How I miss you all!
(EDITED)
Gomenasai... hiks... aku bener2 writer's block makanya baru update sekarang... T.T
Balesin review dulu...
CraZy-AneH-GiRL : he... cliffhanger yah? gomen.. nggak ngelanjut2in lagi. Hehe. Tapi silakan lihat lanjutannya di sini...
Yuuichi93 : Arigatou... iyah, si Ooki mati kena Rasen-Shurikennya Naruto... maaf baru melanjutkan sekarang...
Kuniko Toya : Arigatou udah mau baca.. Toya-san.. )
Reku-maku : Kata siapa 2 chapter lagi? Lebih, kok. Iya ya, Hinata-nya kelihatan lemah.. gomen... gomen baru lanjutin sekarang... doakan aku mampu menyelesaikan... hiks...
itachi4ever : haha... penulis yang mantap ga akan kena writer's block selama ini.. T.T
naix : arigatou... huwe... maaf baru update...
Oke. Chapter ini menggunakan Goodbye-nya Air Supply, maaf untuk segala kenaehan dalam cerita ini, and sorry to all of NaruHina fans...
Disclaimer: sudah tau laa...
On to the story!
XIV. COUNTDOWN : 3—GOMENASAI
Mata hijau zambrud indah milik Haruno Sakura perlahan terbuka, seiring dengan langkah-langkah yang terdengar di lorong kamarnya. Gadis lima belas tahun itu mendesah, lalu menegakkan posisi duduknya di atas tempat tidurnya.
Benar saja, tidak lama kemudian suara ketukan pada pintu kayu ruangannya terdengar. Sakura tersenyum dan berujar,
"Masuk!"
Derit kayu terdengar seiring dengan daun pintu yang terdorong ke belakang, menampakkan sesosok pemuda berambut kuning dan bermata langit. Pemuda itu tersenyum akrab dan melambaikan tangan kirinya pada sang gadis.
"Konnichiwa, Sakura-chan!"
"Konnichiwa, Naruto! Duduklah," balas Sakura seraya menunjuk sebuah kursi di sebelah tempat tidurnya. Naruto mengangguk dan menarik kursi tersebut, sebelum akhirnya duduk di sana.
Saat itulah mata tajam milik Sakura menangkap keganjilan pada penampilan pemuda di depannya; pada lengan kanannya yang terbalut perban lebih tebal dengan masih tersisa noda darah kemerahan di sana.
Kening gadis itu berkerut. Apakah...
Rupanya Naruto menyadari arah tatapan Sakura. Ia mengelus-elus perban yang membalut tangan kanannya itu sembari nyengir meminta maaf.
"Naruto..." ucap Sakura. "Jangan bilang kalau kau menggunakan jutsu itu lagi!"
Pemuda di depannya hanya menyeringai saja.
"BAKA! Bukankah Kakashi-sensei dan Tsunade-sama sudah menyuruhmu untuk tidak menggunakan jutsu itu lagi, Naruto? Kenapa kamu masih menggunakannya juga?! Kamu tahu kan, kalau jutsu itu seperti pedang bermata dua, dia bisa menghancurkan tangan kananmu! Pernahkah kau mengindahkan apa yang sudah diberitahukan kepadamu, NARUTO?!" semprot Sakura, kedua alisnya bertaut khawatir.
"Hai... hai... gomen ne, Sakura-chan! Tapi jangan berteriak begitu!" protes Naruto.
Sebelum Naruto sempat berkata apa-apa, dengan cepat Sakura mengambil tangan kanan pemuda itu dan mulai memeriksanya. Ia menggumamkan sebuah jutsu, dan chakra berwarna kehijauan bersinar di tangan kanannya. Gadis itu mengarahkan chakra tersebut menembus perban di tangan kanan Naruto, membiarkan chakra itu memperbaiki apa-apa yang ditemukannya.
Sementara itu, Naruto tidak memprotes. Pemuda itu malah melayangkan pandangannya pada sebuah tempat tidur yang ditutupi tirai di sudut kamar. Pikirannya dipenuhi oleh sosok yang berada di baliknya, yang hingga saat ini masih belum juga mendapatkan kembali kesadarannya.
Hinata-chan...
Setelah sunyi beberapa saat, Sakura menghentikan aktivitasnya. Gadis itu menghela napas lega, dan kembali menyandarkan punggungnya pada bantal di belakangnya.
"Berterimakasihlah pada Kyuubi, Naruto. Kalau Kyuubi tidak segera menutup lukamu dengan kemampuan healing-nya, bisa kupastikan tangan kananmu pasti sekarang sudah tiada..." ucap Sakura menceramahi.
Namun Naruto tidak berkata apa-apa.
"Naruto?"
Pemuda yang dipanggil malah bangkit dan melangkah ke sudut kamar. Ia menyibakkan tirai yang menutupi tempat tidur di sana dengan lembut, dan berdiri terpaku di sana menatap sosok yang terbaring di dalamnya.
Sakura melangkah turun perlahan, dan berjingkat mendekati Naruto. Refleks, ia langsung mengambil selang infus yang tergantung di dekat sang gadis bermata lavender; dan mengecek sambungannya.
Naruto mendesah. Mata biru langitnya menatap sosok lemah yang terbaring di atas tempat tidur itu, yang kedua matanya masih terkatup.
Hinata-chan...
Pemuda itu mengambil tangan kanan sang gadis yang tidak terhubung dengan infus, dan menggenggamnya. Seolah berusaha mengalirkan kekuatan ke sana.
Sakura tersenyum simpul melihat pemandangan di depannya. Gadis itu menepuk pundak Naruto perlahan.
"Memangnya, apa sih yang terjadi kemarin?"
Yang ditanya menoleh sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke langit-langit putih rumah sakit.
"Aku juga tidak terlalu mengerti, Sakura-chan..." ucap Naruto menggantung. "Tapi yang pasti, kemarin gawat sekali..."
Pemuda itu melirik tangan kanannya yang terbalut perban, mengerenyit sejenak saat nyerinya kembali terasa. Lalu ia menoleh pada sosok gadisnya yang terbaring diam. Ia mengeratkan pegangan tangannya.
"Ya... gawat sekali..."
oOoOo
Cerita itu mengalir dari bibir Naruto. Sakura hanya diam dan mendengarkan. Selama bercerita, tidak sekalipun Naruto melepaskan genggaman tangannya, erat bertaut dengan tangan kanan Hinata.
oOoOo
"Begitu..." ucap Naruto, menyelesaikan ceritanya.
Sakura mengangguk-angguk, namun wajahnya masih menyiratkan kebingungan. "Tapi... sebenarnya dia itu siapa? Mengapa dia mengincar Hinata-chan? Atau... dia memiliki dendam terhadap Hyuuga? Atau jangan-jangan tujuan dia adalah Konoha?" berondong gadis itu.
Naruto mengedikkan kepalanya. "Nggak tahu..."
Kening Sakura berkerut. Ingatannya melayang kembali ke kata-kata terakhir yang didengarnya sebelum ia pingsan dulu...
"Sampaikan salamku pada Hiashi-sama."
Ia bergidik, lalu menoleh pada gadis bermata lavender yang masih terbaring itu. Kekhawatiran terlukis di wajahnya, tatkala bayangan sosok tinggi besar itu muncul lagi di benaknya...
Gadis itu menepuk pelan pundak Naruto yang masih terpekur. "Yuk, Naruto," ucap Sakura. "Sepertinya... ada sesuatu yang berkaitan dengan Hinata-chan yang harus kusampaikan kepadamu. Tapi tidak bisa di sini. Ayo kita ke ruangan lain,"
Demi melihat keseriusan di mata zambrud sahabatnya itu, akhirnya dengan berat hati Naruto melepaskan genggaman tangannya. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri mengusap beberapa butir keringat yang membasahi kening gadisnya itu, dan membenahi poninya yang berantakan.
Naruto menatap gadis itu, dengan tatapan sayang, namun khawatir. Ia berbisik lembut,
"Cepat sadar ya, Hinata-chan..."
Kemudian terdengar langkahnya dan langkah Sakura pergi menjauh.
Entah mengapa, namun setitik air mata mengalir dari mata lavender Hinata yang masih terkatup.
oOoOo
"Lemah,"
Otousama... Neji-niisan...
Ino-chan... Sakura-chan... Tenten-chan...
Mimpi itu menghantuinya.
"Jangan menghalangi langkah orang lain."
Kiba-kun... Shino-kun... Kurenai-sensei... Tsunade-sama...
Ia merintih dalam ketidaksadarannya.
Naruto-kun...
Mimpi-mimpi buruk itu berputar di benaknya, semakin cepat.
Aku... tidak ingin... menjadi beban...
Bening mengalir dari matanya.
Gomen... gomenasai...
oOoOo
Butiran keringat sebesar biji jagung bermunculan di wajah gadis itu. Tubuhnya panas. Mesin yang berkait pada tubuhnya mengeluarkan dering alarm yang bersinar merah.
RRRRRIIIIIIIINNNNNNGGG!!
Tsunade berjalan menuju kamar Hinata, dengan langkah-langkah panjang penuh kekhawatiran. Di belakangnya, Shizune mengikuti dengan langkah tak kalah bergegas. Semua probabilitas mengenai keadaan muridnya itu membuat sang Hokage tidak mau membuang waktu.
Jika berdasarkan pada hitungan mundur, seharusnya ia masih memiliki beberapa hari lagi! Tapi... kondisinya kemarin sangat mengkhawatirkan... jika racun itu sampai berkomplikasi dengan lukanya...
Masih belum sadarkan diri, gadis itu terbatuk, mengalirkan asin. Perban di tangan dan kakinya kembali memunculkan noda merah. Lukanya terbuka lagi.
Tsunade membuka pintu dengan cepat, nyaris mendobraknya. Dering alarm masih terdengar.
RRRRRIIIIIIIINNNNNNGGG!!
"Shizune!" teriak sang Hokage. "Siapkan peralatan secepatnya!"
oOoOo
...
I can see the pain living in your eyes
and I know how hard you try
you deserve to have much more...
...
Naruto melangkah masuk perlahan. Ia mengarahkan tujuannya ke tirai di sudut kamar, lalu menyibakkannya. Kamar itu bernuansa senja, seperti matahari di luar yang mulai memudar.
"Hinata-chan?" rabanya pelan.
Sosok dalam tirai membuka matanya perlahan, lalu berbisik.
"Naruto... kun?"
Sosok berambut kuning itu tersenyum lembut. "Bagaimana keadaanmu?"
Yang ditanya balas tersenyum lemah. Mimpi-mimpinya masih berputar-putar di benaknya, menyisakan sebuah rasa sakit di dadanya, bersama dengan perasaan mersalah yang menggumpal-gumpal di dalamnya.
Naruto pun tidak berniat memulai percakapan. Ia hanya duduk di sana, tangannya refleks meraih tangan Hinata. Pikirannya juga berada di tempat yang lain, masih bersama kata-kata Sakura yang terngiang-ngiang di benaknya.
"Aku khawatir, Naruto... entah apa yang sudah dia lakukan pada Hinata-chan, tapi sepertinya kondisi Hinata-chan aneh. Luka-lukanya terbuka secara tidak wajar. Dan sepertinya... ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tsunade-shishou..."
Ia mencuri pandang ke arah Hinata, melihat wajah gadis itu yang pucat. Ia terlihat lebih kurus dan sangat capai. Dan saat itu, Naruto menyadari bahwa sedari tadi ada sesuatu yang terlihat mengganggu pikiran Hinata. Namun ekspresi gadis itu membuatnya tidak ingin bertanya.
...
...I can feel your heart and I sympathize
and I'll never criticize
all you've ever meant to my life...
...
Hinata berusaha keras mengendalikan emosinya. Ia ingin menangis, sungguh. Gadis itu menghela napas panjang.
Ia menyadari bahwa sedari tadi Naruto memandanginya, namun entah mengapa pemuda itu sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata.
Kesunyian masih menggantung diantara mereka.
Kesunyian yang aneh. Namun saat ini, Hinata membiarkannya. Ia masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan dirinya...
Atas sebuah keputusan yang ia ambil. Keputusan yang ia tahu, bisa jadi sangat tidak masuk akal. Keputusan yang mungkin akan ia sesali. Keputusan yang mungkin tidak akan bisa dimengerti oleh semua orang, bahkan mungkin sampai nanti.
Sampai jika ia sudah tidak ada lagi...
Ia tahu, keputusannya akan menimbulkan luka.
Hinata tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Ia melirik sekilas, memandang Naruto yang masih terpekur. Memandang pemuda yang sudah bertahun-tahun ia kagumi... Pemuda yang ia cintai...
Gomen, Naruto-kun...
Saat itu ia melihat tangan Naruto yang masih dibalut, dan entah mengapa pemandangan itu menguatkan hatinya.
Ia tidak ingin menjadi beban.
Ia tidak ingin kehadirannya merepotkan atau menghambat siapapun, apalagi jika itu berkaitan dengan pemuda yang dicintainya.
Adapun keinginan terbesar Hinata, adalah melihat Naruto berbahagia. Melihat pemuda itu mewujudkan mimpi-mimpinya. Tanpa halangan. Tanpa beban.
Walaupun pengorbanannya akan sangat menyakitkan...
...
...I don't wanna let you down
I don't wanna lead you on
I don't wanna hold you back
from where you might belong...
...
oOoOo
"Naruto-kun..."
Naruto menoleh, dengan seulas senyum. "Ya, Hinata-chan?"
Hinata berjuang menjaga agar suaranya tidak bergetar. Ia berusaha mengendalikan dirinya, dan ia mengangkat kepalanya. Lavender bertemu dengan biru langit. Namun hanya sejenak, karena Hinata menundukkan kepalanya, menatap lengan Naruto yang terbalut.
"Gomen..." bisiknya perlahan.
Naruto mengerutkan kening sejenak. "Maksudmu ini?" tanyanya, sambil menunjuk lengannnya. Ia tertawa pelan. "Kenapa harus minta maaf, Hinata-chan? Kamu nggak salah apa-apa, kok! Lagian ini aku aja yang salah, nggak dengerin nasihatnya Kakashi-sensei... Nggak usah dipikirin, ya?" ujarnya.
Namun kata-kata Naruto itu justru membuat Hinata terasa ditusuk. Ia tergeragap bebrapa saat.
"Bukan..." ucapnya pelan.
"Eh?" Naruto menggaruk-garuk kepalanya. "Aku nggak ngerti, Hinata-chan..."
Hinata mengangkat kepalanya, memaksakan dirinya menatap Naruto. Saat sekali lagi lavender itu bertemu dengan biru langit, pertahanan dirinya hampir goyah.
Ia sangat, sangat mencintai Naruto.
Namun justru rasa itulah yang membuat keputusannya bulat.
"Gomenasai, Naruto-kun... tapi... sepertinya... kita sampai di sini saja..."
...
...you would never ask me why
my heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
than to ever make you cry
there's nothing left to say but goodbye...
...
Sontak Naruto terdiam. Ia seolah tidak mempercayai kata-kata yang baru meluncur dari bibir Hinata.
"Maksudmu..." bisiknya pelan. "Putus?"
Saat itu Hinata merasakan adanya urgensi, adanya keinginan yang sangat kuat untuk menggeleng, tertawa, dan menyatakan kalau ia hanya bercanda. Namun ia sudah terlanjur mengatakannya.
Gadis lima belas tahun itu menunduk dalam, tidak berani menatap mata sang pemuda. Suaranya sangat pelan, namun pasti.
"Gomen..."
Sejenak kesunyian kembali tercipta.
"Doushite?" tanya Naruto pelan.
Lidah Hinata terasa kelu.
Sakit.
"Naruto-kun... jika aku tetap bersamamu..." ia menelan ludah. "Aku... hanya akan menjadi beban..."
...
...you deserve the chance at the kind of love
I'm not sure i'm worthy of
losing you is painful to me...
...
Naruto terdiam sejenak, seolah berusaha mencerna kata-kata Hinata.
"Beban untuk?"
"Semuanya!" tiba-tiba suara Hinata meninggi. Tangisnya pecah, nyaris histeris. "Semuanya, Naruto-kun! Mungkin sekarang hanya tanganmu, tapi.. tapi... tapi aku takut! Aku nggak tahu apa lagi yang bakalan terjadi padaku, dengan waktu yang sudah tinggal sedikit ini... Semuanya sudah berubah menjadi sangat aneh, ada banyak kejadian-kejadian aneh di Konoha, dan entah mengapa aku menyadari kalau semua itu brpusat padaku! Aku nggak mau..." suara gadis itu melemah, turun menjadi bisikan lemah. "Aku... nggak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, Naruto-kun..."
Naruto terpana. Kata-kata Hinata membuatnya mengingat kembali uraian-uraian Sakura, dan juga potongan-potongan percakapan Tsunade dengan Hiashi yang sempat dicuridengarnya dari ruangan Hokage beberapa waktu yang lalu.
Sikap Hinata sendiri membenarkan apa yang sudah ia duga.
...
...I don't wanna let you down
I don't wanna lead you on
I don't wanna hold you back
from where you might belong...
...
Hinata menyadarkan kepala dengan lelah. Air mata masih meleleh di pipinya. Di sebelahnya Naruto terpekur.
Sunyi.
Perlahan, Naruto mengangkat kepalanya.
"Haruskah begini?" tanya pemuda itu. Nadanya datar. Namun ekspresi wajahnya terluka.
Hinata hanya diam. Menggumamkan maaf.
Naruto meraih dagu gadis itu, memaksa mata mereka bertemu. Ia melihat ada kabut di sana, di mata lavender milik Hinata...
"Apakah... aku sebegitu tidak berartinya bagimu, Hinata-chan?"
...
...you would never ask me why
my heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
than to ever make you cry
there's nothing left to say but goodbye...
...
Hinata mengeleng pelan. "Bukan... bukan begitu..."
"Lalu kenapa?! Aku bisa melindungimu, Hinata-chan!" suara pemuda itu meninggi. "Kenapa sih kamu selalu berpikir bahwa kamu adalah beban? Kenapa sih selalu meminta maaf? Kenapa kamu nggak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu memutuskan semuanya sendiri, tiba-tiba?! Egois, Hinata-chan!"
"Naruto-kun!" Hinata balas menjerit. Air matanya turun semakin deras. "Tolong! Tolong mengertilah... tolong..." bisik Hinata lemah. "Naruto-kun sangat, sangat berarti... Aku... aku hanya... tidak ingin menyusahkanmu..."
"Kamu tidak pernah, Hinata-chan!" suara Naruto, frustasi. "Kenapa semuanya harus seperti ini?"
Naruto menghempaskan tubuhnya ke kursi, melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggam jemari Hinata. "Tolong.. Hinata-chan..." suaranya melemah. "Semenjak Sasuke-teme pergi... kamulah ikatan pertama yang kupunya... tolong... tolong jangan pernah mengulangi hal itu lagi..."
Hinata masih menunduk.
"Naruto-kun..." suaranya mengiba.
Naruto menggeleng.
"Aku tidak bisa! Ini semua... terlalu menyakitkan..."
Air mata masih mengalir ke pipi sang gadis, saat keheningan menyelimuti mereka berdua. Detak jam terasa berjalan sangat lambat. Keheningan yang menyakitkan...
Hinata tersentak ketika tiba-tiba ia merasakan Naruto memeluknya, sangat erat. Seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Hinata-chan..." bisik pemuda itu, masih tidak melepaskan rengkuhannya. "Tidak adakah jalan yang lain?"
Hinata menggeleng, sangat berat. "Tolong... sekali ini saja... biarkan aku bersikap egois..."
"Kalau begitu... tolong... jangan lepas... Biarkan begini, setidaknya untuk saat ini, Hinata-chan..."
Gadis itu balas memeluk Naruto, dan sekali itu membiarkan tangisnya pecah di bahu pemuda itu.
oOoOo
Pelan, Naruto melepaskan tubuh gadis itu. Ia tersenyum lembut.
"Hinata-chan," panggilnya. "Jika memang itu maumu... aku tidak bisa menolak, ya?"
Kali ini senyumnya terasa miris.
"Gomen..."
Ia membingkai wajah Hinata dengan kedua tangannya. "Tidak perlu meminta maaf, oke? Mungkin memang ini yang terbaik..."
Namun Hinata mampu melihat bahwa senyum Naruto tidak sampai pada matanya. Mata pemuda itu masih berkabut.
Naruto mengambil napas panjang. "Kalau begitu, aku keluar dulu ya? Sepertinya kau perlu istirahat, Hinata-chan."
Berkata begitu, Naruto bagkit dan menepuk pundak Hinata dengan bersahabat. Ia melangkah menuju pintu, dan memegang kenopnya yang terasa dingin. Ia tahu, begitu ia keluar, maka Hinata tidak akan menjadi milknya lagi...
Naruto menoleh dan menatap Hinata yang masih terpekur di atas tempat tidurnya. "Kalau kau membutuhkanku, Hinata-chan, bilang saja, ya? Kita masih sahabat, kan?"
Pelan, Hinata mengangguk. "Arigato, Naruto-kun," ucapnya, memaksakan seulas senyum kecil.
"Ja ne, Hinata-chan,"
Hinata menahan air matanya saat ia membalas. Salam itu, seolah merupakan tanda resmi perpisahan...
"Ja ne..."
...
...you would never ask me why
my heart is so disguised
I just can't live a lie anymore...
...
Ia masih mengingat memori indah itu…
"Terima kasih, Hinata-chan... aku harap, kita bisa seperti ini untuk selamanya..."
Bening mengalir lagi di matanya.
Gomenasai, Naruto-kun...
...
...I would rather hurt myself
than to ever make you cry
there's nothing left to try
though it's gonna hurt us both
there's no other way than to say...
...goodbye...
...
Kayak opera sabun nggak, sih? Aku harap kalian mengerti alur ceritanya...
Makasih bangeeet masih mau baca! Apalagi kalo masih mau review! T.T
FFnku lagi eror! Editannya jadi ancur! gomen baget...
Doakan aku untuk chapter selanjutnya ya...
Ja...
--
NB. Sebelum melanjutkan ke chapter sebelumnya, alangkah baiknya kalau Anda membaca side story dari cerita ini, judulnya 'HER BIRTHDAY', dapat ada temukan di profile saya.
Terima kasih!
--btw, kenapa bahasanya jadi resmi ya?--
