Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
"APAAAA? SAKURA DAN SASUKE KABURR?" teriak Naruto di kelas.
"Pssstt! Jangan keras-keras, tadi aku dihubungi oleh dokter Tsunade, dia meminta bantuan kita, kira-kira kemana mereka pergi." Ucap Ino.
"Tapi.. kenapa bisa begituu?" tanya Naruto yang benar-benar bingung.
"Nanti siang, dokter Tsunade akan menjemput kita, dan akan menceritakan semuanya pada kita." Jelas Ino.
"Dan bolehkan aku ikut?" tanya suara laki-laki di belakang mereka.
"Kak…Kakashi…" ucap Ino gugup.
"Tolong, aku ingin membantu mereka." ucap Kakashi.
"Asalkan kau tidak merusak suasana." Timpal Ino dengan senyuman.
Mereka pun berangkat menemui Tsunade di luar sekolah, mereka bertemu Tsunade yang sedang berdiri disamping mobilnya dengan memakai kacamata hitam.
"Dokter Tsunadeeeeee" panggil Ino.
"ayo masuk, kita berangkat sekarang." Perintah Tsunade.
Mereka memasuki mobil itu dan menempati tempat duduknya masing-masing, Ino duduk di depan sedangkan Naruto dan Kakashi di belakang, sepanjang perjalanan, Tsunade menceritakan semuanya pada mereka.
"Jadi mereka bukan bersaudara? Kenapa tidak langsung diberi tahu? Kalau begini kan kasihan Sasuke dan Sakuranyaaaa." Teriak Naruto.
"Itulah kesalahanku, seharusnya kuberi tahu dari awal mereka bertemu, sial! Sekarang aku tidak memikirkan itu dulu, kemana mereka pergi? Karena Sakura tidam membawa obatnya." Cemas Tsunade.
"Memangnya Sakura itu, selain jantung, dia sakit apa?" tanya Kakashi.
"Kamu tahu?" tanya Tsunade terkejut.
"Warna wajah Sakura tidak normal seperti orang-orang biasa." Ucap Kakashi.
Tsunade terdiam, dan akhirnya dia menghela nafas, memutuskan untuk memberi tahu mereka apa yang terjadi pada diri Sakura.
"Sakura terkena kanker otak." Jawab Tsunade.
"APAA!" teriak Naruto, Ino dan Kakashi.
"Butuh perawatan khusus untuk Sakura, dan dia tidak boleh banyak pikiran, itu bahaya untuknya." Jelas Tsunade dengan wajah cemas.
"Kalian orang dewasa egoiiss! Dokter Tsunade dan orang tua Sakura, apa kalian tidak memikirkan kondisi Sakura?" ucap Ino kesal sambil mengeluarkan air mata.
"Aku tahu, sekarang kita focus saja dulu mencari Sakura." Ucap Tsunade yang langsung menancap gas.
Angin berhembus sangat lembut, sepasang kekasih yang bergandengan tangan dan saling bersender di bangku kereta menjadi bahan tontonan orang-orang yang berada disekitar situ. Karena sang wanita berwajah sangat pucat sekali, dan yang pria terlihat sangat resah.
"Sasuke." panggil Sakura dengan lembut. "Apa yang kamu resahkan?"
"Tidak… bukan apa-apa." Jawab Sasuke meyakinkan agar wanita yang dicintainya itu tidak khawatir.
"Kamu khawatir kalau orang tua kita cemas kan?" tanya Sakura.
"Sakura, yang aku khawatirkan saat ini adalah bagaimana kalau mereka memisahkan kita… aku hanya ingin membawamu pergi dari situasi itu." Jawab Sasuke sambil merengkuh wajah Sakura dengan lembut.
Sesampainya mereka ditempat tujuan, Sasuke menggandeng Sakura dan membawa barang-barang mereka, mereka berjalan ke sebuah pondok kecil di pinggir pantai, dan ketika mereka berdiri didepan pintu.
"Rumah siapa ini?" tanya Sakura.
Sasuke tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengetuk pondok itu, beberapa saat kemudian, terbukalah pintu itu sambil terdengar suara seorang pria.
"Aaahhh… siapaa siih, tumbeen sekaliii ada yang dat…ang…." Laki-laki dewasa keluar dari pondok itu dengan tatapan tidak percaya.
"Sasuke?" ucap pria itu ragu.
"Ya… apa kabar Paman Jiraiya?" sapa Sasuke.
"Astagaaa, Sasukeeee, kau sudah sangat besaaar." Raih laki-laki itu memeluk tubuh Sasuke. Sakura hanya bengong melihat mereka melepas rindu seperti itu.
"Kupikir kau tidak akan pernah kesini lagiii." Ucap Jiraiya sambil menangis seperti anak kecil.
"Ahahaha, Paman, kenalkan ini Sakura." Ucap Sasuke.
"Salam kenal, aku Sakura." Sapa Sakura dengan sopan.
Jiraiya terpaku melihat wajah Sakura yang cantik tapi sangat pucat.
"Masuklah kalian." Perintah Jiraiya.
Memang pondok itu terlihat kecil, begitu mjereka masuk, Sakura tercengan melihat di dalamnya banyak sekali perabotan rumah sakit.
"Dulu aku adalah dokter, tapi aku berhenti." Jelas Jiraiya yang melihat wajah Sakura tercengang.
"Dulu paman Jiraiya lah yang membantu ibu melahirkanku." Ucap Sasuke.
"Oh, berrati hubungan kalian sama seperti hubunganku dengan Bu Tsunade yah." Kata Sakura.
PRAANG
Jiraiya yang sedang menuangkan the tiba-tiba menjatuhkan cangkirnya ketika mendengar nama Tsunade.
"Kamu… jangan-jangan, Sakura Haruno?" tanya Jiraiya.
"I…Iya…" jawab Sakura gugup.
Sasuke yang langsung memahami situasi keadaannya langsung menarik Sakura untuk pergi.
"Sakura, kita pergi dari sini." Tarik Sasuke.
"Tunggu Sasuke… tenang, aku tidak akan memisahkan kalian…. Kalian tinggallah disini sampai keadaan tenang." Ucap jiraiya.
Sementara itu, Tsunade dan yang lainnya pergi keliling tempat yang pernah mereka kunjungi satu persatu, tapi tidak juga menemukan Sakura dan Sasuke.
"Kita harus cari kemana lagi? Ini sudah tempat yang ke-5." Ujar Ino resah.
"Kemana mereka sebenarnya…ah.." getaran handphone Tsunade membuyarkan pikirannya, ketika dia membaca sms.
"Cukup untuk hari ini, besok kita cari lagi, kita pulang sekarang." Ucap Tsunade
"Baiklah." Jawab Naruto lesu.
Keesokan harinya, Tsunade pergi kesuatu tempat sebelum bertemu dengan Ino, Naruto dan Kakashi untuk mencari Sasuke dan Sakura lagi. Ketika sampai pada tujuan, dia mencari seseorang dan akhirnya menemukan orang itu yang sedang duduk di tepi air mancur ditengah-tengah kota, dihampirinya orang itu oleh Tsunade dan duduk disebelahnya.
"Sudah berapa lama tidak bertemu?" tanya Tsunade sambil menempatkan dirinya disamping orang itu.
"entahlah… mungkin 10 tahun…" jawab orang itu sambil tersenyum.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Segitu pentingnya kah topiknya sehingga tidak bisa melalui handphone, Jiraiya?" ucap Tsunade tidak berhenti. "Kau tahu kan aku sangat benci bertemu denganmu, dan aku sudah memutuskan untuk…"
"Aku tahu dimana Sasuke dan Sakura." Potong Jiraiya.
Kalimat Jiraiya membuat Tsunade tercengang dan mendorong bahunya.
"Apa kau bilang? Lalu dimana mereka? katakan padaku!" bentak Tsunade.
"Tidak bisa, kalian pasti akna memisahkan mereka." tolak Jiraiya.
"JIraiya! Sakura menderita penyakit parah! Aku harus merawatnya!" jelas Tsunade dengan sangat khawatir.
"Aku tahu, begitu melihatnya, aku merasa anak itu tidak sehat." Jawab Jiraiya dengan tenang.
"Lalu kenapa kau masih tenang-tenang saja!" bentak Tsunade.
"Aku akan merawatnya, ingat aku juga dokter, tapi aku tidak akan membiarkan kalian mendekati mereka… hanya itu yang ingin kusampaikan." Ucap Jiraiya yang langsung berdiri meninggalkan Tsunade.
"Duh, dokter Tsunade lama sekali sih." Gerutu Naruto yang sedang menunggu di depan gerbang sekolah bersama Ino dan Kakashi.
"Ah, sms dari dokter Tsunade." Ucap Ino yang merasa handphonya bergetar. "Haaa? Dibatalkan? Kenapaa?" ucap ino kecewa dan membalas sms itu. "ooh, banyak pasien katanya."
"Yasudah, kita tunggu kabar dari dokter Tsunade sja untuk saat ini kita pulang dulu saja." Usul Kakashi.
"Benar." Jawab Ino menyetujui usul Kakashi.
Jiraiya yang baru pulang dari bertemu tsunade, melihat Sasuke dan Sakura sedang berbincang-bincang di tepi pantai, terlihat sosok Sakura yang makin kurus dan tidak sehat, tetapi terpancar senyum yang bahagia ketika bersama Sasuke, seakan-akan dia tidak mengidap penyakit apapun.
"Sakura." Panggil Jiraiya. "Waktunya chek up."
"Baiklah, tunggu yah Sasuke." ijin Sakura pada Sasuke.
Sakura mengikuti Jiraiya ke dalam ruangannya, dan diperiksalah keadaan Sakura.
"Sakura, kalau aku menyuruhmu untuk bed rest, apa kamu mau?" tanya Jiraiya.
"Memangnya kenapa?" tanya Sakura bingung.
"Apa kamu mau tahu, penyakit apa yang sebenarnya kau punya sekarang?" tawar Jiraiya.
"Apa maksud paman? Sudah tentu aku tahu, jantung kan?" kata Sakura sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan kanker otakmu?" tanya Jiraiya to the point.
Sesuai dengan dugaan Jiraiya, Sakura belum mengetahuinya karena saat Jiraiya menyebut nama penyakit itu, ekspresi Sakura berubah drastic dan matanya berkaca-kaca.
"Demi kesehatanmu, kamu harus bed rest dan di infuse dulu, yah." Ajak Jiraiya.
Sakura hanya mengangguk lemas, ketika Jiraiya sedang menyiapkan perlatannya, Sakura kembali ke sisi Sasuke dan duduk disampingnya.
"Apa kata paman?" tanya Sasuke pada Sakura dengan lembut.
Sakura tidak menjawabnya, dia malah mengeluarkan air matanya perlahan dan itu membuat Sasuke bingung.
"Loh? Sakura? Kamu kenapa?" tanya Sasuke panic.
"Aku…."
"Kenapa?" tanya Sasuke panic.
"Aku terserang kanker otak." Jawab Sakura sambil menundukkan wajahnya.
Sasuke terdiam, keadaan jadi sunyi, hanya suara ombak yang terdengar ditelinga mereka. Sasuke berlari kedalam pondok untuk menemui Jiraiya.
"PAMAAN…BOHOONG, INI BOHONG KAAAN" ucap Sasuke sambil meremas baju Jiraiya.
"Sasuke… aku akan mencoba mencegah penyakit itu meluas." Ucap jiraiya.
"Mencegah! Bukan mencegah! Tapi menghilangkaan!" bentak Sasuke yang tanpa dia sadar telah mengeluarkan air mata. "Dia… dia sudah banyak menderita…. Toloong… aku mohoon… tolong Sakura."
Melihat Sasuke yang sudah seperti anaknya sendiri itu menangis sambil menunduk begitu, Jiraiya merasa pilu, dia bisa merasakan cintanya Sasuke yang besar terhadap Sakura.
"Aku akan berusaha." Jawab Jiraiya.
3 hari berlalu sejak tahunya Tsunade tentang keberadaan Sakura, dan sudah saatnya Tsunade memberi tahu teman-temannya Sakura bahwa mereka sudah ditemukan, sementara itu selama 3 hari Sakura menjalani bed restnya dengan infuse yang menempel di pergelangan tangannya.
"Sakura sudah ditemukan?" kata Ino kaget.
"Ya, tapi dia tidak mau memberi tahuku dimana mereka tinggal." Ucap Tsunade.
"Kalau begitu, biar kami yang mencari tahu." Ucap kakashi.
"Bagaimana caranya?" tanya Naruto.
"Dokter punya nomor orang itu kan?" tanya Kakashi.
"Ya punya." Jawab Tsunade.
"Baiklah… besok kalian sudah bisa tahu dimana mereka berada." Ucap kakashi tersenyum penuh kemenangan.
Sakura terbaring ditempat tidur dengan kondisi yang tidak membaik, Sasuke yang sellau berada disampingnya terus menerus memandangi wajah Sakura yang sedang terpejam itu.
"Ngh…Sa….suke…" panggil Sakura lemas.
"Sshhh… kenapa terbangun?" tanya Sasuke lembut.
"Kepalaku… pusing sekali…" rintih Sakura.
"Sabar yah, paman Jiraiya sedang mengambil obat dirumah sakit, kamu tidur lagi saja." Ucap Sasuke sambil mengelus kepala Sakura.
Sakura tersenyum lembut pada Sasuke dan menggenggam tangan Sasuke dengan kekuatannya yang melemah itu, Sasuke sangat takut kalau terjadi apa-apa pada Sakura, dia terus berdoa agar Sakura sembuh, dan dia tidak meninggalkan Sakura semenitpun, sampai Jiraiya datang dan menyuntikkan obat pada infuse Sakura, Sakura kembali tertidur pulas. Ketika Jiraiya melihat bantal Sakura.
"Sasuke…" panggil Jiraiya sambil meraih segumpal rambut Sakura yang rontok dan ditunjukkan pada Sasuke. Sasuke hanya bisa terdiam dan shock melihat rambut Sakura yang rontoh dan menipis.
Sasuke mencium dan menggenggam erat tangan Sakura sambil menangis dia berdoa agar tidak terjadi apa-apa padanya.
Sampai pada malam hari tiba, Sasuke tidak juga tidur, Jiraiya yang sedang berada dikamarnya sedang membaca buku-buku pengetahuan tentang pengobatan kanker, ketika tengah malam menjelang pagi Sakura terbangun dan memanggil nama Sasuke.
"Sa…suke…" panggil Sakura.
"Ya? Ada apa?" jawab Sasuke dengan cekatan.
"Aku ingin melihat sunrise." Pinta Sakura.
"Tapi… kamu tidak boleh beranjak." Jawab Sasuke.
"Tapi aku ingin sekali melihatnya, kata paman Jiraiya, pantai ini sitimewa, bisa melihat sunset dan sunrise, aku sudah biasa melihat sunset, aku ingin melihat sunrise." Ucap Sakura sambil tersenyum.
Sasuke memandang Sakura dengan pilu, entah mengapa dia merasa harus menuruti permintaan Sakura ini.
"Baiklah." Ucap Sasuke.
Sasuke menyiapkan kursi roda dan mengangkat tubuh Sakura yang sudah ringan itu bersama dengan infusnya. Didorongnya kursi roda itu ke tepi pantai, suasana pantai yang gelap dan sepi, Sasuke menurunkan Sakura untuk duduk di pasir, dan Sasuke membawakan lilin kecil yang berada di gelas untuk menerangi mereka.
Sasuke menempatkan dirinya duduk dibelakang Sakura dan memeluk Sakura dari belakang.
"Indah yah, walau hanya diterangi oleh lilin." Ucap Sakura dengan nada yang lemas.
Sasuke terdiam, dia menahan agar air matanya tidak keluar dan membasahi punggung Sakura yang mungil itu.
"Sasuke." panggil Sakura dengan lembut.
Sasuke menoleh ketika Sakura menengok untuk melihat wajah pria yang dicintainya sekarang itu.
"Terima kasih yah… aku sangat mencintaimu." Ucap Sakura dengan sangat lemas.
Sasuke mencium bibir Sakura yang kering itu, mereka berciuman dengan perasaan yang campur aduk. Sakura menerima ciuman dari Sasuke dengan lambat, tapi Sasuke sangat bersabar mengikuti gerakan bibri Sakura. Sampai Sasuke merasakan ada sesuatu yang basah dari hidung Sakura.
"Saku..ra?" panggil Sasuke yang shock melihat darah yang keluar dari hidung Sakura.
Sakura hanya terdiam, dia tidak menjawab panggilan Sasuke, Sakura terpejam, namun tersenyum.
"Sakura?" panggil Sasuke lagi, kini sambil menggoyangkan tubuhnya, perlahan matahripun telah muncul.
"Sakuraa… sayaang, ayo buka matamu…" panggil Sasuke sambil membuka mata Sakura secara paksa.
"Lihaat… ada matahari… kau bilang ingin melihat sunrise…" ucap Sasuke yang kini sudah mengeluarkan air mata yang deras dengan nada yang bergetar.
"Saku…ra…~~~" panggil Sasuke sekali lagi, kali ini sambil menggoyangkan kepala Sakura.
Dilapnya darah yang terus keluar dari hidung dan diciumnya berkali-kali bibir Sakura, tapi tidak ada respon dari Sakura, Sasuke hanya bisa menangis dalam keheningan, dia memeluk gadis yang sangat dicintainya itu, ketika matahari muncul, Sakura tiada.
=_= maaf yah... eh, aku ngaret g sih? maaf yah kalo ngaret..
chapter depan chapter terakhir... terima kasih atas semuanya yaaah...^^
