Hidup memang seringkali tidak adil. Terutama bagi mereka yang seakan diterbangkan terlalu tinggi, lalu dihempaskan dengan keras. Seperti yang dirasakan Sasuke.

.

.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, slight SaiXIno

Genre: Romance; Drama

Warning: AU, OOC, crack pair , misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 14

.

.

Happy reading

.

.

Mobil berwarna hitam itu berhenti di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai, tepat di bawah pepohonan yang menghiasi sudut kota. Beberapa kendaraan dan orang yang lewat tidak dihiraukan sama sekali. Sejak beberapa saat lalu, hanya keheningan yang mendominasi.

Sai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ia terlalu syok. Ini benar-benar sebuah kenyataan yang tidak pernah muncul di bayangannya sebelumnya. Pemuda yang duduk di kursi penumpang depan itu merasakan tubuhnya melemas. Beban di pundaknya semakin berat. Tangannya terangkat perlahan, kemudian memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.

Sementara gadis cantik bersurai pirang yang duduk di kursi kemudi hanya diam menunduk. Wajah cantiknya dihiasi raut bersalah dan terluka. Ia baru saja menceritakan hal yang membuat pujaan hatinya terlihat frustasi. Namun, Ino tidak bisa menahan diri. Hanya cara ini yang bisa ia pikirkan.

Ino tahu, Sai adalah orang yang sangat baik. Kalau ada orang yang paling mengenal kepribadian Sai, itu adalah dirinya. Meski terlihat pendiam, sesungguhnya Sai adalah orang yang sangat perasa. Ketika Sai merasa bersalah, maka pemuda tersebut akan menebus kesalahannya dengan sangat sungguh-sungguh.

Dan ini yang Ino manfaatkan.

Ino merasa, meskipun mereka bertunangan, namun Sai semakin menjauh dari jangkauannya. Keadaan mereka benar-benar berubah. Sai tidak lagi memandangnya dengan sayang seperti beberapa tahun lalu. Sai tidak lagi mencurahkan segala perhatiannya untuk Ino. Pandangan dan perhatian itu kini untuk gadis lain. Dan ketika melihat interaksi Sai dan Hinata terakhir kali, Ino tahu ia harus segera berbuat sesuatu.

Ino tidak ingin kehilangan Sai. Ia tidak bisa. Selama ini, satu-satunya laki-laki yang mampu menguasai hatinya hanyalah Sai. Bahkan ketika ia memutuskan untuk pergi ke luar negeri, hanya Sai yang tetap mendominasi pikirannya. Ino terlalu menyayangi Sai. Mungkin terdengar berlebihan, tapi memang begitulah adanya.

Maka Ino pun menceritakan bagaimana tangannya cidera. Cerita menyakitkan itu mengalir begitu saja. Berawal dari niat Ino yang ingin pulang ke Jepang untuk menemui Sai, hingga ia mengalami kecelakaan yang membuat impiannya hancur.

Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga.

Peribahasa itu mungkin pantas menggambarkan apa yang dialami Ino ketika itu. Ia harus berjuang keras untuk tegar dan bangkit. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian, Ino memutuskan untuk pulang ke Jepang. Berharap akan ada impian yang lain selain tenis. Tentu saja, impian yang Ino maksud adalah Sai. Namun ketika mendapati kenyataan bahwa Sai berpaling darinya, Ino merasakan hatinya kembali perih.

Sekarang, Ino hanya berusaha mendapatkan impiannya kembali. Setelah semua kesedihan yang ia alami, Ino hanya menginginkan seorang lelaki untuk bersandar, dan orang itu adalah Sai. Memang egois, tapi Ino akan melakukan apa yang ia bisa untuk merebut perhatian Sai lagi.

Lagipula, hal yang ia ceritakan memang begitu adanya. Bagaimana tangannya bisa terluka, memang berawal karena ia sangat ingin menemui Sai.

Ino mengangkat wajahnya, menoleh untuk melihat pemuda berkulit pucat yang duduk di sampingnya. Ia bisa melihat gurat kebingungan dalam wajah tampan tersebut. Ino merasa bersalah. Tapi... ini harus ia lakukan.

"Sai… lebih baik kita pulang. Kau pasti sangat lelah."

"Hm." Gumaman itu disuarakan oleh Sai sebagai jawaban, tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.

Tanpa menunda waktu, Ino yang bertugas menyetir langsung menarik gas, membuat mobil hitam tersebut melaju di jalanan, bergabung dengan kendaraan lain.

.

.

...RDR...

.

.

Lampu yang bersinar redup di kamar tersebut seperti ingin menunjukkan suasana hati si gadis pemilik ruangan. Gadis tersebut adalah Hyuuga Hinata, yang kini tampak sangat muram. Pandangan matanya tidak lepas dari ponsel di tangannya. Terus menerus menatap layar, seolah berharap akan ada tanda bahwa seseorang yang sedang Hinata tunggu akan menghubunginya.

Sudah sejak beberapa saat lalu Hinata begini. Duduk di atas tempat tidur, wajah lesu, sambil menatap kosong ke ponselnya. Sayang, orang yang ia tunggu-tunggu itu tak kunjung menghubungi.

Seorang pemuda yang memiliki rambut gelap, mata kelam dan kulit cerah. Seseorang yang berkepribadian dingin, acuh, sering melanggar peraturan, tapi bisa sangat peduli kalau sedang bersama dengan Hinata. Pemuda yang jarang tersenyum, namun sekalinya tersenyum, wajah tampan itu akan terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Pemuda yang sering ia sebut seperti Lucifer. Seorang pemuda yang ia sakiti... pemuda itu bernama Uchiha Sasuke.

Hhh...

Helaan napas terdengar. Rasa bersalah itu semakin menghantui Hinata. Ia sudah berusaha menghubungi Sasuke, namun tidak ada hasilnya. Ponsel pemuda itu tidak aktif. Inginnya Hinata menunjungi tempat tinggal Sasuke, tapi Hinata ragu Sasuke akan menerimanya. Kini harapannya hanya Naruto, mengingat terakhir kali bertemu Gaara, cowok itu masih juga bersikap dingin.

Drrrt drrrt drrrt

Merasakan adanya getaran dari ponselnya, dengan terburu-buru Hinata langsung mengangkat telepon yang masuk.

"Moshi-moshi," begitu tersambung, Hinata langsung mengucapkan sapaan.

"Moshi-moshi, Hinata-chan." Terdengar suara di seberang sana menyahut. Suara bariton yang Hinata kenal.

"Naruto?" tanya Hinata memastikan.

"Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu, Hinata-chan?"

Hinata menggigit bibirnya. Kabarnya? Hinata tidak yakin dirinya baik-baik saja. Sejujurnya, ia bahkan tidak terlalu memikirkan keadaan dirinya. Namun Hinata memutuskan untuk menjawab segera, "B-baik. Kau sendiri?"

"Yah... aku juga baik-baik saja. Mm, apa Teme sudah menghubungimu?"

Hinata menggeleng pelan. Lalu ketika teringat bahwa ia sedang berbicara melalui telepon, gadis itu buru-buru menambahkan, "Belum. Apa Naruto sudah bertemu dengannya?"

"Saat kami sampai di apartemen, Teme tidak ada dimanapun. Dan ia masih tidak bisa dihubungi." Ada nada menyesal yang terdengar dari suara Naruto disertai dengan desahan napas.

Raut kepanikan pun muncul di wajah ayu itu. Hinata menerawang sedih. Sasuke meninggalkan Koukyuu Inn terlebih dulu, tapi rupanya ia tidak pulang? Lalu Sasuke kemana?

Dengan suara yang bergetar, Hinata menyahut, "Bukankah... Sasuke tidak memiliki saudara di sini? Lalu dia dimana? Kalau... kala—"

"Tenang, Hinata-chan. Dia punya banyak uang. Kalau kau takut dia jadi gelandangan, kupastikan itu tidak akan terjadi. Hehe. Jangan cemas, aku akan minta bantuan Papaku untuk mencarinya."

Hinata tersenyum tipis, merasa sedikit lega. Ia bisa mempercayai perkataan Naruto. Pemuda itu telah mengenal Sasuke jauh sebelum dirinya. Juga, Naruto adalah teman yang baik dan jujur. Meskipun terkesan suka main-main karena kehiperaktifannya, tapi Naruto sangat peduli pada teman-temannya.

"Terima kasih, Naruto-kun."

"Pastikan dirimu baik-baik saja, Hinata-chan."

"Mm."

Setelah menutup sambungan, Hinata menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan keras. Ini benar-benar tidak baik, pikirnya. Bahkan sahabat Sasuke saja tidak bisa menemui pemuda tersebut. Lalu apa yang bisa Hinata lakukan?

Hinata menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Kedua manik lavender-nya menatap langit-langit kamarnya dengan sedih. Saat ini, Sasuke berada di tempat yang aman, kan? Ia bisa memercayai kata-kata Naruto, kan?

Dalam hati, Hinata berdoa, berharap agar Sasuke tetap dalam keadaan yang baik.

.

.

...Run Devil Run...

.

.

Sasuke terdiam dalam kegelapan. Sejauh matanya memandang hanya ada kegelapan. Iapun menutup kelopak matanya, lalu membukanya lagi. Kedua bola mata oniks sang Uchiha tersebut membuka dan menutup, berkali-kali hanya untuk disambut oleh kegelapan yang sama. Alis Sasuke bertaut.

Kenapa semuanya jadi gelap?

Sasuke bahkan bisa merasakan dirinya seperti melayang. Mengambang sangat ringan dengan pikiran yang mengawang-awang. Lalu perasaan itu muncul lagi. Perasaan kesepian dimana tidak ada seorangpun bersamanya. Hanya ada gelap yang menyelimutinya, sendirian. Perasaan menyakitkan yang paling dibencinya. Perasaan yang membuatnya terlihat lemah.

Sasuke?

Sebuah suara lembut terdengar dengan begitu nyaring. Suara itu seakan bergaung di sepanjang kegelapan di sekitarnya. Suara yang terdengar familiar. Hanya ada satu orang yang dikenal Sasuke yang memiliki suara selembut itu.

Sasuke... Sasuke-kun!

Suara itu memanggil lagi dengan nada memohon. Suara gadis yang menganggu pikirannya beberapa bulan terakhir. Sasuke membuka matanya lebar-lebar. Menoleh kesana kemari. Tapi dimana dia? Dimana gadis itu? Tetap hanya ada kegelapan yang menguar di sekitarnya.

Sasuke bangunlah... ya?

Terdengar lagi sebuah suara sayup-sayup diiringi sebuah sentuhan ringan di bahunya yang dingin. Ada seseorang di dekat tubuhnya, walau kini lagi-lagi Sasuke terkurung dalam pikirannya sendiri. Benarkah dia ada di sampingnya? Benarkah itu suaranya? Benarkah yang menyentuhnya adalah gadis itu?

Sasuke memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa saat. Goncangan di bahunya semakin nyata, maka ia putuskan untuk membuka matanya. Perlahan, Sasuke bisa merasakan secercah cahaya yang kini masuk ke dalam pupil matanya. Tangan pemuda itu kemudian mengenggam erat tangan mungil yang masih terus memegangi bahunya. Berusaha memfokuskan kedua matanya pada bayangan-bayangan buram disekelilingnya, Sasuke menoleh.

"Sasuke, ini sudah siang. Ayo bangun, kita sarapan." Sebuah senyum terpatri di wajah manis gadis itu. Gadis bersurai indigo, dengan mata berwarna lavender yang mempesona. Gadis tersebut duduk di sampingnya, menyambut Sasuke dengan sangat ramah.

Sasuke mengerjapkan maniknya beberapa kali. Apa ini mimpi, pikirnya? Ia mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Ini adalah apartemennya. Bagaimana bisa? Terakhir kali seingat Sasuke, ia berada di rumah yang ditinggalinya bersama mendiang ibu dan kakaknya.

"Hi... nata?" panggilnya ragu.

"Hm?" tapi sahutan yang diberikan gadis itu begitu nyata. Dan wajah itu, senyum itu... senyum yang sangat Sasuke rindukan. Senyum yang selalu ia impikan untuk menyambutnya ketika bangun tidur. Apakah akhirnya impiannya tercapai?

Tapi kemudian ingatan Sasuke kembali memutar balik waktu. Kilas balik kejadian saat perkemahan kini terulang lagi.

Segera melepaskan tangan yang ia pegang, Sasuke kembali memasang wajah dinginnya. "Apa yang kau lakukan disini?"

Gadis di hadapannya tampak terkejut, namun kemudian tersenyum lagi. "Kamu aneh, Sasuke. Tentu saja aku disini untuk membuatkanmu sarapan. Aku tidak mau kamu makan makanan instan lagi." Layaknya sedang menasehati anaknya, Hinata berdiri dan segera berbalik, menuju ke luar kamar. Gadis itu bergerak dengan sangat lincah. Seakan-akan apa yang dilakukannya ini adalah sebuah rutinitas.

Sasuke kembali tercengang. Apa maksudnya semua ini? Sejak kapan Hinata dengan suka rela mengunjungi apartemennya dan bahkan membuatkannya sarapan?

Mimpi? Ini mimpi, kan?

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah pintu, lalu segera beranjak menyusul Hinata yang sudah terlebih dulu keluar dari kamarnya. Dilihatnya gadis itu sedang meletakkan bunga anyelir di tengah meja makan. Ada empat piring yang telah tersedia di sana dengan empat gelas susu dan air putih. Selain itu juga telah terhidang nasi, sayur dan lauk yang ditata dengan sangat rapi oleh Hinata.

"Ayo duduk, Sasuke. Aku membuat menu sarapan kesukaanmu." Hinata menepuk-nepuk salah satu kursi, mengisyaratkan agar Sasuke segera duduk.

Meski pikirannya masih bingung, namun Sasuke tak berkata banyak dan hanya menurut. Nada ceria di setiap ucapan Hinata mau tak mau membuat hatinya menghangat. Ia pun mengambil tempat duduk berhadapan dengan gadis tersebut. Dipandanginya setiap hidangan yang ada di meja makan.

"Untuk siapa ini?" tanya Sasuke sambil menunjuk dua piring yang lain.

Hinata memiringkan kepalanya, lalu terkikik geli. "Pagi ini kamu benar-benar aneh, Sasuke. Tentu saja untuk Na—"

BRAK!

"Temeee... Hinata-chaaan! Aku sudah sangat lapar." Tiba-tiba saja suara gaduh itu muncul, disusul sang pemilik suara yang sangat Sasuke hafal. Sasuke pun menoleh dengan perasaan kesal.

"Selamat pagi, Hinata." Kalau yang ini, adalah suara sahabat Sasuke yang satu lagi, Gaara. Naruto dan Gaara lalu duduk di meja makan tanpa canggung. Hinata tertawa kecil sembari membalas sapaan keduanya.

Sasuke memandang Naruto dan Gaara secara bergantian, penuh tanda tanya. Namun kedua cowok dengan rambut mencolok tersebut malah balas menatapnya tidak mengerti.

"Karena semua sudah berkumpul..." suara Hinata membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya pada gadis tersebut. Hinata balas menatap Sasuke sambil tersenyum, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan melanjutkan, "Itadakimasu..."

Naruto dan Gaara lalu mengucapkan selamat makan juga bersamaan. Setelahnya, baik Hinata, Gaara maupun Naruto sibuk dengan hidangan yang tersedia di meja.

Masih tercengang, Sasuke akhirnya memutuskan untuk mengambil segelas air putih di depannya. Ia tahu ia tidak akan bisa menggapai gelas tersebut. Sasuke tahu ia akan segera terbangun dari semua mimpi ini. Iapun menahan napas.

Tapi ketika tangannya benar-benar berhasil menyentuhnya, Sasuke tak bisa menahan matanya untuk tak terbelalak.

Ia bisa menggapainya. Ia bisa menyentuh gelas itu.

Ini... nyata!

.

.

...Run Devil Run...

.

.

PRANG!

Indra sensorik yang menangkap jelas suara gaduh itu membuat Sasuke membuka kedua kelopak matanya dengan cepat, menampakkan iris pekat yang tajam. Ia bangun untuk duduk, lalu menoleh mencari sumber suara. Di lantai, telah tergeletak sebuah vas bunga yang berserakan. Jadi tadi itu suara vas yang pecah?

Khh..

Sasuke tertawa miris. Ini berarti, semua kebahagiaan yang melingkupi dadanya tadi hanya mimpi seperti yang ia duga. Dan ia hampir tertipu oleh ilusi itu.

Idiot.

Tentu saja semuanya hanya mimpi. Mengingat sekarang ini ia sedang berada di rumahnya yang dulu. Mana mungkin ia tiba-tiba pindah ke apartemennya tanpa sepengatahuannya. Dan Hinata yang berkunjung untuk membuatkan sarapan?

Benar-benar mimpi yang kejam.

Sasuke mendesah.

Hyuuga Hinata. Nama yang melambangkan cinta dan benci bagi Sasuke.

Gadis itulah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Gadis sialan! Berkali-kali Sasuke meneriakkan kata itu dalam hati, berharap kalau perasaannya yang kacau balau bisa hilang, atau setidaknya berkurang. Tapi nihil. Ia tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa mengenyahkan Hinata dari kepalanya.

Benar-benar mengesalkan!

Gadis itu bahkan muncul di mimpinya. Mimpi indah yang hanya jadi angan-angannya. Mimpi dimana ia dan Hinata menjadi pasangan, lalu hidup dengan sangat bahagia. Dan ketika terbangun, hatinya seperti diremas. Semuanya hanya mimpi, bayangan semu. Seperti yang barusaja terjadi.

Menghela napas sekali lagi, Sasuke kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Tangannya bergerak ke nakas untuk mencari ponselnya yang sengaja ia matikan sejak memutuskan pulang dari fun camp. Dengan tanpa minat, pemuda dengan surai yang kini acak-acakan itu menekan tombol power. Tentu ia tidak bisa terus menerus menonaktifkan alat komukasinya tersebut.

214 pesan

76 panggilan tak terjawab

25 pesan suara

Sasuke mendengus kesal. Ia sudah bisa menebak. Kebanyakan pesan itu pasti dari kedua temannya yang berambut sangat menyolok. Memangnya, siapa lagi yang akan peduli dengannya selain Gaara dan Naruto?

Hinata?

Nama itu hanya akan membuat ingatannya kembali melayang saat saudara tirinya mencium si putri sulung Hyuuga. Apa lagi yang Sasuke harapkan dari Hinata? Sebelumnya, ia memang berharap sedikit saja Hinata akan membalas perasaannya. Semua sikap Hinata sebelumnya, membuat Sasuke berharap lebih. Namun ada satu kenyataan yang ia lupakan.

Semua miliknya yang berharga, akan diambil oleh saudara tirinya yang sialan. Uchiha Sai.

Kalau seperti itu, apalagi memangnya yang bisa Sasuke harapkan dari seorang Hyuuga Hinata? Ketika jelas-jelas sejak awal Hinata terlihat telah jatuh hati pada Sai.

Jawabannya tidak ada.

Tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Semua yang hadir di mimpinya tidak akan jadi kenyataan.

Dan Sasuke harus menerima fakta menyakitkan itu.

Ddrrrt. Ddrrrt.

Sasuke mengernyitkan dahi sambil melirik ponsel di tangannya. Ada sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Penasaran, Sasuke pun mengangkat teleponnya dengan gerakan malas.

"Hn." Hanya itu yang diucapkan Sasuke sebagai sapaan. Namun respon yang diberikan oleh sang penelepon ternyata di luar dugaannya.

"UCHIHA SASUKE! BAGAIMANA BISA KAU MEMATIKAN PONSELMU BEGITU LAMA?!"

Sasuke terbelalak sembari menjauhkan ponselnya. Suara sang penelepon benar-benar keras, mengingatkannya pada Naruto kalau sedang berteriak. Tapi suara tadi jelas bukan milik temannya tersebut. Meski begitu, Sasuke mengenal suara ini. Nomor yang menelponnya adalah nomor Jepang. Tapi suara teriakan yang begitu khas tadi adalah ...

Tidak mungkin...

"Paman Obito?! Kau di Jepang sekarang?" terselip nada keterkejutan di sana, meski Sasuke tetap mempertahankan nada tenangnya.

"Tentu saja, Bodoh! Aku sudah disini sejak kemarin! Tapi seseorang mematikan ponselnya disaat sepenting itu, dan aku harus terdampar sendirian di negara yang asing ini! Dasar keponakan tidak tahu diri!"

Sasuke mendengus sambil memutar manik matanya ketika mendengarkan omelan dari sang paman. Pamannya tersebut benar-benar berbeda dengan para Uchiha yang lain. Terlalu berisik.

"Hn. Ada perlu apa?"

"Hhh... Kita harus bertemu, Sasuke. Hal yang sangat penting dan mendesak. Kau bisa datang ke hotelku?"

"Hn. Kirimkan alamatnya lewat pesan."

Begitu sambungan ditutup, Sasuke lagi-lagi menghela napas. Kenapa pamannya yang hidup di London tiba-tiba ke Jepang? Seingatnya, perusahaan Uchiha yang diurus pamannya di sana sangat menyita waktu. Pamannya yang memiliki sifat mirip Naruto itu hanya akan berkunjung ke Jepang untuk sesuatu yang penting.

Yah, apapun itu, setidaknya sekarang ia tidak harus mendekam di rumah yang menyesakkan ini sendirian. Dengan bayangan-bayangan menyedihkan yang membuatnya merasa sangat terpuruk.

.

.

...Run Devil Run...

.

.

Pagi itu adalah kali pertama masuk sekolah bagi murid tahun kedua Konoha Gakuen setelah fun camp. Kegiatan sekolah pun berjalan seperti biasa. Kelas belajar-mengajar, olahraga, kegiatan laboratorium, kegiatan kesenian dan sebagainya. Hiruk pikuk ketika menjelang kelas dimulai maupun istirahat terdengar hampir di setiap sudut sekolah. Yang berbeda adalah, hiruk pikuk kali ini terasa lebih heboh dari biasanya.

Dan ketika kehebohan seperti ini terjadi di sekolah, hanya ada satu kemungkinan.

Ada sesuatu yang baru saja atau sedang terjadi.

Bukan hal yang aneh bila menemui kenyataan bahwa murid sekolah menengah sangat suka membicarakan sesuatu yang dianggap sedang trend. Entah itu merupakan berita positif seperti prestasi yang diraih seseorang, rumor-rumor yang beredar di sekolah hingga gosip menyangkut seseorang di sekolah mereka. Dan itulah yang saat ini terjadi di Konoha Gakuen.

Tidak tahu bagaimana semua ini dimulai, atau siapa yang menyebarkan, tapi sebuah gosip baru muncul di Konoha Gakuen. Kecanggihan teknologi yang memudahkan segalanya, rupanya berperan sangat penting dengan persebaran gosip baru tersebut.

Tiba-tiba saja, para murid Konoha Gakuen mendapatkan pesan elektronik tentang affair antara Uchiha Sasuke – Hyuuga Hinata – Uchiha Sai. Seperti ingin menekankan kalau semua berita itu nyata, sebuah foto ketika Sasuke terlihat memarahi Hinata ikut disebarkan.

Apa yang lebih menarik daripada gosip dua kakak beradik yang memperebutkan seorang gadis? Apalagi jika kakak beradik itu sama-sama terkenal akan ketampanannya juga kecerdasannya. Meski punya karisma yang berbeda, tidak bisa dipungkiri kalau mereka berdua – Sasuke dan Sai – merupakan cowok-cowok yang populer di Konoha Gakuen.

Sementara Hinata, gadis itu sudah menarik perhatian dari awal karena merupakan siswi pindahan dan adik dari Hyuuga Neji. Meskipun sifatnya yang cenderung kalem dan inosen, tapi kedua sahabatnya yang juga cukup populer yaitu Sakura dan Tenten membuat Hinata tak luput dari perhatian murid Konoha Gakuen lainnya.

Beberapa kali Hinata menjadi bahan perbincangan murid-murid Konoha Gakuen. Entah itu karena kedekatannya dengan Sai maupun Sasuke. Karena gosip itu pula, tak jarang Hinata mendapati tatapan kurang suka bahkan sinis, khususnya dari siswi-siswi.

Semua itu bisa Hinata abaikan, karena ia punya teman-teman yang tetap baik padanya. Lagipula, gosip yang beredar tidak terlalu parah. Dan efeknya tidak terlalu besar. Berbeda dengan saat ini.

Seluruh Konoha Gakuen serasa membicarakannya. Sejak menginjakkan kaki di sekolah, Hinata telah mendapati tatapan tidak suka dari hampir semaua orang yang ditemuinya. Dan bisik-bisik yang terdengar itu... astaga, Hinata benar-benar harus menahan keras agar tidak menangis.

Ck. Cewek munafik.

Kelihatannya polos sekali, ya? Padahal... oh My...

Berani bertaruh, cowok-cowok menyukainya hanya karena tubuhnya.

Benar-benar memuakkan.

Kasihan sekali Neji punya adik macam dia.

Bisikan-bisikan semacam itu tidak berhenti bahkan ketika Hinata sampai di kelasnya. Hinata hanya bisa terus menunduk sambil berusaha menulikan pendengarannya. Sakura bahkan harus menggebrak meja untuk membuat semua orang di kelasnya berhenti menggunjingnya.

Mungkin ini karma, karena aku menyakiti Sasuke. Pikir Hinata sedih sambil menatap bangku Sasuke yang kosong. Sasuke tidak berangkat. Hinata terlalu takut untuk menanyakan langsung pada pemuda tersebut, mengingat semua pesan maupun panggilannya tidak ada yang dibalas meski telah berhasil terkirim.

Hinata tidak peduli dengan semua gosip itu. Tidak... lebih tepatnya Hinata tidak mau peduli. Yang ia inginkan hanya Sasuke yang memaafkannya, lalu mau kembali berteman dengannya seperti sebelumnya.

Kalau dengan mengalami semua ini, semua gunjingan dan ejekan ini Sasuke mau memaafkannya, Hinata akan rela. Ia akan menerimanya tanpa mengeluh.

.

.

...Run Devil Run...

.

.

"Sasuke? Apa kau akhirnya peduli dengannya?"

Pertanyaan yang dilontarkan dengan ketus itu memang sulit untuk diabaikan begitu saja, namun Hinata menahannya. Ini bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kesalahan yang ia lakukan.

Hinata sekarang sedang bersama Gaara di halaman belakang sekolah yang sepi. Hinata bermaksud menanyakan keberadaan dan kabar Sasuke. Sampai saat ini, ia belum bisa menghubungi pemuda tersebut. Inginnya langsung menemui Sasuke, tapi bahkan keberadaannya saja ia tidak tahu. Hinata juga sudah menanyakan pada Naruto, tapi ternyata pemuda tersebut juga tidak tahu.

Menarik napas dalam, Hinata mencoba memberanikan diri untuk menjawab di bawah tatapan tajam Sabaku Gaara. "Aku... aku selalu peduli kok, dengan Sasuke."

"Oh ya?" Gaara melemparkan pandangan mencemooh pada Hinata, membuat gadis tersebut semakin tidak nyaman. Ia tidak pernah tahu kalau Gaara bisa berubaha menjadi seseram ini. Yang selama ini ia kenal adalah Gaara yang kalem dan baik. "Selalu peduli tapi bahkan kau tidak peka dengan apa yang dirasakannya terhadapmu?"

Hinata tercekat. Tidak peka? Dirinya? Hinata tersenyum getir. Ya... ia tidak peka. Bukan... lebih tepatnya ia memilih untuk tidak peka.

Merasa jawabannya hanya akan membuat Gaara semakin sinis, Hinata pun hanya diam.

"Aku ragu kau tidak menyadari kalau Sasuke menyukaimu. Dan di mataku, entah kenapa justru kau yang terlihat memanfaatkannya. Kau yang selalu bersembunyi di zona nyamanmu, tanpa mau mempertimbangkan perasaan Sasuke."

Wajah Hinata semakin memucat. Ia pun merasa semakin terpojok dengan ucapan Gaara. Kata demi kata yang dilanturkan penuh penekanan itu menusuk tepat di jantungnya. Hinata menunduk, meski ia tahu kalau tatapan Gaara bertambah sinis dan tajam. Ia tidak akan membela diri. Hinata tahu ucapan pemuda bersurai merah di hadapannya tersebut benar.

"Maaf..."

Terdengar desahan napas. Lalu sejenak kemudian, suara berat Gaara kembali terdengar. "Siapa pilihanmu? Sasuke atau Sai?" Disertai dengan nada yang sangat serius, Gaara memegang kedua bahu Hinata, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

Hinata tampak gelagapan. Gadis itu berusaha membebaskan diri, namun cengkraman tangan Gaara malah semakin kuat. "Jawab, Hyuuga!"

Hinata memalingkan wajahnya, usaha untuk menghindar dari tatapan iris azure yang kelewat tajam.

"Aku... aku belum tahu..." cicit Hinata kemudian.

Gaara melepaskan cengkramannya pada tubuh gadis mungil tersebut dengan sedikit dorongan, namun cukup membuat Hinata mundur beberapa langkah hingga menyentuh dinding bangunan gudang di belakangnya. Gadis itu terlihat terkejut, tidak menyangka akan diperlakukan sekasar ini. Tidak cukup sampai di sana, Hinata kembali dibuat terbelalak saat melihat Gaara mengacungkan tinju ke arahnya.

BRAK!

Hinata memejamkan matanya sangat rapat. Dipikirnya Gaara akan memukulnya, tapi ternyata cowok itu malah memukul sisi dinding di sebelahnya. Ketika membuka mata, kedua maniknya menangkap ekspresi marah Gaara yang semakin menjadi.

"Inilah yang sangat menyebalkan dari dirimu, Hyuuga! Ini menunjukkan kalau kau tidak benar-benar peduli dengan Sasuke. Kalau kau menyukainya, aku akan memberitahu dimana dia berada. Tapi kalau tidak, kuharap kau jangan lagi mengganggu hidupnya. Aku tidak bisa membiarkan sahabatku menderita hanya karena gadis sepertimu."

Gaara memundurkan tubuhnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam celana. "Sasuke sudah cukup menderita gara-gara orang seperti kalian."

Setelah mengakhiri kalimatnya, Gaara membalikkan tubuh, menjauh untuk meninggalkan Hinata yang masih membeku, bergelut dengan segala kekalutannya.

.

.

...Run Devil Run...

.

.

Hinata sudah mati-matian menahannya. Sungguh... gadis itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlalu berlebihan memikirkan masalahnya. Ia sudah berusaha untuk mengabaikan gosip yang beredar di sekolah. Ia sudah berusaha tidak memikirkan perlakuan yang diterimanya di sekolah, semua tatapan tidak suka dan bisik-bisik hampir di semua sudut. Bagi Hinata, asalkan di sampingnya masih ada teman-teman yang tulus padanya seperti Sakura dan Tenten, tidak masalah jika ada banyak orang yang tidak menyukainya. Sungguh, Hinata tidak apa-apa.

Lebih baik memiliki satu teman namun tulus, daripada memiliki 1000 teman namun palsu.

Pepatah tersebut membantu Hinata untuk tetap tegar meski beberapa hari terakhir ia menjadi korban bully di Konoha Gakuen.

Sementara untuk masalah dengan Sai, Hinata juga berusaha untuk tidak memedulikan lelaki tersebut dahulu. Sejak pulang dari fun camp, lelaki itu belum menghubunginya. Anehnya, Hinata tidak merasa gelisah akan itu. Dirinya justru senang karena tidak harus banyak memikirkan Uchiha Sai. Satu hal yang semakin hari membuat Hinata gelisah justru adik dari Uchiha Sai...

Uchiha Sasuke.

Pemuda itu hingga kini belum memberi kabar. Ia menanyakan pada Naruto dan Gaara yang notabene adalah sahabat Sasuke pun tidak ada hasil yang memuaskan. Kata Naruto, sejak pulang tiba-tiba dari fun camp Sasuke tidak pernah kembali ke apartemen.

Ada dimana Sasuke?

Apa yang dia lakukan?

Bukankah Sasuke tidak punya siapa-siapa lagi? Bagaimana kalau di luar sana dia kedinginan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?

Sasuke memang memiliki banyak uang. Naruto sudah meyakinkan kalau Sasuke tidak akan jadi gelandangan. Tapi tetap saja, di luar sana Sasuke hanya sendiri bukan? Kedinginan yang Hinata maksud, adalah perasaan dingin karena kesendirian. Kesendirian itu akan menyebabkan perasaan kesepian.

Hinata menggerakkan tangannya ke arah dada, tepat di jantungnya. Tangan yang kini terkepal kuat itu lalu menekan-nekan dadanya.

Kenapa sakit sekali memikirkan semua itu? Memikirkan Sasuke yang kesepian dan dirinyalah penyebabnya.

Tanpa disadari, tiba-tiba saja airmata menuruni wajahnya. Tetes demi tetes, hingga akhirnya benar-benar membuat Hinata tersedu.

Sakit sekali...

Sasuke sudah pernah menceritakan padanya apa yang terjadi pada keluarganya. Sasuke selalu kesepian karena ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi. Sasuke menanggung beban yang berat. Kesepian dan kesendirian adalah hal yang sebenarnya Sasuke benci. Hinata tahu itu semua. Hinata tahu, semua sikap dingin Sasuke selama ini adalah perisai agar pemuda tersebut tidak terlihat lemah.

Hinata menutup mulutnya, berusaha meredam suara tangis yang dikeluarkannya.

Oh... bagaimana mungkin ia bisa sejahat itu dengan Sasuke? Bagaimana mungkin ia sekejam itu, selalu berusaha mengenyahkan kenyataan bahwa Sasuke menyukainya dan malah memanfaatkan kebaikan pemuda itu demi kenyamanannya?

Hinata tahu, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk kuat. Tapi hal ini di luar batas. Ia sudah berusaha menahannya... namun rasa bersalahnya pada Sasuke semakin membesar. Jadi, untuk sekali ini saja Hinata membiarkan dirinya menangis. Menangisi kebodohannya, kecerobohannya dan kesalahannya.

Selama beberapa saat Hinata pun terlarut dalam sedu sedannya. Hanya suara isak tangis yang terdengar memenuhi kamar tersebut.

"Hinata?"

Suara yang tiba-tiba itu mengagetkan Hinata. Gadis itu pun langsung menghentikan tangisnya, menyeka jejak-jejak airmata di wajahnya. Setelah merasa tidak ada tanda ia sedang menangis, Hinata lalu membalikkan badannya untuk melihat pemilik suara tersebut.

"Neji-nii..."

Hyuuga Neji sudah berdiri dengan tangan yang bersedekap. Punggungnya bersandar pada pintu. Hinata terheran, bagaimana bisa karena menangis ia sampai tidak menyadari kalau ada orang yang membuka pintu kamarnya.

Neji terlihat memandangi Hinata dengan intens. Meneliti tiap sudut wajah adik kesayangannya. Ketika menyadari mata Hinata yang memerah, pandangan Neji melembut. Pemuda itu lalu berjalan mendekat, menghampiri Hinata yang kini menunduk. Mungkin tidak ingin ketahuan.

"Kenapa menangis?" Neji mengelus puncak kepala Hinata dengan lembut. Meski ekspresi yang terpasang di wajahnya tetap tegas dan serius seperti biasa, namun tatapannya menyiratkan kalau dirinya benar-benar cemas pada sang adik.

Neji tahu apa yang dialami Hinata di sekolah. Tentu ia ingin menolong adiknya itu. Neji ingin membela Hinata, memarahi setiap orang yang melempar pandangan tidak suka dan bisik-bisik menyakitkan pada adiknya tersebut. Tapi Neji juga paham, kalau ia melakukannya, itu berarti ia memanjakan Hinata. Juga, hal itu pasti akan membuat Hinata semakin di-bully.

Jadilah Neji membiarkan Hinata mengatasi masalahnya sendiri. Hinata sendiri pasti tidak akan suka bila ia membelanya. Neji yakin Hinata itu kuat. Dia pasti bisa menghadapi semuanya.

Hanya saja... mendengar tangisan Hinata membuatnya cemas. Hinata tidak akan menangis jika itu bukan hal yang sangat menyakitkan.

"Apa karena gosip murahan itu? Hinata, kamu tahu apa artinya menjadi objek gosip? Itu artinya kamu hebat karena banyak orang yang sirik padamu." Neji berusaha membuat jenaka meski tampaknya sia-sia.

Hinata menggeleng lemah. Meski begitu, ia tetap menolak untuk membuka suaranya. Hinata juga masih menunduk.

Neji menghela napas.

"Karena... Uchiha?" Neji bertanya dengan pelan, sangat hati-hati. Meskipun Neji sudah tahu jawabannya.

Hening beberapa saat, Hinata masih belum menjawab. Neji juga diam, tidak ingin memaksakan jawaban atas pertanyaannya. Neji hanya akan menunggu hingga Hinata siap menumpahkan semua padanya. Bagaimanapun, hanya dirinya yang paling mengenal gadis itu. Adiknya yang sangat berharga.

Setelah beberapa saat, Hinata akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap sang kakak dengan tatapan yang sendu. Airmata itu telah mengering memang, namun Neji bisa melihat jejak-jejaknya. Dan mata yang memerah itu membuat Neji merasa sedih.

"Kenapa semua menyalahkanku, Neji-nii? Ya, aku memang salah. Tapi apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini?" Nada lirih yang disuarakan Hinata terdengar begitu nelangsa. Neji bisa merasakan kalau adiknya tengah frustasi. Mencoba untuk menenangkan, Neji memeluk tubuh sang adik yang melemas.

"Aku sudah mencoba, tapi aku belum menemukan jawabannya. Aku cemburu dan sedih saat tahu Sai-senpai bertunangan. Tapi di sisi lain, saat tahu Sasuke marah dan menjauh hatiku sakit sekali. " Hinata menarik tubuhnya ke belakang, melepaskan pelukan kakaknya. Lalu, kedua manik lavender-nya menatap manik pucat di depannya dengan nada memohon. Seperti menginginkan jawaban dari semua pengakuannya.

"Aku harus bagaimana, Neji-nii? Sakit sekali di sini..." Hinata memegangi dadanya erat. Bulir-bulir airmata kembali turun.

"Hinata... sekarang biarkan aku bertanya." Neji berhenti sejenak untuk menghapus airmata adiknya yang kembali muncul.

"Apa kamu yakin perasaanmu pada Sai bukan perasaan kagum? Dan apa kamu yakin perasaanmu pada Sasuke bukan hanya perasaan kasihan?"

Hinata membuka mulutnya hendak menjawab, lalu menutup lagi. Gadis itu kemudian tampak berpikir keras. Seakan menyadari hal yang akan menuntunnya untuk menjawab pertanyaan siapa sebenarnya yang benar-benar disukainya.

Perasaanku pada Sai-senpai hanya kagum?

Perasaanku pada Sasuke hanya sebatas rasa kasihan?

Setelah berpikir sejenak, Hinata kembali menatap kakaknya. "Aku... aku belum tau, Neji-nii."

Neji mengusap-usap kepala Hinata dengan lembut. Ia mulai merapikan rambut panjang yang berantakan tersebut dengan jarinya. Begitu merasa rambut Hinata sudah cukup rapi, Neji lalu menarik kembali tangannya dan balas menatap sang adik. Tatapannya serius, begitu juga dengan kalimat yang selanjutnya terdengar.

"Sekarang, ketika membayangkan masa depan, menurutmu, siapa yang akan kamu pilih? Dari keduanya, siapa yang paling membuat hidupmu kesepian kalau dia tidak ada? Dan siapa yang dengan kehadirannya, membuat hatimu paling bahagia?"

Untuk kedua kalinya, Hinata dibuat terdiam oleh pertanyaan Neji. Sorot yang dikeluarkan kedua manik cerah itu menampakkan kebingungan. Hinata lalu bergelut dengan pikirannya. Merenungkan kembali semua pertanyaan yang dilontarkan Hyuuga Neji.

"Tidak perlu terburu-buru. Dan simpan saja jawabanmu untuk orang itu. Kamu harus berani mengungkapkannya yang sebenarnya." Setelahnya, Neji lalu bangkit berdiri.

"Dan ingat, tugas utamamu saat ini adalah belajar. Aku tidak ingin prestasimu di sekolah menurun hanya karena masalah laki-laki. Mengerti?"

Hinata dibuat tersenyum pertama kalinya dalam beberapa hari ini oleh ucapan tersebut. Hyuuga Neji memang adalah kakaknya yang terbaik. "Aku mengerti, Nii-san."

Neji menyunggingkan senyum kecil, lalu berbalik. Namun baru dua langkah pemuda tersebut berjalan, ia sudah berbalik lagi. Hal ini membuat Hinata memiringkan kepalanya keheranan.

"Ah... tadi aku mendapatkan ini. Barangkali kamu mau ikut?" Neji mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu menyodorkan sebuah kertas yang penuh dengan warna-warni. Hinata menerimanya, lalu membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Seketika wajahnya menjadi berbinar.

Sekali lagi gadis itu tersenyum dengan sangat manis untuk kakaknya. Hinata lalu berdiri dan memeluk lengan kakaknya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak dengan manja.

"Arigatou, Neji-nii. Aku sayang padamu!"

.

.

...Run Devil Run...

.

.

"Sekolah benar-benar heboh. Kau harus segera menyelesaikannya, Teme!" Naruto melirik ke arah Sasuke sembari menyeruput secangkir macchiato yang dipesannya dengan sangat hati-hati, tidak ingin merusak latte art berbentuk daun yang unik. Mereka saat ini sedang berada di sebuah kafe yang terletak di salah satu sudut pusat kota. Meski waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun geliat keramaian belum juga reda. Pengunjung kafe juga masih banyak.

Kafe tersebut bernama Wisteria Cafe, kedai kopi yang didesain dengan sangat indah. Perpaduan gaya minimalis dengan bunga-bunga Wisteria mewarnai di tiap sudut kedai. Terletak di pinggir jalan, para pengunjung dapat menikmati pemandangan khas kota melalui jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya lampu-lampu. Ditambah dengan para pramusaji yang ramah, suasana yang mencerminkan kehangatan dan keceriaan begitu kentara, seolah ingin mengajak para pengunjung Wisteria Cafe untuk tetap berbahagia dan melupakan sejenak masalahnya.

Tapi sepertinya hal itu tidak mempengaruhi sang pemilik surai raven yaitu Uchiha Sasuke, karena cowok itu malahan mengernyitkan dahinya tidak suka. Aura yang dikeluarkannya sejak tadi juga begitu suram. Dan setelah Naruto menyebut nama seorang gadis yang tengah dihindarinya, aura Sasuke bertambah semakin gelap.

"Bukan urusanku," balas Sasuke malas. Jelas sekali ia ingin menghindari pembicaraan ini.

Sementara Naruto menghela napas frustasi. Sudah sejak tadi pemuda tersebut berusaha membujuk kekeraskepalaan Sasuke. Ia menceritakan segala kehebohan yang terjadi di sekolah menyangkut Hinata. Naruto bahkan menceritakan bagaimana perlakuan tidak adil yang diterima Hinata. Respon yang diberikan Sasuke memang minim, tapi Naruto bisa menangkap gurat-gurat cemas yang sahabatnya tersebut tunjukkan, meski segera ditutupi. Bagaimanapun, Naruto telah mengenal Sasuke sangat lama.

"Hampir semua orang mem-bully-nya, kau tahu? Bisik-bisik dan lirikan sinis, semua mereka arahkan ke Hinata. Apa kau benar-benar tidak kasihan, Teme?"

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah Naruto sebentar, lalu kembali lagi mengaduk-aduk kopi di depannya.

"Baguslah. Biar dia tahu rasa," gumam Sasuke enteng.

"TEME!"

Suara Naruto yang cukup keras itu mengundang perhatian beberapa pengunjung yang duduk tak jauh dari mereka. Sasuke langsung mendongak dan menatap Naruto tajam, tatapan memperingatkan. Merasa tak enak telah mengganggu, Naruto melihat sekeliling dan mengisyaratkan permintaan maaf pada pengunjung lain dengan anggukan kepala.

Beberapa saat setelahnya Naruto kembali menghembuskan napas panjang. Sasuke bisa menjadi sangat keras kepala dan menyebalkan karena egonya yang sangat tinggi.

"Dia menanyakan keadaanmu tiap saat, Sasuke." Kalimat itu diucapkan dengan lirih namun penuh penekanan. Tatapan kedua manik biru Naruto kali ini benar-benar serius menatap kedua manik jelaga Sasuke. "Dia sangat mencemaskanmu. Dia—"

"Aku setuju bertemu denganmu bukan untuk membahas hal tidak penting itu, Naruto." Sasuke menyela, tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan yang jika diteruskan hanya akan membuatnya kalap. Sorot matanya menajam dan nada suaranya semakin menyiratkan kemarahan. "Kalau kau masih membawa-bawa namanya, aku pergi sekarang juga."

Dan Naruto hanya bisa terduduk pasrah di kursinya sembari menelan ludah.

Benar-benar Teme...

.

.

...T.B.C...

.

.

Pertama-tama, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena update sangat lama. Saya sibuk mengurus tugas akhir, skripsi, dilanjutkan yudisium dan wisuda. Jadilah baru bisa update sekarang.

Kedua, bagi yang masih ingat fic ini meski sedikit, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya aja sampe lupa kok jalan ceritanya hehe . saya akan fokus menyelesaikan fic ini secepatnya.

Ketiga, saya ingin mengucapkan terimakasiiiiiih sebesar-besarnya pada para reviewer di bawah ini. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, akan saya jawab chap depan. ^^

BIG THANKS FOR::

avrillita97, Roura, alta0sapphire, yukichan, Hallow-Sama, kensuchan, Eternal Dream Chowz, Me Yuki Hina, Stupid Panda23, V3Arra, Haru3173, , Haru3173, Haru3173, kirigaya chika, Jasmine DaisynoYuki, bettyarinda, Hyou Hyouichiffer, Cahya Uchiha, hinatauchiha69, 123 Go Go Deigo, Djsasunata, Luluk Minam Cullen, ms. X, Stranger, hyuugahime, HinaHimeLovers8, gifha aulia, D. Hina Hime, Stacie Kaniko, , Guest, wiendzbica732, hepiwulandari22, tiff, dinda melati, UriRomy-chan, fina, guardien eriin, AprilliaSiska, NataSuke, fina, siiuchild.

For 'stranger' : u must really love SasuHina, huh? Thank you so much. I would like to write this story in english... but i didn't have any confidence in my grammar. Maybe u could help me? Hehe

Buat yang komen tapi ga disebut: maaf aja ya, saya suka SH gegara baca fic tuh, udah jaman bahula lagi -_-. Saya yakin ntar pasti ada lagi yang komentar ga penting ttg pair ini, apalagi NH canon. Tapi ga peduli, apapun yg terjadi saya tetap lanjutin fic ini! SH haters, please go away (~,^).

Akhir kata, kritik saran dan lainnya akan author terima dg senang hati.

Terima kasih banyak...

Arigatouu...

XOXO,

Ayuzawa Shia

150307