Cost Catch Love
[My First Date]
Vocaloid © Yamaha Corporation
CN Scarlet
[Friendship, Humor, Romance]
.
.
.
.
.
Hatsune Miku Point of View
.
.
.
"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."
Kurasa Mikuo-nii berbohong tentang kalimat diatas.
::
.
"Paket!"
Seluruh penghuni Gakkupou House pagi ini mengerumuni seorang agen pengiriman paket yang datang pada Kamui. Ada obral besar-besaran dalam situs jual beli online beberapa hari yang lalu, mereka semua membeli barang setengah harga melalui akun milik Megurine Luka. Aku dan Kaito tidak ikutan karena sedang ada di Osaka waktu itu, tapi anehnya, ada paket juga untuk kami berdua.
"Kamui-jii, Len membuka paket milikku!" adu Rin, kami sedang membuka paket bersama di ruang keluarga. Televisi besar menayangkan sekumulan beruang madu, acara kesukaan Kaito, mengingat hanya acara itu selain berita yang tampil ketika dia menguasai remot sendirian.
"Rin, kau 'kan sudah tahu paket milikku, setidaknya aku ingin tahu kau beli apa."
"Iya, tapi biarkan aku yang membukannya!"
Len dan Rin melakukan acara cubit-cubitan mereka tanpa ada yang melerai. Kamui masih asik dengan paketnya yang paling besar, kami penasaran apa isinya, dan ketika dia menarik perhatian para penghuni Gakkupou house, itu sekaligus melerai pertengkaran spele si kembar Kagamine.
"Ini benar-benar lebih besar dari deksripsi di situsnya!" Kamui terus mengatakan hal ini berulang kali setelah berhasil mengeluarkan aquarium kaca dari kardusnya. Ukurannya lebih besar dari televisi yang sedang menayangkan keluarga beruang madu.
"Kau mau simpan itu dimana, Jii-chan?" tanya Len dan Rin, kami semua mengangguk setuju.
Gakkupou House sudah lumayan ramai dengan lemari besar berisi ornamen-ornamen dan action figure di ruang tamu. Ruang keluarga sudah terisi lemari kecil dengan televisi besar, meja, dvd player, playstation, dan puluhan bingkai foto serta lukisan kaligrafi Gakupo. Begitu pula dengan ruang makan dan dapur. Bukan ide yang bagus jika kau menyarankan kamar mandi atau ruang mencuci.
"Kalau di kamarmu, Kamui?" tanya Meiko, pria berambut ungu itu menggeleng-geleng. Pasang disana akan mengancam keutuhan koleksi hentai-nya.
"Bagaimana dengan lorong di sebelah tangga, jalan menuju keluar?" usul Luka, memang hanya disana ruang yang cukup di rumah ini. Ditambah sudah ada meja panjang dan juga colokan.
"Good idea, Kaito, bantu aku mengangkat benda ini ke sana. Miku dan Luka, bantu aku membereskan guci-guci di meja itu. Len dan Rin menangkap ikan mas pemberian Kaai Yuki di bak belakang, oh, sekalian tangkap juga oleh-oleh dari Osaka. Meiko-chan, tolong kau yang pasangkan suply air dari atas. Selangnya kugantung di tembok utara!"
Beberapa jam kemudian, kami tersenyum puas pada tiga ekor ikan mas koi yang menari-nari genit di dalam aquarium baru Kamui. Len dan Rin mencemplungkan dua action figure lumayan berat dari lemari di ruang tamu, bentuk anime laki-laki berambut azure dan anime perempuan seksi dengan rambut teal. Kamui ikut meramaikannya dengan membuat gelemgung buatan ditengah gunung-gunungan, lalu aku meletakkan foto kami semua ketika berlibur ke Odaiba dalam bingkai anti air dan menenggelamkannya serta.
"Kerja bagus anak-anak!"
"Yosh, kita lanjut buka paket!" seru Meiko, kami semua langsung bergerombol memasuki ruang keluarga. Beruang madu di televisi sudah berganti iklan komersial.
Meiko membeli sebuah boneka dengan musik ketika ditekan dadanya, sejenis dengan pesanan Rin. Hanya berbeda warna dan bentuk saja. Len membeli sebuah jaket couple yang satu lagi diberikan pada saudari kembarnya. Gumi tak suka memakai pakaian kembar, katanya.
"Ah, tidak muat.." keluh Megurine Luka. Dia membeli sebuah baju hitam-pink, dimana semua sisinya adalah sisi luar, jadi bebas mau pakai yang mana tidak akan ada yang namanya terbalik. "Dasar, aku pesan warna biru dengan ukuran itu, bukan warna pink dengan ukuran ini!"
"Kalau begitu bagaimana kalau tukar punyaku saja?" tanya Lily yang tiba-tiba masuk ke ruang keluarga bersama bingkisan kartonnya. "Mikuo-kun membelikanku pakaian yang salah ketika tour ke Paris, aku yakin ini ukuranmu!"
Luka membuka bingkisan pemberian Lily dan bersorak gembira. Itu adalah pakaian sejenis, hanya saja dengan ukuran dan gaya yang lebih keren dari miliknya yang kekecilan. "Terimakasih Lily, kau yang terbaik!"
"Oh ya, kami penasaran dengan paket yang kau dapatkan Miku-nee!"
Rin tiba-tiba saja menanyai bingkisan berbungkus bunga-bunga yang bahkan aku saja merasa ragu untuk membukannya. Tak ada alasan untukku mengelak karena Kaito Shion sudah membuka paketnya, sekotak hakama beserta obi yang waktu itu dipakai ke festival desa, kiriman dari rumah. Hanya ada kotak kecil persegi dan persegi panjang lain dalam kotak itu yang membuatku sedikit penasaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kencan buta pertamaku dimulai dengan taman ria Tokyo. Sore hari. Aku berangkat memakai kereta bawah tanah diantar Kamui, Meiko, Rin dan Len. Hanya butuh waktu lima menit dan aku sudah sampai di sana. Lampu-lampu belum dinyalakan dan ini belum senja, taman ria ramai sekali.
Memakai pakaian dan segala aksesoris dari Lily yang dipilihkan Kaito, aku tampil sangat manis. Heels setinggi tujuh centimeter sangat nyaman di kaki, berdentum ketika melangkah memasuki tempat janjian. Saat menyerahkan tiket entah kenapa aku jadi merasa ragu untuk masuk.
"Manis," gumamku sendiri ketika melihat bayangan terpantul di kaca kafetaria. Tangtop hitam yang dipadukan dengan kemeja dua sisi Luka (yang kekecilan dan dikasih Lily itu) sangat pas dengan rok berumpak plus stocking jaring-jaring dan heels. Rambut dikuncir dua dengan ikat rambut dalam paket tadi pagi, juga gelang-gelang di tangan kiriku, dan sedikit farfum baby doll dari Luka membuat semua terlihat sempurna.
Makeup tipis yang dipoleskan Kaito ini membuatku merasa setengah hati. Dia bersungguh-sungguh saat meriasku di kamar, yang mana, jantungku berdetak melebihi kebiasaannya. Entah mengapa, aku merasa sangat bersalah dengan datang kemari untuk menemui laki-laki lain. Tapi, jika aku pulang sekarang, usahanya akan sia-sia.
"Miku, bersenang-senanglah. Jangan lupa, pulang sebelum makan malam!"
Begitu pesannya. Aku menyentuh pipi kananku, dimana Kaito sempat mengecupnya sebelum aku pergi meninggalkan Gakkupo House. Agrh, Kaito sialan! Tahu aku akan jalan dengan lelaki lain kenapa masih sempat melakukan hal itu? tidakkan dia sadar kalau gara-gara perbuatannya aku akan mengingatnya selama kencan nanti.
"Miku-chan?"
Aku berbalik dan mendapati seorang lelaki beramut pinkish yang kukenal sebagai Yuma. Dia mengenakan pakaian cassual dengan pin berbentuk hati dan warna pink yang menjadi ciri khasnya, sangat tampan. Beberapa gadis lain bahkan sengaja meliriknya. "Oh, hi, Yuma-san!" sapaku kikuk.
"Kau sangat cantik, aku tidak menyangka kau akan datang."
"Oh iya, paket tadi pagi darimu?" dia mengangguk, kami berjalan menuju penjual gula-gula. Membelinya satu lalu pergi mengantri untuk naik bianglala.
Melihat pemandangan kota Tokyo dari sini memang sangat indah. Sinar matahari sore menusuk mata dari arah barat, masih beberapa jam lagi menuju senja, dan aku sudah ingin makan ikan asap yang mungkin sedang dimasak Kamui Gakupo di dapur. Tapi Yuma sangat menikmati acara kencan hari ini, aku tidak bisa kabur dan membuatnya kecewa.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanyanya, aku menunjuk asal bangunan yang ada, dan dia langsung menarikku menuju taman boneka.
Hanya ada anak-anak di perahu yang kami naiki, aku dan Yuma jadi seperti sepasang ayah ibu. Beberapa diantaranya banyak bertanya tentang boneka di dalam dan aku menjelaskan dengan senang hati. Mereka semua berterimakasih setelahnya.
"Hei, naik roller coaster yuk!" ajakku, entah kenapa aku terpikiran ide gila ini bisa membuatku melupakan Kaito barang sejenak, agar bisa benar-benar bersenang-senang bersama Yuma.
"Kau yakin?" tanya Yuma, dari raut wajahnya sepertinya dia takut ketinggian dan kecepatan. Kalau dia Kaito, aku sudah meledeknya habis-habisan.
"Tenanglah Yuma-san, roller coaster ini sudah melalui banyak pengujian dan perhitungan para ilmuan. Kita akan tetap hidup setelah selesai menaikinya."
"K-kalau begitu ayo," ajaknya, namun aku langsung menggeleng.
"Tak apa jika kau tak bisa naik, kita naik yang lain saja. Jangan memaksakan diri!"
Kami berkeliling sampai benar-benar sore. Yuma menawarkan diri mengantarku sampai rumah dengan motor besarnya tapi aku menolak. Jadi dia tetap mengantar sampai stasiun kereta bawah tanah terdekat. Kami berpisah disana.
"Hati-hati Miku-chan, kau sangat baik. Terimakasih untuk kencan hari ini," katanya, dibalas anggukanku. Kedua tangan besarnya tiba-tiba saja beralih dari tangan ke pundakku.
Wajahnya mendekati wajahku, aku tahu apa yang hendak dia perbuat, Yuma ingin menciumku. Di tempat umum! Entah apa yang salah pada diriku, ini tidak membuatku berdebar-debar seperti waktu di beranda Gakkupou House.
Wajah Kaito ketika meriasku tiba-tiba melintas begitu saja dalam bayanganku.
"Doushite?" tanya Yuma, aku mendorongnya menjauh sekuat tenaga ketika bibirnya nyaris saja menabrak bibirku.
"Gomenne Yuma-san,"
Sebenarnya aku ingin berteriak, "kita ini baru kenal dan tidak punya hubungan apapun selain teman, berani-beraninya kau mau menciumku, hei bajingan!" tapi itu hanya akan membuatnya malu dan membenciku. Jadi aku hanya bergumam dalam hati saja.
"Ah, aku mengerti..." dia lalu menepuk pundakku, "santai saja, maaf tadi aku terbawa suasana. Habisnya kau cantik sekali sih. Aku jadi tidak sadar..."
"Yups, daijoubu. Thank's untuk kencannya ya!"
Kami benar-benar berpisah setelahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Yo, bagaimana kencanmu? Sukses?"
Kaito Shion tidak keluar saat makan malam, dan aku menemukannya bersama beberapa manga shonen dibalik tirai bangau. Ada mangkuk kosong besar disebelahnya dan beberapa botol bekas softdrink. Dia sudah lama mengunci diri di kamar ini.
"Berhenti mengatakan itu setelah kau menghancurkan kencan pertamaku yang berharga, Shion-san!"
Aku menarik meja belajar kecilku mendekati satu-satunya lampu di kamar dan mulai membaca buku fisika saat pria berambut biru itu membuka tirai sampai setengahnya. "Lalu, siapa orang yang kau kencani, nee Miku-chan?" godanya. Aku pura-pura marah.
"Yuma-san, teman sekelas kita."
"Hah?"
"Iya, yang berambut pink itu loh!"
"Hmft..."dia menahan tawa, mengembalikan buku-buku yang tadi dibacanya ke tempat semula lalu duduk tepat di depanku. "Lalu bagaimana kencan kalian, hei, ceritakan padaku!"
Aku menutup buku fisikaku lalu menatap wajahnya yang bersemangat. Akting yang bagus, sayangnya, aku bukan orang yang mudah dibohongi. Terlihat jelas dari kedua matanya kalau dia sebenarnya tidak ingin membahas ini.
"Kami hanya naik bianglala lalu membeli gula-gula, terus pulang. Ah, membosankan!" kataku tanpa minat, dia memilin-milin rambut panjangku.
"Apa.." Kaito mengambil jeda, "apa dia bilang kau cantik ketika pertama melihatmu, lalu, apa kalian sempat berciuman?"
Wajahku memerah. Kusentil dahinya pelan, lalu bilang "untuk apa kau tanyakan itu? Aku baru mengenalnya, mana mau aku dicium olehnya, yang benar saja!" protesku tidak terima. Dia terkekeh.
"Benar apa dugaanku, dia tidak mungkin mau mencium pantat kukang!"
"Kau minta dijambak ya?!"
Kaito memang kadang menyebalkan, perhatian, baik, juga humoris dan romantis disaat yang bersamaan. Tapi karena tingkahnya yang terkadang tidak maching dengan wajah dan perawakannya itu, aku merasa nyaman tanpa sadar. Yuma memang ganteng, cool, dan segala sesuatu yang berbau Gary-stu lainnya tapi maaf saja, sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pria dibalik tirai bangau ini.
"Kai_ eh,"
Len Kagamine mematung plus menganga di depan pintu kamar Kaito yang dibukanya lebar. Pasalnya, posisi kami sudah pasti membuatnya salah paham. Aku langsung pindah dari atas tubuh Kaito, "kami tidak melakukan apapun, percayalah!" dasar Kaito Shion. Mana ada yang percaya alasan maenstream begitu setelah apa yang telah disaksikan.
Lihat, Len Kagamine menyeringai sekarang.
"Hehe, tak apa lagi.. lanjutkan saja!"
Dari seringainya jelas dia akan segera mengumumkan kesaksiannya barusan pada seluruh penghuni Gakkupou House. Apalagi langkah berbaliknya yang tergesa itu, aku dan Kaito saling lirik.
"LEEEEEEEN, AWAS KAU!"
Kami langsung mengambil langkah seribu menyerbu Len Kagamine yang berlarian di lorong sembari berseriosa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
