14.

"Musuh yang baik adalah yang memperhatikan musuhnya dengan cermat."

Baik, Tuan Hozuki, baik. Momotaro mengerti. Pun mengertinya pada maksud kata 'memperhatikan' itu, sejelas pemandangan yang dilihatnya sekarang ini. Kompres di dahi sang Penjelmaan hewan mitos China, air dingin di mangkuk, dan Hozuki yang duduk kalem di samping tempat tidur, sembari sesekali meminta supaya ia mengganti air di mangkuk itu, atau mengambilkan beberapa bahan obat yang kemudian diracik sendiri oleh sang Kishin untuk kemudian diberikan pada Hakutaku. Ya, Momotaro paham sekali.

Sepaham bagaimana lembutnya tangan itu mencoba menyentuh dahi Hakutaku sembari mengganti kompres di dahinya.

"Tuan Hozuki."

"Tak apa. Ia akan sembuh esok hari. Hanya gejala keracunan biasa. Aku hanya memasukan beberapa tetes ke mangkuknya kemarin lusa."

...

A-apa? Apa?

"E-eh..."

"Racikan baru dari dapur neraka kami. Konon memiliki rasa yang amat kuat hingga dapat melelehkan organ dalam manusia. Tak buruk juga, kurasa."

"T-tuan Hozuki, maksudmu..." Momotaro menelan ludah. Menatap ke arah mentornya yang terbaring tak percaya.

"Aku hanya ingin mencobanya. Itu saja."

"B-bukan! Saya bukan ingin bertanya itu. Tapi..." Mantan pahlawan bertubuh gempal itu menelan ludah paksa. "Anda ingin mengatakan, jika kemarin lusa anda dan Tuan Hakutaku... jalan berdua?"

Hozuki segera merengut tak senang.

"O-oh, b-berpapasan? Itukah? Oh... Haha..."

Dan ekspresi iblis itu masih tak berubah dari sebelumnya. Momotaro pikir ia akan mengalami nasib buruk karena merusak suasana hati Hozuki, berdoa dalam hati semoga ia masih dapat bernafas esok hari. Ia tak berharap, sungguh, untuk mendengar jawaban dari sang Kishin saat itu.

"Ia yang menemuiku." Momotaro berjengit kaget. "Aku tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Meskipun, ya. Aku sedikit merasa senang saat itu ketika menemui ada seorang sukarelawan yang menawarkan dirinya untuk mencoba racikan yang baru saja kuselesaikan dengan datang ke tempatku."

Dan sekali lagi, tangan itu bergerak membasahi kembali kain kompres dan meletakkannya pada dahi Hakutaku yang sampai saat ini tak sadarkan diri, meriang, disertai keringat yang terus membanjiri.

"Kuharap ia besok bisa mencicipi ramuanku yang lain."

Lagi-lagi Momotaro dapat memahami hal itu dengan amat baik, lalu mengamini di dalam hati. Ah, romansa...

.

.

*Sick-End*