tersenyum.

"Oh, begitu ya. Apakah aku juga mengenal mereka, Aoi-chan? Walau tidak kelihatan jelas, sepertinya wajah mereka sama sekali tidak asing bagiku."

"Kurasa kau pernah melihat mereka di majalah, Ruka-nii. Mereka berdua adalah model majalah fashion." Senyum Aoi.

Aku dan Natsume-nii segera berjalan menjauhi mereka dengan cepat, akan bahaya sekali jika Ruka Nogi menyadari siapa kami sebenarnya.

"Aoi benar-benar pantas ku nobatkan sebagai ratu penipu." Ujar Natsume-nii yang berjalan di sampingku tiba-tiba.

"Kau benar, Natsume-nii. Dia memang pintar berbohong."

"Aku sama sekali tidak pernah menyangka, dari sekian banyak cewek yang ada kau akhirnya memilih Aoi."

Langkah kakiku terhenti begitu mendengar ucapan Natsume-nii, aku menolehkan wajahku menatapnya "Apa maksud ucapanmu barusan, Natsume-nii?"

Natsume-nii tersenyum menyeringai "Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau tertarik pada Aoi?"

Aku sama sekali tidak tahu harus menjawab apa begitu mendengar ucapannya itu. Aku tertarik pada Aoi? Aku memilih Aoi? Aku ingin menyangkal apa yang baru saja dikatakan Natsume-nii, tapi kenapa mulutku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Aku sering merasa hatiku berdebar-debar saat berada dekat dengannya, aku merasa sangat nyaman saat bersamanya, aku selalu berpikir untuk melindunginya, aku suka melihat tawanya dan aku sama sekali tidak suka saat melihat dia menangis, apakah itu semua disebabkan karena aku tertarik padanya? Karena aku menyukainya?

"Sepertinya kau baru sadar ya?" tanya Natsume-nii lagi.

"Ke… Kenapa kau bisa tahu, Natsume-nii?"

Natsume-nii berhenti berjalan saat mendengar pertanyaanku itu, dia menatapku dan tersenyum kecil "Karena kau adalah Imouto-ku, bodoh."

Aku sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat mendengar jawabannya itu. Sejak aku mengetahui Natsume-nii sama sekali bukan seorang Yukihira, sejak aku tahu bahwa dia sesungguhnya adalah Natsume Hyuga, aku mengalami kesulitan untuk berada di sampingnya. Aku selalu merasa sangat jauh dengannya, dia sama sekali bukan saudara kandungku, terlebih lagi, dia sesungguhnya adalah anak seorang konglomerat, pewaris sesungguhnya dari perusahaan raksasa Hyuga, dia adalah seseorang yang berasal dari dunia yang berbeda sekali denganku. Dan juga, setelah aku tahu apa yang dilakukan Rei-nii terhadapnya, aku merasa sedih dan takut, bagaimana jika Natsume-nii membenciku?

"Kita mungkin tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, namun kau harus ingat, kau adalah otouto-ku, apapun yang terjadi, kau adalah otouto-ku." Lanjutnya.

Aku tersenyum saat mendengar ucapannya itu, perasaan sedih dan takut di hatiku menghilang tanpa bekas. Aku gembira sekali saat mendengar ucapannya itu, dia tidak membenciku, dia masih menanggap aku sebagai adiknya meski kami sama sekali tidak ada hubungan darah. Itu sudah cukup, itu sudah cukup melebihi apapun yang aku inginkan.

Rei POV

Aku menatap para tamu undangan yang hadir di pesta pertunangan Mikan ini, aku bisa melihat orang-orang penting yang hadir di pesta ini untuk menyelamatinya.

Aku menutup mataku. Mikan, adikku akan bertunangan hari ini. Hari ini juga akan menjadi hari terakhirku melihatnya, aku sama sekali tidak bisa muncul dihadapannya dan menyelamatinya sebagai kakaknya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan mendoakan kebahagiaannya.

Aku adalah kakak yang tidak berguna. Aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuknya dan Nastsume, aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah keadaan kedua adik yang sangat ku sayangi itu, aku sama sekali tidak bisa mengubah keadaan yang menyebabkan mereka berdua tidak bisa bersama.

Tidak. Bukan hanya aku, di dunia ini sama sekali tidak ada yang bisa mengubah keadaan mereka berdua, tidak ada yang bisa menyatukan mereka berdua.

Aku masih belum menemukan Natsume, dia sama sekali tidak menghubungiku meski berita pertunangan Mikan telah tersebar ke seluruh negeri. Dia pasti telah mengetahui berita ini, dia pasti sangat menderita sekarang. Aku harus segera menemukannya, aku harus membantunya melewati semua penderitaan ini, hanya inilah satu-satunya yang bisa ku lakukan untuknya sekarang.

Aku membuka mataku dan kembali menatap sekelilingku. Natsume tidak mungkin bisa hadir di pesta pertunangan ini, penjagaan di pesta ini sangat ketat, dia pasti tidak bisa menyelinap masuk ke mansion ini. Namun, mataku tiba-tiba manangkap sosok seorang pemuda yang sedang mengobrol bersama Ruka dan Aoi. Mataku terbelalak karena terkejut saat melihatnya, aku mengenalnya, dia adalah pemuda yang membantu Natsume melarikan diri saat aku menemukannya di stasiun kichijoji. Jika dia berhasil masuk kemari, berarti Natsume mungkin telah berada di dalam mansion ini.

Aku melihat Aoi memisahankan diri dari Ruka dan pemuda itu sambil tersenyum. Aku segera berlari mendekati mereka tanpa mempedulikan pandangan para tamu yang ada. Aku mengangkat tanganku dan menarik pemuda itu keluar dari ruangan pesta itu.

Aku bisa melihat pemuda itu sangat terkejut begitu juga dengan Ruka yang segera berlari menyusul kami. Pemuda itu berusaha untuk melepaskan dirinya dariku. Namun aku sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk melarikan diri.

"Di mana Natsume berada sekarang?" tanyaku tajam saat kami telah berada di tempat yang sepi.

Aku bisa melihat wajah terkejutnya dan juga Ruka yang berada di belakangku saat mendengar pertanyaanku.

"Ada apa, Rei-san?" tanya Ruka binggung sambil menatapku.

"Dia adalah pemuda yang waktu itu membantu Natsume melarikan diri dariku. Jika dia berada di sini kemungkinan besar, Natsume telah berada di dalam mansion ini."

"APA!"

Natsume POV

"Baiklah Natsume-nii, kita berpisah di sini. Sampai ketemu nanti." Ujar Yoichi dan memisahkan diri dariku.

Aku hanya menangguk kepalaku dan berjalan menuju kamar Mikan. Aku sama sekali tidak mengalami kesulitan menuju kamarnya itu, Aoi telah memberitahuku letak kamar ini dengan jelas kemarin saat kami menyusun rencana ini. Aku berusaha menghindari beberapa pelayan yang ada dan berhasil mencapai kamar itu tanpa diketahui siapapun.

Kamar Mikan ini benar-benar berciri khas cewek dengan warna pink dan putih di mana-mana. Aku melepaskan wig yang ku gunakan dan berjalan memasuki kamar mandi di kamar ini untuk membersihkan make-up yang dipakaikan Misaki padaku.

"Natsume-nii, di mana kau?"

Aku segera berlari keluar dari kamar mandi begitu mendengar suara Aoi itu.

"Tunggulah di sini sebentar, aku akan segera mengeluarkan semua yang ada di kamar sebelah kecuali Mikan-nee." Ujarnya sambil tersenyum saat melihatku.

"Hati-hati Aoi, jangan sampai kau gagal."

"Kau pikir aku ini siapa, Natsume-nii? Serahkan saja padaku." tawanya dan berjalan keluar dari kamar ini.

Sepeninggalan Aoi, aku mengamati kamar ini dengan baik dan berusaha untuk mencari memoriku yang hilang mengenai kamar ini. Namun, tetap saja sia-sia, aku tetap tidak bisa mengingat apapun.

Aku berjalan mendekati tembok yang membatasi kamar ini dengan kamar tempat Mikan berada dan menyentuhnya dengan tanganku. Mikan ada di samping kamar ini sekarang, kami hanya dibatasi dengan sebuah tembok saja sekarang.

Kaoru POV

Aku menatap Mikan yang duduk di depan cermin. Dia mengenakan gaun berwarna putih selutut yang di rancang khusus untuknya pada hari ini, rambutnya yang panjang dan lembut itu dibiarkan terurai, dan Hotaru telah memakaikan make-up tipis dan natural di wajahnya. Dia sungguh cantik, luar biasa cantik, aku yakin tidak akan ada yang bisa menandingi kecantikannya ini. Namun, wajahnya yang cantik itu sama sekali tidak tersnyum, wajahnya kelihatan sangat sedih.

"Hari ini adalah hari besar bagimu, jangan berwajah seperti itu, bodoh. Tersenyumlah." Ujar Hotaru yang berada di sampingnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Mikan sama sekali tidak membalas apa yang diucapkan Hotaru.

"Permisi! Boleh aku masuk?" senyum Aoi tiba-tiba sambil membuka pintu kamar ini.

"Ayo masuk ke dalam kamar, Aoi-chan." Tawaku.

Aoi berjalan mendekati kami dan saat dia melihat Mikan, matanya terbelalak "Mikan-nee…. Kau cantik sekali…"

Aku tersenyum mendengar pujian Aoi itu, Namun senyumku segera menghilang saat aku melihat wajah Mikan. Dia menatap Aoi dengan penuh kesedihan dan penderitaan. Aku tahu, dia pasti teringat lagi dengan Natsume saat melihat wajah Aoi.

Aoi tersenyum lembut menatap Mikan, dia berlutut di sampingnya dan memegang tangan Mikan "Mikan-nee, jangan berwajah seperti itu, kau harus tersenyum, jangan kau perlihatkan wajah sedih seperti ini pada orang yang sangat mencintaimu."

Mikan tetap tidak mengatakan apapun, dia hanya diam membisu dan menundukkan kepalanya ke bawah.

"Oh iya okaa-san, otou-san tadi mencarimu, sepertinya ada yang ingin dia bicarakannya. Dan Hotaru-nee, di ruang pesta tadi, aku melihat banyak sekali tamu yang hanya mengincar kepiting, kau harus segera ke sana atau kau akan kehabisan makanan favoritmu itu," senyum Aoi tiba-tiba "Serahkan saja Mikan-nee padaku, aku akan menemaninya di sini."

Ioran mencariku? Tidak mungkin? Jika ada yang ingin dibicarakannya padaku dia pasti telah menelepon poselku dari tadi.

"Kau sama sekali bukan seorang pembohong ulung, Aoi-chan. Kenapa kau ingin kami meninggalkanmu di sini bersama Mikan?" tanya Hotaru tiba-tiba sambil menatap Aoi.

Aku bisa melihat wajah terkejut Aoi, dia segera menundukkan kepalanya dan aku bisa melihat betapa merahnya wajahnya sekarang "Ma…Maaf, aku sama sekali bukan bermaksud membohongi kalian… Aku..Aku hanya ingin memiliki waktu bersama Mikan-nee sebagai saudara sebelum Mikan-nee menjadi tunangan Kaname-nii."

Aku tersenyum mendengar jawaban Aoi. Aoi benar-benar manis sekali, dia benar-benar sangat menyukai Mikan. Aku tahu, dia ingin bisa mengakrabkan dirinya dengan Mikan.

"Okaa-san, Hotaru, bisakah kalian meninggalkan kami berdua, aku sama sekali tidak pernah menjadi seorang onee-chan bagi Aoi-chan, karena itu biarkan aku mengabulkan permintaanya ini." Ujar Mikan tiba-tiba sambil menatapku dan Hotaru.

"Baiklah, bodoh." Balas Hotaru singkat.

"Terima kasih, Hotaru-nee." Senyum Aoi gembira dan membalikkan wajahnya menatapku.

Aku tertawa dan saat aku ingin membuka mulutku, ponselku tiba-tiba berbunyi, aku segera mengangkatnya saat aku mengetahui yang meneleponku itun adalah Ioran.

"Ada apa, Ioran?"

"Kaoru, segera bawa Mikan ke bawah. Kita hurus mengumumkan pertunangannya dengan Kaname secepatnya. Natsume telah berada di dalam mansion ini sekarang."

"Apa makasudmu, Ioran?"

"Rei tadi meneleponku. Kau masih ingat dengan pemuda yang Rei katakan membantu Natsume melarikan diri darinya saat dia menemukannya di stasiun kichijoji?"

"Iya."

"Pemuda itu adalah Tsubasa Andou."

"Apa?"

"Tsubasa sama sekali tidak mengakui bahwa dia adalah pemuda yang membantu Natsume, namun Rei yakin dia adalah pemuda itu, dan juga dia sama sekali tidak mau memberitahukan keberadaannya sekarang."

"Tidak mungkin?"

"Cepat bawa Mikan ke bawah sekarang juga."

"Aku mengerti." Balasku cepat dan menutup ponselku.

Aku mengangkat wajahku dan aku melihat wajah kebingungan Mikan, Hotaru dan juga Aoi. Aku lupa bahwa aku sedang berada di depan mereka, mereka pasti kebingungan saat melihat sikapku tadi.

"Ada apa, okaa-san?" tanya Aoi pelan.

"Tidak apa-apa, Aoi-chan," jawabku sambil cepat "Maaf, Aoi-chan. Okaa-san sama sekali tidak bisa meninggalkanmu bersama Mikan-chan di sini, otou-san menelepon okaa-san dan mengatakan acara pertunangan ini akan segera dimulai. Okaa-san diminta untuk membawa Mikan-chan ke ruang pesta sekarang juga."

"Eh!" seru Aoi "Okaa-san sebentar saja, kalian berdua pergi saja ke pesta itu duluan, aku akan segera menyusul kalian bersama Mikan-nee."

"Maaf Aoi-chan, aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu itu.."

"Aku mohon, okaa-san. Sebentar saja, aku janji akan segera menyusul kalian."

Aku menatap Aoi dengan heran, ada apa dengan dia? Dia sama sekali tidak pernah seperti ini, dia adalah anak yang sangat penurut, dia sama sekali tidak pernah memaksakan kehendaknya pada kami, kenapa sekarang dia ngotot sekali meminta kami untuk meninggalkan ruangan ini dan membiarkannya bersama Mikan?

"Ada apa sebenarnya denganmu, Aoi? Kenapa kau ingin kami meninggalkanmu bersama Mikan saja di kamar ini?" tanya Hotaru tiba-tiba.

Aoi membalikkan wajahnya menatap Hotaru "Tidak apa-apa, aku… Aku hanya…"

"Tidak apa-apa, Aoi-chan. Setelah pesta ini usai, aku akan menemanimu. Karena itu, Ayo kita turun ke bawah sekarang." Ujar Mikan memotong ucapan Aoi.

"Mikan-nee!" teriak Aoi sambil menatap Mikan.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Aoi sekarang, sikapnya itu aneh sekali, sepertinya dia merahasiakan sesuatu pada kami.

"Aku janji padamu, Aoi-chan," senyum Mikan lemah dan bangkit dari kursi tempatnya duduk "Ayo kita turun sekarang, jangan biarkan yang lainnya menunggu lagi."

Aoi tetap ingin memprotes, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya itu, namun aku bisa melihat ekspresi kebingungan dan kekhawatiran di wajahnya dengan jelas.

Saat aku, Mikan dan Hotaru ingin melangkah keluar dari pintu kamar ini, Aoi yang berada di belakang tiba-tiba berkata "Kalian pergi saja dulu, okaa-san, Mikan-nee,Hotaru-nee, aku ingin ke kamar mandi dulu. Aku akan segera menyusul kalian."

Aoi sama sekali tidak memberikan kami kesempatan untuk mengucapkan sesuatu lagi, dia segera berlari memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.

"Ada apa sebenarnya dengan dia?" ujar Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.

Natsume POV

Aku menghela napas sambil mengamati kamar ini, kamar yang penuh dengan warna pink dan putih khas cewek ini benar-benar membuat mataku sakit. Aku berjalan mendekati ranjang yang ada di dalam kamar itu dan duduk di atasnya, tiba-tiba mataku menangkap sebuah kotak kecil yang berada di atas meja belajar. Karena penasaran, aku berjalan mendekati meja itu dan membuka tutup kotak tersebut.

Yang pertama kali ku lihat adalah fotoku sendiri.

Aku mengeluarkan foto itu dan menatapnya dengan kedua bola mata merahku, foto ini adalah fotoku sebelum aku mengalami kecelakaan. Aku meletakkan foto itu di atas meja dan menatap isi dari kotak kecil itu lagi. Aku melihat beberapa kertas kecil di dalamnya, dengan pelan aku mengeluarkan kertas kertas yang ada di dalam kota itu.

Mataku tebelalak saat melihat kertas itu. Aku mengenal tulisan di kertas itu dengan baik, itu adalah tulisanku.

To: Tangerine

Kau serius?

From: Jujube

Tiba-tiba kepalaku merasa sangat sakit saat melihat kertas-kertas itu. Kepalaku terasa berputar-putar dan ingin pecah. Aku menahan rasa sakit itu dan berusaha untuk membaca kertas yang lain lagi.

To: Tangerine

Aku rasa itu mustahil, Tangerine.

From: Jujube

P.S. Kau maunya berapa?

Aku tiba-tiba melihat wajah Mikan yang tersenyum di dalam pikiranku diiringi rasa sakit yang luar biasa ini.

To: Tangerine

Aku juga ingin bertemu denganmu. Tapi bodyguardmu pasti takkan membiarkan kita untuk itu.

From: Jujube

Rasa sakit ini sama sekali tidak menghilang, wajah Mikan terus berputar di dalam pikiranku, wajahnya yang masih kecil seperti dalam mimpiku selama ini, dan wajahnya yang mulai tumbuh besar. Wajahnya yang tersenyum dengan cantik dan bahagia.

To: Tangerine

Sepulang sekolah tunggu aku di depan stasiun Kichijoji.

From: Jujube

Rasa sakit di kepalaku benar-benar membuatku tidak bisa menahannya lagi, aku melepaskan tanganku yang mengenggam kertas-kertas itu dan mengangkatnya menyusuri rambutku. Aku menutup mataku dan berlutut di atas lantai sambil menundukkan kepalaku untuk menahan rasa sakit itu dan saat aku membuka mataku, aku melihat selembar kertas yang berada tepat di depan mataku.

To:Tangerine

Walau apapun yang terjadi, perasaanku padamu takkan berubah sampai kapanpun.

From:Jujube

Melihat kertas itu, tiba-tiba rasa sakit di kepalaku menghilang, kepalaku tiba-tiba terasa sangat ringan dan jernih. Aku tersenyum, semua kabut hitam yang selama ini menutup pikiranku selama ini telah menghilang.

"NATSUME-NII!" teriak Aoi sambil membuka pintu kamar ini "Mikan-nee telah dibawa pergi oleh okaa-san dan Hotaru-nee ke ruang pesta. Mereka akan segera mengumumkan pertunangan ini dengan resmi sekarang!"

Aku mengangkat wajahku menatap Aoi yang pucat pasi dan tersenyum "Serahkan semuanya padaku, Aoi."

Kaname POV

Aku menahan napasku saat melihat Mikan berjalan memasuki ruangan ini bersama Kaoru-san dan Hotaru begitu juga dengan semua orang yang berada di dalam ruangan pesta ini. Semua mata yang ada di ruang ini tertuju padanya sesaat dia memasuki ruang ini, terpesona.

Mikan sungguh cantik, dia luar biasa cantik.

Kaoru-san dan Hotaru menuntutnya ke arahku dan Ioran-jiisan dengan pelan.

Aku sama sekali tidak bisa berhenti tersenyum begitu melihatnya. Gadis yang berjalan di depanku sekarang ini adalah tunanganku, istriku di masa mendatang. Aku bisa melihat tatapan iri dari pria-pria yang ada di ruangan ini dengan jelas. Aku sama sekali tidak pernah menyangka aku akan seberuntung ini, aku bisa memilikinya, dia akan menjadi milikku.

Semakin dekat dia mendekatiku, aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan debaran jantungku yang berdetak semakin cepat, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengungkapkan kegembiraan di hatiku sekarang.

Dia tersenyum lemah saat menatapku dan aku bisa melihat mata coklat madunya itu memancaran kesedihan dan penderitaan.

Aku menggepalkan tanganku, aku paham sekali maksud sinar matanya itu. Dia sebenarnya sama sekali tidak menginginkan pertunangan ini sepertiku, dia menerima pertunangan ini demi perusahaan keluarganya, dia menerima pertunangan ini karena dia sama sekali tidak tahu bahwa apa yang dikatakan Ioran-jiisan kepadanya sebenarnya adalah kebohongan.

Dia masih mencintai Natsume Hyuga, dia masih mencintainya, dia sama sekali tidak mau memberikanku kesempatan untuk mencintainya dan juga kesempatan bagi dirinya untuk mencintaiku. Aku berpikir, jika saja yang berdiri di depannya sekarang ini adalah Natsume Hyuga bukan aku, apakah dia masih akan berwajah seperti itu? Apakah dia akan tersenyum bahagia?

Kaoru-san menyerahkan tangan Mikan padaku sambil tersenyum.

Aku menggenggam tangannya dengan lembut dan aku bisa merasakan betapa dinginnya tangannya. Aku memasang senyum terbaikku dan menatapnya dengan lembut, namun yang bisa kulihat dari wajahnya itu tetaplah kesedihan dan penderitaan.

Hatiku terasa sangat sakit, kenapa dia sama sekali tidak memilihku, kenapa dia sama sekali tidak mau melupakan Natsume Hyuga. Natsume Hyuga sudah meninggal, dia sudah mati, dia sudah tidak ada di dunia ini, dia tidak akan dapat membahagiakannya lagi, yang bisa membahagiakannya sekarang hanyalah aku.

Apakah di matanya itu sama sekali tidak ada aku? Apakah di dalam hatinya itu sama sekali tidak ada ruang untuku? Tidak peduli apa yang aku lakukan.

Tidak. Tidak akan aku biarkan itu terjadi, aku telah bersumpah kepada Ioran-jiisan, Kaoru-san, Ruka-senpai, Hotaru dan juga Aoi-chan bahwa aku akan membuatnya melupakan Natsume Hyuga.

Mikan adalah milikku sekarang, aku tidak akan membiarkannya mencintai Natsume Hyuga terus.

Ruka POV

Aku berdiri di samping pintu ruang pesta yang sedang berlangsung dengan penuh kewaspadaan.

Hatiku sebenarnya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rei-san mengenai Tsubasa. Tsubasa tahu Natsume masih hidup, dia membantu Natsume untuk mencari ingatannya yang hilang dan kemungkinnan besar dia telah menyelinapkan Natsume ke dalam mansion ini.

Tsubasa sama sekali tidak mau memberitahu di mana Natsume berada sekarang, dia juga sama sekali tidak mau mengakui bahwa dia membantu Natsume. Karena itu Ioran-jiisan terpaksa memperketat ruang pesta dan mempercepat acaranya.

"Para hadirin yang terhormat, terima kasih kalian telah bersedia hadir di dalam mansion ini hari ini.."

Aku bisa mendengar suara Ioran-jiisan yang berada di dalam ruangan belakangku dengan jelas. Acaranya akhirnya dimulai.

Aku hanya bisa menghela napas sambil menutup mataku, aku berharap semoga Natsume sama sekali tidak berada di dalam mansion ini, aku sama sekali tidak mau melihatnya menyaksikan gadis yang dicintainya itu ditunangkan dengan orang lain di depan matanya sendiri, itu pasti sangat menyakitkan.

"Seperti yang kalian ketahui, hari ini adalah hari yang…" lanjut Ioran-jiisan yang berada di dalam ruang pesta itu.

Saat aku membuka kedua mataku, tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang pemuda yang berlari dengan sangat cepat ke arahku. Mataku terbelalak saat melihat siapa pemuda itu.

Natsume. Itu Natsume, Natsume benar-benar berada di mansion ini sekarang.

Natsume berhenti berlari begitu melihatku yang berdiri menatapnya dengan wajah terkejut.

"Berhenti di sana Natsume Yukihira!" teriakku menghentikannya.

Dia sama sekali tidak mempedulikan teriakkanku itu, dia berjalan dengan pelan ke arahku.

"Oke. Maafkan aku, maaf karena aku telah membohongimu, namun kau harus tahu, kau sama sekali bukan Natsume Hyuga, jangan kau hancurkan kebahagiaan orang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu." Ujarku membohonginya, dia tidak boleh masuk ke dalam ruang pesta di belakangku ini, atau semua yang kami lakukan akan sia-sia.

Dia sama sekali tidak mengatakan apapun dia menatapku dengan tajam dan penuh kebencian, aku merasa ketakutan menyerangku saat melihatnya.

Aku berusaha untuk menghentikannya. Namun, dengan mudah dia mendorongku dengan kasar hingga membentur dinding di belakangku "Jangan halangi jalanku."

Aku menatapnya dengan wajah pucat sekarang, dia berbeda sekali dengan Natsume yang ku temui beberapa hari yang lalu, matanya sama sekali tidak memancarkan sinar kebingungan lagi, sama sekali tidak ada lagi keraguan di dalam mata merahnya.

"Jangan halangi aku lagi, Ruka."

Mataku terbelalak saat mendengarnya memanggilku. Ruka. Barusan dia memanggilku Ruka. Sejak aku bertemu dengannya lagi setelah dia kehilangan ingatannya, dia memanggilku Nogi, dia sama sekali tidak pernah memanggilku Ruka, dia hanya memanggilku Ruka sebelum dia kehilangan ingatannya, dia hanya memanggilku Ruka sebelum dia mengalami kecelakaan lalu lintas dan kehilangan memorinya dua tahun yang lalu. Tidak mungkin.

Tidak mungkin, dia kini memanggilku Ruka, dia memanggilku Ruka karena…

Karena memorinya yang hilang itu telah kembali.

"Hari ini akan ku umumkan secara resmi, putriku Mikan Hyuga akan bertunangan dengan.." Ujar Ioran-jiisan dari dalam ruangan di belakangku, namun sebelum Ioran-jiisan sempat menyelesaikan ucapannya itu Natsume telah membuka pintu tersebut.

"HENTIKAN PERTUNANGAN INI!" teriaknya.

Mikan POV

Aku hanya bisa memasang senyum kecil yang penuh kepalsuan saat mendengar apa yang diucapkan otou-san. Aku akan bertunangan secara resmi dengan Kaname-kun setelah ini, semua yang ada akan mengenalku sebagai tunangan Kaname-kun setelah pesta ini selesai.

"Seperti yang kalian ketahui, hari ini adalah hari yang…" Ujar otou-san.

Aku menutup mataku dan berharap ini semua hanyalah mimpi, aku berharap aku hanya bermimpi sekarang. Namun ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan.

Aku ingin lari dari tempat ini, aku ingin keluar dari ruangan ini. Aku berdoa di dalam hatiku, aku berdoa di dalam hatiku supaya terjadi keajaiban, berdoa Natsume akan muncul untuk menghentikan pertunangan ini dan membawaku keluar dari sini. Namun, aku tahu, itu tidak mungkin sebab Natsume sudah meninggal dua tahun yang lalu.

"Hari ini akan ku umumkan secara resmi, putriku Mikan Hyuga akan bertunangan dengan.."

"HENTIKAN PERTUNANGAN INI!" teriak seseorang tiba-tiba.

Aku segera membuka mataku begitu mendengar suara teriakkan itu. Aku kenal suara itu, suara yang tidak mungkin ku lupakan dalam hidupku.

Semua orang yang ada di ruangan ini membalikkan wajahnya menghadap sumber suara itu dan aku bisa melihat seorang pemuda berjalan memasuki ruangan ini.

Mataku dan juga mata semua yang ada di ruangan ini terbelalak saat melihat pemuda itu. Rambut berwarna hitam, mata berwarna merah, hidungnya yang mancung, alis matanya yang pendek, wajahnya yang luar biasa tampan itu.

Natsume.

Itu Natsume, yang berjalan memasuki ruang ini dan menghentikan pengumuman pertunanganku ini adalah Natsume.

Aku mengangkat tanganku menutup mulutku yang terbuka. Keajaiban, keajaiban telah terjadi, tuhan telah mendengar doaku, tuhan telah mengabulkan doaku.

Aku melihat dia berjalan mendekatiku, semua yang ada segera membuka jalan untuknya sambil menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Dia berhenti berjalan dan berdiri tidak jauh dariku sambil menatapku.

"Mikan…." panggilnya pelan.

Aku sama sekali tidak bisa menghentikan air mata yang kini telah mengalir menuruni pipiku. Dia benar-benar ada di depanku, dia datang untuk menghentikan pertunanganku, dia datang untuk membawaku keluar dari tempat ini.

Dia mengangkat tangannya ke arahku "Kemarilah..."

Aku sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi, kegembiraan memenuhi hatiku, mimpikah ini? Ilusikah ini? Nyatakah ini? Bukan. Ini bukan mimpi, bukan ilusi, ini adalah kenyataan.

"Natsume…." Panggilku pelan sambil tersenyum.

"Hentikan Mikan! Dia sama sekali bukan Natsume Hyuga, dia adalah Natsume Yukihira. Natsume Hyuga telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, yang di depanmu itu hanyalah seseorang yang memiliki wajah yang sama dengannya!" Ujar Hotaru tiba-tiba.

Aku menolehkan wajahku menatap Hotaru. Apa yang barusan diucapkannya? Yang di depanku itu bukan Natsume, yang di depanku itu hanyalah seseorang yang memiliki wajah yang sama dengan Natsume?

Aku kembali menolehkan wajahku menatap Natsume yang ada di depanku. Benarkah itu bukan Natsume? Benarkah yang di depanku ini sama sekali bukan Natsume?

Aku melihatnya menghela napas dan berkata "To Tangerine apapun yang terjadi, perasaanku padamu takkan berubah sampai kapanpun. From Jujube."

Aku tahu kata-kata itu, itu adalah isi dari surat pertama dari sekian banyak surat yang di tuliskannya untukku, isi dari surat yang hanya diketahui aku dan Natsume, isi surat yang merupakan harta paling berharga dalam hidupku.

"Ini aku, Bodoh. Aku sama sekali belum mati, sampai kapan kau mau berdiri di sana?" lanjutnya sambil tersenyum menyeringai.

Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyumku lagi, aku segera berlari ke arahnya, aku sama sekali tidak mempedulikan teriakkan otou-san, okaa-san, Hotaru maupun Kaname-kun lagi. Aku berlari mendekatinya dan sambil tertawa, aku meloncat memeluknya. Dia membuka kedua tangannya dan menangkapku, dia memelukku dengan erat sambil tersenyum.

Aku bisa mencium baunya yang khas, aku bisa merasakan sentuhannya, aku bisa merasakan kehangatannya. Dia sama sekali tidak menghilang lagi dari hadapanku saat aku mendekatinya, aku bisa menyentuhnya sekarang, dia masih hidup, dia nyata. Aku mengangkat wajahku menatapnya dari dalam pelukannya, dia tersenyum menatapku dengan lembut, senyum yang sangat ku rindukan.

Air mata mengalir menuruni pipiku, tapi aku tahu ini bukan air mata kesedihan, ini adalah air mata kebahagiaan, air mata kebahagiaan karena akhirnya aku matahariku telah kembali, air mata kebahagiaan karena dia telah kembali ke dalam hiduku.

Dia mengangkat tangannya menghapus air mataku "Jangan menangis lagi, tersenyumlah. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

Aku tersenyum dan menangguk kepalaku begitu mendengar ucapannya itu.

"Ayo kita pergi dari sini." Katanya sambil menarik tanganku dan berlari keluar dari ruangan ini.


Berikan tepuk tangan padaku! Aku sama sekali tidak menyangka aku bisa menyelesaikan chapter ini yang lebih dar 5rb kata dalam jangka waktu satu setengah hari ( Hebat juga ya aku ini. Ha..Ha...ha...). Yes! Natsume dan Mikan telah bertemu dan juga memori Natsume telah kembali, bagaimana pendapat kalian mengenai chapter ini? review ya^^ alasan kenapa mereka tidak pernah direstui akan terjawab di chapter berikutnya, karena itu persiapkan hati kalian pada chapter berikutnya ya?^^

Valcross : Update ku cepatkan kali ini ^^ kali ini aku benar2 update kilat ( ha..ha..ha...) untuk YxA, ya mang cepat banget sih perkembangan kisah mereka, tapi aku sangat suka mengetik tentang mereka loh! kini di dalam fic ini mereka adalah pasangan favo gw selain NxM ^^. Bagaimana dengan chapter ini? mengejutkan u gak? (ha..ha..ha...)

Kuroichibhinko : Mereka telah bertemu, semoga pertemuan mereka tidak mengecewakanmu ^^ untuk Kaname kayak kau baal semakin membencinya deh ^^

Yuuto Tamano : Oke, kali ini benar2 update kilat kan? bagaiman menurutmu chapter ini? pertemuan mereka tidak mengecewakanmu kan?

Rurippe No Kimi : iya, mafia tu musuh abadiku, walau aku tidak tahu mengapa setelah lulus sekolah aku malah berkerja di tempat yang sangat mementingkan hitungan ( T_T mungkin ini namanya kena batu ) bagaimana chapter ini? semoga tidak mengecewakanmu deh!^^ untuk YxA, tenang saja mereka masih harus melewati beberapa rintangan dulu untuk bisa bersama ( mungkin bakal rumit juga kisah mereka nantinya, walau tidak serumit NxM )^^