PART 14

Lee Hyukjae duduk termangu di depan perapian bekas api unggun yang tinggal menyisakan bara. Ia termenung teringat apa yang dikatakan Guru Bong tadi di dalam kamar. Suatu perkataan yang mengiris hatinya.

Guru Bong sudah tidur setelah mabuk berat. Hyukjae sudah kehilangan rasa kantuknya. Angan dan pikirannya saling berkecamuk dalam benaknya. Apa yang sudah ia dengar dari mulut Guru Bong sendiri membuat penilaiannya pada Guru Bong mulai berubah. Rasa hormat dan kagumnya pada Guru Bong mulai luntur.

Lee Hyukjae teringat Kyuhyun. Mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Kyuhyun setelah anak itu bercerita tentang Guru Bong, membuat hatinya semakian kacau tak keruan. Ia sudah menghindari Kyuhyun dan tidak memercayainya.

Cho Kyuhyun tentunya lebih merasa kecewa saat Lee Hyukjae menunjukkan sikap yang tak bisa menerima semua ucapannya. Lee Hyukjae kecewa pada dirinya sendiri yang tak memercayai apa yang dikatakan Kyuhyun.

Lee Hyukjae merasa egois karena lebih mementingkan ambisinya daripada sahabatnya itu. Ia lebih mengutamakan hasratnya untuk tenar daripada perasaan sahabatnya itu. Kyuhyun membutuhkan dukungan darinya, namun ia malah menghindarinya dan seolah menulikan telinganya.

Ia mendahulukan asa dan ambisi di atas rasa kemanusiaannya. Lee Hyukjae merasa dia sahabat terburuk di muka bumi ini. Ia pergi di kala sahabatnya membutuhkan kehadirannya. Ia menghindar di saat sahabatnya membutuhkan dukungannya.

"Kyuhyun-ah, mianhe, jeongmal mianhe," tangis Lee Hyukjae.

Memang benar kata Kyuhyun, pemujaannya pada Guru Bong akan menghancurkannya. Rasa kagumnya yang berlebihan pada Guru Bong, membuatnya merasa lebih sakit.

"Apa yang harus kulakukan, Kyuhyun-ah? Aku harus bagaimana?" tanya Lee Hyukjae pada angin yang berlalu.

Selama ini Lee Hyukjae merasa sudah melakukan hal yang benar. Namun, nyatanya semua yang dilakukannya taka da yang benar dan malah membuatnya terpuruk.

"Guru Bong, bagaimana mungkin kau? Mengapa kau tega melakukannya? Kau yang menghiburku saat aku kehilangan Kyuhyun. Kau yang menguatkanku saat aku tak sanggup menerima kenyataan. Tapi, tanpa aku tahu, kau sendirilah yang merenggutnya. Kau yang merampas paksa hidup Kyuhyun. Kau yang mengambil nyawanya dan berdalih seakan-akan kau juga terpukul karena kematiannya. Manusia macam apa kau?"

Lee Hyukjae melemparkan potongan-potongan kayu ke tengah perapian yang sudah hampir padam meninggalkan abu dan bara. Ia meluapkan kekesalan yang mengganjal dalam hatinya.

Lee Hyukjae masih terus meluapkan amarahnya malam itu. Namun, tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya itu. Ia teringat sesuatu yang pernah Kyuhyun katakan padanya.

'Kyuhyun bilang Guru Bong mengonsumsi obat-obatan terlarang. Ia masih menyimpan obat-obatan itu dan mengonsumsinya secara rutin. Apa mungkin….?'

Le Hyukjae cepat-cepat bangkit dari tempatnya duduk. Ia berlari cepat menuju kamarnya bersama Guru Bong terletak. Kalau memang benar semua yang dikatakan Kyuhyun pasti barang itu ada di sana.

Lee Hyukjae membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Guru Bong masih terkapar di ranjangnya dengan posisi yang sama sebelum Hyukjae meninggalkannya. Dengan berjingkat-jingkat Lee Hyukjae mendekati tas pakaian Guru Bong.

Apakah Guru Bong membawa obatnya malam ini. Kyuhyun bilang Guru Bong tak bisa hidup tanpa obatnya itu. Kalau memang itu benar, pasti saat ini Guru Bong membawanya serta.

Lee Hyukjae berjongkok di depan travel bag milik Guru Bong. Tangannya meraih ritsleting tas itu dan membukanya pelan. Ia tak mau Guru Bong mengetahui apa yang dilakukannya itu. Ia bisa berakhir mengenaskan kalau sampai Guru Bong memergokinya.

Lee Hyukjae membuka lebar ruang utama travel bag itu. Hanya ada pakaian dan keperluan pribadi Guru Bong. Lee Hyukjae mengeluarkan satu per satu isinya dan meletakkannya di lantai kamar dengan hati-hati. Diperhatikannya isi travel bag dengan saksama, tapi tak ada yang mencurigakan di sana.

Lee Hyukjae mengembalikan isi travel bag itu di tempatnya semula. Setelah dirasa cukup rapi, tangan Hyukjae beralih ke bagian lain dari travel bag itu yang ukurannya jauh lebih kecil.

Lee Hyukjae mendesah kecewa tatkala tak menemukan barang yang dicarinya. Ia kecewa karena apa yang dilakukannya belum sesuai dengan harapannya.

Lee Hyukjae terkesiap saat Guru Bong bergerak mengubah posisi tidurnya. Ia memandang waspada wajah gurunya itu, takut-takut kalau Guru Bong membuka matanya dan terbangun.

Lee Hyukjae bernapas lega tatkala gurunya itu tak menunjukkan tanda-tanda tidurnya terganggu. Ia masih saja terbuai dalam mimpinya, entah karena sangat mengantuk atau karena mabuk.

Tatapan Lee Hyukjae beralih ke ransel Guru Bong yang tergeletak di ujung ranjang dekat kaki Guru Bong. Lee Hyukjae berjingkat pelan mendekati ranjang Guru Bong. Ia merasa ragu apakah ia harus mengorek isi tas itu atau tidak. Lee Hyukjae merasa takut kalau ketahuan.

Namun, rasa ingin tahunya mengalahkan semua rasa takutnya. 'Sekarang atau tidak sama sekali, Lee Hyukjae' teriak batinnya. Lee Hyukjae menguatkan tekadnya dengan tujuannya semula.

Ia mengambil ransel Guru Bong dan meletakkannya di bawah ranjang. Lee Hyukjae mulai bergerak cepat. Ia membongkar setiap ruang yang ada dalam tas ransel itu. Ia merabai semua kantong-kantong kecil di tiap sisi tas itu. Matanya juga dengan awas mengamati seluruh isi bagian tas ransel itu. Lee Hyukjae sudah hampir merasa putus asa saat tak menemukan apa yang ia cari. Ia hampir menangis karena merasa melakukan hal yang sia-sia.

Lee Hyukjae menutup tas ransel itu dengan kecewa. Ia mengangkat tas ransel itu dan hendak megembalikannya ke tempat semula. Tangan kanannya memegang bagian bawah ransel itu dan akan mengembalikannya ke ujung ranjang Guru Bong. Namun, Lee Hyukjae membatalkan niatnya itu saat tangannya merasakan sesuatu yang ganjil.

Tangan kanannya Lee Hyukjae meraba bagian bawah tas ransel Guru Bong. Ada benda keras dan bergelombang yang dirasakan kulit telapak tangan kanannya. Lee Hyukjae mengerutkan keningnya heran. Bagian bawah tas ransel biasanya hanya diisi rain cover. Bahannya biasanya dari kain atau plastik kedap air. Meskipun digulung sembarangan pasti tak sekeras ini jika diraba.

Lee Hyukjae mengurungkan niatnya. Harapannya kembali timbul. Ia menidurkan tas Guru Bong di lantai dan membuka ritsletingnya. Matanya membelalak lebar saat tangannya mengeluarkan sesuatu yang ada di sana. Ada banyak tablet dari satu jenis yang sama di situ. Terbungkus dalam plastik tebal ukuran sedang. Obat yang sama dengan yang pernah Kyuhyun ceritakan.

Lee Hyukjae tersenyum sinis. Ternyata semuanya benar. Semua sama persis dengan yang pernah Kyuhyun ceritakan. Kau bebal Lee Hyukjae, sangat bebal, makinya pada dirinya sendiri.

Lee Hyukjae mengembalikan tas ransel Guru Bong ke tempat semula. Ia duduk di sisi ranjangnya sendiri dan menatap penuh kebencian pada Guru Bong. Semua rasa hormat dan kagumnya menghilang entah ke mana. Lee Hyukjae merasa tertipu. Ia merasa dikhianati.

Liburan chuseok yang tidak menyenangkan bagi Lee Hyukjae. Raganya ada di rumah berkumpul bersama keluarganya. Namun, hati dan pikirannya tertinggal di asrama. Setelah malam terkutuk itu, Lee Hyukjae tidak lagi antusias mengikuti kegiatan yang diadakan Guru Bong. Ia mengikutinya hanya sebagai formalitas saja.

Ia memakai topeng cerianya seperti biasa meskipun hatinya terus berontak ingin menghajar Guru Bong. Ia berpura-pura menikmati harinya meskipun semua itu membuatnya muak. Lee Hyukjae merasa sudah cukup kedekatannya dengan Guru Bong. Lee Hyukjae tak melihatnya lagi sebagai guru yang harus ia hormati. Lee Hyukjae memandangnya sebagai iblis yang berwajah manusia.

Malam terakhirnya di asrama juga tak menyenangkan. Ia sudah mencari Kyuhyun di setiap tempat yang biasa Kyuhyun kunjungi. Namun ia tak menemukan sosoknya. Lee Hyukjae juga menghabiskan waktu di kapel hingga larut malam, berharap Kyuhyun akan menampakkan dirinya namun itu juga sia-sia. Kyuhyun tak nampak di mana pun juga.

Mungkin Kyuhyun melihatnya namun ia tak mau menampakkan diri pada Lee Hyukjae. Kyuhyun pasti merasa sakit hati padanya hingga ia tak mau lagi bertemu muka dengan Lee Hyukjae.

"Apa yang kaupikirkan, Hyukjae-ah?" tegur ayahnya.

Ayah Lee Hyukjae berdiri di tengah pintu kamarnya. Di tangannya terdapat cangkir yang isinya masih mengepul. Ayahnya itu memasuki kamarnya dan duduk di samping futon-nya.

"Lampumu masih menyala. Ini sudah lewat tengah malam dan kau masih belum tidur malah melamun. Ada apa?" tanya ayah Lee Hyukjae sambil menyerahkan cangkir yang dipegangnya pada Lee Hyukjae.

Lee Hyukjae menerima cangkir yang diangsurkan ayahnya kepadanya itu. Bau susu hangat yang lezat langsung menyergap indra penciumannya.

"Hanya sedikit merenung," jawab Lee Hyukaje.

"Apa yang kaurenungkan?" tanya ayahnya tak mengerti.

Selama ini Lee Hyukaje jauh dari kata merenung. Anak lelakinya itu selalu ceria dan tertawa. Lee Hyukjae memang kadang bersikap cengeng, namun tak pernah sedikit pun ia terlihat mau merenung. Lee Hyukaje terbiasa menceritakan apa pun pada keluarganya. Hal yang menyenangkan maupaun yang tidak.

"Appa, menurutmu apakah aku anak yang baik?" tanya Lee Hyukjae.

"Tentu saja. Apa ada yang mengatakan padamu sebaliknya?" selidik ayahnya.

Lee Hyukjae menggeleng. Lee Hyukjae membuka mulutnya lagi ingin mengatakan sesuatu namun dengan cepat ia menutupnya lagi.

"Ada apa sebenarnya? Apa kau punya masalah?" tanya ayah Hyukjae.

"Aku tak tahu bagaimana harus menceritakannya. Aku bingung. Appa, apa yang akan kaulakukan kalau kau merasa orang lain tidak akan memercayai apa yang akan kau katakan?" tanya Lee Hyukjae.

"Apa maksudmu, Hyuk? Appa tak mengerti."

"Appa, aku ingin berbagi cerita namun aku takut orang lain tidak akan memercayaiku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Lee Hyukjae lagi.

"Kenapa kau takut orang lain tidak percaya padamu?" tanya ayah Lee Hyukjae.

Lee Hyukjae menelan ludahnya kelu. Bagaimana ia akan menceritakan sesuatu yang mungkin tidak dapat diterima nalar manuasia. Apa yang diceritakannya memang nyata, namun ia tidak bisa menunjukkannya secara langsung pada orang lain.

"Karena manusia hanya akan menerima apa yang bisa mereka lihat dan mereka sentuh. Manusia tidak memercayai hal di luar jangkauan indra mereka. Semua yang di luar indra adalah tidak nyata. Hal yang tidak nyata bukanlah hal yang bisa diterima oleh akal manusia. Begitu kan, Appa?"

Ayah Lee Hyukjae mengernyitkan keningnya mendengar perkataan anaknya itu. Ia pun tak mengerti semua yang diucapkan Lee Hyukjae. Namun, beliau berusaha untuk memahami kondisi anaknya itu.

"Kalau begitu kau harus mengatakannya pada orang yang kau yakini bisa menerima apa yang kaukatakan. Mungkin mereka bukan teman terdekatmu, mungkin juga bukan appa yang sekarang ada di depanmu. Mungkin seseorang yang lebih bijaksana dan memiliki pikiran yang terbuka tentang banyak hal. Atau mungkin kau bisa bertanya dulu pada orang yang kauanggap berkompeten terhadap masalahmu. Mungkin kau belum menemukan jawabannya secara langsung, tapi mungkin saja kau akan mendapatkan solusi," jawab ayah Lee Hyukjae.

"Orang yang berkompeten?" ujar Lee Hyukjae sambil menatap appanya itu.

Lee Hyukjae berpikir keras. Siapa orang yang dianggapnya berkompeten. Yang bisa membantunya mencari jalan keluar untuk membongkar kedok Guru Bong. Hyukjae tak punya bukti. Ia juga tak memiliki saksi.

Mata Lee Hyukjae bersinar cerah saat otaknya mulai menemukan seseorang yang dianggapnya berkompeten. Yah, ia mungkin bisa mencobanya. Ia akan menemui orang itu dan menanyakannya. Hanya menanyakan untuk mendapatkan solusinya. Itu langkah terbaik yang bisa dilakukannya saat ini.

TBC

Tinggal satu part lagi dan cerita ini akan tamat. Hari ini Kyuhyun berangkat wamil. Akhirnya aku merasakan juga dua tahun tanpa bias tercinta. ELF sudah merasakan satu per satu member pergi wamil sejak 2010 dan ini adalah yang terakhir. Tahun 2019 kita akan melihat mereka bersama-sama lagi. Selamat jalan Kyuhyunie dan sampai jumpa dua tahun lagi. Stay happy and healthy. We love you.