Author Note:
Haloo lagi~
Update! Hehehe!
Sebelumnya, makasih banyak atas reviewnya! Emang mirip banget sama insidious ya? Insidious itu.. Film horor kan? #mulai norak#
Jujur, author belum pernah nonton malah ._. Karena.. Saya gak terlalu suka nonton horor.. Lebih bagus comedy.. Iya gak?! Iya aja udah! Hahaha! (?) (Gak mau ngaku kalau dirinya takut nonton horor)
Anyway.. Inilah chapter selanjutnya! Mohon dukungan dan reviewnya pada FanFiction yang makin lama tentunya makin gaje ini..
Semoga menghibur!~
-Lutanima-
Part 14
Festival Domba
"UAAAA!"
Claire masih teriak-teriak gak jelas di kebun milik Mack. Mau teriak sekencang apapun juga, tidak ada orang yang bisa mendengarnya. Tiba-tiba, dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi. Claire pun membuka matanya. Di depannya, nampak sosok yang sangat ia kenal.
"H-Hoshi?"
Hoshi hanya menatap Claire dengan lekat. Kemudian, dia berlari ke arah jembatan sungai. Claire pun segera mengejarnya.
"Hoshi?! Kamu kah itu?! Hoshi?!" Tetapi ketika sampai di jembatan, keseimbangan Claire menghilang. Dia pun terjatuh ke dalam sungai. Entah kenapa sungai itu terasa sangat dalam.. dalam.. dalam.. ... Dan kesadarannya pun mulai menghilang.
-oOo-
"Mbeeekk..."
"Mooooo.."
"Ih, dia ini gendut sekali!" Terdengar suara anak kecil.
"Haha.. Dia pasti bermimpi indah.. Tidurnya nyenyak sekali."
((Heh? Suara apa itu?))
Claire merasakan ada yang memegang-megang tubuhnya. Perlahan dia mulai membuka matanya. Dan di depan matanya, sudah ada Jack kecil dan Mack yang memperhatikannya, dengan sapi dan domba lainnya, di kandang. Claire pun sontak terbangun.
"Mbeekk! (Tunggu! Aku..)" Claire terdiam. Kok rasanya suaranya jadi aneh?
"Ah, kau ini lama sekali bangunnya, dasar gembul!" Ujar Jack pada Claire. Loh? Kok dia bisa melihat Claire.
"Mbek? (Heh?)" Claire melihat ke arah tubuhnya. Tunggu.. Benda putih berbulu apa yang ada di tubuhnya?! Dia semakin panik. Dia menjadi.. Domba?!
"Jack.. Kau mau memberi nama apa kepada domba pertamamu ini?" Tanya Mack.
"..." Jack terdiam sambil menatap Claire yang saat ini berwujud.. Domba. Claire sempat berharap sedikit.
((Jack akan memberiku nama? Kira-kira.. Nama seperti apa ya?)) Ujarnya dalam hati.
"Gembul."
DOEENNGGG!
Claire langsung geram dan ingin segera menerjangnya. Tapi dia berusaha untuk sabar, sambil memahami apa yang terjadi. Terakhir dia ingat, dia bertemu Hoshi.. Kemudian.. Saat membuka mata.. Dia sudah jadi begini. Apa yang terjadi?
"Hahaha! Nah, ajak si Gembul ini main ya, Jack! Urus dia baik-baik, karena lusa, dia akan ikut ke Festival Domba bersama Margareth!" Ujar Mack, sambil pergi untuk mengurus sapi dan domba-domba miliknya. Claire terkejut.
((Festival Domba lusa? Perasaan kemarin baru Festival Panen.. Be-berarti aku mengalami Time Sleep.. eh! Slip.. lagi?! Tapi kenapa.. Sekarang aku jadi domba?!)) Ujar Claire dalam hati.
Kemudian Jack kecil dan Claire saling bertatapan.
"Gembul!" Jack memanggil Claire. Dengan setengah hati, Claire menjawab.
"Mbek?! (Apa?!)"
"Lusa, kau akan ikut festival sama dombanya kakek! Margareth!" Claire menghela nafas.
((Bagus! Dua kontestan dari Mineral Farm, Margareth dan Gembul! Nama yang ngejomplang sekali untuk domba dari peternakan yang sama.)) Ucapnya dalam hati.
"Awas kalau kau malu-maluin.. Kamu gak dikasih makan seminggu loh!" Ujar Jack. Claire langsung mencibir.
"Mbeek... (Dasar pemaksa!)" Ujar Claire.
"Apa? Kamu laper?" Tanya Jack. "Mm.. Kamu makannya apa ya?" Jack melihat ke arah kakeknya. Dia kelihatannya mau menanyakan harus diberi makan apa domba satu ini. Tapi, dia tidak mau mengganggu kakeknya. Sehingga dia pun langsung memalingkan mukanya dengan wajah cemberutnya yang imut.
((Ternyata dia manis juga..)) Pikir Claire. Tiba-tiba..
"MBUEEHEKEKEEEKK!" Jack menarik leher Claire dan menggeretnya keluar kandang.
"Ayo! Kita cari makananmu!" Ujarnya sambil terus menarik Claire. Claire hanya bisa teriak-teriak, dan Mack hanya tertawa melihat keakraban mereka berdua.
Kemudian..
"Kalau yang ini?.. Ayo makan!"
Claire hanya mingkem dan menggeleng-geleng kepalanya. Sudah 30 menit Jack menyodorkan berbagai macam benda ke Claire mulai dari batu, kerikil, kayu, ore, pasir, ranting, sampai ulet juga, yang membuatnya menendang Jack saking gelinya pada ulat. Mereka pun sempat pukul-pukulan tadi. Tapi mereka sekarang sudah baikan, dan saat ini, Jack menawarkannya bunga yang ada di sekitar taman bunga di gunung.
"Mbeekkk! (Aku tidak mau makan ituu!)" Ujar Claire.
"Haahh! Kau ini gembul tapi susah makan ya! Heran!" Ujar Jack sambil merebahkan tubuhnya di hamparan bunga.
"Mbeek mbeek mbeek MBEEEEEEEKKKKK?! (Aku tidak gembul dan.. SIAPA YANG BISA MEMAKAN BENDA YANG KAU SODORKAN DARI TADI?!)" Claire alias si Gembul, mulai emosi.
"Ya udah, kamu cari makananmu sendiri ya.. Aku capek." Ujar Jack, kemudian dia memejamkan matanya.
"Mbek mbek mbekkk.. (Ya, terima kasih majikan yang tidak bertanggung jawab.) Jawab Claire mengejek. Kemudian, dia melihat ada kertas yang terjatuh dari kantong Jack. Dia pun mendekati kertas itu.
"Mbeek? (Apa ini?)" Jack pun menyadari Gembul mendekati kertas itu dan..
"JANGAN SENTUH!"
BUAAAKKKK!
Jack mendorong Claire. Tapi tampaknya, dorongannya terlalu keras, sampai Claire terguling-guling dan nyungsep ke semak-semak. Claire bersumpah, dia pasti terlihat seperti bola bergelinding saat didorong Jack.
"Aahh! Gembul! Kau masih hidup?!" Jack segera menarik Gembul alias Claire yang saat ini cuma kelihatan kakinya saja.
"Mbeekk.. (Setidaknya gunakanlah kalimat yang lebih enak didengar..)" Ujarnya pasrah.
"Aah..." Melihat muka bersalah Jack, Claire pun merasa tidak enak. Biar bagaimana pun, saat ini Jack adalah anak berusia 8 tahun. Dia mulai beraksi.
"Mbekk! (Aku baik-baik saja!)" Claire berdiri dengan semangat.
"Mbeek? Mbeek? Mbeekk! (Lihat? Lihat? Aku sehat loh!)" Claire mulai berputar-putar, melompat dan menari-nari. Lalu dia pun mengakhirinya dengan berdiri menggunakan 2 kaki. Dengan bangga Claire pun menatap Jack. Menunggu reaksinya.
"... Aku benar-benar membuat otakmu rusak." Ujar Jack.
JENNNNNGGGG!
Claire langsung terjatuh.
((Mu-mustahil.. Padahal waktu aku berusia 7 tahun, aku sangat suka menonton ***** Ranch! (?) Dimana para hewan ternak bisa melakukan hal seperti manusia!)) Ujarnya sambil memojok ke sudut taman.
"Hei... Kau kenapa?" Ujar Jack sambil duduk di sebelahnya. Dia mengeluarkan kertas itu lalu mulai membuka lipatannya. Tapi sebelum membuka kertas itu sepenuhnya, dia menatap Claire.
"Tapi.. Sebelum kau melihat kertas ini, aku mau kau janji!" Ujar Jack.
"Mbek? (Janji?)"
"Janji ya!" Dia membisikkan ke telinga Claire dengan suara yang amat kecil. "Kamu jangan bilang isinya ke siapa-siapa."
"Mb... Mbebebebekkkbebebekkk! (Hahahahahaha!)" Claire mulai jadi domba gila. Dia tidak tahan lagi. Jack.. Jack benar-benar jadi anak polos yang super imut! Membicarakan rahasianya ke domba, dan menyuruhnya tidak bilang ke siapapun.. Padahal domba aja tidak bisa bicara.
"Ja-janji ya?! Janji!" Muka Jack mulai memerah.
"Mbeek, mbeek! (Iya, iyaa)" ujar Claire sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Janji loh!"
"Mbek! (Iya!)"
"Janji?"
"... Mbek.. (iya...)"
"Jan.."
PLAK!
"MBEEKK MBEBBEBEK MBEEKK! (KELAMAAN! KAPAN NGOMONGNYA!?)" Claire menampar Jack dengan kakinya. Gak kenceng-kenceng kok, tenang aja (?).
"S... SABAR WOI!" Jack mendorong Gembul alias Claire. Claire pun kembali berguling-guling. Tapi dia sudah berhasil menahan badannya, sebelum nyungsep lagi ke semak-semak.
Merek pun berantem lagi. Dan kertas yang dipegang Jack pun, tiba-tiba tertiup angin menuju ke bawah gunung.
"AHHH!"
"MBEEKK! (AAHH!)"
Mereka berdua pun bertatapan, lalu entah kenapa mereka jadi lomba kejar-kejaran menangkap kertas itu.
"Minggir kau domba jelek!" Sambil berlari, Jack menghalangi Claire untuk mendahuluinya.
"Mbeek mbeek mbekk.. (jangan remehkan aku!)
SYUUTT GLUNDUNG GLUNDUNG!
Claire pun menggelindingkan badannya. Untung baginya, karena jalannya menurun, membuatnya dapat menggelinding dengan cepat. Dia pun mendahului Jack.
"Curaaanggg!" Jack pun mempercepat larinya. Tapi tetap saja dia tertinggal di belakang. Claire pun tertawa sambil berguling, sampai dia tidak sadar di depannya ada pohon..
BRUAAAKKK!
Daun-daun dari pohon itu berguguran dan menutupi tubuh Claire.
Domba berguling nabrak pohon. Untung tidak ada orang yang melihatnya. Jangan sampai.
Setelah beberapa menit menyadarkan dirinya dari kepalanya yang terasa berputar-putar, Claire mulai mencari kertas itu. Saat ini dia berada di danau.. Mm.. Kappa. Aduh.. Claire berharap makhluk hijau itu tidak muncul. Dia pun kembali meneruskan pencariannya.
((Rasanya tadi terbang ke arah sini.. Kok tidak ada ya?))
Claire menengok ke sana-sini, sampai akhirnya, dia melihat kertas itu diatas pohon yang cukup tinggi. Tersangkut.
((Ga-gawat.. Pohonnya cukup tinggi.. Bagaimana ini kalau Jack melihatnya?))
Claire pun berusaha meraih kertas itu. Tidak sampai. Gagal. Sekarang dengan melompat. Tidak sampai. Gagal. Lalu, Claire memundurkan badannya beberapa langkah. Dan berlari dengan kencang menabrak pohon itu.
GRASAAKKK! PLOK PLOK PLOK!
Bukan kertas yang jatuh, malahan daun dan apel menimpa kepalanya. Claire pun meringis kesakitan.
"Mbueheheheekk! (Awawawawawaaa!)"
"Apa sih yang kau lakukan?" Claire spontan menengok ke belakang. Ya, Jack sudah ada di belakangnya.
"Mbuehek! Mbek mbek bekkk!" Claire berusaha menjelaskan bahwa kertasnya nyangkut di atas pohon.
"Ahh.. Sudahlah.. Ayo kita pulang." Jack pun berjalan menuruni gunung. Dia terlihat cuek sekali. Namun Claire bisa melihat, dia menyembunyikan kesedihannya.
((Dia menyerah? Menyerah? Ta-tapi..)) Claire melihat ke arah pohon itu.
((AKU TIDAK AKAN MENYERAH!))
Dengan kecepatan penuh, Claire berlari dan dia memasukkan kepalanya ke dalam selangkangan kaki Jack. Dia pun berdiri dengan dua kaki. Kini, Jack telah digendongnya.
"A-apa yang kau laku... WOAAH!" Belum selesai Jack bicara, Claire langsung berlari ke arah pohon dengan kedua kakinya, kemudian setelah sampai di depan pohon kedua kaki lainnya memegang pohon itu dengan erat.
"Mbeekk! (Sekarang!)"
Saat ini posisi Jack tidak terlalu jauh dari kertas itu. Dia berusaha mengambilnya, tetapi tidak sampai.
"T-tidak sampai!"
"MBEEKK! MBEEEK! (LAKUKAN SESUATU! BERDIRILAH!)" Kaki Claire mulai bergetar. Dia mulai merasakan beratnya bagi seorang domba untuk berdiri dengan dua kaki. Tidak, hanya Gembul alias Claire lah yang dapat melakukannya.
"T-tahan ya.. Aku coba berdiri.." Jack pun mulai berdiri. Tetapi dia salah menginjak. Harusnya dia menginjak pundak Claire, tapi dia malah menginjak kepalanya. Claire makin bergetar disko.
"MBBUEEHEEKK HEEKK! (UWWOOOHH! CEPATLAH!)"
"Sedikit... lagi.." Jack berusaha meraih kertas itu dan..
BRUAK BRAKKK! GLUNDUNG GLUNDUNG (?)
Claire dan Jack pun terjatuh.
Sudah cukup Claire merasakan derita menjadi seorang domba.. Istimewa.
"M... M... bhek!" Claire kehabisan nafasnya. Perlahan dia menoleh ke arah Jack. Jack pun juga terkapar. Namun, benda di tangannya itu..
"Mbeekk! (Kita berhasil!)" Claire segera berdiri dan mendekati Jack. Melupakan rasa lelahnya.
"Hiks.."
"Mbek? (Loh?)" Claire heran. Suara apa itu?
"Hiks.. Hueeee... huaaaa!"
((Heh?! Heh?! Kok nangis?! Kenapa!? Jangan-jangan.. dia terluka?!)) Pikir Claire.
"Mbek mbek mbek mbek mbek?! (Gimana nih.. Gimana nih..)" Claire mengitari Jack.
"Kupikir..." Claire berhenti berputar.
"Ku-kupikir.. kertas ini.. akan hilang.. Hiks! Syu-syukurlah.. Hiks! HUAAA!"
Claire terdiam melihat Jack. Rupanya kertas itu sangat berarti baginya. Memang sekarang sudah agak lusuh, tapi setidaknya kertas itu tidak robek dan hilang. Claire pun duduk di samping Jack, sambil mengelus-elusnya. Dia terus berada di sampingnya, sampai Jack berhenti menangis, dan mereka pun berjalan kembali ke Mineral Farm.
-Malamnya-
((Haah.. Akhirnya aku bisa beristirahat..))
Meskipun saat ini Claire harus tidur di kandang ternak, tapi dia tidak peduli lagi. Badannya sudah terasa sangat capek. Tadi setelah pulang dari gunung, mereka bermain seharian. Jack langsung menyimpan kertasnya baik-baik tanpa menunjukkan apa-apa ke Claire. Ya sudahlah, pikirnya. Meskipun dia bertubuh domba, tapi dia tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Malah entah kenapa, dia dianggap aneh oleh mereka. Ya sudahlah, pikirnya lagi.
Baru saja dia mau memejamkan matanya, tiba-tiba..
BUK!
Domba yang ada di sebelahnya menendangnya sambil tidur. Buset! Domba juga bisa ngigo! Dia pun pindah ke tempat lain. Tapi baru saja dia mau memejamkan matanya...
PLAAKK!
Ekor sapi yang ada di sampingnya menamparnya. Ya ampun... Dia pun pindah ke tempat lain, di belakang salah satu sapi yang cukup besar.
((Aahh, dengan begini.. Aku terlindungi..)) Dan baru saja dia menutup matanya..
BROTTT!
...
Cukup, Claire keluar dari kandang itu.
Hyuuuuuu
Angin malam yang sangat dingin itu menusuk tubuh Claire. Walaupun bulunya sudah tebal, tetap saja rasanya dingin. Baru saja dia mencari tempat berteduh, tiba-tiba pintu rumah Mack pun terbuka. Seseorang muncul dari dalam.
"Gembul? Kaukah itu?" Ya, itulah adalah Jack kecil yang memakai piyamanya, dan sendal rumah bergambar teddy bearnya. Lucunya~
"Mbeek! (Jack!)" Claire pun mendekati Jack.
"Wah wah.. Dia sampai tidak mau berpisah darimu ya..." Ujar Mack, yang juga keluar dari rumahnya.
"Kau bisa kedinginan disini... Jack memegangi wajah Claire. Tangannya terasa sangat hangat. Dia pun menatap Mack.
"... Kakek...?" Mack pun kalah dengan tatapan puppy eyes cucunya itu.
"Baiklah, dia boleh masuk ke dalam."
Claire bisa melihat Jack terlihat sangat gembira. Semenjak dia melihatnya, baru kali ini dia tampak seperti anak-anak. Claire pun masuk ke dalam rumah Mack. Bagian dalamnya tidak banyak berubah. Namun aromanya sangat berbeda. Ini adalah aroma khas Mack. Sebelum itu, Jack pun memandikan Claire. Mack heran kenapa Gembul bisa tenang-tenang saja. Padahal domba lain bisa menendangnya saat dia mau memandikan mereka. Jelas, karena Gembul adalah domba jadi-jadian. (?)
Kemudian, Claire pun tidur di ruang TV, di dekat sofa. Jack dan Mack tidur di kamar mereka berdua. Ah~ Rasanya benar-benar hangat. Dia pun memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Karena mengantuk, Claire membiarkan matanya terpejam.
((Palingan Jack atau Mack ingin ke kamar mandi.)) Pikirnya.
Tapi betapa kagetnya ketika dia merasakan ada orang yang tiba-tiba memeluknya layaknya guling, dan tidur di sampingnya. Dia pun membuka matanya. Dia bisa melihat, Jack tidur di sebelahnya, sambil memeluknya. Aahh! Seandainya dia bukan domba, dia pasti akan memeluknya balik. Tapi dia tidak bisa sekarang, tubuhnya tidak mendukungnya melakukan hal seperti itu.
Kemudian dia merasa matanya terasa semakin berat, dan dia pun terlelap. Mack yang mengintip dari kamar pun hanya tersenyum, lalu menyelimuti mereka berdua dengan selimut yang dia bawa dari dalam kamar.
-oOo-
Esoknya Claire menghabiskan waktunya bersama Jack kecil seharian. Mereka bermain dan menjadi semakin dekat. Tapi Claire heran, entah kenapa Jack tidak pernah bermain dengan anak-anak yang lain. Setiap Claire mencoba mendekat kepada anak-anak yang lain, Jack selalu menarik leher Claire dan menariknya menjauh dari mereka. Entah karena malu atau apa. Yang jelas, Claire mulai menyerah setelah lehernya dicekik 23 kali oleh Jack.
Kemudian, hari festival pun tiba. Mack dan Jack membawa domba mereka masing-masing ke Yodel Ranch. Para peserta lain pun mulai berdatangan disana. Sang ketua pelaksana, Barley memulai kata sambutannya.
"Yak! Terima kasih atas kehadiran kalian pada festival domba kali ini! Langsung saja akan kujelaskan hal-hal apa saja yang mentukan kemenangan! Cukup satu! Masing-masing domba kalian harus menunjukkan keahliannya! Langsung saja kita mulai!" Ujar Barley.
"Semoga kau dan Gembul berhasil, Jack." Ujar Mack sambil mengelus kepala Jack. Jack menundukkan wajahnya yang memerah.
Kemudian satu-persatu domba peserta lain mulai menunjukkan keahlian mereka. Ada yang memakan 10 pakan dalam sekali suap, ada yang kentutnya bernada do-re-mi-fa-sol-la-si, tapi sayang diakhirannya diakhiri dengan bunyi "pssh" yang tak bernada. Claire sampai mangap melihatnya. Domba apa-apaan ini?!
"Berikutnya adalah giliran Margareth dari Mineral Farm!" Teriak Barley. Sambutan pun semakin meriah. Claire juga menyaksikannya dengan seksama.
Margareth adalah domba yang sangat anggun. Dia berjalan ke tengah-tengah panggung dengan penuh gemulai. Dan kemudian, dia terdiam. Bulu yang ada di tubuhnya bergetar.
BUUUUFFF!
Seketika, bulu yang tadinya berbentuk wol itu, langsung berubah menjadi sehalus sutra. Seluruh peserta mangap. Termasuk Claire.
"MBUEHEHEEEKKK?! (APA-APAAN ITU?!)" Teriak Claire.
"Incredible! Wonderful! AMAZING!" Barley sampai jadi bule saking kagumnya. (?)
"Ohhh! Indahnyaa! Bulunya berkilaau!" Mayor nangis-nangis. (heeii?)
"Kerja bagus, Margareth." Mack mengusap-usap Margareth. Dia pun hanya tersenyum puas.
"Yak, berikutnya adalah Gembul! Dari Mineral Farm!" Ujar Barley.
Sorakan pun menyertai mereka. Sementara Jack hanya terdiam malu, sambil berdiri di samping Claire. Claire dapat melihat bahwa ada anak-anak lain yang menonton mereka. Claire harus berjuang agar tidak membuat Jack malu!
((Aku harus berjuang agar Jack bisa dibanggakan!))
"Dan sekarang apa yang akan ditunjukkan oleh Gem.. loh?" Belum selesai Barley bicara, Gembul tiba-tiba meloncat dengan sangat tinggi. Lalu salto di udara.
"W-WOAAAHH!" Seluruh penonton heboh. Termasuk Jack.
Kemudian Gembul mendarat dengan dua kaki. Dia pun mulai berdiri dengan satu kaki. Dan berputar-putar.
"Waaww! Domba Jack bisa nari balet!" Ujar Ann dan para anak perempuan lainnya kagum.
Tidak hanya itu, setelah balet, gembul mulai menari-nari, dengan menggoyang-goyangkan kepala dan pinggulnya.
"Hahahahaa!" Seluruh penonton tertawa menyaksikannya.
Kemudian, sebagai penutup, Claire mengambil ancang-ancang lagi untuk bersalto, tapi sayang, kakinya keseleo, dan akhirnya dia terguling-guling tak berarah.
BYUUURRR!
Dia pun nyebur ke sungai.
"Gembul!" Jack dan para penonton pun segera ke sungai, untuk melihat keadaan Gembul.
Beruntung Claire bisa berenang, dia pun segera naik lagi ke daratan dengan memuntahkan ikan kecil dari mulutnya.
"Mbueheekk! (Baru kali ini aku nelen ikan hidup!)" Ujar Claire sambil menggoyangkan badannya yang sekarang berat terisi air.
"Uwaahh! Airnya muncrat!" Penonton pun ikut kebasahan.
Claire memucat.
((Apa yang kulakukaann?! Aku membuat mereka basah.. Gawat!))
"G-gembul..." Jack melihat sekelilingnya. Terlihat ekspresi takut di wajahnya. Tapi ternyata..
"HAHAHAHAHA!" Mereka semua malah tertawa.
"Kerja bagus, Jack. Kau melatihnya dengan baik! Lihat, cucuku hebat bukan?" Ujar Mack sambil memegang pundaknya.
"Ya, kau sangat hebat nak! Tampaknya dombamu dan kau sangat akrab sekali! Itu bagus!" Ujar Barley sambil mengusap kepala Jack.
"Jack! Kamu hebat!"
"Iya, kok kamu bisa bikin dombamu akrobat sih?! Ayamku juga bisa kamu latih kayak gitu gak?"
"Ajarin aku juga dong!"
"Aku juga!"
Para anak-anak pun mulai mendekati Jack. Sementara Jack hanya kebingungan dengan mukanya yang mulai memerah. Claire pun puas melihatnya. Dia pun menjatuhkan badannya.
((Syukurlaahh~~)) pikirnya.
Kemudian Mack pun mendekati Claire dan mengusap kepalanya. Sambil tersenyum.
"Terima kasih ya.. Ini semua berkat kau.."
Meskipun saat ini dia bertubuh domba yang basah kuyup, dia benar-benar merasa tangan Mack sangatlah besar dan hangat. Keriput di tangannya menandakan sudah banyaknya pengalaman yang dia alami, jauh lebih banyak dari Claire. Kakek Claire sudah lama meninggal beberapa tahun sebelum Claire lahir. Dia juga belum pernah melihat kakek dan nenek dari ibunya. Hanya nenek dari ayahnya lah, yang dia kenal dan menjadi satu-satunya keluarganya. Ya, nenek yang sangat dia sayangi itu.
((Inikah rasanya.. Memiliki seorang kakek itu?... Hangat...))
Claire merasakan perasaan yang sangat damai. Entah kenapa dia menjadi sangat merindukan neneknya. Orang tuanya. Ya, keluarga yang kini sudah tidak dapat dia temui lagi. Perlahan, dia merasa air mata sudah mulai membendung di matanya.
((NOOOO! AKU GAK BOLEH NANGIS!))
Claire menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah memutuskan sejak neneknya meninggal, dia akan jadi kuat! Ya! Dia harus jadi kuat. Sebelum akhirnya, dia berdiri dan mencari Jack.
((Kemana Jack?)) Ujarnya sambil mencari Jack.
Kemudian dia melihatnya bersama anak-anak lain. Sedang mengobrol.
"Ohh, jadi kamu dari kotaa?" Tanya Ann. Jack hanya mengangguk-angguk malu.
"Heii.. Gray.. Kamu jangan ngumpet gitu dong!" Ujar Karen, sambil menarik anak yang saat ini memakai topi, sampai kebawah sekali, menutupi keningnya.
"A-aku.. H-habisnya.." Dia berlari ke belakang Elli.
"Aahh.. Kamu ini.. Kalian baikan dong!" Ujar Popuri. Rambutnya dikepang dua kebawah.
"Sudahlah! Jack! Kamu suka ayam gak? Aku suka loh!" Ujar Rick sambil mendekatinya. Kemudian, dia menyadari ada sesuatu yang Jack pegang dari tadi. "Hmmm? Itu apa?" Tanyanya lagi.
"T-Tidak! Bukan apa-apa!" Dengan panik, Jack menyembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya. Mereka pun semakin penasaran.
"Surat cinta ya?" Ledek Karen.
"Semua! Pegangi tubuhnya!" Ujar Popuri.
Rick, Popuri dan Karen pun memegangi tubuhnya. Elli, Gray, dan Mary hanya melihat mereka dari jauh. Sedangkan Ann, merebut kertas itu dan membukanya.
"Siap! Kubaca yaa! 'Aku ingin.."
"JANGAANN!"
Jack pun segera mendorong mereka semua dan menerjang Ann. Berusaha merebut kertas itu kembali. Jack berhasil mendapatkan kertas itu, tapi dia membuat Ann terjatuh.
"Hiks.. Hu.. Huweee..." Ann pun mulai menangis sambil memegangi kepalanya. Orang-orang pun mulai berdatangan. Jack hanya terdiam sambil memegang erat kertasnya.
"Ada apa, anak-anak?" Tanya Doug, Mack, dan Gotz yang mendekati mereka.
"Aku.. huwee.. Jatuhhh..." Ujar Ann, sambil memeluk ayahnya.
"Cup.. cup..." Ujar Doug sambil mengusap kepala anaknya.
"Kenapa dia bisa jatuh?" Tanya Mack.
Anak-anak itu pun terdiam. Kemudian Karen berbicara..
"Ta-tadi.. Jack mendorongnya.." Mack langsung menatap Jack yang sekarang sedang menundukkan kepalanya, sambil memegang kertasnya erat-erat.
"Jack.. Kau.."
"AKU GAK SALAAHHH!" Belum selesai Mack bicara, Jack berlari meninggalkan Yodel Ranch. Panik, Claire pun segera mengejarnya.
Sementara Mayor dan Barley, baru saja keluar dari rumah Barley. Mereka membawa sebuah kertas pengumuman nilai.
"Yak, aku dan barley sudah membicarakannya, pemenangnya adala..."
BUAAAAKKKKK! Glundung-glundung!
Mayor tertabrak Gembul yang sedang berlari dengan kecepatan penuh. Dia pun berguling-guling dan menabrak meja dengan lilin di atasnya.
"Aduh.. Apa yang terjadi..?" Mayor pun berdiri. Dia melihat orang-orang di depannya dengan muka memucat, dan mulut menganga. Baru saja dia mau bertanya ada apa, dia mulai mencium bau gosong dari atas kepalanya.
"Ke-kepala!..."
Mayor pun melihat pantulan dirinya di jendela. Kepalanya kini sudah dipenuhi dengan api yang membara.
"NOOOOOO!" Teriaknya histeris.
"AIRR! AIRRR!" Seluruh warga pun jadi heboh.
-oOo-
Sementara para warga heboh, kita kembali beralih ke Claire dan Jack.
Claire terus menerus mencari Jack. Tapi dia tidak ada dimana pun. Tidak sampai dia melihat ada sosok anak yang duduk sambil menundukkan kepalanya di dekat danau Kappa. Ya, itu Jack! Claire pun bermaksud mendekatinya. Tetapi langkahnya terhenti setelah dia melihat Jack menangis sambil memegang kertas itu dengan erat. Terus memanggil nama ayah dan ibunya.
"Ayah... Ibu... Hiks.. Aku.. Aku tidak salah.. Maaf! Bukan aku.. Bukan aku.. Jangan salahkan aku! Bukan aku yang salah.. Bukan aku penyebab ayah dan ibu mati... Bukan akuu!"
Claire membatu. Dia merasa melihat dirinya di masa lalu. Ya, saat ayah dan ibunya meninggal waktu dia masih kecil. Meskipun nenek selalu merawatnya, tapi tetap saja.. Setiap dia melihat teman-temannya bergandengan dengan orang tuanya, dia merasa sedih. Ya, dia kesepian. Tapi..
Claire? Apa yang kamu lakukan disini? Ayo, kita pulang..
Ya, nenek yang tersenyum selalu menyelamatkannya. Tangan nenek yang hangat dan besar itu selalu menggandengnya. Menghilangkan rasa kesepiannya. Dan membuatnya bisa bertahan sampai saat ini. Dia masih jauh lebih beruntung.. dari Jack. Kakek Jack meninggal saat Jack berumur 8 tahun. Setelah itu.. Bagaimana perasaan Jack?
Claire terus terdiam, sampai dia menyadari Jack ingin menceburkan dirinya ke danau. Claire segera berlari mencegahnya, tapi Jack sudah menceburkan dirinya ke danau. Claire pun segera menyusulnya.
BYUUURRRR!
Dia mulai menyelam, mencari Jack. Setelah tak lama, dia berhasil menemukan Jack. Claire segera mengangkatnya ke daratan. Tubuhnya terasa 5 kali lebih berat, dengan seluruh bulu di tubuhnya itu. Tapi akhirnya Claire berhasil mengangkatnya ke darat. Dilihatnya Jack yang masih pingsan itu. Dia merasakan Jack masih bernapas.
((Syukurlah dia tidak tenggelam terlalu lama. Napasnya juga masih normal.. Dan..))
Claire melihat Jack masih memegang erat kertasnya.
((Syukurlah kertas miliknya tidak hilang...)) Ujar Claire lega.
Perlahan, Jack pun membuka matanya. Dia pun bertatapan mata dengan Claire. Perlahan dia memanggil Claire.
"Ge... Gembul..?" Tanya Jack masih setengah sadar. Claire hanya mendekat dan mengeluskan kepalanya pada tangan Jack.
"Tadi.. Aku sempat melihat ayah dan ibu..." Ujar Jack sambil sedikit tersenyum. Claire hanya terdiam.
"Hei... Gem.. bul..." Ujarnya lagi sambil memegang tangan Gembul.
"A.. pa.. Aku ini... ja.. hat..?" Tanya nya sambil menangis.
"Mbek... (Jack..)" Claire hanya menatapnya.
"Kenapa.. kali..an.. semua.. membenciku..?"
Kedua matanya mulai menutup.
"Jangan.. mem.. ben.. ci.. ku..." Dia pun tertidur.
Kemudian, air mulai berjatuhan di wajah Jack. Ya.. Itu adalah air mata Claire.
((Kenapa.. Kenapa Jack harus mengalami masa lalu sepahit ini? Dia masih.. kecil..)) Claire menghapus air matanya. Dia merasa sangat sesak. Dia tau perasaan Jack. Dia pernah mengalaminya. Tapi tampaknya ada beberapa hal yang masih harus Claire cari tau. Ya. Soal kehidupan Jack sebelum dia tinggal di Mineral Farm.
Tiba-tiba dia melihat sosok Hoshi lagi di tengah-tengah jembatan. Sedang menatapnya lurus. Claire menatap Hoshi dalam-dalam. Mata Hoshi.. Benar-benar berbeda. Claire merasa dia terhisap masuk ke dalamnya. Tapi tiba-tiba, Hoshi menghilang begitu saja. Lenyap bagaikan angin.
"H-Hoshi...?" Ujar Claire. Dia pun terkejut mendengar suaranya telah kembali normal. Dia melihat tubunnya. Ya, dia telah kembali menjadi Claire sang roh keluyuran. (eh?) Apakah.. Ini perbuatan... Hoshi? Siapa sebenarnya.. Dia?
DRAP DRAP!
Claire dikagetkan dengan suara langkah orang berlari itu, yang rupanya adalah Mack. Wajahnya pun berubah menjadi pucat melihat cucunya terkapar basah kuyup di pinggir danau. Langsung dipeluknya cucunya itu.
"Jack! Jack! Bertahanlah! Jack!" Mack segera mengngkat Jack sebelum dia melihat ada kertas terjatuh. Dia pun mengambilnya, dan memasukkannya ke kantungnya. Lalu segera berlari ke Mineral Farm sambil menggendong Jack. Diikuti dengan Claire.
-oOo-
"Dia hanya kelelahan.. Tidak apa.." Jelas Mack kepada warga yang sejak tadi datang untuk melihat keadaan Jack.
"Ini salah kita.. Kita yang sembarangan merebut kertas Jack.. Maaf..." Ujar para anak-anak itu dengan mata memerah.
"Tidak apa anak-anak. Sekarang, biarkan dia beristirahat dulu ya.." Ujar Mack.
"Baiklah, kami pulang dulu ya.. Sekaligus kami mau melihat keadaan mayor.." Doug mendekat dan membisikkan sesuatu pada Mack. "Kudengar bagian atas rambutnya, botak habis terbakar! Dia sekarang sedang mencari cara menutupinya!"
"Hahaha... Kurasa dia harus menutupinya dengan topi atau wig.." Ujar Mack.
Kemudian, mereka semua pun pergi. Kini tinggal mereka bertiga yang ada di rumah. Claire mendekati Jack yang masih tertidur pulas di kasurnya. Claire menyadari Mack juga menatap Jack, lalu mengelus kepalanya.
"Jack.. Rupanya.. Kejadian itu masih membekas di hatimu.." Ujar Mack.
((Kejadian? Kejadian apa?)) Ujar Claire.
Mack pun duduk di samping Jack sambil mengelusnya. Sementara Claire, sibuk menatap kamar Mack.
((Ini ya.. Kamar Mack itu..?))
Kamar Mack sangat sederhana dengan perapian dan dengan berbagai perlatan bertani di dalamnya. Kemudian, di atas perapian terdapat beberapa bingkai foto. Ada salah satu bingkai yang tertutup. Memastikan Mack tidak melihatnya, Claire mangangkat bingkai itu. Dilihatnya disana ada foto seorang gadis yang cantik sekali. Rambutnya cokelat persis seperti Jack. Disampingnya ada foto orang yang tampaknya adalah ayahnya, karena rambut cokelatnya yang sama persis dengannya. Wajahnya mirip sekali dengan Mack. Jangan-jangan dia..
((Ibu... Jack?))
Tanpa Claire sadari, Mack ternyata sudah keluar kamar. Penasaran, dia mengikuti Mack ke ruang tamu. Mack duduk di sofa, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Ya, itu kertas milik Jack yang selalu dia pegang erat-erat.
Perlahan, Mack membuka kertas itu. Dan.. tak lama setelah menatapnya.. Dia pun menangis. Ya, dia menangis.
((Kenapa.. Apa isi kertas itu?...)) Claire penasaran, tapi dia juga takut untuk mengetahui apa isi dari kertas itu. Saat dia memutuskan untuk mendekat, dia merasakan tubuhnya berat. Dan cahaya putih mengelilinginya lagi. Dia berusaha menghindar, namun dia tidak berhasil. Tubuhnya tidak bisa bergerak dan.. Pandangannya mulai kabur.
((A-apa.. yang... ter.. jadi...))
((Aku... harus.. menge.. tahui.. isi.. ker.. tas.. i.. tu...))
Matanya pun mulai tertutup.
((Nenek... Tolong.. Aku...))
-bersambung?-
