Chapter 14
My Highschool, My Love
.
.
.
.
.
3 hari pasca pertengkaran Kim Jongdae vs Kim Minseok.
"Aku tahu jika aku bodoh, mulutku bodoh, tanganku bodoh otakku bodoh dan semua yang aku lakukan padamu adalah replika dari kebodohan itu sendiri. Aku tidak bermaksud sok puitis karena aku bukan Suho. Aku tidak mau dendam padamu karena aku bukan Kris, aku juga tidak akan mengabaikanmu selamanya karena aku bukan si jutek Sehun. Yang jelas—"
"Sunbae, bisakah kau mengatakannya lebih cepat dan langsung ke intinya saja ? Aku lapar."
Jongdae berkedip, mengangguk. Mengeluarkan kotak seukuran buku tulis dan menyodorkannya dengan 2 tangan. "Maafkan aku… Chanyeol."
Gubrak !
Kris dan Sehun yang duduk semeja dengan Chanyeol di kantin sudah menjatuhkan kepala pada kayu keras itu.
"Kau menyogokku ya ?" Chanyeol menyeringai. Jongdae dengan wajah berdosanya masih keras kepala menyodorkan kotak kepada Chanyeol.
"Apa isinya ?"
"Rasa bersalahku"
"Huh ?!"
"Aku memberimu cokelat"
"Sudah kuduga, itu sogokan. Aku tidak mau, aku tidak suka cokelat."
"Terserah kau suka cokelat atau tidak, yang jelas kau harus memaafkanku !"
"Kau memang tidak menjadi 3 orang yang barusan kau sebutkan dalam kalimat sok dramamu, tetapi kau menjadi Lay Sunbae yang suka membentak orang la—Oh Lay Sunbae, selamat siang. Aku sedang memujimu jadi jangan menarik telingaku." Chanyeol nyengir kuda setengah takut.
"Bicara apa Ketua OSIS idiot ini." Lay memutar bola mata bosan. Memutuskan mencari tempat duduk lain dan sasarannya adalah Kyungsoo and the genk.
"Xiumin sudah 3 hari mengabaikanku." Jongdae memberi tahu setelah melempar cokelatnya tepat ke muka Chanyeol. Ia sedang melakukan kekerasan, tetapi jangan khawatirkan apapun karena kita sedang membicarakan wajah tembok Chanyeol disini. Wajah itu sudah pernah ditonjok, masuk Koran, masuk TV (karena skandalnya dengan Baekhyun), dihantam bola basket Kris dan dilempar batu oleh Suho. Semua itu membuat wajah Chanyeol sekeras beton.
"Dan itu salah siapa jika Xiumin mengabaikanmu ?"
"Tentu saja itu salahmu."
"Yach Sunbae ! kau ini berniat minta maaf atau tidak sih ?" Chanyeol merengut kesal.
"Oke, aku minta maaf karena tanganku sudah membuat wajahmu jelek."
"Apa itu tulus ?"
"Sangat tulus Chanyeol. Ya Tuhan, kau ingin ditonjok sekali lagi ?!"
"Wow, Kau sangat sensi." Chanyeol berseru dan melahap makan siangnya yang sempat tertunda.
Sementara itu Kris berdehem, menarik perhatian mereka.
"Kalian berkelahi ?"
Chanyeol dan Jongdae mengangguk.
"Untuk orang yang sedang berkelahi, kalian kompak. Tapi apa masalahnya ?"
Chanyeol menunjuk Jongdae dengan sebelah mata, "Dia meninju pipiku karena mengira bahwa aku akan mencium orang yang dia sukai."
"Sulit dipercaya, bagaimana mungkin kalian yang berteman malah berkelahi hanya karena perempuan." Itu Sehun yang menyahut.
Kris memutar tubuh menghadap Sehun yang duduk disampingnya. "Nak, apa kau sedang menyindir diri sendiri ?"
"Apa maksudmu ?"
"Kau juga berkelahi dengan Jongin karena Luhan. Setahuku dia hanya perempuan."
Terbatuk sedikit, Sehun bertukas acuh. "Setidaknya aku dan Jongin tidak berteman." Detik berikutnya ia nyaris saja terjengkang dari kursi karena Kris tiba-tiba mendekatkan wajah pada wajah Sehun. Itu seperti adegan bromance mengerikan. Sehun meraih garpu untuk jaga-jaga.
"Sehun, Luhan dan Jongin. Ada apa diantara kalian bertiga ?"
"Ada 'koma' kemudian kosakata 'dan'. Sekarang menjauh dariku." Sehun mengangkat garpunya sementara Kris mundur sambil terkekeh-kekeh.
"Augh ! manis sekali. Tampang salah tingkah." Celoteh Kris riang gembira. Akal sehat Sehun menahan diri untuk tidak menancapkan garpunya pada ubun-ubun manusia sarap ini.
"Terkadang teman harus berkelahi agar menjadi sahabat." Jongdae menyenggol bahu Chanyeol. "Bukan begitu Ketua OSIS ?"
Chanyeol mengangguk. "Aku setuju. Ungkapanmu sangat keren, kau dapat dari mana ? bisakah kau memberiku yang lainnya untuk merayu Baekhyun ? bisakah ? bisakah ?!" ia bertanya heboh, menyebabkan gumpalan nasi yang ada dalam mulutnya memuncrat keluar membasuh wajah Jongdae yang sudah merengut marah.
"Aku benar-benar akan menonjokmu !"
"Tidaaaaakkkk ! Jangan pipiku lagi. Jika kau tahu, ini masih sakit."
"Kau lebih baik karena sakit pipi, aku sakit hati."
"Aku tidak tanya."
"YACH !"
Sehun mengerang, "Bisakah kalian berhenti ? kalian berdua ribut seperti perempuan."
Jongdae dan Chanyeol yang bersitegang sontak memelototkan mata kepada Sehun yang nampak cuek. Oh, anak ini minta dihajar.
Jongdae sudah menyiapkan kepalan tinjunya dan Chanyeol akan selalu siap dibelakang Jongdae. Ulangi, selalu.
Ayolah, siapapun tahu bahwa Sehun adalah pemilik tinju maut yang berhasil menghancurkan wajah buruk rupa Jongin. Tentu saja Chanyeol tidak mau coba-coba mencari masalah dengan anak ini. Jika Jongdae babak belur, maka Chanyeol akan berlari.
Tetapi sebelum Jongdae memberi Sehun pelajaran tonjok-menonjok, Kris sudah lebih dulu menyingsingkan lengan blazernya ke atas. Melepaskan pasangan sendok dan garpu. Memberi Jongdae tatapan membunuh.
"1 tonjokkan berarti seribu rasa sakit untukmu." Ditambah picingan mata sebengis iblis. Sehun tersenyum sok menang sementara Jongdae meruntuhkan tinjunya dan berganti menepuk-nepuk bahu Kris.
"Oi Kris, aku hanya bercanda. Kau tidak seharusnya menganggapku serius. Tenang saja, aku tidak akan menonjok Sehun tersayangmu kok."
"Lebih baik kau tidak pernah melakukannya atau kau berakhir terkapar di rumah sakit."
"Lalu kenapa Jongin tidak terkapar di rumah sakit sekarang ?"
Itu karena Sehun, Luhan dan juga Jongin terlihat sama-sama terluka. Bukan hanya luka diwajah, tetapi aku meyakini bahwa perkataan Sehun mempengaruhi keadaan hati mereka. Buktinya Luhan hilang setelah itu.
Kris berdehem sejenak,"Aku sedang menunggu moment yang tepat. Jadi kalian tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada Jongin." Kris memungut kotak cokelat di atas meja. "Boleh kumakan ?"
Chanyeol merampasnya dan menimang cokelat itu layaknya bayi. "Kau tidak boleh menyentuhnya Sunbae. Ini adalah bukti bahwa aku dan Jongdae sudah berbaikan." Chanyeol menoleh pada Jongdae, "Omong-omong, apa kau sudah minta maaf pada Xiumin ?"
Jongdae menggeleng lemah dan Chanyeol tidak berhenti menganga lebar.
"Bagaimana bisa kau memberiku cokelat dan minta maaf padaku lebih dulu sebelum Xiumin memafkanmu ?"
"Aku tidak tahu caranya. Jika aku memberi Xiumin cokelat, itu akan membuatku terlihat seperti perayu. Jika aku memberinya bunga maka aku akan terlihat seperti—"
Chanyeol mendengus, "Jangan mulai please. Baiklah, aku akan menunjukkan kepada kalian apa itu yang dinamakan laki-laki." Chanyeol meninju udara dengan gesture semangat tempur.
Sehun menghentikan makan siang dan mendongak melihat betapa hiper ketua OSIS sekolahnya ini. "2 kata untukmu" kata Sehun bersedekap. "Mari. Lihat"
Yang terjadi menit berikutnya adalah Chanyeol mempersembahkan ratusan wink kepada Sehun yang sibuk memegangi perut nyaris muntah. Mengacungkan jari tengah dan geraman kesal. Si tiang listrik segera menghindari intimidasi Sehun dengan cara berlarian seperti bocah SD menuju meja makan Kyungsoo cs. Alasannya tentu saja karena Baekhyun ada disana, sedang memandangi Jongin yang memasuki kantin bersama Suho.
Chanyeol tidak terlalu mempedulikan itu tapi ada seseorang yang peduli.
..
"Jika aku menemukan mereka, maka aku bersumpah akan mematahkan lehernya seperti ini." Xiumin meremas kaleng minum sampai benar-benar tidak berbentuk. Lay, Tao dan Kyungsoo yang memandanginya memasang raut ngeri. Tidak lupa meneguk ludah.
"Susu basi, bunga bangkai, seragam olahraga terendam air selokan. Oke, itu masih wajar tapi Kecoak !" Xiumin menghempaskan telapak tangan ke permukaan meja. Baekhyun yang tadi sibuk menatapi Jongin otomatis ikut ngeri dengan Xiumin yang jiwa setannya tengah mengamuk. "Mereka membuat lokerku berubah menjadi penangkaran Kecoak !"
"Ayolah Xiumin, ada pembully-an yang lebih buruk dari itu." Baekhyun mencoba menghibur. Xiumin mendengus marah.
"Jongdae juga ugh…. ! aku ingin menggantungnya di patung Liberty. Dia bahkan tidak maaf padaku"
"Dia tidak minta maaf karena kau selalu mengabaikannya dimanapun." Lay menyeletuk.
"Jongdae selalu duduk di café yang sama, tempat yang sama dan jam yang sama hanya untuk bertemu dirimu yang cuek dan juga tidak peka ini. Seharusnya kau sudah tahu seberapa gila dia menyukaimu."
"Tapi Kyungsoo, Jongdae sunbae meninju Chanyeol. Chanyeol !" Xiumin menegaskan dan Kyungsoo menghirup napas bosan.
"Aku suka laki-laki yang seperti itu. Kau tidak perlu memikirkan perasaan Chanyeol atau Baekhyun juga akan menonjokmu."
"Huang Zitao, aku tidak ada hubungannya dengan Park idiot Chanyeol !" Baekhyun memprotes.
Tao mengangkat bahu dan nyengir panda, "Katakan itu pada raksasa yang tersenyum selebar parit dari jarak 5 meter."
"Siapa yang kau maksu—"
"4 meter"
Baekhyun tidak lagi menghadap Tao yang duduk didepannya. Berbalik ke belakang dan seolah seseorang telah melakukan sesuatu pada udara. Baekhyun menatap orang yang disana, tidak bisa bernafas. Panik.
"Park idiot Chanyeol ?"
"3 meter"
Xiumin tersenyum didalam ke-kekesalannya. "Coba saja itu Jongdae sunbae."
"Akan lebih baik jika dia adalah Sehun yang menghampiriku dengan senyum semenawan itu. Auw, Chanyeol membuatku jatuh cinta."
"2 meter"
Lay bertopang dagu. Menatap lekat pada senyum cahaya matahari milik Chanyeol. "Ketua OSIS, atlet basket, pemusik, tinggi, cerdas, tampan, romantis. Sempurna. Andai saja dia Joonmyeon."
Mereka terlalu fokus pada pesona amatir Park Chanyeol hingga tidak sadar bahwa Lay baru saja mengatakan suatu pengakuan. Ia langsung merapatkan rahangnya, menghela nafas lega karena mata para gadis masih termehek-mehek pada sosok jangkung yang matanya membulat sempurna setelah menemukan Baekhyun juga memandanginya dengan mulut sedikit terbuka. Itu imut. Tapi jangan sampai liurmu menetes.
Jaga image !
"1 meter"
Kolaborasi Editor dan Sutradara pasti baru saja melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tanpa celah. Chanyeol melangkah santai dengan sebelah tangan bersembunyi di belakang punggung. Baekhyun merasa perlahan angin berhembus lembut, menyibak tumpukan rambut hitam milik Chanyeol. Pemuda itu masih menyunggingkan senyum pada bibir, mirip tidak… senyum itu bahkan lebih mendebarkan daripada senyum Chanyeol ketika menyodorkan Bunga Mawar pada Baekhyun beberapa hari yang lalu.
Ini terasa seperti adegan telenovela romantis. Sebelah mata Chanyeol berkedip menggodanya, jantung Baekhyun tersipu-sipu malu tetapi tidak dengan wajahnya. Baekhyun berusaha segigih mungkin agar tidak goyah. Tidak akan.
"Sekarang !"
"Aku memiliki sekotak penuh berisi cinta. Baekhyunie, I Love You."
Oh shit !
XiuTaoLayKyung bersorak-sorak gaje minta dicincang. Sesuatu dalam diri Baekhyun sudah sepanas api neraka.
Sementara itu Jongdae dibelakang sana berteriak, "YACH ! ITU COKELATKU !" Sehun dengan segera melempar sendok padanya.
Chanyeol merasa was-was ketika Baekhyun menghela nafas, berdiri dihadapan Chanyeol face to face. Demi Neptunus dan juga Pluto, melihat wajah imut Baekhyun sedekat ini membuat jantung Chanyeol meledak-ledak.
"Sayang sekali tapi aku baru saja kehilangan Pangeran C dan setangkai bunga mawar"
"Kalau begitu aku akan membawakanmu bunga mawar besok." Chanyeol tersenyum, Baekhyun berdebar. "Ini untukmu."
Chanyeol menyodorkan cokelatnya, tangan itu mengambang diudara selama beberapa detik hingga tangan Baekhyun bergerak mendekati cokelat itu. Detakan jantung adalah satu-satu yang mampu Chanyeol dengar saat ini. Melupakan pekikan menyakiti telinga milik Kyungsoo dan juga siswa yang mulai berkerumun mengelilingi mereka.
Jepret kamera dan jeritan disana-sini.
1 cm lagi dan….
Plaakkk !
Jeritan hilang, Kyungsoo and the genk terperangah. Chanyeol mengelus pipi sementara cokelat ditangannya berhamburan dilantai.
"Pangeran C dan sekotak cokelat adalah gelar pengganti untukmu." Baekhyun menatap tajam pada Chanyeol sekali lagi sebelum mencibir dengan nada remeh. "Menyedihkan, berhenti menyukaiku !" Kemudian pergi dari sana. Menabrak siapapun yang menghalangi jalan dan tidak segan untuk membentak mereka dengan umpatan.
Tao melihat kepergian Baekhyun sambil menggumam, "Dia tidak sedang berpikir jika kita sedang syuting drama-kan ?"
Sehun mendengus miring, "Dia laki-laki."
Kris menggelengkan kepala, "Bodoh"
Jongdae mengangguk, "Memalukan."
Kyungsoo dan Lay saling berpandangan, "Penolakan kedua."
Jongin berdecak bersama Suho, "Bocah malang."
Chanyeol mengulas senyum tipis, membungkuk memunguti cokelat dan harga dirinya yang berhamburan. "Aku tidak akan menyerah."
.
.
.
My Higschool, My Love
Juliana Hwang
Rate : T+
Genre : Drama, Romance, Friendship, Family, Hurt/comfort(maybe), Fluff (maybe)
Chapter : 14/?
Warning : GS, School Life, Typo(s)
Fanfiction ini tidak berfokus pada 1 couple.
I DON'T HATE SILENT READER BUT PLEASE REVIEW
Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan alur, latar, dialog atau apapun. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.
Happy Reading
.
.
.
Baekhyun menangis.
Ingin menjerit dan melompat dari atap sekolah dan mati mengenaskan dibawah sana sekarang juga.
Ia bahkan melewatkan jam pelajaran, melupakan jaga imagenya dengan memilih memarahi diri selama 3 jam nonstop. Itu membuat mata Baekhyun bengkak, hidung tersumbat dan… sedikit ingus.
Untuk seseorang yang memiliki gelar artis muda pendatang baru tercantik sepanjang masa yang pernah ada…
Ulangi, yang pernah ada.
Keadaan Baekhyun saat ini mematahkan segalanya dan ia berada dalam kondisi yang benar-benar jelek dan kacau dan berantakan dan ingin mati saja.
Baekhyun ingin tubuhnya mengecil menyerupai kurcaci sekarang ketika telinganya menangkap bunyi deritan pintu besi. Takut seseorang menemukan betapa berantakannya ia, Baekhyun beringsut. Menempelkan punggung sedekat mungkin pada tembok lusuh, berharap ia mendapat keajaiban yaitu tidak terlihat sehingga orang yang baru saja menginjakkan kaki di atap sekolah tidak menyadari bahwa ada anak anjing menangisi hidupnya disini.
Tetapi harapan hanya tinggal harapan. Orang itu melihat Baekhyun. Menampilkan tampang cuek seperti biasanya dan tetap berdiri disana selama 10 detik kemudian berderap menghampiri Baekhyun yang masih berjongkok dilantai. Menyeringai miring.
"Apa kau datang kemari untuk menghiburku ?" Baekhyun bertanya sinis.
"Tentu saja tidak."
"Lalu apa ? jika kau ingin bolos lagi disini maka aku minta maaf padamu karena kau harus pergi sekarang juga. Tempat ini sudah aku booking."
"Bodoh seperti Chanyeol." gumam orang itu dan melangkah santai menuju pagar besi. Bertingkah seolah hanya ada dia sendiri disana dan Baekhyun tidak lebih dari sekedar batu.
Permintaan Baekhyun untuk tidak terlihat memang telah dikabulkan, tetapi diacuhkan seperti ini adalah hinaan. Bukankah Baekhyun adalah artis tercantik yang pernah ada… lalu kenapa orang cuek ini mengabaikannya ?
Berlari menghampiri orang itu yang sudah menumpuk kedua lengan diatas pagar besi, Baekhyun memberengut padanya dan bersedekap sembari menjatuhkan tatapan membunuh yang menurutnya terbaik.
"Aku ingin disini sendirian. Jadi bisakah kau pergi ?"
Tidak ada jawaban.
"Yach ! kubilang aku ingin sendiri."
Dia mengacuhkannya.
Baekhyun mulai panas, "Yach ! aku sedang bicara padamu Oh Sehun ! Aku tahu jika kau bukan orang baik, kau juga tidak ramah kepada siapapun tetapi aku ingin—" omelan Baekhyun terpotong ditengah jalan, mata sipit bengkaknya membulat sempurna. Bahkan Baekhyun tidak memiliki waktu untuk berkedip karena Sehun menyodorkan sapu tangan kepada Baekhyun tanpa meliriknya.
"Ap-apa ini ?" Baekhyun bertanya setelah berhasil mengatasi rasa terkejut.
"Apa aku harus mengajarimu nama-nama benda ?" Sehun menggumam dingin. Tidak terdengar kesal karena apa yang didengar Baekhyun hanya nada datar sedatar tampang Sehun.
"Aku tahu jika itu adalah sapu tangan. Yang tidak aku tahu adalah apa maksudmu dibalik semua ini"
Menyerah sekaligus terganggu dengan betapa berisiknya Byun Baekhyun, kali ini Sehun tidak hanya melirik tetapi sepenuhnya berbalik. Sapu tangan masih dalam genggaman, dahi Sehun mengernyit setelah beringsut ke belakang.
Melihat Baekhyun dari jarak ini, Sehun menemukan noda air mata, kelopak bengkak, hidung merah dan apa itu ingus ?
Aish !
"Bersihkan wajah menjijikkanmu itu." desisnya kesal, melempar muka Baekhyun dengan sapu tangannya.
Baekhyun menjepit hidung geram, tetapi Sehun benar jika wajah Baekhyun sangat menjijikkan melebihi gunung sampah. Jadi dengan gusar, Baekhyun menyeka wajahnya. Yakin bahwa noda-noda air mata telah berhasil dihapus, bibir Baekhyun tersenyum tipis dan menyerahkan kembali sapu tangan kepada Sehun yang mana menerbitkan dengusan jijik si pemuda pucat.
"Apa aku juga harus mengajarimu bagaimana caranya berterimakasih ?"
"Tidak. Aku sudah bisa. Jadi terimakasih." Ucap Baekhyun sangat tulus. Sehun memutar bola mata, masih menolak menerima sapu tangannya yang sudah tercemar ingus Baekhyun.
"Aku akan mengembalikannya setelah bersih." Tukas Baekhyun sadar diri. Menyimpan sapu tangan kotor ke dalam kantung blazer.
Sehun kembali ke posisi semula bertumpu pada pagar besi, menikmati udara dingin musim gugur dan daun kering berjatuhan, tetapi mobil hitam yang terparkir diseberang gerbang Wufan Highschool menarik perhatian Sehun. Pandangan pemuda ini terjatuh kesana sedangkan Baekhyun tidak ambil pusing soal apa yang tengah diperhatikan oleh Sehun dan terus meliriknya.
"Katakan saja." dengus Sehun dan Baekhyun tercekat. Sebenarnya Sehun punya berapa mata sih. Tapi karena sudah tertangkap basah maka…
"Mana ponselmu ?"
Alis Sehun mengerut, "Untuk ?"
"Aku harus memastikan bahwa kau tidak mengambil fotoku. Itu akan menghancurkan karirku."
"Kau sudah menghancurkan karirmu sendiri."
Pukulan telak !
Jika lidahmu tidak tajam maka jangan berani bicara dengan Sehun.
"Itu karena aku… Tsk, terserah. Omong-omong, kenapa kau tidak pernah menerima Kyungsoo. Kudengar ia sudah menyukaimu sejak kelas 1."
"Karena aku tidak menyukainya. Kuharap alasan itu menjawab semua rasa penasaranmu."
"Apa itu berarti kau tidak pernah menyukainya 1 detik-pun didalam hidupmu ?"
"Tidak." Tangkas Sehun yakin. Baekhyun berdecak, menangisi didalam hati betapa malangnya nasib Kyungsoo. "Jadi apa yang kau lakukan disini ?"
"Hanya ingin memastikan sesuatu. Jika kau ingin menangis maka menangis saja. Anggap aku tidak ada."
Justru aku yang tidak bisa menganggapmu tidak ada.
"Jangan berani-berani mengatakan kepada siapapun bahwa kau menemukanku disini dalam keadaan memalukan !" Baekhyun memperingati dan Sehun menanggapinya dengan senyum miring. "Apa aku terlihat mau melakukan hal bodoh seperti itu ?"
Tidak. Tentu saja tidak.
"Mungkin." Sanggah Baekhyun memainkan suasana. Mencibir geli didalam hati akibat kini Sehun memberinya tatapan tidak percaya. Itu adalah ekspresi terbaru yang pernah Baekhyun lihat. Mengingat kembali bahwa Sehun ternyata memiliki sisi baik, malah tanpa diminta memberikan sapu tangannya pada Baekhyun. Hei, bukankah Sehun pria idaman wanita. Pantas saja Kyungsoo cinta mati padanya dan para sunbae selalu ada disekitar Sehun. "Sekarang aku tahu kenapa kau hanya memiliki sedikit teman—"
Sehun menyela, "Kau membuatku terdengar seperti anti sosial."
"Aku belum selesai bicara. Benar jika kau hanya memiliki sedikit teman tetapi mereka menyayangimu."
Menyayangi ?
"Percayalah padaku sekali saja, Jongin selalu menyayangimu."
Sehun menggeleng kemudian mendesah, "Kau bisa memiliki tempat ini. Aku pergi."
"Tidak. Aku yang akan pergi." tukas Baekhyun menghalau ketidaknyamanan Sehun. Baekhyun cukup tahu diri untuk tidak berada disekitar Sehun lebih lama lagi karena itu menimbulkan suatu gangguan untuk pemuda ini.
Sehun meliriknya, "Baiklah."
Sebelum meninggalkan atap, Baekhyun menyempatkan diri melihat mobil dibawah sana yang kini juga membuat Baekhyun penasaran. Ia merasa bahwa mobil disana familiar tetapi Baekhyun lupa pernah melihat dimana. Membuang nafas untuk menyingkirkan gagasan, Baekhyun berjalan keluar dan kembali lagi setelah 5 menit sembari berlari dan menenteng sebuah teropong yang entah ia dapat dari mana.
Sehun yang masih bertahan diatap hanya berkedip heran dengan tingkah artis ini. Baekhyun memakai teropongnya kemudian berdecak, "Ini aneh." Gumam Baekhyun dan melihat melalui teropong lagi. Ia sudah seperti penguntit kelas kakap. "Aku ingat nomor plat mobil itu. Hei, bukankah mobil itu sudah parkir disana sejak tadi pagi ?"
"Apa kau bertanya padaku ?"
"Tidak. Aku bertanya pada diri sendiri. 32도1989"
Sehun mengulang didalam pikirannya.
32도1989
Kemudian perkataan Kris kemarin yang tidak terlalu Sehun gubris juga muncul kembali.
"Lay mengeluhkan mobil aneh bernomor polisi 32도1989 yang selalu terparkir di depan café selama berjam-jam setiap hari sejak 1 minggu lalu dan pemiliknya tidak pernah keluar sekalipun."
Baekhyun menurunkan teropong seraya berkata, "Itu mobil yang sama dengan mobil yang aku lihat disekitar rumah Luhan 1 minggu yang lalu. Saat kami akan mencarinya di pinggiran kota—Yach ! Oh Sehun !" pekik Baekhyun akibat Sehun merampas teropongnya.
Mengabaikan kekesalan Baekhyun, Sehun mengarahkan teropong pada mobil disana. Berjalan beberapa langkah untuk menemukan posisi pengamatan terbaik. Hal pertama yang dilihat Sehun adalah plat nomor.
32도1989
Selanjutnya beralih pada bangku kemudi yang berisi seorang pria paruh baya, rambut cokelat tua, hidung, mata, tulang pipi, ketukan pada roda kemudi, cara orang itu terlihat gelisah dan… Tunggu !
Sehun tercekat, nafas terjebak di saluran tenggorokan dan dahinya mengeluarkan tetesan keringat dingin. Sehun gemetaran. Melihat sekali lagi demi memastikan bahwa matanya tidak menipu namun setelah puluhan kali Sehun berusaha memastikan dengan jantung yang terus berpacu layaknya kuda berlari, kedua bola mata Sehun mulai terbakar.
Tanpa pikir panjang, Sehun melemparkan teropongnya kepada Baekhyun dan berderap meninggalkan atap bertepatan dengan bel tanda sekolah berakhir berteriak nyaring.
Sehun menuruni tangga terlalu laju, bahkan sampai melompati beberapa anak tangga namun ia terlalu handal untuk terpeleset jatuh. Keringat semakin membanjir sementara wajah Sehun perlahan memucat seiring dengan kecepatan larinya yang semakin bertambah ganas layaknya predator.
Siswa yang berhamburan keluar kelas menyulitkan Sehun tetapi ia tidak mau menyerah disini, ia terus berlari kencang. Menabrak para siswa sembari membentaki mereka dan membiarkan yang ditabrak tersungkur dilantai. Sehun tidak memiliki waktu untuk peduli.
Sekarang ia sudah mencapai halaman luas keterlaluan Wufan Highschool, menarik nafas untuk sekedar memberi tenaga sedikit lagi… Sehun tetap dipaksa berjuang menerobos para siswa dan berderap cepat menghampiri mobil yang sudah bergerak meninggalkan tempat semula.
"TIDAK !" Sehun berteriak sementara mobil telah melaju. "Tidak. Tidak. Kumohon jangan pergi ! kumohon jangan pergi Paman Zoumi ! bogoshipo.. bogoshipo.."
Aku merindukanmu… kumohon jangan meninggalkanku lagi.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Hankyung tengah berdiskusi bersama 2 orang manajer bagian ketika Siwon memasuki ruang kerjanya. Sahabat sekaligus tangan kanannya itu mengangguk singkat kala 2 orang itu membungkuk sopan padanya.
"Kami sedang membicarakan proyek baru." Beritahu Hankyung setelah Siwon mengambil tempat duduk bersama mereka.
"Jadi bagaimana perkembangannya ?" tanya Siwon menarik beberapa lembar kertas, mencoba membaca informasi apa yang tertera disana.
"Aku membutuhkan dana besar untuk membangun megamall, obligasi perusahaan belum bisa diuangkan dan jalan satu-satunya adalah menjual saham Kim Group dan menambah investor."
"Lalu apa yang akan kau lakukan ?" tanya Siwon memandang Hankyung yang sekarang berdiri mondar-mandir dengan urat-urat sedikit menonjol setelah menyuruh 2 bawahannya untuk meninggalkan mereka.
"Entahlah, aku tidak mungkin menjual saham Jongin, dia bahkan masih kekurangan saham untuk ditetapkan sebagai Presdir beberapa tahun mendatang. Posisinya masih terancam, bisa saja para pemegang saham mengajukan petisi penolakan Kim Jongin suatu hari nanti. Dan yang bisa menahan resiko itu adalah proyek megamall yang akan aku serahkan kepada Jongin sebagai titik awal demi mempertahankan posisinya."
"Kupikir 20% itu sudah lebih dari cukup."
Hankyung menggeleng, "Itu jumlah saham yang berbahaya. Jongin mendapat 5% dari kakeknya dan 15% dariku. Seseorang yang memiliki saham cukup tinggi masih mampu untuk menggulingkan Jongin."
"Apa kau sedang membicarakan adikmu ?"
"Tepat sekali" seru Hankyung menyetujui. "Kyuhyun juga memegang saham sebesar 15% dan 5% ada pada Sehun."
Siwon mengangguk, membuang kertas ditangannya ke atas meja. "Sasaran kedua yang gagal dibunuh." Gumamnya menyelipkan nada jengah. "Sepertinya kau harus mengecek nama pemegang saham perusahaan ini sekali lagi." Siwon menunjuk pada kertas yang baru saja ia hempaskan dan Hankyung berhenti mondar-mandir.
"Aku sudah membacanya tadi." Sahutnya.
Siwon menarik nafas satu kali sebelum menatap Hankyung, "Sehun memegang 20%"
"Kau salah baca. Jumlah saham mereka masih sama seperti 13 tahun yang lalu." Hankyung berusaha membantah.
"Itu sudah berbeda sejak 1 bulan lalu. Dilembar terakhir tercantum bahwa Kyuhyun melimpahkan 15% sahamnya kepada Sehun."
Hankyung melebarkan mata terkejut, "Itu artinya saham Sehun menyamai Jongin."
"Ya, 20% melawan 20%. Kukira aku akan melihat perang saudara sekali lagi."
"Ini tidak bisa dipercaya." Hankyung mendesah marah. "Aku sudah merencanakan pertunangan dengan keluarga Do untuk menjaga posisi Jongin, tetapi sepertinya Kyuhyun mulai mengangkat pedang untuk melawanku."
"Sekarang bukan Kyuhyun yang melawanmu tetapi putranya. Kau harus sedikit lebih lembut menghadapi Sehun, dia baru 17 tahun dan pengalamannya dalam perang saudara tidaklah banyak. Semua orang berkata bahwa Sehun secerdas Jongin tetapi menurutku pendapat itu salah karena dia bahkan memberi kesaksian palsu 13 tahun lalu."
"Itu mungkin disebabkan oleh depresi yang dialami Sehun. Sekalipun ia berkata jujur saat itu, kesaksiannya hanya menjadi bukti omong kosong karena aku menutup mulut Jongin."
"Kuharap kau bisa menutup mulut Jongin sampai selamanya."
"Itu terlalu mudah." Hankyung tersenyum licik. "Aku memiliki 2 pion untuk membungkam mulut Jongin atas peristiwa 13 tahun lalu. Sehun atau Luhan, tetap diam atau nyawa salah satu dari mereka melayang menyerupai debu."
Siwon menggelengkan kepala, bukan berarti ia tidak setuju tetapi malah mengagumi betapa picik pemikiran sahabatnya ini. "Tidakkah terlalu kejam menjadikan anakmu sendiri sebagai boneka ?"
Hankyung mengangkat bahu tidak peduli, "Aku hanya tidak ingin memberinya pilihan."
"Kau ayah yang hebat. Aku berharap memiliki seorang anak dan bisa memainkannya seperti mobil-mobilan. 1 tombol dan ia akan mengikuti perintahku."
Mengambil tempat kosong disamping Siwon, Hankyung menepuk bahu sahabatnya dan tertawa lebar mengejek. "Aku sudah mengatakan ini sejak lama. Diumurmu yang setua ini seharusnya kau sudah menikah dan memiliki seorang anak seusia Jongin."
"Aku hanya tidak mau terikat dengan keluarga. Itu terlalu menyedihkan. Kau bahkan bisa melihat aku baik-baik saja meski hidup seorang diri, jadi kau bisa berhenti mencemaskan kelajanganku. Yang harus kau cemaskan sekarang adalah kerikil kecil yang bisa mendorong batu raksasamu ke dalam jurang." Siwon menjelaskan sembari menyodorkan amplop cokelat kepada Hankyung.
"Apa ini ?"
"Kejutan sakit kepala untukmu."
Hankyung membuka amplop itu, mengeluarkan lembaran foto dari dalam dan menahan nafas selama 1 detik dan tampangnya berubah 2 kali lipat lebih emosi.
"Jadi alasanmu sering hilang akhir-akhir ini adalah mengawasi dia ?" Hankyung menunjuk seseorang didalam foto.
"Ya, salah satunya." Tukas Siwon. "Byun Baekhyun puteri dari Byun Kibum, seorang perempuan yang kau jadikan tameng ketika polisi mengejarmu dan kau menembak jantungnya. Kau harus mulai sakit kepala sekarang karena dia tahu siapa Kim Jongin."
Membuang nafas kesal bersamaan dengan lembaran foto terhempas ke permukaan lantai keramik, Siwon tersenyum puas sekaligus iba kepada Hankyung yang memijiti pelipis. "Aku tidak akan membiarkan kerikil seperti ini mengacaukan segalanya."
"Apa yang akan kau lakukan ? dia juga saksi kunci atas kematian ibunya. Entah aku harus kasihan padamu atau menertawaimu karena orang seusiamu harus melawan 3 anak ingusan usia 17." Siwon terkekeh dan Hankyung tidak bisa lebih marah lagi dari ini.
"Setidaknya aku masih bisa menyalahkan anggota kepolisian karena menembak wanita itu lebih dulu." Hankyung menyeringai tipis seraya menempelkan ponsel pada telinga.
"Siapa yang kau hubungi ?"
"Bala bantuan yang sama dengan 13 tahun lalu. Hakim kelas atas, Kim Daewon."
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Tidak di anggap selama 3 X 24 jam.
Jongdae merasa ini sudah lebih dari cukup. Kesabarannya tidak bisa lagi diharapkan apalagi keras kepala dan sifat tidak pekanya sungguh membuat Jongdae marah pada diri sendiri.
Kebodohan Jongdae juga turut memberi Xiumin masalah, salah satunya adalah baru-baru ini Jongdae mendengar bahwa Xiumin menerima pembullyan entah dari siapa. Menurut Jongdae itu konyol karena ia tidak sepopuler Sehun, Kris dan juga Suho. Jadi orang yang berani membully Xiumin tersayang adalah kumpulan manusia tolol. Jongdae harus bergegas mencari mereka dan mencelupkannya ke dalam air sampah.
Sudah 2 tahun Jongdae jatuh cinta pada Xiumin dan ia tidak mau cintanya berakhir sebelum dimulai hanya karena tingkah keterlaluan orang-orang tolol itu. Maka dari itu ia nekat.
Saat ini Jongdae sengaja tidak membawa mobil dan membuntuti Xiumin yang baru saja pulang kerja sampai di halte bus.
Ini pukul 10 malam dan hanya Xiumin seorang diri yang ada disana selain Jongdae yang bersembunyi dibalik pohon. Dia bilang nekat tapi tetap saja masih seperti pecundang. Setidaknya itu lebih baik daripada duduk diam dan menunggu sesuatu yang tidak bisa ditunggu macam Xiumin yang bersikeras mendiamkannya.
Melihat Xiumin yang sudah melompat masuk ke dalam bus, Jongdae panik. Tetapi dorongan untuk segera minta maaf pada Xiumin memberinya keberanian dalam jumlah besar, Jongdae memperbaiki topi hoodie-nya menutupi sebagian wajah dan mencari-cari Xiumin didalam bus.
Untungnya jam malam hanya menyisakan sedikit penumpang, Jongdae dengan mudah menemukan Xiumin duduk di pojokan paling belakang tengah menyandarkan kepala pada jendela kaca disamping kanannya.
Takut mendapat tamparan seperti yang dialami Chanyeol, Jongdae memilih duduk di pojokan kiri. Amat sangat menempel pada tembok besi.
Pada awalnya Xiumin memejamkan mata, sekedar mengistirahatkan fisik dan otaknya selama perjalanan pulang. Rencana itu terdengar baik meskipun tidak sempurna tetapi indera penciuman Xiumin diganggu oleh parfum seorang remaja laki-laki yang kini duduk di kursi yang sama dengan Xiumin namun sangat jauh di bagian ujung.
Aroma ini sialnya sangat mirip dengan wangi Jongdae. Xiumin mendesah dan perlahan membuka mata, memandangi jendela masih dengan posisi bersandar untuk melihat siapa manusia itu. Detik berikutnya Xiumin nyaris terbatuk karena Ya Tuhan, sejak kapan Jongdae disana ? tetapi ia diam saja. Terlalu malas untuk bertanya.
5 menit berlalu dengan memperhatikan pantulan Jongdae dari jendela kaca, Xiumin menyerah kemudian bertanya dengan suara yang sangat tidak ramah. "Kenapa kau melihatku seperti itu ?"
Jongdae tersentak kaget dibalik hoodie-nya, "Apa ? bagaimana kau bisa melihatku ? kau bahkan tidak menoleh padaku samasekali" Jongdae mengerjap bingung. Xiumin memutar kepala kepada Jongdae kemudian menunjuk jendela kaca disisinya.
"Bayanganmu terpantul disini" tukas Xiumin dan berbalik lagi memandangi jendela. Kali ini ia tidak memperhatikan bayangan Jongdae melainkan benar-benar menatap jalanan.
Diacuhkan untuk yang kesekian kali. Jongdae ingin sekali melompat keluar melalui jendela dan semoga saja mati mengenaskan. Membenturkan kepala sejenak pada sandaran kursi didepannya, ia harus melancarkan aksi nekatnya sekarang. Jadi Jongdae bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Xiumin. "Boleh aku duduk disampingmu ?"
Xiumin tidak mengalihkan manik hazelnya dari jalanan dan tidak pula tertarik dengan apa yang baru saja Jongdae katakan.
"Baiklah jika kau tidak mengizinkan. Tetapi aku akan tetap duduk." Jongdae memilih duduk didekat Xiumin dan menyamankan diri diatasnya. Keras kepala adalah salah satu keahlian Jongdae selain membuat orang lain kesal setengah mati, jadi ia sangat betah duduk disamping Xiumin meskipun gadis tersebut terus saja mengabaikannya.
Menurut Jongdae, Xiumin memang melihat ke arah jalanan tetapi ia tidak benar-benar memperhatikan sesuatu. Raut wajahnya sangat masam berbanding terbalik dengan kesehariannya yang selalu dihiasi dengan senyuman ramah penuh kelembutan. Sumpah, Jongdae takut dengan Xiumin yang seperti ini. Kau tahu, orang ramah itu jika mengamuk lebih mengerikan daripada seekor Harimau.
"Ehem" Jongdae berdehem "Xiumin aku—"
"Jika kau ingin duduk, duduk saja. Jangan ajak aku bicara" tajam, dingin dan sakit. Jongdae menelan ludah kasar.
"Lihat aku !" perintah Jongdae menarik lengan Xiumin memaksa mereka berhadapan. "Aku tahu kau kecewa padaku karena aku memukul Chanyeol tetapi kekecewaanmu yang paling utama adalah ketidakpekaanku. Aku menyukaimu dan aku baru sadar bahwa kau menyukaiku jadi maafkan aku."
Xiumin menekan bibir menahan diri, tidak bisa menyangkal apalagi membantah karena apa yang dikatakan Jongdae adalah benar. Semua benar dan ini memuakkan karena ia sudah menyukai Jongdae kurang lebih selama 2 tahun dan dia yang disukai baru sadar sekarang ?!
Sial ! Xiumin ingin marah tetapi ingin tersenyum disaat bersamaan. Ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Bicaralah padaku" pinta Jongdae sangat memohon dan memelas. Xiumin melepaskan genggaman tangannya dan berbailk kembali pada jendela.
"Apa ini karena Chanyeol ? apa dia tidak mengatakan padamu bahwa aku sudah minta maaf padanya ?"
Semua ini karena kau. Kau ! "Jika menurutmu seperti itu maka anggaplah semua ini karena Chanyeol"
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku" Jongdae membantah. Xiumin seketika berpaling dan menatapnya tajam.
Kapan kau akan peka dan mengerti ?
"Aku harus melakukan ini padamu karena kau melukai sahabatku. Aku tidak mau kau berada disekitarku lagi, mengawasiku, menguntitku dan semuanya. Aku lelah menghadapi sikapmu yang sangat tidak peka dan sesuka hatimu ini. Aku…" Xiumin tidak lagi menatap lurus pada mata Jongdae melainkan memutar bola mata ke arah lain. "Aku sudah tidak menyukaimu lagi"
Jongdae mendesah pahit, "Atur dulu ekspresimu sebelum kau mengatakan bahwa kau tidak lagi menyukaiku"
"Aku memang sudah tidak menyukaimu"
"Bohong ! kalau begitu lihat mataku dan katakan jika kau tidak menyukaiku"
"Kenapa kau sangat keras kepala. Aku benci padamu. Aku benci !" Xiumin setengah memekik, untungnya beberapa penumpang didepan mereka tertidur jadi keduanya tidak perlu mengkhawatirkan omelan yang bisa saja mereka dapatkan.
"Aku tahu jika aku salah tapi setidaknya jangan katakan bahwa kau membenciku"
Xiumin menulikan telinga. Terlalu malas untuk menjawab.
"Xiumin ?"
Hening.
"Baiklah jika memang ini yang kau inginkan" Jongdae bangkit dengan gerakan marah. Menekan tombol untuk memberi tanda kepada sopir bus bahwa ia akan turun di halte berikutnya. Jongdae berdiri memunggungi Xiumin membuat si gadis mendengus jengkel. Lagi-lagi Jongdae berkelakuan tidak peka, mudah menyerah dan sekarang akan meninggalkannya begitu saja.
Bagus ! sekalian pergi saja ke neraka dan jangan pernah kembali.
Bus telah sepenuhnya berhenti, Xiumin menoleh untuk melihat kepergian Jongdae si pecundang itu. Lelaki tersebut nampak mencengkeram sebuah bangku, melangkahkan sebelah kakinya menuruni tangga besi dan Xiumin sekali lagi dikecewakan oleh manusia menyebalkan itu.
Xiumin bernafas untuk menenangkan hati, Jongdae sudah sepenuhnya turun dari bus tetapi masih menempel pada pintu. Sebentar lagi dia pasti akan pergi ! Xiumin membatin dengan kilatan kesal. Tetapi apa yang ia perkirakan adalah salah besar, Jongdae melompat masuk kembali ke dalam bus dan menghampiri Xiumin yang masih duduk tenang namun jengah di kursinya.
"Coba katakan padaku sekali lagi bahwa kau tidak menyukaiku setelah aku melakukan ini padamu…" Semua terjadi begitu cepat bahkan tidak ada waktu untuk terkejut. Jongdae menutup kalimatnya dengan mengecup singkat bibir Xiumin lalu tersenyum pada gadis yang masih shock parah.
Xiumin beku. Dunianya beku.
Dapat ia rasakan nafas hangat Jongdae menerpa permukaan hidungnya. Wajah memikat Jongdae masih sangat dekat dan ini menimbulkan sensasi mengerikan meletup-letup bagai ledakan gunung berapi raksasa. Xiumin merasa terbakar ketika kini Jongdae membelai pipinya dan senyuman itu menariknya dalam dunia penuh fantasy menyenangkan.
"Aku memang bodoh tetapi aku tahu apa itu cinta." Jongdae menggumam dalam senyumannya. "Cinta adalah kau dan aku. Yang berarti kita."
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Keesokan harinya Sehun terbangun dengan serangan sakit kepala, mata berat, bibir biru pucat, leher kaku dan dingin. Semua itu membuat Sehun tersadar bahwa ia mengidap demam hanya dalam waktu semalam.
Terduduk diatas ranjang king size pada pukul setengah 7 pagi, Sehun menghela nafas menahan sesak sebelum menyibak selimut ke samping. Berderap menuju jendela dan tetap membungkam mulut tanpa memiliki keinginan untuk mengatakan apapun.
Maid di rumah Sehun akan membangunkannya pada pukul 7, dan untuk hari ini Sehun terbangun 30 menit lebih awal.
Bosan dan terluka melihat daun-daun kering jatuh diterpa angin, Sehun memutar tubuh. Menggapai lemari terbawah dan membuka pintunya. Dan membukanya lagi ketika menemukan tempat tersembunyi. Memandangi benda yang ia sembunyikan disana dan Sehun tidak sanggup lagi menahan raut sedih yang memaksa untuk menginvasi wajahnya.
Tak mampu memandangi benda itu lebih lama lagi, Sehun membanting pintu tertutup dengan bunyi keras seolah ia mengikutsertakan kekesalannya disana.
Mengenyahkan sebentar saja bayangan wajah pria paruh baya yang kemarin Sehun lihat, ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Membersihkan gagasan, praduga, keresahan dan kegelisahan yang memeluk Sehun sepanjang malam.
Keluar dengan bau sabun segar nyatanya tidak memperbaiki suasana hati Sehun. Pemuda pucat itu meniti langkah menuruni tangga, nyaris saja tersandung dan terguling ke bawah akibat menemukan ayahnya duduk disisi jendela bersama Koran pagi dan secangkir kopi panas sementara ibunya menambahkan beberapa sendok gula ke dalam teh.
Kapan mereka pulang ?
Sehun menangkap senyum tipis ayahnya selama 1 detik.
Ini hanya ilusi.
"Selamat pagi Sehun, apa tidurmu nyenyak ?" Ibunya bertanya setelah menemukan Sehun mematung di pertengahan anak tangga. Sehun tidak menjawab sambutan ibunya, mata terus melekat kepada sosok ayah. Sejujurnya Sehun tengah menunggu. Setidaknya 1 kata singkat saja dari ayahnya namun setelah 1 menit penuh kebodohan berlalu, Sehun mengeluarkan desahan hambar, melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
Merasa sesak dengan suasana rumah yang lebih mirip pemakaman, Sehun mengabaikan sarapan dan melompat masuk ke dalam mobil. Tidak tahu-menahu jika kini Kyuhyun tidak lagi tertarik pada Koran pagi dan secangkir kopi melainkan memandangi mobil Sehun yang sudah menerobos keluar area pekarangan.
Sehun tahu mengapa kondisi jiwanya begitu buruk hari ini, ia memang duduk di dalam kelas tetapi mata terpaku ke luar gerbang. Berharap mobil yang kemarin dilihatnya bersama Baekhyun muncul kembali namun Sehun dipaksa menelan kekecewaan sampai jam istirahat makan siang berteriak gaduh.
Jongin yang duduk disamping Sehun sesekali melirik adik sepupunya yang murung dan tidak tersenyum selama setengah hari. Hal itu membuat Jongin ingin bertanya tetapi untuk apa. Tidak akan adanya gunanya meskipun Jongin diam-diam menggoreskan keresahan mendalam didalam hati.
Ia bangun dari kursi bertepatan dengan Kris yang sangat tumben sekali memasuki kelasnya, kapten tim basket tersebut berkeringat sekujur tubuh dan masih mengenakan setelan olahraga. Mungkin baru selesai dari sesi latihan panjangnya yang akan dipertontonkan 1 minggu lagi.
"Sehun, kenapa kau tidak bilang jika orang tuamu pulang. Kau membuatku terjebak sarapan bersama mereka tadi pagi." Kris merengek.
Orang tuanya pulang. Jadi itu yang membuatnya murung.
"Aku tidak harus membuat laporan padamu bahwa orang tuaku pulang."
"Memang tidak. Kau ke kantin tidak ? aku sangat lapar sampai mau mati," Kris membujuknya sementara Tao yang duduk dibangku seberang tidak sadar jika sejak tadi terpaku pada Kris seorang. Mengingat kembali adegan ciuman tidak sengaja mereka. Wajah Tao memerah seakan terbakar, apalagi sekarang Kris menatapnya dan oh jangan gunakan senyum itu atau aku akan menciummu secara brutal.
"Hai Baby Panda, lama tidak bertemu. Apa kau butuh ciuman sebagai pengganti makan siangmu ?" alis Kris naik turun menggoda, KyungBaekMin melongo sembari berkedip-kedip bingung sementara sebelah sepatu Tao sudah menghantam kepala Kris dengan kekuatan dewa.
Kris mengaduh, kesal karena sepatu Tao menampar pipinya. Memungut sepatu dari lantai dan melemparkannya kembali pada si Panda. Tetapi karena Tao adalah atlet wushu terbaik sejagat China, lemparan sepatu seperti itu terlalu mudah untuk dihindari. Maka ia menjulurkan lidah kepada Kris kemudian menyeret geng-nya untuk mengisi perut yang sudah berfangirling minta diisi.
Dagu Kris beristirahat pada telapak tangan yang ia gunakan sebagai tumpuan, mata tersihir oleh Tao yang sudah berjalan keluar kelas sembari bersungut-sungut sepanjang jalan. Kris tanpa sadar tersenyum kecil. Terpesona atas tingkah panda itu. "Imut.." gumam Kris melebarkan senyumnya sementara Sehun memberinya tampang jijik.
"Sudah berciuman kenapa tidak jadian saja ?" cibir Sehun dan Kris terkikik sembari meninju-ninju bahu Sehun pelan. Itu membuat Sehun semakin jijik dan beringsut menempel pada jendela. Untung saja adegan terlalu perempuan remaja ala abg belasan tahun ini tidak disaksikan oleh Jongin atau anak-anak yang lainnya karena kelas hanya menyisakan mereka berdua. Kris ini benar-benar, tindakan bodohnya bisa membuat Sehun ingin mati kapan saja.
"Kau dan Luhan juga sudah berciuman kenapa tidak jadian saja ?" balas Kris jahil.
Sehun nyaris tersedak udara, "Hanya pipi Kris. Hanya pipi. Dan luka dibibir itu adalah hasil dari tinjuan Jongin."
"Hei Nak, aku tidak akan percaya karena kau mengatakannya dengan wajah memerah."
"Aku tidak memerah." Bantah Sehun cepat. Jika saja tidak akan ditonjok habisan-habisan, maka sudah dipastikan Kris berguling-guling dilantai menertawai tampang Sehun yang sudah seperti pelangi. "Sialan !" maki Sehun kesal, meninggalkan sebuah tendangan pada kursi yang Kris duduki menyebabkan seniornya itu terjatuh ke lantai bersama kursinya.
"Awas saja Sehun ! Awas !" teriak Kris pada Sehun yang sudah meluncur keluar kelas.
Seharusnya Kris terkejut ketika tiba dikantin, bukan… bukan karena Chanyeol bersujud padanya. Hobaenya itu sudah setengah menyerah pada tim basket dan beralih profesi mengekori Baekhyun kesana-kemari. Sesekali Baekhyun mengumpatinya bahkan tidak segan mendorong Chanyeol, Kris menggeleng iba. Bukan kasihan kepada Chanyeol melainkan pada Baekhyun.
Diantara semua orang didunia ini selain Suho, Kris adalah seseorang yang pernah merasakan betapa menyebalkannya dijadikan inang oleh benalu macam Park Chanyeol. Si tinggi itu sangat merepotkan sampai-sampai Kris memiliki cita-cita menyumpalkan celana dalamnya.
Kris senang dengan kedatangan Baekhyun yang membuat Chanyeol sedikit melupakan rutinitasnya membuntuti Kris, lepas dari Chanyeol itu melegakan tetapi juga sepi disaat bersamaan.
Mengakui bahwa Suho adalah sahabat terbaik nomor 1 yang pernah hidup didunia, maka Chanyeol menjadi teman terbaik nomor 2. Sementara Sehun sudah menjadi adik tersayang baginya. Tetapi Kris lebih baik memakan 1 kilogram cabai daripada harus menerima Chanyeol sebagai sahabat apalagi masuk ke tim basketnya. Melirik Suho yang duduk bersama Jongdae dan Jongin, Kris mendengus hambar. Chanyeol tidak boleh masuk tim basketnya. Tidak boleh !
Bicara soal Sehun, Kris mengira bahwa anak itu pergi ke kantin lebih dulu tetapi sampai 5 menit berputar seperti manusia bodoh tidak punya teman, Kris tidak menemukan batang hidung Sehun dimanapun.
"Kemana anak itu pergi ?"
..
Atap adalah tempat terbaik untuk merenung. Sehun menyetujui itu lebih daripada orang lain menyetujuinya.
Memberikan seluruh perhatian pada gerbang Wufan Highschool, Sehun menyerupai remaja patah hati menunggu bintang jatuh. Ia menunggu tanpa lelah bahkan saat hujan mengerikan musim gugur menghujam punggungnya yang sudah menggigil kedinginan.
Sehun tetap bertahan diatap, bel tanda jam sekolah telah berakhir adalah satu-satunya alasan Sehun untuk enyah dari sini dan enyah dari harapannya.
Sekarang ia tahu bahwa ia bodoh. Orang mati tidak akan pernah hidup lagi sekalipun ia mengutuk langit dan juga bumi. Kesimpulannya, siapa yang Sehun lihat kemarin bukanlah Paman Zoumi. Sama seperti senyum tipis ayahnya tadi pagi, hanya ilusi.
Berjalan menuju parkiran setelah area sekolah bebas dari keramaian siswa, Sehun mengemudi dalam diam. Mobil melaju dalam kecepatan sedang. Menjelang sore berganti malam dengan hiasan langit kelabu, hujan perlahan berhenti menyerang bumi. Sementara itu mobil yang Sehun kendarai terus melaju membelah jalan raya.
Terlalu sulit untuk berpikir dan terlalu sakit untuk merasakan, Sehun tidak tahu apa yang telah menuntunnya ke tempat ini. Mesin mobil dibiarkan menyala, Sehun turun dan bersandar dipintu mobilnya. Melihat ke atas tepatnya pada rumah atap milik seseorang yang sudah kosong selama kurang lebih 1 minggu.
Tidak mau terjebak dalam perasaan aneh yang kian menggelayuti tanpa ampun, Sehun mengingatkan diri bahwa ia membenci Luhan lebih daripada yang Jongin tahu. Semua itu terjadi semata-mata karena wajah Luhan hanya mengingatkannya kepada Zoumi, melempar Sehun terpuruk dalam rasa bersalahnya dan ia lebih lega mengetahui bahwa Luhan telah lenyap dari pandangan.
Meskipun cenderung jauh lebih terasa seperti kelegaan didalam kehampaan.
Bernafas dalam kesunyian, Sehun menyudahi harinya yang dipenuhi keresahan dan gagasan ilusi tak berujung yang mana semua ini membuat ia muak pada diri sendiri. Sehun berniat memasuki mobilnya tepat ketika sebuah taksi berhenti didepan mobil Sehun.
Lampu kedua mobil masih menyala terang, Sehun membeku disamping pintu mobilnya sendiri sementara salah satu pintu taksi terbuka lebar.
Yang Sehun lihat pertama kali adalah jemari putih mungil yang menggenggam erat pegangan pintu, disusul sepasang kaki jenjang dalam balutan jeans putih dan sepatu kets warna biru kemudian tubuh ramping dan surai cokelat madu familiar.
Orang itu menarik koper dari dalam bagasi dan ketika berusaha menggendong ranselnya sembari berbalik, terjalin kontak mata tanpa kesengajaan. Tersentak, mata rusa cantik itu melebar terkejut sedangkan Sehun kehilangan kemampuan bernafas selama beberapa detik. Sorot lampu dari masing-masing mobil menerangi segalanya, menegaskan arti dari air muka 2 anak manusia yang tenggelam dalam lautan hazel yang masih saling bertukar tatapan terkejut.
"O-Oh Se-sehun ?"
Mengenali suara itu, Sehun tersenyum pahit. Tiba-tiba saja perasaan sesak bergumul menjadi satu, sangat rancu kemudian menyebar dan menginfeksi hati serta akal sehat. Bibir pucat Sehun mengeluarkan desahan berat diikuti kesedihannya yang benar-benar telah berhasil meloloskan diri bersamaan dengan luruhnya 1 lelehan air mata keputusasaan. Mata panas Sehun terpejam sementara bibir gemetarnya menggumam lirih, "Aku tidak ingin melihat ilusi semenyakitkan ini."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
THANKS TO
READER-NIM
Fanfiction ini tidak akan pernah ada tanpa kalian.
Sampai Jumpa di Chapter 15.
Salam kecup cinta ! Juliana Hwang.
