Ahh... tak terasa sudah setengah tahun lebih saya gak update fanficnya :'D /digeplak

Mohon maaf semuanya! Orz /bow

Urusan pekerjaan dan RL sangat menyibukan, ditambah sebentar lagi CF11 dan harus nyiapin merch... Saya ada di booth H19b btw xD

Sebenarnya saya sudah tulis dari berbulan-bulan lalu, tapi ga kelar-kelar karena ada plot yang bercabang dan saya harus pilih salah satunya... Jadi saya pilih plot yang ini :')

Selamat membaca!

.

.

.

"Sepertinya untuk sementara waktu, kita akan tidur di hotel..." ucap Nijimura.

"Ha? Memangnya ada apa dengan rumah kita?!"

"Sebenarnya di rumah kita tidak terjadi apapun... Masalahnya hanya rumah-rumah tetangga kita..."Nijimura terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Semua tetangga kita tewas terbunuh oleh demon."

Haizaki, Kise, dan Aomine hanya membelalakan mata kehabisan kata.

.

.

.

.

.

.

BLOODOFINNOCENCE

Chapter14: Mass Murderer

Kuroko no Basket ©FujimakiTadatoshi

Story and Cover ©MurrueMioria

Rating: M

Genre: Romance, Supernatural, Fantasy, Horor, Suspense(Mix)

WARNING!AU, OOC, BoyxBoy, Shounenai, Yaoi, Typo, kaku, gajelas, terlalu banyak percakapan

Don't like,don't read!

.

.

.

.

.

Kise mengepak beberapa pakaiannya kedalam ransel milik Shougo. Kabar dari Nijimura membuatnya sedikit gelisah. Apa ini semua ulah Nash?

"Kise apa kau sudah selesai mengepak semua barangmu?" Tanya Aomine. Ia berdiri di ambang pintu, menunggu si pirang selesai mengepak semua kebutuhannya.

"Um," keduanya kemudian menuju ruang tengah. Shougo, Nijimura, dan seorang petugas kepolisian sudah menunggu di sana.

"Ah, kau pasti Kise Ryouta! Namaku Hyuuga Junpei dari kepolisian divisi khusus. Apa aku boleh meminta keterangan darimu?"

Kise mengangguk dan pria berkacamata itu mengajaknya duduk di sofa. Haizaki dan Aomine juga dimintai keterangan—begitu juga Nijimura.

"Nijimura, karena kau tinggal disini, aku juga akan meminta keterangan darimu juga," Hyuuga membuka buku catatannya."Nah, sekarang aku akan mulai. Kapan terakhir kali kalian melihat para korban—maksudku tetangga kalian?"

"Kalu dipikir-pikir aku tidak pernah melihat mereka beberapa minggu ini..."Kise tampak berpikir. Ia baru menyadari bahwa dirinya tak pernah melihat tetangganya di sekitar rumah selain Haizaki dan Nijimura.

"Aku juga..." Nijimura menyahut, "Akhir-akhir ini, komplek perumahan terlihat sepi."

Sementara itu Haizaki diam.

Ia teringat denganpercakapannya bersama Ryouta beberapa waktu lalu.

'Sejak beberapa hari yang lalu, kenapa aku merasakan hal aneh di daerah sini ya...?'

'Aku juga merasa begitu. Biasanya tidak sesepi ini...'

Melihat ekspresi pemuda abu-abu itu, Hyuuga bertanya, "Apa ada yang ingin kau katakan, Haizaki-kun?"

"Ah... uhh... ini sediki tidak masuk akal..."

"Ungkapkan saja. Divisi khusus menyelidiki kasus berbau hal supranatural. Jika ada keterangan yang tak masuk akal, kami bisa memakluminya," ujar pria berkacamata tersebut.

Haizakimengagguk mengerti lalu mulai bercerita,"Sejak beberapa minggu ini aku merasakan energi negatif di sekitar komplek perumahan. Ada aura gelap yang sangat pekat dan itu selalu membuatku tidak nyaman."

"Shougo adalah anak indigo. Indranya sangat sensitif dengan hal-hal seperti itu," Nijimura menambahkan.

"Kurasa itu ulah demon jahat," ucap Haizaki.

Alis Hyuuga terangkat, "Kau tau demon?"

Haizaki mengagguk, "Di rumah ada buku yang membahas tentang itu. Aku baru mempelajarinya beberapa hari ini."

Hyuuga mencatat poin penting di buku catatannya. Setelah dipikir-pikir, bocah yang bernama Haizaki Shougo ini sangat cocok bergabung dengan kepolisian divisi khusus. Kemampuannya akan sangat berguna untuk penyelidikan. Yah, semoga saja di masa depan nanti...

.

.

.

"Terima kasih untuk keterangannya. Semoga keterangan ini dapat membantu penyelidikan kami," ucap Hyuuga sambil berjabat tangan dengan semua yang ada di ruangan tersebut, kemudian pamit untuk memeriksa TKP.

Nijimura menghela napas, "Untuk sementara daerah ini akan dinetralisir, sebaiknya kita pergi sekarang. Aku sudah memesan hotel di dekat sini."

"Apa akan baik-baik saja? Maksudku di hotel tidak seaman di rumah. Disana tidak ada dinding magis. Demon akan mudah masuk," Haizaki membuka suara.

"Kau benar, tapi mau bagaimana lagi... Ini darurat. Shougo, kau bisa tidur di kamar Ryouta untukmemantaunya."

Nijimura kemudian menelepon taksi untuk mengantar dua pemuda tersebut. Dia sendiri akan berada di TKP untuk melanjutkan penyelidikan. Sementara itu, Aomine ikut bersama Kise dan Haizaki menuju hotel.

.

.

.

Keesokan harinya di SMA Teikou.

"Ki-chan! Apa benar ada pembunuhan di dekat rumahmu?!"

"Iya, Momocchi... Mereka semua tetangga-tetanggaku. Sekarang aku dan Shougo-kun harus menginap di hotel."

"Apa itu ulah..."Momoi melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar, "...demon?"

Kise enggan menjawab, jadi ia hanya mengangguk.

"Nash?"

"Entahlah..."

"Hmm... sangat mengerikan. Tapi syukurlah kau baik-baik saja!" Gadis tersebut memeluk Kise erat.

"Ano, Momoi-san..."Kuroko membuka suara. "Sebentar lagi kelas dimulai."

"Oh! Yaampun! Baiklah, kalau begitu sampai jumpa saatjam makan siang nanti!" Gadis tersebut pun pergi menuju kelasnya.

"Kise-kun, apa kau yakin akan baik-baik saja di hotel?" Tanya Kuroko sedikit cemas.

"Aku akan baik-baik saja, Kurokocchi! Lagipula, Shougo-kun akan menjagaku kok!"

Kuroko masih memandangnya cemas, lalu pergi ke mejanya—karena guru sudah memasuki kelas.

"Nee, apa kau tau? Nishima-san anak kelas tiga?"Kise dan Kuroko mendengar salah seorang siswi dikelas yang tengah bergosip dengan siswi lainnya. "Kudengar dia menghilang..."

"Ya! Aku tau! Katanya sudah tiga hari ini dia tidak masuk sekolah," sahut siswi lainnya.

"Apa dia diculik?!"

"Entahlah... akhir-akhir ini banyak berita orang hilang."

Sekumpulan siswi-siswi itu kemudian membicarakan tentang kasus pembunuhan di komplek perumahan Kise dan Haizaki. Kise memilih untuk menutup telinganya.

Pada jam pelajaran kedua, wakil kepala sekolah memasuki kelas Kise dan Kuroko. Semua siswa-siswi di kelas itu tampak bingung. Ada urusan apa Harasawa sensei memasuki kelas mereka?

"Maaf menggagu waktu belajar kalian," ucap pria itu sopan."Aku ingin memanggilKise-kun."

Kise—yang dari tadi melamun—agak terkejut ketika namanya disebut, "Ya?"

"Kise-kun, boleh ikut sensei sebentar?"

Kise mengangguk mengerti—walaupun ia masih sedikit bingung. Manik madunya sedikit melirik ke arah Kuroko, seolah bertanya kenapa wakil kepala sekolah memanggilnya.

Tapi pemuda bersurai biru tersebut tidak bisa memanjawab. Ia hanya memasang wajah cemas.

.

.

.

Sejak jam pelajaran kedua hingga jam istirahat dimulai, Kise tidak kunjung kembali ke kelas.

.

.

.

"Tetsu! Kise dimana?"Tanya Aomine yang masuk ke kelas bersama dengan Momoi.

"Harasawa sensei memanggilnya dari jam pelajaran kedua dan sampai sekarang dia belum kembali," jawab Kuroko cemas.

"Dia ada di ruang osis sekarang," Haizaki menyahut dari ambang pintu kelas. "Aku melihatnya saat ke toilet." Pemuda abu-abu itu pun pergi dengan wajah kesal.

"Dai-chan..." Momoi menatap Aomine khawatir.

Aomine hanya mendecih.

.

.

.

"Imayoshi senpai, adaperlu apa memanggilku?" Tanya Kise. Ia masih agak bingung, sebab jadwal tugas Imayoshi untuk mengajari Kise materi yang tertinggal bukan hari ini.

"Kise-kun, apa kau sudah dengar dari wakil kepala sekolah? Sekarang osis membuka perekrutan anggota baru. Apa kau mau bergabung?"

"Eh? Aku—

Seringai yang biasa menempel di bibir Imayoshi menghilang. Menurut Kise, Imayoshi lebih menakutkan ketika seringainya turun.

Namun seringainya kembali naik, seolah ada sesuatu yang terbesit di kepalanya, "Kalau begitu ada yang ingin kutunjukan." Imayoshi kemudian mengantarnya ke suatu ruangan di ruang osis.

Firasat Kise mengatakan ini sangat ganjil, tapi ia mengikutinya.

.

.

.

Sepanjang pelajaran, Kise masih tak menampakan diri. Kuroko makin cemas.

Di jam pelajaran terakhir, akhirnya Kise kembali. Namun Kuroko merasa ada yang aneh dengan pemuda pirang tersebut. Murid-murid lainnya tampak tak menyadarinya.

Kise sedikit pendiam dan raut mukanya datar dengan tatapan mata kosong.

Seiring berjalannya waktu, Kise kembali seperti biasa—ceria. Tapi Kuroko tetap merasa ganjil.

"Kise-kun, apa yang Harasawa bicarakan denganmu tadi?" Tanya Kuroko penasaran saat pulang sekolah.

"Hm? Harasawa-sensei?" Kise menghentikan kegiatannya—memasukan buku ke dalam tas. "Hanya tawaran untuk jadi anggota osis saja kok!"

Kuroko diam. Jika hanya membicarakan itu, kenapa mereka sangat lama?

"Apa kau akan menerima tawaran itu?"

Pertanyaan itu mendapat respon tawa dari si model. "Ahaha! Kau bicara apa, Kurokocchi? Tentu saja aku tidak akan menerimanya! Lagipula aku kan sudah bergabung dengan klub basket. Selain itu aku juga tidak mau berhadapan dengan Imayoshi senpai. Dia mengerikan." Kise kemudian merinding.

"Ngomong-ngomong soal Imayoshi senpai... Kata Haizaki-kun, kau juga di panggil ke ruang osis?"

Kise mengangguk, "Ya, mereka menawarkan hal yang sama seperti Harasawa sensei. Lalu... Are?! Hmmm... Kenapa aku lupa kejadian berikutnya ya...? Yah, pokoknya seperti itu ceritanya."

"Kise-kun, jangan sampai bergabung dengan anggota osis ."

Kise mengangguk paham. Keduanya kemudian pulang. Yang lain sudah menunggu di depan gerbang.

"Kau lama sekali, Ryouta!" Teriak Haizaki dari gerbang. Pemuda abu-abu itu tiba-tiba merasakan hal ganjil dari pemuda pirang yang menghampirinya.

Reaksi dari Haizaki, membuatnya sedikit bertanya-tanya, "Ada apa, Shougo-kun? Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Tidak... mungkin hanya perasaanku saja..."Haizaki menggaruk punggung lehernya canggung. Kise hanya menatap penuh tanya pada gelagat temannya ini.

Walaupun begitu Haizaki masih merasa ganjil. Mungkin ia akan mencari tau dari mana firasat ganjil ini.

"Oi, Kise!" Aomine memanggil dari minimarket dekat gerbang sekolah. Disisinya ada Momoi, Midorima, dan Kagami.

"Aominecchi!"

Ketika Kise berlari melewatinya, saat itulah Haizaki mulai menyadari hal ganjil itu.

Aroma darah.

Manik abu-abunya terbelakak lebar.

"Haizaki-kun?" Suara Kuroko sedikit menyadarkannya. "Kau merasakan sesuatu?"

"..." pemuda abu-abu tersebut masih tampak terbengong-bengong. Pandangannya kemudian diarahkan pada pemuda pirang yang tengah berjalan menuju minimarket.

"Kuroko, apa kau mencium aroma darah?"

"Huh?" Kuroko memandang Kise yang tengah mengobrol dengan Aomine dan yang lain. "Aku tidak mencium bau apapun."

Aromanya memang agak samar, pikir Haizaki.

"Aroma darah..." ucap Akashi dari belakang.

Kuroko dan Haizaki menoleh ke asal suara.

"Apa kau juga menciumnya, Akashi?"

"Sayangnya, tidak. Sepertinya indera ke enammu dapat merasakannya, Shougo."

"Apa itu artinya pertanda buruk?"

"Ya."

Tatapan Akashi menerawang pada sesuatu yang ada di pikirannya. Ekspresinya tak terbaca.

.

.

.

"Oh iya, apa kalian dengar rumor tentang siswi kelas tiga yang hilang?" Tanya Kagami di perjalanan.

"Ya... berita itu sangat heboh. Semua murid membicarakan itu," sahut Momoi.

Kuroko ikut menyahut, "Apa dia benar-benar diculik?"

Kagami mengangkat kedua bahu.

"Menurut oha asa, keberuntungan gemini hari ini sangat buruk,"Midorima merogoh sesuatu dari dalam tasnya. "Maaf, ini mungkin terlambat..."

Midorima meletakan sebuah jimat di telapak tangan Kise, "Lucky item gemini hari ini adalah jimat dari kuil. Tadinya ingin kuberikan sebelum kelas, tapi tidak sempat."

"Terima kasih, Midori—AKH!" Tiba-tiba telapak tangannya—yang tengah memegang jimat—terasa sangat panas seperti terbakar. Kise langsung membanting jimat itu ke jalan.

"Kise?! Kau kenapa?!" Midorima mengecek telapak tangan si pirang, tapi tak ada luka apapun.

"Ugh... tiba-tiba tanganku terasa terbakar setelah memegang jimat itu. Telapak tanganku seperti mau melepuh," Kise mengibas-ngibas tangannya yang masih perih.

"Seperti saat kau memegang batu yang kuambil dari kuil waktu itu?" Tanya Haizaki.

Kise mengangguk dan beberapa saat kemudian ia ambruk tak sadarkan diri. Midorima dengan cepat menopangnya sebelum jatuh ke aspal.

"Sebenarnya apa yang terjadi?! Kenapa Kise tiba-tiba pingsan begini?!" Midorima menatap Haizaki yang berdiri kaku menatap sosok Kise dengan wajah pucat dan mata terbelalak.

Pemuda abu-abu seolah melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa.

"Haizaki! Apa yang kau lihat?!" Desak Aomine.

"...padahal sebelumnya aku tidak merasakannya... Tapi barusan aku merasakan aura demon memancar dari tubuh Ryouta."

Semuanya tercengang kecuali Akashi yang memincingkan matanya.

.

.

.

Nijimura selalu mempunyai insting yang kuat. Itu yang sering diucapkan Ayah angkatnya, Mayuzumi Chihiro ketika Nijimura merasakan hal buruk terjadi pada orang itu segera lari keluar ruangan.

"Oi Nijimura! Kau mau kemana?! Rapat kita belum selesai!" Teriak Hyuuga.

"Aku harus pergi! Instingku mengatakan aku harus pergi ke tempat adikku!" Nijimura balas menyahut sambil membuat panggilan di ponselnya.

"Cukup Hyuuga. Biarkan dia pergi," ucap Shirogane.

Hyuuga kembali diam dan rapat dilanjutkan kembali.

"Riko bagaimana dengan laporanmu?" Tanya Shirogane.

Riko mengangguk dan membuka buku laporannya, "Dari penyelidikan tim forensik, para korban dibunuh dan diambil jantungnya. Darah terkuras habis. Bahkan di lokasi kejadian pun tak ada setetespun darah."

Ucapan Riko, di sahut oleh anggukan Izuki."Dan kemungkinan jantung itu belum dimakan. Beberapa kerabat korban masih ada yang mengingatnya."

"Kasus ini masih ada hubungannya dengan organisasi gelap itu,"sahut Hyuuga.

"Jabberwork..."

"Bagaimana dengan kasus pasar gelap itu? Siapa yang akan menjadi intel?" Tanya Shirogane.

"Miyaji, Wakamatsu, dan anggota tambahan lainnya sebagai tim support," ucap Hyuuga.

"Oh, aku ada informasi tambahan,"Izuki mengangkat tangannya. "Aku membaca beberapa artikel yang membahas pasar gelap para demon."

Izuki membuka tabnya yang menampilkan artikel yang dimaksud.

"Penulisnya Ogiwara Shigehiro," ucap pria raven tersebut. "Aku sudah meminta Kobori-san untuk menyelidiki data penulis, tapi kami tak berhasil menemukannya."

"Nama samaran?" Susa kali ini menyahut.

"Tidak. Ini nama asli. Kami mengetahui dari Nijimura-san. Tetangganya yang bernama Kise Ryouta mengenal si penulis," Jelas Izuki.

Mata Hyuuga terbelalak, "Kise-kun?!"

Izuki mengangguk, "Semua data mengenai Ogiwara Shigehiro lenyap, bahkan identitas kependudukannya. Itu artinya dia sudah mati dan jantungnya dimakan oleh demon."

"Lalu bagaimana dengan Kise Ryouta? Seharusnya memori tentang Ogiwara Shigehiro sudah lenyap dari ingatannya," ucap Riko.

"Itu lah yang masih kupertanyakan..." gumam Izuki.

Shirogane tampak berpikir.

Kise Ryouta...

.

.

.

Mobil Nijimura menuntunnya menuju SMA Teikou. Sebelumnya di telepon, Haizaki berkata bahwa Ryouta pingsan dan kini di bawa ke ruang UKS sekolah. Kebetulan saat itu Haizaki dan lainnya masih berada di dekat lingkungan sekolah.

"Ryouta!" Nijimura menggebrak masuk ke ruang UKS. Di dalamnya berdiri Haizaki dan anggota tim basket Teikou. Sementara Kise terbaring lemah di ranjang uks.

"Shuuzou-nii, aku akan jelaskan di rumah nanti," ucap Haizaki.

"Bagaimana kondisinya?"

"Kise-kun hanya kelelahan dan ada sedikit gejala anemia. Aku sudah memberikannya suplemen vitamin. Biarkan dia beristirahat sejenak," jelas dokter jaga di UKS.

"Baiklah... terima kasih, dok."

"Setelah Kise-kun sadar, kalian boleh mengantarnya pulang."

Nijimura mengangguk mengerti pada si dokter, lalu pandangannya beralih pada model pirang tersebut. Tangannya membelai pipi Ryouta yang sedikit pucat.

"Jelaskan padaku sekarang, Shougo."

Haizaki melirik dokter jaga yang keluar dari ruang uks.

Setelah pintu uks tertutup, ia menjelaskan,"Ryouta tadi memegang jimat dari kuil. Aku tidak tau kenapa dia tiba-tiba kesakitan setelah memegangnya. Ryouta kemudian pingsan beberapa saat kemudian."

"Ryouta tidak pingsan karena jimatnya," tambah Akashi.

Haizaki mengangguk setuju, "Aku melihat aura demon keluar dari dirinya."

Nijimura mengalihkan pandannya lagi pada sosok pirang itu.

Demon...

"Nghh... Nijimura-cchi...?" Kise membuka matanya perlahan.

"Ryouta, apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Nijimura.

"Lelah... Sangat lelah seperti marathon 10 kilometer..." Kise bangkit perlahan.

Haizaki dapat melihat aura itu masih keluar dari diri Ryouta.

"Sebaiknya istirahat dulu sebentar," ucap Aomine.

"Tapi malam ini ada jadwal photoshoot..."

"Kita bisa batalkan jadwalmu, aku akanhubungi Kiyoshi-san," Nijimura mengambil ponselnya.

"Kise, kapan kontrakmu dengan perusahaan Nash berakhir?"Tanya Aomine.

"Aku tidak ingat, tapi Kiyoshi-san bilang sekitar 3 minggu lagi."

Aomine menoleh ke Akashi, "Kau dengar kan?"

Akashi bergumam, "tiga minggu lagi... Kontraknya berakhir tepat di hari ulang tahun Ryouta."

Kise tampak bertanya-tanya, "memangnya kenapa?"

Akashi diam, lalu menjawab, "Kau tidak perlu tau, Ryouta."

"Mou! Aominecchi!" Sekarang si pirang meminta penjelasan pada Aomine.

"Maaf Kise..." Aomine menggeleng.

"Uhh... Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?!"

Kise sudah tidak tahan. Ia sangat kesal. Kenapa semua selalu membicarakan sesuatu di belakangnya?

Setelah yakin tak ada yang menjawabnya, Kise lari keluar dari uks.

"Kise!/Ryouta!/Kise-kun!/Ki-chan!"

Kise berlari di sepanjang koridor sekolah. Suara langkah kaki yang lainnya dapat terdengar mengikutinya.

Karena tubuhnya masih agak lemas, Kise terjatuh. Namun ada tangan yang menopangnya agar tidak jatuh ke lantai.

"K-kasamatsu... senpai?"

"Apa yang kau lakukan di sini, Kise? Bukannya kau sudah pulang?" Sang wakil ketua osis membantunya berdiri.

Kise tak menjawab.

"Kau menangis."

"Eh?!" Kise sama sekali tak menyadari dirinya meneteskan air mata.

Kasamatsu menyeka pipinya yang basah. "Apa yang terjadi?"

Kise hanya menunduk, "Aku kesal sekaligus kecewa..."

"Pada teman-temanmu?"

Si pirang mengangguk.

Tepat pada saat itu, yang lainnya berhasil menyusul.

"Ryouta!" Akashi menghampirinya." Jika kau benar-benar ingin mengetahuinya, aku akan memperlihatkannya. Tapi kau terima sendiri konsekuensinya."

Ia melihat ada Kasamatsu di sisi si model, tapi ia tidak mempedulikannya sekarang. Kise harus kembali, kondisinya sangat rentan terpengaruh oleh demon saat ini.

Kise merunduk sambil meremas ujung baju seragamnya, usapan tangan Kasamatsu di punggungnya mebuatnya lebih tenang. "K-kalau begitu, perlihatkan padaku."

Akashi mengulurkan tangannya, "Pegang tanganku dan kau akan melihat segalanya."

Kise memandangi tangan itu. Agak ragu sedikit, tapi ia ingin mengetahui apa yang telah disembunyikan darinya.

Begitu tangan saling bersentuhan, bayangan-bayangan masa lalu mulai bermunculan di pengelihatannya.

Semua terasa begitu cepat, memaksa otaknya untuk mengingat semua kejadian itu.

Bayangan-bayangan itu berasal dari sudut pandang Akashi. Pembicaraan Akashi dan lainnya di runang tengah saat Kise berada di kamar. Juga masa lalu dari Akashi itu sendiri.

Akashi segera melepas tangannya dari Kise. Si pirang sudah melihat terlalu dalam, jadi dia menghentikannya.

"...Ryouta—

"Akashicchi..." Kise menatap Akashi lekat-lekat. "Sebenarnya aku ini apa?"

Akashi terdiam sejenak, "...kau manusia, hanya saja kau sedikit berbeda."

Haizaki mendekat, "Ryouta, ayo kita pulang..."

Si pirang menggeleng pelan.

"Maaf, bisa biarkan aku sediri...?" pintanya. Dengan bantuan Kasamatsu, Kise pergi dan meninggalkan mereka yang masih tercengang.

"Kise!" Kini panggilan Aomine yang membuat langkahnya berhenti.

Kise hanya menoleh, "Maaf... Aominecchi..." dia pun kembali melangkah pergi.

.

.

.

Aomine tidak ingin berpikir macam-macam. Kise juga membutuhkan waktu untuk sendiri. Jadi, ia membiarkannya pergi.

Sementara Haizaki dan Nijimura sudah pulang terlebih dahulu, memastikan apakah Ryouta sudah pulang atau belum.

"Bukankah itu sangat berbahaya untuk Kise?!" Kagami berseru. "Dia pergi dengan Demon—maksudku Kasamatsu Senpai!"

"Kita masih belum tau dia berada dipihak mana,"tambah Midorima.

"Bagaimana menurutmu, Akashi-kun?" Tanya Kuroko.

"Aku tidak yakin, tapi Kasamatsu senpai memiliki hubungan dengan Ryouta terdahulu. Sampai sekarang aku tidak tau apa tujuannya bergabung dengan OSIS Teikou. Kuharap dia bukan ancaman untuk kita."

"Hubungan? Hubungan apa?!"Aomine menyahut cepat.

"Kau cemburu, Daiki?" Akashi menyeringai. "Tenanglah, itu hanya hubungan platonic seperti hubungan antara Ryouta dan Shougo. Tapi itu dulu. Aku masih heran kenapa dia berada di kalangan anggota OSIS."

.

.

.

Hari itu Kise benar-benar tidak pulang.

.

.

.

Kasamatsu mengantar Kise sampai halte dekat sekolah. Sebelumnya si pirang sudah menelepon managernya untuk menjemput di halte tersebut.

Hari menjelang malam. Lampu-lampu di sekitar mereka mulai menyala. Udara hangat dari matahari sore pun perlahan-lahan lenyap, tergantikan oleh udara sejuk dan dingin.

"Terima kasih sudah menemaniku, senpai."

"Uhh tidak apa... Lagipula, apa kau tidak takut?"

"Huh?" Kise hanya menatap bingung pada senpainya.

"Kau pasti tau, kan?! Aku ini demon! Apakau tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu?!"

"Aku tau, kok!" Bibir Kise mengerucut, lalu tersenyum, "Tapi aku percaya kalau Kasamatsu senpai tidak akan melakukan hal buruk padaku."

Kasamatsu hanya menghela napas. Kise terlalu polos. Itu bahaya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pulang saja?"

"Aku hanya ingin menenangkan diri saja... Bertemu dengan Shougo-kun dan Nijimuracchi di hotel membuatku sedikit canggung."

"Dasar bodoh..." Kasamatsu menghela napas lagi.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam milik Kiyoshi datang.

"Kise-kun, maaf sudah menunggu," ucap Kiyoshi dari dalam mobil. Matanya melirik sedikit pada Kasamatsu yang ada di sebelah Kise, lalu tersenyum sopan.

"Ah, justru aku yang minta maaf karena sudah merepotkan!" Jawab Kise.

"Hahaha! Sudahlah, ayo masuk!"

Kise mengangguk cepat, "Terima kasih banyak, senpai! Aku duluan."

Sebelum si pirang benar-benar pergi, Kasamatsu menggenggam pergelangan tangannya erat. Seolah tak menginginkan pemuda tersebut pergi.

Kening kasamatsu berkerut, ada suatu energi dari demon lain yang sangat pekat hadir di sekitar mereka. Energi yang sangat kuat, bahkan dirinya yang demon tingkat satu merasa tak berkutik.

"Senpai?"

Kasamatsu segera melepas cengkramannya. "Uhh... berhati-hatilah."

Setelah Kise pergi bersama managernya, Kasamatsu meremas dadanya dengan tangan bergetar.

Energi apa itubarusan?

Energi yang terlampau kuat hingga energi Kasamatsu sendiri tak bisa menandinginya.

Tidak salah lagi, ada demon lain yang mengincar Kise.

"Ckh!"

.

.

.

"Kiyoshi-san, terima kasih sudah mengizinkanku untuk menginap."

"Tidak masalah. Apartmentku selalu terbuka untukmu!" Kiyoshi mengusap-usap puncak pirang Kise, "Yosh yosh... sekarang tidurlah, wajahmu kelihatan sangat lelah."

Kise mengangguk, lalu memejamkan matanya. Tak sampai lima menit, si pirang sudah jatuh terlelap.

Ketika sudah sampai gedung apartment, Kiyoshi menggendong Kise yang masih terlelap secara bridal. Pemuda itu masih tampak nyenyak di dekapannya. Sangat menggemaskan.

Dari sudutmatanya, pria itu menangkap sesosok bayangan yang sedari tadi mengikuti mereka sepanjang perjalanan.

Kiyoshi menatap tajam sosok tersebut, "Kembalilah ke tuanmu dan jangan ganggu kami!"

Seketika makhluk itu lenyap.

Kiyoshi kembali tersenyum, "nah Ryouta, sekarang waktunya meletakannmu di tempat yang nyaman."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

Shoujo Sedai: Iya complicated sangat, sampe authornya sendiri puyeng (salah sendiri juga sih kenapa bikin plot terlalu ribet) haha...

Midorima Ryouta: Yup Tatsuya demon dan dia posisinya dipihak nash, tapi entah dia bakal dukung pihak siapa...

Allase: Thanks! Semoga chapter ini lebih menarik :D

shiroo: emang kise geblek... maunya bobo sambil dikelonin ayang beb ao wkwk...

Murasaki bara baik ko, kalo ga baik doi ga bakalan bantuin akashi wkwk.

Saya usahakan ini tamat!

Cheeno: Terima kasih reviewnya! Iya mirip ya sama pedangnya rin okumura (walaupun saya ga pernah baca manga atau animenya xD) ku baru tau... mungkin bisa jadi inspirasi dikedepannya.

Yuri Chan7: syudah update!

Akaki: masih lanjut kok, ini update terlama saya sepanjang sejarah huhu ;;-;;

Sebenarnya saya punya akun wp dan ao3 dari jaman jebot, tapi belum sempat untuk publish ke sana... saya berencana untuk publish kesana lain waktu ;)

yeopo6969: ga pa pa! Makasih banyak udah review!

.

.

.

Terima kasih fav dan follownya, sampai jumpa di chapter berikutnya!