Sudah hampir satu jam Baekhyun hanya termenung dengan sudut bibir tertarik keatas secara penuh. Rasa kantuk seperti tersangkal ketika Baekhyun juga sibuk mengatur debar menyenangkan dalam hatinya. Terselip sejumput kemenangan kala dia merasa tidak ada yang bisa mengalahkan banyak kebahagiaan yang juga membuat kakinya beberapa kali menendang random.
Sesuatu perak melingkar di jari manisnya. Baekhyun bahkan belum genap 20 tahun untuk mengetahui apa ini sebuah keseriusan berlatar dewasa atau hanya candaan yang terlontar terlalu serius. Tapi nyatanya Baekhyun terlarut dalam desir mendayu yang membuatnya enggan menanggapi pikiran buruk yang selalu ia takutkan.
"Chanyeol..." kemudian kebodohan baru yang Baekhyun perbuat adalah dengan mengambil poselnya dan mencari satu nama yang ia tulis dengan nama formal. Park Chanyeol. "Kau sudah tidur?"
"Oh, Baekhyun-ee. Belum, aku masih membaca buku."
"Ah, sedang belajar, ya? Kalau begitu aku tutup telfon—"
"Tidak, tidak. Aku hanya membaca buku otomotif. Jangan dimatikan, aku senang mendengar suara Baekhyun-ee."
Lalu terdengar sedikit keributan di seberang sana dan berlanjut keheningan yang terjadi beberapa detik.
Ketahuilah, ini kali pertama Baekhyun merelakan harga diri untuk ia sembunyikan di kantong celana demi menghubungi seseorang spesial melalui telfon. Akibatnya, Baekhyun tidak memiliki pembicaraan yang berarti sebagai alasan mengapa dia sudah menurunkan sedikit standar keluluhannya pada si adik kelas ini.
"Baekhyun-ee."
"Ya?"
"Kenapa diam?"
"Oh, i-itu...emm..tidak, tidak jadi. Aku tutup, ya? Maaf mengganggu."
"Ada yang ingin Baekhyun-ee sampaikan padaku?"
"Emm..tidak."
"Baekhyun-ee pasti sudah merindukanku? Astaga mesranya, baru ditinggal beberapa jam sudah rindu."
"Siapa yang rindu? Aku hanya ingin bertanya apa acara di rumahmu sudah selesai. Jangan terlalu percaya diri."
Baekhyun membalikkan tubuh ke kanan, yang mana membuatnya berhadapan langsung dengan cermin yang terletak di sebelah ranjangnya. Ada sesuatu memerah di pipi, mirip kepiting perawan rebus yang dilanda jatuh cinta berkepanjangan.
"Oh, jadi tidak rindu, ya? Pantas saja rasanya berat."
"Apa yang berat?"
"Rindu yang ku pikul seorang diri. Padahal kalau dipikul berdua pasti lebih terasa lengkap. Ya sudah, tidak apa aku pikul sendiri. Baekhyun-ee jangan memikul yang berat-berat nanti lelah."
"Kalau berat, sini berbagi denganku. Jangan banyak-banyak, aku tidak kuat."
Apa yang barusan Baekhyun katakan? Ingin rasanya dia menarik semua itu tapi dia sudah terlanjur malu dengan ucapannya sendiri yang ditanggapi kekehan oleh Chanyeol.
"Baekhyun-ee mau? Rinduku ini bisa menyebabkan ketagihan."
"Sedikit saja, kan? Aku bisa menahannya."
"Senangnya kalau Baekhyun-ee juga rindu denganku."
Dan tercetaklah sebuah senyum melebar dari bibir Baekhyun hingga berakibat kakinya meronta terlalu kuat dalam mengekspresikan semua yang terasa bergetar.
"Baekhyun-ee,"
"Ya?"
"Mulai besok berangkat sekolah denganku, mau?"
"Harus, ya?"
"Emm.. tidak juga. Baekhyun-ee bisa menolak jika tidak mau."
"Tidak kejauhan jika menjemputku dulu?"
"Apalah artinya sebuah jarak ketika cinta sudah berbicara."
Sial! Sial! Baekhyun memiliki kemerahan semakin jelas di pipinya. Kenapa Chanyeol semakin jauh menangkup hati Baekhyun yang sebelumnya terkunci rapat? Dia bahkan tak memiliki kendala berarti meski di awal Baekhyun membangun benteng terlalu tinggi.
"Mau, tidak?"
"Ya sudah kalau memaksa."
"Assa!"
"Sekarang sebaiknya kita tidur. Sudah malam."
"Selamat malam, Baekhyun-ee."
"Selamat malam, Chanyeol...ie."
"CHANYEOLIE?! Apa kau mem—"
Tut!
Belum sempat Chanyeol melanjutkan, Baekhyun lebih dulu memutus sambungan karena rasa malunya sudah melebihi batas. Segera ia ambil bantal dan menutup penuh kepalanya demi panggilan yang spontan ia berikan. Astaga, Baekhyun benar-benar memiliki ketahan yang buruk untuk harga diri tapi dia tidak menyesal melakukan hal itu.
.
.
Chanyeol menepati ucapannya. Dia datang 10 menit lebih awal dari jadwal keberangkatan Baekhyun biasanya. Pakaiannya terlihat rapi dengan rambut ia sisir sedikit klimis ke atas dahi. Aroma parfumnya menyalak hingga di jarak 2 meter Baekhyun bisa mencium semua itu dengan jelas.
Skuter pink itu menjadi saksi dimana Baekhyun duduk di belakang Chanyeol dengan aman menuju ke sekolah. Mereka saling terjerumus dalam diam meski sebenarnya dalam hati ada yang menggebu tak karuan. Baekhyun berusaha mengendalikannya dengan sesekali menarik napas panjang lalu membuang perlahan dan mencoba tidak menumbuhkan semu di pipi. Tapi ternyata susah. Chanyeol mematahkan semua usaha Baekhyun ketika di suatu jarak yang tersisa menuju sekolah, sebelah tangan yang tak memegang kendali gas itu mendarat di kaki Baekhyun. Usakan kecil mulai Baekhyun rasakan di kakinya, membuat desir darah semakin meluap dan detak tak karuan ini semakin menggila.
Sesampaianya di sekolah mereka masih dalam mode diam hingga akhirnya Baekhyun berbelok ke kiri menuju kelas dan Chanyeol masih harus menuju ke lantai 2. Namun baru satu langkah Baekhyun memasuki kelas, tubuhnya terbalik lagi dengan dua tangan sudah mencengkeram pundaknya.
"Selamat belajar kesayangan." Lalu kecupan di dahi itu adalah satu-satunya penyebab mengapa sorak-sorak dalam kelas terdengar riuh.
Baekhyun terpaku dengan diamnya ketika Chanyeol melangkah pergi dengan senyum mengembang lebar di bibirnya.
Itu tadi apa?
.
.
Matahari sudah mulai sedikit menghangat ketika masuk jam pelajaran ketiga. Baekhyun dan teman-teman satu kelasnya sudah mengenakan pakaian olahraga dan berniat melakukan tes lari yang sudah terjadwal sebelumnya. Baekhyun tidak terlalu suka berolahraga karena itu akan membuat tubuhnya berkeringat. Tapi pagi ini mendadak dia melupakan semua itu ketika di seberang lapangan Baekhyun menemukan sosok tinggi menjulang yang sedang melakukan pemanasan.
Tak butuh waktu lama bagi dua pasang mata itu untuk saling menangkap keberadaan masing-masing. Terlihat jelas di mata Baekhyun bagaimana senyum yang lebar itu hanya tertuju padanya beserta simbol hati besar di atas kepala yang di buat tanpa tahu malu.
"Baekhyun-ee," teriakan lantang itu Baekhyun tanggapi dengan senyum malu-malu.
Sebenarnya Baekhyun masih ingin menikmati bagaimana Chanyeol terus tersenyum padanya dengan caranya yang manis. Tapi panggilan untuk melakukan tes menjadi jurang pemisah dan Baekhyun hanya bisa mendengus kesal dengan hal itu.
Sekelibat anak yang berlari di lapangan tak membuat Baekhyun berhenti memperhatikan sosok yang tengah serius mendengarkan instruksi. Rambutnya yang hitam pekat, tubuhnya yang tinggi, air wajahnya yang serius itu mendadak menjadi hal baru yang ingin Baekhyun lihat setiap waktu. Chanyeol benar-benar menyihir Baekhyun hingga pada tahap sebodoh ini untuk kembali merasa debaran dalam hati. Menanggapi semua itu nyatanya Baekhyun tak ambil pusing dan memilih mengikuti bagaimana arus yang berjalan. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun ketika Chanyeol selalu datang dan menyebut ketulusan adalah dasar dari semua ini. Hingga akhirnya, ketika Baekhyun baru selesai dengan tes-nya dan berniat memberikan sebotol air pada si adik kelas di seberang sana, Baekhyun baru sadar dia memiliki sebuah kekhawatiran yang nyata.
Langkah yang semula tercetak riang untuk menghampiri itu terhenti tepat saat semesta mulai mengajarkan apa itu rasa sakit. Seharusnya Baekhyun tak mengambil langkah maju dan dia cukup merasa kuat untuk menggenggam botol yang ada, tapi apa yang bisa dilakukan lagi ketika dalam jarak sedekat ini ada satu bibir yang mencuri cium di pipi adik kelas.
"B-baekhyun-ee,"
Dalam keadaan ini Baekhyun merasa bodoh, hingga melarikan diri adalah satu-satunya yang terpikir. Efek tes lari masih ada di kakinya, dia berlari tanpa mempedulikan keadaan di belakang yang sedang memanggil namanya berkali-kali.
Bodoh! Seharusnya Baekhyun sadar dari awal untuk tidak terjerembab terlalu dalam. Sesak di dada membuatnya teringat akan seseorang yang terang-terangan mengatakan ingin menjadikan Chanyeol sebagai seorang pacar.
Lalu ketika kaki Baekhyun terasa memberat karena seseorang berhasil menggapainya, Baekhyun hanya menundukkan kepala seraya menahan sesuatu yang memanas di pelupuk mata.
"Kenapa lari?" yang lebih tinggi bertanya dengan napas masih belum teratur. "Hm?"
"Tidak apa."
"Baekhyun-ee mau memberikan minuman ini padaku?" botol yang terjatuh di lapangan itu Chanyeol berikan pada Baekhyun.
"Aku hanya ingin membuangnya."
"Kenapa di buang? Baekhyun-ee sudah susah payah membawakannya untukku."
Baekhyun tak memiliki kata lagi, dia memilih diam untuk sesuatu yang hampir menetes di pelupuk matanya.
"Baekhyun-ee," Chanyeol menarik dagu runcing itu, membuat kaitan pandang dengan yang lebih kecil, "Kalau mau menangis, menangis saja. Jangan malu."
"Siapa yang mau menangis? Aku tidak menangis."
"Jangan percaya pada mata, ya?" lalu rengkuhan itu Chanyeol berikan dan menyimpan Baekhyun hangat-hangat dalam tubuhnya yang masih memiliki aroma maskulin.
"Aku percaya pada fakta."
"Dan faktanya memang apa yang kau lihat bukan seperti itu." usakan kecil itu Chanyeol berikan ketika merasa dadanya mulai basah, "Maaf, ya?"
"Mungkin karena aku terlalu jauh mengharapkanmu." Baekhyun menjadi yang pertama untuk menjauh, mengusak sebentar apa yang membasahi pipinya sebelum menarik napas lebih dalam, "Kau mungkin lelah dengan aku yang kaku. Aku bisa mengerti."
"Sayang..."
"Jika menungguku terlalu lelah, kau bisa dengan dia. Sebelum aku terlalu jauh denganmu."
"Tidak ada yang lelah dan tidak ada yang boleh menjauh." Pelukan itu kembali Baekhyun dapatkan, "Baekhyun-ee, selamanya hanya Baekhyun-ee. Aku sudah teramat jatuh cinta denganmu dan melepasmu bukan sesuatu yang bisa terjadi dalam sekejap mata. Percayalah, hanya Baekhyun-ee."
"Tapi kenapa tadi diam saja saat dicium?!" lalu hentakan kaki dan picingan mata lucu itu Chanyeol terima setelah pelukannya di lepas. "Kau suka, kan, di cium sembarangan?!"
"Tidak, Baekhyun-ee. Aku mana tahu Kyungsoo akan mencium. Tadi dia mengatakan ingin membisikkan sesuatu, ya sudah aku mendekat. Tapi ternyata,"
"Dasar!"
"Demi apapun aku tidak menyukainya, sayang.."
Baekhyun membalik tubuhnya dengan tangan terlipat di dada. Kerucutan bibir merah ranum itu mendadak membuat Chanyeol gemas dan ingin mencuri cium. Tapi sekarang dia sedang berada dalam peran seseorang yang harus menjinakkan kekasih merajuk.
"Bohong!"
"Aku serius!"
"Ya sudah," lipatan tangan di depan dada itu Baekhyun lepas, berganti memegang pundak Chanyeol dengan sedikit menjinjit untuk menyamai tinggi si adik kelas. "Aku akan menghapus bekasnya!"
Satu kecupan terdampar sangat manis di pipi Chanyeol dan membuat lelaki itu tercengang untuk beberapa detik.
"Baekhyun-ee,"
"Apa?"
"Boleh minta lagi?"
"Apanya?"
"Ciuuuummmmmmm."
.
.
TBC? END?
Basyot : dasar Chanyeol tukang ketagihan cium! Hehe...
P.S : they dont need specific words to interpret their special realationship! Saranghae~
