Hi, everyone!
Anne balik lagi dengan chapter 14. Sudah banyak juga ya. Semoga masih belum bosen ikuti kisahnya. Dan.. kali ini Anne nggak banyak komentar jadi langsung saja baca. Sorry ya nggak sempat balas review tapi tenang saja, Anne udah baca semua! Thanks walaupun sedikit banget yang review! :(
Udah deh nggak apa-apa, yang penting Anne akan tetap langsung aja!
Happy reading!
Diburu waktu, Harry tak ubahnya penjahat yang terkepung oleh banyak saksi mata. Mungkin sebentar lagi akan banyak orang yang mengejarnya di luar sana. Jauh lebih dahsyat dari sekadar seorang Rita Skeeter. Namun, paling tidak kali ini ia harus segera keluar. Setidaknya matahari belum cukup tinggi untuk Ron maupun keluarga yang lain mulai menghakimi Ginny. Untuk apa lagi kalau bukan karena berita Daily Prophet pagi ini.
Di atas ranjang, Ginny masih tenang dengan selimut menutupi tubuh telanjangnya. Harry tak peduli jika Ginny akan terusik karenannya. Ia harus membangunkan Ginny sekarang juga.
"Ginny, bangun—aku harus kembali sekarang!"
Hary terus memanggil sambil mengemasi pakaiannya di lantai dan memakainya kembali. Satu eksemmplar koran ia banting tak peduli ke atas selimut hingga membuat Ginny tersadar jika Harry tampak sangat gugup dan terburu-buru. "Pagi, Harry. Tapi.. ada apa? Kau mau kemana, sayang?" tanya Ginny ikut panik. Matanya langsung terbuka lebar. Kantuknya menghilang.
"Aku harus pulang. Aku tak mau masalah ini semakin besar karena aku dan Lily di sini bersamamu." Harry memperbaiki tatanan kaosnya lantas bergegas keluar kamar. "Aku harus membangunkan Lily sekarang!"
Sama sekali Ginny tak paham dengan sikap aneh Harry pagi ini. semua berjalan indah sejak semalam tapi tidak untuk pagi ini. Harry begitu ketakutan dan tak seperti biasanya ia berani membangunkan Ginny dengan wajah sepanik itu. Tiba-tiba, Ginny tak sengaja mendapati koran dengan gambar-gambar bergerak tergeletak di atas selimutnya.
"Astaga—" Ginny menutup mulutnya cepat-cepat. "Jadi ini, kurang ajar Rita."
Hampir lima menit kemudian, Harry akhirnya kembali ke kamar Ginny dengan Lily menggelantung erat di gendongan Harry. Matanya terpejam masih menahan kantuk. Sesekali ia menguap dan menenggelamkan wajahnya di sisi leher Harry.
"Daddy," panggil Lily.
"Kita harus pulang sekarang, sayang."
Dari arah sisi ranjang, Ginny telah berpakaian lengkap dengan tongkat teracung di tangannya baru saja menggunakan sihir untuk memperbaiki tatanan ranjangnya. Ia bergegas mendekati Harry dan Lily lantas bertanya dengan panik, "kalian mau ke mana? Ini masih pagi." Kata Ginny coba menahan.
"Tidak bisa, Ginny." Harry memasang sepatu Lily yang tergeetak di bawah ranjang, "dengan adanya berita ini, mungkin saja Ron atau yang lainnya akan menuntut penjelasan padamu. Mereka tak tahu semua ini."
Ginny tak mampu berkata apapun. Ia sendiri takut dengan semua pemberitaan ini. Semua orang tahu jika Ginny baru saja mengungkapkan semua kekesalan tetang hubungannya dengan Harry namun tiba-tiba pagi ini berita tentang keikutsertaannya membantu Harry masuk ke St. Mungo memunculkan tanda tanya baru. "Akan semakin besar jika Ron tahu." Harry menangkup wajah Ginny dan memandangnya cukup lama. "Aku tak mau kau mendapat masalah, aku tak mau terjadi apa-apa."
Harry mencium bibir Ginny.
Mereka harus tahu, jika cinta mereka tidak selamanya dipandang indah oleh orang lain. Bahkan keluarga mereka sendiri. Hanya Harry dan Ginny saja yang tahu. seberat apapun itu, mereka tak bisa menghindar. Sesuatu pasti akan terjadi.
"Tapi, aku tak mau kau—"
"Aku akan baik-baik saja, Ginny. Aku mencintaimu." Ungkap Harry kembali mencium Ginny.
Suara langkah kaki perlahan terdengar di luar kamar mereka. Suara-suara perapian berdebum menandakan tidak satu orang datang pagi ini. Harry mulai panik ketika suara Ron terdengar berteriak-teriak memanggil nama Ginny. Ia segera mengemasi satu kantung ramuan Lily dan menggendong Lily kembali. Tapi itu terlambat, "mereka mendekat. Aku mohon jangan bersuara!" sebelum Ginny akhirnya menutupkan tubuh Harry dan Lily dengan jubah tembuh pandang.
Pintu kamar terbuka kasar.
Ron telah berdiri dengan wajah merah penuh amarah. Tangannya tergenggam gulungan koran sambil menatap Ginny dengan tatapan mematikan. "Apa yang sudah kau lakukan, Ginevra?" pekik Ron tak bisa menahan emosi.
Lily terkejut bukan main dengan teriakan Ron di balik jubah. Segera Harry membekap mulut Lily sebelum anak itu bersuara. "Diam, sayang. Kita sembunyi sekarang." Harry berusaha berbisik sangat pelan di telinga Lily. Beruntung suara Ron sangat keras di sana.
"Apa-apaan, Ron! Tidak bisakah kau masuk ke rumah orang lebih sopan?" bentak Ginny segera berdiri dari ranjang mendekati kakaknya.
Dari mulut pintu, tampak Hermione sama paniknya berusaha menahan Ron untuk kembali berteriak. "Ronald!" bentak Hermione menahan pergerakan suaminya.
"Kau diam di sana, Hermione. Ini urusanku dengan adik kecilku yang jauh lebih tidak sopan, menutupi sesuatu yang penting dari keluarganya sendiri." Ron menarik tangan Ginny dan menunjukkannya halaman depan Daily Prophet. "Jangan bilang kau tak kenal siapa pria ini!" bentak Ron semakin keras.
Hati Harry sesak ketika Ginny semakin disudutkan oleh Ron karenanya. Namun demi menjaga masalah agar tidak berlarut-larut, Harry memilih bertahan di balik jubahnya bersama Lily tanpa mengeluarkan suara sekecil mungkin. Ron sempat mengarahkan matanya sekadar berkeliling di sekitar kamar sampai ia melihat gulungan koran yang sama di atas ranjang.
"Rupanya kau sudah membacanya, hah."
Ginny memikirkan Harry dan Lily di belakangnya. Sangat dekat meski keduanya tidak terlihat. Mata Ginny sejenak mengekor ke belakang. Memastikan tidak ada suara atau pergerakan aneh di sana."Aku baru bangun. Kau tak perlu menunjukkan seperti itu, karena aku bisa membacanya sendiri! Kau tak bisa mengaturku. Ini hidupku, Ron!" Ginny meninggalkan Ron untuk keluar dari kamar. Berharap Ron mengikutinya dan meninggalkan kamar agar Harry dapat segera berApparate ke rumahnya.
Harry terus berharap jika Ron keluar mengikuti langkah Ginny. sampai akhirnya, "baru bangun? Kau tidur dengan baju hangat, hah?" kata Ron membuat baik Harry dan Ginny tercekat. Mereka belum sempat berganti piama semalam dan memilih untuk tidak berbusana di balik selimut semalam.
"Ron, tenangkan dirimu! Kasihan Ginny!"
Harry mendengarnya itu suara Hermione. lama mendengar pertengkaran itu membuat Lily terusik di gendongan Harry. Hermione, yang belum sempat keluar dari kamar merasakan sesuatu yang aneh di dekatnya. Namun seperti efek yang timbul dari jubah Harry, Hermione tak melihat apapun. Tapi tanpa disadari Harry, wanita yang ia kenal sangat cerdas begitu mengenal benda sihir warisan ayahnya itu.
Langkah Hermione sebisa mungkin berjalan wajar dan meninggalkan kamar. Ia lantas menutup pintu dan menghentikan langkahnya untuk sejenak tinggal di depan pintu. Di balik jubah, Harry mendesah lega dan berbisik pelan pada Lily agar menggenggam tangannya erat. Mereka segera berApparate.
Bukk!
Suara kain berat terjatuh begitu Harry menghilang. Hermione membuka kembali pintu kamar dan mendapatijubah tembus pandang Harry tergeletak di atas lantai. Hermione menggeleng pelan, tak bisa berpikir untuk masalah berat sahabatnya itu.
"Harry.. Harry! Masalah memang tak pernah bisa jauh dari dirimu." Ujar Hermione kembali menutup pintu kamar. Sekarang, ia harus menahan Ron agar tak berbuat kasar pada Ginny.
Antara Ginny, Ron, danHermione mereka tak henti-hentinya untuk berdebat sepeninggalnya mereka dari kamar. Ginny mencoba menarik perhatian Ron dan Hermione menuju ruang keluarga di lantai bawah. Ginny berharap jika Harry dapat segera kembali sebelum Ron dan Hermione menemukannya.
Ron menarik pergelangan Ginny kasar agar berhenti dan mau mendengar kata-katanya. "Kau ingin melupakannya, kan, Gin? Harry sudah tak pantas untuk dirimu!" teriak Ron.
"Aku sudah dewasa, Ron. Bahkan aku sudah memiliki anak. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau atur-atur. Ini itu harus menuruti semua keinginanmu. Aku punya cara sendiri untuk melanjutkan hidup."
"Dengan kembali ke tangan pria yang sudah menghancurkan kepercayaanmu?"
Ginny mengeluarkan tongkatnya cepat dari balik jaket hangatnya. Ada suatu dorongan agar ia segera membela suaminya sendiri. Namun tanpa diduga, Hermione pun turun mengeluarkan tongkatnya dan merapalkan mantera pada Ginny.
"Expelliarmus!" cahaya merah meluncur panjang tepat mengarah pada tongkat di tangan Ginny.
Tongkat itu pun melayang sebelum berhasil melukai Ron. Ginny mengerang tak suka dan menatap Hermione tajam. "Kita bicara baik-baik, Ginny!" ujar Hermione terdengar memohon.
"Aku meladeni dia sesuai cara yang dia pilih. Kalau Ron tak bisa bicara baik-baik, aku terima! Aku kenal Ron jauh lebih lama darimu, Mione. Pria ini hanya punya emosi! Otaknya kosong tak bisa digunakan untuk berpikir!" Ginny kemudian mengarahkan pandangannya kembali pada sang kakak. Rambut Ron tampak acak-acakan seperti baru saja bangun tidur. Piama hijau terlihat di balik jaket hitam tebal yang dikenakannya. "Apa maumu, Ron? Tak bisakah kau pahami aku sedikit saja?"
"Aku mengenal tabiat Harry, Ginny!"
"Aku jauh lebih mengenal hatinya!" Pekik Ginny tak mau kalah.
Air mata Ginny menetes. Bagaimana pun juga, Ginny jauh memahami perasaan yang tersimpan antara dirinya dan Harry. Tatkala dengan perlahan ekspresi kaku Ron akhirnya melemah, Ginny tak mau untuk Ron mendekatinya. Dengan masih berurai air mata, ia menggeleng pelan. Ginny meremas baju yang ia kenakan tepat di bagian dada. Meluapkan rasa sakit akibat cintanya yang tak pernah bertahan indah.
Hermione memilih untuk segera mendekati Ginny di sofa panjang. Badan Ginny lemas terduduk. Bungsu Weasley itu terus mengerang tak bisa lagi menahan luapan rasa sedihnya. Ginny menjerit. Membuat hatinya selepas mungkin. Ya, Ginny tak mampu untuk melawan Ron dengan segala cercaannya tentang Harry. Ia lelah.
"Kau dibutakan oleh cinta, Ginny!" Ron tak tahu harus melawan apa lagi. Ginny terlalu kalut.
"Ginny," Hermione mengelus punggung Ginny, ia berusaha untuk mengeluarkan isakan demi memberi kekuatan untuk Ginny. Meskipun itu membuat dadanya sesak. "Kami hanya belum bisa memahami cara berpikir Harry dan tentu saja dirimu, Ginny. Kalau memang ini jalan kalian, kami—kami berharap yang terbaik untuk kalian."
"Hermione, aku mencintai Harry!"
"Aku tahu.. aku tahu!" Mereka saling berpeluk hangat, Ron akhirnya pergi menggunakan perapian, "Harry pun sangat mencintaimu. Kalian kuat. Cinta kalian sangat kuat. Pesanku hanya satu, pikirkan masa depan kalian. Anak-anak kalian. Jangan pernah lupakan mereka. Kalian sudah dewasa untuk dapat mengatur semuanya sendiri. Aku percaya padamu dan Harry, Ginny."
Mungkin hanya Hermione yang tahu cinta keduanya sejak dulu. Tidak perlu kecerdasan, Hermione cukup memahami hati keduanya dengan baik. Jalan satu-satunya adalah memberikan kesempatan pada Harry dan Ginny untuk tahu apa yang harus dan tidak mereka lakukan.
Harry tak berangkat bekerja hari ini. Bukan masalah kesiangan, pakaian dan kartu pegawainya tertinggal di kamar mandi tempat tidur Ginny. Harry tak bisa masuk dan absen tanpa adanya kartu itu. Untuk kembali, Harry tak bisa berbuat banyak jika mengingat Ron sedang murka di sana. Alhasil, Harry hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah bersama Lily seharian.
Sejak sore, Harry sebenarnya ingin sekali untuk mendatangi Ginny. Hanya saja, ia merasa situasi dan kondisi belum cukup baik.
"Semoga Ginny baik-baik saja."
Hanya itu yang bisa diharapkan oleh Harry seharian. Banyak kemungkinan terjadi akibat tulisan baru Rita di Daily Prophet. Semua keluarga Weasley bisa saja marah besar pada Ginny. Dan bisa saja, setelah ini Ginny akan diajaga ketat oleh kakak-kakaknya agar tidak bertemu dengan Harry. Bukan berarti mereka telah menerima satu sama lain diikuti pula dengan keluarga yang lain. Harry sangat takut akan penolakan itu.
Ponselnya bergetar setelah Lily pulas di pangkuannya. Malam ini mereka menghabiskan hari berdua. Berjalan-jalan keluar atau mengunjungi makam Maureen dan tidak mempermasalahkan tentang pekerjaan. Harry coba melihat siapa yang mengirim pesan singkat begitu malam.
"Noah?" baca Harry dari layar ponselnya.
Noah adalah salah satu rekan kerja Harry di perpustakaan. Ia lebih muda dua tahun dari Harry namun pengalaman pernikahannya jauh lebih banyak daripada Harry. Noah dua kali menikah dan dua kali bercerai. Kini ia duda dengan dua anak usia sekolah dasar. Noah dan Harry bisa dibilang sangat dekat ketika di bekerja. Sama halnya dengan Lucas.
"Oh, no! Kalau aku tak berangkat aku bisa dipecat besok!"
Harry panik begitu membaca isi pesan dari Noah. Esok perpustakaan tempat meeka bekerja akan didatangi oleh salah satu sekolah. Akan banyak anak-anak yang datang di sana sehingga para karyawan diharapkan untuk masuk demi membantu kelancaran acara kunjungan perpustakaan esok. Akan diberikan sangsi bagi siapapun yang berhalangan masuk, apalagi dengan alasan tidak jelas dan tidak penting.
Apa boleh buat, Harry harus mendatangi rumah lamanya untuk mengambil kartunya yang tertinggal di kamar mandi Ginny. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Harry berharap ia akan menemui Ginny yang tertidur sehingga ia bisa leluasa mengambil barangnya yang tertinggal.
Harry memilih berApparate untuk bisa masuk ke kamar lamanya.
Pendaratan Harry mulus sempurna, kakinya menginjak lantai kamar dengan posisi berdiri tegak. Harry memang sangat menghapal tempat yang satu ini. Sesampainya di sana, Harry langsung dihadapkan dengan ranjang berukuran besar miliknya dan Ginny. Di atasnya, seorang wanita berambut merah tampak tenang di balik teratur sambil berbaring miring ke kiri, menghadap bagian ranjang tempat dulu ia sering tidur.
Harry tersenyum senang mendapati istrinya tidak begitu pulas. Ia tak mau berpikir terlalu jauh tentang kedatangan Ron dengan amarahnya pagi ini. "Ginny wanita yang kuat." Ujarnya. Pakaian kerja, kaus kaki, ikat pinggang hingga kartu karyawan miliknya tergeletak rapi di atas meja menulis Ginny, di dekat sebuah buku kecil dengan pena metalik di atasnya.
Mata Harry tertuju sejenak pada buku itu.
Itu adalah buku yang pernah ia berikan pada Ginny saat ulang tahun James pertama. Ya, James yang berulang tahun tapi Ginny turut diberikan kado oleh Harry. Dulu, Harry memberinya sebagai perayaan satu tahun Ginny menjadi seorang ibu. Ia ingin Ginny bisa kembali rutin menulis diary tentang kehidupannya menjadi seorang ibu sejak hari itu, tapi Harry mendapatkan penolakan.
Ginny trauma dengan buku diary. Tahun kedua Harry di Hogwarts adalah masa dimana ketakutan Ginny akan buku diary berawal. Tragedi kamar rahasia yang hampir merenggut nyawanya membuat Ginny tak lagi aktif menulis diary. Meski menolak menulis, Ginny tetap menerima buku itu untuk membahagiakan Harry yang memberinya. Tapi, apa yang dilihat Harry sekarang sungguh mengejutkan.
Ginny kembali menulis buku harian.
Harry berusaha mengumpulkan keberanian untuk membuka buku itu. Ia tahu buku harian adalah privasi masing-masing pemiliknya, hanya saja ketika melihat itu Harry sangat ingin untuk melihatnya. Pita penyekat halaman telah terselip di hampir lembar-lembar terakhir. Terlihat sekali jika Ginny cukup sering menulis di sana.
Tak banyak yang Harry baca. Harry mengakui jika kemampuan Ginny menulis tidak bisa dianggap enteng. Meski berbentuk tuturan bebas, Ginny menyampaikan perasaan dalam tulisan-tulisan diarynya begitu indah. Inti dari rangkaian kisah yang tertulis di sana adalah perjalanan Ginny sejak Harry pergi.
Ya, buku itu berisikan keluh kesah Ginny ketika menunggu Harry pulang. Sejak empat tahun lalu.
"Maafkan aku, Ginny—"
"Harry!"
Ginny membuka matanya. Merah dan tampak sembab. Tanpa malu, ia menatap tajam wajah Harry yang berdiri di sisi ranjang sambil membawa pakaiannya. Dari balik selimut, satu tangan Ginny terjulur keluar. Mengapai-gapai tangan Harry agar mendekat sambil memanggil nama Harry berulang kali. "Harry.. Harry.."
"Ginny, maafkan aku!" Harry sangat terpukul melihat Ginny malam ini. Wajahnya pucat, matanya sembab, merah dan berair. Basah karena air mata dan rambut yang tak tertata rapi.
Dari posisinya berbaring, Ginny berusaha meminta Harry mendekat tanpa memintanya langsung. Ginny hanya menyebut nama Harry sambil terisak pelan. Tangannya masih terjulur mengapai tubuh Harry mendekat. Harry semakin tak kuasa untuk meninggalkan Ginny seperti itu. Ginny hampir seperti orang gila di atas ranjang.
"Kenapa, Harry? Kenapa harus kita? Kita yang merasakannya bersama bukan orang lain. Cinta kita, bukan orang lain," isak Ginny pilu. Tubuhnya memeluk erat tubuh Harry mensejajari ia berbaring.
Harry hanya bisa diam, menahan tangisnya yang semakin sesak. Ginny membuatnya tak bisa berkata-kata. Ini semua karenanya.
"Biarkan aku memilikimu lagi. Meski untuk malam ini." Ginny menangkup wajah Harry begitu mereka saling pandang. Mereka mampu merasakan napas satu sama lain di kulit wajah yang semakin mendingin. Jika berpelukan bisa menghangatkan, Harry dan Ginny siap melakukannya lebih.
Harry menciumnya. Memberikan jawaban, "aku milikmu, Ginny. Selamanya!"
- TBC -
#
Mungkin fic ini akan segera selesai, tapi.. belum tahu kapan. Hehehe.. yang penting ikuti terus dan ayo lah reviewnya! Sepi banget sekarang! Udah pada sibuk mau sekolah, ya? Atau udah bosen? Hemm.. Anne nggak tahu deh. Ya sudah ya, tunggu chapter selanjutnya yang akan ada kejutan lagi. Ada apa dengan Harry dan Ginny?
Maaf kalau masih ada typo. Anne tunggu reviewnya! Sampai jumpa ya!
Thanks,
Anne xoxo
