PURNAMA KEDUA BELAS

Remake from Andrea Hirata's novel, AYAH

Park Jimin x Min Yoongi

BTS and some characters belong to God, their parents, and their agency.

Rated T

Warn: BxB! M-preg! Typo(s), boring, etc

Enjoy yas!

"Menerima, Yang Mulia."

Suho menjawab setiap pertanyaan hakim ketua. Tidak banyak cakap. Suaranya menggaung di sudut-sudut ruang pengadilan dengan hampa. Semua orang tahu, setiap perkara yang menyangkut ruangan itu terdapat masalah ketidak-bahagiaan di dalamnya. Tidak satu dua hari, melainkan bertahun-tahun masalah itu menghantui rumah tangga Suho. Berbagai jalan dan mediasi sudah ditempuh, tapi tetap saja, istrinya gigih meruntuhkan hubungan mereka di meja hijau.

Hosiki mengucapkan kata 'menerima' seperti desau angin, tak terdengar. Ia merasa kehilangan tenaganya, semangat hidupnya, bahkan pita suaranya, padahal kalau sudah mencak-mencak di panggung dialah orangnya.

Sebenarnya, siapa pun bisa melakukan 'pikir-pikir', banding, lalu kasasi, lalu peninjauan kembali. Namun Hosiki tak mengelak, kepalanya tertunduk layu. Mulutnya yang biasanya komat-kamit karena saking cerewetnya kini seperti daging tak bernyawa.

Dalam keadaan bingung dan gulana, Jimin mengikuti saran dua sahabatnya saja untuk berpakaian serapi mungkin saat persidangan besok.

"Mungkin kau sedih, Jim. Tapi mengenakan pakaian terbaik di depan pejabat negara merupakan suatu etika sekaligus kebanggaan." Kata Taehyung saat Jimin bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia lalu menatap beberapa stel baju terbaiknya di dalam lemari. Sebenarnya tidak banyak, hanya lima pasang. Dan matanya jatuh pada satu stel jas hitam yang terlihat masih mengkilat karena ia rawat dengan sangat. Jas hitam dengan kemeja putih licin yang dikenakannya saat mengucapkan janji suci untuk mempersunting Yoongi.

Seokjin tersenyum sendu saat Jimin keluar dengan sepotong jas yang kini tersampir di tangannya sambil berkata, "kalau jas ini bagaimana?"

Seokjin tahu, itu jas yang sangat Jimin cintai. Ia seakan merasakan hati Jimin yang dipenuhi ironi, Jimin mengikat janji pernikahan dengan jas hitam itu dan memutuskan juga dengan baju yang sama.

"Tidak apa-apa, itu saja. Bagus." Ingin rasanya Seokjin menggeplak muka Taehyung. Dari tadi kepalanya berpikir memilih kalimat yang baik dan tidak menyinggung untuk Jimin agar tidak memilih baju yang menurutnya agak 'traumatis' itu, tapi dengan santainya Taehyung berujar seperti itu.

Taehyung dan Seokjin ikut mendampingi Jimin ke pengadilan. Di antara mereka bertiga, Taehyung lah yang menarik perhatian seperti biasa, ia mengenakan baju pantai warna kuning. Seokjin dan Jimin mati-matian menahan malu.

Jimin tak menyangka jika akan menemukan banyak orang yang mengantri untuk bercerai. Di bangku-bangku panjang itu duduk banyak orang, mulai dari tua muda, pria wanita, kaya melarat. Macam-macam ekspresi mereka, ada yang sedih, ada yang memandang kosong, banyak yang diam dan menunduk, dan ada pula yang tersenyum-senyum.

Seperti dirinya, orang-orang di ruangan itu berpakaian rapi. Jimin mendengus. Getir hatinya mendapati orang-orang di sini akan menghadapi kenyataan pahit tapi mereka menghadapinya dengan pakaian terbaik. Dan tak tega pula ia mendapati anak-anak yang dibawa orang tuanya. Mereka menangis, merajuk, kepanasan, minta ini, minta itu, ingin ini, ingin itu. Jeritan mereka merisaukan. Kemudian mereka digendong ayah atau ibu mereka yang akan bercerai.

Melihat itu tiba-tiba Jimin disergap perasaan yang membuat sendi-sendi tubuhnya lumpuh. Dia duduk terkulai di ujung bangku. Ia rindu Judy. Baru saja ia sadari hidup begitu kejam. Ingin ia pergi dari tempat itu dan berlari pulang memeluk anaknya.

Taehyung menunjuk satu arah. Di ujung sana, Yoongi datang bersama seseorang dengan jas yang tampak mahal dan tampang terpelajar. Lengkap dengan koper kecilnya. Yoongi langsung menarik perhatian karena memang ia terlihat sangat menawan dan bersanding dengan lelaki yang tampan pula. Harus diakui, tak sepadan Yoongi yang elok seperti itu bersanding dengan lelaki dengan jas bekas pernikahan dan tengah terduduk gugup di bangku pojok.

Matahari semakin meninggi, saat seseorang dari pengeras suara berbicara, "Park Jimin dan Min Yoongi, Ruang Sidang Tiga. Kami ulangi…"

Jimin berjalan gontai memasuki ruangan diikuti dengan Taehyung dan Seokjin. Di dalam ruang sidang, Jimin demikian gugup sehingga tidak sepenuhnya mendengarkan apa yang terjadi. Segalanya terasa asing. Kepalanya hanya dipenuhi Judy dan Judy. Yang dia tahu, di depannya ada orang-orang berjubah dengan wajah bijaksana sedang berbicara dengan hati-hati, namun tak kunjung ia pahami.

Di ujung sana, Yoongi dan orang terpelajar itu berbicara panjang lebar mengenai pertikaian mereka. Nada suara dan wajahnya yang berapi-api memperlihatkan bahwa masalah di antara mereka semakin meruncing. Jimin cukup heran karena selama mereka berumah tangga, pertemuannya dengan istri bisa dihitung dengan jari tapi fakta-fakta yang dibeberkan Yoongi seakan mereka bertengkar setiap hari.

"Jadi, apakah Anda menerima putusan?" tanya hakim ketua. Jimin tergagap. Sebenarnya ia ingin mengatakan apa pun keputusannya ia tak ambil pusing, asal tidak memutuskan dan memisahkan dirinya dengan Judy, namun tak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya. Ia menoleh ke belakang menemukan Seokjin yang tengah melirik Yoongi tajam sambil tangannya memenceti bubble wrap yang tak sengaja ia temukan di sakunya dengan jengkel. Ia menoleh ke Taehyung yang tiba-tiba menyejajarkan badannya sambil menutupi mulutnya, membisikkan sesuatu pada Jimin dengan agak keras, "Pikir-pikir!"

Belum sempat Jimin mengucapkan yang Taehyung suruh, Yoongi bangkit dari bangkunya.

"Pikir-pikir apa!? Jangan percaya Yang Mulia. Dia dan dua dedengkot di belakangnya itu adalah komplotan, tukang bikin onar dan para pembual!"

Tentu saja tindakan Yoongi mendapatkan teguran keras juga Taehyung yang hanya dipersilakan untuk menyaksikan saja. Taehyung seketika berdiri dan membungkuk mengucapkan maaf layaknya seorang pengawal kepada raja.

Persidangan tak berlangsung lama. Di depan mata kepalanya sendiri, ia melihat sang panitera menggunting surat nikahnya dengan Yoongi.

Majelis hakim mengetuk palu dan menutup sidang. Satu persatu orang-orang keluar ruangan hingga tinggal Jimin seorang yang masih bertahan di tempat. Ia memandangi bangku kosong yang Yoongi duduki bersama lelaki terpelajar yang tergesa membereskan berkas-berkasnya beberapa waktu yang lalu. Matanya menerawang kosong. Tanpa ia sadari, hatinya sakit digunting-gunting seperti buku nikahnya menjadi seribu bagian.

Seorang petugas memintanya untuk segera keluar karena ruangan akan dipakai. Jimin bangkit, ia berjalan keluar menuju dua kawannya yang menunggu di luar. Sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh ke belakang sejenak. Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Cintanya bersemi lalu kemudian dihempas tanpa jeda.

TBC

Cerai :'v

Review ya, awkwkwk

ED.