"Suatu kehormatan, Bos…"

Semua mata memandang Akaashi dan Hinata bergantian. Pikiran mereka memikirkan hal yang sama.

Bos..?

.

'Gagak Hitam'

.

Haikyuu! © Furudate Haruichi

.

Gagak Hitam © MiracleUsagi

.

Rate : T+

.

Genre : Mystery, Crime

.

Warning : Out of Character, missed TYPO(s), Alternate Universe, menggunakan kata dan kalimat yang melenceng dari KBBI, EYD kacau, etc.

.

Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya mengambil kebahagiaan semata karena telah menyiksa karakter favoritnya.

.

DLDR/Enjoy!

.

The Last Chapter

.

.

"Apa maksudmu orang jahat? Aku bukan bosmu…" Hinata sedang tidak berminat menanggapi celotehan Akaashi sebenarnya. Pikirannya masih kalut oleh rasa bersalah dan iba terhadap Kageyama. Pemuda oranye itu hanya menatap datar Akaashi.

"Aduh, aduh! Kau sungguh bos yang kejam! Masa' anak buahmu sendiri tidak kau anggap?" Akaashi tidak terlihat ingin mengakhiri godaannya pada Hinata. Pria itu semakin menunjukkan ekspresi memelas karena merasa tidak dianggap.

Kageyama mengernyit bingung. Ada apa ini? Begitu maksud tatapannya. Begitu pula dengan Sawamura, sama bingungnya. Sedangkan Sugawara terlihat syok mendengar penuturan Akaashi barusan. Akaashi kembali berceloteh mengenai Hinata yang terlalu kejam karena menyuruhnya dan si kembar melaksanakan misi seorang diri. Perlahan Kageyama menoleh, menatap lamat wajah Hinata yang tegang.

"Hinata… kau mengenalnya..?"

"Tentu saja Bos mengenalku! Akulah kaki tangannya setelah si Silver pengkhianat itu berontak." Akaashi memotong ucapan Kageyama dan menunjuk Sugawara seperti anak kecil yang sedang menunjukkan kesalahan temannya. "Oh, ayolah Bos, masa' kau tidak ingat lagu ciptaanmu itu? Aku sangat menggemarinya, lho…"

"Hinata… hoi! Bodoh kau dengar aku?"

"Lihat, aduh lihatlah! Si Gagak Hitam! Lihat, aduh lihatlah! Dia mengawasimu! Ayo, Bos apa kelanjutannya?" Akaashi menyenandungkan lagu yang sama dengan yang dinyanyikan oleh pelaku-pelaku kasus Gagak Hitam sebelumnya.

"Hinata!?"

Kageyama semakin tidak sabaran. Ayolah, kalau kau bukan bosnya katakanlah sesuatu jangan diam saja! Begitu kiranya maksud tatapan Kageyama. Di samping Sawamura, Sugawara mengelap peluh kesekian yang jatuh membasahi pelipisnya. Ia juga sama penasarannya dengan Kageyama. Jika itu benar, berarti selama ini ia telah menerima perintah dari si pemuda oranye itu?

"Hinata bodoh, katakan sesuatu!"

"Si Gagak Hitam muncul, di tengah malam. Melihat penyesalannya, ia mulai mengacungkan pisaunya…"

Kageyama mundur tidak percaya. Bibirnya menganga tidak percaya, matanya sempurna membola. Hinata tahu lagu itu, ia tahu kelanjutannya. Kageyama menatap pemuda oranye yang bergetar bibirnya demi melanjutkan setiap baris lirik.

"Demi yang dikasihinya, si Gagak Hitam! Rela meninggalkan sarangnya, diterkam kesendirian!"

Hinata menoleh menatap Kageyama dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Kageyama, maafkan aku…"

.

.

.

Jika kemarin-kemarin Kageyama tidak memakan makanan rumah sakit, mungkin situasi sekarang adalah yang lebih buruk dari makanan rumah sakit.

Di hadapannya sekarang, Hinata, pemuda oranye kawannya itu dengan bibir bergetar dan bulir air mata berjatuhan menyanyikan sebaris lagu maskot organisasi yang tengah diburunya. Mungkin itu terlihat biasa jika kau melupakan fakta bahwa, kelanjutan lagu tersebut tidak pernah dipublikasikan di manapun, kecuali memang Hinata yang menciptakan lagu itu untuk menakut-nakuti khalayak umum.

Dan Kageyama tahu, Hinata tidak sedang mengarang-ngarang lirik lanjutan lagu maskot itu. Dan melihat ekspresi Akaashi, pria itu terlihat menikmati suara bergetar Hinata yang menyanyikan baris lanjutannya. Besar kemungkinan apa yang dikatakan Akaashi adalah benar.

"Bohong… katakan padaku semuanya hanya kebohonganmu, Hinata!" Kageyama mencengkeram kerah baju Hinata. Si objek cengkeraman hanya terdiam menatap Kageyama dengan perasaan bersalah.

Apa-apaan ini?

Semuanya begitu absurd. Serasa kepala Kageyama dihantam ribuan palu bertuliskan fakta-fakta yang harus ia telan sekarang juga. Semua orang di sana menatap pemuda oranye yang tengah terisak itu tidak percaya. Sugawara apa lagi. Baginya Hinata sudah seperti adiknya yang ia kasihi, tetapi ternyata adiknya itu yang telah menjerumuskannya ke dalam lingkup organisasi kelam di atas nama Gagak Hitam.

"Kageyama, kau tahu apa yang mau kubicarakan denganmu itu?" Hinata mengusap air mata yang barusan turun melewati ujung hidungnya. "Hal ini, Kageyama. Dia benar. Aku Bosnya… maafkan aku.."

Demi mendengar kalimat Hinata, Kageyama mendorong tubuh Hinata sampai jatuh terguling menimpa tanah paving. Satu tinju Kageyama layangkan pada pipi kiri Hinata yang basah air mata. Hinata hanya diam, tidak merasa mengapa jika Kageyama marah dan terus memukulinya hingga mati.

"Tidak! Katakan padaku kau hanya berbohong, Hinata! Katakan, atau aku terpaksa memukulimu!"

Hinata tersenyum tipis, mengelap sudut bibirnya yang bengkak dan berdarah. "Aku tidak masalah dipukuli olehmu, Kageyama. Karena itu faktanya…"

BUGH!

"Kau masih tidak mau mengakuinya? Kau bohong padaku, Hinata! Bohong!"

Hinata menerima tinju Kageyama bertubi-tubi. Wajah pemuda oranye itu beratakan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, dan matanya bengkak. Ia tetap diam, menerima semua pukulan emosi dari Kageyama. Hingga di tinju kesekian, Hinata menghentikan tinju Kageyama dengan tangannya.

"Tidak apa Kageyama. Dulu aku juga sepertimu, penuh emosi. Apalagi saat kematian ayahmu. Aku begitu terpukul. Beliau sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Dan beliau meninggalkan putranya yang begitu rapuh sepertimu Kageyama. Aku mengerti kesedihanmu waktu itu. Tetapi entah kenapa, kau yang begitu rapuh mendadak begitu kuat dan teguh hatinya. Aku yang bukan siapa-siapa ayahmu saja masih merasa jengkel dan menimbun dendam pada anggota polisi yang tidak bisa menyelamatkan ayahmu. Sedang kau, Kageyama, kau tiba-tiba bisa begitu tabah menerima kematian ayah terkasihmu lebih daripada aku.

"Sejujurnya aku pun bingung dengan perasaanku. Kenapa aku cemburu denganmu? Beliau kan ayahmu, kenapa aku yang terbawa emosi? Kemudian aku sadar, itu adalah perasaan terburuk, perasaan yang membuatku ingin menunjukkan kepadamu bahwa polisi sebegitu tidak bergunanya di mataku. Aku hanya ingin menunjukkan bukti itu padamu. Maka dengan gelap mata aku menjadi musuhmu, Gagak Hitam. Terserah padamu sekarang, Kageyama. Mau percaya, mau tidak. Mau menganggapku bohong atau tidak. Semuanya fakta, Kageyama. Maaf. Maafkan aku…"

Lengang sejenak hingga akhirnya Akaashi bersiul pelan. "Wah, bos, ternyata kau sangat sentimental…"

Kageyama perlahan menurunkan kepalan tinjunya. Astaga, apa yang barusan si bodoh katakan tadi? Semua ini bermula saat kematian ayahnya? Kageyama berdiri, menyuruh Hinata juga untuk berdiri. Hinata terkesiap karena tidak menyangka Kageyama tidak jadi memukulnya. Sesaat setelah Hinata sempurna berdiri, Kageyama kembali melayangkan tangan kanannya. Hinata kaget dan reflek menggunakan kedua tangan untuk melindunginya.

PUK PUK

Hinata merasakan kehangatan sesaat rambut oranyenya diusap pelan. Perlahan Hinata menurunkan kedua tangannya. Matanya seketika membola menatap Kageyama yang tersenyum padanya.

"Maaf, karena kau sampai segitunya karena kematian ayahku. Kau benar soal kerapuhan hatiku, tapi soal kekuatan dan keteguhan hati, kau sedikit meleset. Aku pun sampai hari ini, detik ini belum bisa menerima kepergiannya, Hinata. Dia benar-benar orang yang hebat. Soal diriku yang memutuskan menjadi polisi, sudah kukatakan berulang kali itu murni keinginan dan impian masa kecilku. Tidak ada sangkut pautnya dengan impian maupun dendam ayahku."

Kageyama tersenyum semakin lebar, "Jadi jangan terus-terusan menambah beban pikiranku Hinata. Sudah cukup ayahku yang pergi, jangan kau menyusulnya."

"Baiklaahh… cukup drama siang harinya! Terima kasih bos karena sangat mengharukan. Nah, sampai di mana kita tadi?" Akaashi bertepuk tangan dalam wajahnya yang datar. Terlihat sekali ia bosan melihat ceramah panjang Hinata.

"Tunggu… tunggu dulu!" Sugawara berteriak mengambil atensi. Wajahnya pias, peluhnya banyak mengalir di pelipis. Pria abu-abu itu menatap Hinata dengan tatapan yang berbeda setelah mengetahui fakta bahwa si pemuda oranye adalah atasannya di organisasi dahulu.

"Oh, Silver, apa lagi sekarang? Aku sudah cukup bosan dengan drama bos dan kau sekarang hendak menambahi?" Akaashi melipat kedua tangannya tidak terima.

"Diam kau! Dan kuperingatkan sekali lagi, aku bukan Silver yang kau kenal!" Sugawara menunjuk marah Akaashi. Kemudian kembali menatap Hinata tajam, "tadi, saat awal orang itu memanggilmu Bos kenapa kau mengelaknya?"

Hinata meringis menahan sakit akibat tinju Kageyama. Ia tersenyum kikuk, "Eh, itu karena aku memang bukan lagi bosnya, Suga-san. Aku sudah mundur dari kursi kekuasaan. Aku sendiri juga bingung kenapa Akaashi-san memanggilku dengan sebutan Bos. Dia kan sekarang Bosnya…"

Akaashi mengendikkan pundaknya ketika Sugawara dan Sawamura menatapnya. Melihat tatapan Sugawara yang masih curiga padanya, Hinata buru-buru melanjutkan kalimatnya,

"Suga-san, maafkan aku yang telah menyembunyikan rahasia darimu. Sejujurnya kau seperti kakak bagiku, dan akupun merasa sangat berdosa setiap hari jika melihat tatapan tulusmu padaku…"

Hinata meremat ujung kaosnya, "Aku tahu masalah ini tidak mudah untuk dilupakan. Jadi, aku hanya minta supaya hubungan kita dapat berjalan baik lagi, Suga-san. Bagaimanapun kau memanglah kakak ideal bagiku…" ia melanjutkan dalam tundukan dalam.

"Kau tahu Hinata?" Sugawara berjalan menuju pemuda oranye yang takut-takut melihatnya. "Aku sudah lama mengira Bos adalah seorang bocah labil. Dan fakta itu benar. Kau benar-benar bocah yang gila karena berhasil menduduki kekuasaan organisasi besar tanpa sehelai uban stress di kepalamu. Belum lagi motifmu, apa tadi? Membalaskan dendam ayah sahabatmu? Konyol sekali…"

Sugawara telah sampai tepat di hadapan Hinata yang tidak berani menatap ke depan. "Tapi…" lanjutnya.

Tangan Sugawara mengacung ke depan. "Tapi, mau sebenci apa aku padamu. Perasaanku yang menganggap kau adikku begitu kuat, Hinata…" Sugawara menepuk pundak Hinata kemudian memeluknya hangat.

"Terima kasih, Suga-san…"

Sugawara melirik Akaashi yang mulai emosi karena kejadian sentimental yang terjadi berurutan di saat penyerangannya. Pria hitam itu terlihat tidak peduli lagi dan mengisi ulang pistol-pistolnya. Walaupun begitu, Sugawara tetap mendapat tatapan tajam dan lebih ganas dari sebelumnya. Sugawara secara cepat melepaskan Hinata dan mendorongnya menjauh bersama Kageyama. Sepersekian detik berikutnya tangannya telah siap dengan masing-masing pistol di kanan-kirinya.

Akaashi yang sama sekali tidak terkesan segera memuntahkan peluru senjata api di tangannya tanpa menunggu Sugawara siap atau tidak. Sugawara berkelit seolah tahu arah peluru itu ditembakkan. Sesekali ia menembak titik vital Akaashi yang langsung bisa dihindari pria hitam itu. Sugawara mendecih, posisinya sama kuat. Ia dan Akaashi kan pernah menjadi partner, tahu kelemahan masing-masing. Tidak mudah mencari celah.

Sawamura tidak tinggal diam. Daritadi ia sudah gatal sekali ingin menghajar pria cantik menyebalkan itu. Ia melaju cepat dari sisi kiri. Menembakkan peluru pengalihan. Sayang disayang, anak buah Akaashi yang berjubah hitam-hitam menghadangnya dengan senjata-senjata laras panjang. Sawamura tidak bisa membantu Sugawara karena jumlah anak buah Akaashi yang terlalu banyak, bahkan sepertinya ia yang butuh bantuan. Kepala polisi itu lincah menghindari ratusan muntahan anak peluru yang datang padanya. Sungguh hebat baginya bisa menghindari semua peluru itu.

Di samping Hinata, Kageyama menggeram sembari meremas bahu kirinya yang berdarah. Bekas tembakan meleset Atsumu terasa menyakitkan setiap ia menggerakkan tangannya. Ia sungguhan ingin terjun ke sana, membantu senior dan kepala polisinya daripada menjadi patung selamat datang di depan pintu masuk. Ia hanya bisa menembaki beberapa anak buah Akaashi yang berusaha masuk ke dalam gedung kepolisian dengan meringis kesakitan. Syukurlah tangan kirinya yang sakit, karena Kageyama bisa menembaki serangga-serangga itu dengan tangan kanannya.

Tanaka dan Asahi yang selesai meringkus kembar Miya dan mengamankan mereka kembali membawa bala bantuan. Tanaka yang paling emosi, entah karena masih dendam karena sahabat karibnya-Nishinoya-atau apa segera meletuskan pistolnya ke badan anak buah Akaashi hingga belasan manusia berjubah hitam itu rebah rimpah.

"Hei! Jangan pikir kalian hebat bisa menyerang markas polisi, dasar tengik!" Si botak itu menerjang belasan anak buah Akaashi tanpa takut tertembak sedikit pun. Ia bersisian membantu Sawamura yang mulai kewalahan karena pasukan Akaashi seperti air bah. Banyak sekali.

Asahi dan pasukannya juga membantu Sawamura mengatasi anak buah Akaashi. Dentuman peluru terdengar mengerikan. Sepanjang gedung terlihat kacau balau. Kaca gedung yang baru dipasang kembali pecah berserakan. Pepohonan sekitar berlubang karena peluru nyasar. Lampu jalan pecah, bekas peluru bergelimangan di tanah. Kageyama sekali lagi mengerang marah.

"Hinata, apa kau sekarang mau melarangku masuk pertempuran?"

Hinata mengerjap bingung. Kemudian tersenyum, "Tidak. Aku tidak akan cerewet lagi padamu. Tapi jika kau mati, asal tahu saja, selamanya kau tidak akan kumaafkan."

"Berarti kau mengijinkanku yang babak belur ini untuk bertarung?"

"Terserah.."

Kageyama mendengus geli. Seperti bukan Hinata saja ketika pemuda oranye itu bilang terserah. Mungkin Hinata memang benar. Ia telah berubah. Kageyama meringis senang, pistolnya masih bersisa banyak peluru. Ia bisa puas 'berburu' pasukan Gagak Hitam.

"Terima kasih kalau begitu…"

.

.

.

"Hinata Shouyo. Atas tuduhan dan segala bukti serta saksi, pengadilan telah memutuskan saudara bersalah atas kasus pembunuhan berantai dan pengedaran narkoba."

Hinata menghela napas pasrah. Ya ini hukuman atas kesalahannya di masa lalu. Ia tidak dapat memungkiri semuanya. Ia menjelaskan secara detail pokok persoalannya pada hakim berwajah tegas itu selama hampir satu jam lamanya. Sugawara yang menjadi saksi atas kasusnya pun menjelaskan sejujur-jujurnya dan Hinata tidak masalah akan kesaksiannya.

"…Maka, atas pelanggaran terhadap pasal berlapis itu, saudara Hinata akan diputuskan menerima hukuman…"

Hinata menutup matanya.

"…mati."

.

"Kau tidak bisa memutuskan hukuman mati begitu saja!"

Keadaan ruang sidang lengang. Menyisakan suara bariton pria bermata sewarna blueberry masak. Hinata menoleh pada sosok yang barusan berteriak lantang hingga menggema di langit-langit ruangan.

"Kageyama, tak apa –"

"Tidak bodoh! Hukum macam apa yang tega membinasakan nyawa seseorang?" Kageyama menatap tajam tuan hakim yang duduk anggun di singgasananya. Tangan hakim tua itu teracung, mengambil palunya.

TOK TOK TOK

"Harap tenang semuanya."

Hakim itu menatap Kageyama tajam. "Saudara Kageyama, jika anda keberatan mohon sampaikan alasannya secara baik-baik."

Kageyama berucap lagi, "Saya bilang tuan Hakim, hukum macam apa yang berkuasa membunuh seseorang? Bukankah tiap manusia memiliki haknya untuk hidup, mengapa hanya karena pasal berlapis ia harus dihukum mati?"

Seorang keluarga korban Gagak Hitam tampak berdiri tidak terima. "Kau sendiri, polisi, kenapa membelanya? Dia jelas-jelas menghabisi nyawa istriku, bagaimana bisa istriku meninggal sedang dia hidup bahagia di dunia?!" tunjuknya pada Hinata.

"Ya, benar! Kenapa keluarga kami boleh meninggal dibunuhnya, tapi dia tidak boleh diperlakukan sama adilnya dengan korbannya?!" Datang seruan-seruan marah lainnya hingga akhirnya ruang sidang mendadak riuh rendah. Semuanya setuju jika Hinata sebagai dalang pembunuhan mendapat hukuman seharga nyawa dirinya.

"Cukup!"

TOK TOK TOK

Hakim itu mengetuk palunya sekali lagi. Seketika ruang sidang kembali lengang. Hinata di tengah-tengah ruangan hanya bisa terdiam menunduk. Sugawara yang duduk di kursi saksi cemas-cemas menatap sekitar. Ia juga setuju pada Kageyama, kenapa harus hukuman mati? Ia menjadi tidak enak hati karena ia juga terlibat organisasi tapi malah hanya menjadi saksi. Itu lebih tidak adil.

Sugawara mengangkat tangannya. Hakim itu menyuruhnya bicara. "Saya rasa pendapat dari keluarga korban itu memang benar. Tetapi pendapat dari Kageyama juga sama benarnya. Secara resmi, bukankah Negara ini telah menetapkan perundang-undangan tentang hak hidup warganya? Bagaimana mungkin hak paling dasar yang diakui Negara yakni hak untuk hidup dilanggar oleh pembuatnya?"

Keluarga korban yang masih emosi itu kembali menyahut, "Lantas tanyakan pada teroris ini kenapa ia melanggar hak hidup istriku!?"

"Tidak… itu bisa dijelaskan.."

"Apanya? Ia membunuh keluarga kami, berarti ia melanggar undang-undang pemerintah, bukan?"

"Itu…"

"Oh, aku kenal kau. Kau juga salah satu dari mereka, tapi kenapa kau malah hanya menjadi saksi? Seharusnya kau ikut saja orang ini ditembak mati. Itu hukuman kalian, teroris!"

Hakim berambut putih itu menghela napas. Lagi-lagi ruangan kacau, semua yang hadir berseru-seru marah. Belum lagi beberapa Pers yang ikut menyaksikan terus mengambil gambar dengan Blitz menyala terang. Sekali lagi ia mengetuk palunya, sabar.

"Dalam hal ini memang sulit menentukan hal salah dan benar. Pengadilan juga tak sepenuhnya adil. Masing-masing dari kalian boleh memikirkan benar tidaknya perbuatan saudara Hinata, tetapi jangan lupakan fakta penting yang saudara Sugawara ucapkan tadi. Hidup manusia itu penting, harus dihormati, tidak ada yang boleh mengambilnya secara paksa. Dalam hal ini, saudara Hinata memang bersalah. Ia banyak mengambil hidup orang secara paksa. Kemudian rekam jejaknya membawanya kepada hukuman mati.

"Di sinilah kita yang menentukan baik tidaknya perbuatan kita. Jika kita menghendaki saudara Hinata menerima hukuman mati, bukankah kita menjadi sama sepertinya karena telah membunuhnya dan melanggar peraturan pemerintah? Sudah begitu, karena melanggar peraturan bukankah berarti kita semua harus dihukum secara hukum Negara yang berlaku? Kemudian orang yang memutuskan kita bersalah dan menjatuhi kita hukuman mati kembali melanggar peraturan pemerintah dan dihukum karena membunuh kita. Terus begitu, terus kejadiannya berlanjut hingga akhirnya semua manusia menjadi salah semuanya. Coba pikirkan hal itu sejenak saudara-saudara. Apakah yang kita lakukan sekarang ini adalah hal yang benar ataukah hal yang buruk."

Hakim itu menatap seisi ruangan yang terdiam. Seorang keluarga korban yang tadi menentang Kageyama menunduk serius. Air mukanya menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa. Begitupun dengan keluarga korban yang lain. Belum pernah sekalipun mereka memikirkannya. Yang mereka tahu hanya bagaimana supaya dendam dapat terbalaskan.

Sugawara yang terkejut dengan penuturan sang hakim kembali tersenyum. Ia bersyukur hakim ini yang telah membantu sidang Hinata. Ia menjadi sedikit lega dengan fakta ia juga mantan anggota organisasi. Ia berdiri tegap, memandang seisi ruangan.

"Kalian benar, aku juga dulu salah satu di antara mereka. Aku memohon maaf pada keluarga korban yang dulu pernah kubunuh. Aku minta maaf. Jika hukuman juga harus diberikan padaku, aku bersedia menerimanya…" Sugawara berdogeza di hadapan orang yang menghadiri sidang.

Para anggota keluarga saling tatap pandang. Di raut mereka masih tampak kebencian tetapi separuhnya telah lenyap karena penuturan sang hakim barusan. Di dalam hati mereka mengakuinya. Jika mereka memutuskan menghukum mati orang ini, itu berarti mereka juga berhak dihukum mati karena telah membunuh seseorang. Ini seperti paradoks.

"Jadi, apa masih ada yang ingin mengungkapkan pendapatnya?" sang hakim menatap seisi ruangan. Tidak satupun mengangkat tangannya.

"Baik, dengan ini telah diputuskan saudara Hinata aka menerima hukuman dan masa karantina rutan distrik empat selama sekian tahun. Dengan begini, kasus terselesaikan."

TOK TOK TOK

.

.

.

Tamat.

.

.

.

A/N

YA GUSTI TERIMA KASIH KARENA FANFIK INI BERHASIL TAMAT!

Terima kasih juga kepada setiap readers yang sudi mampir membaca dan menunggu setiap chapter yang gak tentu apdetnya! Fanfik ini kupersembahkan pada kalian semua dan Tuhan YME.

Waktu itu saia sempet tanya mau seperti apa endingnya, dan ada yang kasih saran angst. Hm, saia juga berpikir hal yang sama, tapi, tapi kok? SAIA GAK BISA BUAT DEDE SHOUYO LEBIH MENDERITA LAGI, SAIA GAK KUAT :"((( jadi mohon maaf karena ide angstnya bukan dipake buat ending tapi buat masa lalunya Kags, maaf :")))

Ini walapun sudah tamat saia masih pengen Kags dan Shouyo barengan walaupun Shouyo udah di rutan :"((( jadi, ini baru ide entah terealisasikan atau tidak, saia pengen buat masa mereka ketika Shouyo udah di rutan dan Kageyama tetap polisi di distrik satu. Entah saia gak bisa janji buatnya

Tapi, TERIMA KASIH LAGI UNTUK KALIAN SEMUA YANG MEMBANTU MENUMBUHKAN SEMANGAT NULIS SETIAP HARI! SAIA CINTA KALIAN SEMUA!

Salam, Usagi.