Disclaimer: Vocaloid © Yamaha
Warning: FULL OF SHONEN-AI, boyxboy, shonen-ai, BoysVocaloidsXKaito, uke!Kaito, typo, picisan. AllXKaito, Rating will keep changed.
Don't Like? Then Don't Read~
=xxx=
For those who reviewed without account (guest), you can check your review reply below~
Bagi yang mereview tanpa akun (guest), bisa mengecek jawaban review kalian di bawah~
=xxx=
Summary: Kaito si maniak game dan pecinta es krim mendapat CD kaset game yang ia idam-idamkan! Siapa kira kalau sekeping CD game malah membuatnya memasuki dunia penuh konflik yang berkecamuk dan membuatnya terpaksa mengikuti petualangan demi mempertahankan kehidupannya?
This Chapter Rate: M (for lime)
=xxx=
The Lost Blue Kingdom Saga
Route 14
=xxx=
=XXXXXXXXXXXXX=
Gakupo melirik pemuda bersurai hijau itu dari ujung matanya. Terlihat bahwa ia tidak menyukai perhatian yang diberikan oleh si kepala rumput itu kepada pangerannya.
Sementara itu, yang dilirik hanya melenggang santai. Tangan kanannya memegang gelas kecil yang tadinya berisi susu. Ditaruhnya gelas itu di dapur dan menuju ke tempat Gakupo duduk.
"Hei, Kaito-chan itu sudah punya orang yang disuka?" tanyanya polos. Lebih tepatnya berusaha membohongi pemuda di hadapannya.
"Menurutmu?" Gakupo bertanya balik. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Karena hatinya selalu sakit ketika membicarakannya…
"Kaito-chan bilang dia menyukaiku-…" Gakupo menatap Gumo dengan ekspresi terkejut, "…-tapi dia bilang ia mencintai orang lain," Gakupo menghela napas lega.
Jeda sejenak, "Kaito itu… selalu berusaha menyukai orang yang baru dikenalnya…" ucap Gakupo pelan. Matanya terarah pada kepalan tangannya yang ada di pangkuannya, "ia selalu baik pada siapapun… sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman…"
Gumo mengangguk-angguk polos. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tertawa bagaikan setan.
"Aku tahu banyak orang yang menyukainya, karena itulah aku berada di sini…" ujar Gakupo. Ia menatap Gumo dengan tegas.
"So… that's why you follow him everywhere?" tanya Gumo lagi sambil memiringkan kepalanya. Gakupo mengangguk.
"Okay…" ia menatap sekelilingnya. Ia harus mengulur waktu sampai efek potion miliknya aktif…
"Hei, apa kau lihat Aoki?" tanyanya tiba-tiba. Gakupo yang sedang mengelap kacamatanya menoleh. Sebuah gelengan diberikannya, "lalu, teman merahmu itu?"
Gakupo kembali menggeleng. Benar juga, Aoki hilang bersamaan dengan Akaito. Kemana kedua makhluk itu pergi? Akaito bukan orang yang hobi berjalan-jalan keluar, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya.
"Apa kita harus mencarinya?" usul Gumo. Berharap kalau pemuda berkacamata itu mengiyakan ajakannya.
"Kurasa tidak perlu, Akaito bukanlah orang yang mudah tersesat. Lagipula untuk masalah perimu itu, biarkan saja. Ia pasti hapal daerah sekitar sini. Lagipula ia tidak akan mati dengan mudah," ujar Gakupo sambil mengenakan kacamatanya kembali. Ia menatap Gumo tajam.
Gumo yang ditatap seperti itu langsung nervous. Ia menggaruk surai rumputnya, "a-apa maksudmu?" ujarnya disertai cengiran tak berdosa.
"Aoki Lapis, Pixie, Lvl 91… apa aku salah?"
Gumo tercekat. Ia tidak menyangka kalau knight ini mengetahui status Aoki yang susah payah ia sembunyikan. Ia menatap Gakupo dengan kedua iris emerald-nya yang membelalak, "… kau ini… sebenarnya apa…? Apa skill-mu…?"
Gakupo tersenyum sinis, "hanya knight biasa yang diberkahi dengan kemampuan protect dan neutralize…"
Gumo sontak terkejut, 'tidak mungkin! Kemampuan pasif neutralize sangatlah jarang dimiliki… kenapa… dia punya…?' Gumo mengerutkan dahinya, 'ia musuh yang merepotkan…' batinnya.
"Dibandingkan dengan orang lain, skill ini tidak berguna," lanjutnya. Tatapannya beralih menjadi lurus ke depan, "aku tidak bisa melindungi pangeran dengan kekuatan ini…"
"Kau bisa kok!"
Gakupo menoleh, Gumo tersenyum lebar.
"Kau bisa! Berusahalah! Tidak ada orang yang tidak dapat melakukan sesuatu hal. Intinya adalah berusaha~!" ujar Gumo sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Gakupo menatap Gumo, kemudian melemparkan pandangannya keluar, "…terserah."
"Yo, Gumo!"
Keduanya menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang peri berambut indigo dan berkulit gelap, melambai ke arah Gumo dari balik kaca.
"Oh, Merli! Sebentar!" pemuda ber-googles merah itu beranjak dari posisinya dan membukakan jendelanya. Peri itu melayang masuk.
"Aku hanya menyampaikan pesan kalau sesepuh elf membutuhkan pemuda-pemuda elf untuk berkumpul. Entahlah apa yang akan dibicarakan, tapi katanya ini penting," ujar gadis peri yang dipanggil Merli itu, "kalian berkumpul di rumah para sesepuh tentunya."
Gumo terlihat tidak nyaman atas kata-kata Merli. Tentu saja… karena ia khawatir kalau efek love potion itu malah berefek pada Gakupo yang sendirian di rumah. Akal liciknya berusaha mencari-cari alasan.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak Sonika saja?" keluh Gumo.
Merli mendengus, "dia sudah kupanggil. Dialah yang pertama kali kuberitahu, bodoh!"
Gumo mendesah, ia bingung. Haruskah ia mengikuti Merli, atau tetap dirumah?
"Jika kau tidak datang, maka para sesepuh akan mengutukmu," ancam Merli pada akhirnya. Ancaman itu sungguh ampuh sehingga membuat pemuda itu lari terbirit-birit kedalam rumahnya.
"Hei knight! Jaga rumah sebentar! Aku ada urusan penting!" seru Gumo sambil mengenakan vest cokelatnya di ambang pintu. Gakupo hanya mengangguk kalem.
BLAM.
Gakupo kembali mengalihkan perhatiannya ke buku yang kini tengah dibacanya. Baru beberapa deret kata yang dibacanya, sudah ditutup buku bersampul biru itu. Ia memijat pelipisnya.
"Aku ingin melihat pangeran…" gumamnya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar tempat pangeran bersurai birunya terlelap. Sudah merupakan kebiasaan Gakupo untuk menatap wajah pangerannya tertidur setiap malamnya. Kadang sampai meninggalkan kecupan lembut di kening, pipi, atau bahkan bibir. Sudah menjadi rutinitasnya untuk memperhatikan wajah terlelap Kaito sedari mereka kecil.
=xxx=
Dibukanya pintu kayu itu dengan perlahan… gelap. Tentu saja, Gumo pasti sudah mematikan lampunya.
Ia berjalan perlahan ke arah kasur berselimut biru itu. Kemudian ia duduk di tepinya dan membelai lembut selimut yang membungkus tubuh pemuda manis yang tengah terlelap.
"Pangeran… selamat malam…" sebuah suara lembut yang tidak pernah digunakannya pada orang biasa terlantun dari bibir knight itu. Ia menghela napas pelan, "saya… setiap kali melihat anda seperti ini selalu mengingatkan saya akan kejadian 10 tahun lalu… saat dimana kita berjanji untuk terus menjadi sahabat, melindungi satu sama lain, dan menyayangi satu sama lain. Anda selalu menggenggam erat jemari saya, tapi kenapa sekarang harus saya yang menggenggam jemari anda…?" ujarnya lirih. Digenggamnya jemari yang lebih kecil itu, hangat…
"Saya berjanji, setelah segalanya selesai, saya akan menyatakan perasaan saya…" ujarnya, sorot matanya lembut dan penuh sayang, "saya mencintai anda…"
Sosok yang tengah tertidur itu mengerang pelan dan bergerak sedikit, ia balas menggenggam jemari Gakupo. Gakupo tertawa kecil dan membelai surai biru itu perlahan.
"Hngg… Gaku…?"
Seketika tubuh pemuda tinggi berkacamata itu membeku. Kaito terbangun? Apa dia mendengar segalanya?!
Kaito yang tidur dalam posisi menyamping, pelan-pelan mengubah posisinya sehingga dapat menatap Gakupo. Ia menggosok matanya yang masih mengantuk.
"Tidurlah kembali, pangeran…" ujar Gakupo gugup. Kaito menggeleng, kemudian mengangkat tubuhnya sehingga kini ia ada dalam posisi duduk. Tangannya meraih wajah knight-nya.
"Gakupo…" bisik pemuda bersurai biru itu dengan seduktif. Ia mencium pipi pemuda itu, kemudian berpindah ke bibir.
Gakupo sangat terkejut akan tindakan Kaito. Ada apa sehingga pangerannya mendadak agresif seperti ini?!
"Ng-hh… Gaku…"
Oh damn… that lewd moan…
Gakupo yang masih terkejut akhirnya tersadar, kemudian mendorong bahu pemuda yang lebih kecil darinya itu dengan paksa sehingga tautan bibir mereka terlepas.
"Pa-pangeran! Apa yang anda laku-…!"
BRUK!
Gakupo melongo, tanpa sadar tubuhnya sudah terbaring diatas tempat tidur dengan tangan kiri yang dikunci di sisi kepalanya. Jemari pangerannya bergerak untuk melepaskan kacamatanya.
"Gakupo… kau knight-ku kan…?" tanya pemuda bersurai biru yang kini berada diatasnya. Pemuda itu mengangguk kaku, Kaito tersenyum tipis, "malam ini… berikan aku kenikmatan… kesenangan… kepuasan…" pangeran muda itu mencium bibir knight-nya sekilas, "buat aku menjeritkan namamu… Gakupo…" desahnya.
(For those who under 18 or 17 years old, please skip the part below)
Gakupo tercekat seakan ada batu di tenggorokannya. Ia mulai mencurigai Gumo. Mungkin saja si kepala rumput itu meracuni makanan Kaito…
"Gaku~" Kaito kembali memanggil nama pemuda bersurai ungu itu. Kali ini bahkan ia menggerakkan tubuhnya diatas tubuh pemuda itu. Gerakan yang… umm… sugestif?
Pemuda berkemeja putih itu berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman pangerannya. Tapi sia-sia. Ia tidak boleh mengalah pada nafsunya!
"Pa-pangeran! H-hentikan!" serunya. Tangannya yang bebas berusaha mendorong pemuda yang lebih kecil itu. Tapi sia-sia, yang terjadi malah pangeran muda itu menggerakkan pinggulnya dengan seduktif.
"Gaku-hh… Gaku-…!"
Jantung knight itu berdebar keras, darahnya mendesir. Wajahnya merona merah melihat wajah pangerannya yang kini sama merahnya dengan wajahnya. Tubuhnya memanas… dan ia dapat merasakan tubuhnya bereaksi terhadap gerakan Kaito.
"P-pangeran…" Gakupo mendesah pelan. Ini sudah kelewatan! Tubuhnya sangat panas dan keinginannya untuk me-rape pemuda itu semakin kuat. Ingin rasanya ia membalikkan posisi mereka kemudian mencuri kesucian pemuda itu!
"Gaku… ahh…"
DAMN THAT SENSUAL EXPRESSION!
Gakupo menjerit dalam hatinya dan menyemangati dirinya untuk bertahan dari serangan-serangan Kaito. Ia tidak mau disalahkan karena sudah menghamili-… eh, maksudnya menyetubuhi pangerannya di Blue Kingdom nanti. Bisa-bisa dia dihukum mati.
"Gaku… ahh! K-kumohon…" Kaito menatapnya dengan kedua iris biru besarnya yang berkaca-kaca, "ahh… sentuh aku… sentuh aku, Gakupo…" rengeknya. Tangannya yang bebas mencengkram kemeja Gakupo, seakan ia berusaha menahan sesuatu.
Gakupo terbelalak ketika Kaito kembali bergerak, itu-… Kaito-… miliknya mengeras…?
"Kumohon-… ah! Gaku-…!" air mata kini berderai. Tubuhnya sangat panas, terutama bagian bawahnya. Ia ingin agar rasa panas ini segera menghilang. Ini sungguh mengganggunya!
'Cih… sial… aku tidak bisa menahannya lagi…'
BRUK!
"Eh-… Aa-…?"
"Andalah yang memintanya pangeran… ingat itu…" desis Gakupo. Ia mencengkram kedua tangan pemuda itu dan menguncinya hanya dengan satu tangannya di atas kepala bersurai biru itu.
"Ga-… hmmph!"
Belum selesai pemuda manis itu berkata, Gakupo sudah menyerang bibir yang sedari tadi terlihat menggiurkan itu. Bibirnya seakan sudah mengenali lekuk bibir pemuda dibawahnya itu sehingga gerakan mereka terlihat harmonis.
Lidah bergerak, bertemu, menyentuh satu sama lain sehingga membuat keduanya mendesah. Pertarungan memperebutkan dominansi terjadi diantara kedua organ pink itu, yang tentu saja dimenangkan oleh pemuda bersurai ungu.
Kaito menerima dominansi Gakupo dengan senang hati, sebuah erangan lembut keluar dari mulutnya begitu lidah Gakupo menyentuh dinding-dinding mulutnya dan giginya. Ia sangat menikmati pelayanan yang diberikan knight-nya itu. Tanpa sadar, saliva mengalir dari sudut bibirnya dan membasahi seprai putih itu.
Setelah puas dengan bibir pemuda manis itu, Gakupo menjauhkan wajahnya sejenak untuk menikmati pemandangan di bawahnya; pangerannya yang tersengal-sengal napasnya, wajah yang memerah, saliva di sudut bibir, dan bibir merah yang agak membengkak akibat pergulatan bibir mereka sebelumnya.
"hahh… hahh… Gakupo… hahh…" sebuah panggilan lembut seakan menyuruhnya untuk kembali menyerang pemuda manis itu. Kini ia beranjak ke leher putih pemuda itu. Diciumnya leher itu sehingga membuat tubuh pemiliknya bergetar pelan. Dibasahinya sedikit kemudian dihisapnya titik sensitive pemuda itu sehingga membuat Kaito menjerit penuh ekstasi.
"Aaaaahhnn!" Kaito menggigit bibirnya untuk meredam desahan-desahannya, tapi tetap saja Gakupo jauh lebih pintar untuk membuatnya mengeluarkan desahan itu. Pemuda manis itu mencengkram seprai putih yang kini berantakan akibat aktivitas keduanya. Dadanya naik-turun dengan cepat karena si violet yang terus-terusan menyerang titik sensitifnya.
Sembari menikmati leher seputih susu itu, tangannya bergerak untuk membuka kemeja putih yang melindungi tubuh pemuda bermata sapphire. Begitu terbuka, tangannya langsung bergerak menyentuh segala inchi dari tubuh pangeran itu.
Sentuhan menggoda nan lembut itu membuat pemuda Shion itu mendesah pelan. Tangan itu menyusuri tubuh langsing pemuda bersurai biru itu. Dirabanya abdomen ramping itu layaknya gadis.
"AH! G-Gaku… nn…" pemuda manis itu sedikit terkejut ketika merasakan ada yang meraba bagian dalam pahanya yang masih terbalut celana putih panjang. Gerakan yang sungguh lembut sekaligus sensual…
Puas dengan leher pemuda itu, ia beranjak ke bahu dan memberikan beberapa 'tanda cinta' seperti yang ia lakukan pada leher putih pangerannya. Setiap kali sebuah noda merah dibuatnya, maka pangerannya akan menyerukan namanya dan mendesah hebat. Sungguh hebat knight ini, dapat menemukan titik-titik yang dapat membuat pemuda di bawahnya mendesah penuh kepuasan.
"Aaaaaahhhh… Ga-Gaku-AH! C-… cepat-… Ahhhnnn…" suara bercampur dengan deruan napas dan desahan pemuda itu seakan menyemangati knight itu untuk melakukan lebih. Gakupo menyeringai, sebagai knight yang setia, ia harus menuruti segala perintah tuannya kan?
"… h-huh?"
Dengan cepat, Gakupo segera mengubah posisi keduanya. Punggung pangeran muda itu kini bersentuhan dengan dada bidang Gakupo. Ternyata Gakupo mengubah posisi keduanya menjadi posisi duduk. Lengan Gakupo melingkar di perut ratanya, sesekali jemari panjang dan besar itu bermain disana sambil membentuk pola-pola. Sebuah gestur yang simpel tapi dapat membuat pikiran seorang Kaito Shion melayang-layang menuju surga kenikmatan fana.
Kemeja putih yang sudah terbuka setengahnya memperlihatkan kulit putih mulus tak bernoda layaknya pangeran sejati. Tubuh yang bergetar dan bercak merah yang kini menodai bahu dan leher sang pangeran membuatnya ingin 'melahap' tuannya saat ini juga. Betapa senangnya ia karena dapat merasakan kulit lembut pangerannya dengan tubuhnya sendiri.
Lidahnya menyapu titik sensitive di leher seputih susu pangerannya sehingga membuat pemiliknya mendesah lembut. Tapi, begitu tangannya bergerak untuk menyentuh 'gumpalan' yang terbentuk di balik celana putih itu, desahannya meningkat sekian oktaf.
"AHHH! GAKU!"
Pemuda itu meronta hebat, tubuhnya seakan disengat oleh sebuah kenikmatan yang ia sendiri baru rasakan pertama kali. Ketika Gakupo menyentuh bagian itu, rasanya sebagian akalnya melayang. Ia ingin Gakupo menyentuhnya lagi… ia haus akan perasaan nikmat itu!
"Gh-.. Gaahhh-… Ghaaakuuu…! Aaaahhhh!" jeritannya semakin tak terkontrol begitu jari sang knight mulai menggoda yang ada dibalik celana sang pangeran Shion. Ingin rasanya pemuda beriris azure itu memukul ataupun menghajar knight-nya karena merasa dipermainkan. Air matanya menggenang. Ia menoleh kebelakang, dimana pemuda bersurai ungu itu berada.
"Gaku… ahh…"
Kalau saja Gakupo bisa nosebleed, dia pasti nosebleed sekarang juga. Wajah manis pangerannya dihiasi oleh rona merah layaknya mawar merekah. Bibir merah mungil yang sedikit terbuka dan terus-terusan memanggil namanya seperti buah strawberry yang matang. Iris azure yang digenangi air mata membuatnya dapat melihat refleksinya sendiri karena kejernihan iris biru langit itu.
"Gaku…?" suara lembut itu memanggilnya kembali.
THE HELL WITH SELF CONTROL!
Dengan cepat, Gakupo membuka restleting perak celana pangerannya. Tangannya meraih sesuatu yang berada di balik perlindungan terakhir pemuda polos nan ramah itu. Pemuda itu hanya dapat menjerit tertahan dan mencengkram lengan kemeja knight-nya.
"Fuh… terakhir kali saya memegang 'milik' anda rasanya tidak sebesar ini…" bisiknya dengan suara bass yang menggoda. Ia berbisik pada telinga yang terbenam lautan surai biru lembut pangerannya. Gemas akan reaksi pemuda itu, digigitnya daun telinga pemuda itu dengan lembut. Gigitannya seperti gigitan main-main seekor anak kucing.
"Anda ingat kan setiap kali anda mau buang air kecil, sayalah yang akan memegangi 'ini'…?" ujarnya lagi. Seringaiannya semakin lebar. Keempat jarinya menahan 'benda' yang telah mengeras itu, sedangkan ibu jarinya bergerak membelai 'benda' itu dengan lembut.
"Ahhh… ahhh… Gaku-… ahhhh…" hanya desahan yang meluncur dari bibir merah itu. Wajahnya merah padam karena kenikmatan luar biasa yang disajikan oleh tangan Gakupo. Kedua kelopak matanya nyaris menutup akibat surga fana yang diciptakan Gakupo untuk dirinya. Keringat mengalir dari pelipisnya dan ia dapat melihat hembusan napasnya sendiri yang bagaikan asap. Malam dingin di Greenwoods seakan terpatahkan akibat aktivitas keduanya. Hanya panas, cinta, dan nafsu yang dapat dirasakan keduanya.
Tangan knight beriris violet itu kini bergerak naik-turun untuk memberikan kepuasan yang lebih kepada pangerannya. Terkadang ibu jarinya menyapu cairan putih yang berada di ujung sesuatu yang merupakan titik paling sensitive pemuda itu. Tak jarang pula ia menggunakan cairan putih itu untuk membantunya memberikan tingkatan tertinggi kenikmatan dunia fana kepada pangerannya.
Desahan pangerannya seakan harmonis dengan gerakan jemari abdi-nya. Cengkraman kuat di lengannya dan jeritan memanggil namanya untuk mempercepat proses menandakan bahwa sebentar lagi segalanya akan selesai.
"Ga-Gaku-…! A-aku-… ahhhhh!"
Abdi setianya mengangguk mengerti. Gerakan jemarinya kian cepat hingga akhirnya pangerannya menjerit memanggil namanya bersamaan dengan cairan putih yang menyembur dan mengotori tangannya. Tubuh pangerannya melengkung untuk menikmati kenikmatan yang melanda tubuhnya.
=(Rate M end)=
BRUK!
Dengan sigap, sang knight menangkap tubuh lemas pangerannya. Ia menatap wajah manis yang terlihat puas itu dengan lembut.
"Tidurlah pangeran…"
Pemuda yang bersandar di tubuhnya mengangguk samar. Tak lama kemudian, dengkuran halus terdengar dari pemuda bersurai biru itu. Ia terlihat sangat nyaman berada di dekapan knight berkacamata itu.
Gakupo tersenyum, kemudian menatap tangan kanannya yang ternodai oleh cairan putih pangerannya. Perlahan-lahan, disapunya cairan itu dengan bibir dan lidahnya. Ia memejamkan matanya untuk menikmati sari pangeran mudanya itu.
"… manis…" gumamnya perlahan setelah jemarinya bersih. Dikecupnya bibir mungil itu untuk terakhir kalinya sebelum ia membaringkan tubuh lemas itu di kasur beralaskan seprai putih yang kini sedikit ternoda. Ia beranjak berdiri dari kasurnya dan barulah ia menyadari masalahnya sendiri:
Kini celananya-lah yang terasa sempit.
Pemuda tampan itu hanya dapat mendengus. Kemudian menuju ke kamar mandi untuk mengurus masalahnya.
=xxx=
Sesosok pemuda bersurai hijau rumput tengah berlari dengan kecepatan tinggi. Mantel cokelatnya berkibar beriringan dengan derap kakinya. Rasa dingin yang menembus kulit dan menusuk tulangnya diabaikannya begitu saja. Kini pikirannya melayang ke pemuda yang sudah membuatnya jatuh cinta, Shion Kaito.
BRAK!
"AKU PULANG!" teriaknya. Sungguh tidak tahu diri, berteriak-teriak di malam buta. Masih untung tetangganya tidak melempar panci ke kepalanya lagi seperti dulu. Dengan terburu-buru, Gumo memasuki rumahnya yang kini sunyi senyap.
Dalam hatinya ia merutuki para tetua, kenapa rapat mengenai pesta minum teh tahunan menjadi selama ini? Biasanya hanya berbicara soal teh apa yang akan dibuat, lalu snack apa yang akan disajikan… tidak sampai membicarakan soal pendamping dirinya! Memangnya tetua elf itu orang tuanya? Ia sudah besar dan dapat memilih pasangan hidup sendiri kok!
"Oh, kau sudah pulang, pohon berjalan…"
Gumo langsung menoleh, nada suara congkak itu berasal dari dapur. Ia berjalan ke arah suara itu karena mengenali pemiliknya.
Tepat dugaannya, itu suara milik knight Kaito. Pemuda yang rambutnya kini diikat tinggi dan hanya menyisakan sebagian di bagian depannya tengah menyesap teh. Dari baunya, Gumo dapat menebak kalau itu teh yang dicampur daun mint.
"Kau banyak pikiran? Atau kau kecapekan?" Gakupo hanya menoleh sedikit kearahnya, yang ditatap hanya dapat mengedikkan bahunya, "soalnya kau meminum teh mint. Teh mint berkhasiat untuk membuat tubuh rileks dan segar."
Gumo mendekati pemuda itu dan duduk di sisinya, jari telunjuknya membentuk pola lingkaran di meja makan, "kupikir kau salah untuk meminum teh mint malam-malam begini, kau akan sulit tidur."
"Tidak perlu kau nasehati juga aku sudah tahu," dengus pemuda berkacamata itu. Ia kembali menyesap teh dengan sedikit rasa pedas yang menyegarkan. Ia butuh teh itu untuk menjernihkan pikirannya.
"Kaito-chan mana?"
Gakupo mengerutkan dahinya, sebuah pertanyaan bodoh, "tentu saja tidur, kepala rumput."
Gumo langsung salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "b-begitu yah… ahahaha…" Gumo mengalihkan pandangannya dari knight sinis itu, "a-aku kembali ke kamarku dulu ya. Good night!"
"Hn…"
=xxx=
Gumo menghela napas lega, nyaris saja ia bertindak aneh dihadapan knight itu. Ia tahu kalau Gakupo adalah musuh yang cukup berbahaya, tapi setidaknya ia cukup lega karena segala jenis potion, termasuk love potion yang tidak sengaja ditelannya tidak akan mempan padanya.
"Ck… kenapa sih dia harus hidup, merepotkan sekali…" gerutu pemuda bermuka dua itu. Ia melangkah menuju ke kamar yang tengah ditiduri pemuda manis yang merupakan cintanya. Perlahan, dibukanya pintu kayu yang membatas koridor dengan kamar besar itu. Kemudian ditutupnya.
"Kaito-chan…" dibelainya pipi mulus layaknya bayi itu dengan lembut seakan pipi itu adalah bunga dandelion yang rapuh. Tangannya bergerak untuk membelai rambut pendek sebiru lautan dan langit itu.
"Kaito-chan…" panggilnya lagi. Kali ini tangannya membelai tubuh yang terbungkus selimut biru itu. Tidak dapat respon juga. Gumo menunjukkan ekspresi bingung, apakah love potion-nya gagal? Atau mungkin, Gakupo sudah merangsang pengaktifan love potion itu?
… Uh… pilihan kedua sepertinya agak menyeramkan. Jujur saja, ia tidak mau cari masalah dengan knight congkak dan sinis itu jika tidak ada pangeran mudanya.
Ditatapnya sosok yang tengah terlelap itu. Wajahnya damai dan tenang. Ia seperti malaikat jika sedang tertidur seperti ini… eh, Kaito kan memang malaikat. Ia punya hati yang baik dan senyum yang hangat bak malaikat!
Dari wajah, matanya terfokus ke bibir merah yang terbuka sedikit, yang jika diibaratkan maka seperti kuncup mawar merah. Ia tersenyum tipis sebelum mengunci bibir mungil itu dengan bibirnya. Lembut… layaknya permen kapas, empuk… layaknya jeli, Gumo benar-benar menikmati ciumannya dengan pemuda manis itu.
Setelah puas menikmati bibir itu, Gumo beranjak berdiri dan melenggang keluar sebelum berbisik "sleep well, have a beautiful dream…"
=xxx=
Sementara itu, di hutan yang entah dimana lokasinya…
ZRATTSS!
Lengkingan kelelawar yang menusuk telinga memenuhi indera pendengaran manusia dan peri itu bersamaan dengan terbelahnya tubuh kelelawar raksasa itu menjadi tiga bagian.
Pemuda bersurai merah yang mengenakan sebuah claw di tangannya menarik napas panjang. Ia menyingkirkan poni-nya yang menutupi penglihatannya.
"Gotcha~! Fairy Bat Gall got~!" peri beriris seperti batu lapis lazuli di sisinya mengangkat sebuah benda berwarna merah kehitaman yang berbentuk seperti kantong dari serpihan tubuh kelelawar hitam itu. Peri mungil itu kemudian membawakannya ke pemuda yang kini duduk bersandar di bawah pohon.
"Terima kasih, Aoki…" ujarnya perlahan. Ia memejamkan matanya untuk mengistirahatkan iris merahnya yang sedari tadi beraktivitas, "kurang apa lagi?"
Gadis peri itu menepuk kedua tangannya, Pong! Secarik kertas muncul di hadapannya dan segera diraihnya. Ia segera membacakan isinya, "Pixie Dust, check! Fairy Bat Gall, check! 2 litre MooMoo Milk, check! Minotaur's Horn, check! 100 Magic Berries, check! UsaUsa Crystalized Tears, check! Everything complete~"
Sosok assassin itu menghela napas lega. Akhirnya semuanya terkumpul. Sekarang ia dapat membuat obat penangkal love potion Gumo. Sungguh banyak rintangan yang ia hadapi demi mendapatkan barang-barang ini. Terutama ketika ia harus membunuh monster UsaUsa. Monster berbentuk bulat berwarna putih bersih dengan wajah kelinci dan telinga kelinci yang imut ini sangat sulit dicari. Monster yang bergerak dengan cara melompat ini terkadang membuat assassin berambut merah itu tidak tega untuk membunuhnya. Apalagi melihat monster itu meneteskan air mata…
"Baiklah Aoki…" iris ruby itu muncul dari balik kelopak matanya. Tatapan penuh tekad dilemparkannya ke arah peri manis itu, "ayo kita buat obatnya!"
"Yosh!"
=To Be Continued=
A/N: … AHAHAHAHA—APAAN TUH LIME-NYA GAGAL TOTAL! #plak. Idih… seriusan Hika malu banget… ini pertama kalinya bikin lime, dan ternyata buat lime/lemon itu gak segampang bacanya QwQ *baru merasakan derita author bikin lemon* #plok. Niatnya mau bikin lime implisit—tapi malah ancur… gatot… gagal total… *nangis dipojokan*
Dan Hika baru sadar… hampir 85 persen fanfict rate M di FFn itu isinya eksplisit lemon semua ._.)a *baru bisa bedain implisit dan eksplisit * #duk.
Tuh ya, yang pesen lime dari jaman jebot akhirnya Hika penuhin ;; w ;;)/ jangan minta Hika buat bikin yang aneh-aneh lagi ya. Ini aja udah ancur- #plak.
Terus, plis… Leave your traces guys ;; w ;;)/ bukannya Hika gila review atau gimana, tapi review itu kayak asupan semangat Hika—semakin dikit review-nya, ya Hika jadinya males-malesan ;; A ;;
Oh ya, Happy Birthday to me~ akhirnya Hika 17 tahun dan bisa bikin lemon~ #plak #salah. Pokoknya janji Hika terpenuhi deh~ *dan sepertinya author satu ini harus berlatih buat lemon #plok*
Balas review~
Yuzumi Suzu'O: nak… ini masih lime… #plok. Makasih semangatnya~ yosh, nikmati yah~ maaf kalau jelek. This is my first time X"DDDD #duk
Juju: O-oh my… *blush* thank you XD I am not as awesome as you think XDDD. Of course I'll keep writing! :D enjoy this chapter! P.s. you should make fanfiction account, I want to talk with you so bad :'D
NaHaZa: makasih X"3 silahkan nikmati chapter ini~ salam fujodanshi! XD
Balas review selesai!
Oke… enough of my blabbering… *tutupin muka pake bantal* dadah minna~ see you on TLBKS chapter 15~
Sign,
HiShou~
