Guanlin segera menatap Seonho begitu mendengar penuturannya. "Tidak. Kau tidak akan pergi!"

Seonho menaikkan alisnya. "Apa alasanku untuk tetap berada di sini disaat aku bisa pergi ke luar sana dan mencari mangsa yang lain." Ia menatap Guanlin tajam. "Kecuali kau mau jadi mangsaku."

"Tidak ada yang akan jadi mangsa di sini." Felix mengangkat senapan biusnya, sekadar mengingatkan Seonho.

Shuhua sendiri menahan bahu Guanlin. "Biarkan ia pergi. Tempatnya memang di lautan."

"Tidak!" bentak Guanlin. Membuat Shuhua terkejut. "Tempatnya bukan di sini. Tempatnya di sana, di belakang meja kasir untuk melayani orang-orang yang datang membeli kue!"

Seonho sedikit terkejut mendengarnya. Diam-diam menyimpannya dalam memori. Well, setidaknya sekarang ia tahu pekerjaannya sebelum ini.

Shuhua menatap Guanlin iba. "Kalaupun kau memaksa membawanya, lalu apa? Kau mau warga menghakiminya dan membawanya untuk diteliti?"

Bahu Guanlin jatuh. Ia lemas membayangkannya.

"Guanlin, kumohon. Biarkan Seonho pergi."

Guanlin masih dalam diamnya. Ia benar-benar kalut diperhadapkan dengan situasi ini.

"Kalau begitu, besok kau harus kembali lagi." Ia menatap Seonho dalam. "Berjanji padaku."

Shuhua dan Felix terdiam. Mereka kehabisan kata-kata. Shuhua sendiri mengerti perasaan Guanlin.

Seonho mengangguk menyetujui.

Setelahnya, dengan bantuan Felix ia berhasil kembali masuk ke laut. Ia langsung berenang menjauh tanpa melirik sedikitpun ke belakang. Ke arah perahu milik Felix.

~J~

Pagi itu, terlihat sepasang sepatu di tepian pantai. Tentu saja pemilik sepatu itu orang yang sama yang semalaman tidak bisa tidur. Ia terus terpikirkan masalahnya.

Bahkan matahari belum terlihat saat orang itu sudah menerobos pantai. Orang itu, Lai Guanlin dengan bajunya yang semalam, yang memang belum digantinya semenjak pulang dari pantai, segera berlari menuju lautan.

"Seonho!!"

Ia berteriak kencang. Sempat goyah dikarenakan ombak yang cukup kuat menabrakkan diri padanya.

Guanlin kalut melihat tak ada tanda-tanda kehadiran Seonho.

Mengumpulkan segala kerinduannya, kembali ia teriakkan nama itu. "Seonho!!!"

Lagi. Sekali lagi ia harus menelan kenyataan bahwa satu-satunya jawaban hanyalah ombak tanpa henti yang terus membuatnya goyah.

Kemudian ia menguatkan hati untuk menerobos lautan lebih dalam lagi.

Sambil terus meneriakkan nama kesayangannya, ia tak lagi peduli bahwa air laut sudah mencapai batas dadanya.

"Kumohon Seonho, jawab aku!"

Guanlin mengusap wajahnya. Air laut mulai membuyarkan penglihatannya. Bukan hanya air laut, air matanya juga tak segan untuk mengaburkan pandangannya.

Dan siapa sangka, jika Guanlin sudah terlalu jauh melewati batasnya. Ombak yang terlalu besar menyeret tubuhnya semakin menuju tengah laut.

Ia berusaha untuk tetap mempertahankan kepalanya keluar air menghirup oksigen. Sesekali ia melihat ke dalam lautan yang minim cahaya untuk sekadar memastikan kehadiran Seonho.

Namun yang ia dapati adalah dua ekor siren kelaparan yang kini berenang menuju dirinya.

Guanlin sempat berusaha berenang menjauh. Namun pikiran bahwa mungkin ia bisa bertemu Seonho jika ia ikut menjadi siren kembali menggerayangi pikirannya. Walau kemungkinan besar ia bisa melupakan Seonho. Selain itu ia tetap akan kalah jika berenang melawan siren sepandai apapun ia berenang.

Tanpa sadar Guanlin sudah tenggelam. Ia bahkan tak sempat berpikir untuk menyelamatkan diri kalau saja sebuah tangan tidak datang dan menariknya berenang menuju tepian.

"Uhuk! Uhuk!"

Guanlin memuntahkan semua air yang sempat ia telan tadi.

"Kau gila, ya?"

Seselesainya terbatuk, Guanlin menatap sosok penyelamatnya. Seonho, kini berada di hadapannya.

..to be continued..