27 November 1993 – Ruang Rekreasi Slytherin

"Reul...?" Pemuda berpiyama biru itu terdiam dengan alis mengerut. Sesosok pemuda yang duduk di atas perapian, menoleh memandangnya. Senyumnya terulas. Ia bangkit dan berjalan di udara kosong.

"Tak kusangka. Kau sudah sebesar ini, Rein." Pemuda berambut emas yang dipanggil 'Rein' itu tersentak kaget.

"Kau…Reul…" Reul tersenyum.

"Ya. Aku kakakmu." Ia berjalan-jalan di sekitar perapian. Rein masih menatapnya dengan sorot mata tak percaya di wajah dinginnya.

"Kau sudah mati?" Pemuda itu berhenti dengan membelakangi Rein.

"Apakah tubuhku sudah dikubur?"

"Tidak…"

"Masih hidup rupanya." Reul tertawa kecil. Terdengar palsu. Rein menekuk alis tidak mengerti. Reul menatap adiknya.

"Rein, ingatkah kau bahwa kau pernah berjanji untuk terus membantuku?" Ia menyentuh pipi adiknya dan permata emas Rein melebar tatkala merasakan betapa dinginnya sentuhan itu. Anak laki-laki yang memakai mantel putih gading yang panjang dengan ukiran 'Tg' di bagian dada dan corak berwarna biru muda, tampak tak menunggu jawaban.

"Aku membutuhkan bantuanmu sekarang." Rein diam sesaat. Matanya terpatri pada permata emas di depannya. Seketika itu juga, ia mengingatnya. Ucapannya saat kakak kesayangannya itu tertidur di St. Mungo. Kata-kata yang selalu diulangnya setiap kali menemuinya.

"Bangunlah. Karena aku tak akan mengomel lagi jika kau suruh." Reul terdiam dengan mata melebar. Ia merasa ucapan itu tidak asing di telinganya. Ia memegang kedua pipi adiknya. Di wajahnya terulas tawa yang bebas.

"Ahahaahaa!" Saat itu, Rein Lightning merasa kembali ke masa lalu. Saat ia hampir jatuh ke bebatuan dan Reul lantas melindunginya hingga tulang kaki Reul nyaris patah. Ia menangis pulang seraya membopong kakaknya yang hanya tertawa melihatnya. Dan ia ingat betul kata-kata yang diucapkan oleh Reul dengan tawa di wajahnya.

"Bodoh! Adik bodoh!"

Tanpa sadar airmatanya menggenang. Ia lantas menunduk seraya mengusap airmatanya. Wajahnya memerah. Reul menelengkan kepalnya bingung.

"Kenapa? Kau menangis karena kubilang 'bodoh'? Sebelumnya kau tidak begitu," katanya sambil menunduk ingin melihat wajah adiknya.

"Kenapa tidak pulang…kenapa tidak bangun!" Rein setengah membentak. Reul hanya berdiri diam, menatapnya dengan raut wajah terkejut. Ia memejamkan matanya seraya tersenyum kecil dengan tangan di saku.

"Entahlah. Tapi, mungkin… aku akan mencoba bangun…" Rein menatapnya bingung sekaligus heran. Ia hendak membuka mulut namun-

"Rein… apakah ... orangtua kita baik-baik saja?" Ia menghindari mata Reul. Rahangnya mengeras.

"Bangun dan lihatlah sendiri," ucapnya.

"Tubuhku tak berguna lagi, lho."

"Bagaimana mungkin… bagaiman mungkin kau bisa berpikir begitu! Padahal kau belum mencoba, 'kan!"

"Ratusan kaliRibuan kali… tubuh itu tak mau bergerak…dicoba lagi pun … hasilnya tetap sama." Ia tersenyum miris. Raut wajahnya membuat Rein mengalihkan mata. Ia mengepalkan kedua tangannya, merasa bersalah karena sudah membentaknya. Padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia memang bodoh!

"Baiklah. Kau boleh pinjam tubuhku… asal kau mau berjanji." Reul menaikkan alis. Rein mengulurkan tangan kanannya di depan wajahnya.

"Bangunlah saat kau tinggalkan tubuhku," kata Rein tegas. Reul tersenyum.

"Berikan aku waktu 12 jam untuk bangun dari tidur panjangku." Ia menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan kanan adiknya.

"…Aku terima. Berjanjilah." Reul memejamkan mata seraya menyatukan dahi mereka. Ia sedikit membuka kelopak matanya. Sorot matanya tak dapat dibaca.

"…Aku berjanji."

Dan tubuh Rein Lightning ambruk di lantai setelah jiwa Reul masuk ke dalamnya dan membuat dorongan tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kelopak matanya terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seolah ia baru memiliki tubuh. Ia memandang senang kedua tangannya yang coba ia gerakkan. Ia segera berbalik saat merasakan kehadiran seseorang dari arah lukisan masuk asrama. Seorang gadis berambut hitam terlihat dan tampak menatapnya heran.

"Siapa?" tanyanya tanpa basa-basi. Pemuda berambut emas itu tersenyum.

"Reul. Reul Lightning. Dan kau?" si gadis menatapnya tanpa minat seraya menaiki tangga.

"Pansy Parkinson." Ia tersenyum lebar.

"Hai, Pans!" Pansy meliriknya sekilas.

"Hai juga," balasnya dengan senyum kecil sebelum menghilang di balik dinding. Reul kembali diam. Ia memerhatikan tubuhnya lagi. Kakinya melangkah pelan seolah ia sedang berdansa. Ia tersenyum lebar.

"Aku… seperti manusia lagi."

Sejak hari itu, Rein Lightning yang berwajah dingin dan cuek seolah lenyap dari pemukaan bumi.

Kini, yang ada hanyalah seorang Reul Lightning yang ramah.

Reul yang tersenyum ramah.

Reul yang tersenyum ramah.

Yang selalu berharap dapat mengendalikan waktu.


Hei, Rein.

Dengarkanlah,

Kau adalah bagian dari diriku.

Jika kau sakit, maka itu akan menimpaku juga.

Jika kau bahagia, maka aku akan tahu itu.

Dengarkanlah, Rein.

Kau adalah yang berharga.

Adik kembarku yang berharga.

Karena itu,

Jangan pernah berpikir bahwa kau tidak penting bagiku.

Meski aku mengucapkan janji yang pada akhirnya hanya mengecewakanmu saja.


.

.

Four Souls

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

Line 14: A Forgotten Sacrifice – The End Of The Road

.

.

Ia menyeringai keji.

Ya.

Gadis itu tertawa melengking penuh ketidakwarasan.

"Aku akan membunuhnya sesuai dengan perintahmu, Raja. Soul Thief itu…. dia pasti mati di tanganku!" dan ia kembali tertawa seolah hal itu adalah hal yang paling menyenangkan untuk memeriahkan kedinginan di malam itu.

Pansy berjalan santai di koridor sepi. Ia sedang mencarinya, Rein Lightning yang sedang ditumpangi Soul Thief. Bibirnya berkedut saat matanya menangkap sosok di ujung koridor dari balik bahunya.

"Pansy!"

Kau terjebak.

Pansy menyeringai. Ia berbalik dengan wujud rohnya. Tak ada senyum ramah di wajahnya, kecuali seringainya yang meremehkan.

"Halo," Rein tersentak, "Soul Thief."

Dan laki-laki itu terbelalak. Ia masih terpaku dengan sorot mata cemas. Jelas. Si Soul Thief telah memperhitungkan hal ini. Mata emasnya memandang sosok roh di depannya dengan kening bertaut. Dia tak bisa lari dari takdir. Takdir? Ingin menangis rasanya mengingat takdir ini terlalu kejam baginya.

Tubuh Rein langsung terjatuh di lantai batu tatkala sesosok jiwa keluar dari dalam tubuhnya. Ia memakai jas perak yang menjuntai hingga ke lututnya dengan inisial 'Tg' yang terjalin di sudut kiri bawah. Tatapannya nanar.

"Ah, pemakan wadah Roh Udara rupanya," komentarnya sambil tersenyum meremehkan, "Ups… sepertinya tempat ini sangat menguntungkanmu," lanjutnya. Ia segera keluar melewati jendela koridor dengan loncatan yang anggun. Sosok pemuda itu tampak terkejut dan ikut meloncat mengikutinya.

"Cih!" umpatnya saat menyadari apa yang tengah dilakukan oleh gadis itu. Gadis itu menantangnya. Mereka berdua akan saling bunuh malam ini.

Ia menatap geram gadis yang berdiri dengan santai di atas air itu.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini, Pansy?" tanyanya curiga. Pansy tersenyum meremehkan.

"Kau tak perlu tahu, karena kau akan mati, 'kan?" tanyanya retoris sambil menghunuskan pedangnya. Pemuda yang wajahnya memiliki kemiripan dengan Rein Lightning itu mundur selangkah.

"Kau tak akan berani, Pans," ujarnya serius.

"Oh, ya? Kau tahu, suatu kehormatan bagiku jika bisa membunuh Soul Thief level 5 sepertimu." Pansy menyeringai lebar saat mengulurkan tangannya yang bebas ke arah pemuda itu dan menariknya cepat seperti sedang menarik tali. Si pemuda berambut pirang membelalak dan segera mengangkat kedua tangannya ke atas saat melihat ribuan es menghujam dari belakangnya. Beruntung ia mampu membuat pelindung tak kasat mata secepat mungkin sebelum punggungnya habis ditusuk es berujung lancip tersebut.

"Menyerang dari belakang, eh? Dasar licik!" geramnya. Pansy tertawa kecil yang dibuat-buat.

"Kau lupa, hah?" Si Soul Thief menaikkan alisnya dan Pansy menyeringai, "Aku ini Slytherin. Seharusnya kau tahu itu."

Pansy melesat ke arahnya dengan senyum malas seraya mengayunkan pedangnya dari samping. Ia menebas sesuatu yang menamengi pemuda itu.

"Hee… pelindung itu tak akan mampu melindungimu selamanya." Ia tersenyum meremehkan. "Dan lagi, kau tak ingat sedang berdiri di atas air, eh?" Pemuda itu terbelalak. Terlambat untuk menghindar. Dia telah diserang di dalam tabir pelindungnya sendiri. Ribuan jarum meluncur keluar dari dalam air dan menghujani tubuhnya tanpa ampun.

Cepat.

Terlalu cepat.

Dia tak akan mati semudah itu. Apakah ini balasan karena telah menyeludupkan para Soul Thief untuk memakan jiwa wadah Roh Udara yang baru? Dia tak tahu dan tidak peduli. Mata emasnya hanya menyiratkan perasaan terluka terhadap gadis itu.

Apa yang harus dilakukannya?

Bukan pilihan menyenangkan jika dia harus mengeksekusi gadis yang dicintainya?

Cinta?

Hanya semudah inikah kata cinta keluar begitu saja tanpa pertanggungjawaban yang sepadan?

Tak apa, 'kan? Lagipula dia akan mati-

"Berjanjilah, Reul. Berjanjilah kalau kau akan bangun."

Ah, benar juga…

Aku sudah…

"Kh!"

Suara itu membuatnya berjuang. Ia ingat. Ia ingat janjinya. Harus ada janji yang ditepatinya. Dia tidak boleh mati sia-sia. Tidak boleh mati sia-sia!

Ia menyingkir jauh ke daratan setelah melepas barier-nya. Darah mengalir dari sela-sela bibirnya. Tatapan matanya berubah tajam. Pansy telah mengetahui identitas aslinya dan jika dia menginginkan pertarungan semuanya pasti karena perintah Rajanya. Ia tidak akan segan-segan. Dia tidak boleh egois karena hanya memikirkan diri sendiri. Padahal dia sudah berjanji. Dia tak bisa semudah itu melepaskan benang yang telah terikat kuat di jarinya.

"Kali ini, aku tidak akan main-main lagi. Bersiaplah, wadah Roh Air. Aku akan dengan senang hati membunuhmu!" gertaknya merentangkan kedua tangannya, memanggil angin kecang yang tiba-tiba berhembus kuat di sana. Pansy tertegun sebelum menyeringai lebar. Matanya melengkung keji.

"Aku akan melayanimu dan ingatlah pedang siapa yang menembus jantungmu." Ia mengangkat pedangnya di bawah matanya. Seringainya melebar. Memperlihatkan wajah jelek yang tersenyum keji. Ia memejamkan kedua matanya sebelum melesat maju dengan pedang yang siap menebas. Angin berhembus semakin kencang. Reul mengayunkan pedang tak kasat mata yang terbuat dari angin sebelum melesat maju. Dan setelahnya, yang terdengar hanyalah gesekan nyaring dari dua pedang yang bertabrakan yang memaksa untuk mendominasi yang lain.

Pedang itu berteriak melengking saat kembali bertabrakkan.

Pansy tertawa dengan seringainya yang lapar dan meremehkan.

Reul Lightning hanya bisa meringis di dalam hati.

Hatinya sesak.

Bagaimana… Bagaimana mungkin dia bisa membunuh gadis yang dicintainya!

Hatinya goyah, membuat genggaman erat pada ganggang pedangnya melonggar. Pansy menyeringai dan tak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat gerakan pencuri itu melambat. Matanya berkilat. Ia mengayunkan pedangnya dari samping da-

TRAAANG!

JLEB!

Pedang itu melayang saat pedang lainnya menembus jantung.

Dan Reul Lightning mengutuk kebodohannya saat membiarkan gadis itu menghujamkan pedangnya ke dadanya. Ia meringis saat darah mengalir dari sudut bibirnya. Pansy tampak menatapnya dingin. Reul balas menatapnya dengan air muka menahan sakit saat gadis itu mencabut pedangnya dengan kasar. Ia mengerang kesakitan sebelum memejamkan matanya saat melihat air mata dari gadis yang menatapnya dingin itu. Air mata. Ya, wadah Roh Air mengalirkan air mata. Hal yang aneh jika kau melihat ekspresinya yang dingin seolah air mata itu tak ada dan itu adalah hal yang menyakitkan bagi Reul.

xxx

Reul membuka kedua kelopak matanya. Melihat Pansy yang memandang tanpa belas kasih. Air mata yang masih mengalir seolah tak gadis itu rasakan. Seolah dia adalah orang yang berbeda.

"Selamat tinggal, Soul Thief," ucapnya seraya menjatuhkan mata pedangnya ke jantung pemuda fana yang terbaring tak berdaya. Reul hanya memandang wajahnya walau memang rasa sakit itu sangat menyakitkan. Tangannya yang mulai membentuk retakan-retakan rapuh terulur, hendak menggapai gadis itu. Sementara Pansy hanya memandangnya tanpa ekspresi dan tetap membiarkan pedangnya tertancap di jantungnya dan menembus tanah. Reul ingin meraih gadis itu. Namun, percuma.

Pada dasarnya, ia hanya akan terpecah menjadi keping-keping cahaya yang melayang bersama angin.

Yang berlalu di mata orang-orang yang disayanginya.

Yang akan hilang di bawah teriknya sinar matahari.

Yang akan dilupakan seiring dengan waktu yang berjalan.

xxx

"Sampai jumpa lagi, Reul," bisik Sqied seraya memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menenangkan. Ia tampak tersenyum lega. Tak apa. Tak apa, Jack. Tak ada yang perlu disesalkan. 'Bekas teman'mu telah pergi dengan pengorbanan. Ia tahu. Sangat tahu bahwa Soul Thief level seperti itu seharusnya mampu mengalahkan Pansy hanya dalam sekali serang. Dan dia seharusnya berhadapan dengan wadah Roh Tanah jika ingin yang sebanding kekuatannya. Tapi, si bodoh itu malah memilih untuk mengalah. Bodoh. Ya. Kau bodoh, Reul Lightning. Mengalah karena cinta? Itu lelucon yang sangat lucu.

Sqied menghela nafas seraya mengusap rambutnya. Sorot matanya jelas menunjukkan kesedihan. Ia memaki dirinya sendiri yang terlalu lemah. Kenapa? Kenapa perasaan kehilangan itu tak pernah hilang? Padahal, sejak umur 5 tahun dia telah dilatih sebagai 'bayangan'. Tapi, kenapa? Kenapa ia selalu merasakan perasaan seperti itu!

"Aah, kau benar-benar menyedihkan, Jack," gumamnya membodohi diri sendiri seraya mengusap wajahnya sendiri. Ia tertegun saat melihat Ein berdiri tak jauh di sampingnya seraya memandangi akhir pertarungan di bawah. Cheshire bergelung manja di gendongan gadis itu.

"Aku ingat laki-laki itu. Sayang sekali, dia harus menjalani akhir yang tragis seperti itu." Sqied mendengus sinis.

"Apa ini? Kau sendiri yang menyuruh Pansy membunuhnya," komentarnya sarkastik sebelum diam. Ein mengacuhkannya. Ia mengingat pemuda itu. Walaupun sudah lama sekali. Ia masih mengingatnya.


"Kau tersesat, adik kecil?"


Suatu saat, ingatan itu akan terlupa, terpendam dalam ingatan lainnya. Namun, ingatan itu akan kembali ketika ada sesuatu yang membuat mereka tak sengaja mengingatnya.

Benda kenangan.

Yang menarik ingatan-ingatan masa lalu dan saling menghubungkannya dengan ingatan yang lain.

Dan mereka akan tahu bahwa mereka pernah mengalami apa yang orang lain alami saat itu juga.

Di balik sebuah jendela kaca, seorang gadis berambut coklat hanya mampu mengepalkan tangannya yang gemetar. Ia tersenyum sedih saat melihat sosok Pansy yang hanya berdiri sendiri di sana. Ia berduka untuk gadis itu. Berduka sembari memendam dalam-dalam ketakutan dan kecemasan di dalam hatinya. Bagaimana… Bagaimana seandainya Raja… menyuruhnya untuk membunuh orang itu? Tidak. Tidak mungkin. Wadah Roh tidak membunuh manusia. Ya. Jangan khawatir, Hermione. Raja…Raja tak mungkin menyuruhmu untuk membunuh manusia.

Hermione tertawa kecil, mengasihani diri sendiri karena terlalu khawatir. Ia tertawa kecil yang lebih terkesan kaku dan gugup.

xxx

Pemuda itu terjaga. Ia terdiam sejenak, seolah masih berusaha memahami apa yang terjadi padanya. Perlahan ia bangun dengan air muka tak mengerti. Ia membuka gorden jendela dan melihat sinar matahari yang buram.

"Ah, kau sudah bangun," ujar Keyr yang duduk sambil mengucek-ngucek matanya tampaknya ia masih mengantuk. Wajarlah, tak ada yang biasa bangun secepat itu. Pemuda bermata emas itu tak mengacuhkannya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa menoleh, matanya terpaku pada pemandangan di luar jendela seolah ia belum pernah melihatnya. Keyr menguap sebelum mengusap rambutnya.

"Well, semalam kau pingsan. Awalnya mau kubawa ke Madam Pomfrey, tapi kupikir sebaiknya kubawa ke kamar saja. Kau, 'kan tidak suka obat." pemuda itu kembali memeluk gulingnya dan siap untuk kembali tidur –"Masih ngantuk," gumamnya tak jelas.

"Oh," tanggap Rein datar. Ia telah sadar kembali. Artinya… Reul sudah meninggalkan tubuhnya? Ya. Dia sudah meninggalkan tubuhnya dan itu terjadi tadi malam. Jadi, dia sudah kembali ke tubuhnya sendiri? Rein melirik jam dinding di atas rak. Sekarang sudah pukul 05.35. Well, dia akan menunggu hingga 12 jam yang dikatakan Reul itu selesai. Ia menghela nafas. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Matanya terpejam dan-

Rein…

Sontak, kedua matanya terbuka lebar. Apa ia tak salah dengar. Itu… terdengar seperti suara kakaknya. Ada apa ini? Ada apa ini!

Ia tertegun saat melihat cahaya-cahaya yang berkerlap-kerlip terbawa angin di luar jendela. Ia sedikit memicingkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas. Apakah itu kunang-kunang? Ia tidak tahu. Namun, semakin dilihat, ia semakin merasakan keganjilan di hatinya. Kecemasan. Ketakutan. Kekhawatiran. Seolah ada batu yang mengganjal.

Tes.

Tanpa sadar, air mata mengalir dari kedua permata emasnya. Kenapa ia menangis? Tidak. Itu hanyalah air mata yang mengalir. Raut wajahnya tetaplah dingin. Dia tidak menangis. Seharusnya dia tidak menangis. Hingga ia akhirnya tersadar atas apa yang sedang terjadi. Gemetar tangannya menyentuh air mata yang mengalir di pipinya. Ia hanya tersadar akan suatu kemungkinan. Kemungkinan itu terasa benar dan nyata. Namun, tetap saja dia tidak mau mengakuinya. Dia tidak mau mengakuinya!

"Eh?... Reul…?" gumamnya tak yakin. Air mata itu masih mengalir. Dia tidak menangis. Seharusnya dia tidak menangis. Untuk apa dia menangis? Bukankah tak ada yang perlu ditangiskan? Kalau begitu, siapa yang menangis?

Rein…

Maafkan…

Kumohon…

Maafkan kakakmu yang mengingkari janji ini.

Apakah itu suaramu Reul? Kenapa terdengar sedih? Minta maaf untuk apa? Apakah kau minta maaf hanya karena janji yang tidak ditepati? Bodoh. Dasar bodoh. Jangan khawatir, bodoh. Kau memang seperti itu. Satu atau dua janji pun sama saja. Kau kadang lupa sehingga tak menepatinya. Jangan terbebani. Jangan tanya kenapa, karena jawabannya terlalu sederhana. Semua itu karena kau adalah kakakku dan aku tak mau membebanimu dengan keegoisanku. Jangan khawatir. Jangan terbebani. Jangan bertanya, karena jawabannya terlalu sederhana.

Karena kau kakakku dan aku tak mau membebanimu dengan keegoisanku.

Tertawalah, Reul. Karena tangis tidak cocok untukmu.

Pergilah. Karena kita memang akan berpisah. Bahkan, perpisahan itu sendiri bukanlah hal yang baru.

Pergilah,

Pergilah, Reul.

….Sampai jumpa.

Pemuda itu agak menunduk hingga wajahnya tertutup oleh poninya. Bahunya bergetar. Mungkin bukan hal yang menyenangkan jika kakaknya mendapatinya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Meskipun berusaha untuk tetap tegar, namun air mata itu seolah mengalir bagai arus yang tak terhentikan. Kakaknya telah pergi. Benar-benar pergi.

Dan tak akan pernah kembali ke dunia itu lagi.

Walaupun begitu, dia tak akan lupa.

Karena, dia akan selalu memandang sebuah pigura besar di dinding dan melihat dua sosok laki-laki kembar berdiri berdampingan di sana dan dia akan memejamkan kedua matanya. Ya. Ia kembali membukanya. Membuka kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan. Ia akan terus mengenang sesosok laki-laki yang selalu berdiri di sampingnya. Sesosok laki-laki yang melindungi dan menjaganya. Seorang laki-laki yang ia panggil 'kakak' dalam bisikan angin.

Mungkin semua orang akan lupa.

Lagi pula waktu memang terus berjalan.

Dan perlahan masa kini menjadi kenangan.

Menumpuki kenangan yang lain.

Namun, satu sosok itu akan selalu diingatnya.

Walaupun semakin memudar dan samar.

Ia akan terus mengingatnya.

Dengan melihat gambar seraut wajah laki-laki yang tersenyum jahil di dalam sebuah pigura kecil di atas meja.

Kemudian, suatu saat nanti, dia kembali berjalan di sekitar pepohonan pinus yang rindang di musim semi dengan sebuket bunga Lily putih di tangannya. Dan menaruhnya di sebuah pusara putih yang dituliskan nama di atasnya. Sebuah nama yang membangkitkan ingatan tentang bagian dirinya. Separuh darinya.

Saudara kembarnya.

Reul Lightning.

"Hello, brother."

-To be continued-

Alhamdulillah, akhirnya update juga. Saya minta maaf karena mengupdatenya lama.^^"a

Thanks buat Diggory Malfoy-san atas review-nya kemarin.^^/

Yosh! Thanks for reading!

_Touch Of Air_

-Rozen91-