RANDOM
Bisa dibilang, kami bertiga adalah primadona di perusahaan ayah—aku, Chanyeol dan bayi berusia delapan bulan kesayangan kami yang tentunya tak asing lagi bagi kalian, Park Jiwon. Setiap kali kakiku melangkah masuk ke dalam gedung besar yang berdiri megah dengan putraku di gendongan, saat itu juga seluruh mata akan tertuju padaku. Tak peduli betapa sibuknya pekerjaan merongrong mereka atau deadline ini-itu yang membuat siang mereka penuh kegilaan—mereka, orang-orang baik yang bekerja di tempat ini, semuanya pasti akan menyempatkan diri berhenti sejenak demi menatap satu-persatu langkah yang kuambil. Seolah aku ini adalah artis terkenal saja.
Seperti yang terjadi sekarang.
Lobby yang biasanya penuh oleh hiruk-pikuk tiba-tiba saja berubah senyap hingga aku bisa mendengar suara kertas yang terlepas jatuh dari pegangan seorang pria muda di dekat meja resepsionis sebelah sana. Aku kenal dia. Jonghyun, salah satu teman baru Chanyeol yang sama-sama menjalani masa internship beberapa bulan lalu. Chanyeol bilang Jonghyun itu mantan anggota band dan kesukaan terhadap musik akhirnya membuat mereka berdua cepat akrab. Mulut lelaki itu terbuka lebar dan matanya memandangku penuh damba seakan-akan aku ini adalah pria terindah yang pernah ia lihat. Fakta bahwa aku sudah bersuami dan sedang menggendong bayiku tampaknya tak bisa membuatnya berhenti menatapku lekat-lekat dengan jakun yang naik-turun tiap kali ia menelan ludahnya sendiri.
"Wah, Tuan Muda Baekhyun cantik sekali—" Di sisi lain, dua orang pegawai wanita juga menatapku dengan penuh kekaguman yang disertai sedikit rasa iri. "—Park Chanyeol benar-benar beruntung mendapatkannya,"—ucap wanita itu dengan nada yang seolah-olah Park Chanyeol baru saja menolak cintanya dan dia terpaksa mengakui kalau hanya akulah yang pantas bersanding dengan lelaki itu.
"Kau benar! Lihat, Tuan Muda bahkan membawakan bekal makan siang untuk suaminya! Apa ya yang dilakukan Park Chanyeol di masa lalu hingga di kehidupan sekarang ia dikaruniai suami dan anak seimut mereka?"
Diam-diam, aku tersenyum bangga hingga membuat daguku terangkat lebih tinggi dari biasanya. Bukan karena mereka memujiku, bukan.
"Baekhyuna!"
Kakiku berhenti melangkah. Jiwon yang tadinya menyandarkan kepala dengan santai di dadaku sekarang menoleh ke arah datangnya suara. Kedua kaki lucunya yang kupakaikan sepatu imut berwarna merah menghentak-hentak dan mulutnya mengeluarkan semacam ocehan yang seakan-akan menuntutku untuk langsung membawanya pada pria tampan yang berdiri sambil melambaikan tangan sepuluh meter di depan sana itu.
Dialah Park Chanyeol, suamiku, ayah Jiwon, satu-satunya alasanku untuk tetap bisa berdiri menapak di tanah dengan dagu yang terangkat tinggi menantang dunia, lelaki kebanggaanku, cinta sejatiku, teman hidupku.
"Nyeolh!"
Aku terkekeh dan perhatianku yang tadinya tertuju pada si tampan itu sekarang teralih pada bayi imut dalam dekapanku. Meski dia baru berusia delapan bulan, hal itu tampaknya tak bisa menutupi kecerdasan yang ia miliki. Bayi seusianya mungkin akan mengucapkan baba, dada atau gerutuan tak jelas lainnya saat mereka belajar berbicara, namun Jiwon kami malah dengan fasihnya mengucapkan sepenggal nama Chanyeol seakan-akan mereka berdua adalah teman sepermainan yang saling berbagi rahasia dan sering hang out di belakang sekolah.
Benar-benar bayi yang menggemaskan. Walau tadinya aku berharap namaku akan menjadi yang pertama Jiwon sebutkan, tapi hal-hal semacam itu tak lagi mengganggu pikiranku sekarang. Mendengar Jiwon bisa mengucapkan kata pertamanya saja sudah membuatku sangat bersyukur melebihi apapun. Walau tanpa sepengetahuan Chanyeol, aku kerap berusaha keras membujuk Jiwon agar ia juga mau mengucapkan namaku.
"Bukan Nyeolh, Jiwona. Daddy—coba bilang daddy—" ujarku penuh pengertian. Mata bulat bening yang menghiasi wajah Jiwon menatap gerakan bibirku dengan penuh konsentrasi. Sedetik kemudian, sepotong kata meluncur dari bibir kecilnya itu.
"Nyeolh!"
Jiwon malah menyeringai setelah menyebut nama ayahnya hingga dua gigi mungil kebanggaannya itu terlihat. Langsung saja pipi melembungnya itu kuciumi karena tak bisa menahan rasa gemas, hingga aku tak sadar kalau Park Chanyeol ternyata sudah berdiri di hadapanku entah sejak kapan.
"Kau merindukan Nyeolh hingga jauh-jauh datang kemari, Preman Kecil?"
"Nyeolh! Nyeolh!" Jiwon mengangkat kedua tangan dan mencondongkan tubuhnya tak sabaran ke arah Chanyeol.
"Kemarilah, Nyeolh juga merindukanmu."
Tak ada yang bisa membuat hatiku menghangat melebihi saat melihat Chanyeol mengambil alih Jiwon dan mendekap bayi kami penuh kasih sayang. Rasanya waktu terhenti dan bisikan orang-orang yang menatap kami dari kejauhan tak lagi bisa kudengar—yang ada hanyalah tawa melengking Jiwon saat Chanyeol menciumi wajahnya dibarengi dengan kalimat-kalimat cinta penuh pemujaan dari suamiku sebagai balasan.
Indah. Aku tak pernah tahu kalau kasih sayang seorang ayah bisa seindah ini.
Bahkan aku sempat terpikir sesuatu, pernahkah aku mendapat perlakuan seperti itu dari ayahku saat masih bayi dulu? Kalaupun bukan ayahku, dari orang lain juga tak mengapa. Dipeluk dan dicium dengan penuh cinta, pernahkah?
"Baekhyuna?"
"E-eh?"
Aku seperti tersedot kembali ke masa sekarang. Orang-orang masih menonton kami ditambah lagi Chanyeol yang kini tampak berpikir keras mencari alasan kenapa sudut mataku ada airnya. Aku tergagap dan buru-buru mengucek mata dengan gaya canggung.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"A-aku baik! Ah, ayo kita ke atas saja!"
"Tapi—hei, tunggu!"
Aku berjalan secepat kilat dan masuk ke dalam lift yang dipenuhi orang-orang, mengabaikan Chanyeol yang menyusulku sambil membawa Jiwon di belakang sana. Aku bernafas lega saat pintu lift-nya tertutup sebelum Chanyeol sempat menyelinap masuk ke dalam.
"Selamat siang, Tuan Muda."
Huh. Harusnya seseorang mengingatkanku untuk menaiki lift khusus yang memang dibuatkan ayah untukku. Lift itu akan membawaku langsung ke ruangan di puncak gedung—ruangan yang juga khusus dipersembahkan Byun Tua kalau-kalau aku merindukan Chanyeol dan ingin berduaan dengannya menghabiskan jam makan siang.
Namun yang kunaiki sekarang adalah lift umum, yang artinya aku harus bersiap menerima bungkukan hormat dari para staff meski usia mereka jauh lebih tua dariku. Aku mencengkeram kain kotak makan siang Chanyeol dengan kuat.
"Selamat siang. Tolong jangan membungkuk seperti itu, Paman—"
Bukannya menuruti perkataanku, yang kuterima malah bungkukan hormat yang lebih dalam daripada yang tadi. Terkadang aku kurang menyukai tradisi basa-basi orang Korea yang menurutku sedikit konyol ini. Hanya karena aku adalah pemilik perusahaan ini di masa depan, bukan berarti orang-orang perlu merendahkan tubuh mereka tiap kali berhadapan denganku.
Ting.
Tapi untung saja mereka harus keluar saat lift-nya terhenti di lantai 20. Meski aku perlu menghela nafas panjang saat melihat bawahan ayahku tersebut berbaris di depan pintu lift yang masih terbuka dan secara serentak kembali memberi hormat hingga benda itu menutup lagi.
Benar-benar tidak masuk akal.
Ruangan khusus milikku itu ada di lantai 61. Bisa dibilang, ini adalah rumah kedua kami. Ada ranjang super besar yang diletakkan menghadap ke jendela. Di dekatnya, ada lemari tinggi tempat aku menyimpan pakaian yang biasanya berguna saat—kalian tahulah—sebagai pakaian ganti setelah Chanyeol mencumbuku habis-habisan hingga berkeringat hebat. Ada juga lemari yang lebih kecil di pojokan tempat aku meletakkan baju cadangan dan perlengkapan bayi milik Jiwon. Kamar mandi dan dapur kecilnya juga tak ketinggalan.
Oh—jangan lupakan tempat tidur bayi yang dibatasi oleh akuarium raksasa sebagai sekatnya. Itu ide kakek Jiwon. Tampaknya dia tahu kalau cucunya menyukai ikan-ikan lucu, jadi dia membuatkan akuarium yang tingginya nyaris mencapai langit-langit ruangan agar Jiwon betah berada di sana. Lumayan juga. Kami perlu berterima kasih akan hal itu karena terkadang Jiwon susah untuk tidur siang sedangkan kami sudah tidak bisa menahan hasrat untuk bercinta—akuarium itu selalu berhasil mengalihkan perhatian dan bayi kami bakalan berbaring di ranjang sambil memandangi ikan-ikan yang ada di sana selama bermenit-menit hingga ia terlelap dengan sendirinya. Sedangkan kami—umm, sibuk bergulat di ranjang di balik akuarium sambil menahan desahan dengan susah payah.
Persis setelah aku selesai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan meletakkan bekal makan siang Chanyeol di atas meja, pintu terbuka dan pria kecintaanku itu melangkah masuk diiringi dengan tangisan bayiku yang terlihat tak tenang dalam pelukannya.
"Jiwona—kenapa menangis?" Aku nyaris tersandung karpet bulu saat mencoba meraih tubuh Jiwon. Namun hatiku seakan tercabik ketika putraku malah menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol alih-alih memintaku untuk menggendongnya.
"Kau berjalan duluan dan tak menoleh saat kupanggil. Jiwon pikir kau marah padanya—" ujar Chanyeol dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah.
"—dia langsung menangis saat pintu lift-nya tertutup."
Astaga. Tolong ingatkan aku kalau Jiwon itu adalah bayi pintar yang memiliki tingkat kecerdasan emosional lebih tinggi dari bayi seusianya. Dia benar-benar perasa dan tampaknya sikapku tadi baru saja membuatnya merasa tidak kuinginkan.
"Jiwona, sayangku—" Aku mengikuti arah kepalanya dan memaksa agar pandangan kami sejajar. Dua mata sebening kristal itu tampak basah, dia menatapku seolah di dalam kepala kecilnya tengah terjadi pertikaian antara ingin menghakimiku atau mendengar penjelasanku.
"—maaf, ya? Mommy tidak marah, kok! Sungguh!"
Jiwon merengut dan mengalihkan kepalanya ke sisi lain. Tangisannya sudah berubah menjadi isakan kecil, salah satu tangannya mencengkeram kuat kemeja Chanyeol di bagian dadanya. Aku melirik suamiku untuk meminta bantuan, tapi lelaki itu malah mengedikkan bahu dengan gaya super menyebalkan.
"Jiwona—" rengekku sambil mengelus-elus punggungnya. Tak banyak berarti, karena Jiwon tak melirik sedikit pun padaku. Aku menghela nafas. Chanyeol selalu bilang Jiwon mewarisi sebagian besar dari diriku, termasuk kemampuan merajuk yang secara mengejutkan sudah ia kuasai sejak bayi.
"Kenapa tadi kau pergi terlebih dahulu, Baekhyuna?"
Aku mengangkat wajah dan mendapati Chanyeol tengah menatapku dalam-dalam.
"Tadi aku juga sempat melihat airmata di sini." Dia bilang begitu sambil mengusap pelan sudut mataku dengan ibu jari. "Ada apa?"
Aku berulang kali menunduk lalu melirik suamiku dengan ragu. Bagaimana caranya mengatakan kalau aku menitikkan airmata karena benar-benar terharu melihat Chanyeol yang sangat mencintai putra kami sekaligus juga merasa iri karena Jiwon begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya tanpa terlihat konyol dan menggelikan?
"Aku—"
Chanyeol menungguku menyelesaikan kalimat dengan sabar.
"—iri pada Jiwon."
Tak ada reaksi selain Jiwon yang menoleh padaku lalu cepat-cepat membenamkan wajahnya kembali di dada Chanyeol saat mata kami tanpa sengaja bertatapan. Kupikir suamiku akan menertawaiku atau apa, namun ia hanya menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.
"Kau sangat menyayanginya. Semua orang juga menyayanginya. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati apakah dulu aku pernah disayangi seperti itu saat masih bayi?"
Baekhyun bodoh! Jangan rusak siang yang indah bersama Chanyeol hanya karena kau yang tiba-tiba saja berubah emosional!
"Apakah masa lalu itu penting, Baekhyuna?"
"Eh?"
"Memangnya siapa yang bisa mengingat mereka disayangi atau tidak saat masih bayi? Tidak ada. Namun satu hal yang perlu kau tahu, kau tak mungkin berada di sini kalau bukan karena kasih sayang Papa Byun dan kakak-kakakmu. Dan jangan lupakan Mama Byun—"
Dadaku bergemuruh hebat mendengar ucapannya.
"Semua orang juga menyayangimu, Baekhyuna. Mungkin cara mereka menyampaikannya saja yang berbeda."
Sebelah tangan Chanyeol yang terbebas perlahan bergerak menepuk puncak kepalaku dengan lembut. "Berhentilah mengingat-ingat masa lalu, oke? Yang terpenting adalah kau punya seseorang yang mencintai dan menyayangimu tanpa batas sekarang. Kalau saja kasih sayang seluruh manusia di muka bumi ini dikumpulkan jadi satu, maka itu semua belum cukup untuk menandingi besarnya perasaanku padamu."
Saking hangatnya sesuatu yang menjalari tubuhku, airmataku juga ikut-ikutan meleleh tanpa tahu malu. Jangan khawatir, ini hanyalah airmata kebahagiaan.
"Aku menyayangimu, Baekhyuna. Aku yang paling mencintaimu di dunia ini. Kau belum lupa akan hal itu, kan?"
Dia gila? Bagaimana mungkin aku lupa kalau tak ada yang bisa mencintaiku sebesar dan setulus Chanyeol di seluruh alam semesta ini? Namun, tetap saja aku terharu gila-gilaan meski kalimat seperti itu hampir setiap hari kudengar darinya.
"Yak—lihat ini, airmataku menetes karena kau bilang begitu—" rengekku malu sambil mengusap pipi cepat-cepat. Perasaan hangat yang melegakan itu memenuhi seluruh rongga dadaku dan membuat pipiku juga ikut memanas.
"Apa aku baru saja membuatmu terharu?" ujar Chanyeol sambil tersenyum jenaka. "Apa kau selalu saja terharu tiap kali kukatakan aku mencintaimu?"
"Yak—hentikan—"
"Kalau begitu, I love you, Baekhyuna. Aku mencintaimu."
"Aku-aku juga I love you—" balasku malu-malu.
Jiwon tak lagi menyembunyikan wajahnya. Park kecilku yang lucu itu menatap kami berdua dengan wajah penasaran, dan saat pandangan kami bertumbukan, aku bisa melihat sorot mata itu berubah menjadi penuh harap padaku. Saking beningnya kedua mata mungil yang mirip mata Chanyeol itu, aku sampai bisa melihat pantulan wajahku di sana.
"Yun."
Hening. Aku dan Chanyeol terdiam, saling bertukar pandang kemudian sama-sama mengalihkan perhatian pada Jiwon.
"Y-yang tadi itu apa?" gumamku tak percaya. Dadaku berdebar kencang, rasanya aku baru saja melesat terbang dan menari bersama para bintang saking terkejutnya. Saat aku menuntut jawab dari Chanyeol, suamiku itu juga tampak tak kalah terkejutnya dariku.
"Apa dia baru saja bilang Yun? Byun? Baekhyun? Jiwon baru saja mengatakannya?!"
"Jiwona, coba katakan sekali lagi—daddy ingin mendengarnya sekali lagi—"
Mata indah Jiwon mengerjap. Bukannya memenuhi permintaanku, dia malah tersenyum lebar hingga dua gigi bawahnya terlihat. Semenjak gusi ditumbuhi gigi-gigi imut, Jiwon suka sekali memamerkan pada siapa saja seolah dia tahu kalau ulahnya itu selalu membuat gemas orang-orang.
"Jiwona~" Aku merengek frustrasi sambil menghentak-hentakkan kaki di lantai. Sudah lama sekali aku ingin mendengar Jiwon memanggil mommy atau menyebut namaku juga tak apa. Dan saat ia berhasil melakukannya, aku nyaris gila karena tak bisa menahan rasa bahagia. Mungkin tingkahku itu terlihat lucu di mata Jiwon, sebuah tawa melengking khas bayi keluar dari mulutnya dan pria kecil kami itu kembali menyembunyikan wajah di dada Chanyeol.
Aku tahu, Jiwon sedang menggodaku sekarang.
"Ngg! Chan, suruh dia menyebutkannya lagi—" rengekku sambil menggoyang-goyangkan bahu tanpa sadar. "Jiwona, bilang Yun sekali lagi—"
Chanyeol tersenyum lalu mengusap kepala Jiwon dengan lembut, "Jagoan daddy, coba bilang Yun!"
"…"
Sudut bibirku melengkung semakin jauh ke bawah ketika Jiwon seakan lebih tertarik memandangi wajah ayahnya ketimbang disuruh menyebutkan namaku.
"Kalau Nyeolh?"
"Nyeolh!" Jiwon membisikkan namanya tanpa ragu dan sedetik kemudian dua ayah dan anak itu terkikik seakan sesuatu yang menggelikan baru saja terjadi di antara mereka tanpa melibatkanku didalamnya.
"Yak!"
Nyaris di sepanjang sisa jam makan siang Chanyeol kuhabiskan untuk membujuk Jiwon dengan segala cara agar dia mau mengulangi sepatah kata yang sudah kunanti-nanti dari dulu. Aku dan Jiwon sudah makan dari rumah, jadi hari ini kami hanya akan menemani si Park itu saja. Chanyeol hanya memandangi kami sembari menyantap makan siang buatanku dengan lahap, sesekali menimpali dengan candaan yang kembali membuat Jiwon terkikik geli entah karena apa.
Aku tidak terlalu tahu hal ini berlangsung sejak kapan, namun tampaknya wajah cemberut dan suara rengekanku selalu berhasil membuat Jiwon tertawa. Kata Luhan dan Kyungsoo, Jiwon seperti itu karena aku tampak imut seperti bayi ketika melakukannya. Mereka bilang hal itu memang sering terjadi di antara sesama bayi.
Di tengah usahaku membujuk Jiwon, mataku sempat melirik Chanyeol yang sedang memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut lalu menyeruput kuah sup daging buatanku langsung dari wadahnya hingga habis. Hatiku yang memang selalu lemah akan Chanyeol kembali melemah, nyaris lumer seperti besi yang dilelehkan. Bagi orang lain mungkin pemandangan seperti itu tak ada artinya, tapi bagiku tidak. Yang ada di hadapanku saat ini adalah sosok seorang ayah yang bahkan lupa perutnya tengah lapar karena sibuk bekerja, dan saat ada makanan terhidang di hadapannya, sosok itu langsung menghabiskannya sebagai bentuk rasa syukur.
Padahal aku tahu pasti kalau masakanku masih jauh dari kata enak.
"Baekhyuna? Kenapa melamun?"
"Eh? Aku tidak melamun!"
"Ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Aku tidak apa-apa, Chan. Sebentar, ada sisa makanan di sini—"
Jiwon dengan kedua mata bundarnya hanya memandangiku yang tengah membersihkan bagian bawah bibir Chanyeol yang terkena sisa kuah. Yang kulakukan sederhana, namun berhasil membuat senyum indah terkembang di wajah Chanyeol. Lelaki favoritku itu kemudian memegang tanganku lalu memasukkan jempolku ke mulutnya, menghisapnya dengan lembut seolah tak rela ada sedikitpun makanannya yang tersisa.
Beginilah cara kami menunjukkan cinta. Terkadang hal-hal kecil seperti ini jauh lebih berharga daripada jutaan kata cinta yang terucap.
Aku menarik jariku saat lumatan Chanyeol mulai menjalar ke jari lainnya. Kalau tidak dihentikan, bisa-bisa sekujur tubuhku yang jadi sasaran lidah nakal Park Chanyeol itu!
"Bukankah kau harus segera bekerja setelah ini? Pergilah, biar aku yang membereskan semuanya—"
Dia mengerang kesal karena merasa keasyikannya terganggu. "Baiklah. Apa kau akan langsung pulang setelah ini?"
Kami bersama-sama melirik Jiwon yang entah sejak kapan berubah ke mode senyap—tangannya mengucek-ucek mata dan dia mulai menggeliat kecil di dekapanku.
"Sepertinya tidak. Aku akan menidurkan Jiwon di sini lalu pulang nanti sore saja bersamamu. Bukankah kau sudah berjanji mau membelikan cake untukku?"
Chanyeol tersenyum puas. Ia memang paling suka akan ideku tersebut, karena itu artinya, dia bisa mencuri-curi waktu mengunjungi kami di lantai atas di sela tugas mencetak dokumen yang terkadang dibebankan staff lain padanya. Dia bilang kehadiran kami berdua membuatnya lebih semangat untuk bekerja.
"Baiklah. Sini biar kuletakkan Jiwon ke tempat tidurnya."
Aku menyerahkan Jiwon yang nyaris terlelap ke buaian Chanyeol. Di saat suamiku membawa Jiwon ke ranjangnya, aku membereskan perlengkapan makan yang ada di atas meja secepat mungkin lalu ikut menyusul.
Jiwon tidak terlalu rewel saat menjelang tidur. Ia bisa terlelap dengan cepat saat ada seseorang yang mengusap-usap perut gembulnya dengan lembut seperti yang Chanyeol lakukan sekarang.
"Anak kesayanganku—" gumam Chanyeol sambil mencuri sebuah kecupan persis sebelum kelopak mata Jiwon menutup. Aku berdiri di belakang suamiku, dan saat aku mendengar dia bilang begitu pada Jiwon, aku tak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya dari belakang lalu mengecup lehernya dengan tak kalah lembut, "Suami kesayanganku—"
Begitulah.
Aku tahu yang kuceritakan ini memang sedikit acak, namun seperti inilah potongan cerita keluarga kecil kami yang berbahagia.
Setelah memastikan Jiwon terlelap, Chanyeol kemudian beralih padaku dan membalas ciumanku di lehernya dengan sebuah ciuman penuh cinta di bibir. Kami melakukannya sekitar lima menit, sampai akhirnya dia harus pergi karena jam makan siang telah berakhir.
"Pergilah, Chan. Hwaiting!"
"Hwaiting!"
Aku mengantar kepergian Chanyeol di ambang pintu dengan senyum terukir di bibir. Hah, setelah ini, sepertinya aku akan menikmati waktu tenang untuk diriku sendiri hingga nanti Jiwon bangun dari tidurnya. Aku lalu duduk di tepian jendela sambil memandang kota Seoul yang terhampar di bawah sana. Begitu tenang, begitu damai meski penuh kesibukan.
Dan tiba-tiba aku mendapat ide bagus! Bagaimana kalau kuceritakan saja kisah nostalgia yang belum sempat kuceritakan sepenuhnya pada kalian? Tentang bulan madu kami, mungkin?
Baiklah. Jadi ceritanya seperti ini.
BABYMOON
"Aku mau pulang! Titik."
Untuk kesekian kalinya, Chanyeol menghela nafas dan mencoba untuk tetap tersenyum meski aku tahu dia sudah menahan kesal sejak tadi.
"Habiskan dulu makananmu."
Aku mengaduk-aduk piringku tanpa minat. Lima belas menit lalu, Chanyeol mencoba membuat kejutan berupa makan siang romantis di balkon—duduk berhadapan dengan meja penuh santapan lezat ditambah hembusan angin laut yang bertiup lembut. Bukannya merasa tersentuh, aku malah merajuk karena satu-satunya hal yang paling kuinginkan hanyalah angkat kaki dari tempat ini, pulang ke Seoul segera dan melanjutkan hidup dengan atau tanpa dirinya. Itu saja. Tapi tak mudah untuk membuat Chanyeol mengabulkan keinginanku.
"Aku tidak lapar, Park! Berapa kali harus kukatakan padamu?" protesku dengan wajah tertekuk dalam-dalam. Mendapati diriku terbangun di ranjang sebuah resort mewah dengan suami yang tiba-tiba saja berubah romantis tentu saja membuatku kebingungan. Aku belum siap dengan semua ini meski diam-diam aku sering membayangkannya.
"Kau memang tidak lapar, tapi apakah kau tidak kasihan melihat bayiku? Dia pasti kelaparan di dalam sana." Chanyeol menatapku kemudian beralih memandangi perutku dengan sorot mata penuh kelembutan.
Bayiku. Kata itu membuat perasaanku tiba-tiba saja meluap dan hatiku menghangat. Dia bilang bayiku ini adalah miliknya—aku nyaris tak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang tiba-tiba saja tercetak di wajahku.
"Baiklah. Aku akan makan tapi setelah itu biarkan aku pulang!"
Dan yang kudapat setelah seluruh makan siangku habis bukanlah tiket pesawat menuju Seoul seperti yang Chanyeol janjikan.
"Kenapa kau malah membuang kuncinya, Park?" teriakku panik ketika melihat benda logam itu tergeletak di dasar kloset. Aku berusaha mengambilnya pakai tanganku, tapi Chanyeol memelukku dari belakang dan menekan tombol flush toilet semakin kuat. Kuncinya berputar-putar dan tersedot masuk ke dalam saluran pembuangan, bergabung bersama tumpukan kotoran manusia di suatu tempat di bawah sana.
Chanyeol kemudian bersandar di dekat wastafel dan hanya mengedikkan bahu dengan santai ketika aku melayangkan protes. Dari wajahnya yang tampak tidak merasa bersalah sama sekali, aku menarik kesimpulan kalau dia memang sengaja melakukannya.
"Mau bagaimana lagi?"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha keras mengabaikan keinginan untuk menjambak-jambak rambutnya yang sedikit lebih panjang dari yang terakhir kulihat itu. "Kau sengaja, kan? Kau sengaja melakukannya karena ingin membuatku marah, iya kan?" Mataku memanas dan bibirku bergetar.
Padahal aku sudah menghabiskan makan siangku dengan patuh. Padahal aku sudah berpakaian yang rapi sejak lima belas menit lalu. Tega-teganya dia membohongiku. Apakah sesulit itu mengabulkan keinginanku untuk pulang?
Chanyeol menggeleng lambat-lambat sambil menghampiriku dengan satu langkah lebar. "Tentu tidak, Sayangku."
Kepalan tanganku mengendur waktu dia menyibakkan anak rambut di keningku. "Mana mungkin aku sengaja membuatmu marah. Kau pikir aku gila?" ujarnya dengan suara yang kelewat lembut. Entah dibuat-buat atau memang seperti itu, tapi suaranya berhasil membuat darahku berdesir-desir indah. "Meski meninggalkanmu dua minggu belakangan ini nyaris saja membuatku gila betulan—" gumamnya.
Kalau biasanya aku akan berontak, mundur lalu punggungku terbentur tembok atau apa, kali ini tidak. Aku diam saja saat dia melingkarkan lengan mengelilingi tubuhku dan memberiku sebuah pelukan yang benar-benar hangat. Dia bahkan meletakkan kepala di pundakku. Aku langsung bergidik ketika merasakan bibirnya yang basah berada dekat sekali dengan telingaku, meniupnya sedikit seolah sengaja membuat kulitku meremang.
"Tapi aku memang sengaja membuangnya, supaya kita terperangkap di sini dan kau tidak bisa pulang."
Oke. Aku tidak tahu airmataku yang hampir jatuh ini adalah karena kesal atau karena senang mendengar kalimatnya.
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu bibir Chanyeol sudah mencumbu se-inchi demi se-inchi permukaan leherku. Perlahan-lahan, seolah dia benar-benar akan menjilatinya tanpa terlewat sedikitpun. Mulai dari bawah telingaku, bawah rahangku, jakunku yang hampir rata, tengkukku yang sensitif—semuanya.
Dan sialnya, aku diam saja diperlakukan begitu. Rasanya seperti terpaku di bumi tapi nyawaku sudah melayang-layang ke atas awan. Tanpa sadar, aku mendongakkan leher dengan mata terpejam untuk mempermudah gerakannya. Mungkin Chanyeol mengartikan itu sebagai tanda kepasrahan, dia tersenyum penuh maksud dan menggendongku dari kamar mandi menuju ranjang besar yang sekarang kelihatan seperti ranjang pengantin di mataku.
Yang bisa kulakukan saat dia menidurkanku di ranjang yang empuk itu lalu setengah menindih tubuhku adalah berkedip-kedip cepat dan menahan nafas. Chanyeol sengaja tidak menumpukan seluruh tubuhnya di atas tubuhku, mungkin karena tak ingin menyakiti bayi kami. Tubuh yang nyaris menyatu, wajah yang berjarak kurang dari lima senti, mata yang saling bertatapan lekat-lekat—semua itu membuat jantungku berdebar gila-gilaan. Aku bahkan bisa merasakan atmosfir di sekitar kami dipenuhi oleh ketegangan seksual yang kuat.
Sial. Yang kuinginkan hanyalah pulang tapi yang terjadi malah seperti ini. Bukannya tidak suka, aku hanya belum siap saja. Mataku bergulir dengan cepat mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan untuk keluar dari sini. Ah, telepon!
"Kalau kau berpikir ingin minta bantuan pada pihak resort, sepertinya itu akan sia-sia saja. Aku sudah memotong kabel teleponnya tadi, bahkan sebelum kau sempat memikirkannya."
Aku melirik dengan cepat ke arah meja putih yang ada di sebelah ranjang. Benda yang Chanyeol maksud memang ada di sana. Hatiku mencelos ketika mendapati kabelnya memang terpotong, bukannya dicopot dari colokan dan ada sebuah gunting tergeletak di dekatnya.
"Kau gila! Kau pikir ganti ruginya tidak mahal?"
Dia hanya terkekeh santai dengan satu jari yang mulai bergerak menelusuri bingkai wajahku. "Biar saja, uang kan masih bisa dicari. Dan apa kau lupa? Aku kan sudah bilang akan melakukan apa saja agar kau tetap tinggal bersamaku."
Aku memalingkan wajah dan mendorong dada lelaki itu dengan cepat sebelum bibirnya sempat mendarat di bibirku. Huft, nyaris saja.
Berapa kali harus kukatakan aku tak siap kalau dia menyerangku secara tiba-tiba seperti tadi? Dan jangan pikir dia bisa menyentuhku segampang itu setelah apa yang dia perbuat pada hatiku!
Aku berjalan ke arah pintu dan mulai menggedor-gedor dengan brutal. Aku juga berteriak dengan harapan seseorang akan mendengarku, mereka memberikan kunci cadangan dan aku bisa keluar dari sini secepat mungkin.
"Kau! Cepat lakukan sesuatu!" rengekku pada Chanyeol yang bersandar di kepala ranjang—sibuk mengulum senyum sambil menonton semua usahaku yang tampaknya tak membuahkan hasil. Aku tahu dia menikmati itu semua karena mengurungku di sini adalah hal yang memang ia inginkan.
"Sesuatu?" Alisnya terangkat sebelah. "Oh, aku ada ide!"
Aku menanti penuh harap ketika dia bangkit berdiri. Tapi seketika, yang ia lakukan malah membuat punggungku menempel lebih erat ke sisi pintu.
"Ya-yak! A-apa yang kau lakukan?"
Chanyeol menyilangkan tangan di ujung baju yang ia pakai lalu secara perlahan-lahan meloloskan kain itu melalui kepalanya. Aku lagi-lagi tak bisa bernafas dengan benar ketika melihat suamiku bertelanjang dada dan tersenyum padaku—tidak, itu adalah sebuah seringai seduktif, bukan senyuman.
"Pa-pakai bajumu kembali, Park!" Aku menundukkan wajah ketika menyadari pandanganku mulai meliar kemana-mana. Pundaknya yang kokoh, dadanya yang bidang dan dihiasi dua puting kecokelatan, perutnya yang berotot dan—astaga, sejak kapan dia punya lekukan otot berbentuk V yang terlihat lezat di bagian abdominalnya?
Tolong butakan saja mataku! Rasanya aku bisa mimisan segera saat menyadari ada rambut tipis dan halus yang mengintip dari balik karet pakaian dalam yang ia kenakan. Jangan bilang kalau dia tidak bercukur selama berminggu-minggu!
"Kau betulan ingin aku memakai bajuku lagi?"
Aku tahu dia hanya ingin menggodaku saja. Dan Chanyeol juga tahu kalau aku tak sungguh-sungguh ingin pemandangan indah yang memanjakan mataku itu kembali tertutup oleh pakaian. Mungkin alasan itu juga yang menyebabkan aku tetap berdiri di tempat dengan wajah luar biasa panas ketika Chanyeol mulai berjalan menghampiri.
"Baekhyuna—"
Cengkeramanku di permukaan pintu semakin kupererat. Aku tidak bisa melakukan apapun kalau Chanyeol sudah memanggil namaku dengan suara berat namun lembut seperti itu.
"—maukah kau berhenti mencoba ingin keluar dan tetap tinggal di sini bersamaku?" ujarnya penuh harap, layaknya seorang penghamba yang memohon pada yang ia puja.
Kebimbangan itu perlahan menghampiri. Permintaan Park Chanyeol tadi terdengar sangat menggiurkan. Sudut gelap hatiku berteriak menuntut agar aku mengiyakan permintaan tersebut, tapi harga diriku mengatakan tidak. Di kepalaku tengah terjadi peperangan yang lebih dahsyat dari perang bangsa Titan. Kalau aku mengiyakan, Chanyeol pasti menganggapku lelaki gampangan. Namun kalau kutolak, itu artinya aku harus merelakan rasa penasaranku akan bagian bawah perut Chanyeol yang entah sejak kapan ditumbuhi bulu-bulu halus yang terlihat seksi itu tak mendapat jawaban sampai kapan pun.
Kuberitahu, terhimpit dilema itu sangat tidak mengenakkan.
"Baekhyuna?"
"E-eh?"
"Mau atau tidak?"
"Kalau kutolak, apakah kau akan terus memaksa?" tanyaku mungkin dengan tampang bodoh.
Chanyeol tersenyum lalu mengusak rambutku hingga kupu-kupu rasanya berhamburan menembus setiap pori-pori kulit tubuhku. "Hm, aku akan terus memaksa hingga kau tak bisa memikirkan alasan untuk menolakku."
Kalau aku saja yang lelaki langsung merasa berbunga-bunga mendengar kalimatnya, lalu bagaimana jika ada perempuan yang mendengarnya? Atau jangan-jangan, Chanyeol memang selalu menggunakan mulut manisnya untuk menggaet para wanita?
Namun sialnya, aku malah senang karena rasanya Chanyeol benar-benar akan melakukan apapun agar aku tetap berada di sisinya.
"Bagaimana?" Dia mengerling sambil menahan senyum.
"Yeah, aku tak punya pilihan," ujarku sambil mengedikkan bahu pura-pura tak tertarik. "Kutolak pun tak ada gunanya."
"Kalau begitu, terima kasih dan selamat makan!"
"Yak!"
Chanyeol mendorong tubuhku hingga menempel ke pintu lalu melumat bibirku tanpa persetujuan terlebih dahulu. Kulit telanjangnya yang hangat bersentuhan langsung dengan tanganku. Sambil berciuman, aku menyusuri bahu berototnya yang terasa liat namun lembut lalu kemudian menjalar ke belakang menyusuri punggungnya yang kokoh. Chanyeol mengerang saat tangan nakalku yang tak bisa kukendalikan mulai turun semakin ke bawah dan mengelus pelan kedua bongkahan pantatnya yang tertutup jins. Meski bokongnya tak sekenyal milikku, namun lumayan asyik saat diremas-remas.
Namun kenikmatan dari setiap ciuman dan sentuhan tersebut harus terhenti saat ujung jariku meraba sesuatu di balik saku celana yang ia pakai.
"Apa ini?" Aku menyelipkan tangan lalu mengeluarkan benda itu dari sana.
Chanyeol terhenyak lalu tertawa canggung setelahnya, "Ku-kunci hotel—"
"Lalu yang tadi kau buang ke dalam kloset itu apa?"
"Itu kunci kamarku yang sudah rusak."
"Pulangkan aku ke Seoul sekarang juga, Park Chanyeol brengsek!"
Dan setelahnya, Chanyeol terpaksa harus membujukku yang terlanjur kesal karena merasa telah dibohongi tentang kunci sialan itu. Padahal ia berbohong hanya karena ingin menahanku di sini lebih lama untuk menikmati sesuatu yang ia sebut dengan bulan madu.
Oke.
Jadi bulan madu kami sebenarnya lebih tepat disebut babymoon karena di perutku memang sudah ada bayinya. Lima bulan—dan karena Chanyeol melarangku memakai kain untuk melilitnya, jadinya perut melembungku tak bisa disembunyikan meski kemeja putih kepunyaan suamiku yang kukenakan lumayan besar. Aku sedikit jengah karena orang-orang yang berjalan di lobby hotel setidaknya perlu menoleh dua kali saat melewati kami—satu kali karena melihat wajahku yang sangat cantik untuk ukuran pria dan satu kali lagi untuk memastikan mata mereka yang tertuju pada perutku sedang tak salah lihat.
"Jangan dipikirkan. Abaikan saja mereka." Chanyeol menggenggam tanganku lalu membawaku keluar dari hotel dengan langkah santai tanpa beban.
"Kita mau kemana?"
"Kau mau ke suatu tempat? Atau ada ide ingin melakukan sesuatu?" Bukannya menjawab, Chanyeol malah balas bertanya padaku.
"Mana aku tahu! Bukankah kau sendiri yang membawaku ke sini? Kalau seperti ini, lebih baik aku kembali ke kamar saja!"
"Hey, jangan langsung marah dulu. Lihat, bukankah ini waktu yang tepat untuk berjalan-jalan menyusuri pantai sambil menunggu mataharinya terbenam?"
Waktu yang tepat apanya? Memangnya dia tidak lihat cuacanya begitu terik hingga kurasakan pipiku mulai panas karena terbakar?
Tanpa menghiraukan usulannya, aku malah berbalik dan berniat untuk kembali saja ke kamar, namun saat aku baru melangkah tiga kali, badan kelewat besar milik Park Chanyeol tahu-tahu telah menghalangi jalanku.
"Kalau kau kembali ke kamar, itu artinya kau memilih menghabiskan sisa hari dengan seks, seks dan seks."
"Yak!"
Aku menginjak kakinya sambil melirik kesana-kemari—takut kalau seandainya ada orang lain yang mendengar omong-kosong yang baru ia katakan.
"Apa yang kau katakan?" sergahku sebal.
Lagi-lagi dia tertawa lepas hingga rasanya aku lupa bagaimana caranya merasa kesal pada lelaki itu.
"Seks atau ke pantai?" tawarnya sekali lagi.
"Ke pantai! Memangnya siapa yang mau melakukan itu denganmu?"
Meski wajahku masih merengut sebal, namun hatiku yang persis seperti taman bunga di musim semi tak bisa berbohong. Chanyeol kembali menggenggam tanganku sambil sesekali menciuminya saat kami berjalan menuju pantai yang tak terlalu jauh dari hotel. Tanpa pria itu ketahui, aku diam-diam juga mengulum senyum saat menyadari betapa pas-nya ukuran tangan besar itu saat bergenggaman dengan tanganku yang lebih mungil.
Usulan Chanyeol menghabiskan sore di pantai tidak buruk juga.
Meski awalnya aku kesal karena tempat itu lumayan ramai, namun setelah Chanyeol membawaku ke bagian pantai yang lebih sepi, senyumku terus saja terkembang tanpa bisa dihentikan.
"Aku mau berenang!" putusku setelah tergiur akan jernihnya air kebiruan yang seakan mengundangku untuk bermain-main di dalamnya.
"Berenang?" Chanyeol tampak berpikir sebentar lalu lirikan matanya turun ke bagian bawah tubuhku. "Baiklah. Tapi lepas dulu celanamu. Benda ini akan mempersulit gerakanmu di dalam air."
"Yak!"
Chanyeol tak bisa dihentikan. Ia berjongkok di depanku, membuka kancing celana jins-ku lalu menariknya ke bawah dengan sekali hentakan. Kalau ada yang melihat, mungkin mereka pikir lelaki ini tengah mencoba melakukan pelecehan seksual padaku.
"Apa yang kau lakukan?" ujarku malu saat mendapati Chanyeol terpaku setelah berhasil membuat kedua tungkai kakiku terbebas dari balutan celana. Aku hanya mengenakan pakaian dalam berbentuk segitiga di bawah sana—yang mana dalam posisi berjongkok seperti itu, Park Chanyeol pasti bisa melihat bagian selangkanganku terekspos di depan matanya. Pipiku rasanya panas sekali ditatapi seperti itu oleh suamiku sendiri. Jadinya, aku menarik kemeja putih kebesaran milik Chanyeol yang kukenakan agar semakin ke bawah untuk melindungi aset tubuhku dari sorot mata tajam itu.
"A-aku mau berenang sekarang—"
Ia mengerang kecewa entah karena apa, kemudian berdiri dengan celanaku yang berada di tangannya. "Baiklah, tapi hati-hati dan jangan berenang terlalu jauh. Aku akan mengawasimu dari sini."
"Kau tidak ikut berenang?" Aku berusaha agar nada suaraku tidak terdengar kecewa.
"Dan berakhir dengan penisku yang tegang karena melihatmu basah-basahan lalu kita melakukan seks di dalam air?" godanya sambil memainkan alis. "Kau mau mencoba? Katanya melakukan itu di dalam air bagus untuk seseorang yang tengah hamil."
"Lupakan ! Aku berenang sendiri saja!" Aku berbalik lalu berjalan cepat menuju bibir pantai lalu melepaskan sepatuku atas pasir.
"Yak! Baekhyuna! Aku hanya bercanda!"
Kubiarkan saja dia berteriak hingga teriakan itu tak lagi kudengar setelah tubuhku tenggelam dengan sempurna di dalam air. Kesejukannya berhasil meredakan rasa panas di pipiku, menggantinya dengan ketenangan dan rasa bahagia yang meluap-luap. Ya, aku memang tidak sepenuhnya kesal pada Park Chanyeol dengan segala godaannya. Malah sejujurnya, aku merasa bahagia.
Kebahagiaanku itu membuatku lupa kalau kemarin aku terjun ke laut untuk melakukan percobaan bunuh diri paling bodoh dalam hidupku. Aku juga sudah lupa betapa sedih dan nestapanya hidupku setelah Chanyeol meninggalkanku sendirian di Seoul.
Aku berenang dengan riang seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak bermain ke pantai. Menyelam, naik ke permukaan lalu berenang lagi. Setelah lima belas menit, aku mendapati Chanyeol berdiri di pinggir pantai dan dia menyuruhku untuk segera naik.
"Jangan terlalu lama, Baekhyuna. Tidak baik kalau kau terlalu letih." Dia berteriak dengan wajah yang tampak sedikit khawatir. Karena ingin melihat lelaki itu semakin mengkhawatirkanku, akupun kembali berenang semakin jauh alih-alih mengindahkan peringatannya. Namun saat aku muncul ke permukaan untuk yang kedua kalinya, dia tak lagi kudapati di sana.
"Chanyeol? Park Chanyeol, kau dimana?"
Pandanganku beredar kemana-mana, namun tak ada tanda-tanda kalau Chanyeol masih berada di tempat ini selain celana dan sepatuku yang ditumpuk di salah satu sudut.
"Chanyeol?" Aku berenang mendekati pantai dengan rasa kesal yang tiba-tiba muncul. Apa jangan-jangan Park Chanyeol tergoda oleh gadis seksi berbikini yang kebetulan lewat lalu mereka pindah ke tempat lain agar tidak terganggu oleh kehadiranku? Atau mungkin Chanyeol—
"Yak! Yaakk! Hmpph!"
Sesuatu merengkuh pinggangku dari dalam air dan karena aku terkejut, gerakan meronta yang kubuat malah menyebabkan tubuhku hilang keseimbangan. Aku nyaris saja tenggelam kalau bukan karena lengan kokohnya yang mirip tentakel cumi-cumi raksasa itu membelit tubuhku dan membawaku ke permukaan.
Sesuatu itu adalah Park Chanyeol sialan.
"Kau! Kau mencoba membunuhku?!" bentakku saat kepala kami sudah berada di permukaan dan posisi tubuhku mulai stabil. Park Chanyeol hanya tersenyum lebar tanpa dosa, ia berenang kecil mengitariku sambil menciprati air ke wajahku.
"Yak! Kau ingin mencari gara-gara? Baiklah, terima ini!"
Meski sempat kesal karena Chanyeol yang tiba-tiba menghilang namun mendadak muncul dari dalam air seperti adegan yang pernah kulihat di TV, hati kecilku tampaknya merasa senang karena dia akhirnya ikut berenang bersamaku.
"Awalnya aku ingin memberi kejutan—memelukmu lalu berciuman di dalam air, bukankah itu romantis?" ujar Chanyeol yang berenang dengan gaya punggung satu meter di depanku. "Tapi ternyata aku tidak pandai melakukan hal-hal manis semacam itu. Aku malah hampir membuat kita berdua tenggelam."
Aku mendecih sambil mencipratkan air ke wajah menyebalkannya itu, "Kejutan apanya? Kupikir tadi kau menghilang karena sibuk berduaan dengan wanita seksi!"
"Siapa yang butuh wanita seksi kalau di hadapanku ada seseorang yang lebih cantik dan menggairahkan dari siapapun?"
"Yak!" Aku meneriaki lelaki itu saat kurasakan tangan usilnya meremas bongkahan pantatku dari dalam air dan setelahnya dia berenang menjauh sambil terbahak-bahak. Karena tak mau kalah, aku mengejarnya dan balas meremas tonjolan selangkangannya yang menggembung sempurna entah karena air atau karena hal lain.
"Wah, berhati-hatilah, Byun Baekhyun! Kalau yang kau remas itu protes dan minta dilepaskan dari kurungannya, bisa-bisa kau tak bisa berjalan hingga minggu depan!"
"Yak! Siapa yang menyuruhmu jadi mesum begini?!"
Selama lima belas menit, Chanyeol terus saja menggodaku dan aku membalas tingkah usilnya itu dengan pukulan dan cubitan kecil yang kutorehkan di sekujur badannya. Hingga persis saat matahari mulai terbenam dan lautan biru kini bermandikan cahaya keemasan, aku merasa kelelahan dan mengajak Chanyeol untuk segera naik ke pantai.
"Sebentar, ada sesuatu yang dari dulu sangat ingin kulakukan," ujarnya sebelum kami mencapai garis pantai dengan sempurna. Kami berada dua belas meter dari tepian, kakiku sudah bisa menjejak di dasar dan airnya kini tinggal sebatas dadaku.
"Kau ingin melakukan apa?" tanyaku bingung.
Chanyeol tersenyum penuh maksud, ia merengkuh pinggangku agar kami berdiri berhadapan dan dia menyatukan kening basah kami hingga menempel satu sama lain.
"Byun Baekhyun—"
Jantungku mendadak berdebar kencang sekali saat kedua tangannya merengkuh pipiku dan matanya menatapku dengan lembut.
"—maukah kau memulai semuanya dari awal dan menerimaku kembali sebagai suamimu?"
Park Chanyeol kembali melamarku dengan matahari terbenam yang membuat tubuh kami berubah menjadi siluet indah sebagai saksinya.
"Maukah kau bersabar dengan semua kebodohanku dan mengajariku apa artinya cin—"
Kalimatnya terhenti. Dia memundurkan tubuh sedikit dan kulihat lelaki itu berulang kali menelan liur dan tampak berusaha keras menyelesaikan kalimatnya.
"Cin—maksudku cin—"
Aku tahu, Park Chanyeol masih belum siap menyebutkan kata cinta dari bibirnya sendiri.
"Chanyeol, tak apa. Kau tak perlu meneruskannya kalau kau masih belum siap—"
"Jadi maksudku… aku menyayangimu, Baekhyuna! Aku benar-benar menyayangimu dan kuharap kau juga bisa balas menyayangiku—"
Ada sedikit rasa sakit dan kecewa saat dia lebih memilih menggunakan kata sayang alih-alih cinta, padahal aku sudah sangat ingin mendengarnya dari lelaki itu sejak dulu. Tapi apa yang bisa kuperbuat kalau nyatanya Chanyeol masih belum bisa mencintaiku?
"Aku mengerti, Park Chanyeol. Ah, sebentar lagi akan gelap, bagaimana kalau kita kembali ke kamar saja?"
"Baekhyun, aku belum selesai—" Chanyeol menarik tanganku saat aku mencoba berjalan menuju pantai dengan hati yang terbebani rasa sedih. "Baekhyuna—"
Park Chanyeol memelukku dari belakang hingga kedua kakiku tak sanggup untuk meninggalkannya lebih jauh lagi.
"Aku benar-benar menyayangimu. Aku minta maaf karena baru mengakuinya sekarang."
"Baiklah, aku mengerti. Ayo cepat pergi dari sini. Lihat, jari-jariku sudah mulai mengkerut kedinginan."
"Tunggu dulu, kau belum membalas lamaranku—"
Aku membalikkan badan hingga kami kembali berhadapan. Di depanku, yang kulihat sekarang adalah seorang pria yang menatapiku penuh harap, entah apa yang ia inginkan sebenarnya dariku dan hubungan ini. Belum cukupkah dia membuatku merasa menjadi lelaki paling malang di dunia setelah merasa kecewa karena dia hanya bilang sayang alih-alih cinta yang selama ini kuharapkan?
"Maukah kau—hmph!"
Disaksikan oleh cahaya keemasan senja yang mulai memudar, aku mencium Park Chanyeol atas keinginanku sendiri. Tak cukup mendominasi bibirnya yang tak memberikan perlawanan itu, aku mulai mengalungkan tangan di lehernya, menuntut agar dia balas menciumku detik itu juga. Mudah saja membakar gairah Park Chanyeol, hanya butuh sekian detik untuk membuatnya mengambil alih dominasi ciuman kami.
Lama sekali, hingga kupikir separuh tubuhku nyaris membeku oleh air laut yang semakin dingin.
"Mau dilanjut di kamar saja?" bisiknya sambil menjilati sisa-sisa liur yang menetes mengaliri daguku. Kuperhatikan, matanya seakan berkabut persis serigala jantan yang tengah dirundung birahi. Jangan lupakan celananya yang sudah menggembung tak karuan. Meski dia belum mencintaiku, tapi fakta bahwa aku selalu bisa membangkitkan gairahnya sudah cukup untuk membuatku bangga.
"Ung! Di kamar saja," bisikku lirih.
Park Chanyeol tersenyum puas sambil menggendongku keluar dari dalam air menuju kamar tempat kami menginap.
Malam itu, dia tak menyia-nyiakan sedetik pun waktunya tanpa menjamah tubuhku dan membuatku mengerang karena kenikmatan.
PINK SCOOTER
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan karena Chanyeol baru selesai melakukan itu denganku setelah pukul 3 dinihari. Kepuasan yang kudapatkan tak bisa diungkap dengan kata-kata. Tak hanya kepuasan jasmani, batinku juga merasa puas karena melihat suamiku mencapai orgasmenya hingga tiga kali. Apalagi saat ia menggenjotku sambil menyebut-nyebut namaku—rasanya aku bisa melayaninya semalam suntuk tanpa henti.
Hanya saja, kehamilanku membuatku cepat lelah dan Chanyeol juga khawatir sesuatu akan terjadi pada kandunganku kalau kami melakukan seks terlalu lama.
Saat aku menoleh ke samping, yang kudapati adalah wajah Chanyeol yang masih tertidur lelap dengan bibir setengah terbuka. Sepertinya yang kelelahan bukan hanya aku saja. Buktinya, Chanyeol mendengkur dan masih belum bangun padahal semestinya dia yang bangun duluan lalu menatapiku dalam-dalam hingga aku membuka mata.
Tak apa, jarang-jarang aku mendapat kesempatan memandangi suamiku saat dia masih terlelap. Jadi, biarkan aku menikmatinya selagi bisa.
"Huh, wajahnya polos sekali seakan-akan bukan dia yang tadi malam menghajarku habis-habisan," gumamku sambil memperhatikan wajahnya yang merupakan definisi tampan yang sesungguhnya. Oke, mungkin sempurna lebih pantas untuk menggambarkan lelaki yang tidur di sebelahku ini. Matanya, hidungnya, bibirnya, semua yang ada di dirinya begitu sempurna.
"Ngh." Dia bergumam dengan tangan yang tanpa sadar menempel pada perutku. Saat kulihat Chanyeol mau membuka mata, aku langsung pura-pura tidur padahal aku tahu semua yang ia lakukan.
"Kasihannya. Baekhyun pasti kelelahan karena tadi malam," gumamnya pelan. Ia kemudian meletakkan kepalaku berbantalkan bahunya kemudian lanjut memejamkan mata dengan tangan yang mengelus-elus perutku perlahan-lahan.
Karena sentuhannya begitu lembut dan membuatku nyaman, tanpa kusadari aku akhirnya benar-benar tertidur sekian menit berikutnya.
Bulan madu kami berlanjut lagi setelah makan siang. Chanyeol terlihat begitu antusias saat menarik-narik tanganku agar mengikutinya dan ternyata skuter pink lucu yang terparkir di bagian samping resort itulah alasannya.
"Tadaa!" Dia tersenyum kelewat lebar dengan kedua mata yang berbinar seperti puppy lucu saat mempersembahkan skuter itu di hadapanku.
"Apa ini?"
"Skuter,"
"Iya, maksudku apa-apaan dengan skuter?"
Bukannya menjawab, Chanyeol malah mengambilkan helm yang juga berwarna pink lalu memasangkannya di kepalaku, "Kita akan pergi berkencan naik skuter!"
"Aku tidak mau! Pantatku masih perih dan benda ini tampaknya tidak terlalu empuk untuk diduduki!" rengekku sambil cemberut dan berusaha melepas helm yang kukenakan.
"Kata siapa tidak empuk? Lihat, jok-nya sangat nyaman dan—"
"Pergi saja sendiri! Aku mau kembali ke kamar!"
"Baekhyuna,"
Dengan wajah yang sedikit kesal, aku kemudian berbalik ke arahnya.
"Kau mau, kan?"
Kedua mata yang memandangiku penuh sorot memelas itu membuatku tak tega untuk menggeleng, yang mana pada akhirnya aku duduk dengan canggung di belakang Chanyeol tanpa tahu harus memegang bajunya atau memeluk pinggangnya saja.
"Apa ini pertama kalinya kau naik motor?" tanya Chanyeol saat ia mulai menyalakan mesin skuter tersebut.
"Siapa bilang?! Tentu saja aku pernah naik motor sebelumnya!"
Kai punya sebuah motor dan dulu dia pernah mengajakku berjalan-jalan meski tidak sering karena aku lebih suka duduk nyaman di dalam mobil. Tentu saja situasinya berbeda. Saat bersama Kai, aku bebas-bebas saja mengalungkan tanganku di lehernya dari belakang saat ia mengemudi tanpa merasa canggung sedikit pun. Tapi yang akan memboncengku adalah Park Chanyeol! Bagaimana kalau dia sampai tahu jantungku berdebar gila-gilaan hanya karena jarak duduk kami yang nyaris berdempetan ini?
"Eng, Baekhyuna?"
"A-apa?"
"Bisakah kau mundur sedikit? Kau memborong seluruh jok untukmu semua,"
"Ah, maaf." Aku tersipu malu saat menyadari Chanyeol yang hanya mendapat sedikit tempat di ujung jok dan dadanya nyaris menempel pada stang.
"Nah, begini lebih baik. Kau siap?"
"Mmh."
"Kalau begitu—" Park Chanyeol meraih kedua tanganku lalu melilitkannya di perutnya sendiri. "—pastikan tanganmu tetap berada di sini karena sebentar lagi Park Chanyeol Sang Pembalap akan menunjukkan kebolehannya. Bakal berbahaya kalau kau sampai jatuh."
Meski sedikit sebal oleh kalimatnya, aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tanpa sepengetahuannya. Pelukanku di perutnya kupererat, dan tanpa diminta, aku meletakkan pipiku di belakang pundaknya. Hari ini dia mengajakku kencan, baiklah. Meski tidak berekspektasi terlalu tinggi, tapi mendengar kata kencan sudah bisa membuatku merasa senang.
"Tiga, dua, satu, berangkat!"
Vrooom!
Huh, pembalap apanya? Orang-orang yang berjalan di pinggir sana itu bahkan bisa mendahului laju skuter kami berkat Chanyeol yang menyetir dengan kecepatan paling rendah!
"Yak! Bisa lebih cepat lagi, tidak?" omelku sambil mencubit pelan perutnya. Lelaki itu hanya membalas dengan tawa renyah, sesekali menaikkan gas tapi kembali menurunkannya sesaat kemudian.
"Berkendara dengan kecepatan tinggi itu tidak baik, Baekhyuna. Bayi kita bisa muntah di dalam sana, kau tahu?"
"Kalau begitu, lupakan naik skuter dan ayo berjalan saja!"
"Baiklah, baiklah. Berpegangan yang erat!"
"Yak! Pelankan sedikit!"
Naik skuter bersama Chanyeol tidak buruk juga. Kami berhenti di beberapa spot menarik untuk sekedar menikmati pemandangan ataupun berfoto. Omong-omong, kami sudah beberapa bulan menikah namun belum pernah berfoto bersama. Dan entah dapat bisikan dari mana, Park Chanyeol mengajakku mengambil selca pakai ponselku yang kemarin Sehun berikan padanya.
"A-aku tidak pintar berpose," ujarku gugup saat ia mencoba mendekatkan wajah kami untuk berfoto.
"Ei, ayolah. Kalau kau tidak pintar berpose, lalu kenapa ada ribuan selca di ponselmu?"
"Kau mengutak-atik ponselku? Yak!"
"Bilang kimchi! Ah, wajahmu terlihat kesal. Ayo kita ulang lagi!"
Meski jarang ditunjukkan, ternyata Chanyeol punya sisi imut juga. Ia memaksaku mengambil selca dengan berbagai gaya—memajukan bibir, menggembungkan pipi, dan saat kami sibuk berdebat tentang pose bagaimana yang harus dilakukan selanjutnya, aku tanpa sengaja mengecup bibirnya bertepatan dengan jari Chanyeol yang menekan tombol shoot di layar ponsel.
"Ma-maaf," aku semakin gugup tak tertahankan apalagi ketika melihat ada foto kami yang tampak tengah berciuman di layar ponsel.
"Kenapa minta maaf?"
"Ka-karena aku menciummu—"
"Kalau begitu, aku juga minta maaf."
"Kenapa?"
"Karena aku mau balas menciummu,"
Di tepi jalan dekat taman bunga matahari, kami lagi-lagi berciuman dengan hebatnya seolah tak ambil pusing akan orang-orang yang mungkin lewat dan mendapati kami tengah saling memagut bibir. Park Chanyeol duduk menyamping di skuter yang ia parkirkan dan aku berdiri ditengah di antara kedua pahanya. Ia memegangi rahangku seakan-akan takut bibirku yang tengah ia kulum habis-habisan tiba-tiba saja menghilang. Dia baru melepaskan ciumannya saat nafasku mulai tersengal.
"Bagaimana rasanya berciuman denganku, Baekhyuna?"
Bagaimana mungkin pipiku bisa tidak memerah kalau dia menanyakan itu padaku dengan mata sendu namun sorotnya tampak berbahaya seakan bisa menerkamku kapan saja itu?
"Kau-kau buruk dalam berciuman!"
Chanyeol terkekeh sambil mengacak-acak rambutku, "Apakah aku seburuk itu hingga membuat wajahmu semerah ini dan bibirmu juga sebengkak ini?"
Sebelum aku sempat mendelik dan melontarkan caci-maki padanya, Chanyeol telah memasangkan kembali helm ke kepalaku dan menyuruhku naik ke atas skuter.
"Simpan tenagamu karena kencan kita masih belum usai. Dan kalau ingin meneriakiku, sebaiknya nanti malam saja saat kita—kau tahulah apa yang akan kita lakukan nanti malam."
Meski kesal, anehnya hatiku rasanya berbunga-bunga apalagi saat Chanyeol mengedipkan mata sambil tersenyum manis sekali padaku. Ingin rasanya aku menyeretnya pulang ke kamar hotel sekarang juga dan melakukan kegiatan yang enak-enak bersamanya.
Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh sebuah kampus di Jeju. Ada banyak sekali stand menarik di sana, sama banyaknya dengan gadis-gadis mahasiswi yang berebut menarik Chanyeol untuk mengunjungi tenda mereka. Menyebalkan sekali! Dan yang lebih menyebalkannya lagi, si Caplang itu mau-mau saja digilir dari satu stand ke stand lainnya.
"Kau Chanyeol, kan? Aku Jinhee noona! Masih ingat denganku?"
"Oppa! Aku Yoomi, putri Bibi Jang yang berjualan kerang di pasar dulu! Kenapa Oppa jarang sekali pulang ke Jeju?"
"Apa? Oppa? Yak, Kim Yoomi! Kau ribuan tahun lebih tua dari Park Chanyeol jadi jangan berani-beraninya memanggilnya oppa! Iya kan, Chanyeol oppa?!"
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan menyebalkan lainnya. Tapi di atas itu semua, Park Chanyeol menjawab mereka dengan sopan entah itu hanya untuk tujuan beramah-tamah atau bagaimana.
"Eh? Yang dari tadi di belakangmu itu siapa?" Seluruh gadis yang dari tadi memberondong Chanyeol sontak mengalihkan pandangan padaku. Aku refleks mengkerut ketakutan—wajah-wajah mereka tampak seperti singa betina yang pejantannya diganggu dan mereka siap mencabik habis seluruh kulitku kapan saja.
"Ah, aku lupa memperkenalkannya. Sayang, kemarilah."
"Sa-sayang?" Gadis-gadis itu mulai berbisik kebingungan, terlebih saat Chanyeol menarikku dan merangkul pinggangku di hadapan mereka semua.
"Ini Byun Baekhyun. Istri, ah tidak—suami? Apapun sebutannya, dia adalah pasangan hidupku sekarang."
"APA?!"
Dan sepuluh menit selanjutnya, kami disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan tak ada habis dari mereka yang secara mengejutkan tidak menganggap berita pernikahan kami ini adalah sesuatu yang memalukan. Awalnya gadis-gadis itu tidak percaya, namun saat aku menunjukkan perut besarku sambil mengulum senyum malu-malu, mereka semua menjerit kegirangan secara mengejutkan.
"Boleh kuelus perutmu?"
"Apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Nanti kalau sudah lahir, kalian akan menamakannya siapa?"
Aku sampai pusing karena gadis-gadis itu tak berhenti mewawancaraiku. Dengan wajah memelas dan sorot mata penuh arti, aku melirik Chanyeol yang tampak menikmati saat-saat dimana mereka menyiksaku dengan beribu pertanyaan.
"Noonim-deul, kurasa sudah cukup dengan pertanyaannya karena Baekhyunku sepertinya tampak kelelahan. Iya kan, Sayang?"
Aku mengangguk cepat seperti anak anjing dan tersenyum girang saat Chanyeol berhasil membawaku keluar meninggalkan noona-noona menggemaskan yang tampak tak rela karena harus melepaskan kami. Setelah berpamitan dan berjanji akan mengunjungi Jeju lagi bersama bayi kami nanti, akhirnya kami berjalan melihat pertunjukan yang lainnya.
"Eh, sepertinya ada lomba foto di depan sana. Mau lihat?"
Aku mengangguk sambil menggamit lengan Chanyeol penuh posesif, takut kalau nanti ada gadis-gadis yang kembali memonopolinya dariku.
"Wah, ternyata foto pakai hanbok! Hm, hadiahnya lumayan juga," gumam Chanyeol sambil memandangi tumpukan hadiah yang disediakan untuk para pemenang nantinya.
"Baekhyuna, ayo kita ikut!"
"Apa? Ti-tidak, kau saja, oke? Aku tidak terlalu suka ikut acara-acara seperti ini."
Chanyeol mengerutkan bibir, "Tapi hadiah pertamanya adalah gelang!"
"Lalu kenapa?"
"Kalau kita menang, aku akan memberikan gelangnya untukmu."
"Tapi aku tidak terlalu suka memakai gelang. Lagipula, aku bisa membelinya sendiri—baiklah, baiklah. Terserah kau saja."
Chanyeol tersenyum girang kemudian menyeretku menuju panitia untuk mendaftar. Dan seharusnya, aku tidak usah merasa kasihan atas wajah memelasnya tadi karena pada akhirnya aku sendiri yang harus menahan kesal.
"Bagaimana ini? Kami tidak punya hanbok cadangan untuk yang pria," ujar salah satu panitia sambil memandangku dengan wajah gugup. "Kalau kalian ingin ikut, salah satunya harus memakai hanbok untuk wanita."
Chanyeol melirikku dengan ragu kemudian mengembalikan hanbok yang sudah sempat diberikan untuknya. "Kalau begitu, kami tidak usah ikut saja. Baekhyun tidak mungkin mau memakai baju untuk perempuan."
Mungkin inilah yang dinamakan cinta buta. Atau mungkin saja aku telah berubah menjadi budak cinta Park Chanyeol, karena setelah melihat sedikit raut kecewa di wajahnya, aku tanpa pikir panjang langsung merebut baju-baju tradisional itu dan memutuskan untuk ikut saja.
"Siapa bilang aku tidak mau? Park Chanyeol, aku akan memakai hanbok ini tapi kau harus berjanji untuk merebut gelang itu untukku, oke?"
Itulah alasan kenapa setengah jam kemudian aku dan Park Chanyeol menjadi tontonan orang-orang yang menyemut di dekat panggung.
"Wah, dia cantik sekali!"
"Pria di sebelahnya juga sangat tampan!"
"Aku yakin setelah ini mereka akan ditawari menjadi perwakilan budaya Korea!"
"Peserta nomor 5—Byun Baekhyun dan Park Chanyeol! Beri tepuk tangan yang meriah!" Diiringi oleh musik tradisional Korea dan tepuk tangan yang super riuh, aku dan Chanyeol berjalan bak model mengelilingi panggung yang disediakan sambil tak lupa menebar senyum kemana-mana.
"Kita seperti pasangan pengantin dari jaman Joseon, iya kan?" bisik Chanyeol sambil melambai-lambai ke arah penonton.
"Apakah acaranya masih lama? Ikat kepala konyol ini membuatku pusing."
Selanjutnya, seluruh peserta disuruh melakukan pose terbaik mereka dan para juri yang sepertinya adalah dosen-dosen dari fakultas seni dan kebudayaan semacamnya akan diberi kesempatan untuk menilai seluruh penampilan. Dan hasilnya tentu saja seperti yang kalian tebak, kami menang telak dengan nilai sempurna. Dikaruniai wajah tampan dan cantik bukan salah kami sama sekali. Jadi, saat panitia menyerahkan kotak perhiasan dengan tulisan Pandora di atasnya, aku langsung menerimanya dengan senyum lebar secerah matahari meski peserta lain terutama yang wanita memandangiku penuh keirian. Setelah acaranya selesai, kami dipersilahkan untuk mengganti kembali pakaian yang dikenakan.
"Kau senang?"
"Hm, tidak buruk juga. Ini buatku, kan?"
Chanyeol tersenyum sambil mengelus pelan pipiku yang tadi dipoles bedak tipis-tipis oleh tim tata rias sebelum kami naik ke atas panggung.
"Tentu saja untukmu."
"Terima kasih, Chan—"
"Chan? Apakah itu nama panggilan baru untukku?"
Aku menunduk malu-malu kemudian kabur setelah mengecup pipinya tiba-tiba. Namun, bagian bawah hanbok yang berupa rok lebar itu membuatku susah bergerak dan aku hampir saja jatuh tersandung kainnya kalau bukan karena Chanyeol yang dengan sigap menangkap badanku sebelum aku limbung.
"Yak! Tadi itu sangat berbahaya, kau tahu?" pekiknya gusar.
"Maaf," Aku tertunduk sambil menyesali diri karena kecerobohanku nyaris saja membahayakan bayiku. Tampaknya Chanyeol melihat saat aku mengelus perutku dengan lembut—dia langsung berlutut di hadapanku sambil menempelkan telinganya di permukaan perutku yang tertutup baju.
"Kau baik-baik saja, Nak? Kau pasti terkejut karena tadi Mommy berlarian dan hampir jatuh, iya kan?"
Tanpa sepengetahuannya, aku tersenyum. Tak peduli peserta lain yang memandangi kami dengan tatapan aneh saat mereka lewat menuju ruang ganti, Chanyeol masih tetap dengan posisinya. Sampai ketika suatu tendangan terasa dari dalam perutku dan Chanyeol terperanjat kaget karenanya.
"Ta-tadi itu apa?" tuntutnya dengan wajah horor. Kedua matanya melebar dan mulutnya menganga, "A-ada yang bergerak dari dalam perutmu!"
"Tentu saja ada! Dia sudah berusia lima bulan dan belakangan ini mulai aktif menendang," ucapku bangga. Aku menarik tangannya agar diletakkan kembali di perutku, "Diam dan rasakan."
Aku tahu. Park Chanyeol langsung jatuh cinta pada bayi yang kukandung saat tendangan itu kembali ia rasakan. Hah, betapa mudahnya bagi Baby untuk membuat sang ayah jatuh cinta padanya, tidak seperti aku yang sulitnya bukan main.
"Ke-kenapa dia menendang? Apa dia baik-baik saja? Apa kau tidak sakit saat dia melakukannya?"
"Dasar bodoh! Tentu saja dia menendang karena dia adalah bayi yang sehat! Sedikit sakit, tapi itu tak ada artinya sama sekali dengan kebahagiaan yang kurasakan."
Chanyeol dengan mata berkaca-kaca miliknya menatapku dalam-dalam. Sesaat kemudian, dia menarikku ke salah satu sudut ruangan yang sepi dan penuh tumpukan kardus lalu mulai menciumiku habis-habisan.
"Yak! Hen-hentikan! Nanti ada yang melihat!"
"Biar saja!"
"Hmphh!"
Meski awalnya menolak, namun pada akhirnya aku terjatuh dalam kenikmatan bibir Chanyeol yang seakan tak pernah cukup untukku. Aku bohong tentang ciumannya yang buruk karena bagiku, dia adalah pencium terbaik di dunia.
"Baekhyuna, kau tahu tidak? Dari tadi aku merasa tegang karena kau terlihat begitu menggairahkan dengan pakaian seperti ini."
Menggairahkan apanya? Bahkan seluruh tubuhku tertutup rapat kecuali leher putihku yang sedikit terekspos. Jangan-jangan Park Chanyeol berfantasi liar karena melihatku mengenakan pakaian wanita dan memakai sedikit riasan di wajah.
"Aku ingin melakukannya sekarang. Sebentar saja, boleh tidak?"
Bagaimana mungkin aku bisa menolak? Melakukan seks di tempat yang ramai dan besar kemungkinan dipergoki orang seperti ini malah membuat adrenalinku menanjak naik seiring dengan gairahku yang juga terbakar.
"Janji hanya sebentar!"
Chanyeol tersenyum lebar kemudian menaikkan rok kupakai hingga sebatas pinggul. Aku berdebar kencang saat ia mulai merabai tubuhku bagian bawah, apalagi saat ia menurunkan karet celana hanbok yang ia pakai lalu mengeluarkan penisnya yang entah sejak kapan sudah menegang sempurna.
Sambil berpegangan pada tembok yang dikelilingi tumpukan karton, aku mengerang tertahan ketika benda besar miliknya perlahan mulai masuk ke hole-ku yang telah merindu sentuhannya. Oke, sampai disini saja karena seluruh prosesnya terlalu nikmat untuk diceritakan.
Bagi Chanyeol, setengah jam mengeluar-masukkan penisnya di dalamku hanyalah sebentar saja, padahal aku klimaks dua kali dan hampir merosot jatuh karena lututku terlalu lemas. Setelah membenahi kembali pakaian kami, Chanyeol membawaku ke ruang ganti untuk mengembalikan baju tradisional yang kami kenakan.
"Kenapa kalian lama sekali?" kata salah satu panitia yang menatap kami dengan wajah cemberut.
"Kami tersesat. Iya kan, Baekhyuna?" Chanyeol mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
"Ya sudah. Cepat ganti baju kalian di sebelah sana."
Berganti pakaian di ruangan sesempit ini juga sama sekali tak membantu. Chanyeol masih sempat-sempatnya mengocok-ngocok penisku hingga spermaku berceceran di pintu ruang ganti. Dia baru berhenti setelah aku menjambak rambutnya dan menjewer telinganya dengan kesal. Setelah memerintahkannya menyeka ceceran cairanku hingga bersih, aku pun keluar dari sana dengan wajah merona sambil mengulum senyum.
Melakukan seks kilat dengan Chanyeol nyatanya membuat perutku lapar. Kami kemudian makan di sebuah kedai kecil yang ada di sebelah barat arena festival. Jadi ini yang dinamakan bulan madu? Chanyeol menyuapiku dengan penuh romantis tak peduli pengunjung lain melirik kami diam-diam. Tak hanya itu, dia juga memperlakukanku bak seorang ratu di sepanjang hari.
Namun tentu saja bulan madu kami belum berakhir, karena masih banyak hal-hal lain yang kami lakukan hingga malam menjelang. Tapi aku akan menceritakannya lain kali saja, karena tangisan bayiku membuat seluruh pikiranku yang tersedot oleh masa lalu akhirnya kembali pada masa sekarang.
GO HOME
Aku langsung turun dari jendela dan berlari kecil menghampiri Jiwon yang menangis kencang dari dalam boks-nya. Dia tertidur selama hampir tiga jam dan sekarang memang sudah waktunya untuk minum susu.
"Cup, cup, cup—anak kesayangan mommy sudah bangun ternyata." Bayi tampanku langsung terdiam saat aku mengangkatnya dari ranjang lalu menggendongnya di dadaku. Aku memeriksa celananya dan sepertinya diaper-nya sudah sangat basah.
"Baiklah, kita ganti diapermu dulu ya sayang—" Aku kemudian membawanya ke tempat tidurku yang berada di balik akurium besar.
Semenjak Jiwon pintar merangkak dan duduk, proses mengganti diaper tidak lagi semudah yang dulu. Baru saja aku hendak mengambil diaper baru dari dalam tas, dia sudah merangkak sambil terkikik lucu menuju pojok tempat tidur. Aku menarik kakinya dengan gemas dan dia membalasku dengan tawa melengkingnya yang terdengar indah di telingaku. Begitu juga saat diaper-nya kupakaikan, dia menjejak-jejakkan kaki lalu kembali merangkak kabur sambil tertawa. Sama seperti ayahnya, tampaknya menggodaku adalah salah satu hal menyenangkan bagi Jiwon.
Setelah dia rapi kembali, aku kemudian meletakkan Jiwon di atas permadani bulu dan menarik kotak mainan yang ada di atas meja. Dia sudah bisa duduk dengan baik dan sangat aktif bermain, jadi aku bisa meninggalkannya sebentar untuk menghangatkan susu meski ia harus tetap diawasi.
"Jiwona, susunya sudah siap—" Dia menoleh dan dua gigi lucunya langsung menyambutku saat dia tersenyum lebar. Salah satu hal favoritku tentang Jiwon adalah senyumannya. Dia pintar sekali tersenyum dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut menarik sudut bibir mereka tinggi-tinggi. Begitu melihat botol susu kesayangannya ada di tanganku, Jiwon langsung melemparkan boneka yang ia pegang kemudian merangkak girang menuju ke arahku. Dia adalah buah hati kecintaanku—langsung saja bayi lucu itu kugendong sambil duduk sofa dan dia menyedot susunya dengan lahap.
Dia begitu indah. Ini semua begitu indah untukku.
"Daddy datang—"
Tak peduli seberapa sukanya Jiwon pada Chanyeol, tetap saja dia masih kalah oleh sebotol susu. Tak ada yang boleh mengganggu Jiwon saat dia menikmati acara minumnya, meski sang ayah telah pulang bekerja dan menyusul kami ke lantai atas. Bayiku cuek saja dengan mulut yang menghisap dot-nya tanpa henti.
"Dia menggemaskan sekali." Chanyeol akhirnya menyerah dan memilih untuk menggangguku saja. "Sama sepertimu."
Kami berciuman sebentar dan harus terinterupsi oleh suara jatuh dari botol susu Jiwon yang telah kosong.
"Nyeolh!"
Dari pangkuanku, Jiwon merangkak sedikit untuk berpindah ke pangkuan Chanyeol yang langsung memeluknya dengan penuh cinta. Kubiarkan saja ayah dan anak itu melepas rindu setelah berpisah selama beberapa jam, aku memilih untuk membereskan mainan Jiwon yang berserakan karena sebentar lagi kami akan pulang ke rumah.
Berapa kali harus kubilang kalau ini semua sangat indah? Pemandangan dimana Chanyeol yang baru pulang bekerja harus rela rambutnya diacak-acak oleh Jiwon yang terkikik tanpa henti, Jiwon yang tertawa melengking saat Chanyeol menciumi perutnya, saat dua pria kecintaanku itu saling berkomunikasi dengan bahasa aneh yang hanya mereka berdua yang tahu—semuanya benar-benar indah.
"Yun—" Suara lirih itu membuat anganku buyar dan mataku langsung menoleh pada Jiwon dalam hitungan detik.
"Eh? Apa dia baru saja memanggilku? Chan, suruh dia memanggilku lagi!"
Habis bilang begitu, Jiwon menyembunyikan wajahnya di perut Chanyeol. Mereka berdua kembali terkikik seolah-olah mengerjaiku adalah hal paling menyenangkan di dunia. Aku menasehati diriku sendiri untuk tidak merasa kesal. Karena saat Jiwon beranjak semakin besar nanti, aku akan selalu mendengar dia memanggil namaku dengan penuh cinta. Tidak perlu terburu-buru.
"Aku sudah selesai. Ayo kita pulang."
Dengan Jiwon yang bersandar nyaman di dadaku dan tanganku yang digenggam erat oleh Chanyeol, kami keluar dari kamar di lantai 61 dan bersiap pulang menuju rumah. Ayahku sedang ada kunjungan ke luar negeri. Biasanya, dia akan ikut menyusul ke rumah kami untuk makan malam dan bermain bersama Jiwon hingga cucunya itu tertidur. Yang membuatku lebih bahagia adalah Jiwon yang juga tampak sangat menyayangi kakeknya, tidak hanya kakek Byun, tapi juga kakek-nenek dari pihak Park.
"Chan, aku tiba-tiba rindu dengan Mama dan Papa Park. Bukankah sudah dua minggu mereka tidak datang berkunjung ke Seoul?" kataku saat kami berada di dalam lift. Sekeliling dinding lift itu dilapisi oleh cermin dan Jiwon suka sekali memandangi wajahnya di sana—mungkin sambil memuji betapa imut dan tampannya dia, entahlah.
"Nanti setelah sampai di rumah kita melakukan video call dengan mereka, oke? Aku yakin mereka juga merindukan kau dan Jiwon."
"Ung!"
Setelah lift-nya terhenti di basement parkiran, Chanyeol merangkul pundakku dan kami berjalan beriringan menuju mobil hitam yang terparkir di tempat khusus bagi mereka yang katanya orang-orang penting di perusahaan ini. Jiwon kuletakkan di dudukan khusus bayi miliknya di jok belakang, dan setelah memastikan dia nyaman, kami berdua kemudian masuk ke jok depan.
"Siap berangkat?"
"Let's go!"
Chanyeol memacu Audi R8 berwarna hitam mengkilap yang merupakan pemberian ayah untukku. Awalnya aku sempat menolak karena harga benda itu lumayan mahal dan aku juga tidak terlalu suka kalau beliau terus-terusan menghadiahiku sesuatu, tapi karena dia terus memaksa dan mengancam akan menculik Jiwon kalau aku tidak mau, akhirnya aku menerimanya juga.
Jiwon tidak terlalu rewel saat berkendara. Selagi ada pacifier yang senantiasa menempel di mulutnya dan musik klasik yang kuputar dengan volume sedang—dia akan duduk santai di tempatnya.
"Waktu cepat sekali berlalu, iya kan?" gumamku sambil menatap jauh menembus jendela. "Rasanya baru kemarin kita dipertemukan, sekarang kita sudah menjadi pasangan dengan bayi delapan bulan paling hebat yang pernah kulihat."
Chanyeol tersenyum lalu meraih tangan kiriku yang kuletakkan di atas paha.
"Kau benar. Meski aku sangat bersyukur atas segalanya, tapi aku sedikit tidak siap melihat Jiwon bertumbuh secepat ini. Aku ingin dia terus menjadi bayi selamanya." Chanyeol mengecup tanganku sekilas kemudian fokus kembali pada jalanan di depan.
"Eh? Kau memakai gelang itu?"
"Kenapa kau baru sadar?" rajukku sambil mengangkat tangan kiriku lebih tinggi. "Kupikir aku menghilangkannya, tapi tadi pagi aku melihatnya di dalam kotak perhiasanku yang terselip di boks mainan Jiwon."
Gelang itu adalah gelang yang dulu kami menangkan saat lomba foto di Jeju. Kuberitahu kalian, kenangan gelang ini begitu besar, tidak hanya sekedar benda yang kami dapat gratisan dari suatu acara.
"Kau ingat, Baekhyuna? Kau meninggalkan gelang ini di dalam tasku sebelum kau memutuskan pergi untuk mendatangi Kyungsoo."
Sorot mata Chanyeol berubah sedih, seakan-akan kepalanya dipaksa mengingat kembali sesuatu menyakitkan yang pernah menimpa kami berdua.
"Kupikir itu adalah sebuah tanda perpisahan darimu, kupikir kita tak akan pernah bertemu selamanya."
Aku hanya menatapnya dari samping kemudan mengelus bahunya pelan.
"Karena itulah, saat kau terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit waktu itu, aku memasangkan gelang ini di tanganmu."
"Kau juga duduk menungguiku sepanjang hari, iya kan?"
"Tentu saja! Aku bahkan tak mandi dan makan berhari-hari sampai kau akhirnya membuka mata dan langsung mencari-cari keberadaanku."
"Ck, seluruh tingkahmu secara jelas mengatakan kalau kau sudah mencintaiku waktu itu, Park Chanyeol. Lalu kenapa tidak kau nyatakan saja cintamu saat aku sadar? Bukankah itu romantis sekali?" Dia mengaduh saat pinggangnya kucubit pelan. "Kenapa kau membuatku menunggu lama sekali hanya untuk mendengar kata cinta padahal kau sudah merasakannya sejak lama?"
Chanyeol menghela nafas panjang, "Kau lupa nama tengahku? Park Bodoh Chanyeol—tentu saja aku baru menyatakan cinta setelah kau hampir menyerah, karena suamimu ini adalah seseorang yang bodoh, dungu, tolol—"
"Kau suami paling hebat yang pernah ada, Chan." Aku membelai pelan rambutnya bagian belakang, berusaha tidak memecah konsentrasinya saat mengemudi. "Bagiku itu sudah lebih dari cukup kalau pada akhirnya kau sadar kalau dirimu juga mencintai Byun Baekhyun sama besarnya."
"Siapa bilang sama besar? Aku yang lebih dan paling mencintaimu, Baekhyuna."
"Aku."
"Aku."
Perdebatan kami terpotong oleh suara ocehan Jiwon yang tampaknya dari tadi asyik memantau kami dari tempat duduknya. Pacifier-nya sudah entah kemana dan sekarang bayi kami itu sibuk tersenyum dibarengi celotehan lucu yang membuatku penasaran sekali akan artinya apa.
Jiwon's Special Diary
Aku tidak tahu umurku sudah berapa karena yang kutahu adalah badanku semakin besar dan kuat dari hari ke hari. Keahlianku adalah menjejakkan kaki dan tanganku ke segala arah, mengompol, menangis, membuat mommy-ku khawatir, minum susu hingga habis lalu tidur selama berjam-jam. Lahir ke dunia tidak buruk juga karena aku belajar banyak hal. Salah satu hal favoritku adalah mengeksplor kemampuan terpendam yang dimiliki tubuh mungilku ini.
Seperti menangis, misalnya.
Aku baru tahu kalau dengan mengeluarkan suara tangis melengking yang sesungguhnya tidak pas untuk bayi gagah sepertiku ini bisa membuat mommy menghampiriku dalam hitungan detik dan membujukku sambil mendekap tubuhku di depan dadanya. Mommy akan bersenandung, mengajakku berbicara, mengelus-elus punggungku—rasanya benar-benar menyenangkan. Aku sayang sekali pada mommy dan ingin terus bersamanya sepanjang waktu. Sayangnya, mommy terkadang meninggalkanku sendirian di dalam boks untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan aku merasa kesepian karenanya.
Oleh sebab itu, aku akan selalu menangis tiap kali mommy tidak berada di sampingku dan baru diam setelah dia mengangkatku dari keranjang bayi konyol ini dan menggendongku menempel di tubuh hangatnya.
Aku juga sangat menyayangi daddy dan diam-diam memuji dalam hati betapa gagah dan tampannya lelaki itu. Kalau ia berdiri, leherku sampai sakit karena harus mendongak untuk menatapnya, padahal aku masih terlalu muda untuk bisa mengendalikan leherku sendiri. Pelukan daddy juga tak kalah hangatnya dengan mommy. Malah lebih mendebarkan karena tubuh tingginya membuat gendongannya juga tinggi dan adrenalinku seakan terpacu waktu itu. Tolong jangan tanyakan darimana aku tahu tentang adrenalin, oke?
"Jiwona, mana senyumnya?"
Hal lain yang kupelajari adalah bertingkah imut akan membuatmu semakin disukai oleh orang-orang di sekitarmu. Meski sebenarnya aku sudah imut tanpa harus berusaha, tapi tak ada salahnya untuk sedikit bersusah-susah, kan?
Lihat saja, saat aku menarik otot-otot sekitar mulutku untuk melebar hingga gusi polosku terekspos sempurna, mommy dan daddy akan berteriak kegirangan kemudian menciumiku bertubi-tubi. Rahasia dari senyum indahku adalah Park Chanyeol. Ayahku itu suka sekali tersenyum lebar hingga gigi putih miliknya terlihat berkilauan di mataku. Karena aku ingin menirunya, jadi aku belajar tersenyum sesering yang kubisa—supaya terlihat keren seperti ayahku.
Seiring berjalannya waktu, kupikir aku bukan lagi bayi kecil yang hanya tahu menangis untuk cari perhatian. Aku sudah bisa mengangkat kepalaku, berguling, bertumpu pada perutku, duduk meski harus dipegangi dan hebatnya sekarang aku sudah bisa merangkak.
Namun bertumbuh besar tidak selamanya menyenangkan, kalian tahu? Tidak sampai kalian merasakan bagaimana sakit dan tak nyaman-nya tumbuh gigi.
Aku ingat, malam itu aku terbangun karena merasakan gusiku sangat gatal dan pipiku bengkak. Seperti biasa, aku selalu menangis kalau tak mendapati siapapun ada di dekatku. Aku tahu mommy dan daddy tengah tidur di ranjang besar yang diletakkan empat meter dari keranjangku, tapi mereka tak kunjung bangun meski aku sudah meraung keras-keras.
Aku takut sekali. Berbagai cara kulakukan untuk menghentikan rasa gatal yang menyiksa mulutku seperti mencecap-cecapkan lidah, menggesek-gesekkan tanganku—tapi tak satupun berhasil. Sebenarnya sejak kemarin aku sudah merasakannya, tapi ini yang paling parah.
Aku terus menangis, berharap mommy akan datang dan membantuku keluar dari ketersiksaan ini.
"Chan—Jiwon—"
Kasihan mommy, sepertinya dia terlalu letih dan tak sanggup bangun untuk meladeniku. Apa aku sebaiknya berhenti menangis saja? Tapi—tapi kenapa badanku rasanya aneh?
"Jiwona, ssst—tenanglah. Kau mengompol lagi, ya? Sebentar, oke? Daddy akan menggantikan diapermu setelah itu kita minum susu."
"Daddy! Aku sedang tidak ingin minum susu atau apapun! Aku hanya ingin kau menghentikan gusiku yang bertingkah ini!"—tentu saja yang keluar dari mulutku adalah ocehan yang manusia dewasa tak akan mengerti apa maksudnya.
"Kenapa masih menangis?" Park Chanyeol bergumam dan seketika matanya melebar. "Astaga, badanmu demam!"
Beberapa waktu lalu aku pernah sakit hingga harus dirawat, dan sepertinya hal itu menimbulkan trauma sendiri untuk daddy. Aku merasa bersalah, tapi sesuatu yang menusuk-nusuk gusiku ini membuatku tak bisa melampiaskan ketidaknyamanan selain dengan menangis.
Daddy menggendongku dengan penuh kelembutan lalu pelan-pelan membangunkan mommy yang masih terlelap. Aku bisa mendengar detak jantung ayahku yang berdebar kencang sekali, pertanda kalau dia tak siap menerima kenyataan kalau aku kembali jatuh sakit.
"Baekhyuna, se-sepertinya Jiwon demam."
Tak butuh lima detik untuk membuat Byun Baekhyun terbangun setelah kata demam ia dengar. Ia merabai tubuhku dan membandingkan dengan tubuhnya sendiri. Tapi wajahnya lebih terlihat tenang daripada daddy, "Hanya sedikit demam, tapi aku akan telepon dokter Kim untuk memastikan."
Dokter baik hati itu rela datang tengah malam begini hanya untuk memastikan keadaanku dan katanya, aku sedang mengalami gejala tumbuh gigi. Setelah memberikan obat penurun demam dan beberapa nasehat, dokter Kim akhirnya berpamitan pulang.
"Pantas saja beberapa hari ini Jiwon mengeluarkan air liur banyak sekali dan dia sedikit rewel, ternyata tubuhnya tengah mempersiapkan untuk tumbuh gigi," kata mommy sambil tersenyum. "Jiwona, tidak apa-apa—itu tandanya Jiwon kami bertumbuh dengan baik." Mommy bilang begitu sambil menciumi pelan pipi bengkakku. ,
"Daddy bangga padamu, son. Besok kita pergi beli teething toys, oke?"
Malam itu, aku kembali rewel saat mereka akan menidurkanku di dalam keranjang bayi. Aku hanya ingin bersama mommy dan daddy—jadi mereka mengalah dan akhirnya aku tidur di antara mereka berdua. Gatal di gusiku sedikit reda saat aku mengemut jari daddy, tapi sepertinya puting susu mommy terlihat lebih kenyal untuk dikulum. Karena tertutup piyama, aku kesulitan untuk meraihnya dan kembali berakhir dengan menangis keras-keras.
Tentu saja Byun Baekhyun adalah ibu terbaik di dunia. Dia tahu apa yang kuinginkan—jadinya dia melepas kancing piyama dan memposisikan putingnya tepat di mulutku. Meski dadanya rata dan tak mengeluarkan susu, tapi nipple-nya lumayan besar dan membuat gusiku terasa nyaman saat menggigitnya pelan-pelan.
"Apakah sakit?" bisik Chanyeol yang memandangi aksiku menyusu sambil mengelus-elus kepalaku yang hanya ditumbuhi sedikit rambut. Baekhyun menggeleng meski kerutan kecil di dahinya menandakan kalau sedotanku sedikit membuat putingnya perih.
"Tak apa, aku bisa menahannya. Kasihan Jiwon, tumbuh gigi pasti membuatnya tidak nyaman sekali."
Seperti itulah pengalamanku. Tapi tidak buruk juga, karena setelah masa-masa menyiksa itu berlalu, satu gigi imut muncul di permukaan gusiku bagian bawah diikuti oleh satu gigi lainnya seminggu kemudian.
"Awww, Jiwon imut sekali! Sehun, kita bawa pulang Jiwon ke rumah, boleh ya?" kata Paman Luhan saat menggendongku sambil memperhatikan gigi-gigi yang menjadi daya tarik terbaruku itu. Karena senang dibilang imut, aku tersenyum semakin lebar agar dia bisa melihat betapa lucunya gigi kecil yang belum tumbuh sempurna di gusiku itu.
"Chanyeol pasti tidak memperbolehkan kita menculik anaknya."
"Hng, tapi Jiwon imut sekali—"
"Aku bisa memberimu bayi kalau kau ingin. Lima sekaligus juga bisa."
Hei-hei, orang dewasa! Setidaknya turunkan aku dulu kalau ingin berbisik mesum di depanku, oke?
Paman Sehun dan pamanku yang lain bernama Kai sama saja mesumnya. Omong-omong tentang Paman Kai, aku merindukannya karena dia hanya datang mengunjungiku beberapa bulan sekali. Tapi dia dan Paman Kyungsoo selalu menelepon dan bahkan mengirimiku hadiah-hadiah dari Paris. Ah, aku harus mengeksplor kemampuan tubuhku agar semakin baik lagi. Supaya kalau nanti mereka datang ke Korea, mereka akan terkesima oleh betapa gagah dan kerennya bayi yang baru berusia beberapa bulan sepertiku ini.
"Jiwona, waktunya makan anggur!"
Oke, aku akan lanjut bercerita nanti saja karena sekarang adalah waktunya untuk menikmati snack-ku. Hari ini adalah hari minggu dan daddy tidak perlu pergi bekerja. Jadi, kami bertiga punya waktu seharian untuk bermain-main sampai aku puas. Daddy melepaskanku dari pelukannya dan aku langsung merangkak girang menuju mommy yang langsung mendudukkanku di atas feeding chair. Dia menyiapkan anggur yang sudah dipotong kecil-kecil di dalam mangkuk dan aku langsung meraupnya dengan tangan gempalku.
Aku harus makan dengan banyak agar cepat besar dan tumbuh menjadi anak laki-laki yang keren seperti daddy dan bisa diandalkan untuk melindungi mommy.
Oh, aku lupa bilang. Diantara semua kemampuan hebat yang kumiliki, menyebutkan nama Chanyeol adalah yang paling membuatku bangga. Dan kemarin, aku baru saja berhasil menyebut nama mommy tapi lidahku masih sedikit sulit untuk mengucapkannya dengan fasih.
Selagi aku makan, kedua orangtuaku asyik menontoniku sambil sesekali menyuapkan potongan anggur itu ke mulutku. Ah, bahagia sekali rasanya! Kuharap kami bertiga akan tetap seperti ini selama-lamanya.
"Nyeolh!"
"Iya, sayang? Nyeolh ada di sini, jangan khawatir."
Aku membawa tangan kecilku ke arah mulutnya dan menanti dengan dada berdebar. Pergerakanku masih terbatas dan belum bisa kukendalikan sepenuhnya, jadi wajar saja kalau tangan kecilku masih belum bisa menggenggam seluruh sisa anggur yang ada di dalam mangkuk.
"Kau ingin berbagi anggur dengan Nyeollie? Terima kasih—nyam!"
"Ei—kau tidak membagi anggurnya dengan mommy?"
Senyumku tersungging. Saat mommy mendekatkan wajahnya ke arahku, aku langsung mengambil kesempatan itu untuk mengecup bibirnya sambil menempelkan tangan penuh liurku di pipinya. Aku suka sekali dicium dan mencium mommy—entah kenapa.
"Yun," bisikku pelan hingga membuat matanya sedikit berkaca-kaca setelah ia mendengar namanya kusebut. "Baekhyun, mommy-ku sayang—Jiwon adalah yang paling mencintaimu di dunia ini,"—itu adalah kalimat selanjutnya tapi yang terdengar dari mulutku hanyalah gumaman berupa da-da—mmh—bu-bu-bu.
"Kau ingin bilang kau mencintai mommy, Jiwona? Benarkah? Ugh, mommy juga sangat mencintaimu, sayang!"
Setiap ibu itu adalah ajaib. Mereka akan menjadi yang pertama mendatangimu saat kau merasa dunia ini tak begitu adil, dan mereka pulalah yang akan mengerti apa maksudmu meski kau tak mengutarakannya secara langsung. Namun dibalik itu semua, seorang ayah tak kalah ajaibnya. Kehangatan dari tangan besar mereka selalu bisa membuatmu merasa aman dan terlindungi. Aku, Park Jiwon, merasa sangat beruntung bisa terlahir di tengah keluarga kecil ini.
Karena anggurku sudah habis dan aku merasa sedikit lelah setelah bercerita panjang lebar, aku mulai merasa mengantuk dan ingin segera ditidurkan. Mommy mengganti pakaianku yang sedikit basah dan memakaikan diaper baru—lalu setelahnya, mereka berdua berbaring mengapitku di tengah-tengah.
Cerita-cerita tentang masa lalu mereka adalah nina bobo terbaik favoritku dan kata-kata cinta dari mereka akhirnya mengantarkanku ke alam mimpi penuh keindahan.
TBC
Well, aku tahu ceritanya membosankan, sorry for that, tapi anehnya aku nulis ini semua dengan hati senang tanpa beban sedikitpun. Saking menikmatinya, gak terasa hampir 12 k aja wkwkw. Aku tahu masih banyak yang menggantung, kalau ada waktu, aku pasti akan lanjut walau entah kapan.
.
So, there was a party in front of my dorm and has ended like 45 minutes ago. The music was too loud and there were sooo many people on the 6th floor of the R block building. And guess what? I saw two super cute men were kissing in the balcony right in front of my poor eyes! Because my room is on the 7th floor, I could see everything clearly! I was hiding behind my curtain when a very handsome guy sitting near the window spotted me and he was like, "What are you doing there, kid?"
wtf. A fujo was caught red-handed.
.
Okay, see ya.
Norway, 21st of Oct 2018.
