proudly present :
An EXO Fanfiction
KISS ME IF YOU CAN
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Charlie Philips
Terjemahan Indonesia : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Jongin terbangun dalam posisi meringkuk di sofa ruang keluarga, lehernya tertekuk dan nyeri, begitu juga kepalanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa keadaan neneknya, tapi Taeyeon tidak ada. Ia menghubungi Jessica, tapi teleponnya tidak diangkat. Berarti ia bisa menganggap neneknya sudah merasa sehat seperti semula pagi ini dan pergi keluar bersama sahabatnya.
Kemudian ia mandi, membiarkan air hangat membasuh otot-ototnya yang pegal, mencuci rambut dan mengeringkannya, berpakaian lalu menuju ke dapur mencari kopi yang sangat ia butuhkan. Setelah menghabiskan satu cangkir penuh dan mulai dengan cangkir kedua, akhirnya ia mulai merasa segar kembali.
Ia membuka surat kabar, membaca sekilas setiap halaman dan saat sampai di bagian Bachelor's Blog ia mengerang keras. Tampaknya ketenaran Blog itu sudah menyebar sampai ke pinggiran kota karena ada yang memberitahu Bloggerbahwa tadi malam Jongin dan Sehun berada di rumah sakit. Ia sudah lama pasrah karena tidak punya privasi lagi menyangkut hubungannya dengan Sehun. Ia hanya berusaha sebaik mungkin mengabaikan kenyataan bahwa entah siapa orang yang ia lewati tadi malam rupanya diam-diam mencatat dan mengabari Bachelor's Blog. Jongin hanya berharap orang itu bukan neneknya.
Perpaduan antara kafein dan kenyataan hidup yang diingatkan lagi setelah membaca koran, membuat otak Jongin mulai berfungsi dan kejadian semalam membanjiri benaknya. Mulai dari sikap kaku orangtuanya sampai insiden Taeyeon, kenangan itu nyaris membuat sakit kepalanya datang lagi. Sampai ia ingat ada sesuatu yang berbeda sepanjang malam yang sengsara itu. Sehun selalu ada di sampingnya, menggenggam tangannya saat orangtuanya berkomentar sinis tentang pilihan perjalanannya; dan terus merangkul bahunya untuk menghibur selama menunggu di rumah sakit. Jongin tidak sendirian.
Dan ia selalu sendirian hampir sepanjang hidupnya.
Mendadak ponselnya berbunyi, mengalihkannya dari lamunan yang akan sangat berisiko. Ia menyambar Smartphone-nya dari atas meja di sebelah mesin pembuat kopi.
"Halo?"
"Hey, Jong."
Mendengar suara Sehun, perutnya langsung tergelitik oleh perasaan asing yang hangat dan lembut. "Hai juga."
"Bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanya lelaki itu.
Ingatan samar akan Sehun membungkuk dan melepas kacamata Jongin berkelebat di benak gadis itu. "Berapa lama kau menunggu di sini tadi malam?"
"Cukup lama untuk menontonmu tidur," jawab Sehun, suaranya parau.
"Oh." Pusaran gairah berputar dalam perut Jongin. "Maaf aku bukan teman yang baik."
"Kata siapa?" Sehun terkekeh. "Aku senang mendengarkan kau mendengkur."
"Hei! Aku tidak mendengkur!"
"Kau mendengkur, dan kalau kau mau tahu, itu sangat menggemaskan."
Jongin tersenyum dan berharap semoga Sehun juga. "Kita perlu bicara banyak." Tentang neneknya dan perhiasan wanita itu.
"Aku tahu. Sayangnya, aku harus pergi kerja. Ada rapat yang tidak bisa kubatalkan. Bagaimana kalau makan malam nanti?"
Jongin tidak keberatan jika harus mengisi hari ini dengan mengerjakan rancangannya. Mungkin ia dan Baekhyun juga bisa bertemu untuk urusan pekerjaan walau mendadak. "Tentu. Makan malam kedengarannya asyik."
"Bagus Bagaimana kabar nenek kesayangan kita yang hampir berulang tahun ke delapan puluh pagi ini?"
Jongin menghela napas. "Seandainya aku tahu. Saat aku bangun dia sudah pergi. Tanpa pesan sama sekali."
"Apa kira-kira dia menghindarimu?"
"Dugaanku pun begitu. Dia takut aku akan bertanya-tanya lebih jauh tentang bagaimana sebetulnya dia mendapatkan kalung itu."
Sehun berdeham. "Kita butuh rencana."
Jongin mengangguk. "Aku setuju. Kita bisa memikirkannya nanti saat makan malam."
"Di tempatku?" tanya Sehun.
Jongin ingat apa yang terjadi saat terakhir kalinya mereka makan malam di apartemen lelaki itu. Tubuhnya pun teringat dan gairah pun timbul. Ia berusaha menghentikan sensasi itu, namun yang terjadi sebaliknya.
"Jongin?"
"Tempatmu rasanya sempurna," gumam Jongin. Dan juga tertutup. Ia ragu akan sanggup melewati hari ini tanpa gelisah membayangkan apa yang bakal terjadi.
"Sampai ketemu nanti, Sayang."
Sayang. Mendengar sebutan mesra itu mulut Jongin langsung kering. "Sampai nanti," balasnya, kata-katanya nyaris tidak terdengar sebelum Sehun menutup telepon.
Ia menarik napas dalam-dalam memenuhi paru-parunya. Hari yang panjang menanti di hadapannya dan tidak akan produktif jika yang ia pikirkan hanyalah suara Sehun yang pekat dan tangan seksi lelaki itu. Sama sekali tidak. Ia perlu bekerja kalau ingin beberapa jam di depan berlalu dengan cepat.
Sehun benar. Mereka butuh rencana. Tapi yang seperti apa? Menanyai Taeyeon langsung dan mengambil risiko membuatnya tersinggung lalu jatuh sakit? Atau membiarkan misteri ini, sehingga selamanya tetap tak terjawab? Pilihan yang kedua tidak bisa Jongin terima dan ia amat yakin Sehun tidak akan pernah setuju untuk menganggap misteri pencurian perhiasan yang tak terpecahkan ini tidak pernah terjadi.
Dan kalau penyelidikan mereka memastikan bahwa neneknya memang bersalah? Jongin memejamkan mata, hatinya tahu bahwa Sehun sang reporter tidak mungkin sanggup mengubur kisah sedahsyat ini. Saat ini mereka berdua punya minat yang sama. Menggali cerita, mengungkap kebenaran, mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi di masa lalu. Setelah itu? Minat yang sama tadi akan terbelah jadi dua.
Jelas terlihat bahwa akhir sudah dekat. Lebih cepat daripada perkiraan Jongin. Maka ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin, dan itu artinya saat ia berjumpa Sehun nanti malam, rayuan akan datang duluan, diskusi belakangan.
.
Taeyeon dan Jessica, dengan syal menutupi rambut merah mereka dan kacamata gelap ala Jackie O bertengger di hidung, duduk di seberang toko perhiasan Vintage Jewelers dan menunggu mangsa mereka. Mereka sudah masuk ke toko itu dan bicara dengan anak perempuan Siwon. Wanita itu bilang ayahnya pergi memancing dan dia harap akan segera pulang.
Sejak dulu Siwon bukan lelaki yang senang tangannya kotor, jadi cerita itu kedengaran mencurigakan. Maka mereka sepakat untuk mengintai tempat itu sampai, Siwon kembali. Kecuali bila lelaki itu, sama seperti mereka berdua, tahu bahwa ada masalah dan ingin bertindak hati-hati. Siwon mungkin akan muncul di jam yang sepi lalu berusaha menyelinap masuk tanpa ketahuan. Ada alasan kenapa mereka sampai menjulukinya si ular.
Sejarahlah yang memberi Siwon julukan itu.
Sambil menunggu kemunculan lelaki itu, Taeyeon mengenang masa lalu dan bagaimana mereka bisa sampai seperti sekarang. Ia dan Jessica dulu sama-sama tumbuh besar di lingkungan Bronx yang miskin. Tak satu pun dari mereka ingin mengikuti norma yang lazim di masa itu yaitu menikah dan berkeluarga, sehingga akibatnya tidak ada suami yang bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Keduanya lantas bekerja serabutan untuk mencari nafkah, termasuk menjadi pelayan di restoran lokal dan ya, kadang-kadang terpaksa mencuri agar tidak kelaparan.
Siapa yang menyangka sejarah masa lalu akan kembali dan menggigit bokong Taeyeon di usianya yang sudah setua ini?
Jessica dulu berkenalan dengan Siwon di sebuah kencan buta saat lelaki itu bekerja paruh waktu di sebuah toko perhiasan. Belakangan, Siwon mengajak Jessica kerja bersamanya dan akhirnya dia mendapat ide merampok orang kaya untuk diberikan ke orang miskin—dalam kasus ini Siwon. Siwon pasti merasa cocok dengan Jessica karena dia menjadikan wanita itu tangan kanannya lalu Jessica mengajak Taeyeon untuk ikut bertualang bersama mereka. Sejak awal Jessica sudah jatuh cinta pada Siwon, tapi begitu Siwon mengenal Taeyeon, Jessica hanya teman biasa bagi lelaki itu. Masalah cinta yang bertepuk sebelah tangan memang membuat hubungan kerja dan persahabatan mereka bertiga menjadi berisiko, tapi entah bagaimana mereka bisa menjaganya tetap berjalan baik.
Sampai malam yang bersejarah itu saat Taeyeon memergoki keduanya di ranjang. Ia lantas berhenti bicara dengan mereka berdua. Tak lama kemudian, takdir datang berwujud Henry-nya yang tercinta. Taeyeon melayani pesanan di meja Henry dan lelaki itu mengajaknya berkencan. Berada di sisi Henry membuat Taeyeon merasa bergairah, dan bahagia, lantas ia memutuskan sudah tiba waktu untuk menjalani hidup normal. Ia tidak langsung hamil sesudah mereka menikah. Lalu suaminya mendapat penugasan dan perang Korea terjadi.
Taeyeon sangat bosan dan kesepian sehingga saat Siwon muncul di depan pintunya, memohon-mohon agar ia ikut dalam satu aksi terakhir, ia pun setuju. Bersama dengan Jessica, yang juga sudah Siwon temukan, mereka merampok rumah keluarga Lee. Taeyeon tahu tentang tempat itu karena suaminya pernah bekerja di sana sebagai sopir paruh waktu mereka. Bagian yang ia ceritakan ke Jongin itu memang benar adanya.
"Aku masih tidak percaya bagaimana ular serendah dia bisa punya anak semanis dan secantik itu," cetus Jessica, menarik pikiran Taeyeon dari masa lalu.
Ia melirik ke seberang dan melihat Yoona keluar dari toko, mungkin, untuk makan siang. Dia punya satu orang karyawan gadis muda, dan mungkin gadis itu yang sekarang menjaga toko.
"Kau tidak menganggap dia ular waktu kau lompat ke tempat tidur bersamanya." Tampaknya benaknya masih ada di masa lalu saat kata-kata itu tak sengaja meluncur keluar, padahal mereka sudah sepakat untuk tidak pernah mengungkit-ungkit sejarah percintaan mereka dengan Siwon lagi.
Jessica menegakkan bahunya, tersinggung. "Coba berkaca dulu ya, Nona? Kau sudah tahu aku ada hati padanya dan malah merayunya hingga dia masuk perangkapmu. Apa aku salah karena mengambil apa yang sebetulnya memang hakku?" tanya Jessica, wajahnya merah padam, suaranya meninggi.
Taeyeon mengangkat alisnya. "Oh jelas, aku bisa menyalahkanmu, dasar wanita genit tidak tahu malu! Dia naksir aku lebih dulu!"
"Ibu-ibu, apa ada masalah?" seorang petugas polisi bertanya, menyela dengan suaranya yang berwibawa.
"Tidak, Pak." Kecuali jika dia menganggap sahabatnya yang seperti ular licik sebagai masalah. "Kami hanya sedang membahas sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu," jawab Taeyeon dengan manis.
"Rupanya ingatan kami tentang situasi itu berbeda," Jessica menambahkan. Di balik kacamatanya, Taeyeon melihat tatapan dinginnya.
"Kau tahu kan kalau waktu bisa memainkan ingatan seseorang. Apalagi dengan bertambahnya umur," Taeyeon menjelaskan.
Jessica mengangguk. "Dan dia pasti tahu karena dia satu tahun lebih tua daripada aku; kau bisa melihatnya dari jumlah garis dan kerutan yang lebih banyak."
Petugas polisi itu menggeleng keras. "Sudah, sudah. Sebaiknya sekarang kalian berbaikan sebelum perdebatan ini berlanjut jadi perkelahian," ujarnya, tertawa mendengar leluconnya sendiri.
"Aku bisa mengalahkan dia kapan saja," kata Taeyeon. "Aku pernah melakukannya dan akan kulakukan lagi."
"Seingatku, rambutmu yang sudah tipis itu aku cabut sampai segenggam!" bentak Jessica sengit.
Polisi itu menyela dengan gerutuan samar, tidak sanggup membuat kalimat yang jelas.
Akhirnya, dia berkacak pinggang, satu tangannya memegang pentungan dan yang satu lagi memegang pistolnya. "Tidak usah mengungkit-ungkit lagi masa lalu dan carilah kegiatan lain." Setelah mengangguk singkat, ia melangkah pergi.
Taeyeon mengembuskan napas kencang. "Astaga, tadi itu nyaris sekali. Bayangkan kalau belum satu hari setelah aku masuk rumah sakit, Jongin yang malang sudah harus membayar uang jaminan untuk mengeluarkanku dari tahanan!"
"Aku setuju denganmu untuk yang satu itu," kata Jessica.
Kedua wanita itu tahu Jongin adalah alasan kenapa Taeyeon sangat panik sekarang. Betul, ia menginginkan cincinnya kembali, tapi toh sudah bertahun-tahun ia hidup tanpa benda itu. Kalau bisa memilih, Taeyeon lebih suka semua masalah ini tetap terkubur dalam-dalam dan Jongin terus memandangnya dengan mata berbinar. Taeyeon jarang merasa bersalah atas masa lalunya lagi, tapi membayangkan cucu kesayangannya tahu rahasianya, jantung Taeyeon seolah nyaris melompat keluar. Ia sudah menjalani kehidupan yang bersih sejak kejadian itu. Ia sangat menyayangi Jongin dan Jongin mengaguminya. Jika dia sampai tahu, akankah dia tetap memandang Taeyeon seperti sebelumnya?
Untuk mencegah agar jangan sampai dia tahu, setiap kali Jongin menyebut tentang cincin itu, Taeyeon selalu mengalihkan perhatian cucunya, biasanya dengan kata-kata yang pas. Ia juga berusaha memberikan info apa pun ke penulis Bachelor's Blog dengan dua tujuan, mendorong Jongin dan Sehun agar menjalin hubungan lebih serius sekaligus mengalihkan perhatian mereka dari cincin itu. Tapi selain dari foto mereka saat berciuman, keduanya tampak tak peduli dengan Blog itu. Dan Taeyeon tidak bisa memusatkan perhatiannya pada Jongin dan Sehun sampai ia membereskan masalahnya sendiri.
Tadi malam, ia sudah siap untuk berpura-pura kena serangan jantung agar bisa menghindari pembahasan tentang kalungnya, tapi rupanya ia tidak perlu bertindak sejauh itu. Saat itu ia belum tahu apa bedanya nyeri karena asam lambung, panik sungguhan, dan penyakit jantung yang sebenarnya.
Taeyeon melirik sahabatnya. "Daripada kita berdebat tentang masa lalu, kita harus memikirkan bagaimana cara menyimpan sejarah kuno ini tetap di tempat semula!"
Jessica perlahan mengangguk. "Kau benar," gumamnya. "Tapi berjanjilah padaku, kau tidak akan terlena dengan pesona Siwon lagi. Kita punya persahabatan yang indah dan kokoh sekarang, dan kemunculan lelaki itu bisa merusaknya."
Taeyeon melirik jam tangan. "Aku sama sekali tidak mau berhubungan dengan dia lagi! Tidak sejak aku menikah dengan Henry-ku tercinta!"
Jessica diam sebentar, lalu memiringkan kepalanya. "Baiklah."
"Dan kau sendiri? Ayo janji kau tidak akan langsung jatuh ke pelukannya begitu ada kesempatan," ujar Taeyeon, bersedekap.
"Memangnya ada tempat untuk perut sebuncit itu?" Jessica bergidik. "Kita punya persahabatan, teman untuk diajak bicara di malam hari, makan bersama, atau nonton bioskop. Untuk apa aku mengorbankan. semua itu hanya demi dia?" Ia mengibaskan tangan mencemooh ke arah toko.
"Berarti kita sudah mengerti satu sama lain," kata Taeyeon. "Sudah mulai terlalu panas di sini. Sebaiknya kita datang lagi nanti saat tokonya hampir tutup dan kalau kita belum beruntung, kita kembali besok pagi."
"Setuju," Jessica mengangguk.
Tapi saat perlahan mereka beranjak pulang, dalam hati Taeyeon bertanya-tanya apakah Jessica akan sekebal ini terhadap Siwon seperti yang dia bilang… Ia harap begitu, karena ia betul-betul tidak ingin menghabiskan tahun-tahun terakhir dalam hidupnya tanpa didampingi sahabatnya.
.
Setelah merampungkan konsep yang ada di benaknya untuk situs Sehun—dengan asumsi tidak lama lagi lelaki itu akan punya lebih dari satu novel untuk ditawarkan pada dunia—Jongin melakukan sesuatu yang jarang ia kerjakan. "Berbelanja."
Kalau malam ini adalah malam terakhir Jongin bersama Sehun, ia ingin menjadikannya sesuatu yang akan dikenang selamanya oleh mereka berdua.
Biasanya ia tidur memakai kaus usang sembarang, sehingga tidak terbiasa dengan gaun tidur berenda atau tempat terbaik untuk membelinya. Toko pertama yang terpikir olehnya adalah Bloomingdale's, departemen store besar yang ada di pusat kota Manhattan. Ia meninggalkan pesan untuk neneknya yang belum juga kembali dan menuju toko itu.
.
Melangkah melewati pintu, Jongin langsung diserang oleh sinar lampu-lampu yang amat terang, wewangian kosmetik serta parfum. Kewalahan adalah istilah yang lebih tepat. Ia mulai, berjalan berkeliling, merasa terasing, dan memutuskan untuk bertanya letak penjualan gaun tidur. Makin cepat menemukan dan membeli yang ia mau, makin lekas pula ia bisa keluar dari sini.
Melihat seorang pramuniaga, Jongin langsung menghampirinya.
"Permisi, di sebelah mana bagian gaun tidur?" tanyanya.
"Bagian perlengkapan pribadi ada di lantai empat," ujar wanita dengan rias wajah tebal itu, lalu menunjuk ke tangga berjalan terdekat dengan kuku-kuku yang dimanikur sempurna.
"Terima kasih." Jongin menuju ke arah itu saat mendadak mendengar namanya dipanggil.
Ia berbalik, kaget melihat tetangga Sehun, Kang Seulgi berjalan mendekatinya. "Ternyata ini benar kau!" sapa Seulgi sambil tersenyum.
"Hai!" Jongin tidak bisa mengalihkan tatapan dari wanita yang, sekali lagi, menunjukkan kesan sangat berlawanan dengan polisi tegas atau wanita berpakaian santai yang pernah ia jumpai sebelumnya. Kali ini Seulgi memakai rok mini, atasan tanpa lengan berenda, sandal cantik, wajah dirias lengkap, dan rambut panjang tergerai lepas di bahunya. Mungkin Jongin tak akan mengenalinya kalau ia duluan yang melihat Seulgi.
"Dunia sempit ya?" cetus Jongin spontan.
"Aku pelanggan tetap di sini. Makanya selagi libur, datanglah aku kemari." Ia membentangkan kedua tangan.
"Aku tidak akan pernah menyangka. Masalahnya, belanja bukan hobiku."
"Lalu apa kesukaanmu?" tanya Seulgi, sambil menggamit Jongin berjalan menyusuri deretan toko.
"Bepergian. Aku lebih suka menabung uangku supaya saat mendadak aku ingin pergi ke mana pun, dananya sudah siap," Jongin menjelaskan.
Sambil mereka mengobrol, Seulgi sebentar-sebentar berhenti dan melihat-lihat beragam konter kosmetik.
"Tempat-tempat seperti apa yang sudah pernah kaudatangi?"
"Bulan lalu aku pergi ke Indonesia untuk melihat daerah yang terkena tsunami tahun 2004, kemudian bersama orang-orang yang aku kenal di sana aku malah melanjutkan ke Darfur."
Seulgi menjatuhkan pensil mata yang dipegangnya. "Jadi kau juga tidak seperti penampilanmu, ya. Kau pasti sangat pemberani bepergian sejauh itu sendirian, lalu pergi lagi ke Darfur dengan orang-orang yang tidak kau kenal."
Jongin mengedikkan bahu. Ia tidak pernah menganggap kebiasaannya bepergian sebagai sikap berani. "Orang-orang yang aku kenal itu anggota organisasi amal. Mereka cukup aman."
Seulgi mengangguk. "Jadi apa yang membuat hobi bepergian ini dimulai?"
Ini lucu. Dari semua orang yang pernah mempertanyakan gaya hidupnya yang selalu berpindah-pindah, teman Sehun ini tampak yang paling tulus rasa penasarannya. Karena ketertarikannya itu, mudah bagi Jongin untuk berterus terang padanya.
"Waktu aku masih kecil nenekku sering mengajak aku ke tempat-tempat di sekitar kota ini. Biasanya setiap kali suasana dalam rumahku sudah terlalu tegang," kata Jongin mengenang masa-masa itu. "Awalnya taman-taman di dekat rumah, sekedar untuk menenangkan diri. Kemudian tempat-tempat wisata yang terkenal seperti Patung Liberty dan Empire State Building."
"Kedengarannya nenekmu wanita yang istimewa," komentar Seulgi.
Jongin tersenyum. "Memang." Dan mungkin seorang pencuri licik, pikirnya. "Nah, begitu aku lebih dewasa, dia mendorongku supaya bepergian ke tempat-tempat yang jauh dan melihat dunia luar selama aku mampu. Aku sudah mengunjungi negara-negara yang menakjubkan seperti Prancis dan Spanyol, dan aku pun tersadar betapa segarnya menjauh dari tekanan di rumah. Lama kelamaan, bepergian jadi gaya hidupku. Sesuatu yang selalu kurindukan dan betul-betul kunikmati."
"Kedengarannya berat juga ya hidup di rumahmu."
"Sebetulnya tidak jauh beda dengan kebanyakan orang," sahut Jongin ringan, mendadak malu karena sudah menceritakan urusan pribadinya dan bukan sekadar kebiasaannya bepergian. "Hei, aku tidak mau mengganggu acaramu, jadi aku mau belanja dulu dan senang bertemu denganmu lagi."
Ia ingin bergegas kabur tapi tangan Seulgi menyambar lengannya. "Maaf kalau aku terlalu mendesak. Sudah kebiasaanku sebagai polisi."
Jongin menggeleng. "Sebetulnya tidak juga, justru ada sesuatu dalam dirimu yang membuat orang jadi gampang bercerita."
Seulgi menyeringai. "Pernah dengar istilah, polisi baik, polisi buruk?"
Jongin mengangguk.
"Aku dan mantan rekanku biasa memainkan peranan itu, dan meskipun aku bisa sangat keras kepala kalau mau, aku juga bisa jadi pendengar yang baik, dan itu membuatku cocok untuk peran polisi baik. Nah, jadi kau mau belanja apa? Karena aku hanya lihat-lihat saja."
Jongin betul-betul tidak ingin memberitahu misinya pada Seulgi. "Aku hanya butuh gaun tidur," jawabnya samar, tapi saat mengucapkan itu, rona merah menjalari pipinya. "Aku ingin memberi kejutan pada Sehun," ujarnya buru-buru sebelum Seulgi bisa menebak dengan jitu rasa jengahnya.
Cengiran lebar merekah di wajah polisi wanita itu.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Boleh kan aku ikut denganmu? Aku lumayan mahir memilih baju yang nakal."
Dia menaik-turunkan alis. "Ayolah kalau begitu. Lagi pula aku memang payah untuk urusan belanja," ia mengaku.
Pembawaan Seulgi membuat Jongin santai, dan itu mengagumkan mengingat betapa dia membuat Jongin tegang saat pertama kali mereka berkenalan. Rupanya Seulgi punya kebiasaan bersikap waspada sampai dia membuat keputusan tentang seseorang, dan begitu orang tersebut lolos seleksi, maka Seulgi akan menurunkan tembok pertahanannya, Jongin hanya berharap Seulgi tak akan menyesali keputusannya begitu nanti hubungan Jongin dan Sehun berakhir.
Keduanya makan siang bersama di restoran di lantai atas dan setelah acara belanja selesai, Jongin berhasil membeli satu set gaun tidur luar biasa, yang ia harap akan membuat Sehun terbelalak kagum. Saat mereka keluar dari toko dan sampai di tepi jalan, udara panas langsung menyergap Jongin. "Hari ini menyenangkan dan terima kasih sudah membantuku."
Seulgi tersenyum. "Sama-sama. Dan sekarang aku akan maju selangkah lagi dengan nasihat yang bukan sekadar urusan belanja"
Gelitik peringatan menjalari tubuh Jongin. "Aku mendengarkan," katanya waspada.
"Aku datang dari keluarga polisi yang bercerai… Semua ini bagian dari pekerjaan, jadi hubungan jangka panjang sama sekali bukan keahlianku."
Jongin merasakan sekilas kesedihan dan penyesalan dalam pernyataan Seulgi.
"Pergi melarikan diri adalah sesuatu yang sangat kupahami, lebih daripada hal lain."
Jongin menyipitkan mata. "Aku tidak melarikan diri."
Harusnya tadi ia tahu bahwa ia terlalu mudah membuka diri. Ternyata Seulgi sama saja dengan orang lain yang suka menghakimi Jongin dan apa yang ia pilih.
"Aku tadi menjelaskan padamu bahwa bepergian sudah jadi bagian dari diriku."
"Memang." Seulgi mengangguk, tapi tidak minta maaf karena sudah salah paham. "Kau juga bilang bahwa mengunjungi tempat-tempat wisata dan bepergian awalnya adalah caramu untuk lari dari ketegangan di rumah."
"Dan hal itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang penting buatku. Kenapa semua orang bersikeras menganggapnya salah?" tanya Jongin, jengkel dan kecewa. Ia sudah cukup menderita meributkan masalah ini dengan keluarganya. Ia tidak butuh berdebat lagi dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal.
Tapi dia juga sahabat Sehun.
Siapa sahabatmu? Pertanyaan itu muncul tanpa diundang ke dalam benak Jongin, mencungkil tembok pertahanan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
"Aku hanya mau bilang, kadang kita terjebak dalam siklus yang seolah tidak mungkin diputus. Dan aku menyarankan supaya kaulihat hidupmu yang sekarang ini baik-baik sebelum kau pergi lagi entah ke mana tujuanmu berikutnya. Karena hal-hal yang paling berarti buatmu, mungkin tidak akan menunggu saat kau kembali nanti."
Wow. Nah ini baru Seulgi yang dulu pertama kali ia kenal. Bicara blakblakan dan ikut campur urusan orang lain. "Terima kasih atas nasihatnya," kata Jongin kaku.
Tatapan Seulgi yang menusuk beradu dengan Jongin.
"Aku tahu kau marah sekarang, tapi semoga suatu hari nanti kau akan berterima kasih padaku karena sudah mengatakan ini."
"Aku ragu tentang itu." Jemari Jongin mengepal erat memegang kantong belanjanya.
"Kita lihat saja nanti. Selamat menikmati belanjaanmu," ujar Seulgi, berbalik dan menuju arah yang berlawanan, meninggalkan Jongin tertegun dan merasa terkejut akibat nasihat yang tidak dia minta.
Entah bagaimana ia berhasil menyingkirkan komentar Seulgi dari benaknya dan kembali memusatkan perhatiannya pada nanti malam. Perpaduan rasa senang, semangat, dan tidak sabar melandanya. Apalagi saat ia ingat ia masih menyimpan kunci apartemen Sehun dalam tasnya.
.
Sehun baru pulang dari kantor, berharap ia masih punya waktu beberapa menit untuk mandi sebelum Jongin datang. Beberapa jam terakhir tadi ia habiskan untuk memilih-milih laporan polisi, memutuskan cerita mana yang akan dimuat di surat kabarnya. Kadang ada cerita yang serius dan kadang, seperti hari ini, ia mendapatkan berita kriminal yang aneh. Sebuah restoran elit menyelenggarakan pertemuan para kolektor anggora Kelompok Telur Faberge—siapa yang mengira ada kelompok semacam itu—lalu sebuah telur mahal dilaporkan hilang. Awalnya telur karya desainer itu masih ada, lantas menit berikutnya mendadak lenyap. Semua anggora kelompok tersebut, ditambah para pelayan dan staf restoran sudah ditanyai, tapi belum ada tersangka. Ada hadiah yang dijanjikan untuk benda antik mahal yang hilang itu. Karena Sehun punya kolom kosong, ia pun memuat berita itu dan tugasnya selesai.
Sekarang ia masuk ke apartemennya dan langsung merasakan keberadaan Jongin. Sekali lagi, ia dilanda rasa bahagia akan kehadiran Jongin di sini yang terasa begitu pas, menunggunya dan tak peduli betapa pun ia berusaha melawan, perasaan itu tidak mau hilang.
Ia melempar kuncinya ke meja di dekat pintu dan berjalan masuk. Meja sudah ditata dengan peralatan makan yang tidak senada dan ia meringis, menyadari ketidaksiapannya ditambah lagi dengan lilin-lilin yang pasti tadi Jongin beli sendiri, karena ia memang tidak punya. Kotak-kotak berisi makanan cina sudah ditaruh di meja dan masih tertutup, menunggu untuk mereka nikmati.
"Jongin?" panggilnya.
"Di kamar."
Mulut Sehun mendadak kering. Ia melangkah mendekat dan wangi menggoda langsung menyambutnya. Ia menghirup napas lagi dan aroma sensual itu merayunya ke arah kamar.
Pintunya separuh tertutup, dan gaun berenda tergantung di kenop pintu. Seluruh tubuh Sehun langsung siaga penuh. Ia mendorong pintu dengan ujung kakinya hingga terbuka, menarik napas untuk menenangkan diri dan melangkah masuk dengan gagah.
Kamar tidurnya yang temaram dan biasanya maskulin kini juga dihiasi dengan lilin-lilin yang berkelip-kelip menggoda di sekelilingnya, sementara Jongin berbaring di tengah ranjang, terbalut gaun tidur minim berbahan renda merah.
Gadis itu menekuk jari, memanggil Sehun dari ujung ruangan, dan semua pikiran tentang makanan cina serta mandi langsung lenyap. Sehun tidak bisa memikirkan hal lain kecuali wanita yang sedang menantinya di sana.
"Ini kejutan yang menyenangkan." Ia nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.
"Kupikir kau memang menungguku."
Sehun melonggarkan dasi yang sejak tadi ia kenakan, melepasnya dari atas kepala, lalu melemparnya ke lantai. Sambil terus berjalan mendekati Jongin, ia membuka kancing kemeja satu persatu sampai ia melepasnya dari bahu dan membiarkannya jatuh.
Jongin menatap Sehun dengan mata yang lebar tanpa kacamata, dan bertambah gelap di setiap gerakan yang dia buat.
"Aku tidak pernah tahu bahwa ternyata kau tipe gadis yang suka gaun tidur berenda." Sehun menendang sepatunya hingga lepas, mencopot kaus kaki, lalu membuka kancing celana panjangnya. Ia mengaitkan jemarinya ke ban pinggang dan melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya dengan satu gerakan mulus.
"Banyak yang belum kau ketahui tentang aku." Suara Jongin turun satu oktaf, tatapannya tertuju pada tubuh Sehun.
Sehun tidak tahu pasti, tapi mungkin yang membuatnya bergairah adalah tatapan mendamba dan kagum dari Jongin itu.
Sambil mengamati Jongin, dalam hati Sehun berpikir apa lagi yang masih perlu ia pelajari dari gadis itu, tapi ia berniat untuk mencari tahu. Meluncur ke kasur di sebelah gadis itu, ia mengaitkan satu jarinya ke tali tipis di bahu Jongin dan membenamkan wajahnya ke leher gadis itu, menghirup wanginya yang manis dan mencicipi Jongin dengan belaian lidahnya.
Jongin bergetar dan mendongak, meminta Sehun untuk terus. Sehun menurut, beringsut ke atas, menggigiti lembut kulit Jongin lalu diikuti dengan sapuan panjang dan halus dari lidahnya.
Seluruh tubuh Jongin gemetar akibat serangan lembut itu, sedangkan Sehun keheranan betapa menggodanya Jongin. Ia berhenti sejenak untuk menikmati penampilan gadis itu, berantakan dan menggiurkan, memakai gaun tidur menggoda yang menampilkan keindahan kulitnya di balik bahan seksi itu.
"Aku beli gaun ini untukmu," ujar Jongin parau.
Pengakuan itu nyaris meruntuhkan Sehun. Membuatnya tersentuh. Sekaligus membuatnya bergairah luar biasa. Ia ingin segera menyatukan tubuh mereka, tapi tampaknya Jongin sudah menyiapkan dengan khusus rayuan ini dan ia ingin gadis itu mendapatkan lebih dari sekedar keintiman kilat.
Sehun menangkup wajah Jongin dengan tangannya, memutar wajah gadis itu hingga menghadapnya. "Dan aku sangat suka."
Jongin tersenyum dan membelai pipi lelaki itu dengan ujung jemarinya. "Aku sudah menanti saat ini sepanjang hari," ujarnya, lalu melumat bibir Sehun.
Begitu mulut mereka menyatu, seketika segalanya berubah dari lembut menjadi mendesak. Jongin sendiri yang merencanakan rayuan ini, tapi dari cara jemarinya mencengkeram bahu Sehun dan bagaimana ia mendesakkan payudara ke dada Sehun, tampak ia tidak ingin pelan-pelan.
Begitu pun Sehun. Ia membawa satu puncak payudara Jongin ke mulutnya sampai Jongin merintih keras. Tubuh gadis itu pun merespons. Dengan kasar Sehun menarik gaun itu hingga payudara Jongin tersibak dan kain tipis menerawang itu pun sobek.
"Nanti aku ganti," gumam Sehun dan mengunci mulutnya di kulit gadis itu.
Lidahnya bergerak maju mundur hingga gadis itu mengerang, jemari Jongin mencengkeram rambut Sehun, menyuruhnya untuk terus.
Sehun memanjakan satu payudara sampai seluruh tubuh Jongin bergetar sebelum berpindah memanjakan yang satu lagi, membawa dirinya sendiri ke tingkatan hasrat panas yang menakjubkan.
Jongin makin mendekatkan tubuh.
"Astaga," erang Sehun parau. Jongin begitu menggoda. Sehun belum terpuaskan dan ia pun menyelipkan tangannya di sela tubuh mereka.
Sehun hampir meledak saat memberi Jongin kenikmatan sambil terus menciumi bibirnya yang ranum.
Jongin bergerak, memberi akses lebih leluasa untuk Sehun. Sementara ia terus bergerak, mengerang, menggumamkan kata-kata seksi tidak jelas, mendesak lelaki itu untuk memberinya lebih banyak. Sementara Sehun terus menyanggupinya.
Napas Jongin mulai tersengal, tubuhnya terus bergerak, mencari sentuhan yang makin intim dan makin cepat. Sehun mengertakkan gigi dan berjanji dalam hati tidak akan usai sebelum menyatukan tubuh mereka. Lelaki itu mencondongkan tubuh ke depan dan mencium Jongin lagi.
Tepat pada saat Sehun merasa tidak tahan lagi, Jongin memekik saat mencapai puncak. Sehun bergegas meraih dan menyentakkan laci meja hingga terbuka, mengambil sebuah kondom dan dengan susah payah memasangnya, tangan lelaki itu gemetar hebat.
Jongin terlihat siap di atas tempat tidur. "Cepat," bisiknya.
Sehun lalu menyatukan tubuh mereka, cepat dan dalam, sadar jika tidak lama
lagi ia pun akan mencapai puncak.
Yang tidak ia duga adalah Jongin akan bergabung dengannya.
Tapi pada saat tubuh mereka bersatu, mereka bertatapan. Jongin memandangnya saat ia bergerak, menikmati setiap sentuhan.
"Lagi," gumam gadis itu, tatapannya tidak pernah beralih.
Sehun memisahkan diri, kali ini sepenuhnya, dan mata Jongin memantulkan protesnya.
"Kau sedang apa?" tanyanya.
Sehun membungkam gadis itu dengan satu ciuman; jenis ciuman yang kuat, menuntut, dan merampas segalanya. Lalu ia merentangkan Jongin dengan tangannya, mengambil posisi dan sekali lagi menyatukan tubuh mereka.
Jongin mengerang dan Sehun memeluk gadis itu lebih dekat, ingin agar tubuh mereka menyatu seerat mungkin. Tidak ingin melepaskannya lagi. Menaklukkannya. Memilikinya. Saat ia mempercepat irama percintaan, mendekati puncak, Sehun tersadar jika ia belum pernah merasakan ini sebelumnya.
Wanita ini tidak seperti yang pernah ia miliki sebelumnya.
Karena ia mencintai wanita ini.
Brengsek. Tadinya ia pikir sudah melindungi diri. Atau paling tidak sudah berusaha.
Tapi saat Jongin menyambut dan membalas setiap sentuhannya, memberikan seluruh diri gadis itu, pikiran tadi pergi dari benak Sehun dan gelombang panas menyapunya hingga hanyut, jiwa dan raganya meledak, lebur dalam diri Jongin.
Dan dari suara yang Jongin buat dari bawah tubuh Sehun, dia pun merasakan hal yang sama.
.
End for This Chapter
