-Silent and Blind-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, OOC

DON'T LIKE, DON'T READ

NO BASH AND NO PLAGIARISM PLEASE ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

.

.

.

Silent and Blind

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 14

Miss You, Love you

Previous chapter

Ibu Jongin diam. Pura-pura tidak mendengar pertanyaan putranya. Padahal ia sedang sibuk menyusun perkataan untuk menjawab pertanyaan Jongin.

"Kau kan tahu aku tidak suka jika harus mengingat saat itu."

"Aku hanya ingi tahu, eomma. Hanya ingi tahu apa yang terjadi padaku dulu."

"Habiskan makananmu, lalu pergilah bekerja, nanti kau terlambat."

Ibunya lalu meninggalkan meja makan. Membawa piringnya yang masih terisi makanan yang belum habis. Jongin yang melihat gelagat ibunya, semakin yakin jika ibunya dan pasti ayahnya menyembunyikan sesuatu tentangnya. Tentang kecelakaannya dulu. Selain itu, Jongin yakin betul, orang tuanya tidak ingin Jongin untuk mengingat tentang itu.

.

.

.

.

"Jongin-ah!"

"Jongin-ah!"

"Tolong aku!"

"Jongin-ah!"

Mimpi itu. Lagi-lagi Jongin bermimpi yang sama. Dia buka matanya. Dengan dada yang naik turun, nafas yang menderu, pikiran yang tak karuan, Jongin berusaha menenangkan dirinya sendiri. Mimpi ini semakin sering Jongin alami, apa itu tanda jika dia harus dengan cepat mencari tahu siapa wanita yang ada di mimpinya?

.

.

.

.

TOK... TOK...

"Noona! Ayo sarapan!" teriak Sehun memanggil Kyungsoo.

Tak ada jawaban.

"Noona!"

"Noona!"

Sehun yang kesal karena Kyungsoo yang tidak merespon lalu membuka pintu kamar Kyungsoo.

"Huh? Tidak di kunci?"

Sehun perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Ia melihat Kyungsoo yang masih terbaring di atas kasurnya. Kyungsoo masih tidur. Tapi, ada yang aneh. Kyungsoo tertidur dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari sudut bibirnya. Sehun heran, ada apa dengan kakaknya sampai dia seperti itu. Apa yang sedang ia impikan. Sehun berjongkok di samping tempat tidur Kyungsoo, menatap kakanya penuh heran.

"Noona... kau sedang bermimpi apa?" tanya Sehu bicara tepat di depan wajah Kyungsoo.

Kyungsoo yang merasa ada seseorang yang sedang bernafas tepat di depan wajahnya perlahan lalu membuka matanya. Betapa kagetnya Kyungsoo saat melihat Sehun sedang menatapnya.

"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa masuk?"

"Aku ketuk pintu kamarmu, lalu aku buka pintu kamarmu, dan melihatmu tidur," jawab Sehun jahil.

Kyungsoo mendelik mendengar jawaban Sehun. Lalu ia bangun dari kasurnya. Mengikat rambut hitamnya asal.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo.

"Kau mimpi apa?"

"Apa maksudmu?"Kyungsoo balik bertanya.

"Tadi kau tersenyum saat masih tidur. Yadong?" goda Sehun.

Sesaat kemudian bantal kecil yang ada di atas kasur Kyungsoo melayang tepat mengenai kepala Sehun.

"Aakkk! Sakit," rengek Sehun.

"Kau ini. Bicaramu itu. Ini masih terlalu pagi, jangan membuatku kesal."

"Noona, hyung yang kemarin bersamamu itu kekasihmu?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Lalu kenapa kalian bergandengan tangan?"

"Keluarlah! Jangan buatku kesal pagi-pagi."

Kyungsoo sudah siap untuk pergi bekerja. Sekarang sedang sibuk mengolesi roti gandum dengan selai kacang dan coklat. Sesekali ia teguk susu coklatnya.

"Hari ini kau pulang malam lagi, Kyungsooya?" tanya ibunya.

"Sepertinya begitu, eomma," sahut Sehun.

"Tidak," jawab Kyungsoo.

"Kau yakin?" Sehun memastikan dengan menunjukkan senyum jahil.

Kyungsoo meminum susu coklatnya, lalu berpamitan untuk pergi bekerja. Dengan rotinya yang dia gigit.

"Selesaikan dulu sarapanmu," perintah ibunya.

"Aku selesaikan di jalan. Aku pergi."

Duduk dengan kaki yang terus menendang tanah. Kyungsoo sedang menunggu bus menuju tempat kerjanya. Kenapa terasa lama sekali? Padahal ia baru menunggu selama lima menit. Datang! Akhirnya bus yang ia tunggu datang. Ia memilih duduk di kursi paling belakang. Menunggu Jongin naik dan duduj di sampingnya. Kyungsoo membuka sedikit kaca dan melihat keluar. Itu Jongin. Kemeja putih, sweater bermotif garis horizontal berwarna biru. Tampan. Jongin memberikan senyuman manisnya begiu ia naik dan melihat Kyungsoo. Ia menghampiri Kyungsoo tanpa diminta dan duduk di samping Kyungsoo.

"Morning," sapa Jongin.

"Good morning," balas Kyungsoo.

"Bagaimana hari ini?" tanya Jongin.

"Sangat baik. Kau?"

"Sangat... sangat... baik."

Kyungsoo diam-diam terus menatap wajah Jongin. Pria di sampingnya ini semalam muncul dalam mimpinya. Tak ada yang spesial, Kyungsoo hanya bermimpi dia dan Jongin duduk melihat kerlipan lampu kota dari taman yang biasa ia datangi.

"Kyungsooya," panggil Jongin dengan mata yang terus menatap handphonenya.

"Iya."

"Akhir minggu sekarang kau ada rencana untuk pergi atau apapun?"

"Sepertinya tidak."

Jongin menyimpan handphonenya lalu mulai bicara dengan melihat Kyungsoo.

"Kalau begitu jika aku ajak kau pergi, kau bisa?"

Kyungsoo terdiam. Kembang api meletup-letup pelan di dalan hatinya.

"Apa ini? Dia mengajakku kencan? Lagi?" tanya Kyungsoo dalam hati.

"Kyungsooya..." panggil Jongin mrnyadarkan Kyungsoo yang melamun.

"Iya. Aku mau."

"Ada film baru, aku sudah menunggu lama film ini."

"Kemanapun, kau mengajakku ke tengah lautan pun aku mau," ucap Kyungsoo dalam diam.

"Kyungsooya..." lagi-lagi Jongin menyadarkan Kyungsoo dari lamunannya.

"Iya?"

"Kita sudah harus turun," ajak Jongin.

"Oh, iya."

Kyungsoo tersipu karena pikirannya sendiri. Jongin yang Kyungsoo tidak tahu dia ini Jongin yang dia cari atau bukan, tapi sudah membuat Kyungsoo seperti orang gila.

.

.

.

.

Minggu, hari saat Kyungsoo dan Jongin pergi

Jongin-ah, maafkan aku. Aku harus mengantar ibuku dulu, kau menungguku sebentar, tidak apa-apa?

Kyungsoo harus mengantar ibu lebih dulu sebelum bertemu dengan Jongin. Kyungsoo sudah menghubungi Jongin tapi tidak dia jawab. Pesan yang Kyungsoo kirim pun tidak Jongin balas. Mungkin handphonenya ia simpan di dalam tas begitu pikir Kyungsoo.

Jongin terus melihat jam tangannya. Sudah pukul 12. Dia dan Kyungsoo berjanji untuk bertemu pukul 12. Jongin tidak bisa pergi bersama Kyungsoo. Karena ada meeting yang harus Jongin hadiri. Jongin tidak tahu jika meetingnya di hari libur ini lebih lama dari perkiraannya. Di tempatnya bekerja dilarang membawa handphone saat meeting. Jadi Jongin tidak bisa memberi kabar pada Kyungsoo jima dia akan terlambat.

Kyungsoo masih mengantar ibunya memilih kue-kue untuk acara pertemuan teman-teman SMAnya.

"Eomma, bolehkah aku pergi sekarang? Aku sudah hubungi Sehun. Sebentar lagi dia datang."

"Begitu? Baiklah. Kau boleh pergi."

Dengan terburu-buru Kyungsoo pergi untuk bertemu dengan Jongin. Pesannya masih belum Jongin balas. Tempat dia dan ibunya pergi tak jauh jaraknya dari tempat ia akan bertemu Jongin. Dengan mengerahkan kekuatannya untuk berlari secepat mungkin.

.

.

.

.

Jongsu sedang lari dari kejaran para suruhan ayahnya. Jongsu ingin pergi dengan tenang tanpa ada yang mengikutinya. Memakai kacamata hitam, dan topi untuk sedikit menutupi wajahnya. Menunggu taksi atau apapun untuk membawanya pergi. Tapi tiba-tiba ada yang menyapanya dan menariknya.

"Ayo! Kita sudah terlambat!"

Jongsu membuka kacamatanya lalu melihat siapa yang tiba-tiba datang dan menarik tangannya. Jongsu terkejut saat melihat siapa dia.

"Kau?"

"Iya ini aku. Maafkan aku, Jongin-ah. Aku harus mengantar ibuku tadi."

"Hey... sebentar,"

Kyungsoo yang baru saja datang melihat pria yang mirip dengan Jongin sedang berdiri seperti menunggu seseorang. Tapi ternyata, Kyungsoo mengajak orang yang salah. Itu Jongsu. Tanpa membiarkan Jongsu menjelaskan kalau dia bukan Jongin, Kyungsoo terus menarik tangan Jongsu dan masuk ke dalam bioskop. Bahkan sampai film yang mereka tonton selesai Kyungsoo masih belum sadar jika pria di sampingnya bukan Jongin.

.

.

.

.

Jongin akhirnya sampai di tempatnya berjanji untuk bertemu dengan Kyungsoo. Tapi Jongin tidak melihat Kyungsoo. Jongin coba untuk menghubungi Kyungsoo tapi tidak ada jawaban. Ia kirim pesan, tak ada balasan.

"Apa dia sudah masuk? Tapi bagaimana aku bisa masuk?" gumam Jongin.

Jongin memilih menunggu di salah satu cafe. Menunggu sampai film itu selesai. Sepuluh menit lagi filmnya selesai. Jongin masih tidak bisa menghubungi Kyungsoo. Sudah 4 gelas capucino ia minum sampai habis. Gerombolan orang keluar dari salah satu pintu. Tanda bahwa film sudah selesai. Jongin mencari sosok Kyungsoo. Itu dia! Jongin melihat Kyungsoo yang baru saja keluar dari dalam bioskop. Jongin berjalan menghampiri Kyungsoo. Tapi Kyungsoo pergi menuju toilet.

"Jongin-ah..." sapa Kyungsoo.

Tapi. Kyungsoo dibuat bingung saat ada dua Jongin yang berbalik. Tak hanya Kyungsoo yang terkejut. Jongin dan Jongsu terkejut saat mereka bertatap muka.

"K... kau... siapa?" tanya Jongin ragu.

Sesaat Jongsu terdiam beberapa detik, "kau pasti Jongin, iya kan?"

"Kau tahu siapa aku?"

"Tentu saja. Aku Jongsu, Kim Jongsu."

"Sebentar. Kau Jongin? Itu berarti kau?" Kyungsoo terkejut.

"Kita bertemu lagi," sapa Jongsu.

"Aku tahu pasti banyak yang ingin kau tanyakan padaku," ucap Jongsu.

Jongin hanya terdiam memandang lurus ke arah Jongsu.

"Handphonemu," pinta Jongsu.

"Hand... phone?" tanya Jongin bingung.

"Iya, cepat berikan."

Jongin hanya terpaku. Jongsu yang kesal merebut handphone Kyungsoo yang sedang Kyungsoo pegang. Lalu ia menghubungi ke nomornya.

"Aku sudah simpan nomornya. Tanyakan nomorku pada dia jika kau ingin bicara padaku. Aku harus pergi."

Jongsu pergi tanpa menjelaskan apapun. Semakin membuat Jongin bingung. Jongin sempat berpikir jika dia sedang bermimpi. Ia mencubit tangannya berkali-kali. Sakit. Itu artinya dia tidak bermimpi.

Kyungsoo duduk dengan canggung di samping Jongin. Jongin tidak bicara sama sekali sejak mereka sampai di taman Kyungsoo biasa datang. Jongin menatap kosong ke arah titik-titik lampu. Memegang segelas kopi yang sudah mulai dingin.

"Kyungsooya..." panggil Jongin.

Dengan cepat Kyungsoo menjawab.

"Iya,"

"Apa aku bermimpi?"

Kyungsoo mengambil gelas kopi yang baru saja ia beli dan masih terasa panas, lalu ia tempelkan di pipi Jongin.

"Aakk!" teriak Jongin.

"Panas?" tanya Kyungsoo memastikan.

"Tentu saja. Kau tidak lihat asap dari gelas kopimu masih mengepul?"

"Itu artinya kau tidak bermimpi."

"Ah... kau benar."

"Kau memikirkan Jongsu?" tanya Kyungsoo.

"Tentu saja aku memikirkan it-" Jongin menghentikan ucapannya lalu ia menatap Kyungsoo.

"Kau tahu dia? Kau kenal siapa dia? Kau tahu namanya?"

"Itu... hmmm... dia menyebutkan namanya tadi," jawab Kyungsoo.

"Begitu?"

Kyungsoo mengeluarkan handphonenya dan memberikannya pada Jongin.

"Hubungi dia. Nomornya panggilan terakhir di handphoneku."

"Hubungi... dia?"

"Iya. Pasti banyak yang ingin kau tanyakan padanya. Tanyakan kapan dia bisa bertemu denganmu."

Jongin mengembalikan handphone milik Kyungsoo. Menolak melakukan apa yang Kyungsoo sarankan.

"Tidak," jawab Jongin tegas.

"Kenapa? Kau tidak ingin tahu tentang dia?"

"Ingin. Tapi sepertinya dia masih belum mau untuk mengatakan apapun padaku."

Kyungsoo menghela nafas. Ia berhenti menyodorkan handphonenya pada Jongin. Lalu tiba-tiba Kyungsoo menempelkan handphonenya di telinga Jongin setelah terhubung dengan seseorang.

"Apa yang-"

Lalu Kyungsoo menggerakan bibirnya berkata 'bicaralah'. Sekarang Jongin yang bergantian memegang handphone milik Kyungsoo. Saat ia lihat siapa yang Kyungsoo hubungi, Jongin lalu protes dengan menggerakkan bibirnya mengomel pada Kyungsoo.

"Ha... ha... halo," sapa Jongin.

"..."

"Iya, ini aku, Jongin."

"..."

"Huh? Sekarang? Tapi..."

"..."

"Baiklah."

"..."

Jongin kembalikan handphone milik Kyungsoo. Dengan raut wajah yang membuat Kyungsoo bingung.

"Sudah? Kau tidak bertanya apapun?" tanya Kyungsoo.

"Aku bingung harus bertanya apa."

"Lalu?"

"Apa?" Jongin bertanya balik.

"Lalu bagaimana? Kau akan bertemu dengannya kapan?"

"Besok."

"Baguslah, lebih cepat kau bertemu dengannya itu lebih baik."

"Kau berhutang tiket menonton film denganku," ucap Jongin tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Karena aku belum menonton film denganmu, tadi kau menonton itu dengan Jongsu bukan aku," protes Jongin.

"..."

Kyungsoo hanya terdiam. Pikirannya sibuk memmikirkan pria yang ada di sampingnya saat ini. Apa maksud dari sikap Jongin seperti ini? Apa dia cemburu? Atau hanya kesal karena ia tidak pergi dengan Kyungsoo?

"Ayo kita pulang," ajak Kyungsoo berusaha mengalihkan pikirannya.

"Pulang? Tapi aku belum pergi kemana pun denganmu?"

Kyungsoo kembali diam. Memikirkan maksud dari setiap perkataan Jongin. Kyungsoo berdiri dari duduknya berjalan menuruni anak tangga lebih dulu. Jongin menyusulnya di belakang.

"Kyungsooya, kau mau kemana? Kau benar ingin pulang?"

"Iya,"jawab Kyungsoo.

"Makanlah dulu, hmmm," Jongin terus membujuk Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo terus berjalan tak menghiraukan keinginan Jongin. Segala bujukan Jongin tak ada yang berhasil membuat Kyungsoo mau menerima tawarannya agar tak langsung pulang.

.

.

.

.

"Baiklah. Selamat malam."

Jongin selesai bicara dengan Kyungsoo di telepon. Ya, sekarang ini seperti menjadi kebiasaan bagi Jongin untuk menghubungi Kyungsoo.

Pandangan Jongin menerawang. Menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih. Memikirkan tentang besok. Saat ia harus bertemu dengan Jongsu. Seseorang yang tidak sengaja ia temui sore tadi. Jongin masih tidak mengerti, kenapa selama ini ia tidak tahu sama sekali tentang Jongsu. Mengapa ibu atau pun ayahnya sama sekali tidak memberitahu Jongin tentang Jongsu sedikit pun? Ingin rasanya Jongin bertanya saat inu juga oada ayah dan ibunya. Tapi, Jongin ingin mendengar apa yang ingin Jongsu katakan.

Lagi pula, tidak mungkin kan jika Jongsu itu bukanlah saudara kandungnya? Terlebih, Jongin jelas-jelas mendengar Jongsu menyebut namanya. Lalu, saat Jongsu melihatnya sore tadi. Tidak terlihat terkejut atau apapun, itu tandanya Jongsu tahu tentang Jongin. Semua pertanyaan dan keingintahuan Jongin muncul satu persatu. Ia biarkan rasa kantuk mulai menyerangnya. Membuat matanya tak sanggup lagi untuk terjaga.

.

.

.

.

Hari ini Jongin meminta izin untuk tidak masuk kerja. Takut-takut, tak cukup satu jam ia bertemu dengan Jongsu. Bus yang biasa ia naiki akhirnya tiba. Seperti biasa ia langsung mencari sosok yang selalu menunggunya di dalam bus. Itu dia! Kyungsoo! Duduk sendiri dengan satu kursi kosong di sampingnya.

"Morning," sapa Jongin.

Senyuman manis Kyungsoo tunjukkan untuk membalas sapaan Jongin.

"Bagaimana?" tanya Kyungsoo.

"Aku sedikit gugup," jawab Jongin.

"Kau ini lucu. Kau akan bertemu saudaramu bukan kekasihmu, untuk apa kau gugup," ucap Kyungsoo meledek.

"Eyy... kau ini. Kau bekerja seperti biasa?"

"Iya. Tapi eonni bilang dia ingin aku ikut ke acara seminar yang harus ia hadiri. Jadi mungkin aku akan pulang lebih cepat."

"Hubungi aku."

"Untuk apa?" tanya Kyungsoo heran.

"Tentu agar kita bisa pulang bersama."

Kyungsoo diam. Bingung harus merespon apa. Dia heran dengan dirinya yang selalu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik hatinya jika Jongin mengatakan kalimat aneh menurutnya.

"Kau sudah ada janji?" tanya Jongin.

"Tidak."

"Lalu kenapa kau diam? Kau tidak ingin pulang denganku?"

"Mau!" jawab Kyungsoo sedikit keras hingga orang di sekeliling mereka menujukan pandangan pada Kyungsoo.

"Kau ini. Tidak perlu menjawab dengan tenaga dalam," goda Jongin.

Sudah waktunya mereka turun dari bus. Perjalan dari rumah sampai tempat kerjanya sekarang terasa sangat cepat bagi Kyungsoo. Terlebih sejak ia selalu pergi bersama Jongin.

.

.

.

.

"Heh? Abeoji? Tapi kenapa?" tanya Jongin.

"Mungkin dia tidak menginginkanku," jawab Jongsu asal.

"Dengan alasan kau menggambar seperti itu? Itu sangat konyol! Lalu jika aku sepertimu abeoji akan melakukan hal yang sama?" kesal Jongin.

"Hey, santailah. Sekarang kau sudah hidup lebih baik. Lagi pula dia tetap bersikap baik padaku."

"Tapi tetap saja, bagaimana bisa dia tidak memberitahuku tentang kau selama ini."

"Tahanlah emosimu. Lalu, aku minta jangan biarkan dia tahu jika kau sudah bertemu denganku."

"Kenapa? Biarkan saja dia tahu, agar kau bisa tinggal denganku."

"Dia akan semakin gila untuk membuatku jauh darimu, biarkan kita seperti ini sampai waktunya tepat untuk dia tahu jika kaunsudah bertemu denganku."

"Baiklah."

Jongin sudah mendengar semuanya dari Jongsu. Secara rinci tanpa Jongsu lewat satu cerita pun. Jongin sekarang sedang di tempat Jongsu tinggal untuk sementara. Ya, sampai para antek-antek ayahnya itu belum menemukan tempat ini, Jongsu bisa tinggal lebih lama.

Karena sudah meminta izin untuk tidak masuk bekerja hari ini, ia memutuskan untuk diam di tempat Jongsu. Jongsu dan Jongin sibuk dengan buku sketsa mereka masing-masing. Jongsu duduk di atas kursi kayu dan Jongin duduk di atas lantai. Tangan mereka sibuk bergerak, membentuk garis lurus dan melengkung. Musik instrumen mengalun memanjakan telinga mereka. Jongin tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Semburat senyum Jongin tunjukan saat melihat hasil sketsanya. Tak ada objek lain akhir-akhir ini bagi Jongin. Kyungsoo. Objek gambarnya yang selalu membuat Jongin merasa nyaman.

"Dia kekasihmu?" tanya Jongsu tiba-tiba sambil mengintip hasil sketsa Jongin.

"Kau mengintip?" protes Jongin.

"Apa tidak boleh aku melihat hasil gambarmu?"

"Bukan seperti itu,"

"Kenapa kau tidak mengatakan saja bagaimana perasaanmu?"

"Perasaanku? Perasaan bagaimana maksudmu?" Jongin berpura-pura tidak mengerti.

"Untuk apa kau menggambar wajahnya?"

Jongin diam, bingung harus menjawab apa.

"Aku tidak tahu apa dia menyukaiku juga atau tidak," kata Jongin.

"Kau tidak akan tahu jika kau tidak bertanya."

"Bertanya?" Jongin terlihat berpikir.

"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kau menyesal."

Jongin memutuskan untuk tidak mendengarkan saran Jongsu. Itu terlalu ekstrim bagi Jongin jika harus secara langsung tanpa basa-basi bertanya apa Kyungsoo menyukainya atau tidak. Jongin berdiri untuk mengambil minum. Tapi tiba-tiba...

Ahh...

Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba muncul. Kemudia bayangan-bayangan wanita yang selalu muncul dalam mimpi Jongin terbayang di pikirannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongsu khawatir.

"Eoh, aku baik-baik saja."

Jongsu membantu Jongin duduk dan mengambil segelas air.

Jongin duduk dalam diam, dengan pikirannya yang terus bertanya-tanya kenapa wanita itu selalu muncul. Jongin benar-benar harus menanyakan ini, paling tidak pada ibunya. Jongin yakin ibunya tahu sesuatu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongsu.

"Aku baik-baik saja. Lebih baik aku pulang."

"Ah! Aku benci jika seperti ini! Andai orang-orang ayahmu itu tidak mengejarku seperti buronan."

"Dia ayahmu juga," Jongin merespon.

Jongsu terkekeh, "iya, kau benar."

.

.

.

.

Jongin sampai di rumahnya. Rumahnya terlihat sepi, sepertinya ibunya pergi hanya ada ajumma yang selalu membereskan rumah. Berarti Jongin tidak bisa bertanya segala yang ia ingin tahu. Jongin masuk ke dalam kamarnya. Membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya. Jongin membutuhkan buku sketsanya saat ia masih sekolah dulu untukbantunya bekerja sekarang.

"Ajumma, apa gudang dikunci?"

"Iya, tuan muda. Ada sesuatu yang perlu diambil?" jawab ajumma.

"Iya, aku memerlukan buku sketsaku saat sekolah dulu."

"Biar saya ambilkan,"

"Tidak perlu, biar aku mencari sendiri."

Ajumma memberikan kunci pintu gudang. Jongin berjalan menuju gudang yang berada di bagian bawah rumahnya. Sebuah ruangan yang tak terlalu luas, berada di bagian bawah rumahnya. Jongin masuk ke dalam gudang, tumpukan dus, barang-barang yang terbungkus plastik tersusun rapi. Jongin mencari kotak yang berisi barang-barang miliknya. Dapat. Jongin angkat kotak berwarna coklat dengan tulisan 종인 tertulis di salah satu bagian kotak tersebut.

Jongin mencari satu persatu dari sekian banyak buku sketsa miliknya. Pandangan Jongin tertuju pada sebuah papan berukuran cukup besar di sudut gudang yang ditutupi oleh kain berwarna putih. Didekat papan itu bertumpuk beberapa kotak. Jongin berhenti mencari buku sketsa yang ia cari. Perlahan ia berjalan mendekati papan itu. Jongin buka sedikit bagian kain yang menutupi papan itu. Ia masih belum bisa melihat apa yang ada dalam papan itu. Ia buka lagi untuk memperjelas apa yang ia lihat. Mata Jongin membulat, seluruh tubuhnya terasa membeku, waktu terasa berhenti saat ia lihat apa yang ada di atas papan itu. Jongin singkirkan semua kain yang menutupi papan itu.

"Ke... kenapa, kenapa ada begitu banyak gambar Kyungsoo?"

Bingung. Terkejut. Jongin benar-benar tidak mengerti. Jongi yakin jika itu Kyungsoo. Senyumnya, wajah cantiknya, semua itu Kyungsoo. Jongin mengambil salah satu gambar. Ia tatap betul-betul gambar itu. Mencoba mayakinkan dirinya jika ia tak salah lihat. Jongin yakin itu adalah hasil gambarnya, karena Jongin selalu menulis namanya di bagian bawah di setiap gambar yang ia buat.

"Aku yang menggambar ini. Tapi bagaimana bisa? Aku tidak pernah menggambar Kyungsoo sebanyak ini."

Jongin benar-benar tidak mengerti. Apa ini yang selama ini ibunya sembunyikan darinya? Mungkinkah? Mungkinkah wanita yang selalu muncul dalam mimpi dan bayangan yang terkadang muncul tiba-tiba itu-adalah-Kyungsoo?

Jongin merapikan kembali papan itu, ia tutup kembali dengan kain putih yang sebelumnya menutup papan itu. Ia bawa satu kota berisi barang yang ia yakin itu miliknya karena ada namanya di kotak itu. Jongin kembali ke kamarnya. Memeriksa apa yang ada di dalam kotak itu. Beberapa buku dengan tanda tangannya di halaman depan. Sampai ia menemukan sebuah kalender duduk dengan banyak coretan di atasnya. Bisa dia lihat dengan jelas nama siapa yang ada tertulis di kalender itu. Lagi-lagi Kyungsoo. Pikirannya kembali sibuk mencari jawaban. Kenapa Kyungsoo? Sebelumnya gambar dan sekarang nama Kyungsoo yang tertulis di kalender yang ia pegang.

Tapi tak ada yang bisa Jongin ingat. Tentang ratusan gambar wajah Kyungsoo, tentang siapa Kyungsoo dimasa lalunya. Lalu, apa hubungan Kyungsoo dengannya? Jongin benar-benar tidak ingat tentang itu. Jongin ambil handphone, mencari nama Kyungsoo. Mungkin Kyungsoo bisa memberinya jawaban tentang semua ini.

Jongin dengan perasaan cemas dan bingung, duduk dengan kaki yang tidak bisa diam. Terus-menerus menghentak tanah. Bus yang akan ia naiki belum juga tiba. Kyungsoo bilang dia masih berada di perjalanan menuju kantornya, baru saja selesai menghadiri seminar bersama Soonil.

"Astaga, kenapa busnya lama sekali," gerutu Jongin pelan.

Jongin yang tidak sabar memutuskan untuk menemui Kyungsoo, dimana pun ia berada. Sebelumnya Kyungsoo mengirim pesan jika dia berada di Gangnam, mengantar Soonil bertemu dengan kliennya. Itu artinya Jongin harus menaiki bus di arah sebaliknya. Ia ambil handphone dari dalam sakunya, menyebrang jalan dengan mata yang sesekali melihat layar handphonenya. Sampai…

BRUK!

Jongin tertabrak sebuah taksi yang melintas. Jongin berusaha kembali berdiri dengan rasa sakit yang ia rasakan. Orang-orang yang melihat kejadian khawatir melihat Jongin yang masih berusaha berdiri dengan luka dikepalanya.

Waktu terasa terhenti. Jongin mengingat sesuatu. Tentang kecelakaannya, Jongin ingat itu. Ia ingat apa penyebab ia mengalami kecelakaan, dan ia lihat Kyungsoo dalam bayangan ingatannya. Air mata mulai tergenang di ujung mata Jongin. Jongin ingat semuanya, ia ingat bagaimana ia mengalami kecelakaan karena ingin menolong Kyungsoo yang terus berteriak memanggil namanya. Dengan darah segar yang terus keluar dari pelipisnya, Jongin mencoba melangkah. Menlanjutkan niatnya untuk menemui Kyungsoo. Tapi, tubuhnya lemas tak bertenaga. Jongin tidak sadarkan diri, orang-orang disekitar Jongin dengan cepat menolong Jongin.

.

.

.

.

"Dimana dia? Kenapa belum juga datang? Apa dia tidak jadi datang kesini? Tapi kenapa tidak memberiku kabar?" tanya Kyungsoo bingung.

Sudah dua jam Kyungsoo menunggu Jongin, karena sebelumnya Jongin mengatakan akan menemuinya di kantor. Tapi, sudah dua jam dia menunggu Jongin tak juga datang. Handphone Jongin pun tak bisa ia hubungi. Kyungsoo akhirnya mengirim pesan pada Jongin dan mengatakan jika dia akan pulang.

Sesampainya di rumah, Kyungsoo masih menunggu Jongin. Tidak ada kabar apapun darinya. Pesan yang Kyungsoo kirim pun tak Jongin balas satu pun.

.

.

.

.

Suara riuh samar-samar terdengar di telinga Jongin. Perlahan kelopak matanya bergerak, meminta untuk matanya terbuka. Pandangan sayu Jongin melihat sekitarnya. Mencoba mencari tahu dimana ia sekarang. Orang dengan seragam putih ia lihat samar-samar berjalan ke kanan dan kiri. Rasa sakit di kepalanya sedikit menyadarkannya. Sekarang ia tahu jika sedang berada di rumah sakit. Satu yang langsung terbersit di pikiran Jongin. Kyungsoo. Dengan menahan sakit di kepalanya, Jongin berusaha bangun. Ia rogoh sakunya mencoba mencari handphonenya. Tiba-tiba seorang wanita memakai seragam perawat menghampiri Jongin.

"Tuan, hati-hati," ucapnya mengingatkan.

"Handphoneku," tukas Jongin.

Wanita itu dengan sedikit berlari pergi meninggalkan Jongin dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. Ia sodorkan handphone Jongin dengan layar yang retak karena kecelakaan tadi. Jongin periksa handphonenya, ternyata mati.

"Maaf, tuan. Kami tidak menghubungi wali anda, karena—""

Jongin memotong pembicaraan, "bisakah aku meminjam telepon? Ada yang harus aku hubung."

"Tentu saja, apa tuan bisa berjalan? Biar saya bantu tuan berjalan menuju meja perawat."

"Kakiku baik-baik saja," jawab Jongin.

Sang perawat membimning Jongin berjalan menuju meja perawat. Ia ingin menghubungi Kyungsoo. Kepalanya yang terluka masih cukup baik bisa mengingat nomor telepon Kyungsoo. Ia tekan satu persatu nomor di telepon. Penuh dengan harap cemas ia menunggu Kyungsoo menjawab panggilannya. Suara lembut menyapa Jongin.

"Kyungsooya, ini aku-Jongin-

"…"

"Baiklah, tunggu aku."

KLIK

Jongin hanya ingin tahu dimana Kyungsoo. Dengan segera ia meminta pada perawat yang sejak tadi mengawasinya, untuk bisa keluar dari rumah sakit. Dengan sedikit paksaan Jongin akhirnya bisa pergi dan menemui Kyungsoo. Ia berjalan dengan kepalanya yang masih terasa sakit. Beruntung, sebelumnya ia pernah mengantar Kyungsoo sampai ke rumahnya. Jantung Jongin berdebar tak karuan, entah apa yang ia rasa. Entah bagaimana nanti dirinya jika bertemu dengan Kyungsoo. Akhirnya ia sampai di depan rumah Kyungsoo. Dengan penuh keraguan ia tekan bel yang berada di pintu pagar. Tanpa perlu menunggu lama, seseorang dengan cepat melangkah membuka pintu pagar itu untuk Jongin.

"Jongin-ah!" panggil seorang wanita dengan nada khawatir.

Matanya membulat melihat pria yang berdiri dihadapannya datang dengan kepala yang terbalut perban.

"K… kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya cemas.

Diam. Jongin hanya bisa diam, memandang gadis di hadapannya sibuk memeriksa tubuhnya, memastikan bagian lain di tubuh Jongin tak ikut terluka.

"Apa yang terjadi? Ada apa dengan kepalamu?" Kyungsoo kembali bertanya.

Lagi-lagi bukan jawaban yang Kyungsoo dapatkan. Hanya tatapan dingin penuh arti dari Jongin yang ia terima.

"Jongin-ah..." pintanya memelas. Meminta pria di hadapannya menjawab dengan kata-kata.

Tiba-tiba Jongin mendekap tubuh Kyungsoo dengan erat. Dengan perasaan yang campur aduk ia terus dekap tubuh Kyungsoo.

Kyungsoo yang terkejut tiba-tiba mendapat dekapan dari Jongin. Kyungsoo mencium wangi khas Jongin. Telinganya yang menempel di dada Jongin bisa mendengar detakan jantung Jongin yang berdetak tak berirama.

"Jongin-ah, kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo lagi.

Kembali hanya diam. Kyungsoo mendengar Jongin terisak. Dia benar-benar bingung, apa yang terjadi pada Jongin.

"Maafkan aku," bisik Jongin pelan.

"Tidak apa-apa. Aku tidak marah atau kesal padamu karena kau tidak memberi kabar."

"Maafkan aku karena aku tidak mengenalimu," ucap Jongin lagi.

"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau tidak mengenalku?"

Jongin berhenti mendekap Kyungsoo. Sekarang ia pandang wajah gadis di depannya dalam-dalam.

"Ini benar kau, ini benar kau Do Kyungsoo."

"Tentu ini aku, apa sebelumnya aku seperti Yuri SNSD?" ucap Kyungsoo asal.

"Ini aku, Jongin," tegas Jongin.

"Tentu tahu siapa kau."

Jongin menghela napas panjang. Ia sentuh tengkuk Kyungsoo dan mencium bibir manis Kyungsoo. Dengan lembut Jongin mencium bibir Kyungsoo. Berusaha membuat Kyungsoo mengerti, siapa dia. Dia adalag Jongin, Kim Jongin. Pria yang tak pernah berhenti menyayanginga.

.

.

.

.

Kyungsoo diam. Tak berusaha menolak dan melawan apa yang Jongin lakukan. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Dadanya tiba-tiba terasa sesak saat bibir Jongin menyentuh bibirnya. Terkejut? Tentu, bagaimana bisa Kyungsoo tidak terkejut jika tiba-tiba seorang pria mencium bibirnya. Tapi bukan itu yang membuat Kyungsoo seperti ini. Kyungsoo ingat rasa ini. Rasa bagaimana saat bibir Jongin-Jonginnya dulu-mencium bibirnya. Perlahan air mata Kyungsoo jatuh.

Jongin berhenti mencium Kyungsoo. Perlahan wajahnya menjauh dengan tangannya yang masih berada di tengkuk Kyungsoo.

"Jongin-ah," panggil Kyungsoo dengan suara bergetar.

"Ini aku," balas Jongin.

"Aku tahu jika kau benar Jongin. Jongin yang aku cari," ucap Kyungsoo menahan tangis.

Jari Jongin dengan lembut menghapus air mata Kyungsoo.

"Maafkan aku," ujar Jongin.

Kyungsoo menangis semakin menjadi dengan matanya yang terus berair. Tak tahu apa yang harus ia katakan. Hanya bisa menangis. Menangis tersedu menatap wajah Jongin. Perlahan tangannya menyentuh wajah Jongin. Dengan mata tertutup tangannya perlahan meraba setiap lekuk wajah Jongin. Tangisannya semakin menjadi saat ia benar yakin pria di hadapannya benar Jongin yang selama ini ia cari.

"Ini benar kau, kau Jonginku, kau benar Jongin," ucap Kyungsoo dengan terisak.

.

.

.

.

Dengan tangisannya Kyungsoo memeluk Jongin. Dia benar-benar tidak percaya jika Jongin yang ia kenal adalah Jongin yang ia cari selama ini. Setelah 2 tahun lamanya Kyungsoo mencari dimana Jongin, akhirnya ia bisa bertemu dengan pria tersayangnya. Rasa rindu yang teramat sangat akhirnya bisa Kyungsoo luapkan. Rindu pada pria yang selalu menjaganya. Rindu pada pria yang selalu memberikan segala rasa sayang. Rindu pada setiap perlakuan lembutnya.

.

.

TBC

.

.

Long time no see yeoreobun~

Huwaaaa...

I REALLY MISS YOU READER-NIM ^^,

Akhirnya bisa update chapter ini setelah...

Sekiaaaaaannnnnnnnnn

Laaaammmmmmmaaaaaaaaa

Maafkan authormu yang menyebalkan ini, yang tak kunjung update, yang tiba-tiba ilang entah kemana...

Satu dua tiga empat dan banyak hal yang menghambat author buat tulis chapt ini...

Chapt ini harus aku upload ulang karena ada sedikit masalah...

Kalau masih ada kesalahan kembali katakan yes ^^, (karena entah kenapa chapt 14 di deviceku sudah update dengan chapt yang sudah diperbaiki)

Maklum, *sidrom malas edit*

Hihihi~

Always waiting your precious review...

SARANGHAE...

NEOMU... NEOMU SARANGHE

*kisshug*

*XOXO*