Fanfiction KaiHun

Cast : Kai, Sehun! GS

Genre : Romance, Drama, Comedy

Summary : Kai adalah artis terpopuler di Korea Selatan saat ini dan Sehun adalah fan-nya. Disuatu musim panas, Sehun mendapat lowongan magang di agensi dimana Kai bernaung. Sehun berusaha keras—dan mempertaruhkan rasa malunya—dalam waktu dua bulan untuk membuat Kai jatuh hati padanya.

Chapter Thirteen

"Terima kasih tehnya."

"Sama-sama."

Sunyi.

Gadis cantik dengan kantung mata besar menunduk sambil memandangi kakinya. Disebelahnya duduk seorang pemuda tampan dengan wajah sama lelahnya dengan si gadis cantik. Keduanya duduk diam dengan gelas karton berisi teh hangat ditangan mereka.

"Kenapa kau disini?"

"Uh..ka-karena…" Pemuda yang sejak awal terlihat gugup kini makin gugup. Tangannya memainkan gelas kertas ditangannya dan matanya bergerak-gerak tidak nyaman. Gadis cantik bernama Oh Sehun itu diam, menunggu kelanjutan ucapan pemuda tampan disebelahnya.

"Sehun." Pemuda itu menarik nafas panjang dan menegakkan tubuhnya. Matanya mendadak terlihat lebih percaya diri dan yakin. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah ku katakan sejak dulu."

Kini bukan hanya jantung si pemuda yang berdebar-debar, si gadis cantik itu sama gugupnya dengan si pemuda. Ia tahu seharusnya ia tidak boleh terlalu besar kepala dan yakin jika si pemuda akan mengungkapkan cinta padanya tapi….entah mengapa ia sangat yakin jika memang itu yang akan si pemuda lakukan.

"Kau tahu, aku bukanlah pemuda biasa yang bisa menyukai siapapun yang aku inginkan. Aku tidak pernah begitu menyukai seseorang sampai aku ingin menjadikan ia kekasihku dan tidak mempedulikan resikonya."

Oh Sehun, gadis cantik itu menundukkan kepalanya.

Malu, senang dan sedikit takut.

Dulu ia sering sekali membayangkan jika suatu saat artis kesukaannya mengungkapkan cinta padanya. Banyak sekali scenes yang pernah singgah dibenak Sehun, mulai dari pernyataan cinta disebuah pantai hingga didepan wartawan ketika artis kesukaannya itu sedang melakukan press.

Sehun tidak pernah benar-benar berpikir jika hal itu akan terjadi pada dirinya sungguhan. Tapi…kini Kim Kai ada disebelahnya, dikota kelahirannya, duduk bersamanya dan sedang mengungkapkan cinta padanya.

Maafkan aku semua fans Kim Kai..

"Ku rasa kita sudah saling mengetahui perasaan kita satu sama lain tapi aku ingin menjadi lelaki jantan dan meresmikan hubungan kita, bukan hanya membuatmu terus berada didekatku tanpa memberi kejelasan. Aku menyukai Oh Sehun."

Kai berhenti sejenak dan mengamati Sehun yang masih menunduk didepannya.

"Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, hanya saja tiba-tiba aku merasa senang setiap kali aku melihatmu, mendengar suaramu dan mengganggumu. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Jongdae, Chanyeol atau pria manapun."

Sehun masih diam.

"Mengenai skandal itu, kau tahu kan bagaimana media suka sekali memanipulasi berita agar mereka mendapatkan pembaca. Aku dan Luhan sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, hanya rekan kerja."

"Bukankah Luhan menyukaimu?" Sehun bertanya dengan suara lirih.

"Tapi aku tidak menyukainya. Aku menyukaimu." Kai menjawab cepat. Sehun menggigit bibirnya untuk menahan senyumnya atas jawaban Kai barusan.

"Kai—"

"Aku tidak suka kau memanggilku Kai."

"Baiklah Jongin, kau tahu, Luhan jauh lebih menarik dariku. Lihat kakiku tidak panjang dan ramping seperti—umph!"

Kai benci mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Sehun dan ia tidak akan sanggup mendengar keseluruhannya. Dan Kai menjadikan itu alasan untuk mengecup bibir merah muda Sehun yang sudah berminggu-minggu ia amati, ia dambakan, ia mimpikan.

"Ya!" Sehun menutup mulutnya untuk menahan pekikannya.

"Kau sempurna Oh Sehun. Aku tidak ingin gadis kurus kering menjadi kekasihku, aku ingin gadis sehat dan gadis sehat itu adalah kau." Tuh kan, lagi-lagi Sehun dibuat merona karena Kim Kai. Mungkin sering main di drama-drama membuat Kai tahu kalimat apa yang mampu menggerakkan hati para wanita.

"Aku tidak tahu apakah harus memintamu menjadi kekasihku atau tidak. Aku…takut." Jongin meletakkan gelas kertasnya dan juga menarik gelas kertas Sehun. Ia genggam tangan kecil Sehun dengan sepenuh hati.

Sehun mendongakkan kepalanya, ia bingung.

Jadi, Kai hanya akan mengungkapkan perasaannya?

Lalu, sudah?

"Akan sangat egois jika aku memintamu menjadi kekasihku karena seluruh hidupmu akan berubah jika kau menjadi kekasihku. Mungkin kita bisa menjaga agar hubungan kita agar tidak ketahuan oleh publik tapi banyak reporter gila dan belum juga fans yang entah bagaimana bisa mengetahui privasiku. Aku tidak ingin kau menjadi bulan-bulanan jutaan orang karenaku. Aku mengatakan hal ini bukan hanya sekedar ingin menjadi kekasihmu. Well, untuk sekarang mungkin aku memintamu menjadi kekasihku tapi aku ingin hubungan yang serius. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan, tapi aku ingin mencobanya. Serius denganmu."

Sehun terdiam.

Memang ia tahu jika pria yang ia cintai bukanlah pria sembarangan.

Kim Kai memiliki nilai jutaan won dan akan hidupnya akan berubah drastis jika ia masuk kedalam dunia Kai yang penuh akan drama, kepalsuan dan tidak ada privasi. Sehun tahu itu dan Jongdae pernah mengatakan padanya jika Kai tidak menyatakan cintanya pada Sehun bukan berarti Kai tidak menyukainya.

"Jadi…" Sehun berkata pelan. Matanya mengerjap, tidak yakin apa yang harus ia katakan atas semua ucapan Kai.

"Jadi, aku ingin egois. Mau kah kau jadi kekasihku, Oh Sehun?" Kai memandang Sehun penuh harap.

"Uh, ak-aku…" Sehun tergagap. Dalam kepalanya, ia pernah membayangkan ini. Menjawab pernyataan cinta Kai. Tapi dengan Kai sungguhan berada didepannya, dengan tangan Kai menggenggam tangannya, mata cokelat Kai menatapnya dalam-dalam, otak Sehun rasanya macet. Apalagi Kai tidak sekedar mengatakan cinta padanya, tapi meminta hubungan yang serius dengannya.

"Kau bisa memikirkannya Sehun, aku tahu jika resmi menjadi kekasihku akan mengubah banyak hal dalam hidupmu. Karena aku serius denganmu yang berarti cepat atau lambat aku ingin hubungan kita diketahui oleh publik."

Sehun mengangguk-angguk paham.

Menjadi kekasih Kim Kai saja sudah sesuatu yang terlalu menakjubkan.

Kini Kai malah seolah sedang melamarnya.

"Jongin, aku dan kau baru mengenal sekitar dua bulan tapi aku rasa itu sudah cukup meyakinkanku untuk menjalin hubungan yang serius denganmu." Sehun berkata pelan. "Aku mau menjadi kekasihmu Kim Jongin."

"Sehun, antar Jongin pulang. Biar dia istirahat."

"Tidak apa Bibi. Aku baik-baik saja." Kai tersenyum pada wanita yang terbaring diatas tempat tidur rumah sakit dengan infus ditangannya.

"Pulanglah kerumah Bibi, mandi, makan dan tidur sejenak. Kau bau tahu." Suho, ibu Sehun, tersenyum jahil pada Kai yang jelas-jelas terlihat kelelahan dan kantung matanya kentara sekali. "Kau juga Sehun, pulanglah. Disini ada Kyungsoo dan Jongdae."

"Uh.." Sehun terlihat ragu-ragu. Ia tidak ingin meninggalkan ibunya namun melihat keadaan Kai yang berantakan dan pemuda itu harus segera kembali ke Seoul beberapa jam lagi membuat Sehun tidak tega membiarkan Kai bergeletakan dirumah sakit sepanjang hari.

Sehun yakin jika Kai kembali ke Seoul nanti, Kai akan membutuhkan seluruh tenaganya. Kai harus menghadapi managernya, menghadapi agensinya dan yang jelas Kai harus menebus kesalahannya hari ini karena sudah melarikan diri dari tugas-tugasnya.

"Tidak apa. Pulanglah. Ibu masih menyimpan beberapa pakaian ayahmu kalau Jongin ingin ganti baju atau belikan saja yang baru. Atau pinjam milik—"

"Tidak usah repot-repot Bi." Kai memotong ucapan Suho yang masih begitu bersemangat meskipun sedang terbaring sakit.

"Jangan lupa ajak Jongin sarapan. Sepertinya dirumah sudah tidak ada bahan makanan, belikan saja makanan di—"

"Bibi, istirahatlah." Kai tersenyum kecil. Suho mirip sekali dengan ibunya, masih memperlakukannya dengan manja dan penuh kasih sayang. Hal ini membuat Kai merasa hangat dan merindukan rumah.

"Bu, aku pulang dulu." Sehun bangkit dari tempat duduk dan memandang ragu ke arah ibunya. Tidak yakin jika meninggalkan ibunya sendirian dirumah sakit adalah ide yang baik.

"Iya hati-hati." Suho tersenyum kecil pada Kai dan Sehun yang berjalan keluar meninggalkan kamar istirahatnya.

"Jongin, jarak rumahku dan rumah sakit sekitar lima belas menit jalan kaki. Kau mau jalan atau—"

"Jalan saja."

"Tidak lelah? Kau pasti akan kelelahan seharian nanti."

"Aku ini laki-laki Hun, berjalan lima belas menit tidak berarti apa-apa." Kai menarik lengan Sehun agar berjalan lebih dekat dengannya.

"YA! Kalau ada orang yang lihat bagaimana?" Sehun menarik lagi tangannya dengan pipi merah, matanya bergerak gugup memastikan tidak ada orang yang melihat Kai menggandeng tangannya.

"Huft, baiklah." Kai menghela nafas panjang dan memasang wajah cemberut.

"Tuh kan, manjanya keluar." Sehun tertawa melihat Kai yang kesal.

"Aku kan cuma mau menggandeng pacarku." Kai mengomel pelan. Omelan yang membuat Sehun tersipu. Statusnya kini sudah berubah menjadi pacar Kai. Sesuatu yang tidak pernah Sehun bayangkan akan menjadi kenyataan.

Keduanya berjalan beriringan dengan Kai yang kini memakai masker untuk menutupi identitasnya. Sehun berjalan disebelahnya dan bercerita tentang tempat-tempat yang mereka lewati.

Toko es krim.

Toko buku.

Hingga rumah teman-temannya.

Sehun menceritakan bagaimana setiap tempat di kota kecilnya itu memiliki arti besar dalam hidupnya. Kai mendengarkan dengan seksama, tidak ada satupun yang ia lewatkan karena cerita-cerita Sehun selalu menarik perhatiannya.

"Dulu, anak pemilik toko es krim ini menyukaiku. Setiap hari aku diberi es krim gratis tapi waktu itu aku tidak mengerti." Sehun berkata sambil tersenyum melihat toko es krim yang masih tutup, maklum saja saat ini masih pukul enam pagi.

Kai sedikit merengut mendengar cerita Sehun.

"Dia sudah menikah sekarang." Dan Kai langsung tersenyum lebar membuat Sehun tertawa. "Ternyata kau tipe pacar yang posesif ya."

"Salahmu terlalu cantik." Kai bergumam pelan namun telinga Sehun masih bisa menangkapnya.

"Harusnya aku dong yang posesif, kau selalu dikelilingi wanita-wanita cantik."

"Kau tahu Hun, mereka semua jelek waktu tidak pakai make-up bahkan wajah ngantuk dengan ilermu masih jauh lebih cantik." Kai berkata usil pada Sehun.

"Aku tidak pernah ngiler tau!" Sehun dengan kesal mencubit lengan Kai.

"Aku melihatnya sendiri, kau selalu ngiler dan aku harus mengganti seprai setiap hari." Kai masih saja menggoda Sehun walaupun gadis itu sama sekali tidak pernah ngiler. Bahkan menurut Kai, Sehun yang sedang tertidur terlihat seperti putri yang menunggu pangeran datang dan menciumnya.

Keduanya terus bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Perjalanan lima belas menit terasa begitu singkat hingga tiba-tiba mereka sudah sampai didepan sebuah rumah sederhana dengan taman cantik dipenuhi bunga-bunga yang indah.

"Woah, rumahmu cantik sekali." Kai memandang takjub rumah Sehun dan ibunya. Sejak dulu ia ingin sekali memiliki rumah kecil dengan taman indah seperti ini. Mata Kai menatap penuh kekaguman rumah minimalis didepannya.

"Rumahku tidak sebagus rumahmu di Seoul dan uh, ini sudah lumayan tua. Perlu diperbaiki disana-sini tapi Ibu masih belum ada biaya." Sehun berkata lirih. "Sudahlah, ayo masuk!"

"Rumahmu cantik Hun. Nanti kalau menikah aku denganmu ingin tinggal disini." Kai berkata tanpa bisa berhenti memperhatikan rumah Sehun yang nyaman dan hangat.

"Aku baru lulus SMU!" Sehun berkata keras denga pipi merah. Baru semalam jadian masa pembicaraan sudah tentang menikah saja sih?

"Aku juga, tapi tidak ada salahnya kan menikah muda?"

"Aku tidak mau!" Sehun menolak dengan pipi yang semakin memerah. Kai tertawa lagi, menggoda Sehun memang sudah menjadi hobinya sekarang. Wajah Sehun yang sedang marah, kesal atau malu sangat menggemaskan membuat Kai tidak pernah kapok walaupun Sehun sering mencubit atau mengomelinya.

"Akan ku buatkan sarapan dulu." Sehun berjalan menuju dapur kecil dirumahnya sambil membawa kantong kertas berisi bahan makanan yang mereka beli saat diperjalanan tadi.

"Baik istriku." Kai menjawab sambil mengikuti langkah Sehun menuju dapur.

"YA!" Sehun membalikkan badannya dan menatap galak kearah Kai yang tersenyum tanpa dosa.

"Akui saja, kita sudah seperti pasangan suami istri. Kita bahkan sudah tidur seranjang. Bukan hanya semalam lagi. Aku sudah tahu kalau kau suka ngiler dan aku sudah terbiasa melihat rambutmu ketika bangun tidur." Kai melanjutkan, masih senang menggoda Sehun yang sudah merah padam.

"Aku tidak ngiler!" Sehun merengut. Kalau masalah rambut…yah, namanya juga bangun tidur. Wajarkan kalau sedikit berantakan? "Dari pada kau mengangguku lebih baik kau mandi sana."

"Istriku kalau marah galak sekali sih." Kai dengan sengaja mencubit pipi Sehun dan dengan telak sebuah pukulan mengenai lengannya.

"Sini biar kutunjukkan kamar mandinya." Sehun berjalan keluar dapur dengan menahan senyum. Sebenarnya senang juga sih Kai membahas tentang menikah, membayangkan ia bisa bangun dan melihat wajah Kai setiap hari membuat jantung Sehun berdebar kencang.

"Kamar Oh Sehun. Ketuk pintu sebelum masuk." Kai membaca keras-keras tulisan pada sebuah pintu kayu yang ia lewati. "Kamarmu?"

"Iya." Sehun menjawab pelan, kakinya masih melangkah menuju kamar ibunya yang bersebelahan dengan kamarnya.

"Boleh aku masuk kamarmu?" Kai berkata dengan suara agak keras karena Sehun sudah berada dikamar ibunya untuk mencari pakaian bersih sementara Sehun masih berdiri didepan pintu kamar Sehun.

"Tentu saja." Kai bisa mendengar suara Sehun menjawab pertanyaannya. Tangan kau mendorong pintu didepannya dan terngaga melihat isi kamar Sehun.

Bukannya kamar itu berantakan atau bau atau kenapa. Hanya saja disalah satu dinding kamar itu mata Kai melihat begitu banyak foto, poster dan gambar dirinya. Kai mengernyitkan dahinya, bukankah Sehun pernah bilang kau gadis itu bukan fans-nya?

"JONGIN! JONGIN! JANGAN MASUK KAMARKU!" Telinga Kai menangkap suara melengking Sehun dan tiba-tiba gadis itu sudah dibelakangnya dengan wajah merah padam.

"Uh.." Sehun seperti maling yang tertangkap basah.

"Kau bukan fansku? Hm?" Kai menyeringai lebar melihat wajah cantik kekasihnya yang menggemaskan karena malu.

"A-aku…"

"Kau bukan fansku tapi kenapa begitu banyak fotoku disini?" Seringai Kai semakin lebar.

"Aku, uhm, adalah seorang hater." Sehun menjawab pelan dan Kai pun tertawa terbahak-bahak.

"Kau itu tidak pandai berbohong dan berakting." Kai berjalan mendekati gambar-gambarnya yang berjejer rapi disekitar meja belajar milik Sehun. "Kenapa kau berbohong waktu itu? Mengatakan kau bukan fansku?"

"A-aku tidak—"

"Jujur Sehun. Apapun alasanmu aku terima."

"Pe-pertemuan pertama kita kan tidak begitu uh, baik. Kita langsung bertengkar dan ku pikir kau membenciku. Kan aneh kau membenciku tapi aku mengatakan jika aku fans-mu." Sehun bercerita dengan kepala menunduk, malu ketahuan.

"Aku membencimu?" Kai bertanya heran.

"Iya! Kau memarahi karena mengelap sepatumu dengan cola!" Sehun cemberut. Memang sih awal pertemuan mereka sama sekali tidak manis bahkan sampai sekarang keduanya masih sering bertengkar karena hal-hal sepele tapi jika takdir memang menginginkan ia bersama Kai, pertengkaran-pertengkaran itu malah membawa keduanya jauh lebih dekat.

Kai tertawa kecil. Ia ingat pertemuan pertamanya dengan Sehun.

Gadis itu duduk dilantai dengan wajah kotor, tangan kotor, dikelilingi sepatu-sepatu bau. Kai harus mengakui, jika waktu itu Sehun tidak balik mengatainya atas sikap kasarnya, ia pasti akan melupakan Sehun dengan segera. Jika boleh jujur, Sehun mungkin memang cantik tapi Kai adalah seorang artis yang setiap hari dikelilingi wanita-wanita cantik.

Satu hal yang membuat Kai mengingat Sehun adalah keberanian gadis itu untuk membalas bentakannya, mengatainya dan mengomelinya. Sifat itu yang membuat Kai merasa ingin menggoda Sehun agar gadis itu mengomel lebih panjang, sifat itu yang membuat Kai secara tidak sadar memperhatikan Sehun.

"Sejak kapan kau menjadi fansku?" Kai dengan santai duduk diatas kasur milik Sehun dan memperhatikan kamar kecil itu.

"Aku menyukaimu karena pengaruh teman-temanku kok! Aku cuma ikut-ikutan saja!" Sehun masih berusaha menjaga harga dirinya yang tinggal sedikit.

"Hahahaha, baiklah. Baiklah. Setelah ini kau harus ku beri tips dalam berakting." Kai tertawa lagi. Kenapa gadis cantik miliknya ini bisa begitu menggemaskan? "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Sehun masih cemberut.

"Kemarilah, duduk disini." Kai menarik lengan Sehun agar duduk dikasur bersamanya. Sehun menurut saja walaupun ia masih tidak mau memandang Kai. "Apa kau bekerja di BT Ent untuk bertemu denganku?"

Sehun diam saja kemudian mengangguk kecil.

"Kau begitu menyukaiku?" Kai bertanya dengan tawa tertahan.

"Ih.." Sehun cemberut dengan pipi memerah.

"Aku tersanjung sekali sebenarnya jika aku adalah alasanmu datang ke Seoul." Kai berkata dengan suara serius. "Aku tersanjung bisa membuat hati gadis secantik dirimu meninggalkan kehidupan lamanya, dan semua itu hanya karena aku."

Sehun semakin malu.

"Aku kan pernah bilang kalau aku ingin jadi penulis." Sehun berkata pelan, masih tidak mau mengakui jika paling tidak lima puluh persen alasan kedatangannya ke Seoul untuk Kai.

"Masih belum mau mengaku kalau kau tergila-gila denganku?" Kai terkekeh pelan dan menyentuh dagu Sehun mesra.

"Me-mengaku apa?" Sehun berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Kai yang begitu dekat dengan wajahnya.

"Kau tergila-gila padaku, seperti aku tergila-gila padamu." Kai berkata pelan, wajahnya semakin dekat dan semakin dekat pada wajah Sehun. Gadis cantik itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia menutup matanya rapat-rapat, terlalu malu untuk menatap mata Kai yang kini sudah tinggal beberapa senti dari matanya.

"Apa yang kau pikirkan?" Kai menahan tawanya.

"A-apa?" Sehun membuka matanya dan melihat wajah usil Kai menahan tawa. Sial dia dikerjai lagi. Sekarang Kai akan mengiranya gadis mesum kan?! "AKU TIDAK MEMIKIRKAN APAPUN!"

Pipi Sehun semerah strawberry dan Kai pun tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi. Sehun dengan sebal memukuli Kai dengan tangannya. Ah, malu sekali Sehun! Dia pikir Kai akan menciumnya tapi…tapi ternyata pria tengik itu hanya mengerjainya.

"Hentikan! Hentikan!" Kai meraih kedua tangan Sehun dan menarik tubuh ramping Sehun mendekat pada tubuhnya. Jantung Sehun lagi-lagi rasanya mau lepas, wajah Kai berada begitu dekat dengan wajahnya.

Sehun baru saja mau mengomel karena Kai menggodanya lagi tapi sesuatu yang hangat dan lembut lebih cepat bergerak menahan omelan tersebut. Bibir Kai menyentuh bibirnya.

Begitu lembut.

Begitu mesra.

Begitu hangat.

Sehun tanpa sadar memejamkan matanya, menikmati ciuman Kai yang membuat ia lupa segalanya. Ibunya yang dirumah sakit, nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi pengangguran, masalah bibinya. Semuanya terasa ringan hanya karena ciuman Kai.

Perut Sehun rasanya dipenuhi kupu-kupu, mengirimkan sensasi aneh yang sering ia rasakan setiap kali bersama Kai. Pemuda tampan itu tidak jauh berbeda, jantungnya berdegup kencang merasakan bibir manis milik gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya.

Ciuman ini jelas bukan ciuman pertama Kai. Ciuman pertamanya diambil oleh aktris lawan main filmnya. Tapi bagi Kai, kali ini adalah ciumannya yang paling manis dan berharga. Tidak peduli jika ia dan Sehun sama-sama belum sikat gigi dan bau.

"Aku senang kau datang ke Seoul karenaku." Kai berkata sambil tersenyum usai menyudahi ciuman mesranya pada Sehun. Pipi Sehun pun memerah mendengarnya. "Kau punya album yang ingin ku tanda tangani?"

"Ih jangan menggodaku lagi." Sehun merengut. Sifat Kai yang usil ini benar-benar mengesalkan. "Aku ingin membeli kaos kaki dengan wajahmu saja tidak bisa, apalagi membeli album."

Kai tertegun.

Sehun adalah orang tidak mampu? Tapi…kenapa Sehun bisa begitu murah hati pada orang-orang disekitarnya? Membelikan makanan ringan dan juga kadang Sehun mentraktir teman-temannya makan malam.

"Hei, yang penting kan sekarang kau jadi kekasih Kim Kai."

"Kekasihku namanya Kim Jongin, bukan Kim Kai."

"Hm, benar. Aku Kim Jongin, kekasih Oh Sehun." Jongin tanpa sadar mengecup bibir Sehun sekali lagi.

"Mandilah, akan ku buatkan sarapan." Sehun menunduk malu. Baru juga resmi berkencan semalam, Kai sudah mencium-ciumnya terus.

"Baiklah, calon istriku."

"Ish!" Sehun memukul dada bidang Kai dan melempar pakaian tua ayahnya pada Kai lalu meninggalkan kamarnya.

"Calon istriku tukang ngambek." Kai berteriak, masih menggoda kekasihnya.

"Apa yang kalian berdua lakukan semalam hah?"

"Tidak..tidak ada.."

"Jangan bohong! Kau pasti melakukan hal yang tidak-tidak pada Kyungsoo!"

"Astaga, pikiranmu kotor sekali sih."

"Kau kan kotor, wajar saja aku berpikir macam-macam." Sehun memandang pemuda yang umurnya tidak beda jauh dari dirinya. Pemuda itu adalah teman satu kantornya, sama-sama pegawai magang dan kebetulan pacar sahabat dekatnya.

"Aku dan Kyungsoo hanya tidur, sungguh! Kami sudah terlalu lelah hanya sekedar untuk berciuman! AWWW!"

"Jadi kalau tidak lelah akan melakukan yang lain-lainnya?!" Sehun dengan kejamnya menjewer telinga rekan kerjanya itu.

"Kenapa kau sewot sih?! Kau kan juga bisa melakukannya dengan.." Jongdae, si pemuda bawel, menyebut nama Kai dengan suara berbisik.

"Ish! Dia bukan pervert sepertimu!"

"Semua laki-laki itu pervert! Ku jamin dia pasti pernah membayangkan yang tidak-tidak tentang dirimu!"

Sehun mendengus. Sebenarnya ia tahu hal itu, ia juga tahu kalau Kai itu uh, mesum. Dia saja pernah menemukan koleksi majalah porno dilaci ruang istirahatnya. Damn, Sehun jadi sedikit merinding. Selama ini ia tidur dengan Kai kan?

Sudah lewat tengah hari ketika Jongdae dan Sehun berangkat menuju gedung besar tempat mereka bekerja. Sehun dengan berat hati meninggalkan ibunya yang sudah jauh lebih baik bersama ibu Kyungsoo dan beberapa tetangga yang merupakan teman baik ibunya.

Kai sudah pulang sejak pagi tadi karena kekasihnya itu sudah absen kegiatan paginya dan tentu saja ia tidak mau menambah jumlah masalah. Kai awalnya memang berencana untuk membolos seharian dan ikut pulang bersama Sehun siang hari tapi gadis cantik itu mengomel panjang. Alhasil Kai harus berkendara dengan kecepatan tinggi setelah makan sarapan buatan Sehun.

Sehun belum mendengar kabar sekali dari Kai.

Bukannya Sehun bersikap rewel dan manja, tapi ia butuh kabar dari Kai untuk memastikan jika Kai baik-baik saja. Tidak dicincang oleh manajer Kai yang galak bukan main. Atau para direktur-direktur BT Ent dimana Kai bernaung.

"Sehun? Kau dicari Minhyuk." Baru saja Sehun melangkah masuk kedalam ruang kerja para penulis ketika salah satu atasannya berkata.

"Minhyuk? Minhyuk yang mana?" Jantung Sehun berdebar. Memang banyak Minhyuk di BT Ent, tapi Sehun hampir yakin jika yang mencarinya adalah manajer Kai.

"Minhyuk manajer Kai." Jantung Sehun kini rasanya melorot ke perutnya.

Sehun tidak jadi masuk kedalam ruang kerjanya. Gadis itu kini berjalan menuju lantai dimana dulu ia biasa bekerja untuk Kai dan Minhyuk. Sehun tidak memiliki gambaran sama sekali tentang apa yang akan Minhyuk katakan padanya nanti. Apapun itu, hati Sehun merasa jika hal itu bukanlah hal yang baik.

"Sehun? Kau sudah datang?"

"I-iya Sunbae." Sehun berjalan masuk kedalam ruang istirahat Kai.

"Duduklah. Bagaimana keadaan ibumu?" Minhyuk bertanya dengan senyuman.

"Ba-baik Sunbae." Sehun terkejut. Minhyuk tahu jika ibunya sakit, apa Kai bercerita semuanya? Sehun mengira jika Kai akan menyembunyikan hubungan romantis mereka dulu, karena yah, Sehun sendiri belum siap jika ia harus dikenal dunia sebagai 'pacar Kai'. Selain itu Kai kan juga sedang terkena skandal dengan Luhan?

"Baguslah." Minhyuk tersenyum sambil memandang wajah gugup Sehun. "Sehun, Kai sudah mengatakan padaku tentang hubungan kalian."

Sehun meremas jari-jarinya, terlalu gugup.

"Kai ingin menyembunyikan hubungan kalian dulu dari publik dan dia ingin aku membantu kalian." Minhyuk berkata tenang.

"Su-sunbae tidak marah?"

"Marah kenapa?"

"Karena aku berkencan dengan Kai."

"Kenapa aku harus marah? Kai punya hak untuk menyukai gadis manapun. Dan sejujurnya aku sudah tahu kalau Kai menyukaimu sejak dulu, hanya saja dia terlalu bodoh dan terlalu banyak pertimbangan sekarang masalahnya jadi runyam."

"Runyam? Apa Kai terkena masalah besar karena menyusulku pulang semalam?" Sehun langsung cemas setengah mati mendengar ucapan Minhyuk.

"Bukan masalah itu, kalau itu aku sudah beralasan kalau Kai kelelahan dan sedang mendapat infus vitamin tadi pagi. Ini masalah Kai dan Luhan."

Sehun menelan air liurnya gugup. Luhan?

"BT Ent meminta mereka berkencan."

"A-apa?" Sehun melotot.

"BT Ent akan mengkonfirmasi sore ini jika Kai dan Luhan memang berkencan." Minhyuk menjawab muram.

"Ta-tapi mereka tidak berkencan!"

"Memang, BT Ent hanya ingin ada publikasi mengenai hubungan Kai dan Luhan untuk popularitas mereka berdua. Kai sedang promo album barunya dan Luhan sedang syuting film."

Sehun memandangi ujung sepatunya dengan hati tidak karuan.

"Banyak pasangan selebriti yang pura-pura berkencan hanya untuk popularitas Hun.." Minhyuk berkata lembut. Berusaha menenangkan Sehun yang sepertinya sebentar lagi akan menangis.

"A-apa Kai menyetujuinya?"

"Kai tidak punya pilihan. Yang agensi tahu, Kai tidak punya kekasih jadi mereka dengan santai menyuruh Kai untuk berkencan dengan Luhan. Aku mengatakan hal ini padamu agar tidak terjadi salah paham antara kau dan Kai nanti karena Kai akan sangat sibuk hari ini."

Sehun diam, begitupun dengan Minhyuk.

"Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah Luhan.." Sehun berkata pelan. Sehun sangat yakin jika Luhan menyukai Kai dan itu…membuat Sehun sedikit was-was. Ya, Sehun cemburu. Dan Sehun juga kesal karena Luhan bisa berdekatan dengan Kai. Bagaimana kalau suatu saat Kai luluh oleh sikap Luhan? Luhan kan jauh lebih cantik, lebih menarik dan lebih lebih lainnya.

"Aku mengerti. Tapi…aku bisa memastikan satu hal padamu Sehun."

"A-apa?"

"Kai sangat menyukaimu. Kau adalah pacar pertamanya dan satu-satunya orang yang tahu begitu banyak tentang kehidupan pribadinya. Kau satu-satunya orang yang pernah masuk kedalam apartemen Kai selain aku, mantan-mantan manager Kai dan orang tuanya. Bahkan noona coordi saja tidak boleh masuk."

Sehun terkejut.

Dan tersanjung tentu saja.

"Aku dengar kau juga sudah bertemu keluarga Kai." Minhyuk berkata sambil tersenyum. "Yakinlah dengan Kai, dan tolong bekerja sama agar nama baik Kai tidak tercoreng."

"Tentu Sunbae. Tapi…kalau boleh tau? Kai akan berkencan dengan Luhan sampai berapa lama?"

"Uh, aku tidak tahu." Minhyuk menjawab dengan senyuman, hanya saja kali ini senyuman sedih.

"Ah begitu." Sehun mengangguk-angguk, berusaha menutupi kecemasan dan kekecewaannya atas berita yang dibawa Minhyuk.

"Semangatlah sedikit. Menjalin hubungan dengan artis ternama memang tidak pernah mudah. Tapi Kai adalah orang yang pantas diperjuangkan." Minhyuk berkata layaknya seorang kakak untuk Sehun.

Minhyuk bercerita sekilas tentang hidup Kai yang selama ini tidak pernah ada istirahat. Konser, latihan, fan meeting, pemotretan, syuting. Semua tanpa henti selama bertahun-tahun semenjak Kai menginjakkan kaki didunia entertainer. Walaupun Minhyuk baru menjadi manajer Kai selama beberapa tahun, tapi ia sudah mengenal Kai sejak lama.

Dimata Minhyuk, Kai adalah sosok yang hangat dan ramah. Sedikit manja dan sedikit menyebalkan. Sayangnya sosok manis itu lama-lama menghilang, entah terkikis atau tertutupi sikap Kai yang berlahan-lahan menjadi dingin dan cuek. Minhyuk bercerita tentang bagaimana kerasnya hidup didunia entertainer, tentang bagaimana teman-teman Kai dikhianati, jatuh terpuruk hingga banyak rekan artis Kai yang bunuh diri.

Kai tertekan.

Dia harus menamengi dirinya dari dunia keras dimana ia hidup.

Dan menurut Minhyuk, Kai menamengi dirinya dengan sikap arogan, sombong dan dingin yang palsu. Orang-orang yang mengenal Kai dengan baik pasti tahu jika sikap Kai yang sekarang bukanlah sifat Kai yang sesungguhnya.

"Tapi..menurutku Kai bukan orang yang dingin." Sehun berkata heran. Memang Kai sedikit mengesalkan dulu tapi menurutnya Kai tidak dingin dan arogan.

"Aku rasa kau membuatnya merasa lebih hangat jadi tanpa ia sadari, ia menurunkan perisainya dan membukakan pintu untukmu." Minhyuk tersenyum. Percakapan mereka harus terhenti karena ponsel Minhyuk berdering dan manajer muda itu harus segera pergi.

Sehun duduk disofa ruangan itu dengan perasaan campur aduk.

Ternyata banyak juga yang belum ia ketahui tentang Kai.

Ada rasa bahagia dan tersanjung atas semua sikap manis Kai yang selama ini ternyata hanya diberikan untuknya. Namun juga ada perasaan gelisah akibat cerita Minhyuk tentang Luhan.

Mata Sehun menatap sekelilingnya, ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Kai disini. Ah, dia jadi malu sendiri. Waktu itu ia bisa bertemu langsung dengan idolanya saja sudah senang setengah mati dan kini ia malah menjadi kekasih idolanya tersebut.

Sehun merasa begitu beruntung.

Dari jutaan penggemar diluar sana, ia yang beruntung bisa berada disisi Kai.

Sehun harus berdoa ke kuil untuk berterima kasih pada dewa atas keberuntungannya.

"—aku ingin istirahat." Pintu ruangan itu terbuka sedikit dan Sehun bisa mendengar suara Kai yang terdengar lelah.

"Baiklah. Tapi nanti malam kencan ya?"

"Luhan, kita hanya pura-pura berkencan."

"Kalau bisa sungguhan kenapa kita harus pura-pura?"

"Sudahlah Lu, aku benar-benar le—Sehun?"

"Se-selamat siang." Sehun membungkukkan tubuhnya pada Kai dan Luhan yang berdiri didepan pintu.

"Oh, bisakah kau belikan aku juice raspberry didepan? Hari ini panas sekali." Luhan berkata sambil tersenyum."

"Te-tentu saja." Sehun menganggukkan kepalanya.

"Kau tidak boleh menyuruh-nyuruhnya. Sehun jangan." Kai berkata dengan wajah menahan kesal.

"Kenapa?" Dahi Luhan berkerut bingung.

"Karena dia—"

"Akan aku belikan juice raspberry-nya saja. Permisi." Sehun menundukkan kepalanya. Sehun tidak tahu apa yang akan Kai katakan, tapi apapun itu Sehun merasa lebih baik untuk membelikan Luhan jus-nya. Karena ia tidak tahan melihat Luhan yang menempel manja pada Kai atau kenyataan jika Kai dan Luhan terlihat sangat cocok.

To Be Continue

Aye ayeee

Jadin juga wkwkw

Tapi baru aja jadian langsung kena prahara hahahaha

Maaf ya Hun, Jong, Author jahat banget ga kasih kalian waktu buat manis-manis dulu :(

Maaf ya nunggu lamaaaaaa

Karena udah ngga dikejar deadline maljum jadi bisa lebih cepet update seri non m-nyaaa hehehehehe

Buat yang masih belum tau, semua seri yang rated m akan libur dulu selama bulan puasa. Menghormati para reader yang Muslim karena Author sendiri juga puasa.

Kan ga lucu puasa-puasa bikin cerita enaena wkwkwk

Jangan lupa review, kritik dan saran yaaa^^

Gomawo chingu!