BLACK INVITATION
Created by : jitan | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Resident Evil character adalah milik Capcom. Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita RE yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis semata.
Rating : M (fic ini mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar, dan konten seksual).
.
.
.
Baru saja mengakhiri pembicaraan dengan si om blonde, tiba-tiba sebuah tangan menepukku dari belakang. Aku terkejut dan menoleh, mendapati senyuman manis dari wanita itu. Tubuhnya terlihat begitu mungil dari jarak pandangku, bahkan ia harus sedikit mendongakkan kepala saat bertatapan akibat perbedaan tinggi badan. Rupanya ia menyusul dari penginapan dan berhasil menemuiku di minimarket, untunglah ia datang setelah aku selesai bercakap-cakap dengan Kennedy. Sebuah seringai tersungging dari bibirnya, memperlihatkan wajahnya yang berseri-seri.
"Kau sedang menelepon siapa tadi?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum yang membuatku luluh.
"Ah-eh, i-itu… Bukan siapa-siapa," aku berbohong padanya. Tidak mungkin kukatakan aku menghubungi Leon Kennedy karena hal itu hanya akan membuatnya cemas, "Hanya menghubungi om-om yang cukup cerewet menceramahiku, supergirl."
"Eh? Kau baik-baik saja, Jake?"
Aku mengangguk singkat, mengalihkan perhatiannya dengan membeli beberapa makanan. Ia memilih sebuah roti isi sementara kakiku menuju tempat buah-buahan berada. Pilihanku sebagai menu sarapan tentu saja buah apel, aku mengambil dua butir yang tampak ranum. Satu butir apel telah habis tertelan ketika Sherry masih berniat membeli beberapa barang lain. Selesai berbelanja ia mengajakku sarapan sambil sedikit berjalan-jalan di sekitar penginapan, yeah kupikir tidak buruk juga. Besok pagi dia sudah harus pergi ke bandara dan mungkin ini kesempatan terakhirnya bersantai menikmati suasana Amozi. Cuaca hari ini cukup terik, kami menyantap sarapan sambil melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lewati cukup ramai oleh pengunjung, namun kami sama-sama terdiam tanpa bahan pembicaraan. Dan tidak terpikir untuk memulainya.
Ini memang bukan pertama kalinya kami berjalan berdampingan, tapi anehnya… Kali ini berbeda.
.
Rasanya asing.
.
Aku selalu bisa menikmati buah apel sebagai santapan dalam situasi darurat sekalipun. Warna merah ranumnya tidak pernah gagal menggugah seleraku untuk melahap lalu menghabiskan buah ini, mengecap rasa manis yang menyegarkan sekaligus mengenyangkan. Sebelumnya tidak pernah gagal, hingga saat ini. Sari manis dari buah ini berlalu begitu saja setelah tertelan melalui tenggorokan, hmm… Mungkin karena sejak awal pikiranku memang tidak pernah tertuju pada makanan? Sementara sisa buah merah itu berada dalam genggaman, pikiranku hanya tertuju pada hal lain. Kelima jemari tangan kiriku berada di sela-sela jemarinya. Terkait satu sama lain. Rasanya begitu awam menghadapi gestur sederhana tapi mampu membuat tingkahku menjadi kikuk.
Biar kutegaskan satu hal. Selama menjadi seorang mercenary, aku tidak mungkin bergandengan tangan dengan para mercs yang mayoritas diantaranya pria… Yeah akuilah, itu menjijikkan! Tentu aku juga tidak perlu memegang tangan para lawan selain untuk membunuhnya. Ini tidak seperti setahun yang lalu ketika aku memutuskan menggenggam tangannya setelah berhasil mengalahkan Ustanak, berterima kasih karena ia menyelamatkan hidupku. Kali ini begitu terasa asing. Mengaitkan jemariku pada Sherry Birkin… Kulit kami bersentuhan tanpa terhalang sarung tangan, genggamannya yang mungil seakan-akan bisa merasakan setiap detil guratan kasar atau bekas luka di telapak tanganku. Ah, tentu ini bukan sensasi yang kubenci, hanya saja...
Semuanya terasa baru dan menyenangkan.
Diam-diam aku melirik, melihatnya sekilas dari sudut pandangku. Ya ampun. Jika dibandingkan dengan jantungku yang berdetak tidak karuan, ia terlihat begitu tenang. Sherry masih sibuk mengunyah rotinya sambil melihat barang-barang pajangan dalam etalase toko yang kami lewati, tangannya menggenggam jemariku dengan natural. Seakan-akan tanpa beban… Che, aku merasa seperti orang tolol. Tanpa sadar aku tersenyum setelah menyadari kekikukanku sendiri. Berusaha menyembunyikan senyum dengan memalingkan wajah, tapi… Gerakanku terbaca.
Dia melihatku.
"Ada hal yang membuatmu senang hari ini?" tanyanya dengan nada riang, "Kau tahu? Ini pemandangan langka ketika menemukan Jake Muller tersenyum seperti tadi."
.
Damn, Jake… Senyuman bodohmu barusan terlihat.
.
"Kau tidak salah lihat?" Sekuat tenaga aku berusaha tetap tenang, membalasnya sambil menyeringai, "Heh… Tenang saja. Ini bukan indikasi kelainan jiwa, supergirl."
"Hmm… Lalu?" wanita mungil ini belum juga mengalah, ia mengayunkan tangan kanan yang terkait dengan genggamanku seperti seorang anak kecil. Matanya terus terarah seperti menunggu jawaban, sukses membuatku berdecak kehabisan kata-kata.
"Jangan terlalu dipikirkan," jawabanku benar-benar kikuk. Aku mengumpat pada perkataanku sendiri. Sekilas aku bisa melihat ia menghela napas setelah mendengar alasanku yang terlalu datar.
.
.
Tiba-tiba langkahku terhenti pada sebuah etalase toko. Melihat sebuah miniatur pesawat terbang dari salah satu counter agen perjalanan entah mengapa langsung mengingatkanku pada peristiwa setahun yang lalu. Kenangan ketika aku harus melepas kepergiannya pulang ke Negeri Paman Sam dari atas sebuah motor. Saat itu bayangan pesawat udara yang terbang melintas membuatku terasa sedikit… Kosong? Yeah yeah aku sempat menertawai rasa kosong ini. Kepergiannya meninggalkan tanda tanya tentang apa arti keberadaan Sherry untukku, secara pribadi bukan sebagai partner. Mungkin aku hanya bersimpati? Setelah apa yang kulewati bersamanya, termasuk mengapa aku bisa menolak uang CASH senilai lima puluh juta dollar yang telah dijanjikan. Saat itu aku mengambil kesimpulan :
Dia penyelamatku dan aku berhutang nyawa padanya, itulah bentuk hubungan kami.
Titik.
Anehnya… Beberapa bulan setelah kepulangannya pun, kekosongan yang kupikir akan segera hilang ternyata tetap terasa. Oh God… SHERRY BIRKIN. Sosok yang membuatku bingung setengah mati. Awalnya kuanggap hubungan kami adalah partner secara mutual, dan alasanku menolak uang itu semata-mata sebagai bukti Jake Muller telah berubah. Well… Tapi sejujurnya, mungkin aku melakukannya demi gadis itu? Frekuensi komunikasi kami melalui pesan singkat bisa dibilang jarang. Kami terikat rutinitas pekerjaan dan terkadang daerah misiku adalah daerah tanpa jaringan komunikasi. Kehilangan kontak adalah saat-saat dimana aku mencemaskannya hingga frustasi. Sungguh, ini konyol… Rasanya hampir gila.
Sepertinya aku positif mengidap gangguan kejiwaan karena Sherry Birkin.
Terkadang aku hanya menatap pesan masuk yang kosong. Bertanya-tanya apa kami bisa bertemu lagi ; yang sebelumnya kupikir itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana kabar Sherry? Mencemaskan apakah sang supergirl baik-baik saja? Dia hidup kan? Apa dia mendapat misi yang berbahaya, atau bagaimana jika partnernya bodoh dan malah membahayakan nyawanya?! Che… Penyiksaan batin ini rasaya lebih menakutkan dibanding menghadapi ratusan B.O.W. The hell… Ingat Jake Muller, kau belum berniat jadi gila! Jauh-jauh kubuang semua perasaan menyesakkan itu, menghindarinya mati-matian.
.
Tapi ketika bertemu lagi dengannya disini, di Amozi… Aku berubah pikiran, atau lebih tepatnya ; menyadari sesuatu. Melihatnya bernapas di lorong Central Market itu sudah cukup membuatku… Lega? Bahkan merasa beruntung melihatnya? Semuanya menjadi jelas sekarang, dan dia tidak akan kulepaskan. Kekosongan yang kurasakan dulu bukan karena kehilangan partner semata, oh dan bukan karena gangguan kejiwaan. Keberadaan Sherry untukku, dia… Sangat penting.
Saat ini ia dan keselamatannya jauh lebih penting dari apapun.
Tapi lagi-lagi dia harus kembali ke Amerika Serikat? Aku harus melepasnya sekali lagi?! Seketika itu pula rasa kosong yang kurasakan setahun lalu terulang, terasa hampa, tercabik-cabik. Sherry Birkin akan meninggalkan Amozi dan kembali ke Amerika Serikat. Dalam artian kasarnya ia akan meninggalkanku.
Lagi.
Dan aku tidak bisa mengubahnya. Bahkan meski kami telah mengakui perasaan masing-masing dan hubungan kami bukan hanya sekedar partner kerja, tidak semudah itu. Tidak mudah karena aku tidak bisa sekedar… Egois untuk memilikinya? Pekerjaannya sebagai agen pemerintah, profesi yang cukup berlawanan dengan caraku mendapatkan uang. Paman Sam adalah tempat dimana ia seharusnya berada. Sedangkan aku? Memang aku tidak ingin dia kembali ke Amerika, tapi tidak punya hak untuk melarangnya pulang. Di samping aku sendiri pun tidak punya tujuan atau tempat tinggal tetap. Napasku terasa sesak, genggamanku pada jemarinya tanpa disadari bertambah erat ketika menatap etalase itu.
.
.
Sherry Birkin menatapku dari samping, menyadari tatapanku yang kosong.
"Kau memikirkan soal besok, karena aku harus pulang?" tanyanya perlahan, aku hanya mengangguk. Berusaha tidak membahasnya lebih jauh tapi tangannya menahan tubuhku agar tidak bergerak.
"Apa yang ingin kau lakukan?" dia bertanya lagi, "Apa kau ingin melarangku?"
'Damn it, Sherry… Kenapa kau harus membahasnya sekarang?' pikirku sambil memejamkan mata, berusaha mengatur emosi yang mulai meluap.
"Jake-"
"Sejujurnya aku tidak ingin kau pulang dan berpisah denganku… Lagi. Tapi kita tahu itu mustahil, kan? Dan kau tadi malah bertanya… Apa yang akan kulakukan?" jawabku sambil mengangkat kedua bahu, "Nothing. Tidak ada yang bisa kulakukan, supergirl. Oke?"
.
Sherry memutar posisi badan dan kini ia berhadap-hadapan denganku, "Mengertilah, kau tahu ini juga tidak mudah bagiku. Tidak setelah kita melewati semua ini bersama-sama. Tapi saat ini aku masih berada dalam misi resmi, dan aku diwajibkan untuk kembali… Jake."
"Yeah yeah yeah, I know." aku menghela napas, berusaha menahan semua umpatan yang kutujukan untuk situasi menyebalkan ini, "Tentu aku tidak punya hak melarangmu pulang, Sherry… Kau memang harus kembali. Aku akan mencari jalan agar hubungan kita terus ber-"
"Berhentilah dari dunia mercenary," ia memotong perkataanku dan merasakan genggamannya terlepas. Tanpa aba-aba kedua tangannya kini bertumpu di depan dadaku, ia sedikit berjingkat dan secepat kilat mengecup bibirku. Ketika bibirnya mengadakan kontak, semuanya terasa begitu cepat… Aku terpaku. Sementara pikiranku sibuk mencerna situasi, wanita ini terus menatapku dengan bola mata birunya. Sherry Birkin tampak begitu yakin pada ajakannya, bahkan mempertegas ucapan itu sekali lagi.
.
"Ikutlah bersamaku ke Amerika, Jake Muller…"
.
.
.
BLACK INVITATION
FINAL CHAPTER : PART 1
.
.
Washington D.C. – F.O.S Central Office – 07.40 AM
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan mengenakan setelan jas berwarna navy tengah berdiri di samping seorang wanita berkacamata yang membiarkan kopi di mejanya mendingin dan terabaikan. Wanita ini sibuk menaruh ke sepuluh jemarinya di atas keyboard, berusaha menarik semua informasi tentang pria bernama Allan Groves. Berambut brunette disisir rapi ke belakang dengan struktur tulang yang tegas di wajahnya, pria bermata abu-abu ini juga terfokus pada layar monitor. Sesekali ia melonggarkan dasi biru bermotif polkadot yang menghimpit di antara leher sambil menginstruksikan agar Ingrid Hunnigan mencari data berdasarkan perintahnya. Ia memerintahkan agen wanita itu untuk mengumpulkan informasi mengenai Arthur Lodge, mengecek setiap bukti transaksi, perputaran uang dalam rekening, hingga kontak komunikasi yang ia lakukan selama dua bulan terakhir.
Dave Richter, Direktur F.O.S yang dilantik sebagai National Security Advisor ini turun tangan secara langsung dalam memantau perkembangan misi yang disebut Black Spider Operation. Jabatannya yang cukup tinggi dalam struktur kepemerintahan turut mempermudah aksesnya dalam meminta bantuan ke kedutaan besar Amozi. Beruntung, berkat relasinya ia juga berhasil mengontak Clive R. O'Brian sebagai advisor B.S.A.A dan dari sana pula beliau mengontak Merah Biji dari divisi Far East Branch untuk memimpin operasi di Amozi. Keberhasilan wanita yang tergabung dalam Special Operations Agents (SOA) bersama Chris Redfield dan Piers Nivans saat terjadi outbreak di sebuah sekolah swasta ternama membuat Clive tanpa ragu merekomendasikannya. Saat ini dikabarkan Merah Biji dengan tujuh anggota Special Operations Units (SOU) dari B.S.A.A telah berada di lokasi.
.
Di belakang mejanya tampak Bernard Hills tengah meraih sebuah telepon yang berdering sambil menggenggam kertas-kertas data. Belum sempat bercakap-cakap lebih, pria ini memanggil atasan yang berusia lebih muda beberapa tahun darinya. Richter menoleh, tangannya yang terlipat kini digunakan untuk mengambil gagang telepon. Alisnya berkerut ketika anak buahnya yang berada di lapangan melapor, Bernard Hills yang berada di sampingnya telah menduga atasannya mendapat informasi yang kurang menguntungkan.
"Apa yang kau katakan? Arthur Lodge tidak ditemukan di kediamannya?!" kalimatnya sukses membuat suara ketikan dari keyboard Hunnigan terhenti, "Kau sudah memastikan keberadaannya? Ya, tetap laksanakan misi. Aku ingin kalian tetap menggeledah rumahnya selama kami mencari jalan lain. Lakukan apa yang bisa kalian lakukan, temukan bukti sekecil apapun. Aku menunggu hasil penggeledahan."
Ingrid Hunnigan tidak menyia-nyiakan waktu, ia kembali berkutat pada layar ketika Dave Richter masih berkomunikasi dengan agen lapangan yang ditugaskan menyeret Arthur ke kantor untuk ditangkap dan diperiksa. Setelah memberikan beberapa instruksi atau pertanyaan, direktur F.O.S ini menaruh gagang telepon seraya mendengus kesal. Ia menatap wajah Bernard Hills dan menggelengkan kepala.
"Agen kita telah mendatangi apartemen dinas Arthur Lodge tapi ia tidak ditemukan, menurut keterangan sudah sekitar empat hari ia tidak kembali. Tetangganya tidak tahu sama sekali. Melacak rumah kerabatnya juga sia-sia, satu-satunya rumah milik orang tuanya telah dijual sekitar dua bulan yang lalu melalui agen properti. Pihak agen maupun pembeli barunya tidak tahu menahu tentang keberadaan penghuni lama rumah itu. Well, tampaknya tikus yang mengkhinati kita cukup lihai, Hills…" katanya sambil tersenyum sinis pada Bernard Hills yang pernah menjadi atasan target mereka. Kemudian ia menepuk tangannya tiga kali untuk meminta semua kesibukan dihentikan sementara, "Oke. Ini waktunya kita bekerja sama, tidak ada waktu untuk bersantai! Bawa padaku data apapun yang dapat mendekatkan kita pada target. Kalian paham?"
Semua agen yang bertugas selain Ingrid Hunnigan dan Bernard Hills menyahut, tanda mengerti.
"Agen Hunnigan! Aku ingin kau menarik informasi penggunaan dana rekening dan kartu kredit dari Arthur. Periksa juga data pembelian tiket penerbangan atas nama Arthur Lodge, baik domestik maupun internasional selama seminggu terakhir. Kirim data paspornya dari database pada pihak bandara agar mereka dapat mengonfirmasi apabila ada indikasi mencurigakan, karena sangat memungkinkan pengkhianat itu menggunakan paspor palsu," Richter berdeham sebelum memberi instruksi lainnya. Kini ia menunjuk Bernard Hills, "dan kau Agen Hills, cepat hubungi U.S.S.S! Kita akan meminta bantuan Secret Service untuk mengakses CCTV bandara, stasiun, terminal, bahkan sudut-sudut perkotaan. Kirimkan juga data mengenai Arthur Lodge termasuk fotonya pada mereka sekarang juga. Lakukan yang terbaik dan… Saatnya bekerja!"
.
.
.
January 3st, 2014 – Unknown Place, Amozi – 15.15 PM (45 menit sebelum 'pembersihan')
Jake Muller merasakan nyeri di sekujur tubuh, susah payah ia memaksa kakinya memijak tanah dan bangkit berdiri. Rencana briliannya berhasil, ia berhasil meledakkan sisa-sisa J'avo menggunakan satu-satunya sisa granat yang ia miliki. Ledakan itu cukup mematikan, selain membumi-hanguskan para J'avo, sebuah kontainer yang terbalik juga menutup akses pintu yang dilewati Leon. Kini yang tersisa di ruangan itu hanyalah Allan Groves dan Jake Muller. Mereka berdua berdiri berhadapan dengan tangan terkepal, keringat dan darah dari luka-luka tercampur menjadi satu. Groves yang juga terkena efek ledakan menyeringai, kemeja putihnya tampak compang camping dan ternodai oleh debu juga darah.
Dengan satu gerakan tanpa tenaga, Groves menarik kemejanya hingga robek dan berakhir menjadi helaian kain usang di atas lantai. Jake memincingkan mata, pemimpin Black Spider ini memiliki tubuh kekar dengan otot-otot solid yang mendukung kekuatannya. Hanya saja terjadi kejanggalan. Bagian dada kiri Groves tampak menghitam dengan urat-urat hijau yang menjalar hingga ke bagian lain, menjalar melalui daerah bahu dan perutnya. Jake menyadari Allan Groves bukan hanya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, didukung dengan gerakan akurat dan mematikan. Pemandangan yang dilihatnya saat ini membuatnya yakin, lawannya bukan manusia normal.
.
"Wow, nice tattoo…" gumam Jake sambil menunjuk 'memar' hitam pada dada Allan Groves, "Ternyata kau juga tidak normal seperti uh… Catherine? Emily? Yeah whatever, another fuck*ng creature… Kau cuma monster seperti mereka."
Allan Groves tanpa ragu berjalan mendekati Jake Muller.
"Monster? Aku lebih suka menyebut ini… Special." secepat kilat Groves melayangkan tinjunya dan menghantam pelipis kiri Jake. Lawannya berhasil bereaksi dan mencoba menghindar, namun sayang kekuatan tinju Groves tetap menghantamnya dengan keras. Jake kehilangan keseimbangan akibat rasa pusing dari pukulan, ia terjatuh. Sementara Groves berdiri menatap tubuh Jake yang tergeletak dengan pandangan angkuh, "Kekuatanku ini adalah sebuah anugerah dari Albert Wesker, Jake."
Jake mengernyitkan dahi… Apa pria ini baru saja mengucapkan nama ayahnya?
Albert Wesker?!
.
Kaki kiri Groves menendang bagian dada Jake yang masih sempat dilindungi dengan kedua tangan, keturunan Wesker ini menghindar. Ia mendorong tubuhnya sendiri ke belakang dan menjejakkan kaki sekeras mungkin tepat mengenai tulang kaki Groves. Dengan sigap Jake berguling lalu mengambil posisi berlutut, bernapas lega karena gerakan Groves terhenti akibat serangan pada kakinya. Lawan Jake yang berusia paruh baya ini meringis, tanpa membuang-buang kesempatan Groves setengah berlari dan lagi-lagi menyerang Jake menggunakan kedua kakinya, membentuk serangkaian kombo serangan kaki yang terarah pada tubuh Jake Muller. Jake menepis dan menaruh kedua tangannya di depan dada ketika diserang, ia menangkap sebelah kaki lawannya. Kepalan tinjunya terarah pada lutut Allan Groves, melancarkan serangan balasan.
Sang pemimpin Black Spider terkejut ketika Jake berhasil menangkap kaki kirinya, dengan kekuatan penuh ia berusaha terlepas dari genggaman Jake Muller seraya mendorong tubuhnya ke depan. Dan bersamaan ketika lawannya menyerang lutut, Groves juga melayangkan tinjunya ke arah kepala Jake. Satu buah serangan sukses membuat kekuatan cengkeramannya melemah. Gelap. Jake merasakan pemandangan di sekitarnya menghitam sesaat ketika sebuah pukulan keras menghantam kepala, genggamannya pada kaki Groves terlepas. Namun tepat sebelum pukulan itu terjadi, Jake juga berhasil melayangkan satu tinju pada lutut Groves yang kini jatuh karena kehilangan keseimbangan. Allan Groves meringis dan merasakan lututnya mati rasa, keduanya sama-sama terjatuh.
.
.
"Damn, monster sialan!" Jake mengerjap. Ia masih merasakan pandangannya berkunang-kunang, "Darimana kau punya kekuata- Ugh?!"
Ucapan Jake Muller terputus di tengah-tengah.
Tidak sempat beristirahat, Groves mendorong tubuh Jake menggunakan bobot tubuh dan menghujaninya dengan pukulan demi pukulan. Bilur dan memar di sekujur tubuh mulai terasa nyeri, pukulan pemimpin Black Spider ini mengimbangi kekuatan inhuman yang dimilikinya. Ia kewalahan dan berada dalam posisi terdesak. Sh*t, monster ini benar-benar merepotkan! Tidak punya pilihan, jemari Jake Muller menarik 909 keluar dari holster, ia menembak Groves yang berada di atas tubuhnya. Satu peluru yang ditembakan dari jarak dekat menembus perut bagian kiri Allan Groves, pria itu mengerang dan melepaskan tawanannya. Jake Muller mengambil kesempatan untuk melakukan gerakan back-roll segera setelah tubuh Groves goyah akibat ditembus timah panas 9mm. Sambil berlutut ia terus membidik laras senjata apinya ke arah Groves yang memegangi perut yang telah berlubang.
Jake Muller memiringkan kepala ke samping ketika melihat darah yang berceceran dari tubuh Groves warnanya menghitam, itu bukan darah segar. Bocah berusia dua puluh dua tahun ini menyaksikan keanehan lain dari tubuh monster berwujud manusia di hadapannya itu. Urat-urat berwarna hijau juga keunguan yang menjalar di daerah perut Groves mulai bereaksi, tampak terjadi sebuah sirkulasi abnormal dari bagian hitam di dada yang dialirkan melalui nadi ke urat-urat yang menjalar. Dan sekonyong-konyong pendarahan dari luka tembakan itu berkurang… Lalu berhenti total?! Lubang tembakan yang menganga itu tetap terbuka hanya saja tidak lagi meneteskan darah. Hal yang sama juga berlaku pada daerah pipi yang sebelumnya terkena serangan dari combat knife. Keheningan dari mulut besar Jake ketika menonton peristiwa tersebut kontan membuat lawannya tertawa sinis.
Hasil eksperimen Albert Wesker kini harus dihadapi oleh anak kandungnya sendiri.
.
"Ayahmu ; Albert Wesker-lah yang membuat tubuhku menjadi… Spesial," ucap Groves seraya merentangkan kedua tangannya, "Ini adalah rahasia yang kupendam bertahun-tahun bahkan setelah ayahmu mati. Dan seharusnya kau bangga karena aku hanya menceritakannya padamu, alangkah terhormatnya tamu agung sepertimu, Jake?"
Ucapan Allan Groves ditanggapi dengan nada sinis lawannya, mencemooh.
"Nah. Aku tersanjung. Tapi maaf menghancurkan cerita kekuatan ala dewamu, monster…" Jake terkekeh, ia masih siaga dengan 909 di tangan, "Sayangnya aku pernah melihat penyembuhan yang lebih sempurna dari ini. Jadi sejujurnya… Bagiku pertunjukan tadi tidak terlalu oh-so-wow?!"
Allan Groves menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia tertawa dengan suara menggema yang mengerikan. Kekuatan yang ia dapatkan dari percobaan Uroboros dan J-antidote membuat kekuatan fisiknya meningkat berkali-kali lipat, kesiagaan dan gerakannya pun bertambah akurat. Dan yang menarik, tubuhnya dapat menyembuhkan luka meskipun tidak menutup seratus persen seperti reaksi G-Virus pada Sherry Birkin. Bagian dada kiri yang menghitam adalah konsekuensi akibat kinerja jantung yang terpompa secara abnormal demi menyalurkan kekuatan supernya pada luka. Jake menangkap aura bahaya dari lawannya, tanpa ragu ia membidik 909 ke arah tubuh Groves.
"EAT THIS, MOTHERF*CKER!" Jake Muller mengumpat, ia mencoba memperlambat gerakan monster ini dengan melancarkan tembakan beruntun ke arah kepala Allan Groves.
DOR! DORR!
–click!—
.
"Oh, sh*t!" raung Jake frustasi.
Tepat sebelum tembakan ketiga, 909-nya meminta reload. Amunisinya habis. Sementara itu ia melihat lawannya terus berlari tanpa jeda, dua tembakan tadi tidak berarti. Lengan kanan Allan Groves yang terayun bersiap-siap mencengkeram tubuhnya, melayangkan serangan. Kecepatan pria paruh baya ini luar biasa mengejutkan, detak jantung Jake berdetak kencang seiring langkah Groves. Sialan! Mengelak atau menyerang? Bertahan atau membalas?! Dua opsi kritis yang harus ia pilih dalam sepersekian detik. Seringai mengerikan dari sang monster yang semakin mendekat tak pelak membuat seluruh otot tubuh Jake Muller menegang, pria ini membuang 909-nya begitu saja. Kedua tangannya kini telah terkepal, tubuhnya sedikit menunduk mengambil kuda-kuda, menunggu datangnya serangan.
Harga dirinya menolak untuk menghindar.
.
.
.
Secret Room - 15.25 PM (35 menit sebelum 'pembersihan')
"Bravo Team to Alpha Team, respond! Need backup! I repeat, we need back… AAAaakkkhhhh!"
Suara dari transmisi pemimpin tim Bravo barusan merupakan kalimat terakhir sebelum komunikasi terputus. Setelah tidak dapat dihubungi untuk kesekian kalinya, tim B.S.A.A segera menyusul menuju lokasi. Setengah berlari dengan senjata teracung, wanita ini berada di barisan terakhir dalam formasi. Ia mengikuti instruksi salah satu pasukan SOU yang bertugas mengecek letak terakhir keberadaan tim Bravo, keempatnya bergerak beraturan. Menurut laporan terakhir pada HQ, Bravo Team menemukan ruangan yang disebut-sebut oleh Leon Kennedy sebagai secret room. Merah Biji kini menuju tikungan terakhir dan telah mengarah pada lorong buntu yang gelap gulita. Sistem penerangan di ruangan ini terganggu, mungkin terjadi kerusakan pada saklar utama akibat beberapa ledakan atau baku tembak.
"Be careful, soldier…" ujar Merah Biji kepada ketiga anggota timnya. Ia menyiagakan senjata SCAR-nya sambil menyinari lorong lewat senter kecil yang terpasang pada rifle, "Ini posisi terakhir ketika komunikasi Bravo Team terputus."
Keempatnya bergerak perlahan dan mengendap-ngendap untuk mengurangi sumber suara, bias sinar dari lampu senter pada laras senjata dan kevlar hanya menerangi sebagian kecil dari sudut ruangan. Tiba-tiba dari kegelapan muncul J'avo yang bermutasi di daerah tangan menjadi Ruka, dan satu lagi dari kepala juga tangannya. Menyusul di belakangnya muncul juga dua sosok mayat hidup wanita yang berdiri setelah asyik menggerogoti salah satu jasad yang diperkirakan merupakan anggota tim Bravo, langkahnya terseok-seok. Menurut informasi dari Leon, kedua zombie seharusnya berada di sebuah sel tertutup. Anggota B.S.A.A ini tidak tahu mengapa pasangan ibu dan anak tersebut berhasil terlepas, namun ada kemungkinan tiang-tiang besi dari penjara telah dihancurkan oleh mutasi tangan Ruka.
Merah Biji memerintahkan semua pasukannya untuk mulai menembak mutasi J'avo terlebih dahulu. Ketika serbuan peluru terarah pada tubuh J'avo, wanita ini seorang diri mengincar daerah kepala sang infected. Tembakan sang agen B.S.A.A dengan akurat bersarang pada kepala Emily, bocah berusia sepuluh tahun itu terjengkang. Tidak membuang banyak waktu, serangan berikutnya pun memaksa sosok ibunda jatuh terkapar menyusul anaknya. Headshot. Salah satu mutasi J'avo berhasil dilumpuhkan oleh ketiga pasukannya, Merah membantu menghabisi satu lagi B.O.W yang tersisa. Amunisi pihak B.S.A.A menembus bagian-bagian tubuh mutasi Ruka yang mengakibatkan tubuhnya kini hancur di lantai lorong. B.O.W selesai dimusnahkan.
"Eeh, Captain Merah…"
.
Merah Biji sedang mengisi senjatanya dengan magazine baru ketika namanya dipanggil.
"Captain, ada yang aneh…" pasukan yang berada di depan tubuh Merah tiba-tiba membidik, "Infected itu tidak mati ketika kepalanya ditembak!"
Merah Biji langsung mengalihkan pandangan dan menyorot sosok zombie yang sedang beringsut dan mencoba berdiri. Tampak jelas sebuah lubang menganga tepat di kepala, sudut kelemahan infected untuk menghancurkan struktur otak. Agen khusus B.S.A.A ini segera melaporkan kejadian melalui alat transmisinya sambil terus siaga. Pihak B.S.A.A Headquarters menginstruksikan agar mereka mengambil sampel, karena ditakutkan adanya ancaman dari pengembangan jenis virus baru. Wanita berambut hitam ini mengangguk, ia menyimpan rifle dan menarik pistol Berettanya keluar sementara ketiga anak buahnya diam menunggu instruksi. Catherine dan Emily sudah sepenuhnya berdiri dan lagi-lagi mulai meraung, tampak gumpalan cairan berwarna hitam jatuh dari lubang kepalanya ketika berjalan terseok-seok. Ia memerintahkan ketiga pasukannya mengambil jarak aman.
"Mundurlah! Aku yang akan mengambil sampel dari si bocah perempuan," Merah Biji mengokang senjatanya, "Tugas kalian adalah menghabisi zombie wanita itu dan pastikan dia tidak menyerangku. Mengerti?"
"Yes, Captain!"
Tanpa aba-aba Merah Biji menaikkan laras pistolnya dan menembak kepala Catherine dengan satu bidikan mulus. Terhuyung ke belakang, jarak antara kedua pasangan ibu – anak pun terbuka lebar. Ia segera berlari menyongsong sosok Emily yang terus meraung dengan tangan terjulur dan mulut menganga. Combat boots wanita ini memijak bagian dada sang infected, Merah terangkat selama beberapa hitungan di udara. Tubuh wanita ini meliuk ke atas dan berputar layaknya busur sementara sebelah kakinya menendang Emily dengan gerakan salto ke belakang. Back-flip miliknya berjalan mulus, Merah mendarat dengan sempurna ketika tubuh Emily lagi-lagi terjatuh terkena serangan. Erangan ganas dari bibir bocah ini tidak membuatnya goyah, dengan sigap Merah Biji menahan tubuh sang infected menggunakan bobot tubuh dan kedua kaki. Gerakan Emily terkunci.
.
Dari salah satu saku kecil berisi suplai perlengkapannya, Merah mengeluarkan alat sampel menyerupai alat injeksi. Ia menancapkan benda tersebut pada lubang kepala Emily yang terbuka, menyebut beberapa hitungan sebelum alat tersebut dipenuhi cairan berwarna kehitaman dari otak. Setelah selesai mengambil sampel dan menaruhnya kembali pada kotak pengaman, wanita ini segera berdiri dan tanpa ampun menembaki sang infected dengan Beretta miliknya… Menghancurkan kepalanya. Raungan dari tubuh Emily maupun Catherine yang tengah ditembaki oleh pasukan B.S.A.A memberikan jeda tembakan, mereka sama-sama melihat apa sosok infected itu tetap berdiri setelah kehilangan kepala?! Keempatnya bersiap-siap menembak ketika tubuh kedua zombie masih mengejang-ngejang.
Dan beruntung, hal itu tidak terjadi.
"Merah Biji to HQ. Sampel telah kudapatkan," dengan nada riang ia memberi laporan.
Pandangannya masih tertuju pada dua sosok B.O.W wanita tanpa kepala yang bersimbah darah yang telah berwarna kehitaman. Merah Biji menggelengkan kepalanya melihat fenomena baru ini, apa-apaan ini? Seharusnya mereka hanya perlu menghentikan pergerakan infected dengan satu tembakan headshot. Aktivitas zombie akan terhenti apabila jaringan otaknya hancur, tapi kedua mayat hidup yang baru ditemuinya kali ini benar-benar membingungkan. Mereka harus benar-benar menghancurkan kepalanya?! Salah satu prajurit SOU melihat penunjuk waktu pada pergelangan tangan, dia segera memanggil sang komandan.
"Captain, waktu tersisa sekitar dua puluh menit sebelum pembersihan. Tim B dari B.S.A.A sedang berada di lantai basement lalu mereka akan segera keluar dari lokasi."
.
.
.
15.35 PM
Dalam menit-menit terakhir menuju pembersihan yang dipilih pemerintah Amozi, Jake masih berjibaku dengan sang pemimpin Black Spider. Dialah monster sesungguhnya, tidak ada tanda-tanda kelelahan atau menunjukkan sisi kelemahan. Jake mengutuk Albert Wesker, jika memang dia yang menanamkan kekuatan inhuman seperti yang dimiliki Groves saat ini. Mobilitas pria berambut kemerahan ini juga menjadi lebih terbatas setelah mengetahui 'isi' dari kontainer yang tersebar di dalam ruangan luas tersebut. Beberapa diantaranya memang kosong, atau berisi barang-barang illegal yang akan didistribusikan pada pasar gelap. Namun ternyata ada sebagian kecil yang berisi bahan-bahan mudah terbakar… Dan tentu saja, ia tidak tahu persis tersimpan di kotak yang mana.
"Fuck…" mulutnya tidak pernah berhenti mengumpat, "Monster tua bangka sialan ini rupanya lebih terkutuk dari Ustanak?!"
Lengah. Tinju dari kepalan Allan Groves membuat tubuhnya terpelanting ke belakang, membentur dinding kontainer. Jake Muller meraung ketika punggungnya menghantam pinggiran kontainer dengan keras, masih dengan pandangan berkunang-kunang ia melihat sebuah Browning Hi-Power yang tergeletak dalam jarak dua meter. Dengan jangkauannya, ia meraih senjata tersebut secepat kilat. Satu letusan mesiu bersarang pada bagian tubuh Groves namun tidak menghentikan pergerakannya, Groves menangkap laras handgun pada genggaman Jake lalu menariknya sekuat tenaga. Senjata mungil tersebut dengan mudah dibengkokkan, sementara lengan kiri Groves berhasil mendarat pada leher sang mercs. Berniat menancapkan kelima jarinya menembus kulit Jake.
"Ckckck… Kau lemah, Wesker Junior!" Groves menyeringai.
.
Ia berontak. Kedua telapak tangan Jake yang terbebas mencengkeram kepala Groves, merenggutnya dengan paksa ke depan. Selanjutnya combat boots pria itu melayangkan sebuah tendangan keras ke perut agar cekikan pada leher terlepas. Beruntung jemari sang monster belum sempat menembus leher Jake Muller, hanya saja telah mengeluarkan beberapa goresan luka akibat kuku yang menancap. Masih menyisakan beberapa serangan balasan, Jake menghadang dengan pukulan cepat pada bagian dada Allan Groves. Kombo serangan yang dipadu dengan tendangan bertubi-tubi sukses menjatuhkan sang pemimpin Black Spider. Ia terjatuh, bagian hitam pada dadanya lagi-lagi seakan berdenyut mengalirkan asupan energi bagi tubuhnya yang terluka. Jake mengernyitkan alis, terpikir sesuatu.
Dia mendapatkan sebuah cara yang mungkin berguna untuk mengalahkan Allan Groves…
.
.
.
Basement – South Route, 15.45 PM (15 menit sebelum 'pembersihan')
Keduanya berlarian di sebuah tikungan yang mengarah pada turunan menuju hall, setelah sosok J'avo menghabisi rekan-rekan B.S.A.A dari Tim B di lorong kini mereka masih berusaha menyelamatkan diri. Persenjataan berat itu tidak berhasil menghancurkan sang mutasi, justru daerah tangannya berubah bentuk berupa tentakel bercakar. Sedangkan satu lagi bermutasi di daerah kaki, menyerupai kaki laba-laba dan tangan sang J'avo memegang MP 5. Anggota B.S.A.A masih berusaha menembak, namun tubuhnya ditembus beberapa peluru dari submachine gun milik J'avo. Ia jatuh terjerembab namun tetap hidup berkat rompi anti peluru yang membungkus tubuh bagian atasnya. Pria ini terus menembaki sang Ruka ketika satu rekan lainnya sibuk menempelkan bom waktu di satu sisi lorong.
"MASUKLAH KE PINTU! BIAR AKU YANG MEMASANG BOM ITU!" teriak sang prajurit. Ia menembaki tubuh Ruka yang lagi-lagi berubah sosok menjadi lebih mengerikan. Beringsut mundur ke belakang, ia melindungi rekan yang berusaha membuka pintu.
Sayangnya cakar sang Ruka masih sempat menyerang bagian kepalanya.
.
Satu-satunya Tim B yang tersisa berhasil membuka pintu, namun bersamaan dengan itu sebelah kakinya tertembak oleh serangan MP 5. Hilang keseimbangan seketika, pria ini terjatuh. Bom waktu dalam genggamannya terlepas dan tergeletak di lantai hall sebelum sempat diaktifkan. Dari belakang bertubi-tubi terdengar suara tembakan, menghancurkan satu per satu kaki laba-laba dari hasil mutasi. Tubuhnya hancur dihajar peluru, jatuh menyisakan satu Ruka yang terkejut pada serangan balasan. Leon dan Sherry bersama tim militer Amozi datang bersamaan, mulai mengokang senjata dan menyerangnya. Bantuan empat orang yang datang lebih dari cukup untuk menyelamatkan nyawa sisa anggota Tim B, tubuh J'avo terkulai lalu hancur menjadi abu.
Pola pergerakan keempatnya terpecah, Leon menghampiri jasad tubuh B.S.A.A yang tergeletak di tanah untuk memeriksa nadinya sementara dua anggota Alpha Team Amozi membantu anggota B.S.A.A berdiri. Pria berseragam abu ini kembali ke balik pintu, tubuhnya ditopang oleh prajurit Amozi ketika ia menekan tombol untuk mengaktifkan bom yang tidak sempat diaktifkan oleh rekan seperjuangannya. Dia bertatapan dengan Leon yang mencoba memeriksa nadi rekan yang berusaha melindungi nyawanya, namun hanya mendapat jawaban sebuah gelengan. Ia menghela napas, kecewa ketika seluruh rekan timnya menjadi korban keganasan B.O.W. Singkat kata ia menginformasikan bahwa ada sebuah peledak yang terjatuh di lantai hall tanpa sempat diaktifkan.
Leon melarangnya memaksakan diri untuk menuju ke basement. Rasa empati agen senior Amerika untuk mengurangi jatuhnya korban membuatnya mengambil keputusan ; ia yang bertanggung jawab untuk mengaktifkannya. Sang prajurit B.S.A.A akhirnya melapor pada HQ agar diperbolehkan keluar dari gedung dibantu oleh salah satu anggota tim Alpha. Sementara Leon, Sherry dan pemimpin Alpha Team Amozi tetap berada di hall untuk menyelamatkan Jake. Ketiganya melanjutkan perjalanan, terlebih ketika menyadari waktu semakin menipis. Sherry Birkin melewati jasad anggota B.S.A.A di lorong, menuruni sebuah turunan yang tersambung langsung dengan hall sambil menyiagakan rifle. Terpaut beberapa langkah di belakangnya, Leon dan komandan Alpha Team melakukan hal yang sama.
.
.
Ruangan luas itu lebih gelap dan diselimuti aroma mesiu bercampur darah. Lebih menyengat dari yang terakhir diingat Leon, di sana-sini tergeletak tubuh-tubuh berjubah hitam maupun abu hitam para mutasi J'avo. Tidak ada pemandangan berarti yang dapat terlihat dari jarak pandang mereka, mau tidak mau ketiganya harus menuruni anak tangga untuk mencari alat peledak B.S.A.A yang terjatuh. Dan mencari keberadaan Jake Muller. Jantung Sherry serasa berhenti berdetak selama beberapa detik ketika terdengar teriakan dari salah satu sisi ruangan gelap di bawah mereka, namun matanya tidak dapat menangkap pergerakan apapun. Ia mempercepat langkah menuruni anak tangga, meninggalkan dua pria di belakangnya.
"Sherry, jangan gegabah!" Leon mengomel layaknya seorang ayah, ia berusaha mengejar tubuh wanita di depannya, "Kita akan mencari Jake bersama, oke?"
"Lima belas menit lagi gedung ini musnah, Leon." Sherry menoleh, "Aku akan pergi menyelamatkan Jake, sementara kau dan… Ehm, Mister Alpha Team harus menemukan lalu memasang peledak yang jatuh."
"A-Apa?! NO! Dengarkan a-"
"Jangan khawatir, Leon. Aku bukan lagi bocah yang kau temukan belasan tahun yang lalu di Racoon City," ia menyunggingkan senyum yakin pada sosok agen senior itu, "Aku pasti bisa mengatasinya. Percayalah."
Leon Scott Kennedy hanya terpaku kehabisan kata-kata.
.
Sherry tidak menunggu perdebatan berlangsung lebih lama. Setelah berkata demikian ia melesat maju meninggalkan Leon dan rekannya, menuruni anak tangga dengan senjata terkokang. Agen D.S.O senior itu hanya mampu memandang punggung wanita pirang yang kian menjauh, menghela napas. Selintas ia melirik ke samping, menemukan pemimpin Alpha Team yang menatapnya dengan pandangan sedikit mengasihani. Pria itu tersenyum geli, mencoba bersimpati dengan cara menepuk pundak Leon, lalu ia kembali melanjutkan tugas mencari alat peledak B.S.A.A yang terjatuh. Sambil menggelengkan kepala, Leon mengikuti sang tentara ke arah berlawanan dengan jalan yang ditempuh Sherry.
"Women…" gumam Leon perlahan ketika menuruni anak tangga, "Spesies yang lebih membingungkan daripada B.O.W."
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter empat belas selesai! Seperti judulnya, ini adalah final chapter yang dari satu chapter malah melebar jadi dua bagian. Sebenarnya chapter ini harusnya cuma satu part lho, tapi jadi membengkak karena sisipan Jake x Sherry moments sebagai selingan romance. (saya ucapkan terima kasih buat nona fangirling yang kayaknya capek dipaksa buat bantuin romance, dan akhirnya bikin juga. Saya edit dikit ya tulisannya supaya nyambung, hehe *sujud minta ampun*). Satu per satu masalah mencapai klimaks dan sekarang menuju penyelesaian, termasuk menghilangnya Arthur Lodge. Dave Richter, dia berprestasi sampai dilantik menjadi National Security Advisor di usia yang cukup muda. Umurnya lebih muda dari Bernard Hills. Karakter ini dibuat sebagai 'penggerak' D.S.O dan U.S.S.S karena posisi Ingrid Hunnigan tidak memungkinkan melakukan itu.
Intinya chapter ini akhirnya memang jauh lebih menggantung dari chapter-chapter sebelumnya karena chapter 14 dan 15 adalah kesatuan chapter yang dipecah. Jadi mohon bersabar untuk chapter 15 termasuk endingnya, karena authornya kebingungan. Ada request tambahan epilogue tapi belum tentu dibuat karena *lagi-lagi* mati ide. (otak saya melepuh sepertinya T_T). Akhir kata semoga chapter ini cukup menghibur :D
Balasan review chapter 13 :
Saika Tsuruhime : Endingnya Jake x Sherry nikah? Hmmm nanti dipikirin deh, hahaha di sini juga RE marhawa belum ada tuh vol.3-nya. Lama memang ya, udah Tsuru-chan belajar buat persiapan ujian aja daripada nungguin manga! xD
Vanbrugman89 : Leon ketemu Ada? Kayaknya nggak ada kaitannya ke Ada Wong sampai saat ini, saya lebih fokusin di Jake dan Sherry (kecuali nanti nyambung ke cerita lain bisa juga). Thanks reviewnya gan.
Ray : Chris itu SOA di B.S.A.A (SOA itu tingkatannya diatas SOU, kelebihannya SOA bisa masuk di cabang manapun, pake bajunya nggak harus baju standar tentara ala Piers atau Chris di RE 6 – bisa kayak Jill di Revelation atau Merah Biji di RE Marhawa. (Piers sih SOU tapi dia dibawa sama Chris). Ibaratnya SOA itu spies dan SOU lebih ke officer / agen biasa. Iya bener saya juga aneh Piers dibunuh Capcom, demi ending WOW sepertinya. Ending cerita ini masih dalam tahap pencarian ilham gan, udah ada beberapa ide cuma masih dipertanyakan. ditunggu aja chapter depan dan thanks masukannya :D
Foetida : Hahaha karma, yaa karena Groves itu kan semuanya dinilai dari 'materil'. Bisnis kotor mau gamau jadi pilihan yang paling menghasilkan uang (plus dia udah lama di bidang itu). Weleh… 10 ribu words selain yang baca bakalan cape, authornya pun kejang-kejang mikirinnya, tolong ya master jangan request 10 ribu words LOL *getok*. Entah deh dengan chapter ini, kesulitan gabungin cerita… tapi semoga masih tetep seru seperti chapter sebelumnya ya.
Roquezen : ahahaha ya kali aja hujan badai di hati *blush*. Hm, Leon memang khasnya bikin jokes meski lagi genting sist… Dan thank you buat reviewnya. Oke Leon nggak akan mati kok, saya masih berencana buat sekuel Lady in Red (kalau sempat sih). RnR lagi...
Fika : iya dan buat chapter ini saya updatenya lambat, maaf ya… Haha terima kasih kalau ternyata villainnya bisa meyakinkan *terharu*. meski mungkin sebenernya terlalu mendalami OC, saya juga mengurangi penggambaran detil buat actionnya kecuali yang dirasa penting (lama-lama susah juga nulisnya sist).
Red Apple790 : Thank you buat reviewnya senpai! Meski telat yang penting sudah menyempatkan review, sibuk ya? Wah sampai lupa dunia ffi :D Kekeke bukan cerita tengah sebenernya, Cuma mengaitkan OC sama dunia RE dan yang paling deket tentunya RE 5 dan 6. Save the best for the last…hmm, senpai ternyata masih ingat ya. Saya harus mikir dulu saya pernah nyebut di chat yang mana, ternyata oh ternyata! *evil smiles* kekekeke. xD
Baiklah, seperti biasa saya tunggu komentarnya untuk chapter kali ini, segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, kritik, etc. Terima kasih SEKALI LAGI kepada tiap pembaca yang mau meluangkan waktu untuk baca dan me-review cerita ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
