DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

OCs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 14

.

.

Happy reading..

.

.

MALAM telah larut, namun Chanyeol masih tergolek di tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Sudah sejak siang tadi ia gelisah. Sangat cemas. Perasaan itu muncul begitu saja setelah ia meninggalkan rumah Baekhyun. Sampai saat ini tidak tahu apa penyebab munculnya perasaan ini. Yang pasti ini terlepas dari soal kemunculan orang gila dengan pentungan besi itu, karena sejak masuk kamar Chanyeol berusaha keras tidak menatap foto Kris.

Sudah tiga kali Chanyeol mengontak Baekhyun, memastikan keadaanya. Cewek itu baik-baik saja. Namun entah kenapa perasaan gelisah dan cemas ini tidak juga hilang. Terus menekan dan tak bisa diabaikan.

Chanyeol menatap jam bekernya. Hampir jam satu dini hari. Terlalu larut untuk menelpon, tapi perasaan cemas itu membuatnya tak bisa menahan diri. Akhirnya ia bangkit lalu meraih ponselnya di meja. Ditekannya tombol kontak dan ponselnya langsung terhubung dengan nomer yang dikontaknya terakhir kali. Baekhyun. Tidak diangkat. Jelas saja. Dicobanya lagi. Tetap tidak diangkat. Chanyeol tidak peduli. Terus ditekannya tombol sampai ponsel di seberang akhirnya diangkat.

"Baek, sori bangunin. Lo baik-baik aja, kan?" tanyanya langsung.

Terdengar gumaman tidak jelas di seberang. Sepertinya Baekhyun menempelkan ponsel di telinga sambil tetap melanjutkan tidurnya.

"Baek? Lo baik-baik aja, kan?" Chanyeol mengulangi pertanyaannya, lebih keras.

"Iyaaa. Ada apa sih? Tadi kan juga udah ditanyain. Gue ngantuk banget niiih…"

"Sori. Sori. Ya udah, lanjutin deh tidurnya. Gue cuma mau mastiin lo nggak kenapa-napa," ucap Chanyeol lalu mematikan ponsel. Dihelanya napas panjang. Baekhyun baik-baik saja. Seperti tiga kali kabar sebelumnya. Tapi kenapa perasaan gelisah dan cemas ini tidak juga berkurang?

Kembali Chanyeol tergolek di tempat tidur dengan mata terbuka. Hampir tiga jam setelah waktu pergantian hari ketika akhirnya cowok itu jatuh tertidur.

Keesokan paginya Chanyeol sama sekali tidak terbangun saat bekernya melengking keras. Satu hal yang sangat jarang terjadi. Sepulas apa pun tidurnya pasti akan terbangun kalau beker itu berbunyi. Chanyeol baru

membuka mata setelah adiknya, Yeri, menjerit-jerit di telinganya setelah gagal membangunkan sang kakak dengan guncangan tangan.

"Apa sih pagi-pagi jerit-jerit?" Chanyeol terlonjak bangun. "Hah, udah setengah enam!?" kembali ia terlonjak. "Kenapa Mas baru dibangunin sekarang sih, Ri?" serunya.

Yeri, yang baru saja meraih hendel pintu dan hendak keluar, melirik kakaknya dengan kesal.

"Aku termasuk hebat, tau! Berhasil bangunin Mas Chanyeol. Mama sama Bi Minah sampai nyerah tuh. Ini aja kalau aku gagal, Mas Chanyeol mau disiram air sama papa. Tidurnya kebo banget sih?" katanya, lalu keluar.

Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang diingat Chanyeol adalah Baekhyun, lalu gimana keadaan cewek itu pagi ini. Perasaan gelisah itu kembali datang dan semakin menggunung karena pagi ini Chanyeol tidak bisa menjemput.

Chanyeol meraih ponselnya. "Baek, lo udah bangun?"

"Udah dari tadi."

"Gimana kabar lo pagi ini?"

"Baik." Baekhyun mulai bete. Ditanya itu melulu siapa juga yang nggak bosen.

"Udah mau berangkat, ya?"

"He-eh. Ngabisin sarapan dulu."

"Sori, Baek. Gue nggak bisa jemput elo pagi ini. Telat bangun."

"Nggak papa. Berangkat sendiri juga bisa."

"Berani, kan?" suara Chanyeol langsung terdengar cemas. Cowok itu tidak menyadari bahwa ketakutan itu sebenarnya hanya milik dirinya sandiri.

"Berani. Emang kenapa? Dulu-dulu gue juga berangkat sendiri."

"Ya udah kalo gitu. Ati-ati di jalan, ya?"

"Iya."

"Kontak gue kalau ada apa-apa."

"Iya."

"Kalau bus penuh jangan paksa berdiri deket pintu. Bahaya."

"Iyaaa. Aduuuh!" Baekhyun jadi kesal. "Ntar gue nggak berangkat-berangkat nih."

Chanyeol mengakhiri pembicaraan, karena ia sendiri juga belum apa-apa. "Oke deh. Sampe ketemu di seko…."

"Oke. Daaah!" Baekhyun buru-buru memotong dan menutup telepon.

Sesaat Chanyeol mengerutkan kening, kemudian tersenyum. Diletakannya ponsel di meja lalu buru-buru berlari ke luar setelah menyambar handuk.

.

.

.

Baekhyun melangkah ke luar rumah dengan perasaan gembira. Setelah berhari-hari selalu berada dalam pengawasan dan pengawalan ketat Chanyeol, bisa sendirian rasanya merdeka banget.

Langkah-langkah ringan Baekhyun menelusuri trotoar menuju halte melambat saat ia melewati sebuah rumah. Ada suasana duka terasa di rumah itu. Yang jelas, kematian itu bukan menimpa keluarga ini. Mungkin salah satu sanak saudara mereka, karena sama sekali tidak terjadi kesibukan di rumah itu. Hanya samar-samar terdengar isak tangis dari dalam.

Sepertinya mereka sudah siap berangkat menuju tempat duka, karena di halaman telah terparkir sebuah sedan biru dengan mesin menyala. Di dasbornya ada sebuah buket bunga bertuliskan "TURUT BERDU…" sisanya tidak terbaca karena tertutup bunga, tapi sudah bisa dipastikan apa bunyi kalimat lengkapnya.

Baekhyun sudah akan meneruskan langkahnya saat seseorang menabraknya dari arah jalan raya. Cowok. Dia membawa buket bunga juga. Tabrakan itu cukup keras hingga membuat Baekhyun terhuyung. Cewek itu nyaris jatuh kalau tidak cepat-cepat menyambar tiang listrik terdekat dengan kedua tangan.

Cowok itu juga terhuyung nyaris jatuh. Buket bunga di tangannya terlepas dan terlempar ke trotoar tanpa bisa dicegah. Baekhyun menatap terbelalak saat melihat buket bunga itu menghantam kerasnya trotoar sehingga beberapa tangkai bunganya patah.

Baekhyun melepaskan kedua tangannya yang tanpa sadar masih memegangi tiang listrik. Cepat-cepat dihampirinya buket bunga itu. Ia hendak memungutnya agar tidak semakin banyak bunga yang rusak, tapi cowok itu sudah lebih dulu bergerak. Baru saja Baekhyun akan mengulurkan tangan, sebuah tangan sudah terulur lebih dulu, menyambar bunga naas itu dari trotoar.

"Maaf, ya," ucap Baekhyun lirih, jadi merasa bersalah juga.

"Bukan salah lo," jawab cowok itu singkat, lalu bergegas pergi sebelum Baekhyun sempat menatap wajahnya.

Gerakan cowok itu yang cepat dan tiba-tiba membuat tangkai bunga yang membentur trotoar tadi akhirnya benar-benar patah dan terlepas dari buketnya.

Bunga itu terjatuh, tanpa cowok itu menyadarinya. Refleks, Baekhyun mengulurkan kedua tangannya. Bunga itu jatuh di sana. Di tengah kedua telapak tangan Baekhyun yang terbuka.

Mawar yang masih kuncup. Warnanya putih. Warna mawar yang paling disukai Baekhyun.

Baekhyun menengadahkan muka, akan memanggil cowok itu, namun batal karena cowok itu sudah sampai di teras dan tak lama menghilang masuk ke rumah lewat pintu depan yang terbuka. Baekhyun hanya sempat melihat sekilas punggung dan bagian belakang tubuh yang tinggi itu.

Setelah sempat tercenung beberapa saat, Baekhyun mengedikkan bahu. Ditatapnya kuncup mawar di telapak tangannya itu.

"Ya udah. Buat gue aja deh," ucapnya ringan, kemudian diteruskannya langkah kakinya menuju halte. Selama di dalam bus, sepanjang perjalanan menuju sekolah, Baekhyun terus memandangi kuncup mawar di tangannya itu.

"Cantik banget," gumamnya. Satu senyum kecil muncul di bibir tipisnya. Sesampainya di kelas, Baekhyun meletakkan kuncup mawar itu di meja, beralaskan selembar tisu.

Sementara itu, begitu bus sampai di halte tujuan, Chanyeol langsung melompat turun, bahkan sebelum bus benar-benar berhenti. Cowok itu kemudian berlari menuju sekolah.

Kecemasan itu semakin pekat, tapi tetap tanpa penjelasan hingga membuat Chanyeol seakan gila dan ingin berteriak sekeras-kerasnya, "Ada apa sih sebenernya!?"

Begitu sampai di ambang pintu kelas, Chanyeol langsung mencari-cari sosok Baekhyun. Cewek itu ada di bangkunya. Kepalanya menunduk, serius dengan sesuatu yang sedang disalinnya. Pasti PR bahasa Inggris.

Namun kali ini Chanyeol tidak peduli lagi dengan kebiasan jelek Baekhyun itu. Biarlah. Biar saja dia menyalin PR di sekolah. Biar saja dia cerewet, bawel, dan kadang celotehnya yang ramai itu bikin kesal dan sakit kuping. Biar saja dia suka iseng dan sering bikin orang pengin marah. Biar. Yang penting dia nggak apa-apa.

Chanyeol menarik napas panjang. Lega melihat Baekhyun baik-baik saja. Sekaligus melegakan paru-parunya yang sedari tadi terasa sesak. Cowok itu kemudian memasuki kelas menuju bangkunya dengan langkah lambat. Sedikit menyantaikan kedua kakinya yang tadi berlari dari halte.

"Pasti nyalin PR…"

Mulut Chanyeol masih terbuka, tapi kalimatnya tidak selesai. Langkahnya terhenti mendadak. Tubuhnya lalu menegang di samping meja. Dua manik matanya tertancap lurus-lurus ke satu titik. Ada gelombang dahsyat ketidakpercayaan dan penolakan atas apa yang saat ini ada di depan matanya.

Kuncup mawar itu!

Kuncup mawar itu adalah bunga yang paling dikenali Chanyeol. Bunga yang paling diingatnya dari semua bunga yang pernah dilihatnya. Dan tidak akan pernah bisa ia lupakan sampai mati nanti.

Satu-satunya bunga yang terlepas dari buketnya saat kecelakaan itu terjadi. Tergenggam erat di satu tangan Kris. Bunga itu lalu diberikan oleh Chanyeol kepada Baekhyun, agar cewek itu menyimpannya, biar menjadi kenangan Kris pada gadis yang dicintainya.

Tapi itu sudah lama berlalu. Dan seharusnya mawar itu sudah mengering.

Namun mawar itu sekarang ada di sini, dan masih tampak segar.

Ada di sini…

Di dekat Baekhyun!

Ternyata inilah penjelasan dari kecemasan pekat yang muncul mendadak kemarin siang itu. Kecemasan yang sekarang sudah menghilang karena sudah menjelma menjadi rasa takut.

Rasa takut itu membuat Chanyeol tidak berada lagi dalam posisi seratus persen sadar, saat kemudian disambarnya kuncup mawar itu.

"Eeeeeh!" Baekhyun sudah akan merebut bunga itu tapi urung begitu dilihatnya kondisi Chanyeol. Tertegun ditatapnya cowok itu. Sepasang matanya yang menyorot tajam sarat dengan ketakutan.

"Dari mana lo dapet ini!?" bisikan Chanyeol seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

"Mmm…" Baekhyun jadi tergagap.

"Baekhyun, dari mana lo dapet ini!?" bisik Chanyeol lagi. Kedua rahangnya terkatup rapat.

"Ng… itu… dari nemu."

"Di mana?"

"Itu… tadi gue ditabrak cowok," Baekhyun menjelaskan dengan suara terbata-bata, karena Chanyeol masih menikamnya dengan tatapan tajam yang sarat ketakutan itu. Baekhyun tidak mengerti tatapan Chanyeol itu, tapi membuatnya takut.

Meskipun cerita yang didengarnya terputus-putus, meskipun tidak mendengarkan dengan kesadaran penuh, Chanyeol bisa memastikan satu hal:

Baekhyun telah bertemu Kris…

.

.

.

TBC

.

.

.

AN:

Ngaret 3 jam dari jadwal update biasanya, mianhae reader-deul..

Hari Senin nanti aku UTS sampai hari Kamis, jadi sekarang tuh lagi sibuk-sibuknya ngulang pelajaran dan nuntasin tugas. Karena itu juga, maaf belum bisa balas review kalian, insya Allah review kalian di chapter kemarin dan di chapter ini (itu juga kalo ada yg review) bakalan aku bales di chapter depan habis aku selesai UTS. Minta do'anya ya dari para reader kesayangan, semoga UTS aku lancar..hehe

So, how about this chapter? RnR juseyo~

_Hill_ 230318