Title : Missin' U
Genre : Brothership, Family, Hurt, Tragedy, Drama
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Shim Changmin, Park Jungsoo, Kim Heechul
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Bad Plot, Ooc(Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't like it? Don't read it!
Summary : Dulu aku mengira tak ada yang salah dengan persaudaraan kita. Sekarangpun aku masih berpikir begitu. Tapi hyung, mengapa kau berubah? Aku merindukanmu yang dulu, yang memelukku ketika musim dingin datang, yang menggandengku ketika musim semi datang. Hyung—12 tahun, apa kau tak merindukanku?
.
.
©PrincessKyunie©
Present
.
Enjoy reading!
.
.
Chapter 13
Kibum menyesap cappuccino dalam gelasnya. Pemuda itu memandang kearah pintu masuk cafe ketika lonceng berbunyi –penanda jika ada pengunjung yang masuk atau keluar, dan sosok tampan yang sejak tadi ditunggunya itu melambaikan tangan sembari mengeluarkan senyum jokernya. Kibum balas tersenyum, melambai, menyuruh pemuda itu mendekatinya.
"Sudah lama menunggu, Kibum-ah?"
"Kau sepertinya punya hobi terlambat ya?" Kibum balik bertanya. "Duduklah, dan jelaskan saja pembicaran kita ditelepon" katanya to the point seakan tak peduli bahwa pemuda didepannya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Kau bahkan belum membiarkanku memesan minuman" dengus sosok tampan itu. Namun ia segera melambai pada pelayan, memesan minuman kesukaannya tanpa menunggu ijin dari Kibum. Hei! Disini dia bahkan lebih tua beberapa tahun dari Kibum! "Dan kau melupakan suffix 'hyung' pada kalimatmu" lanjutnya kembali mendengus.
"Jadi?" Kibum tampak tak sabar, membuat sosok tampan itu mendengus, lagi.
"Sepertinya kau lupa kalau aku lebih tua beberapa tahun darimu, Kim Kibum" katanya. Ia tersenyum begitu melihat pelayan mengantarkan minuman pesanannya. Cepat sekali. "Oh baiklah—baiklah, tidak usah menatapku seperti itu" katanya begitu melihat tatapan mata Kibum begitu tajam padanya.
"Jadi, kau mau tahu yang mana?" tanya sosok itu akhirnya.
"Siwon hyung" jeda Kibum. Entahlah, ia jadi merasa takut untuk menanyakannya lebih rinci. Tapi ia harus tahu. Entah untuk apa. Dia hanya ingin mengetahui semuanya.
"Jelaskan semuanya padaku" putusnya.
Siwon batal meminum kopinya. Dokter muda itu menatap Kibum. Ada tatapan khawatir dan penasaran disepasang mata hitam Kibum yang biasanya tak bisa dia baca. "Obat siapa yang kau kirim padaku?" tanyanya. Ia penasaran sekali siapa pemilik obat-obat itu. "Salah satu obat yang kau kirim itu adalah obat penahan rasa sakit dosis tinggi, Kibum-ah"
Kibum masih diam, ia tahu Siwon masih akan menjelaskan lagi. Lebih banyak lagi yang ingin dia tahu.
"Aku bingung harus menjelaskan dari mana, Kibum" aku Siwon. "Semua obat itu, apa dikonsumsi oleh satu orang?" Kibum mengangguk, membuat Siwon ikut mengangguk. "Ini buruk" putusnya.
"Maksudmu?"
"Kau tahu pneumothorax kan? Penumpukan udara dalam rongga paru-paru si penderita sudah sangat parah dan menyebabkan selaputnya sedikit robek. Penderita akan mengalami kekurangan oksigen tiap melakukan hal yang melelahkan, misalnya berlari" Siwon memberi jeda, sebenarnya menunggu reaksi Kibum.
.
"Tidak, Kyu tidak boleh ikut lomba lari"
Kyuhyun yang awalnya tersenyum itu menautkan alisnya. "Tapi kenapa, Bu? Kyu ingin ikut bersama Kibum hyung. Wooyoungie saja ikut bersama Taecyeon hyung!"
"Pokoknya tidak boleh!" Ibunya nampak bergeming ditempatnya, membolak-balik majalah sambil sesekali melirik dua jagoannya.
"Kibum hyung" cicit Kyuhyun sambil melirik Kibum, berharap kakaknya itu membantunya membujuk Ibunya. Tapi sepertinya Kyuhyun lupa seperti apa kakaknya itu.
"Dengarkan saja apa kata Ibu, Kyuhyun" Kibum berlalu setelahnya, meninggalkan sosok Kyuhyun yang merasakan dadanya sesak. Lagi. Ia telah membuat kakaknya terluka.
"Kibumie" suara sang Ibu menghentikan langkah malas Kibum. Bocah itu mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'ada apa bu?'. "Jangan marah pada Kyuhyun"
Kibum merasakan dadanya bergemuruh. Rasa-rasanya dia sudah tidak kuat mendengar pembelaan Ibunya atau Ayahnya untuk Kyuhyun. Rasanya dia mulai muak dengan semua yang Ibu dan Ayahnya lakukan untuk Kyuhyun.
"Mengertilah. Suatu hari—kau pasti akan tahu mengapa Ibu melarang Kyuhyun untuk ikut"
Ya, tentu saja karena takut terluka. Kibum tahu adiknya itu sungguh lemah. Namun bocah itu tak mengucapkan apapun, dia hanya mengangguk kemudian menyunggingkan senyum, seolah ia mau mengerti.
.
"Seperti yang kau tahu, Pneumothorax tidak bisa disembuhkan, Kibum. Dan untuk penderita satu ini, kemungkinan kambuhnya mencapai 50%" lanjut Siwon. Dokter muda itu sedikit mengernyitkan dahinya ketika melihat raut wajah Kibum mengeruh. "Kau baik-baik saja, Kibum-ah?"
"Ya" meski ragu namun jawaban Kibum terdengar mantap ditelinga Siwon.
"Kau mau aku melanjutkan penjelasanku?" tanya Siwon ragu. Kibum mengangguk singkat. "Baiklah. Dan obat ini" diambilnya plastik berisi salah satu obat yang Kibum kirim padanya kemudian meletakannya diatas meja. "Ini obat untuk penderita kelainan jantung"
"Apa?!" mata Kibum menatap tajam Siwon.
"Ini obat keras, Kibum. Penahan rasa sakit dosis tinggi. Perkiraanku, pasien sudah mencapai batasnya"
"Maksudmu?"
"Pasien harus segera naik meja operasi"
Mata Kibum melotot mendengar kalimat terakhir Siwon. Kaget? Tentu saja. Meskipun ia seorang calon dokter, ia tidak tahu obat apa itu sementara ia mengambilnya saja dari plastik obat tanpa tulisan resep diluarnya. Bagaimana mungkin Kyuhyun mengkonsumsi obat untuk penderita jantung kalau tidak menderita jantung? Dan tiba-tiba saja ia merasa takut. Takut kehilangan untuk kedua kalinya.
.
"Ingat, jangan meletuskan balon didekat Kyuhyun"
"Kenapa?" Kibum bertanya dengan nada tidak suka.
"Pokoknya jangan meletuskan balon didekat Kyuhyun, Kibum. Mengerti?" Ibunya kembali memberi wejangan tanpa penjelasan yang diinginkan Kibum.
"Aku mau alasan yang jelas, Bu. Lagipula, ini untuk ulang tahunnya" bukankah ulangtahun selalu identik dengan balon bagi anak kecil seperti mereka? Kibum hanya ingin Kyuhyun merasa senang dengan bermain 'mari-meletuskan-balon' seperti yang dia lihat diacara ulangtahun teman sekelasnya.
"Kau akan tahu nanti, Kibum. Ibu mohon"
.
"Dan kabar buruknya lagi adalah" Siwon memberi jeda –lagi, membuat Kibum tersadar dari lamuannnya. "Akan sulit jika keduanya kambuh bersamaan"
Hening. Pandangan Kibum mengosong dan Siwon tak menyadarinya.
"Jadi, siapa pemilik obat-obatan ini? Bukan dirimu kan?"
Kibum tak menjawab. Bayang-bayang masa kecilnya kembali berputar seakan mentertawakannya. Mengapa ia merasa iri pada adiknya yang lemah itu? Padahal Ayah dan Ibunya hampir selalu melakukan yang terbaik juga untuknya. Ya, mungkin hanya karena Ayah dan Ibunya kadang lupa, ah tidak, tapi terlambat mengucapkan selamat ulang tahun untuknya kah? Picik sekali pikiranmu, Kim! Jadi apa sekarang kau menyesal?
"Ya! Setidaknya jawab pertanyaanku, Kibum. Kau tahu betapa aku tak bisa tidur ketika kau mengirimkan obat itu padaku? Cukup satu orang di Seoul ini yang kutahu mempunyai penyakit keduanya"
Kibum mendongkrak, menatap Siwon dengan tatapan bertanya. Tak biasanya Siwon sampai membentaknya seperti itu –betapapun dia bersikap dingin pada Dokter muda itu. Karena Siwon sudah mengenalnya dengan baik.
"KIM KIBUM!"
Suara teriakan itu menggema diseluruh kafe, membuat semua orang menatap pemuda pucat yang baru saja masuk dengan wajah kesal itu, menjadi pusat perhatian dadakan. Pemuda itu berjalan cepat dengan pandangan terpaku pada sosok Kibum yang menatapnya datar. Tidak. Bukan datar, tapi—entahlah. Bahkan Kibum tak tahu apa arti tatapan yang tengah ia berikan pada sosok itu.
"Apa-apaan kau—"
"Kyuhyun-ah" ucapan Kyuhyun terpotong ketika Siwon menatap terkejut sosoknya. "Sedang apa kau disini?" tanya Siwon. Kibum diam-diam memasukan plastik obat diatas meja kedalam saku celananya.
"Dokter Choi?!" Kyuhyun juga tak kalah kagetnya. Pemuda itu bahkan sampai menunjuk wajah Siwon. "Apa maksudmu? Seharusnya aku yang bertanya itu padamu? Sedang apa kau disini? Bukankah kau sedang di Jepang?" terakhir kali mereka bertemu dirumah sakit, Siwon bilang ia akan berada di Jepang untuk waktu yang lumayan lama.
Siwon meringis, "Aku menjadi juri dikompetisi ini" katanya dengan nada bangga yang membuat Kyuhyun berdecih. "Hey! Panggil aku hyung!" keluhnya ketika sadar Kyuhyun memanggilnya 'kau' bukan 'hyung' tadi.
"Siapa yang mau?" Kyuhyun menarik sebuah kursi kemudian duduk dengan kasar. Ia mengalihkan pandangannya pada Kibum yang menatapnya dalam diam, "Hei, Kibum-sshi, kau tidak sedang menyogok Dokter Choi kan?" tuduhnya sambil menujuk wajah Kibum dengan jarinya.
"Hei!" teriak Siwon, sedangkan Kibum hanya menatap sosok pucat didepannya dalam diam. "Kyuhyun-ah kau sungguh-sungguh—ck—" Siwon kehilangan kata-kata. Selalu seperti itu. Dan pada akhirnya Dokter muda itu berdecak kesal. Kyuhyun selalu bisa membuatnya kehilangan kata-kata.
"Kalian saling kenal?" ini kalimat pertama Kibum setelah Kyuhyun datang dengan wajah kesalnya.
"Dia pa—aww" Siwon meringis merasakan sepatu Kyuhyun menginjak kakinya dibawah meja. "Kyuhyun-ah" geramnya.
"Jadi Kibum-sshi, apa maumu?" Kyuhyun bertanya, mencoba mengalihkan pertanyaan Kibum.
"Seperti janjiku, mentraktirmu makan siang" jawab Kibum datar.
"Dengan memaksaku? Mengancamku? Oh kau sungguh menyebalkan Kibum" Kyuhyun memutar bola matanya malas. Tidak tahukah Kibum bahwa dirinya ingin sendiri dulu? Menenangkan diri mungkin? Atau Kibum sedang mengoloknya? Ingin melihat wajahnya setelah bertemu orangtuanya setelah bertahun-tahun?
"Perjanjian ini selesai. Tidak usah mentraktirku. Aku tidak nafsu makan" Kyuhyun berdiri dengan gerakan kasar.
"Kyuhyun-ah" panggil Siwon. "Bukankah sudah hyung katakan, bagaimanapun tidak nafsunya dirimu untuk makan, kau tetap harus makan? Kau sudah berjanjikan pada hyung" ucap Siwon dengan wajah merajuk.
Kibum menatap interaksi kedua pemuda didepannya dengan perasaan—tidak suka? Tidak rela? Pokoknya dia merasa dadanya bergemuruh, kesal melihat Kyuhyun menatap Siwon seperti itu.
.
.
"Kau itu aneh, Kibum-ah. Kami datang kau malah mengabaikan kami dengan pergi makan siang seorang diri"
Kim Yoora memasang wajah merajuk melihat Kibum datang. Wanita paruhbaya itu melipat tangannya didepan dada. Kim Junhyung tertawa kecil sambil membaca koran. Pria paruhbaya itu duduk santai disofa kamar hotel Kibum setelah sejak pagi tadi mendapat gerutuan istrinya. Oke sekarang Kibum merasa khawatir, jangan-jangan Ayah dan Ibunya akan menginap satu kamar dengannya dan Kyuhyun?! Oh tidak!
"Mengapa Ayah dan Ibu masih disini?"
Pletak
"Ayah!" Kibum memasang wajah kaget sekaligus kesakitan yang jarang sekali ditunjukannya ketika koran ditangan Ayahnya melayang mengenai kepalanya.
Tuan Kim memasang wajah datarnya, menggelengkan kepala dengan mulut bergumam tak jelas. Ia tak mengerti mengapa Kibum punya sifat yang seperti itu, padahal ia dan istrinya tidak seperti itu. Benarkah?
"Itu bukan pertanyaan yang tepat, Kim muda" dengus Tuan Kim. Nyonya Kim tertawa melihat interaksi ayah-anak didepannya. Tawa pertama yang berasal dari hatinya sejak kepergian si bungsu.
Bruk
Suara pintu yang dibuka dengan suara keras itu membuat keluarga Kim menoleh kearah pintu, mendapati sosok pucat datang dengan wajah merengut. Lucu. Dan tanpa sadar Tuan dan Nyonya Kim tersenyum lebar karenanya.
"Kau kenapa Kyuhyun?"
Kyuhyun –sosok pucat itu, menghentikan aksi berjalan sambil menunduknya. Pemuda itu menatap kaget sepasang suami istri yang sedang tersenyum lebar padanya. Oh ingatkan Kyuhyun kalau orang tua Kibum sedang datang berkunjung. Benarkah?
"Eh?" Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kupikir kalian sudah pulang" lanjutnya.
"Kau juga berpikir seperti itu?" Kim Yoora kembali menunjukan wajah merajuk.
"Ah maaf Paman, Bibi. Aku tidak bermaksud mengusir kalian. Hanya kurasa—ah sudahlah. Aku kekamar mandi dulu" katanya kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi. Namun sebelum menutup pintu kamar mandi, pemuda itu kembali berucap, "Aku sungguh tak bermaksud seperti itu. Kuharap kalian tidak salah paham padaku" katanya sambil menunduk.
Tuan dan Nyonya Kim tertawa kecil ketika Kyuhyun benar-benar menutup kamar mandi. "Temanmu itu lucu sekali, Kibum" kata keduanya, tak melihat raut wajah Kibum mengeruh.
Kyuhyun menghela nafas begitu masuk kedalam kamar mandi. Tadinya ia kira Tuan dan Nyonya Kim sudah tidak berada dikamar hotel mereka, tapi mengapa keduanya masih ada disini? Huh. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Berpura-pura lagi? Selama kedua orang itu ada disini? Kyuhyun rasa dia tak akan sanggup.
Membasuh wajahnya dengan air dingin, Kyuhyun merasakan jantungnya berdebar kencang. Pemuda itu melirik arlojinya, menghitung detak jatungnya. Sial. Dia mengumpat pelan. Dirogohnya saku celananya, mengambil ponselnya kemudian mengetik pesan singkat untuk seseorang.
.
.
Nyonya Kim terpana ketika melihat sosok Kyuhyun keluar dari kamar mandi. Pemuda pucat itu baru selesai mandi dan sekarang sudah berganti pakaian. Wajahnya yang pucat tampak segar, dan jangan lupakan rambutnya yang masih basah.
Eh?
"Seharusnya kau mengeringkan rambutmu, Kyuhyun-ah" suara Tuan Kim menyadarkan Kyuhyun, membuat pemuda itu meringis.
"Kau mengotori lantai lagi, Kyuhyun" kini suara Kibum yang sedang duduk disamping Ayahnya terdengar. Dan Kyuhyun memutar bola matanya malas mendengarnya.
"Lihatlah, Paman, anakmu itu senang sekali memberi komentar pada orang lain" adunya pada Tuan Kim.
"Biarkan dia mengeringkan rambutnya dengan Hair dryer saja" Nyonya Kim akhirnya buka suara. Wanita paruhbaya itu membuka tasnya, mengambil Hair dryer dan menyerahkannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun meringis, "Aku akan tertidur sebelum rambutku kering" katanya sambil mendorong kembali Hair dryer pada Nyonya Kim.
Tuan Kim tertawa kecil mendengarnya, sedangkan Kibum mendengus disampingnya. Ia tahu Kyuhyun suka sekali tidur dan menunggu rambutnya kering pasti akan membuat pemuda pucat itu jatuh tertidur. Tapi tunggu, mengapa ekspresi Nyonya Kim tampak berbeda? Wanita paruhbaya itu menatap Kyuhyun intens.
"Ibumu yang akan melakukannya kan?" tanyanya.
Kyuhyun mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun detik berikutnya, sepasang mata cokelatnya –yang sejak tadi sibuk menatap kesal Kibum, kini menatap sepasang mata cokelat Nyonya Kim. Astaga, dia melupakan fakta yang satu itu. Bahwa dirinya memang tak bisa menggunakan Hair dryer sendiri, dan akan jatuh tertidur ketika Ibunya yang mengeringkan rambutnya.
"Maksudku Ibu terlalu memanjakanku" katanya buru-buru sambil tertawa canggung.
Kibum menoleh, mendapati sesuatu yang janggal antara Ibunya dan Kyuhyun. Dan seketika tubuhnya menegang. Ia baru sadar ucapan Kyuhyun dan pertanyaan Ibunya. Apakah Ibunya mulai sadar bahwa Kyuhyun didepannya adalah si bungsu Kim?
Tok
Tok
Tok
Kibum menoleh kearah pintu yang diketuk. Baiklah, apakah sekarang dirinya boleh merasa tertolong dengan adanya tamu di jam yang tidak bisa dibilang sore? Kibum tak peduli. Sebelum kakinya melangkah mendekati pintu, Kyuhyun sudah mendahuluinya. Dugaan Kibum, Kyuhyun tengah mencoba mengabaikan tatapan intimidasi Ibunya. Dan entah mengapa dia bersyukur karena itu.
"Halo Kyuhyun-ah"
Kyuhyun tersenyum lebar –sangat lebar ketika melihat sosok yang berdiri didepan pintu kamar hotel, hingga Kibum mengerutkan kening karenanya. "Siwon-sshi" panggilnya riang. Sumpah, Kyuhyun tak pernah sesenang ini jika bertemu Siwon sebelum ini. Ya. Bertemu dokter, siapa sih yang senang?
"Ada apa Siwon hyung kemari?" Kibum mendekat, melipat tangannya didepan dada. Tampak tak suka dengan kehadrian Siwon disana.
"Menjemputku" Kyuhyun yang menjawab. Pemuda pucat itu kemudian beralih menatap Tuan dan Nyonya Kim, "Untuk malam ini aku akan menginap dikamar Siwon-sshi" katanya.
"Kenapa begitu?" ini pertanyaan dari Kibum.
"Tentu saja karena ada Ayah dan Ibu—mu" jawab Kyuhyun sedikit kikuk. Pemuda itu segera menarik tangan Siwon. "Kami pergi dulu, Paman, Bibi" katanya lalu berlalu bersama Siwon yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Kyuhyunie" katanya disela jalan cepatnya mengikuti langkah Kyuhyun.
.
.
"Jadi?"
Siwon langsung mengajukan pertanyaannya ketika keduanya masuk kedalam kamar hotel yang disewa Siwon. Pemuda tampan kelewat sempurna itu mengambil tempat duduk disamping Kyuhyun yang sudah sibuk dengan ponselnya.
"Maksudmu?"
Siwon mendengus mendengar pertanyaan balik dari Kyuhyun. "Sudah kubilang kau berhutang penjelasan padaku, Kyuhyun"
"Aku hanya tak mau tidur berdesakan dengan keluarga Kim" katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. "Kau tahu universitasku hanya menyewakan kamar dengan satu tempat tidur. Menyebalkan" keluhnya.
"Itu bukan alasan yang mau kudengar, Kyuhyun"
"Lalu?"
"Apa hubunganmu dengan Kibum—tidak—lebih tepatnya apa hubunganmu dengan keluarga Kim?" Siwon tampak tak sabar. Ia bisa melihat gerakan Kyuhyun terhenti ketika pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutnya. Hanya sebentar, karena setelahnya Kyuhyun kembali sibuk dengan ponselnya.
"Dia rekan timku. Apalagi memang?"
"Mereka bukan keluargamu?"
Deg
Kyuhyun merasakan jantungnya berhenti berdetak begitu pertanyaan menakutkan itu keluar dari mulut Siwon. Pemuda pucat itu mengalihkan pandangannya dari layar ponsel –lagi, dengan alis bertaut –pura-pura bingung. "Maksudmu?" oke—Kyuhyun mengakui ini pertanyaan bodoh.
"Aku mengenalmu, Kyu. Kau bukan tipe orang yang cepat akrab dengan orang lain. Bahkan kau terkadang sangat menyebalkan dengan sikapmu yang seenaknya itu. Jadi, mengapa aku melihat kau begitu dekat dengan Keluarga Kim yang baru kau kenal sehari?"
"Aku tak merasa begitu. Mereka ingin menghabiskan waktu liburan bersama anaknya, hyung. Masa aku harus ada disana. Kan tidak lucu" Kyuhyun memutar bola matanya malas.
Siwon mendesah kesal sebelum kembali menatap Kyuhyun, "Aku masih ingat kau mengenalkan dirimu dengan nama 'Kim Kyuhyun' saat pertama kita bertemu, Kyu" katanya dengan nada pelan.
Deg
Skak mat. Kyuhyun merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
"Kim Kyuhyun. Kim Kibum. Itu cukup masuk akal jika kalian bersaudara" Siwon menambahi ketika mendapati reaksi Kyuhyun seperti maling yang tertangkap basah tengah mencuri. Padahal biasanya reaksi Kyuhyun sama tidak mudah dibaca seperti Kibum. Ah Siwon baru sadar bahwa banyak hal yang sama antara Kyuhyun dan Kibum. Cara mereka berbicara, cara mereka memperlakukan orang lain, tatapan mata tajam dan mengintimidasi dan juga betapa pintarnya keduanya.
Deg
"Lagipula Kibum terlihat sangat berbeda saat melihatmu siang tadi. Dan—oh Tuhan jangan-jangan dia—" Siwon menutup mulutnya. Tidak. Tidak mungkin obat yang Kibum kirim itu milik Kyuhyun kan? Tapi ia mengenal semua obat yang dikonsumsi Kyuhyun, dan—obat yang dikirim Kibum. Itu memang obat Kyuhyun. Bagaimana ia bisa sebodoh itu? Mengapa ia baru menyadarinya sekarang?
Deg
"Kyu! Astaga Kyuhyun!"
Siwon membulatkan matanya begitu melihat Kyuhyun meremas dadanya. Oh ingatkan dia kalau Kyuhyun menderita sakit jantung dan mendesak Kyuhyun tentu membuat anak itu merasa tertekan dan mengakibatkan jantungnya bekerja lebih ekstra. "Tenanglah Kyu. Aku janji tidak akan membicarakan ini lagi" katanya setengah tak rela.
Tes
"Kyuhyun" Siwon bergumam begitu melihat air mata keluar dari sudut mata Kyuhyun. Lama mengenal Kyuhyun, ini kali pertama Siwon melihat Kyuhyun meneteskan air mata. Dan kemudian dia berpikir apa Kyuhyun begitu tertekan? Dan mengapa dia tak bersama keluarga Kim?
Kyuhyun memejamkan matanya, membiarkan liquid bening itu turun dari matanya yang memanas. Dadanya terasa sakit. Sakit sekali. Jadi biarkan dia menumpahkannya sekarang. Karena dirinya sudah lelah berusaha tersenyum didepan orang yang ingin sekali membuatnya menangis. Karena dirinya ingin melepaskan sesak didadanya. Karena dirinya sudah terlihat lemah didepan seorang Choi Siwon.
"Sakit hyung" rintihnya tertahan. "Disini. Sakit sekali"
Siwon yang tadinya hendak mengambil alat kedokterannya membatalkan niatnya. Kyuhyun merasa sesak. Bukan karena jantungnya, bukan juga karena pneumothorax-nya, tapi karena—luka dihatinya. Dokter muda itu membawa tubuh Kyuhyun kedalam pelukannya. Kemudian yang dilakukannya adalah menepuk punggung Kyuhyun lembut, memberikan kenyamanan pada sosok dingin yang selalu merasa kuat itu. Pada sosok yang ternyata ia mengenal keluarganya. Huh, dunia sempit kan Choi Siwon?
*TBC*
Bagaimana dengan chapter ini? Cukup panjang kan? Akhirnya Tuan dan Nyonya Kim ketemu sama Kyuhyun kan? Dan akhirnya Kibum tahu penyakit Kyuhyun! Horeee~ siapa yang udah nunggu chapter ini?
Maaf banget karena lama update, biasa kerjaan di dunia nyata sedang numpuk ditambah pameran jabar fair di bandung ^^ nggak ikut sih Cuma jadi penunggu kantor aja, nyiapin ATK buat yang mau berangkat. Karena sebenarnya punya rencana buat ikut batam expo/Bali expo kkk~
Oya, untuk update selanjutnya aku mau polling ya, reader pengen Missin' U, My Brothers, Our, Now and Forever atau fanfic baru 'What Your Mind?' sama satu oneshoot?
Silahkan tulis fanfic mana yang kalian pengen liat dipost selanjutnya ^^
Last, makasih banget buat yang udah nyempetin baca dan ngasih komentar difanfic ini~~
Sampai jumpa di update selanjutnya, annyeong ^^
