COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 14

We can make a million promise

But we still won't change

It isn't right to stay together

When we only bring each other pain

-"I Don't Wanna Cry", Mariah Carey—

Biarkan rasa ini menjelma seperti apa adanya—seperti yang seharusnya.

Bus berhenti di depan sebuah penginapan, mengarahkan pandangan seluruh penumpangnya ke sekeliling. Begitu pintu dibuka, aroma segar, hangat, dan sejuk merasuki indra penciuman mereka. Begitu hijau dan sedikit berkabut. Dedaunan di pohon tinggi tampak keperakan terkena cahaya matahari.

"Kita sudah sampai ya, Appa?" tanya Haru.

"Iya. Sayang." Donghae tersenyum.

Begitu kaki mereka turun dari bus, terasa rumput masih basah. Harum bunga yang tersusun rapi di sekitar pagar masuk, menguar, menciptakan suasana pagi yang lebih semarak. Haru segera bergabung bersama teman-temannya, berlarian dengan tawa riang.

"Anak-anak, kajja, berbaris dulu! Setelah ini kita sarapan, lalu nanti kalian jalan-jalan naik kuda ke air terjun. Mau tidak?" ujar Sungmin dengan pengeras suara yang dikalungkan di lehernya.

"Mau!" anak-anak menjawab serempak. Dengan patuh, mereka membuat barisan dibantu Hyukjae. Para orang tua yang ikut berdiri di samping bus, memperhatikan anak-anak mereka berbaris rapi, menunggu sang guru memberi arahan.

Sungmin melihat wajah serius anak-anak itu mendengarkan pengarahannya. Begitu selesai, ia mempersilakan para orang tua untuk mengambil kunci kamar masing-masing, lalu ke restoran untuk sarapan. Anak-anak mengikuti orangtuanya sambil bercanda tawa.

Restoran hotel berada di belakang, menghadap ke gunung Geumjeong. Bangunan hotel merupakan bangunan lama, tetapi sangat terawat, terlihat antik, dengan kamar-kamarnya yang cukup besar, juga nyaman dan bersih. Dari tempat restoran yang terbuka, tampak pemandangan cemara di bukit dan kabut yang melingkupi puncak gunung Geumjeong.

Matahari tampak sempurna bersinar dari balik gunung yang menjulang tinggi. Udara dingin masih menerpa kulit, berbaur dengan aroma Bbokeumbbop yang menjadi menu sarapan mereka. Kue-kue berjejer rapi di satu meja panjang.

Ketika sampai di restoran usai menaruh tas di kamar, Donghae melihat Hyukjae tengah berkeliling, memperhatikan anak muridnya mengambil makanan dengan rapi, lalu lelaki manis itu duduk di samping Haru, membujuknya agar mau makan. Laki-laki itu tersenyum, masih berdiri di tempatnya. Haru memang belum pernah makan Bbokeumbbop yang dimasak dengan daging dan kimchi. Aromanya pasti aneh. Anak itu menggeleng berulang kali hingga akhirnya mau menerima satu suapan kecil. Seperti seorang ibu dan putrinya. Senyum hangat mengembang di bibirnya.

Hyukjae mengangkat wajah, menyadari kehadiran Donghae di sana dan tersenyum penuh arti. Donghae melangkah ke meja prasmanan, mengambil makanan lalu duduk di depan Haru yang masih disuapi Sonsengnimnya.

"Haru mau dagingnya saja, Sonsengnim." Haru menunjuk daging-daging dalam makanannya itu.

"Biar aku saja yang suapi, Hyuk." Donghae hendak meraih sendok di tangan lelaki manis itu.

Hyukjae menolak, menghindari tangan Donghae, "Biarkan aku saja. Nanti makananmu dingin. Kau tidak suka makanan dingin, kan?"

Hati Donghae dipenuhi oleh rasa bahagia. Hangat. Begini lebih baik. Sangat baik. Ia tidak ingat kapan kali terakhir merasakan hidupnya tanpa beban seperti ini. Merasa memiliki seseorang dan dimiliki. "Tapi, kau sendiri belum sarapan, kan, Hyuk?"

"Aku belum begitu lapar kok." Hyukjae menyendok makanan itu, lalu dijulurkannya ke bibir Haru. Anak itu kembali menggeleng kali ini. "Kenapa, Haru? Sudah kenyang?"

Haru mengambil sendok dari tangan Hyukjae dan berganti menjulurkan ke Sonsengnimnya itu. Beberapa beberapa butir nasi berjatuhan di meja karena anak itu memegang sendok terburu-buru dan hampir di ujungnya. "Sonsengnim makan juga."

Hyukjae menerima suapan itu dan tersenyum. Matanya berbinar. Terlihat rona merah di wajahnya. Sinar bahagia di mata hitam pekat itu kembali. Kali ini terlihat begitu cerah.

"Biar aku ambilkan lagi." Tanpa menunggu persetujuan Hyukjae, Donghae ke meja prasmanan dan kembali dengan sepiring makanan yang ada di tangannya. Diletakan piring itu di depan Hyukjae. "Makanlah, Hyuk."

Hyukjae menatap piring di depannya. Perlahan, ia menyuap makananya seraya menatap laki-laki itu. Wajahnya menghangat. Ada sesuatu di mata Donghae yang membuatnya ingin berlama-lama di sana, tapi ia segera beralih agar tidak menjadi perhatian.

Donghae menarik napas dalam-dalam. Aroma manis tubuh Hyukjae terhirup olehnya. Membangkitkan sesuatu di dalam dadanya. Ia ingin tidak peduli pada apa pun lagi. Ia tidak ingin Hyukjae beranjak di sana. Cukup melihatnya saja, dan ia tahu lelaki manis itu masih berada dalam dunianya.

.

.

.

Donghae menurunkan Haru dari atas punggung kuda cokelat kehitaman, lalu menggandeng tangannya kearah pintu masuk air terjun yang berada di sekitar hotel. Orang-orang banyak berlalu lalang di sana. Donghae dan Haru melewati tangga panjang yang melingkar menuju air terjun. Anak-anak lain sudah mendahului mereka, banyak yang menangis karena kelelahan.

Haru bersorak riang sambil menunjuk ke atas pohon, melihat monyet-monyet bergelantungan di antara pepohonan. Anak itu berloncat-loncat seakan ingin menggapainya. Donghae mengajaknya melihat sambil berjalan. Haru masih tampak antusias pada monyet-monyet itu. Tangan mungilnya terus menunjuk pada monyet yang dilihatnya melompat dari satu pohon ke pohon lain.

Di tempat perhentian, Sungmin bersama orang tua dan anaknya duduk berkumpul, bermain sesuatu yang seru. Suara jeritan monyet, desis-desis, dan kicau burung, berpadu dengan gemuruh air terjun. Semakin ke bawah, suara-suara itu makin berbaur dengan air terjun yang percikannya sungguh sangat indah.

Haru mengangguk-anggukkan kepala, membuat kucir duanya bergoyang-goyang. Matanya melihat sekeliling, lalu kembali menunjuk hal-hal baru yang dilihatnya. Tangga demi tangga mereka turuni seakan tak ada habisnya. Donghae merasa suasana tempat ini banyak berubah, termasuk air terjunnya. Sewaktu kecil, ia sering ke sini, dan saat itu, ia bisa merasakan percikan air terjun dari anak tangga yang jauh dan tangganya pun basah. Tetapi, sekarang, percikan airnya baru terasa ketika sudah dekat.

Sampai di air terjun, Haru berlari menghampiri Hyukjae bersama orang tua murid dan anak-anak yang merasakan air terjun. Donghae menatap bukit-bukit di sekelilingnya. Ia duduk di sebuah batu besar. Kakinya turun perlahan menyentuh air. Dingin. Embun beruap uap air yang menerpa wajah, terasa segar.

"Appa!" seru Haru yang kini berada di pangkuan Hyukjae.

Suara gemericik air dan suara air yang jatuh menghantam bebatuan di kaki bukit berbaur dengan derai tawa anak-anak menimbulkan suasana tersendiri. Daun-daun memantulkan cahaya matahari di bulir-bulir air permukannya. Rumput-rumput tampak basah oleh percikan air.

Setelah lima tahun, hati Donghae kini disesaki kebahagiaan. Terlebih melihat senyum pemilik mata hitam pekat itu. Membuat hidupnya mulai terisi. Memang belum sepenuhnya, tetapi ia akan menjaga yang telah ada agar jangan sampai menghilang lagi.

"Aku janji, kita akan punya anak. Tapi, tidak sekarang." Donghae menatap lekat Hyukjae.

"Yaksok?"

"Ne, Yaksok."

Hyukjae mengusap wajah suaminya yang terdiam. "Aku tidak sabar ingin melihat anak kita berlarian di rumah ini, Hae. Mungkin dia mempunyai mata sepertimu. Menenangkan. Punya rambut sepertiku. Jadi setiap melihatnya ada diri kita dalam dirinya."

Donghae memandangi tawa Hyukjae dan Haru. Mereka seperti ibu dan putrinya sedang bermain. Donghae kini meyakini ia menginginkan banyak moment kembali, menginginkan dirinya dan Hyukjae memiliki kesempatan untuk memperbaiki, menyatukan moment yang sempat hilang dengan moment baru yang mereka melewati.

Kita akan mengisi masa-masa yang tertunda, Hyuk, putusnya dalam hati. Donghae akan menghadapi apa pun, tidak peduli terjal dan berliku, karena ia menginginkan lelaki manis itu untuk hidupnya. Selamanya.

.

.

.

Hyukjae menarik napas dalam, menikmati udara dingin dan sedikit berkabut di bawah pohon-pohon tinggi, tidak jauh dari air terjun. Ia duduk bersama Donghae, menatap anak-anak bermain dan bernyanyi bersama Sungmin dan orang tua murid di kejauhan. Hyukjae tersenyum menatap keceriaan dan keriangan wajah-wajah mungil itu.

"Kau ingin tahu apa yang sedang aku pikirkan, Hyuk?" tanya Donghae pelan seraya menyingkirkan serangga kecil di dagu lelaki manis itu.

"Apa?"

Donghae menunjuk sekilas empat orang di atas tikar. Mereka sedang makan dengan mata menyimpan binar bahagia. "Sebuah Keluarga."

"Keluarga?" Hyukjae balas menatapnya. Pipinya memanas menyadari jemari lelaki tampan itu mengait jemarinya. Aroma alam berbaur dengan aroma sitrun yang kental dari tubuh Donghae, membuat kehangatan menyelusup di dirinya.

"Seorang pendamping hidup yang membangunkanku dengan kelitik di telapak kaki. Yang membuatkan susu cokelat setiap pagi. Yang cerewet setiap hari karena aku membuat rumah berantakan. Yang menungguku, sampai-sampai tertidur di teras." Donghae tersenyum pahit dengan pandangan menerawang. Ada harapan samar dalam pekat matanya. "Aku sadar, aku tidak butuh sesuatu yang berlebihan, Hyuk. Aku hanya butuh seseorang yang selalu ada untukku dalam keadaan senang dan susah."

Hyukjae menggigit bibir, mencoba mencerna kata-kata laki-laki itu. Donghae menginginkan sebuah keluarga bersamanya lagi? Mungkinkah? Tapi, mereka berdua pernah punya dan tidak berhasil.

Cinta. Satu kata itu, mungkinkah cukup untuk membuatnya percaya dan kembali membangun sebuah keluarga? Dan, apakah Donghae mencintainya? Hyukjae meletakkan kepalanya di bahu bidang laki-laki itu. Ia ingin bisa percaya keinginannya bukan sesuatu yang mustahil. Matanya terpejam, menikmati hangat bibir Donghae menciumi rambutnya. Sesaat Hyukjae merasakan sengatan keraguan, tapi ia lekas menyapunya dan memilih unuk menikmati hari ini.

.

.

.

Namun, aku menyadari tidak pernah ada kata "kita".

Hyukjae membuka jendela kamar lebar-lebar, memandangi halaman luas yang luas dan masih tampak asri di punggung Gunung Geumjong. Ia bertumpu di bingkai jendela, menikmati aroma bunga yang menyegarkan. Angin berhembus masuk, mengirimkan campuran dingin dan hangat yang menjalari kulitnya.

Masih terbayang dalam benaknya bagaimana Donghae menciumnya siang itu, bagaimana Donghae menggenggam erat tangannya, bagaimana Donghae menatap matanya. Seluruh tubuhnya kembali di jalari getaran halus. Namun, itu tidak lama. Ketika sebuah suara hadir di dalam kamar, senyumnya perlahan memudar.

"Melamun, Hyuk? Hati-hati disini banyak makhluk halus." Sungmin di belakangnya merebahkan diri di tempat tidur. Perjalanan dari Busan ke Gunung Geumjong memang tidak sejauh dari Seoul, tetapi mengatur anak-anak sebelum berangkat, sepanjang perjalanan, hingga sampai siang tadi, diakuinya sangat melelahkan. Matanya terpejam, tetapi tidak benar-benar tidur.

Hyukjae tersenyum geli. "Kau ini ada-ada saja, Ming! Aku sedang menikmati udara sejuk disini." Ia merentangkan tangannya menghirup udara dalam-dalam. "Rasanya, sudah lama tidak menghirup udara sesegar ini."

Sungmin yang masih memejamkan mata, menjawab. "Iya kalau disini rasanya tentram..." ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar. "Aku jadi ingin makan Hotteok, Dakkochi, Kkochi-eomuk, Hweori Gamja, Hodugwaja."

Hyukjae tertawa mendengar ocehan sahabatnya. "Kau itu aneh-aneh saja, Ming."

"Oh, ya, Hyuk, aku senang kau sudah bisa baik-baikan dengan Donghae." Sungmin menumpukan tubuhnya dengan satu tangan di tempat tidur, menatap sahabatnya.

"Baik-baikan apa, Ming?" pipi Hyukjae merona. Ia lekas berbalik menatap ke luar jendela, menyembunyikan geliat di dalam dirinya.

"Ya, memafkan kesalahn dia. Tidak ada salahnya kalau kalian masih cinta, Hyuk. Kau yakin dia masih cinta kan?" Sungmin tersenyum mengerti melihat sikap tubuh lelaki manis di dekatnya.

"Aku hanya ingin menikmati apa yang sebenarnya ingin aku nikmati, Ming." Hyukjae menghela napas panjang. Perasaan hangat mengaliri hatinya mengingat kebersamaannya dengan Donghae dan Haru.

Sungmin melirik sekilas jam tangan di tangannya. "Oh, ya, Hyuk. Aku ke kamar anak muridku sebentar ya. Tadi orang tuanya minta bantuan."

Hyukjae mengangguk, mengikuti gerakan sahabatnya keluar kamar dengan matanya. Keheningan tercipta di ruangan itu. Hyukjae menatap perbukitan yang tampak mengurungnya di sana. Ia meraih selembar foto dari tasnya. Senyum bahagia merekah menatap dirinya, gambar Donghae dan Haru yang ada di foto itu. Disentuhnya wajah lelaki itu, lalu berganti menyentuh wajah Haru. Sebuah keluarga. Lagi-lagi hal itu terlintas dalam pikirannya. Perasaanya hangat.

Suara ketukan membuat Hyukjae menoleh. Ia menahan tawa, mengira-ngira. Hyukjae melupakan sesuatu. Namun, ia terkejut mendapati Haru berdiri di sana dengan napas tersendat-sendat. Matanya merah dan berair. Hyukjae langsung mengajak anak itu masuk. Hatinya di penuhi kekhawatiran. Haru jatuh dan terluka.

"Kenapa, sayang?" Hyukjae mengusap pipi Haru setelah anak itu duduk di tepi tempat tidur dan memberikannya minum.

"Sonsengnim, kenapa Eomma Haru ada di surga? Haru mau ada Eomma. Teman-teman Haru punya Eomma, tapi Haru tidak punya." Napas Haru tersendat-sendat.

Eomma? Sohyun? Hyukjae tercengang. Ia kehilangan kata-kata. Anak ini membutuhkan ibunya, bukan dirinya. Semua bayangan masa lalu membanjiri pikirannya. Rasa sakit dari luka yang terbuka menikmatinya. Tangannya yang menyentuh lengan Haru seakan-akan mati rasa. Kedatangan anak ini membuatnya menjadi seorang manusia nyata.

"Haru mau ada Eomma, Sonsengnim." Haru menjatuhkan kepala ke dada Sonsengnimnya. Kembali menangis. Tubuh mungilnya bergetar.

Haru melingkarkan tangan ke tubuh Haru, merengkuhnya. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Wajahnya pias. Semua yang di lakukannya bersama Donghae tidak jelas arahnya, hanya kesia-siaan belaka. Mulutnya belum mampu membuka. Hatinya menggelepar kesakitan. Hyukjae memejamkan matanya, bulir bening mengaliri pipinya.

.

.

.

Haru terlelap setelah merasa lelah. Buku gambar anak itu jatuh di lantai bersama pensilnya. Sisa-sisa air mata terlihat di pipinya. Kuncir dua rambutnya tidak lagi rapi. Dari napasnya terdengar sisa-sisa tangis, meski tetap tenang dan tidak mengigau.

Masih dalam keterkejutan dan belum sepenuhnya sadar apa yang di dengarnya dari mulut anak itu, Hyukjae meraih buku gambar yang tergeletak di kamar. Napasnya tertahan melihat gambar di halaman pertama. Gambar tiga orang di sana dengan tulisan besar-besar Haru di bawahnya. Appa, Eomma, Haru. Ini adalah sebuah realitas. Sebuah kenyataan yang menghanguskan mimpi dan harapannya.

Tidak ada seorang Hyukjae di dalam dunia Haru dan Donghae. Keduanya membutuhkan dan sangat mencintai Sohyun. Kesedihan mencekam batinnya. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sesuatu yang berharga. Sesuatu yang semula berada dalam simpul kuat, harus dilepas paksa. Mereka telah berpisah, memantapkan diri di jalur yang berbeda. Sekat di antara mereka begitu tebal.

Aku hanyalah pecundang! Pikir Hyukjae dalam kesunyian. Ia memberikan diri terhanyut dalam kehidupan Donghae terjebak di dalamnya. Di dalam dunia yang tak pernah menyediakan tempat untuk dirinya. Hatinya terhempas. Sakit. Perih. Ngilu. Wajah Donghae, Haru dan Sohyun berlintas dalam pikirannya, membuat tanah yang dipijaknya amblasdan terperosok dalam kegelapan.

"Donghae itu laki-laki tidak benar, Hyuk! Dia bilang tidak bahagia dengan pernikahannya? Alasan klise! Itu hanya pembenarannya supaya berselingkuh! Sebenarnya, dia saja yang bisa setia!"

Perkataan Leeteuk Hyung seperti halilintar lain dalam kepalanya. Donghae sejak dulu memang tidak pernah mencintainya. Tidak pernah menganggapnya penting. Tidak benar-benar melihatnya. Hanya sebagai perhentian sementara sebelum menemukan perhentian sebenarnya. Lelaki itu tidak akan pernah puas sebelum membiarkan Hyukjae terjatuh semakin dalam. Donghae hanya memberikan harapan palsu yang membuat dirinya terlena untuk mengikutinya.

"Kau kenapa Hyuk?" Sungmin berdiri di depannya, menatap bingung sahabatnya yang duduk di karpet dengan wajah pucat.

Hyukjae menggeleng dan memaksakan senyumnya. Ia menutup buku gambar Haru, memasukkannya ke dalam tas. "Aku akan mencari udara di luar dulu, Ming. Titip Haru, ya."

Sungmin mengangguk meski tatapan matanya menyiratkan tanda tanya besar mengikuti langkah Hyukjae hingga menghilang di balik pintu.

Hyukjae melangkah ke lobi hotel. Ia butuh udara segar untuk mengurangi kekacauan hidupnya. Semua yang melintas tidak dihiraukannya. Pikirannya terlalu sibuk dengan semua kata-kata Haru dan gambar itu. Dalam dunia anak itu hanya ada Donghae dan Sohyun—orang tuanya. Dua orang yang menghancurkan hidupnya dan kini berhasil menghanguskan yang tersisa.

Embusan dingin angin malam membekukan tulang-tulang dan sendinya. Hyukjae memeluk tubuhnya sendiri. Ia lupa membawa Sweater karena terlalu sibuk dengan rasa sakitnya. Di helanya napas panjang, tetapi tidak juga mengurangi bebannya.

"Hyuk,"

Sebuah tepukan di bahu mencairkan kebekuan lelaki manis itu. Refleks Hyukjae menoleh. Donghae berdiri di belakangnya dengan senyum terulas di bibirnya.

"Haru di kamarmu? Tadi, aku lihat di kamar temannya tidak ada." Donghae sudah berdiri di sampingnya, ikut menatap keremangan malam di depan hotel.

"Iya, dengan Sungmin." Hyukjae mengiyakan seraya mengalihkan pandangan. Suaranya terdengar dingin.

"Kau ingin makan? Samgyetang sepertinya enak."

Hyukjae terdiam, menimbang-nimbang. Dirasakannya hangat tangan Donghae mengenggam tangannya, menggeser sedikit tubuh mereka, membiarkan tamu-tamu yang baru datang memasuki hotel. Ia benci harus merasakan getar yang di alirkan lelaki itu di saat gamangnya.

"Kau belum makan juga, kan? Tadi pas di bus aku lihat ada yang jual Samgyetang di sebelah sana." Donghae menunjuk kanan hotel.

Hyukjae tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya. Tubuhnya benar-benar goyah. Otaknya belum memberi reaksi pertahanan macam apa yang akan di lakukannya. Di luar kendalinya, ia mengikuti Donghae yang masih menggenggam tangannya melangkah ke luar hotel. Ia harus melepas segala jerat, tetapi tangan lelaki itu terlalu hangat.

.

.

.

Semilir angin dengan pegunungan berbaur dengan aroma hangat makanan, memenuhi warung makan yang ramai. Suara tawa dan percakapan berdengung-dengung. Denting sendok dan garpu beradu dengan piring ikut meramaikan warung yang tidak seberapa itu.

Berbeda dengan riuh-rendahnya suara sekitar, meja Donghae dan Hyukjae hening. Samgyetang yang telah tersaji di meja, sama sekali belum disentuh. Donghae menatap lelaki manis dengan pandangan bingung. Dalam satu hari ini, ia melihat tawa, senyum, dan binar mata Hyukjae, tetapi sekarang seperti lenyap.

Donghae meletakkan kembali sendok yang baru diraihnya. Di tatapnya Hyukjae yang termangu manatap makanan di depannya. "Hyuk, kau kenapa?"

Hyukjae bergeming, seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Donghae.

"Hyukjae?" Donghae menunduk, mendekat pada wajah lelaki manis itu.

Hyukjae mengangkat pandangannya. Ekspresinya sangat tenang dan datar. Tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya.

"Kau kenapa?" ulang Donghae.

Alis Hyukjae terangkat. "Kenapa? Tidak kenapa-kenapa, kok."

Donghae mengernyit mendengar tanggapan itu. Gusar. Ia kehilangan selera makanannya menghadapi Hyukjae seperti ini. "Ada masalah dengan anak-anak?" tanyanya masih dengan pandangan bingung.

"Tidak ada masalah apa-apa." Hyukjae dengan tenang mulai menyantap makananya.

Donghae meneguk minuman hangatnya. Berusaha menjaga emosinya. Ia tahu benar, Hyukjae sedang marah. Sikapnya selalu seperti ini. Tapi lelaki manis itu berarti Hyukjae marah pada dirinya?

Kerut di kening Donghae makin dalam mendengar kata-kata itu. Apa salahnya hari ini? Karena menggenggam tangannya di air terjun? Ia kenal betul Hyukjae bukan lelaki manis yang bersikap kekanak-kanakan seperti itu. "Kau kenapa Hyuk?"

Hyukjae menghentikan makannya. Ia menatap Donghae dengan sorot beku. Bibirnya sama sekali tidak mengulas senyum. Tubuhnya tidak bergerak. "Kau mencintai Sohyun, Hae?" pandangannya berubah menjadi pisau yang siap menusuk. Suaranya datar dan dingin.

Jantung Donghae berdentum. Ia tidak menyangka akan mendengar pertanyaan itu dari bibir Hyukjae. Kepalanya sibuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan hal itu. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Seandainya keadaan berubah dan Sohyun masih hidup, kalian pasti jadi keluarga bahagia, ya? Kau tidak mungkin bersamaku seperti sekarang. Haru tidak akan mengenalku." Hyukjae tersenyum getir dan melanjutkan makannya.

Tangan Donghae terkepal. Rahangnya mengeras. I a benar-benar tidak ingin makan sekarang. Dihelanya napas dalam-dalam untuk menghadapi Hyukjae. Otaknya tidak mampu berpikir. Diteguk lagi tehnya, tetapi malah membuat hatinya semakin resah. Suaranya tercekat. Semua yang sempat terlintas dalam pikirannya tentang mereka seakan-akan menjauh dan masuk kembali menjadi sebuah angan.

.

.

.

"Gerimis," ucap Hyukjae sambil menatap langit. Tetes air menimpa wajahnya. Tangannya bersatu di dada, menghalau dingin.

Donghae yang berjalan di samping Hyukjae mempercepat langkah. Wajahnya dipenuhi tetes-tetes air. Deru gemuruh memenuhi langit. Angin bertiup kencang, membawa rintik air berpencar. Tanpa bisa di hindari, hujan menderas. Jarak menuju hotel masih cukup jauh dan tidak mungkin memaksakan diri berjalan dalam hujan sederas ini.

Donghae melihat sekelilingnya yang sepi, penerangan sangat kurang, dan samar matanya menemukan sebuah gubuk tidak jauh dari tempat mereka bediri. Ia menggenggam tangan Hyukjae, membawanya ke sebuah gubuk di pojok jalan itu. Gubuk itu dilingkupi atap depan yang cukup lebar sehingga mereka bisa berteduh di sana, meski sesekali angin menerpa, membawa titik-titik hujan.

"Maaf, jadi membuatmu basah kuyup begini." Ujar Donghae.

Hyukjae tidak menjawab hanya merekatkan tangan pada tubuhnya. Angin bertiup kencang, membuatnya gemetar. Perlahan ia melirik laki-laki di sampingnya, Donghae tengah memalingkan muka. Hyukjae resah. Ia ingin tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran Donghae sebenarnya. Apa yang sedang di lihat mata pekatnya. Dan apakah mereka masih berada dalam dunia yang sama meski tubuh mereka begitu dekat.

Kilatan cahaya dan suara guntur begitu keras. Hujan semakin deras turun. Tiupan angin kencang membekukkan tubuh mereka. Dingin begitu menyengat. Hyukjae merasakan aroma khas Donghae diantara hujan dan empasan angin. Mata pekatnya mereflesikan titik hujan. Hyukjae merasakan dirinya berada di putaran waktu masa lalu ketika pertama mereka bertemu. Ketika ia jatuh cinta, ketika ia terpesona, ketika ia begitu menginginkan Donghae. Ngilu di dadanya berubah menjadi desakan yang membuatnya sulit bernapas, berpadu dengan rasa takut.

Donghae membuka sedikit pintu gubuk, melihat ke dalam. Bentuk bangunan itu seperti bekas tempat kedai. Sama sekali tidak ada cahaya. Ada triplek besar di depannya dan beberapa bangku yang sudah patah. Lelaki itu mengajaknya mendekat ke pintu, memperlihatkan dipan kecil menempel pada dinding depan gubuk. "Duduklah" ujarnya seraya melebarkan daun pintu.

Karena tubuhnya semakin gemetar, Hyukjae tidak mampu menolak. Hujan sepertinya masih lama reda. Ia duduk dengan gelisah menatap ke dalam gubuk yang gelap. Berada di tempat tanpa sinar sepeti ini, membuat sarafnya menegang. Dialihkan matanya pada Donghae yang berdiri di bingkai pintu, menatap ke jalan yang begitu lenggang. Kedua tangan lelaki itu memeluk tubuhnya sendiri, ikut gemetar. Ragu-ragu Hyukjae mengulurkan tangan, menyentuh siku Donghae. Ketika laki-laki itu menoleh, ia menepuk sisi dipan yang masih luas di sebelahnya. "Duduk, Hae." Senyumnya terulas tipis.

"Terima kasih." Donghae duduk di sana sambil mengembuskan napas berulang kali untuk mengurangi rasa dingin. Matanya mengelilingi isi gubuk yang gelap, tidak terlihat seseorang atau benda apa pun di sudut-sudutnya, lalu berhenti di mata hitam pekat yang tengah memandanginya.

Hyukjae tidak mengerti, apakah hujan dan dingin yang telah membekukan tubuhnya. Aliran nadinya seakan ikut berhenti. Di sekitar benar-benar sunyi dan kosong. Mungkin hal yang salah mengajak lelaki tampan itu duduk disampingnya, tetapi ia menikmati wajah basah itu. Wajah yang dulu mampu membuatnya mau menukar apa pun asalkan tetap bersamanya. Wajah yang dulu selalu hadir dalam detik waktunya. Wajah yang masih memenuhi dunianya.

"Kau pucat, Hyuk." Donghae menatap khawatir. Tangannya menyentuh kening dan pipi lelaki manis itu, memeriksa suhu tubuhnya. "Kau pusing?

Hyukjae menggeleng. Ia merasakan aliran hangat dari tangan Donghae, mengaliri darahnya. Dengan sedikit gemetar, laki-laki itu mengusap air yang berada di wajah Hyukjae. Ada sesuatu yang bergerak perlahan dalam sel tubuhnya, mengalirkan udara halus menyentuh syaraf-syarafnya. Suara lembutnya mengembuskan hangat napas di relung telinganya. Seulas senyuman terliat dalam lekuk bibir Donghae. Senyum yang selalu dirindukan Hyukjae. Tanpa bisa berkata-kata, ia membiarkan Donghae meraih tubuhnya dengan kedua lengannya.

"Maaf," bisik Donghae, serupa bisikan pada malam-malam mereka. Laki-laki itu merangkumnya, menyandarkan kepala Hyukjae di dadanya. Begitu dekat, begitu tidak berjarak. Detak jantung Donghae menjadi irama tersendiri di telinganya. Ia tidak ingin kehilangan satu detak pun.

"Aku jadi ingat saat kau sedang sakit, Hyuk." Gumam Donghae di dahi Hyukjae. "Kau gemetaran seperti ini dan aku memelukmu sampai pagi."

"Cokelat panas." Hyukjae tertawa di dadanya. Tawa kosong. Hatinya bertambah perih.

Donghae ikut tertawa, "Sampai sekarang aku masih sulit untuk membedakan mana bubuk coklat dan mana bubuk kopi, Hyuk."

"Kalau begitu, artinya kau harus lebih banyak belajar." Hyukjae menengadahkan wajahnya, masih dengan tawanya. Ia diliputi perasaan bahagia mendengar laki-laki itu tertawa. Lepas. Renyah sekali. Jangan keluarkan aku dari dunia laki-laki ini sekarang, pintanya. Ia ingin bisa mendengar lebih lama. Hingga tawa itu berhenti, Hyukjae masih menatapnya. Ia berusaha mengalihkan pandangannya, namun tidak mampu. Mata pekat itu menatapnya dalam, membuatnya semakin tidak bisa bergerak.

"Hey, lelaki manis penungang taksi." Bisik Donghae dengan nada jahil.

Hyukjae tersenyum. Ia rindu panggilan itu. Ia rindu momen-momen ketika Donghae membisikinya seraya memeluk erat pinggangnya dari belakang. Ia rindu segala yang ada pada Donghae. Seandainya dulu aku bisa lebih mengertimu, apa kau akan tetap bersamaku, Hae? Jemari Hyukjae menyusuri sepanjang pipi Donghae, merasakan sisa cambang samar yang tak tercukur di rahangnya. Menyusuri kelopak bibir berlekuk seimbang, lengkung alir tebal, garis sepanjang pelipis, dan kulit sepanjang dagu ke lehernya. Dadanya semakin sesak ketika menyadari sangat mencintai lelaki tampan ini sehingga begitu sulit melepasnya pergi.

Dongahe mengetatkan pelukannya. Embusan napasnya hangat menerpa wajah Hyukjae. Mata Donghae menjelajahi wajah Hyukjae, sedikit demi sedikit turun ke bibir padat itu, lalu kembali ke mata Hyukjae. Ada hasrat yang berkoar di mata Donghae, membuatnya menelan ludah susah payah.

"Hae..." panggilan Hyukjae terdengar sangat pelan karena bibirnya terkunci bibir Donghae. Mata Hyukjae terpejam menikmati kelembutan ciuman itu. Seperti melayang. Memabukkan. Hyukjae merasakan jantungnya berdetak sangat keras hingga membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Ia membiarkan lidah lelaki tampan itu menyelinap masuk, menyentuh kedalaman mulutnya. Pembuluh darahnya terasa panas dan saraf-saraf tubuhnya menggelenyar. Samar-samar telinganya mendengar pintu gubuk di tutup.

Seakan kejadian berlangsung lambat, Hyukjae merasakan tulang-tulangnya lemas. Kehangatan lelaki itu menyelimutinya. Jemari Donghae menyusup ke rambutnya, menahan bagian belakang lehernya, dan ibu jarinya mengelus sepanjang lehernya. Hingga beberapa saat bibir laki-laki tampan itu terbuka, menghentikan ciuman. Dalam kegelepan, mereka saling mendengarkan napas yang membawa aliran hangat keseluruh tubuh keduanya.

Tanpa berpikir panjang, Hyukjae melingkarkan lengan di pundak Donghae, menyatukan kembali bibir mereka dan merapatkan tubuhnya. Bibirnya memagut dengan dorongan yang sama besarnya. Ciumannya seperti sebuah penguasaan atas lelaki tampan itu.

Tubuh Donghae bergetar di bawah sentuhan Hyukjae. Tangan lelaki manis itu menyusup dalam polo shirt Donghae, menelusuri pundaknya, liat kulit dadanya, perutnya, dan berkeliaran menuju ikat pinggangnya. Donghae tersentak dan dorongan dalam dirinya menjadi tidak terkendali. Seluruh akal sehatnya hilang terbang. Benar dan salah seakan tidak penting.

Donghae mendorong tubuh Hyukjae perlahan. Bahkan, terasa seperti kapas saat berbaring bersisian di atas bangku. Bibir Donghae memberikan kecupan-kecupan kecil di kelopak mata, sepanjang pipi, dan dagu Hyukjae, lalu membenamkan wajahnya di leher lelaki manis itu sementara tangannya membuka kancing baju Hyukjae. Donghae membelai kulit yang kini terbuka, membuat Hyukjae menggelinjang.

Mereka sama-sama merasakan kehampaan yang begitu dalam. Hampa yang membuat mereka saling merindukan. Semakin merasakan rindu itu, tanpa memikirkan apa pun lagi. Hyukjae bergerak merapat pada Donghae, bibirnya mencari-cari bibir maskulin itu. Ada angan tipis berbaur imaji dalam kepalanya. Ada sesuatu yang mendorongnya tidak ingin kehilangan lagi. Ia ingin mengalami kembali apa yang pernah mereka bagi.

Bibir Donghae turun menyusuri lehernya, bahunya, tulang selangkanya, dan terus bergerak ke bawah. Terdengar suara rintihan parau dari mulut Hyukjae merasakan bibir, lidah dan gigi Donghae di bagian sensitifnya. Sensasi yang diberikan lelaki itu mampu menenggelamkannya. Dan ketika sentuhan-sentuhan itu hilang. Hyukjae merasakan deru napas mereka bertemu di udara.

Hyukjae menyentuh wajah lelaki tampan itu, seperti merasakan sesuatu kembali dalam hidupnya. Sesuatu yang ingin dimiliki selamanya, dan tidak akan membiarkan seorang pun mengambil Donghae dari sisinya. Tidak akn pernah! Hyukjae mencengkram bahu kokoh itu ketika Donghae bergerak membawanya ke penjelajahan lebih jauh. Menyesatkannya. Membuatnya kehilangan arah. Apakah ini nyata atu ilusi?

.

.

.

Guntur kembali terdengar begitu keras. hujan masih deras. Helaan napas terdengar dalam gubuk yang senyap. Hyukjae membenamkan diri di lekuk bahu Donghae yang terkulai di sisinya. Tangannya memeluk perut Donghae. Ia mendengar degup jantung yang kuat. Merasakan napas hangat Donghae yang tidak teratur membelai pipinya. Menikmati ciuman kecil lelaki tampan itu di kelopak matanya dan sepanjang pelipisnya. Ini seperti sensai malam-malam mereka. Semua masih sama. Semua begitu dikenalnya.

Donghae menyentuh dagu Hyukjae, memutar wajah lelaki manis itu, dan kembali mencium bibirnya. Ia menyukai kelembutan tubuh Hyukjae. Harumnya. Barisan gigi kecil. Geliat dan lengkungan yang membuatnya semakin bergairah. Sentuhan jemari Hyukjae di tubuhnya. Juga rintihan namanya penanda akhir percintaan mereka.

Hyukjae melepaskan bibirnya dan meringkuk dalam pelukan Donghae. Baru beberapa saat memejamkan mata karena kantuk, suara Haru menggema dalam telinganya. Eomma, Appa, Haru. Tulisan dan gambar itu membayang. Sosok Sohyun hadir dibenaknya. Kelegaan dalam dirinya hilang begitu saja. Wajah Donghae dalam matanya menggelap. Ia lekas melepas pelukannya dari pinggang Donghae, menjauhkan tubuhnya dan duduk di tepi bangku membelakangi lelaki manis itu. Matanya terpejam erat menyadari Donghae bukan miliknya lagi.

Donghae ikut beranjak. Ia meraih pakaiannya dan duduk di sisi lain bangku. Menyadari sikap Hyukjae, ia tahu lelaki manis itu menyesali apa yang baru terjadi. Begitu juga dirinya yang tidak mengerti mengapa lepas kendali. Ia mengurut kening dengan pandangan kegelapan. Selama beberapa saat, ia tidak bergerak. Mulutnya tidak mampu mengatakan apa-apa. Lidahnya terasa kelu dan suaranya tertahan di tenggorokan. Kepalanya tidak mampu berpikir. Suasana dingin yang hadir antara mereka menjadi berbeda.

Dengan gemetar dan masih membisu, Hyukjae mengenakan pakaiannya. Bagaimana ia bisa begitu larut dengan semua ini? Bagaimana dirinya bisa berubah agresif menginginkan Donghae dalam kemelut masa lalu mereka? Sebelum membenahi beberapa kancing, ia kembali duduk. "Apa yang baru saja kita lakukan, Hae?" suaranya bergetar.

Donghae menarik napas berat dan memejamkan mata sesaat. Kekesalan menderanya. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Hyuk?"

"Karena aku tahu apa maksudmu!" Hyukjae berkata tajam dan menusuk. Amarahnya meluap. Sekujur tubuhnya di lingkupi emosi karena frustasi. "Apa sebutan untuk permainan ini, Hae?" tanya Hyukjae sinis.

Donghae yang baru saja menarik resleting celana jeansnya mengernyit. "Permainan? Apa maksudmu, Hyuk?"

"Aku tahu kau sedang mempermainkanku! Kau belum puas menyakitiku!" Hyukjae semakin kesal. Seorang bajingan tidak akan pernah berubah menjadi malaikat! Ingin ia bisa menampar, meninju, memukul, atau menendangnya kuat-kuat. Sekujur tubuhnya gemetar menghadapi laki-laki ini.

"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu! Kenapa kau berpikir sesempit itu?" Donghae memandangnya lelaki manis dalam kegelapan itu tak percaya. Dalam suaranya, terdengar getar emosi.

"Aku berpikiran sempit, katamu?" Hyukjae merasakan amarahnya semakin naik. "Aku melihat kenyataan! Kau tiba-tiba datang lagi dalam kehidupanku, dekat denganku, sengaja mengajakku makan malam, lalu kehujanan dan berteduh disini karena tahu aku tidak dapat menolakmu!"

"Kau menyalahkanku, Hyuk? Kau pikir aku menjebakmu?" Donghae mendengus kesal, tak percaya dengan pendengarannya. Suaranya juga terdengar tajam. "Kita melakukannya karean kita menginginkannya! Dan, aku tidak pernah mempermainkanmu!"

Luapan emosi berubah menjadi desakan dalam dadanya. Hyukjae berusaha menahan napa. "Ya, kau sedang mempermainkanku! Dari dulu, kau selalu mempermainkanku! Karena aku tahu, saat bersamaku, pikiran dan perasaanmu bukan untukku!"

Donghae menarik napas dalam, berusaha meredakan emosinya. Ia merasa menjadi orang linglung dengan perkataan Hyukjae. "Kau tahu dari mana? Apa kau menyebut nama seseorang lain tadi?"

"Karena kau tidak pernah mencintai aku, Hae! Karena kau tidak pernah menganggapku ada!" Matanya memanas. "Kau meninggalkanku untuk Sohyun karena dia lebih berarti untukmu, kan? Karena kau bahagia bersama dia? Karena kau mencintai dia?" Matanya penuh air. Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir begitu saja bersamaan dengan amarahnya.

"Hyuk..." Donghae mencoba bergerak mendekat untuk meraih tangannya, tetapi ditepis kasar. Ia menghela napas berat. "Kau dengar aku dulu!"

"Aku tidak ingin mendengar apa pun!" wajah Hyukjae mengeras. Seorang penipu dan pengkhianat pasti mampu mengolah kata untuk membuatnya percaya. "Memang itu kan yang terjadi tadi? Kau bersamaku, tapi dalam matamu bukan aku?"

"Hyuk..." Donghae benar-benar kehilangan kata-kata. Raut wajahnya berubah bingung dan putus asa. Kesadarannya yang lambat mengaliri otaknya membuatnya tidak mampu berpikir. Ia frustasi.

Hyukjae berusaha menguasai diri. Dihelanya napas dalam-dalam. "Aku tahu dari dulu kau Cuma menganggapku mainan! Setelah bosan, kau tinggalkan aku begitu saja! Bodohnya, saat bersama kau dan Haru, aku berharap kau mulai melihatku sebagai aku, tapi aku salah!" Air matanya menngalir.

"Hyuk, dengarkan aku dulu..." Donghae ingin meraih lelaki manis itu kedalam pelukannya. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Rasa sakit mulai menjalari hatinya mendengar emosi berbalut isakan lelaki manis itu.

"Tidak! Aku salah menilai kau sudah berubah, Hae! Kau tetap kau!" bibirnya bergetar menahan tangis. "Kau egois! Kau yang tidak pernah mengerti aku! Kau yang tidak pernah peduli denganku!"

Donghae tertegun. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi pasti tidak ada yang benar diucapkannya saat ini. Hanya bisa mendengar dengan kecamuk dalam pikirannya. Hanya mendengar ucapan masa lalunya seperti bumerang dalam telinganya.

"Kau brengsek!" tanpa peduli apa pun lagi, Hyukjae membuka kasar pintu gubuk dan meninggalkannya. Hujan masih deras. Guntur masih terdengar. Semua berubah hening dan sunyi penuh ketakutan, kekecewaan, dan ketidakmungkinan.

.

.

.

"Brengsek!" rutuk Donghae. Ia tidak pernah merasa begitu kecewa terhadap dirinya sendiri. Matanya menatap kosong keluar gubuk, menyisakan tetes-tetes hujan yang telah reda. Gila! Tolol! Donghae terus memaki dirinya sendiri. Tangannya memukul-mukul keras bangku unttuk meredakan frustasinya.

Kepalanya terasa berputar-putar. Tubuhnya bergetar oleh rasa sakit yang menusuk. Hyukjae tidak membiarkan dirinya menjelaskan bahwa bersamanya, ia merasa jantungnya berdetak kembali, merasa menemukan hidupnya dan merasa di sana pencariannya harus berhenti. Hyukjae adalah bagian terpenting dari segala yang hilang dari hidupnya.

Ia mencintai Hyukjae. Sangat mencintainya. Dan, memang hanya lelaki manis itu. Sejak kali pertama melihat mata hitam pekat itu, sejak mencium aroma manis tubuhnya, sejak berdekatan dengannya membuatnya begitu tergila-gila. Kehidupannya lebih kosong saat mereka berpisah. Tidak ada yang menunggunya pulang kerja sampai tertidur di teras. Tidak ada kopi untuknya. Tidak ada makanan kesukaanya. Tidak ada yang menemaninya di ruang kerja, meski hanya untuk melihatnya.

"Karena menurutku, ketika seseorang mengatakan 'yes, I do' dia tahu lelaki itu yang bisa membuatnya bahagia."

Donghae ingin meninju kepalanya sendiri. Dirinyalah yang telah menghancurkan Hyukjae. Ia meninggalkan Hyukjae untuk seseorang lain. Ia mengabaikan Hyukjae untuk sesuatu yang tidak pasti dan sekarang, ia tidak mungkin mengharapkannya kembali. Hal ini tidak adil bagi Hyukjae. Ia meninggalkannya dan berharap keajaiban? Mustahil!

Ia ingin berteriak kencang. Menyesali kenapa banyak hal yang baru ia sadari sekarang. Kenapa ia tidak pernah benar-benar membaca saat Hyukjae masih menjadi miliknya? Kenapa memilih meninggalkannya? Kenapa ia tidak pernah merakasan lelaki manis itu benar-benar mencintainya? Kenapa ia tidak pernah tahu lelaki manis itu begitu mengerti dan peduli padanya? Kenapa?

Ia merasa semua begitu gila. Mungkin, dirinya pun memang sudah gila. Gila karena hidupnya tidak berjalan nirmal. Gila karena tidak ada sesuatu hal pun yang benar. Gila karena keadaan sudah berubah ketika ia begitu menginginkan Hyukjae kembali dan lelaki manis itu tidak bisa mengerti. Donghae menumpukan siku di paha, lalu meremas rabutnya kuat-kuat.

Laki-laki ini merasakan kegelisahan, ketakutan, dan kecemasan mengaduk-aduk hatinya. Matanya terpejam, sementara otaknya bekerja keras memikirkan cara mengatasi semua ini. Hatinya terus bertanya-tanya apa maksud dari kenyataan ini. Tangannya masih meremas rambutnya, menguat. Desau angin malam mengisi keheningan yang tercipta di gubuk itu.

.

.

.

Hyukjae bersandar di pintu ketika sampai di kamar. Ia berusaha mengatur napas seraya memandang Haru yang terlelap di samping Sungmin. Dadanya begitu sesak. Bagitu ngilu. Pikirannya terserap pada peristiwa yang tak pernah dibayangkannya dan pada rentetan masa lalu. Ia merasa sangat kacau.

Donghae bukan lagi miliknya. Lelaki itu telah memutuskan meninggalkannya untuk Sohyun dan Haru. Telah memilih mengakhiri. Telah memorak-porandakan hidup dan hatinya. Dunia mereka benar-benar telah terpisah. Hyukjae memejamkan mata kuat-kuat. Mengapa ia harus bertemu dengan Donghae lagi? Mengapa ia menaruh kembali harapan lamanya pada lelaki itu?

"Aku tidak bisa meninggalkan Sohyun, Hyuk."

"Haru mau ada Eomma disini, Sonsengnim."

Mata Hyukjae memanas mendengar gaung itu. Bendungannya penuh. Katakan, Hae, kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa menyiksaku? Hatinya bagai dicabik-cabik. Detak jantungnya terasa seperti hantaman keras bertubi-tubi. Dari awal. Donghae memang bukan untuknya. Donghae tidak pernah benar-benar mencintainya. Tidak ada jalan penghubung bagi mereka, tetapi ia memaksa membuat jalan itu.

Hyukjae segera masuk ke kamar mandi ketika tidak dapat menahan lagi air matanya. Tubunya merosot ke lantai, terisak di antara kedua lututnya.

Bodoh! Bodoh! Hyukjae tahu betul siapa Donghae, tapi membiarkan dirinya masuk ke jeratannya untuk kali kedua. Donghae sedang membuat permainan yang tidak menjadikan lelaki itu penetu arahnya, melainkan Hyukjae. Dengan sangat baik, Donghae memainkan perannya hingga suatu hari bisa memutarbalikkan Hyukjae sebagai tersangka utama. Bajingan tengik! Amarah Hyukjae meluap-luap. Dadanya semakin terasa penuh oleh gelombang berbagai emosi.

Seumur hidup, ia tidak pernah jatuh cinta, selain kepada Donghae. Pada pesonanya, pada mata pekatnya, pada sikapnya, pada bentuk perjuangannya, pada setiap perhatiannya. Kehadiran Donghae dalam hidupnya lagi, membuatnya tidak dapat berhenti mencintainya. Ia tidak bisa menghindari perasaanya sendiri. Ia membiarkan Donghae masuk kedunianya, membiarkan dirinya jatuh cinta kepada Haru, membiarkan masa lalu dan ini berbaur. Tapi, mengapa? Mengapa ia begitu ingin Donghae berada di dekatnya meskipun tahu hati lelaki itu tidak ada padanya? Ia tahu bahwa tidak bisa mengharapkan apa pun dari seseorang yang pernah mengkhianatinya. Donghae hanya menjadikannya pelampiasan. Hanya menjadikannya sesuatu yang lain dalam bayang-bayang Sohyun.

"Aku mencintaimu. Selalu jadi rahasia antara aku dan kau."

Kenapa Donghae mengatakan mencintainya dulu, tetapi cintainya tidak benar-benar nyata? Kenapa Donghae mengkhianatinya jika memang mencintainya? Apakah karena khilaf—seperti semua alasan?

Hyukjae bangkit menghampiri westafel dengan sisa kekuatannya. Ia bersandar di westafel dan menatap bayangannya di cermin. Bayangan seorang lelaki manis yang tampak sangat berantakan dan frustasi terpantul di sana. Semakin menatap bayangannya sendiri, kemarahan dan keputusasaan menyelimuti hatinya menyadari kebodohan yang baru saja ia dan Donghae lakukan. Mengapa ia begitu tolol? Berbagai emosi bergolak di dalam dadanya. Kedua tangannya mengepal. Hingga buku-buku jarinya memutih. Donghae tidak mungkin melakukannya karena cinta. Laki-laki itu mencintainya, hanya mempermainkan perasaannya!

Air mata amarah menjadi kilat di mata Hyukjae. Ia kesal pada diri sendiri, sekesal yang dirasakannya terhadap Donghae. Kemana kewaspadaannya? Kemana benteng pertahannya? Kemana rasa sakit hati yang dulu membuatnya begitu membenci laki-laki itu? Kemana?

Perlahan-lahan, Hyukjae membuka keran dan membasuh wajahnya. Walaupun ia sadar, air dingin tidak dapat melegakan perasaanya. Ingin ia meninju lelaki manis itu di dalam cermin atau memaki keras-keras karena kehilangan akal sehatnya saat bersama Donghae. Tidak ada harapan di antara mereka. Tidak ada kemungkinan apa pun.

Air keran dibiarkannya terus mengalir, sementara Hyukjae memejamkan mata, berusaha mengatasi gejolak gejolak hatinya. Bayangan-banyangan kembli menyapu-nyapu benaknya di antara keraguan dan ketakutannya. Dingin dinding kamar mandi menyelimutinya, membekukan sekujur tubuh. Kepedihan yang tajam menusuk-nusuk batinnya. Hening menebarkan kehampaan. Otaknya kosong. Ia tidak sanggup memikirkan atau merasakan apa pun. Kepalanya berdenyut. Tubuhnya nyeri. Seluruh selnya diremas-remas. Tidak ada cerita indah seperti dongeng untuk dirinya dan Donghae. Dan. Semua memang sudah berakhir.

.

.

.

TBC

.

.

Ada yang masih ingat remake novel ini? Maafin aku yang ngingkarin janji, dulu bilangnya pas awal tahun baru mau di update, tapi malah ketunda lama. Entah kenapa tiba-tiba rasa malas ngetik dateng ke aku. Aku ini memang plin-plan, jadi sekali lagi aku minta maaf ya. Untuk bab selanjutnya aku usahain update cepet.

Maaf juga karena sepertinya bab ini banyak typo sama gak nyambung masalah tempatnya /bow/

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey