Chapter 14 : The Truth Seeker

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

Saya update untuk minggu terakhir bagi para reader untuk libur! (Saya mah udah sekolah duluan dari tanggal 1 juli lalu XD. Jadi bagi yang masih libur gunakan waktu libur kalian sebaik-baiknya, oke?)

Kenapa judul chapter ini begini? Karena kalian pasti kaget kalau saya bilang Len lah iblisnya di sini :3 #PLAK #NGACO!

Langsung aja mulai! Check this out!

A Fantasy Fict from me

~Dreamy Cherry Blossom~

Main pair : Kagamine Rin & Kagamine Len, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Cover : OrangeCornPuff from DeviantArt

P.S. : Ichiban no Takaramono song – Angel Beats! (GirlDeMo – Yui's Ver.)

Summary :

'Apa sebenarnya aku ini? Apa aku bukan bagian dari dunia ini? Apakah ada dunia lain yang tersembunyi?' 'Kau hanyalah mimpi, kau hanya makhluk ciptaan yang tidak nyata, kau hanya hidup di dunia sebagai bayangan. Tidak lebih setelah inangmu menghapus mu dengan yang baru.'

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje karena fict pertama, pendeskripsian kurang, kesalahan eja EYD dan teman-temannya.

'Abc' : flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
'Abc' : percakapan normal
'Abc' : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

Balas membalas review seperti biasa di bawah ya...

HAPPY READING MINNA!

Chapter 14 : The Truth Seeker

Normal POV


"Silahkan duduk, Akane-san, Kagamine-san" Kiyoteru berbicara santai pada Len dan Rin, sedangkan orang yang disuruh duduk sudah mulai merinding ketakutan.

Len dan Rin hanya bisa menuruti perkataan Kiyoteru, tapi Len sudah naik pitam. Dia tidak tahan pada sandiwara murahan yang tengah terjadi.

"Kau!"

"Kagamine-san, ada angket untuk festival budaya nanti kan? Festival ini terlambat karena beberapa insiden yang terjadi. Bisakah kau mencegah para murid lain untuk tidak keluar kelas dahulu? Aku lupa mengatakannya tadi." Kiyoteru berkilah sebelum bertemu dengan amukan dari emosi Len, Rin mengerti dan mengangguk kepada Kiyoteru. Len memberi tanda untuk tidak khawatir dengannya. Rin pun memberi permisi dan keluar dari ruang guru.

"Nah, tadi apa yang mau kau katakan Akane-san?"

"Jangan bercanda sensei! Apa yang kau mau dengan memanggilku?! Kau menginginkan benda 'itu' kan?! Kau mau menghancurkan batas dimensi kan?! Bagaimana dengan Kaito, apa ia juga anggota Epitaph?! Bagaimana dengan Honne Dell, apa kau memerintahnya untuk mengawasiku dan membunuhku dari suatu tempat di sini?!" Len sudah terlanjut marah-marah, ia sudah muak dengan permainan bodoh dari Kiyoteru.

"Wow, wow, sabar. Akane-san aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Tapi ini sedikit nasihat dariku, tolong kurangi waktu bermain game RPG mu, itu membuat isi kepalamu terlalu banyak terhiasi dengan hal-hal fantasy." Kiyoteru tetap berkilah dengan senyuman di wajahnya. Len langsung salah tingkah, sudah asal ceplos, sekarang sensei nya berpura-pura tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Len merasa dipermalukan.

"Cih.. Ehm, jadi apa maksud kedatanganku ke sini, sensei?" Len berdecih dan mencoba mengikuti keadaan yang ada. Walau dalam hatinya ia berkeinginan meremuk Kiyoteru sekarang juga dan mengakhiri drama bodoh rancangan Kiyoteru dalam hidupnya.

"Jaga perkataanmu Akane-san aku bisa memasukkan mu dalam daftar student's black list jika aku mau. Apa kau mau diperhatikan ketat oleh semua guru selama di sekolah?" Kiyoteru mengancam Len dengan peraturan sekolah, 'terlalu biasa.' Itulah pikiran Len.

"Baiklah, tolong maafkan kelancangan saya. Jadi bisa kita lanjutkan sensei?" Len berkata sopan sambil berdengus pelan, ia tak mau jika dengusannya terdengar Kiyoteru dan berakhir di dalam daftar konyol sekolah yang bisa membuatnya di keluarkan dari sekolah.

"Saya mau agar kau menjadi pemimpin angket untuk kelas kita dalam festival budaya nanti. Saya tidak bisa mengatakannya langsung di kelas tadi, terlalu banyak protes dalam pemilihan sepihak di keramaian seperti itu. Jika pemilihan sepihak dilakukan dalam pertemuan pribadi seperti ini, tidak akan ada yang bisa menolak dengan alasan apapun." Kiyoteru kembali berbicara pada Len dengan senyuman.

Len hanya menghembus nafas dan mengangguk mengerti kemudia keluar dari ruang guru setelah mengucapkan permisi. Len tidak sadar saat ia berbalik senyuman ramah Kiyoteru berubah menjadi cengiran gila seorang psikopat yang tidak waras.


Len's POV


Aku tidak mengerti maksud dari orang bodoh tadi. Aku jadi bingung, sebenarnya musuhku itu Kiyoteru yang mana sih?!

Saat kembali ke kelas semua mata tertuju padaku, apalagi tatapan para murid lelaki. Aku sudah biasa ditatap Kaito dengan tatapan seperti ini, tapi kenapa Mikuo yang tukang tidur juga bertatap harap seperti itu sih?!

"Len-sama tolong dengarkan angket kami!"

"Iya Len-sama!"

"Tolong Len-kun, jangan dengarkan mereka!"

"Iya mereka mesum!"

Baru semenit aku datang, langsung dihujati pernyataan tidak jelas. Aku menoleh ke arah Rin yang berada di depan kelas untuk meminta penjelasan, Rin hanya menunjuk-nunjuk papan tulis kapur di depan proyektor modul kelas dengan wajah menggembung.

'Rumah hantu : 5 orang'

'Orchestra terbuka : 3 orang'

'Drama : 2 orang'

'Maid cafe : 14 orang'

'Stand video game : 5 orang'

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi, mereka sedang mevoting apa yang akan di tampilkan kelas pada festival kebudayaan.

'Apa-apaan ini?! Maid cafe semua yang memilih laki-laki, jika aku ikut memilih jadi pas 15 orang!' Seperti itulah pikiranku sekarang. Mereka sekarang sedang menunggu persetujuan ku untuk hasil sah dari voting ini.

Saat aku menoleh ke arah Rin, wajahnya memerah malu dengan pipi menggembung, ia menggelengkan kepalanya sambil menyilangkan kedua tangannya kedepan.

'TIDAK!' Mungkin itulah yang ingin dikatakan Rin. Tapi melihat Rin dengan baju maid yang terbuka, melayani para pengunjung dengan panggilan 'Goshuujin-sama' dan menghiasi makanan yang tersaji dengan mantra dan yel-yel seperti 'Genki power-up!' Atau 'Moe moe kyun~'. Itu saja sudah membuatku nosebleed jika aku sedang sendiri saat membayangkannya.

Tapi bagaimana dengan para perempuan, aku tidak tega jika mereka tersakiti.

Krik...

Krik...

Krik...

"BAIKLAH! MAID CAFE AKAN DI PILIH SEBAGAI ANGKET RESMI KELAS KITA!" Aku berucap dengan sekuat tenaga. Maaf Rin, aku tidak bisa memihak mu sekali ini saja.

Para laki-laki bersorak gembira sedangkan para perempuan memberiku deathglare yang menusuk termasuk Rin.

"Jika kelas kita mendapat predikat sebagai kelas terbaik dalam festival kali ini, aku akan menyerahkan seluruh hadiah pada murid perempuan!" Ya itulah tambahanku, aku merasa kasian dengan murid perempuan. Ada beberapa lelaki yang langsung pundung saat aku mengatakan itu. Sedangkan para perempuan langsung semangat mendengarnya.

Yah, bukan hanya ketenaran yang didapat, tapi menurut info yang kudapat, hadiah bagi kelas terbaik di festival budaya merupakan sejumlah uang dan tiket gratis ke onsen terkenal di tokyo seperti Azabu-juban onsen atau Jinata onsen dan jika kelas kami juga mendapat predikat prom queen and king pada pesta dansa di malam akhir festival, tiket tersebut bisa ditukar ke Sawada koen-rotenburo onsen, onsen dengan pemandangan pantai terbagus dari seluruh onsen berpemandangan laut di Jepang, untuk 3 hari 4 malam.

"Mo.. Kalau sudah begini kita harus mendapatkan gelar prom queen and king pada malam terakhir! Kami para lelaki tidak mau tidak mendapat apa-apa, jika kita menang pada promnight malam terakhir itu berarti kalian juga harus mengajak kami, karena lelaki juga ikut berjuang di sana!" Kaito menyoraki anak laki-laki di kelas.

Sepertinya ini malah akan jadi pertarungan.

"Len.. Kalau kau... Hmm, berniat ikut promnight, aku siap jadi pasanganmu..."

Rin berkata pelan sambil menggenggam lengan cardigan ku. Dan berakhir dengan sorakan norak satu kelas, astaga..


Rin's POV


Ugh, jadi pasangan Len! Aku tidak sabar!

"Hey Rin, jangan melamun..."

"I.. Iya Len!"

Kami sekarang sedang berjalan pulang bersama. Len terlihat kusut, anak kelas kami memang heboh sih.

Saat sampai di pohon sakura persimpangan jalan ke rumah kami, aku dan Len melihat ada seorang wanita, tidak... Perempuan yan seumuran dengan kami, sepertinya. Tergeletak lemah di sisi lain pohon, warna rambutnya sama seperti aku dan Len.

Kami langsung mendatanginya dan mengecek keadaannya. Dia terluka parah... Aku dan Len sepakat untuk membawanya ke rumah Len, karena memang jalan ke rumah Len lebih dekat.

.

.

.

BRUAK!

"Yuki! Ambilkan kotak P3K! Cepat!" Len berteriak saat sampai rumahnya, sepertinya Gakupo-san belum pulang.

"Iya, iya, ada ap... Astaga! Baiklah Len nii-chan!" Yuki langsung ikutan panik saat melihat perempuan di tangan Len.

Huuh... Aku agak iri dengan perempuan itu. Bisa-bisanya ia digendong Len dengan gaya bridal style, aku juga mau tahu...

"Rin! Tolong, cepat gelar futon di ruang tamu untuk menidurkan orang ini!"

"Eh? Ba.. Baiklah!"

Aku langsung buru-buru melakukan apa yang diperintahkan Len, kenapa aku juga ikut panik?

.

.

.

"Nggh.. Dimana ini?"

Perempuan itu sudah bangun, Len masih keluar mencari beberapa makanan.

"Kau.. Kau Kagamine Rin!"

Eh? Tunggu... Kenapa ia tahu namaku?!

"Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail, aku Akita Neru, salah satu bawahan Kiyoteru yang bertugas mencari informasi dari Nanohanagou. Aku kabur dari Kiyoteru setelah mengetahui hal yang sebenarnya ia rencanakan, dan ini mengerikan! Dimana Akane Len?!"

"Eh? Di.. Dia pergi keluar mencari makan..."

"Semoga tidak ada yang tahu jika aku bersama kalian."

Kemudian hening melanda, ini sebenarnya merupakan kesempatan bagus. Kami dapat menggali informasi dari dia. Tapi Len, lebih baik menunggu Len.

"Selagi tidak ada Akane Len. Aku ingin memberi tahu sesuatu." Neru memulai pembicaraan.

"Apa itu?"

"Kau tau Honne Dell?"

Anak itu! Kenapa Neru menyebut namanya saat ini?!

"Kau, jangan-jangan kau mata-mata yang digunakan Kiyoteru untuk mengelabui aku dan Len!"

"Tidak Kagamine Rin! Percaya padaku! Paling tidak dengarkan dulu penjelasanku!"

"Baiklah." Aku hanya bisa pasrah dan mendegarkannya dulu.

.

.

.

"Bagaimana jika kau mengatakan jika pada akhirnya Len adalah orang jahatnya?" Neru mulai berbicara aneh lagi, apa? Len orang jahat?

"Bagaimana mungkin, jangan bercanda..."

"Apa kau tahu kenapa Dell begitu ingin membunuh Len?"

"Tidak, aku tidak tahu.." Lagi-lagi aku menjawab pasrah.

"Dell dahulunya juga seorang manusia biasa yang ditangkap oleh Kiyoteru sebagai kelinci percobaan sama seperti Len. Tapi berbeda dengan Len, Dell benar-benar seorang manusia biasa tanpa kekuatan apapun sebelumnya. Dell bukan seseorang dengan gen pemburu youkai seperti Len, ataupun youkai sepert aku, Kaito, dan lainnya." Neru bercerita tentang masa lalu Dell, mungkin ia sudah bersama Kiyoteru saat Dell diambil dulu. Dan ternyata memang benar, Kaito termasuk anggota Epitaph.

"Dell mulai dicekoki berbagai macam percobaan, tapi yang membuat Dell istimewa di mata Kiyoteru adalah Dell dipilih oleh sang pedang suci untuk menjadi pemiliknya, Dell dipilih oleh Excalibur, kau tahu kan pedang itu? Kau pasti pernah melihat Dell menggunakan pedang itu."

Jadi, pedang yang waktu itu digunakan oleh Dell melawan Len adalah Excalibur? Pantas saja, itu pedang suci.. Gen iblis seperti apapun yang digunakan Len tidak akan menang melawan pedang itu. Baik itu pandora ataupun gen beast tamer.

"Saat Dell mengetahui bahwa dirinya hanya kelinci percobaan, dia tidak marah dan melawan. Dia tetap setia pada Kiyoteru karena telah memungutnya yang telah menjadi yatim piatu. Tapi saat Dell tahu jika Len akan digunakan untuk membangkitkan Nanohanagou, Dell tidak bisa diam. Ia sebenarnya ingin membelot pada Kiyoteru, tapi ia berpikir jika bersama Kiyoteru bisa membunuh Len, dia akan ikut kalau begitu."

"Tunggu! Bukannya, Dell membunuh Len karena ia ingin menghisap Len dan membantu Kiyoteru membangkitkan Nanohanagou atau apalah itu?!" Aku membantah perkataan Neru. Bukannya Dell membunuh Len demi itu?!

"Kau salah, itu hanya penyamaran Dell. Dell membunuh Len demi tercegahnya kebangkitan Nanohanagou." Neru kembali melanjutkan pembicaraannya.

"Jika begitu. Kenapa Dell tidak bergabung saja dengan kami?! Kami kan juga ingin mencegah Kiyoteru menyelesaikan rencananya!"

"Itu juga tidak bisa..."

"Kenapa? Kenapa Neru?!"

"Karena Dell juga memiliki dendam terhadap Len, orang tua Dell dibunuh oleh Leon dan Lily, sang youkai hunter terhebat."

Hah? Kau bercanda kan?

"Kenapa? Kenapa bisa?" Aku mencoba untuk tidak menangis saat mendengarnya, ini makin membuatku bingung untuk memihak siapa.

"Orang tua Dell dulu dianggap pernah membantu youkai, sebenarnya orang tua Len sempat menolak keputusan para tetua untuk membunuh manusia. Tapi apa daya, para tetua selalu menggunakan kekuasaannya."

"Neru, kenapa kau bisa tahu sebanyak ini?"

"Aku juga memiliki kemampuan, kemampuanku adalah time traveler, aku bisa menjelajahi masa lalu seseorang selama masa lalu itu benar-benar terjadi. Dengan kata lain, aku bisa menjelajahi waktu dan ingatan seseorang selama ia hidup jika ingatan yang ia miliki masih ada. Jika sudah hilang atau sang pemilik ingatan lupa, aku tidak bisa apa-apa." Neru memberi tahu kekuatannya, sepertinya ia memang bukan mata-mata.

"Apa benar Kaito juga bawahan Kiyoteru?" Aku menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal dipikiranku. Apa Neru mau menjawabnya?

"Iya, itu benar. Tapi aku tahu jika Kiyoteru hanya menggunakan kami semua tidak lebih dari alat. Aku tahu, itu alasanku kabur dari Kiyoteru."

"Lalu siapa yang membuatmu luka parah seperti ini?"

"Dell, ia mendapat perintah untuk membunuhku. Tapi ia tidak sampai membunuhku dan membiarkanku kabur, ia hanya memberi peringatan terakhir untuk tidak mengganggu rencananya atau jangan sampai Kiyoteru tahu kalau aku sebenarnya belum mati. Ia jugalah yang menyuruhku memberi tahu ini semua pada kalian. Dell ingin tahu, apa yang akan kalian lakukan setelah mendenggar semua ini. Ah sudah waktunya ya?"

Tubuh Neru memudar dan agak bersinar, apa yang akan terjadi?

"Neru! Neru! Kau kenapa?!"

"Kami youkai tidak seperti manusia, kami makhluk yang tidak akan mengingat satu sama lain. Kematian kami akan membuat kami menghilang dari dunia. Karena tidak ada satu orangpun yang akan ingin mengingat kami walau hanya di dalam hatinya."

"Tapi Neru! Tolong, aku akan mengingatmu! Jangan pergi! Aku tidak tahu harus apa!" Aku berteriak dan menangis, aku tidak kuat jika harus menanggung beban seperti ini sendirian!

"Kau adalah dewi, kau akan menemukan jalanmu sendiri. Tidak ada yang bisa kau ubah soal kematian seorang youkai. Selamat tinggal, dan senang bisa bertemu denganmu..."

Neru menghilang dihadapanku, tetesan airmataku hanya terjatuh ke atas telapak tanganku sendiri. Len, apa yang harus kulakukan? Jika kau tahu apa kau akan membunuh Dell? Apa kau akan membalas dendam mu pada Kiyoteru?

Aku bertekad, aku akan menemukan cara tanpa membuat Len, Dell, Kaito, atau para youkai lain yang diperalat oleh Kyoteru saling membunuh pasti.

Srek!

"Rin aku data... Loh? Perempuan tadi kemana?" Len datang ke kamar tamu dan hanya mendapatiku sendirian.

"Ia pergi, ia berkata terimakasih untuk pertolongan kita."

"Oh begitu..." Nada Len seakan... Dibuat-buat? Atau hanya perasaanku saja?


Len's POV


Aku berjalan ke arah kamar tamu, Rin menginap di sini karena saat sadar dari lamunannya hari ternyata sudah malam.

Sebenarnya aku mendengar semuanya, apa yang dikatakan Neru, alasan Dell ingin membunuhku, Kenyataan jika Kaito dan youkai lain hanya alat bagik Kiyoteru dan saat Neru menghilang dihadapan Rin, aku tahu semuanya.

Tapi aku hanya memasang sandiwara murahan, Rin pasti akan bingung jika aku mengatakan aku tahu semuanya sejak awal.

'Jreng, jreng...'

Huh? Suara gitar? Apa itu dari tempat Rin? Ah, aku ingat pernah meminjam gitar Gakupo dan kuletakan di situ.

Kao wo awashitara kenka shite bakari
Sore mo ii omoide datta

Lagu ini? Apa Rin yang menyanyikan? Rin, apa maksudmu menyanyikan lagu dengan arti seperti ini?

Kimi ga oshiete kuretan da Mou kowaku nai
Donna fujiyuu demo shiawase wa tsukameru Dakara

Makin kudengar, makin aku bingung.

Hitori demo yuku yo Tatoe tsurakute mo
Kimi to mita yume wa Kanarazu motteku yo
Kimi to ga yokatta Hoka no dare mo demo nai
Demo mezameta asa Kimi wa inain da ne

Apa kau mengira kau akan berjuang sendiri pada akhirnya Rin?

Zutto asondereru Sonna ki ga shiteta
Ki ga shite ita dake Wakatteru
Umarete kita koto mou koukai wa shinai
Matsuri no ato mitai Sabishii kedo sorosoro ikou

Apa kau hanya menganggap kenangan denganku, hanya kenangan menyenangkan belaka yang akan hilang dimakan waktu?

Doko made mo yuku yo Koko de shitta koto
Shiawase to iu yume wo kanaete miseru yo
Kimi to hanarete mo Donna ni tooku natte mo
Atarashii asa ni Atashi wa ikiru yo

Tenang Rin, kau tidak akan berjuang sendirian!

Hitori demo yuku yo Shinitaku natte mo
Koe ga kikoeru yo Shinde wa ikenai to
Tatoe tsurakute mo Sabishisa ni naite mo
Kokoro no oku ni wa Nukumori wo kanjiru yo

Megutte nagarete Toki wa utsuroida
Mou nani ga atta ka Omoidasenai kedo
Me wo tojite mireba Dare ka no waraigoe
Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono

Aku akan selalu di sisimu, bersama selamanya. Jangan berputus asa Rin, kau adalah bagian hatiku... Kaulah alasanku hidup, aku akan selalu mengikutimu walau semua hanya akan berakhir dalam mimpi.

.

.

.

Srek!

"Rin.."

"Ah Len..."

"Hentikan.."

"Hentikan apa Len?"

"Hentikan jika kau merasa kalau kau harus melakukan semuanya sendirian!"

"Apa maksudmu Len?"

Tidak perlu berpura pura lagi Rin

"Tidak perlu kau bermain drama di depanku. Aku tahu apa yang kau bicarakan dengan Neru! Aku tahu!"

"Len? Sejak kapan?"

"Aku akan selalu bersamamu! Aku akan menyelamatkan semuanya! Aku akan menjaga semuanya! Aku akan mengakhiri semuanya dengan bahagia! Dan akhirnya aku bisa menetapi janjimu denganku!"

Rin kembali menangis, ia terkejut karena memang pada awalnya aku menguping pembicaraannya dengan Neru. Tapi, kau tidak perlu takut Rin. Aku akan menyadarkan Dell, Kaito, dan semuanya. Pasti!

"Len, maafkan karena aku telah menyimpan semuanya sendiri..."

"Iya Rin, sekarang kau tidak perlu takut lagi.."


Chapter 14, Owari~~~

Neru di sini seperti mengetahui semuanya dan Kiyoteru memberi perintah pada Dell untuk membunuh Neru. Tapi selama Dell melukai Neru, ia berpikir apa yang dilakukannya benar?

Akhirnya Dell berhenti menyerang Neru dan membiarkan Neru kabur untuk memberi tahu kebenarannya kepada Len dan Rin. Dell sendiri sebenarnya masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan ^^

Begitulah cerita di chapter ini, khususnya saat bagian Neru menjelaskan masa lalu Dell ^^

Yosh! Balas review!

-To reviewer named Lyn Ed :

Death chara malah sepertinya making mungkin di sini, liat saja Neru sudah menghilang (Setelah dapet giliran bicara perdana, eh langsung mokad ekekeke ^^)

Mungkin semuanya akan menghilang satu-satu? Saya juga belum tahu.

Kaito mungkin awalnya antagonis, sampai ia sadar kalau dia hanya diperalat :v

Makasih reviewnya! Ini updatenya!

-To reviewer named Alfianonymous22 :

Len kan gak omongannya gak ada filternya, gak disuling dulu langsung diminum wkwkwkwk XD (Len : Dasar author lolicon akut! Sampah hentai! Persatuan ecchi menjijikan!) Tuh kan saya udah dikatain lagi :3

Gak ada typo? Bagus deh :3

Makasih reviewnya! Ini updatenya!

-To reviewer named Namikaze Kyoko :

Rin adalah monster yan setara dengan kejahatannya Lucifer si malaikat jatuh, XD

Iya tuh Lenka, contoh buruk untuk anak-anak! (Lenka : Kan yang bikin cerita kamu, thor -_-")

Anaknya untung gak sebanyak bintang di langit :3 (gimana tuh bikinnya?!)

Makasih reviewnya! Ini updatenya!

-To reviewer named BerlianaDeceiver1224 :

Yo! Ini dah update! Makasih reviewnya!

-To reviewer named CoreFiraga :

Len dan Rin mungkin 'kawin' duluan :3 (If you know what i mean? XD)

Masa lalu Dell lebih suram :v

Makasih reviewnya! Ini updatenya!


Oke selesai untuk chapter ini! Nantikan yang selanjutnya yah!

Maafkan saya kalau ada cara membalas yang kurang berkenan di hati para reviewer.. saya mohon maaf.
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan ^^ jangan terlalu pedas ya! Karena review kalian adalah penyemangatku untuk menulis! Jaa~~ Matta ne~~ !

Best regards,
Aprian