Selamat membaca.
Here We Go.
Disclaimer : Naruto milik Kishimoto sensei
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Hurt comfort, Romance, Family
Warning : OOC, gender switch, typo (s), alur cerita cepat, tema pasaran
Note : dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
My Love
Chapter 14 : I Love You
By : Fuyutsuki Hikari
Siang ini Naruto hendak menjemput Aiko ke sekolah. Awalnya Sasuke tidak setuju, tapi melihat kekeras kepalaan Naruto, dia hanya bisa berdecak dan dengan enggan mengijinkannya pergi. Naruto memberikan ciuman singkat untuk suaminya itu dan berjanji akan segera menghubunginya jika dia sudah sampai di sekolah Aiko.
Naruto berjalan seorang diri menuju tempat parkir. Tidak ada firasat buruk yang dia rasakan siang itu. Naruto terus berjalan, dia sama sekali tidak melihat jika dari arah lain ada sebuah mobil sedan berwarna hitam meluncur dengan cepat, tepat ke arahnya. Dia tersentak kaget saat merasakan ada tangan kokoh yang menariknya ke belakang dan memeluknya dengan erat. Matanya terbelalak saat detik kemudian sebuah sedan hitam meluncur dengan cepat beberapa cm di depannya.
"Naruto?" tukas Sasuke lirih. Naruto berbalik menghadap sosok yang baru saja menyelamatkannya dan ternyata orang itu adalah suaminya. Naruto memeluk dan bergelayut pada Sasuke, tersedu-sedu, gemetar dan shock akan apa yang baru saja terjadi.
Sasuke merengkuhnya dan memeluknya sehati-hati mungkin, jiwa melindunginya begitu kuat saat ini. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan akan apa yang terjadi bila tadi dia tidak memutuskan untuk menyusul Naruto dan tetap tinggal di dalam kantor. 'Terima kasih Tuhan,' syukurnya dalam hati karena Naruto selamat. Dengan lembut dia menggendong Naruto dalam pelukannya dan membawanya masuk ke dalam mobil Porsche miliknya.
Perjalanan pulang sore itu terasa begitu panjang juga mencekam. Sesekali Sasuke melirik ke arah Naruto yang masih gemetar ketakutan. "Naruto?" panggil Sasuke yang begitu cemas melihat keadaan istrinya saat ini.
Perlahan Naruto berbalik untuk melihat ke arah Sasuke. "Bagaimana kalau kamu tadi tidak ada disana, Sasuke? A-ku...aku mungkin sudah mati." Katanya sambil terisak.
Perut Sasuke terasa kram dan sakit saat dia mendengar Naruto bicara seperti itu. Dulu dia sudah pernah kehilangan Naruto untuk waktu yang lama dan itu membuatnya begitu menderita. Jika kali ini dia kehilangan Naruto untuk selamanya, bisa dipastikan dia menjadi gila. "Jangan bicara seperti itu, yang penting kamu selamat."
Naruto mengelus perutnya yang sudah memasuki minggu ke sembilan belas dengan lembut. "Aku akan gila, mungkin juga mati jika kehilangan bayi kita." Naruto menghapus air matanya dengan cepat dan mengelus pipi Sasuke ringan. "Terima kasih, Sasuke. Terima kasih karena kamu ada saat kami memerlukanmu." Katanya lirih.
Sasuke menepikan kendaraannya ke pinggir jalan, mematikan mesin mobil dan merengkuh tubuh istrinya yang kembali terguncang dan menangis keras di dadanya. "Maaf, seharusnya dari awal aku menemanimu. Tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi sendiri. Semua ini salahku, maaf... aku benar-benar teledor."
"Tidak, ini bukan salahmu." Naruto menggelengkan kepala di dada Sasuke. "Ini karena aku keras kepala, tidak mendengar perkataanmu. Maafkan aku, Sasuke. Aku benar-benar minta maaf."
"Ssttt, sudahlah. Kita langsung pulang saja, biar kaa-san saja yang jemput Aiko pulang. Hari ini biar Aiko menginap di rumah kaa-san, nanti aku akan jelaskan semua pada kaa-san juga tou-san."
Naruto mengangguk dan melepaskan diri dari Sasuke. Dengan tenang Sasuke mulai menghidupkan mesin mobil kembali dan mengendarainya hingga apartemen mereka. Dia mendesah lega saat melihat Naruto sudah terlelap tidur dengan tenang. Dengan sigap dia membawa tubuh mungil itu dalam gendongannya masuk ke dalam apartemen mereka. Sasuke menidurkannya di atas tempat tidur king size mereka dan melepaskan blazer serta sepatu kerja Naruto dengan susah payah.
Setelah yakin Naruto tidur dengan nyaman, Sasuke pun segera menghubungi orang tuanya dan menjelaskan kejadian sore ini pada mereka, juga meminta mereka menjaga Aiko hingga Naruto tenang.
"Naruto sudah tidur saat ini, aku rasa untuk sekarang cukup aku yang menjaganya."
"Kamu yakin?" sahut Mikoto cemas. "Bagaimana kalau nanti ada apa-apa? Lebih baik kaa-san menginap di sana malam ini."
"Tidak perlu kaa-san, Aiko pasti curiga jika kaa-san menginap di sini malam ini. Aku tidak mau Aiko ikut cemas nanti."
"Baiklah, tapi segera hubungi kaa-san jika ada apa-apa."
"Hn, aku mengerti. Arigatou, kaa-san." Setelah itu Sasuke menutup telepon dan berjalan ke dapur. Dia menuang segelas kopi, menambahkan sedikit gula lalu membawanya ke dalam kamar. Dengan cepat dia mengganti pakaiannya dan duduk di sebuah sofa tidak jauh dari tempat tidurnya. Sasuke membuka laptop dan kembali menekuni pekerjaannya. Sesekali dia menyesap kopi hitam itu dan mengecek keadaan Naruto.
Beberapa jam kemudian Sasuke kembali ke sisi Naruto saat melihat istrinya itu mulai gelisah dan menangis dalam tidurnya, sementara tangannya dia letakkan di perutnya yang membuncit. Sasuke meraih tubuh mungil Naruto dan mendekapnya, mencoba untuk menenangkannya. "Sstt, tenanglah, sayang. Itu hanya mimpi, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." Katanya lirih di telinga Naruto.
Naruto mulai terbangun, matanya mengerjap beberapa kali dan merasa tenang saat mencium bau tubuh yang begitu dikenalnya sedang memeluknya saat ini. "Sasuke..." Naruto mengangkat kepala dan menatap Sasuke. "Sudah berapa lama aku tertidur?"
Dengan lembut Sasuke menghapus air mata Naruto. "Hampir tiga jam, kamu lapar? Aku akan buatkan makan malam untukmu." Sasuke membelai surai pirang itu penuh kasih, andai saja Naruto melihat ke dalam matanya saat ini, pasti dia bisa melihat tatapan penuh cinta dari pria itu untuknya.
"Dimana Aiko? Aku harus siapkan makan malam untuknya." Tukas Naruto seraya berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya, tapi usahanya gagal karena Sasuke menahannya untuk tetap duduk di sana.
"Aiko menginap di rumah kaa-san malam ini, kamu lupa? Jadi sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar aku yang siapkan makan malam."
Naruto menggelengkan kepalanya cepat. "Bagaimana kalau Aiko mencariku nanti malam?"
Sasuke tersenyum, istrinya ini masih saja mengkhawatirkan puterinya, padahal dirinya sendiri saat ini membutuhkan perhatian orang-orang terdekatnya. "Dia sudah besar, dia pasti mengerti. Lagipula hanya satu malam dia menginap disana."
"Kalau begitu, besok kita jemput dia ke rumah kaa-san dan mengantarnya ke sekolah."
"Tidak! Besok kamu istirahat, aku akan menemanimu disini. Biar kaa-san saja yang mengantarnya sekolah, menjemput dan kembali mengantarnya pulang kesini." Tukas Sasuke tegas.
Naruto sama sekali tidak bisa membantah saat Sasuke sudah bicara tegas seperti saat ini. Dia hanya bisa mengangguk lemah, dan kembali berbaring dengan nyaman di balik selimnutnya. "Aku akan membawakanmu makan malam, tunggu sebentar!" kata Sasuke ringan, dia kecup kening Naruto mesra dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam sederhana namun bergizi untuk mereka berdua.
Setengah jam kemudian, Sasuke sudah membawa satu buah nampan berisi makan malam mereka. Dia harus berusaha sekuat tenaga agar Naruto mau menghabiskan makan malamnya. Sasuke mendesah lega saat melihat hasil usahanya membuahkan hasil, Naruto menghabiskan semua makan malamnya tanpa sisa. Sasuke membantu Naruto untuk membersihkan diri dan membuainya untuk tidur hingga akhirnya Naruto tertidur dalam dekapan nyaman suaminya itu.
Setelah yakin Naruto tidur, Sasuke pun beringsut dari atas tempat tidur menuju ruang kerjanya. Bagaimanapun dia tidak mau jika nanti Naruto mendengar pembicaraannya dengan Fugaku, karena itu hanya akan membuatnya bertambah cemas. Sesampainya di ruang kerja, Sasuke segera meraih gagang telepon dan menekan nomor telepon Fugaku. Dia tidak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan jawaban dari sebrang sana.
"Moshi-moshi?" jawab Fugaku dari seberang telepon.
"Tou-san, ini aku Sasuke."
"Kaa-san mu sudah menceritakan semuanya pada tou-san. Bagaimana keadaan Naruto sekarang?" tanya Fugaku terdengar begitu cemas.
"Dia baik-baik saja tou-san hanya sedikit shock, tapi sekarang dia sudah tidur."
"Syukurlah kalau begitu," jawab Fugaku lega.
"Tou-san, boleh aku minta bantuanmu?" tanya Sasuke dengan nada begitu serius.
"Tentu saja."
"Bisakah tou-san mencari tahu, siapa pemilik mobil sedan hitam yang hampir saja menabrak Naruto?"
"Menurutmu itu bukan murni kecelakaan?" tebak Fugaku tepat sasaran.
"Hn, begitulah. Aku tidak pernah melihat mobil itu di halaman parkir perusahaan kita selama ini. Aku takut jika kejadian tadi siang sudah ada yang merencanakannya."
"Apa Naruto punya musuh?"
"Kurasa tidak, lagipula dia baru saja kembali. Bagaimana mungkin dia memiliki musuh."
"Benar juga," tukas Fugaku membenarkan. "Kamu ingat nomor plat mobilnya?"
"Itu yang membuatku lebih curiga tou-san, mobil itu tidak memiliki nomor plat."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja aku yakin, ingatanku sangat kuat. Lagipula, kaca mobil itu begitu gelap hingga aku kesulitan melihat pengemudinya."
"Ini sangat aneh puteraku, kalau begitu mulai sekarang jangan pernah biarkan Naruto pergi seorang diri!"
"Hn, aku pun berpikir begitu, tou-san."
"Tou-san akan segera mencari tahu, jika sudah ada hasilnya, tou-san akan segera memberimu kabar."
"Ha'i, satu lagi tou-san. Tolong jangan katakan pembicaraan ini pada kaa-san, aku takut dia akan khawatir nanti."
"Baiklah, tou-san mengerti. Jaga istrimu baik-baik, Sasuke. Oyasuminasai."
"Oyasuminasai, tou-san. Sampaikan salamku pada kaa-san juga Aiko."
.
Sasuke memijit keningnya agak keras, kejadian tadi sore benar-benar membuatnya sangat cemas. Dia hanya bisa berharap jika dugaannya itu hanya kecemasan yang terlalu berlebihan. Malam ini Sasuke sudah tidak sanggup untuk menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya dia kembali ke kamar mereka dan berusaha untuk memejamkan mata dengan memeluk Naruto dalam dekapannya erat.
Sementara itu, di tempat lain. Karin begitu murka saat mengetahui anak buah Kabuto gagal dalam menyelesaikan misi mereka tadi sore. "Kenapa bisa gagal?" teriak Karin pada Kabuto yang saat ini menenggak vodka yang ada dalam gelas di genggamannya dengan tenang.
"Ada seorang pria yang menyelamatkannya," jawab Kabuto dingin. "Dari ciri-cirinya aku yakin pria itu adalah Sasuke."
"Kenapa bisa ada Sasuke?" tanya Karin penuh emosi. "Bukankah kalian akan menyerang Naruto saat dia sendiri?"
Kabuto mendelik tajam ke arah Karin dan berkata dengan sinis. "Kenapa kamu begitu peduli pada Sasuke, bukankah lebih bagus jika mereka berdua mati?"
"Percuma jika Sasuke juga ikut mati, jika dia hidup saat Naruto mati, itu akan menjadi siksaan yang sangat pedih untuk seumur hidupnya." Jelas Karin berapi-api. Sementara Kabuto hanya mendengus dan kembali menenggak minumannya, kesal karena merasa diabaikan, Karin merampas gelas itu dan melemparnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Hal itu sontak membuat Kabuto terpancing emosi dan mencekik Karin hingga wanita itu kesulitan bernapas. "Jangan berani-berani menentangku wanita sialan. Atau aku akan membunuhmu lebih dulu!" desisnya kejam. Karin yang sangat ketakutan melihat sisi gelap Kabuto hanya bisa mengangguk lemah dan memohon agar pria itu melepaskan cekikannya.
Dengan kasar Kabuto melepas cekikannya dan melempar Karin ke atas sofa dan mulai mencumbunya dengan paksa juga kasar. Memaksa Karin untuk melayani semua nafsu dan amarahnya saat itu juga. Dia tidak peduli saat Karin meronta kesakitan atas perlakuannya. Yang dia tahu, Karin harus membayar semua jasanya secara lunas, sebelum pekerjaan lain akan dia lakukan nanti.
Keesokan paginya Karin terbangun dengan rasa nyeri pada seluruh tubuhnya. Kabuto sama sekali tidak memberinya ampun, tiap kali Karin memohon pada Kabuto untuk menghentikan perlakuan kasar padanya, hal itu malah membuatnya bertambah kalap. Karin menatap wajah Kabuto dengan jijik, dia mengambil dan memakai pakaiannya yang tercecer di lantai karena dibuka paksa oleh Kabuto tadi malam. Tanpa menoleh dua kali, dia langsung keluar pergi meninggalkan Kabuto yang masih tertidur pulas dan puas.
Naruto yang terus teringat akan kejadian itu membuat dirinya tidak tenang dan sedikit stres hingga menyebabkan dia terkena virus mual juga keluar beberapa flek.
"Kamu terlalu stres, Naruto. Karena itu tubuhmu mengeluarkan flek dan terkena virus mual padahal kehamilanmu sudah hampir masuk semester kelima." Jelas Tsunade sesudah memeriksa Naruto. "Kamu harus rileks dan banyak beristirahat!"
Kalimat istirahat yang terucap dari mulut Tsunade menjadikan acuan bagi Sasuke untuk melarang Naruto bekerja dan tetap tinggal di rumah untuk beristirahat. Naruto telah tinggal di rumah hampir dua minggu sejak kejadian di tempat parkir itu terjadi. Sasuke bersikeras agar Naruto tetap tinggal dan istirahat di rumah tanpa melakukan pekerjaan apapun. Yang paling drastis, Sasuke memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya, agar Mikoto bisa menemani Naruto dan menjaganya.
"Aku tidak sakit," protes Naruto pagi ini untuk kesekian kalinya.
"Hn," jawab Sasuke yang saat ini masih berkutat untuk memasangkan dasi pada leher kemejanya. Sasuke tidak berani menatap Naruto, istrinya itu terlihat begitu seksi pagi ini ketika dia hanya menggunakan baju tidur transparan dengan perut yang membuncit, rambut kusut, juga jangan lupakan wajah merajuknya yang terlihat begitu menggemaskan. Sasuke takut jika dia menatap Naruto, maka hatinya akan luluh dan mengabulkan semua permintaan istri cantiknya tersebut.
Naruto sangat kesal menghadapi sikap Sasuke pagi ini padanya. Dia selalu menghindar untuk bertatap muka dengannya. "Lihat aku, Sasuke!" tukas Naruto kesal. Sementara Sasuke masih mematutu dirinya di hadapan cermin dan berpura-pura merapihkan penampilannya yang begitu maskulin.
"Kamu tidak mau aku bekerja, agar bisa bebas menggoda wanita lain kan?" tukas Naruto dengan kepala menunduk, dia harap caranya ini bisa mengalihkan perhatian Sasuke padanya. Benar saja, mendengar itu Sasuke segera berbalik dan menghampiri Naruto yang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tak mengerti, yang saat ini sudah duduk di samping Naruto.
Naruto mendongakkan kepala dan menatap Sasuke dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu, sekarang aku gemuk. Kamu pasti bosan melihatku tiap hari. Jadi kamu melarangku pergi ke kantor." Ucap Naruto lirih, dengan wajah sedih dia kembali menatap Sasuke. "Aku wanita yang hamil lima bulan dan gendut." Lanjutnya sambil mengelus perut buncitnya.
Sasuke meraih Naruto dalam pelukannya dan berkata dengan lembut. "Kamu adalah wanita terseksi, tercantik juga sempurna. Aku tidak mungkin berpaling darimu, Dobe." Katanya tanpa menyadari seringaian Naruto dalam pelukannya. Seakan merasa untuk meyakinkan Naruto, Sasuke menciumnya dalam hingga mereka berdua terengah-engah karenanya.
"Aku melarangmu, karena sangat khawatir padamu, sayang Tidak ada maksud yang lain." Katanya setengah berbisik dan menatap Naruto lurus.
"Aku baik-baik saja. Sasuke, tolong ijinkan aku kembali bekerja. Kumohon..."
Sasuke berdiri dengan cepat dan memunggungi Naruto. "Tidak," jawabnya tegas. Naruto sama sekali belum kehilangan akal, dia bergelayut manja pada Sasuke dan mengeluarkan semua kemampuannya untuk meluluhkan hati Sasuke. "Kumohon, Sasuke..."
"Tidak!"
"Kumohon..."
"Tidak!"
Naruto melepas pelukannya dan menatap Sasuke dengan kesal. "Baik, kalau begitu malam ini kamu tidur di kamar tamu, Teme!"
Sasuke memutar kedua bola matanya dan kembali menatap Naruto. "Itu tidak adil!"
Naruto mengangkat kedua bahunya dan melipat tangan di atas dada. "Menurutku cukup adil," katanya ringan.
"Arghhh, baiklah kamu boleh kembali bekerja. Tapi besok, tidak hari ini." Tukas Sasuke frustasi.
Naruto kembali mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke dan menciumnya keras. "Arigatou," katanya dengan senyum cerah nan menawan.
"Hn, sekarang lepaskan aku, Dobe. Aku tidak yakin bisa pergi ke kantor jika kamu terus seperti ini." Katanya jail.
Naruto yang langsung mengerti akan maksud Sasuke hanya tersenyum dan berbisik nakal. "Malam ini, sekarang pergilah!"
Sasuke menyeringai dan memberikan Naruto ciuman singkat sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk sarapan. Setelah Sasuke turun, Naruto segera masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian untuk ikut sarapan bersama keluarganya.
"Dimana kaa-san?" tanya Aiko saat melihat Sasuke hanya turun seorang diri.
"Kaa-sanmu masih di dalam kamar, mungkin sebentar lagi dia turun." Jawab Sasuke seraya memberikan kecupan sayang pada kening Aiko.
"Naruto belum mulai bekerja, Sas?" tanya Fugaku yang sudah melipat dan meletakkan kembali korannya di atas meja.
"Dia akan kembali bekerja besok." Jawab Sasuke datar.
"Apa Naruto sudah benar-benar sehat?" tanya Mikoto cemas.
"Jangan khawatir, kaa-san. Jika ada sesuatu, aku pasti memintanya untuk kembali tinggal di rumah." Jawab Sasuke tenang, sementara Mikoto hanya mengangguk kecil dan menyerahkan setangkup roti yang sudah diberi selai pada Sasuke.
.
.
Matahari sudah berada di puncak kepala saat Sasuke mengetuk pintu ruang kerja Fugaku dan duduk dengan nyaman di sebuah kursi di depan meja kerja ayahnya tersebut. "Ada apa tou-san?" tanya Sasuke.
"Lihat ini!" tukas Fugaku seraya memberikan sebuah dokumen yang berisi laporan mengenai kejadian dua minggu yang lalu pada Naruto. "Laporan ini baru tou-san dapat pagi ini." Katanya serius, sementara Sasuke mulai membaca laporan itu lembar demi lembar.
"Jadi mobil itu adalah mobil curian?" tanya Sasuke.
"Benar," jawab Fugaku. "Dan berakhir di sebuah jurang sehari setelah kejadian yang menimpa Naruto." Jelasnya.
Sasuke menutup laporan itu dan menatap Fugaku dengan wajah serius. "Kalau begitu ada kemungkinan jika peristiwa yang dialami oleh istriku memang disengaja?"
"Tou-san takut seperti itu, semua yang ada dilaporan itu terlalu aneh jika disebut kebetulan."
"Tapi siapa yang ingin menyakiti, Naruto?" tanya Sasuke yang saat ini menahan semua emosinya dan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Entahlah," aku Fugaku. "Yang jelas, mulai saat ini kita tidak boleh meninggalkan Naruto sendiri. Jika memang yang dia atau mereka incar adalah Naruto, tou-san yakin mereka akan mencari celah saat kita kembali lengah."
"Aku mengerti, tou-san."
"Tou-san juga sudah menyerahkan copy hasil penyelidikan ini pada seorang detektif yang bekerja di kantor kepolisian pusat. Mereka akan bekerja diam-diam dan memberi kita kabar jika semua ini terbukti sebagai tindakan kriminal."
Sasuke mengangguk dan mengeluarkan napas dengan berat. "Menurut tou-san apa aku perlu mengatakan ini pada Minato-san?"
"Sebaiknya begitu, kita harus mencegah hal terburuk."
Sasuke mengangguk, mengerti akan maksud dari ayahnya itu. "Tapi Naruto akan curiga jika tiba-tiba orang tuanya datang kemari beserta Ku-nii."
"Biar tou-san yang bicara pada Minato dan menjelaskan semuanya, agar dia sedikit tenang dan setidaknya bisa mengarang alasan jika nanti mereka datang ke Jepang." Sahut Fugaku.
"Baiklah tou-san, aku percayakan ini pada tou-san." Sasuke membungkuk, memberi hormat sebelum akhirnya keluar dari ruangan Fugaku dan kembali ke dalam ruangannya sendiri. Menghempaskan diri dengan keras ke atas kursi kerjanya, dan meletakkan kepalanya di atas meja untuk menenangkan diri.
.
Malam harinya, Naruto sudah bergelung dengan nyaman di dalam pelukan Sasuke. Malam ini hanya ada sinar bulan perak yang masuk melalui kaca jendela Prancis kamar mereka. Memberikan mereka berdua sedikit cahaya, saat mereka terlarut dalam percintaan yang lembut dan penuh kasih. "Ada apa, Sasuke?" tanya Naruto yang melihat ada sesuatu yang janggal pada diri Sasuke sejak suaminya itu pulang ke rumah sore tadi.
Sasuke hanya mengeratkan pelukannya pada Naruto dan memejamkan mata tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu. "Suke?" panggil Naruto lagi saat Sasuke diam membisu. "Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya lagi dengan lirih.
Perlahan Sasuke membuka kedua matanya lagi dan mengelus pipi Naruto dengan tangannya. "Aku hanya sedikit lelah, itu saja." Jawabnya.
"Tentu saja kamu lelah, kamu bekerja sendiri. Besok dengan kehadiranku, setidaknya aku bisa mengambil alih setengah dari pekerjaanmu Suke." Sahut Naruto setengah berbisik.
"Tidak, Naruto. Seperempat. Itu adalah batas maksimalmu untuk bekerja tiap harinya. Tidak ada lembur, tidak ada survey lokasi ataupun meeting beruntun. Tidak ada!" kata Sasuke.
Naruto mengernyit dan menatap Sasuke dengan mata berkilat-kilat. "Kalau begitu, aku hanya memindahkan tempat istirahat saja. Aku ke kantor untuk bekerja, bukan untuk berleha-leha." Katanya sebal.
"Jangan membuatku khawatir? Naruto. Apa kamu tidak lihat jika aku begitu cemas?"
"Maaf," jawab Naruto lirih dan membenamkan kepalanya di dada bidang Sasuke. "Aku tidak bermaksud membuatmu cemas, aku hanya ingin kembali bekerja dengan normal. Maaf jika membuatmu cemas."
Dengan lembut Sasuke mencium puncak kepala Naruto. "Tidurlah, Naruto. Istirahatlah!" Sasuke terus membuka matanya hingga didengarnya napas Naruto yang mulai teratur, menyibakkan anak rambut yang menghalangi mata Naruto dan kembali memeluknya erat. Saat ini dia benar-benar cemas akan Naruto, bukan hanya karena kesehatannya tapi juga cemas akan keselamatannya.
Keesokan harinya, Naruto sudah kembali duduk di meja kerjanya dan menatap meja itu dengan tatapan kosong. Dia sudah tidak mampu menghitung berapa kali dia menguap karena bosan. Tidak ada satu lembar pun pekerjaan yang bisa dia lakukan saat ini. Dengan keras kepala Sasuke membawa semua pekerjaan itu dan mengerjakannya seorang diri. "Untuk apa aku ke kantor, jika kamu mengambil semua pekerjaanku?" tanya Naruto frustasi sementara Sasuke hanya menjawab 'Hn' tanpa mengalihkan pandangannya dari atas dokumen yang harus di pelajarinya.
Naruto hanya bisa menghentak kesal dan keluar dari ruangan Sasuke dengan meninggalkan bunyi yang cukup keras saat dia menutup pintu di belakangnya. Karena itulah Naruto hanya bisa menatap nanar layar laptopnya dan kembali bermain tetris untuk membunuh rasa bosannya. Sayangnya rasa bosan itu tak kunjung hilang, yang ada malah rasa kantuk yang semakin menyerang.
"Masih marah padaku, Naruto?" tanya Sasuke saat mereka berdua sudah kembali di dalam mobil Porsche Sasuke sore ini dalam perjalanan pulang. Naruto sama sekali tidak menjawab, dia terus melihat keluar jendela tanpa menghiraukan Sasuke yang menyetir di sisinya. "Ayolah, sampai kapan kamu marah? Ini sudah hampir satu minggu." Tukas Sasuke lagi, sudah seminggu Naruto kembali bekerja dan selama itu juga Sasuke terus mengambil alih semua pekerjaan Naruto.
Naruto masih memalingkan muka, hingga tidak perlu menatap sosok Sasuke. "Apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku?" tanya Sasuke lagi sementara Naruto masih diam seribu bahasa tanpa mengidahkannya. Sasuke akhirnya hanya bisa mengeluarkan napas berat dan kembali fokus untuk membawa kendaraannya selamat hingga ke rumah.
Lagi-lagi Sasuke hanya bisa menghela napas saat melihat Naruto keluar dari dalam mobil tanpa bicara sepatah katapun pada dirinya. Dia masuk ke dalam rumah meninggalkan Sasuke yang masih tertegun di dalam mobil. "Apa aku sudah keterlaluan, aku hanya tidak ingin membuatnya terlalu lelah." Tukas Sasuke pada udara kosong di sekitarnya. Dengan cepat dia keluar dari dalam mobilnya, mengunci dan berjalan masuk menuju kediaman Uchiha.
Sasuke melihat Naruto sedang memeluk dan bercanda dengan Aiko di ruang keluarga saat dia masuk. Menyadari kehadiran suaminya, Naruto segera membawa Aiko pergi ke atas menuju kamarnya tanpa mempedulikan Sasuke yang berdiri kaku di depan pintu ruang keluarga.
"Naruto kenapa?" tanya Mikoto pada Sasuke.
"Hn."
"Itu bukan jawaban," katanya sambil menatap tajam puteranya.
Sasuke melonggarkan dasi dan duduk di samping Mikoto. Kepalanya terkulai lelah di punggung kursi sementara kedua matanya terpejam. "Dia marah padaku."
"Karena?"
"Aku mengambil semua pekerjaannya seminggu ini." Jawab Sasuke tanpa basa basi.
"Kamu berlebihan, Sasuke." Tukas Mikoto seraya meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
Sasuke kembali duduk tegak dan balik menatap Mikoto. "Aku tidak ingin dia terlalu lelah, kaa-san."
"Tapi bukan begitu caranya!" sahut Mikoto tenang. "Bicaralah pada Naruto, jangan sampai hal ini berlangsung berlarut-larut."
"Hn." Jawab Sasuke singkat seraya berlalu untuk kembali ke dalam kamarnya. Sasuke kembali menahan kecewa saat tidak mendapati Naruto di dalam kamar mereka saat ini. "Dia sangat marah rupanya." Katanya pada dirinya sendiri. Sasuke segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mendinginkan suasana hatinya.
"Sampai kapan kamu akan terus diam, Naruto?" tanya Sasuke saat melihat Naruto yang berbaring di sampingnya dan memunggunginya. "Baiklah, aku janji besok kamu bisa bekerja secara normal." Perkataan Sasuke ini sukses membuat Naruto tertarik dan berbalik badan ke arahnya. "Benarkah?" tanya Naruto tajam.
"Hn."
"Jangan berbohong lagi, Teme!"
"Ck, aku tidak bohong."
"Aku akan memukulmu jika kamu berbohong!" ancam Naruto.
"Hn, tapi semua itu tidak bisa didapat dengan cuma-cuma, Dobe." Sahut Sasuke dengan seringai mesum.
Naruto mengernyit tak mengerti. "Maksudmu?"
Sasuke semakin mendekatkan diri dan merengkuh tubuh Naruto ke dalam dekapannya. "I want you tonight, honey." Katanya seraya mencium bibir Naruto penuh semangat.
Naruto meronta mencoba untuk melepaskan diri. "Dasar mesum!" balasnya saat Sasuke mulai menciumi leher jenjangnya.
"Malam ini akan berbeda Dobe, sekarang aku benar-benar sangat menginginkanmu! Seminggu waktu yang sangat lama untukku menahan diri."
Naruto hanya bisa pasrah saat Sasuke mengatakan hal itu. Menyerahkan diri seutuhnya pada kebutuhan dasar Sasuke dan bersama-sama meraih puncak kenikmatan. Naruto tak lagi mengeluh saat Sasuke mencumbunya, hanya terdengar erangan lirih dan jeritan tertahan dari keduanya malam ini yang terus terdengar dari balik tembok kamar mereka.
Sinar mentari pagi sudah memasuki kamar mereka saat Naruto bangun pagi ini. Dia menggeliat, menatap sisi tempat tidur sebelahnya yang sudah kosong. Sayup dia dengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Naruto mengerjap beberapa kali, badannya terasa pegal, dia meringis saat merasakan kain selimut bergesekan dengan payudaranya yang telanjang. Dia hanya tersenyum kecil saat melihat tanda merah juga ungu yang tercetak jelas disana. Tadi malam, Sasuke jauh dari sifat lembut. Keinginannya untuk memuaskan diri terlalu hebat, tapi Naruto sama sekali tidak keberatan. Karena sebenarnya dia juga menyukai sisi Sasuke yang seperti itu.
"Kaa-san?"
Naruto tersentak kaget saat mendengar suara juga melihat sosok Aiko yang saat ini sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan menatap Naruto aneh. Naruto tidak tahu kapan Aiko masuk dan duduk disana. Keberadaan Aiko membuatnya salah tingkah karena tubuh telanjangnya hanya ditutupi selimut saat ini.
"Kenapa kaa-san tidak memakai baju? Kan dingin." Tukas Aiko polos.
Naruto tercekat bingung akan apa yang harus di jawabnya. Merasa tidak ada jawaban dari ibunya, Aiko pun kembali berkata. "Kalau bayinya sakit bagaimana?"
Susah payah Naruto mengatur napas dan bicara dengan nada senormal mungkin. "Kaa-san kepanasan," jawabnya. "Aiko, tolong ambilkan kimono mandi kaa-san."
Aiko mengangguk dan segera turun dari atas tempat tidur dan meraih kimono mandi Naruto yang tersampir di atas kursi riasnya. Aiko mengerutkan kening saat sekilas melihat bercak merah keunguuan pada payudara Naruto. Aiko memalingkan wajah ke arah pintu kamar mandi, dan berlari saat dia lihat Sasuke keluar dari dalam sana, sementara Naruto mulai memakai kimononya dengan cepat.
"Tou-san!" teriaknya.
Sasuke meraih Aiko ke dalam gendongannya dan mengabaikan rambutnya yang masih setengah kering. "Tou-san sepertinya kaa-san sakit." Kata Aiko cemas. Sasuke melirik ke arah Naruto yang sedang merapihkan tempat tidur mereka saat ini, dan menggeleng pelan.
"Maksud Aiko apa?" tanya Sasuke.
"Tubuh kaa-san banyak bulatan merah juga ungu. Kaa-san bilang jika dia kepanasan, padahal hari ini dingin sekali. Cepat bawa kaa-san ke rumah sakit!" pinta Aiko memelas dengan kedua mata berkaca-kaca. Sementara Sasuke hanya saling menatap bingung dengan Naruto akan alasan apalagi yang paling tepat untuk menjelaskan pada putri mereka ini.
"Kaa-san mu tidak sakit Aiko." Jawab Sasuke dengan nada setenang mungkin.
"Lalu kenapa tubuh kaa-san banyak merah-merah dan ungunya?" tanya Aiko seraya menunjuk ke arah Naruto, sementara Naruto hanya bisa menahan napas.
"Kaa-sanmu digigit serangga dan dia juga sedang hamil, jadi wajar jika kepanasan." Jelas Sasuke pada Aiko.
"Kalau begitu Aiko akan memintakan balsam pada baa-san untukmu kaa-san." Tukas Aiko seraya meminta Sasuke untuk menurunkannya dari gendongannya.
"Jangan!" teriak Naruto dan Sasuke kompak hingga menyebabkan Aiko kembali mengerutkan kening karena bingung.
"Kenapa? Bukankah baa-san selalu memberi Aiko balsam jika digigit serangga?"
Naruto berjalan dan berjongkok hingga tinggi tubuhnya setara dengan Aiko. "Tidak perlu sayang, nanti baa-san mu akan khawatir. Lagipula, karena kaa-san sedang hamil, jadi kaa-san tidak boleh sembarang memakai obat." Jawabnya setengah berbohong.
"Benarkah?" tanya Aiko sambil memiringkan kepalanya ke sebelah kiri, sementara Naruto hanya mengangguk menjawab pertanyaan Aiko.
"Baiklah kalau begitu Aiko tunggu kaa-san dan tou-san di bawah untuk sarapan." Katanya riang seraya mengalungkan kedua tangan mungilnya pada leher Naruto dan memberikan ciuman pada kedua pipi mulusnya.
"Kaa-san mandi dulu, setelah itu kaa-san akan sarapan bersama Aiko." Setelahnya Aiko segera melepaskan Naruto, setengah berlari dia keluar dari kamar orang tuanya dan menutup pintu dengan debaman sedikit keras.
"Serangga, hah?" tukas Naruto tajam seraya berdecak sebal pada Sasuke sementara suaminya itu hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis. "Ya, serangga bermata oniks, berambut raven dan setinggi seratus delapan puluh dua cm!" lanjutnya seraya masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Sasuke yang masih menahan senyum geli.
Naruto hanya memerlukan waktu selama tiga puluh menit untuk mandi dan merapihkan diri untuk pergi ke kantor. Diliriknya jam yang ada di atas meja nakasnya sekilas. Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang saat ini masih duduk di pinggir tempat tidur mereka dengan sebuah dasi yang masih belum terikat rapih pada leher kemejanya.
"Kenapa masih duduk di situ, Sasuke. Kenapa juga dasimu masih belum terpasang dengan rapih?" Naruto memandang Sasuke.
"Menunggumu untuk memasangkannya."
"Ya Tuhan," gumam Naruto yang saat ini sudah duduk di samping Sasuke dan mulai mengikat dasi itu dengan terampil. "Kamu kan bisa melakukannya sendiri!"
"Hn."
Naruto memandangnya lembut, feminin dan penuh kasih. "Apa kamu selalu bersikap manja pada setiap mantan pacarmu, Sasuke?" tanya Naruto lirih.
Sasuke tidak menjawab, dia hanya mendekatkan wajah mereka dan mencium lembut bibir mungil itu. "Kita harus segera turun ke bawah, Sasuke." Kata Naruto di tengah ciuman mereka. Dengan enggan Sasuke melepaskan ciumannya, meraih tangan Naruto ke dalam genggamannya dan berjalan turun menuju ruang makan.
Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat bagi Naruto. Minggu demi minggu pun silih berganti, hingga akhirnya saat ini usia kandungannya sudah menginjak minggu ke dua puluh tujuh. Naruto mengelus perutnya yang semakin membuncit, dan menghela napas saat putranya itu memberinya salam dengan menendang perutnya keras.
Lain lagi dengan Karin, wanita itu semakin kesal dengan kerja lambat Kabuto. "Kenapa kamu masih belum menghabisinya juga?" teriak Karin dengan emosi yang begitu meluap-luap.
"Kita tidak boleh gegabah, Karin. Bagaimana pun saat ini dia adalah seorang Uchiha. Salah langkah sedikit saja, kita berdua bisa berakhir membusuk di penjara." Jelas Kabuto dingin.
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Anak buahku selalu mengikutinya dan jika waktunya tepat, kita pasti bisa menyingkirkannya. Bersabarlah!"
"Aku sudah cukup bersabar, Kabuto. Aku hanya menagih janjimu." Tukas Karin yang berbalik pergi meninggalkan Kabuto sendiri untuk kembali menikmati makan siangnya yang terganggu.
Cuaca begitu dingin siang ini, selain karena sudah mulai memasuki pertengahan musim dingin, sang mentari juga enggan untuk menampakkan diri, sedari pagi dia terus bersembunyi di balik awan. Naruto merapatkan mantel kashmir hitamnya juga melilitkan syal wol merah untuk menghangatkan diri. Hari ini dia harus melihat sejauh mana proyek resort Uchiha berjalan. Susah payah dia meminta ijin pada Sasuke agar mendapat ijin pergi bersama Gaara untuk melihat secara langsung perkembangan pembangunan proyek ini.
Setelah sedikit melobi dan mengeluarkan jurus yang mampu membuat Sasuke bertekuk lutut, akhirnya dia pun bisa pergi untuk menyelesaikan salah satu dari pekerjaannya ini. "Progressnya sudah enam puluh persen, Naruto. Jika terus begini mungkin sebelum musim panas resort ini sudah berdiri dengan sempurna." Tukas Gaara bangga.
"Aku harap juga begitu. Resort ini akan menjadi salah satu resort kebanggaan Uchiha corp." Balas Naruto dengan senyuman yang terukir begitu menawan.
"Siapa?" tanya Gaara saat melihat Naruto kembali memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku mantel. "Sasuke," jawabnya cepat.
"Oh, ayo kita lihat ke sebelah taman!" sahut Gaara.
Dengan langkah kecil, Naruto berjalan di samping Gaara. Dengan sabar Gaara mengatur langkahnya, agar bisa dengan mudah diikuti oleh Naruto. Sesekali mereka beristirahat, karena walau bagaimana pun juga wanita yang sedang mengandung tujuh bulan cepat sekali merasa lelah.
Mereka terus berjalan melewati blok kayu yang berjajar rapih, yang disatukan dan diikat kuat oleh tali rotan. Naruto sama sekali tidak bisa mengingat akan apa yang terjadi, yang dia tahu hanya sebuah teriakan Gaara yang mendorong tubuhnya hingga dia harus menahan berat badannya dengan kedua tangan untuk melindungi kandungannya, sementara saat dia berbalik, dia hanya melihat tubuh Gaara yang terkapar tak sadarkan diri dengan beberapa balok kayu menimpa bagian belakang tubuhnya.
Berbeda dengan Sasuke, siang ini perasaannya sangat aneh, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak dan terus menerus memikirkan Naruto, seakan-akan ada firasat buruk, tapi pikiran itu segera dienyahkannya dan mengatakan jika dia hanya khawatir berlebihan saja. "Seharusnya aku ikut bersama Naruto." Katanya menyesal.
Sasuke mengetuk-ngetukkan penanya ke atas meja dan sesekali melirik ke arah telpon genggamnya yang tergeletak di atas meja. Dia bimbang, baru saja tiga puluh menit yang lalu dia menghubungi Naruto, jika dia menghubunginya lagi, dia hanya akan dapat omelan dari istri cantiknya itu.
Lamunan Sasuke terganggu saat melihat telepon genggamnya bergetar karena ada nomor telepon tidak dikenal masuk. "Moshi-moshi?"
"Apa saya bisa bicara dengan Uchiha-san?" jawab suara milik laki-laki dari nomor itu.
"Saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mandor yang bertanggungjawab atas proyek resort anda. Istri anda dan Sabaku-san mengalami kecelakaan di proyek-"
Setelah mendengar itu, Sasuke sama sekali tidak dapat memfokuskan diri pada apa yang dikatakan mandor itu selanjutnya. Yang bisa dia tangkap hanyalah Naruto kecelakaan, dibawa ke rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Sasuke segera memacu kendaraannya dengan cepat menuju rumah sakit itu, setelah sebelumnya memberitahu ayahnya akan apa yang terjadi pada Naruto dan Gaara di proyek.
Naruto terbangun di sebuah kamar dengan aroma obat-obatan yang begitu menusuk, dia melemparkan pandangan pada sekeliling ruangan yang berwarna serba putih itu. "Aku dimana?" tanyanya lirih. Tangan kanannya terasa nyeri dan sulit untuk di gerakkan. Naruto tersentak kaget saat merasakan kehadiran seseorang di ruangan itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Naruto. Aku benar-benar khawatir." Tukas Sasuke setengah berbisik, merengkuh tubuh mungil Naruto ke dalam pelukannya. Sementara Naruto masih tidak mengerti akan apa yang terjadi.
"Kenapa aku bisa ada di sini, Sasuke?"
"Kamu tidak ingat?" tanya Sasuke dengan meletakkan kedua tangannya pada bahu Naruto. Naruto hanya menggeleng, dan mengerjap tak mengerti.
"Balok-balok kayu itu rubuh, beruntung Gaara menyelamatkanmu. Kamu menahan beban tubuhmu dengan tangan kanan, hingga tangan kananmu terkilir. Kamu tidak ingat?"
Mata Naruto berkaca-kaca saat ingatan itu mulai masuk ke dalam pikirannya dengan cepat. "Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaan Gaara?" tanyanya panik.
"Dia baik-baik saja, dokter sudah memeriksanya. Tidak ada hal serius, saat ini dia masih belum sadarkan diri karena obat bius." Jelas Sasuke.
"Aku ingin melihatnya, Sasuke!" air mata meluncur deras dari kedua sudut mata Naruto, suaranya bergetar, tubuhnya begitu lemas saat dia ingat kejadian itu.
"Aku akan mengantarmu, tapi nanti. Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Dan jangan membantah!" tukas Sasuke tegas saat merasa jika istrinya itu hendak membantah perkataannya. Mendengar itu Naruto hanya bisa mengangguk lemah, kembali berbaring, dan akhirnya terlelap dengan nyaman.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Mikoto saat masuk ke ruangan itu, dia mengecup kening Naruto lembut dan duduk di kursi yang awalnya di tempati oleh Sasuke.
"Tidak ada yang serius, besok Naruto sudah boleh pulang." Jawab Sasuke setengah berbisik.
Fugaku menepuk bahu Sasuke untuk menenangkan putranya itu, dia tahu di balik wajah stoicnya, Sasuke menyembunyikan perasaannya yang begitu kalut saat ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Mikoto lagi sementara Sasuke hanya menggeleng. "Sebaiknya isi perutmu dulu Sas, biar kaa-san yang menjaga Naruto di sini."
Sasuke mengangguk setuju, dengan ditemani oleh Fugaku dia mengisi perutnya yang kosong sejak siang tadi hanya dengan secangkir kopi. "Bagaimana keadaan, Gaara?" tanya Fugaku.
"Dia baik-baik saja, aku belum melihatnya lagi." Jawab Sasuke seraya menyesap kopi hitamnya.
"Sebaiknya kita melihat keadaan Gaara, kita berhutang begitu besar padanya."
"Ya, aku berhutang dua nyawa pandanya, tou-san. Kalau tidak ada Gaara, entah apa yang terjadi pada Naruto saat ini." Sahut Sasuke dengan nada suara yang sedikit bergetar.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Gaara di rawat. Sasuke mengetuk pintu dan masuk begitu ada jawaban dari dalam. Dilihatnya Gaara yang saat ini sudah mampu untuk duduk tegak di atas tempat tidurnya dan berbincang serius dengan Shikamaru yang duduk di samping tempat tidurnya. Shikamaru diminta oleh Temari untuk menjaga Gaara sementara waktu hingga dia tiba di sana. Pembicaraan mereka terhenti saat Sasuke dan Fugaku masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana keadaanmu, Gaara?" tanya Sasuke. Sekilas ia mengangguk pada Shikamaru yang menepuk bahunya ringan dan kembali menatap Gaara lurus.
"Sudah lebih baik, bagaimana keadaan, Naruto?" balas Gaara.
"Dia tidur, tangan kanannya hanya terkilir. Terima kasih, jika bukan karenamu, Naruto mungkin dalam keadaan berbahaya saat ini."
"Aku senang, bisa berguna untuk orang lain." Jawab Gaara tulus. "Tapi, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu Sasuke juga pada anda Fugaku-san." Kata Gaara serius.
"Tentang apa?" tanya Fugaku.
Gaara menatap Shikamaru yang memberikan isyarat setuju tanpa kata padanya. "Sepertinya, kejadian tadi siang bukan merupakan kecelakaan."
Tubuh Sasuke menegang seketika, tangannya mengepal erat dengan emosi yang siap untuk meluap kapan saja. "Maksudmu?"
"Tali pengikat balok kayu itu, sengaja dipotong." Jelas Gaara singkat. "Mandor kami menemukan potongan rapih pada tali rotan itu."
"Jadi kejadian siang tadi merupakan sabotase?" tanya Fugaku meyakinkan.
"Saya takut begitu." Jawab Gaara lagi.
"Kalau benar begitu, siapa yang diincar?" tanya Sasuke lagi dengan nada senormal mungkin, sementara Gaara hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu Sasuke," jawabnya singkat.
"Lebih baik kita laporkan hal ini pada pihak yang berwajib." Usul Fugaku.
"Apa itu perlu!" sahut Gaara.
"Perlu, aku takut mereka kembali melakukan aksinya lagi." Tukas Shikamaru tenang, sementara Gaara hanya terdiam memikirkannya.
"Jangan katakan tentang ini pada Naruto, aku takut dia cemas karena-nya." Pinta Sasuke.
"Kami mengerti," jawab Shikamaru. "Kami juga akan melakukan penyelidikan tentang ini. Jika ada kabar, aku pasti menghubungimu atau Fugaku-san."
"Hn, arigatou."
.
.
.
Keesokan harinya, Naruto datang untuk menjenguk Gaara sebelum pulang ke rumah. Dokter sudah mengijinkannya pulang siang ini. Naruto menangis dan memeluk Gaara erat, mengucapkan sejuta terima kasih padanya. Sasuke hanya bisa menghela napas berat saat melihat perilaku Naruto. 'Aku tidak boleh cemburu,' katanya dalam hati. Dia memang tidak suka jika istrinya itu menyentuh, apalagi memeluk lelaki lain selain dirinya.
Berkali-kali dia mengingatkan pada dirinya sendiri, jika Gaara adalah pahlawan Naruto saat ini. Jadi dia mencoba untuk mengerti dan bersikap setenang mungkin.
Sasuke kembali berkedut menahan marah saat dengan lancangnya Shikamaru memeluk Naruto dan mengecup keningnya ringan. Mengatakan dengan genit jika Naruto terlihat begitu cantik dengan perut buncitnya. Naruto hanya terkikik mendengarnya, dia tidak pernah menganggap serius ucapan Shikamaru karena dia memang senang menggodanya jika ada Sasuke di dekatnya.
"Lihat suamimu itu, Naruto." Bisik Shikamaru di telinga Naruto. "Dia seperti banteng yang hendak mengamuk." Katanya yang mengundang tawa renyah Naruto.
"Berhenti menggoda istriku!" sembur Sasuke tajam. "Atau rambut nanas mu itu akan tinggal kenangan." Ancamnya.
Shikamaru bersikap tenang menghadapi Sasuke, dia begitu menyukai Sasuke yang keluar dari tameng coolnya. Tanpa rasa takut, Shikamaru meletakkan tangannya di pundak Naruto dan menarik wanita mungil itu ke dekatnya. "Dia kawanku, apa hakmu melarang kami bicara?" Gaara hanya bisa menggeleng saat melihat sikap calon kakak iparnya ini.
"Aku suaminya!" Desis Sasuke. Shikamaru tertawa begitu keras dan menunjuk ke arah Sasuke. "Kamu harus lihat wajahmu saat ini, Sasuke!" katanya lantang. "Dasar possesive!"
"Terserah!" Sasuke segera meraih tangan Naruto dan dengan singkat pamit pada Gaara yang tetap harus berada di sana hingga dua hari ke depan. Naruto tersenyum kecil pada Gaara dan Shikamaru sebelum akhirnya mengikuti Sasuke keluar dari ruangan itu.
"Berani sekali kamu mempermainkan Sasuke." Sembur Gaara sesaat setelah Sasuke keluar. Shikamaru yang sudah kembali duduk menatap datar Gaara dan tersenyum tipis. "Dia selalu bersikap seperti itu jika menyangkut Naruto, karena itu aku senang menggodanya."
"Merepotkan!" tukas Gaara.
Shikamaru mendelik dan berdecak. "Itu kalimatku Gaara." Protesnya yang kembali menekuni laptopnya yang sengaja dia bawa untuk memantau pekerjaanya.
Dilain tempat, Karin yang sudah kembali dari jadwal pemotretannya di Kyoto kembali harus menelan kekecewaan saat mendengar jika anak buah Kabuto untuk kedua kalinya gagal melenyapkan Naruto. Dia melempar semua barang yang ada di dekatnya saat ingat perkataan Kabuto jika yang telah menolong Naruto adalah Gaara.
"Sial!" teriaknya lantang hingga menggema ke seluruh penjuru apartemen mewah miliknya.
"Percuma aku menjual tubuhku padanya, apa lebih baik jika aku menlenyapkannya juga?" tukasnya ragu. "Tapi bagaimana caranya?" Karin berjalan bolak balik, memikirkan rencana jahat bukan hanya untuk melenyapkan Naruto, tapi juga untuk melenyapkan Kabuto.
Dengan samar dia mengingat perkataan Kabuto saat mabuk, yang mengatakan jika dia sudah mencurangi Orochimaru, seorang bos mafia besar dengan cara menggelapkan uang puluhan juta yen dari kasino miliknya. Karin menyeringai jahat saat sebuah ide tersusun pada otak liciknya. "Jangan salahkan aku Kabuto, salahkan saja nasib burukmu!"
Dengan cepat Karin menyiapkan segala sesuatu untuk melancarkan rencananya. Yang dia perlukan hanya masuk ke dalam kasino milik Orochimaru, mendekati orang kepercayaannya dan membisikkan kebusukan Kabuto seolah-olah hal itu hanya gosip kecil. Cepat atau lambat gosip kecil itu pasti akan sampai ke telinga Orochimaru dan mau tidak mau dia pasti menyelidikinya, walau bagaimanapun uang yang dicuri Kabuto bukan jumlah sedikit.
Karin yakin, mati adalah hukuman final yang akan diberikan Orochimaru pada orang-orang yang berani mengkhianatinya. Jika itu terjadi, maka Karin tidak perlu repot-repot mengotori tangannya hanya untuk menyingkirkan Kabuto yang selama ini sudah menikmati tubuhnya dengan gratis dan mengancamnya akan membeberkan kepada pers tentang dia sebagai otak dalam percobaan pembunuhan Uchiha Naruto. "Sebentar lagi kamu akan mati!" desisnya jahat, setelah itu lengkingan tawa terdengar menggema. Tawa yang menguar jahat dan licik.
Sasuke sudah kembali duduk di balik meja kerjanya hari ini. Sudah hampir satu minggu dia tidak masuk kerja dan mengerjakan semua pekerjaannya di rumah, juga melakukan meeting dengan para staffnya menggunakan audio visual. Waktunya dia pakai untuk menjaga Naruto dan memastikannya untuk tidak keluar rumah. Sasuke sangat tidak tenang, terlebih dari hasil penyelidikan pihak yang berwajib, kejadian di resort itu memang sabotase.
Polisi sudah mendapatkan sketsa dua orang pelaku dan mengarah pada salah satu kelompok yakuza yang cukup berbahaya. Sasuke tidak habis pikir, ada kepentingan apa para yakuza itu dengan keluarganya terlebih dengan Naruto. Mengapa mereka ingin menyakiti istrinya? Para polisi itu mengatakan jika kemungkinan Gaara sebagai sasaran sangat kecil. Karena Gaara seringkali berada di lokasi dan tidak pernah terjadi apapun. Jadi kemungkinan lainnya hanyalah Naruto, dialah sasaran utama dari penjahat itu.
Hari ini Sasuke bisa kembali bekerja karena ada Kyuubi yang sengaja datang dari London untuk menjaga Naruto, memastikan dia tetap di rumah. Atau menjaganya jika memang dia ingin menghirup udara segar di luar.
"Aku ingin jalan-jalan, Kyuu-nii!" mohon Naruto dengan mata berkaca-kaca, berharap kakaknya itu luruh. Kyuubi hanya sekilas melirik ke arahnya dan kembali menatap layar TV flat besar di apartemen Naruto, meraih remote dan mengganti-ganti chanel dengan malas. "Tidak!" jawabnya tegas.
"Ayolah, aku bosan. Sudah lebih dari seminggu aku diam di rumah. Antarkan aku ke rumah kaa-san." Lanjut Naruto. "Aku ingin bertemu Aiko."
Kyuubi hanya menghela napas berat dan mematikan TV. "Baiklah, nii-san akan beritahu suamimu tentang ini. Jika dia mengijinkan, baru nii-san mengantarmu pergi."
"Kenapa harus ijin pada Sasuke? Dia pasti tidak ijinkan." Rengek Naruto bergelayut manja pada tangan kekar Kyuubi.
'Aku tidak mungkin mengatakan jika kamu sedang dalam bahaya.' Kata Kyuubi dalam hati. "Berdoa saja, semoga pantat ayam itu memberi ijin." Dengan cepat Kyuubi menghubungi Sasuke. Perlu beberapa kali panggilan hingga Sasuke menjawab panggilan itu. Setelah selesai bicara, Kyuubi memasukkan telepon genggamnya kembali pada saku celananya, menatap Naruto dan tersenyum cerah. "Ayo kita pergi, suamimu memberi ijin."
Tanpa sadar, Naruto berdiri dan meloncat-loncat gembira. Kyuubi yang melihatnya ketakutan dan histeris. "Berhenti Naruto, kamu sedang hamil!"
Sementara Naruto yang melihat kakaknya begitu panik hanya terkekeh, segera dia mengambil mantel kashmir hitam dan syal wol merahnya. Mengenakan sepatu flat dan meraih tas tangan untuk melawan dinginnya udara musim dingin di luar.
"Lakukan itu lagi dan mungkin aku akan mati karena panik!" sembur Kyuubi saat mereka keluar dari apartemen Naruto menuju kediaman Uchiha. "Aku hanya terlalu senang, nii-san." Jawab Naruto yang menutup pintu di belakangnya. Kyuubi meletakkan kedua tangannya di atas dada dan menatap galak adiknya itu. "Kamu sedang hamil, bagaimana kalau keponakanku keluar saat kamu loncat-loncat?"
Naruto memutar kedua bola matanya dan menatap Kyuubi dengan pandangan mengejek. "Jangan berlebihan, nii-san. Puteraku tidak akan keluar hanya karena aku melompat beberapa kali." Naruto membekap mulut Kyuubi saat melihat kakaknya itu hendak membalas perkataannya, kapan mereka pergi jika terus bertengkar? Sekuat tenaga Naruto menyeret kakaknya itu masuk ke dalam lift dan meyakinkan beberapa kali jika kejadian dia meloncat tidak akan terulang lagi, setidaknya saat dia hamil.
Kedatangan mereka disambut teriakan gembira Aiko, yang sore itu sedang bermain di halaman rumah dengan ditemani oleh seorang maid. Kyuubi mengangkat tubuh Aiko tinggi-tinggi dan memutarnya hingga gadis kecil itu terkikik kegirangan. Pelukan dan ciuman hangat di dapat Kyuubi juga Naruto setelahnya. Mikoto yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum, dia begitu bersyukur karena cucunya mendapat sosok ibu juga paman yang begitu tulus mencintainya.
Dengan halus Naruto mengajak Aiko masuk ke dalam, karena salju kembali turun dan cuaca semakin dingin. Aiko sama sekali tidak menolak, dia segera masuk ke dalam dengan menggandeng tangan Kyuubi juga Naruto di sisi kanan dan kirinya.
Malam itu Naruto tertidur di kamar Aiko, mereka saling memeluk satu sama lain. Sasuke yang baru tiba di rumah menjelang pukul sembilan malam langsung digiring Fugaku ke dalam ruang kerjanya bersama dengan Kyuubi. "Ada apa?" tanya Sasuke saat melihat raut muka cemas dan serius dari ayahnya itu. "Baca laporan ini!" kata Fugaku dengan menyerahkan dua buah dokumen, masing-masing satu untuk Sasuke dan Kyuubi.
Wajah Sasuke dan Kyuubi seketika menegang saat mereka membaca laporan yang ada di tangannya. Kyuubi menjadi orang pertama yang selesai membaca laporan itu. "Siapa Kabuto?" tanyanya seraya menutup laporan dan menatap Sasuke lalu Fugaku secara bergantian.
"Dia pernah satu sekolah denganku juga Naruto saat kami SMA dulu," jawab Sasuke datar. "Tou-san yakin laporan ini bisa dipercaya?" tanya Sasuke lagi.
Fugaku mengangguk. "Apa Kabuto pernah memiliki masalah dengan Naruto?"
"Tidak," jawab Sasuke singkat. "Jika benar dia dibalik semua ini, aku yakin dia melakukannya untuk menyakitiku."
"Maksudmu?" tanya Fugaku dan Kyuubi kompak.
"Aku pernah berselisih dengannya, tapi sudah begitu lama. Aku bahkan tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi hampir delapan tahun ini." Jelas Sasuke dengan hembusan napas berat.
"Aneh jika tiba-tiba dia menyerang Naruto, pasti ada sesuatu dibalik ini." Sahut Kyuubi. Sasuke berpikir keras, mencoba mengingat barangkali ada sesuatu yang dia lupakan, namun nihil.
"Kamu yakin, tidak ada hal lain yang kamu lupakan Suke?" tanya Fugaku lagi sementara Sasuke hanya menggelengkan kepala.
"Apa mungkin dia disuruh seseorang, lawan bisnis Uchiha corp mungkin?" tukas Kyuubi menyentak kedua Uchiha yang ada di dalam ruangan itu.
"Mungkin saja," gumam Sasuke frustasi. "Jika semua bukti sudah ada, seharusnya Kabuto sudah ditangkap saat ini, bukan begitu?"
"Sayangnya polisi tidak memiliki bukti lain untuk menangkap Kabuto."
"Kenapa bisa begitu, tou-san?"
"Karena anak buah Kabuto yang ditangkap kemarin, bunuh diri di dalam sel mereka tanpa memberikan keterangan apapun."
"Sial," umpat Sasuke dengan menggebrak meja keras. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Sementara ini kita harus bisa membuat Naruto tetap tinggal di rumah. Lebih baik kalian tinggal disini, tou-san rasa itu lebih aman." Sasuke dan Kyuubi mengangguk mengerti, setelah selesai mereka segera keluar dari ruangan itu. Kyuubi pamit kembali ke apartemen Sasuke, karena semua barangnya masih ada di sana. Sementara Sasuke pergi mencari Naruto yang saat ini tertidur lelap bersama Aiko.
.
.
.
Satu minggu berlalu setelahnya, Sasuke ataupun Kyuubi yang terus mengapit kemanapun Naruto pergi membuat gerah wanita hamil itu hingga akhirnya dia bertanya dengan nada geram pada keduanya. "Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanyanya sementara kedua pria yang duduk di hadapannya diam, seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Naruto.
"Suke? Kyuu-nii?"
Mereka tetap diam, beruntung kediaman Uchiha sedang sepi saat ini. Fugaku dan Mikoto sedang membawa Aiko keluar untuk belanja kebutuhan gadis kecil itu. Awalnya Naruto protes, karena belanja kebutuhan Aiko adalah tugasnya juga Sasuke. Tapi Mikoto berhasil menenangkannya, dan mengatakan jika Naruto tidak boleh terlalu lelah. Mikoto yang sudah mengetahui alasan dari keanehan sikap suaminya juga putranya menjadi pendukung setia setiap tindakan yang keduanya ambil untuk melindungi Naruto. Dan jangan lupakan Kyuubi yang tidak kalah over protectivenya.
"Jadi?" tanya Naruto lagi yang sudah habis kesabarannya.
"Tidak ada apa-apa, Naruto." Sahut Kyuubi tenang. Sementara Sasuke memindahkan chanel TV dan terbelalak saat melihat berita yang terpampang di layar flat itu. Naruto yang melihat perubahan mimik wajah Sasuke, memalingkan wajahnya untuk melihat berita di TV. "Oh Tuhan," gumamnya terpekik kecil dan menutup mulut dengan tangannya karena kaget.
Kyuubi menelan ludah saat melihat berita itu. Tayangan itu memberitakan jika seorang laki-laki berusia kira-kira dua puluh enam tahun yang diketahui bernama Kabuto tewas mengenaskan dengan beberapa tusukan di tubuhnya. Dicurigai kematiannya dikarenakan perebutan lahan dan kekuasaan antara kelompok yakuza yang ingin melebarkan kekuasaannya.
Tiba-tiba saja Naruto merasa perutnya kejang dan tidak nyaman. Dia tidak pernah membayangkan jika salah satu orang yang dikenalnya bisa berakhir begitu mengenaskan. Sasuke yang melihat wajah Naruto yang begitu pucat segera membawa istrinya itu ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Ada apa?" tanya Sasuke lembut. Ditariknya selimut hingga batas dada Naruto dan disingkirkannya anak rambut Naruto yang menutupi mata kanannya. Naruto menggenggam erat tangan Sasuke dan meletakkannya di atas dadanya. "Aku tidak pernah menyangka jika Kabuto akan berakhir begitu tragis. Aku benar-benar kasihan padanya." Tukas Naruto lirih.
Sasuke tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini. Dia sama sekali tidak merasa simpati pada Kabuto, memang dia merasa sedikit bersalah karena merasa senang dengan kematian Kabuto, karena dengan itu, Naruto bisa kembali ke kehidupannya yang normal. Oh, betapa salahnya Sasuke. Karena otak dibalik semua ini masih berkeliaran dengan bebas.
Karin tertawa terbahak-bahak saat melihat berita kematian Kabuto. "Akhirnya kamu mati juga bedebah! Sekarang tinggal wanita jalang itu yang akan menyusulmu ke alam baka!" Karin terus tertawa seperti orang gila, obsesinya untuk membunuh Naruto begitu besar hingga tidak sadar membuat dia terganggu jiwanya.
Beberapa hari kemudian Kyuubi memutuskan untuk kembali ke London karena merasa jika Naruto sudah aman sekarang. Sasuke mengendarai mobilnya dengan tenang, Naruto duduk di sampingnya sedikit gelisah. Mereka tidak banyak bicara saat ini, terkadang hanya menyinggung tentang cuaca yang semakin buruk dan setelah itu kembali hening.
Naruto segera kembali ke kamarnya setelah menidurkan Aiko, sudah dua minggu mereka tinggal di kediaman Uchiha. Mikoto bersikeras agar Naruto tetap tinggal, karena kehamilan Naruto yang semakin tua dan dia cemas jika meninggalkan menantunya itu di apartemen.
Kehamilan Naruto sudah memasuki minggu ke dua puluh delapan, dia semakin cepat lelah sementara perutnya semakin membuncit. Berat badannya sudah naik hampir sembilan kilo saat ini. Pipinya terlihat sedikit chubby, tapi hal itu malah membuatnya semakin menawan dan memesona.
"Suke..." Panggilnya lembut saat sang suami masih berkutat dengan pekerjaannya. "Aku tidak tahu, beberapa bulan ini batinku selalu mengatakan jika kalian menyembunyikan sesuatu dariku."
Perkataan Naruto sukses membuat Sasuke mendongak ke arahnya, dia berjalan ke tempat tidur mereka meninggalkan pekerjaannya, berbaring dan merengkuh Naruto ke dalam pelukannya. "Tolong, katakan padaku!"
Akhirnya dengan terpaksa Sasuke mengatakan kebenarannya pada Naruto, dimulai dari kecelakaan yang hampir melukai Naruto di tempat parkir hingga insiden di resort. Naruto bergetar dan membenamkan diri di dada bidang pria itu. Tanpa terasa pipinya basah karena air mata. "Kalian mencoba melindungiku, tapi aku malah merepotkan kalian semua. Maaf, selama ini aku terus membantah mu, Sasuke." Katanya sambil terisak.
Dengan lembut Sasuke menghapus air mata Naruto dan mengecup kelopak mata itu penuh kasih sayang. "Aku yang seharusnya minta maaf karena menyembunyikan ini semua darimu, aku tidak ingin kamu cemas, Naruto."
Naruto kembali teringat saat dia dengan keras kepala meminta kepada Sasuke untuk kembali bekerja, atau pergi keluar untuk jalan-jalan juga pergi ke proyek. Semua itu membuat dia juga janinnya dalam bahaya, hanya karena kuasa Tuhanlah dia masih bisa hidup dan selamat dari rencana jahat itu. "Tapi kenapa Kabuto berniat mencelakaiku, Suke? Kenapa?" tanyanya berulang.
"Entahlah, aku pun tidak tahu." Jawab Sasuke sambil menggelengkan kepala.
.
.
.
Hari-hari berikutnya berjalan normal bagi keluarga itu. Naruto bekerja seperti biasa dan Sasuke selalu menjaga di sisinya. Naruto tidak pernah protes lagi, dan menerima apa yang dikatakan Sasuke padanya. Sasuke pun sudah memberikannya kelonggaran, dia sudah mengijinkan Naruto untuk pergi berkumpul bersama teman-temannya yang lain tanpa merasa cemas. Naruto sangat senang karenanya, dan Sasuke selalu mendapat hadiah yang tak terkira setiap malam hari tiba dari Naruto.
Naruto berada di balik kemudi sore ini, sudah tiga hari Sasuke keluar kota untuk bekerja. Sore ini Naruto harus menjemput Aiko karena Mikoto terkena flu dua hari ini. Naruto mengendarai mobilnya dengan tenang tanpa menyadari ada sebuah mini van hitam yang selalu membuntutinya kemanapun dia pergi selama satu minggu ini.
"Kamu harus mati!" racau Karin.
Baru saja Naruto hendak berbelok saat mobilnya di tabrak dengan kekuatan penuh dari belakang oleh sebuah minivan, kendaraan Naruto keluar jalur hingga akhirnya berhenti karena bagian sisi pengemudi mobil Naruto menghantam sebuah pohon besar dengan keras. Kantong udara terbuka di depan wajah Naruto, dia menjerit keras sebelum akhirnya terjatuh ke dalam kegelapan total.
Sementara Karin, karena jalanan begitu licin dia menjadi sulit untuk mengendalikan minivannya. Kendaraannya yang menerobos lampu merah dihantam dengan keras oleh sebuah truck yang melintas hingga remuk dan terguling beberapa kali.
Dunia sekeliling Sasuke terasa berhenti berputar saat dia mendapat kabar dari Fugaku tentang kecelakaan itu. Dia merasa mual, perutnya kejang, dan jantungnya seakan berhenti saat Fugaku terus bicara di telepon. Sasuke tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit malam itu. Pikirannya kosong saat supir pribadinya mengendarai mobil pulang ke Konoha dengan kecepatan penuh.
Sasuke tiba di ruang gawat darurat, dia melihat Fugaku dan Mikoto yang begitu pucat berada di sana. Bagaimana jika bayi mereka meninggal, bagaimana jika Naruto meninggal, batin Sasuke. "Tou-san, bagaimana keadaan Naruto?"
"Parah," jawab Fugaku menepuk bahu Sasuke. Mikoto berdiri, dia terisak dan bergetar saat bicara pada Sasuke. "Ini salah kaa-san, jika kaa-san bisa menjemput Aiko, Naruto pasti baik-baik saja saat ini." Sasuke memeluk ibunya itu erat, bagaimana mungkin dia menyalahkan Mikoto atas kejadian ini.
Fugaku segera membawa Sasuke ke ruang operasi, mereka bertiga menunggu dengan cemas. Sasuke berdiri saat melihat salah satu perawat keluar dari ruang operasi dan mencercanya dengan beberapa pertanyaan. "Bagaimana istriku? Kenapa dia harus dioperasi?"
Perawat itu menjawab pertanyaan Sasuke dengan tenang. "Dokter sedang berusaha keras untuk menyelamatkan keduanya," saya permisi.
"Dia tidak menjawab pertanyaanku yang lain," tukas Sasuke frustasi. Sasuke duduk dengan kepala tertunduk, sementara Fugaku mencoba untuk menenangkan istrinya. Beberapa saat kemudian Tsunade keluar dari ruang operasi dan berjalan ke arah Sasuke. Sasuke yang melihatnya segera bangkit. "Bagaimana istriku?"
"Kami harus melakukan operasi caecar." Jawab Tsunade tenang.
"Kenapa?"
"Naruto mengalami pendarahan internal, dengan operasi caecar kami berharap bisa menyelamatkan salah satu diantaranya."
"Maksud anda apa dokter?" yanya Sasuke menahan emosi, air matanya dia tahan sekuat tenaga agar tidak menyeruak keluar.
"Hanya kuasa Tuhan yang bisa menyelamatkan keduanya, kami harus segera mengoperasinya. Karena itu, tolong tandatangani beberapa berkas agar operasinya bisa kami mulai!"
Setengah sadar Sasuke menandatangani semua berkas itu. Beberapa jam kemudian ruang tunggu penuh sesak oleh kerabat mereka, teman-teman baik Sasuke juga Naruto berdatangan untuk memberi dukungan. Sasuke sama sekali tidak mendengar dan merasakan saat orang-orang itu bicara padanya, merangkulnya untuk menenangkan dirinya.
Yang dia rasakan hanyalah waktu yang berputar begitu lambat. Sudah hampir empat jam, tapi operasi masih belum selesai juga. Sasuke hanya bisa menunggu, dan berharap jika esok dia masih memiliki Naruto juga bayi mereka disisinya. Tiba-tiba ruangan tunggu itu menjadi sunyi senyap. Sasuke yang merasakan perubahan suasana mendongak dan melihat Tsunade yang berdiri di pintu ruang tunggu.
"Kami melakukan operasi caesar dan berhasil mengeluarkan bayinya," kata Tsunade. "Bayi kalian hanya seberat satu setengah kilo, dia berada di lantai empat di ruang NICU saat ini."
"Bagaimana keadaannya?"
"Kita beruntung, puteramu bisa selamat walau masih terlalu dini untuk merasa senang. Bagaimana pun kita tetap harus mengawasinya dua puluh empat jam ke depan. Kamu bisa melihatnya di NICU."
"Lalu bagaimana dengan istriku?" tanya Sasuke tegang.
Tsunade menarik napas dan memberikan sedikit jeda sebelum akhirnya dia menjawab. "Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Pendarahannya terlalu parah," tukas Tsunade.
"Apa dia akan bertahan hidup?"
"Entahlah," jawab Tsunade jujur. "Dua puluh empat hingga tujuh puluh dua jam ke depan merupakan masa kritis untuknya. Jika selama dua puluh empat jam dia bisa bertahan, aku yakin kemungkinan dia hidup sangat besar."
"Boleh aku melihatnya?" pinta Sasuke memelas.
"Baiklah," jawab Tsunade. "Aku akan bicara pada perawat ICU agar mengijnkanmu melihat Naruto selama lima belas menit. Dia ada di lantai tiga."
Sasuke mengangguk dan berterima kasih pada Tsunade. "Biar tou-san menjelaskan semua ini pada semua. Kamu pergilah!"
Dengan langkah gontai Sasuke masuk ke ruang ICU, dia merapalkan dalam hati jika Naruto akan baik-baik saja. Bayi mereka akan hidup dan tumbuh sehat. Seorang perawat mengantar Sasuke ke ruangan Naruto. Tubuh Sasuke terasa sakit saat melihat Naruto yang berbaring kaku, dengan luka, memar serta lebam di sekujur tubuh. Tubuh mungilnya dipasangi selang dan kabel untuk memonitor kesehatannya.
Sasuke terisak dan menangis melihat kondisnya. "Bertahanlah, demi aku, demi Aiko juga demi putera kita. Putera kita begitu sehat, dia menginginkan ibunya." Katanya setengah berbohong, dia ingin menguatkan Naruto, berbicara padanya untuk memberikan dorongan untuk bertahan hidup.
Setelah waktu habis, Sasuke pun melangkah menuju ruang NICU di lantai empat. Di sana sudah ada Fugaku juga Mikoto. Saat ini perawat hanya memberikan ijin kepada salah satu diantara mereka untuk masuk. Dan Sasuke menjadi orang pertama yang melihat keadaan puteranya.
Perawat itu memakaikan baju steril berwarna hijau pada Sasuke juga memberikan masker dan sarung tangan sebelum dia masuk ke dalam ruang NICU. Air mata Sasuke kembali mengalir saat melihat tubuh rapuh puteranya yang dipasangi selang juga kabel sama seperti Naruto. Sasuke melihat rambut bayi lelakinya berwarna raven seperti dirinya, namun matanya tertutup rapat hingga dia tidak bisa melihat warna dari bola matanya.
Tubuh bayi itu begitu kecil, jari-jari tangan dan kakinya begitu sempurna. Sasuke tercekat karenanya, bermacam emosi mengalir di dalam dirinya saat ini. "Berjuanglah untuk hidup, sayang. Tou-san dan kaa-san sangat menyayangimu. Bertahanlah demi kami!" katanya lirih.
Waktu berputar cepat setelahnya. Sasuke sangat marah saat mendengar jika penabrak Naruto adalah Karin. Dia juga tersentak kaget saat polisi mengatakan menemukan banyak sekali foto istrinya di dalam apartemen Karin. Polisi mulai menggabungkan temuan terbarunya dengan hasil laporan terdahulu dan menemukan kecocokan pada beberapa bagian. Mereka menyimpulkan jika sebenarnya Karin adalah otak dari kejahatan yang dilakukan Kabuto pada Naruto. Sementara Kabuto bertindak sebagai pion.
Hidup Karin tidak kalah tragis dari Kabuto. Dia tewas seketika saat truck itu menghantam minivannya dengan keras. Saat itu Karin tidak menggunakan sabuk pengaman sehingga tidak ada yang menahan tubuhnya saat benturan keras terjadi. Sasuke merutuki dirinya karena tidak pernah berpikir jika dalang dibalik ini semua adalah Karin.
"Sudahlah, berhenti menyalahkan diri sendiri. Wanita itu sudah mati, sekarang yang terpenting adalah Naruto juga bayi kalian." Hibur Fugaku.
.
.
.
Para kerabat datang silih berganti, begitu juga dengan teman terdekat mereka. Mereka datang untuk memberikan dukungan, keluarga Naruto sudah berada di Konoha sejak kemarin. Mereka terus menguatkan Sasuke dan berdoa demi keselamatan Naruto juga bayinya.
Di hari ketiga Sasuke kembali bertanya kepada dokter mengapa Naruto masih belum bangun. Dokter tidak mengatakan jika Naruto koma saat ini, mereka hanya mengatakan jika para dokter mengusahakan yang terbaik untuk istrinya tersebut. Sasuke pun bolak-balik melihat perkembangan puteranya yang mengalami kemajuan begitu pesat. Dokter mengatakan jika putra mereka adalah bayi yang sangat kuat, perkembangannya begitu menjanjikan, Sasuke merasa sedikit lega mendengarnya.
Enam puluh dua jam kemudian, akhirnya Sasuke mendapatkan kabar gembira. Perawat memanggilnya dan mengatakan jika Naruto baru saja sadar dan ingin menemuinya. Sasuke segera bergegas dan mendapati Tsunade berdiri di samping tempat tidur Naruto untuk memeriksanya. Beberapa saat kemudian Tsunade pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bayi kita?"
"Dia sehat, ada di lantai empat." Jawab Sasuke membelai lembut pipi Naruto yang masih menyisakan beberapa luka juga lebam di wajahnya. Diraihnya tangan Naruto dan diletakkannya ke pipinya. "Jangan menangis, Sasuke," kata Naruto lemah.
"Bagaimana mungkin aku tidak menangis," jawab Sasuke mengecup ringan punggung tangan Naruto. "Aku hampir saja kehilangan wanita yang begitu aku cintai."
Naruto tercekat mendengar pengakuan Sasuke, hatinya seakan tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi, Sasuke mengatakan jika dia mencintainya.
"Aku mencintaimu Naruto, sangat mencintaimu." Katanya jujur. "Aku akan sabar menunggu hingga kamu membalas cintaku." Tambahnya lagi.
"Aku pun mencintaimu Sasuke, sangat mencintaimu." Balas Naruto, Sasuke yang mendengarnya begitu bahagia ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka berdua saling mencintai, jiwanya terasa begitu utuh saat ini. Dikecupnya bibir Naruto ringan dan berkali-kali dia terus mengatakan jika dia mencintai wanita itu.
.
.
.
Dua tahun berlalu setelahnya, putera mereka yang bernama Uchiha Menma tumbuh menjadi anak yang pintar juga menggemaskan. Dia merupakan salinan dari Sasuke kecuali untuk bola mata sapphirenya.
Hari ini merupakan ulang tahun Menma yang kedua. Mereka merayakannya begitu sederhana, hanya ada keluarga dan teman terdekat saja yang datang. "Kenapa dari tadi kamu diam saja, Sasuke?" tanya Naruto saat kembali ke dalam kamar mereka setelah menidurkan Menma di dalam kamarnya, juga mengucapkan selamat malam pada Aiko.
"Menma juga Aiko tidak pernah bisa lepas darimu, Naruto." Sahut Sasuke.
Naruto berdecak dan menatap Sasuke saat menjawab. "Aku ibunya, tentu saja mereka lengket padaku."
"Tapi aku ayah mereka." Jawab Sasuke keras kepala.
Naruto yang sudah bersiap untuk tidur segera bergabung bersama Sasuke di atas tempat tidur king size mereka. "Kamu ini sebenarnya kenapa?" tanya Naruto tak mengerti.
"Aku ingin satu anak lagi dan dia harus lengket padaku!"
"Ya ampun, kamu terlalu berlebihan!" tukas Naruto tajam, dia menarik selimut dan tidur membelakangi Sasuke.
"Jangan tidur, koi. Malam ini aku harus berhasil membuatmu kembali hamil!"
"Jangan mimpi! Anak-anak kita masih terlalu kecil untuk memiliki adik lagi!" jawabnya sambil berusaha agar tidak luluh pada rayuan yang dilancarkan Sasuke malam ini.
Begitulah, kehidupan rumah tangga mereka berjalan layaknya keluarga normal. Pertengkaran kecil itu ada sebagai pelengkap kehidupan mereka. Dan sepertinya Sasuke memerlukan usaha yang cukup keras agar Naruto mau kembali hamil.
.
.
.
END
Special Thank's :
DheKyu, izanami kayo, Sora98, Nyanmaruchii, dwidobechan, sheren, aster-bunny-bee , , Nia Yuuki, Nyanmaruchii, Son Sazanami, Ayame Nakajima, Naru on the way, izanami kayo, , Earl Louisia vi Duivel, , I'm A Lighweight17, , Nia Yuuki, devilojoshi, aniez, kaname, aqua, Xxferessa-TanXx, guest, Ciel-Kky30, Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong, ANEmonE, 1412, dark takuma, Reve Light, Pink Purple Fuchsia, Ryuu-chan, HikaHota, minnie aria, Namikaze shira, EvilmagnaeMin, Sherry Kurobara, mamitsu27, Hye Rin No Hyuuga, Mizuumi, Melia Tsuzumi Taoru, Nanaki Kaizaki, DheKyu, arisha matsushina, Dobe Hilang, Imperiale Nazwa-chan, Narita Menari-nari, melbuble, angel, cutenaru, CindyAra, Yuki No Fujisaki, Narulovers, SapphireSkyBlue, Rin-X-Edden, Vivinetaria, Yuki No Fujisaki, eimi, QRen, lilili, usami niella, Aisanoyuri, , aozora-bluesky, Princess Li-chan, Puput mochito, devilojoshi, aretabelva, ShiroUsagi, virgi. , Xxferessa-TanXx, hanazawa kay, Gulliet, Shinkatsu, AzuraCantlye, lalafahmi, miszshanty05, ghighichan, Dee chan - tik, do it, AkemyYamato, , Princess Love Naru Is Nay, BlackXXX Vipris, kirei- neko, Vermthy, Deshe Lusi, riringo, Amkus, Nurachan, fransisca. , , hikayasi ocean, al
