Risa minta maaf kemarin sempet down. Pulang kerja melihat email ada perang review antara Goryukanda dengan flamers hanya karna gara2 GONE yang udah pernah Risa jelasin kenapa dihapus diungkit-ungkit lagi dan dibandingin dngan BTY itu rada kesel liatnya.
Mohon bertanya di review atau PM Risa jika ada uneg-uneg agar tidak ada kesalah pahaman seperti itu lagi. tolong perhatikan setiap note yang Risa buat karena biasanya ada point penting disana.
Terima kasih untuk semua support, nasehat dan dukungan untuk kami. akan kami balas dengan fic BTY, IY dan GONE yang akan dipublish setelah ini. Risa bingung gimana balas semua reviewnya dan memutuskan untuk balas review chp 12 saja. Tapi percayalah, semua review kalian udah nyangkut semua di hati Risa *ceileehh*
Lily flower : Pendek? O.O astaga ini udah paling panjang,
Qian zhang : Penasaran ya? Mau satu chap spesial mereka?
Icha : Itu bukan kritikan, itu penghinaan apalagi yang dihina adalah Risa. Lemon? Sabar ya :D
Marukocan : Risa usahain cepet update kok, meski yang chap ini lama -_- iya, Risa usahain ga peduliin tu Guest kok :D
Alifa cherry blossom : Haii :) haha iya Risa usahain ngabaikan dia kok, btw Sasu akan buat kmu lebih jatuh cinta ama dia loh *ditonjoksaku*
Tafis : Oh, no, kalo itu beneran terjadi Risa bisa bener-bener bunuh Sui :D
Kazuhiko ebina : Ternyata kurang mengesankan ya -_- hahaha NejiSaso bakalan ada chap tersendiri nantinya. Siap deh!
Miyoko via : Mereka ga saling tertarik kok, cuman si Neji aja yang baru suka ama Saso :)
Legolas : Haii :D Neji kan lagi nahan Saso biar dia ga tambah 'panas' kan gawat kalo masalahnya tambah berabe kalo Neji juga ikut campur *nyambung?* tendang aja, tendang!
Kaze seiza : Waa seriusan? Thanks loh yaa :D ayo dong review mulai sekarang, jangan silent reader ntar Risa malah nurun tulisannya
Hikaru sora14 : Penasaran dengan mereka berdua? Mau chap spesial mereka kah? :p
Nkn0624 : Siap!
Mencium petir : Risa usahain cepet updater terus kok :D mau tahu bagaimana mereka berdua? Mau chap spesial mereka? *promosii* serius baca semua O.O thankss banget udah dijadiin kesayangan *pelukpeluk*
Aki yuki haru : Mau chap spesial NejiSaso? :D Risa usahain update kilat terus kok, tenang ajaa
Hanahimechan : SasuSaku jadian, hore!
Mina jasmine : Sasu tidak taubat, dia cuman jatuh cinta loh. Soal Kata2 Neji, dia naksir Saso jadi seolah mengatakan bahwa Saku adalah adiknya jika Saso menjadi kekasihnya.
Fafa haruno : Baik? Cuman ga tegaan Risa ini :D soal Gone, Risa putuskan untuk rubah semuanya, kecuali tokohnya. Judul sama dengan cerita yang berbeda, nantikan setelah BTY yaa
Narnialow2003 : Gomen Risa kemarin2 ga sempet bales *tunduktunduk* Soal NejiSaso, Saso mengerti jika Neji naksir dia, jadi dia akan mempertimbangkan Neji untuk menjadi kekasihnya. Thankss buat kakoi desu-nya :D jangan dibayangin darahnya, Risa juga jadi lemes nih *plak!* iyaa Risa abaikan komentar ga masuk akal kayak gitu kok, thanks udah support yaa
Uchiha ratih : Saku kan sayang Saso, ga sampai benci kok :D
Nyaa : Risa usahain buat update kilat terus kok :) thanksss yah
Eysha cherry blossom : Saso tidak akan normal, karena tidak seru jika semua gay menjadi normal *alasansepeleabiss* jujur,Risa belum tahu kapan akan tamatnya karena tidak direncanakan tapi semoga saja tidak sampai 15
Aiko asari : Sama-sama :D tertarik dengan NejiSaso? Mau chap spesial mereka? *promosii* Risa belum ada rencana mau tamat di chap berapa, semoga saja ga sampe 15 an. Gone akan pakai judul sama, tokoh yang sama dan cerita berbeda, tapi dijamin seru juga kok :D
Uchiha yuki cherry : Sama-samaa :D penasaran dengan NejiSaso? Mau chap spesial mereka?
Haruchan : Kan buatnya pas selesai kerja, jadi ga ketauan bos :p hahaha Neji naksir Saso itu di luar rencana dan jrengg! Ternyata mereka cocok *_* raga?! Oh, no! dia cuman temen kerja rese yg suka baca fic kok :D bener2, Risa terharu haruchan ternyata mengerti dan lebih dewasa dari guest itu, thankss banget udah ngertiin ya *pelukpeluk* psst, raga dan goryukanda beda orang. Goryukanda kembaran Risa.
Arufi rizuki yoshida : Tenang, disini ga ada adegan Yaoi kok, cuman sebatas kissing doang paling. Kok mewek? Liat darah ya? Risa belum bisa pastiin, tapi udah mendekati end kok :D
Febri feven : Belummmm, masih dua atau tiga chap lagi mungkin :D
Hatake ridafi kun : Hahahaha! Risa emang sengaja :p btw, Risa ga janji chap ini bakalan sepanjang chap kemarin loh…
Natsu : Wah teriakannya *_* Yep, NejiSaso! Risa usahain update kilat terus kok :D
Chi-chan uchiharuno : Penasaran dengan NejiSaso? Mau chap spesial mereka? *promosii* pendek?! O.O itu udah chap terpanjang loh, yep, lagi otw ke ending nih!
Lhylia kiryu : Ternyata ada adegan yang kurang mengesankan ya *pundung* review lagii :D
Piscesaurus : Siap! Tapi masih di chap selanjutnya yaa
Chibigami : Hahaha Risa ga bisa janji, karna kalo dipanjangin keliatan maksa dan keliatan kayak sinetron :p mereka udah jadian di fic ini kok, *spoiler* huhu ga bakat buat adegan mengesankan nih Risa :D
Kevinlegnard : Penasaran dengan NejiSaso? Mau chap spesial mereka? *promosii*
Nhanjung : Yep. Sasu mencium Saku! *banzaii* lemonnya… tunggu ya di chap selanjutnya! :D
Gilang363 : Aih, akhirnya ada yang tahu manfaat dari fic ini! *pelukpeluk* thanks yaa :D
Akasuna sakurai : Wahaha terlalu banyak gay yang berubah haluan, ntar ga seru :p ngga dong, Saku kalo boboan di ranjang dan ga boleh gerak entar ceritanya juga tidur
Simeji runacula kushii : Penasaran dengan NejiSaso? Mau chap spesial merekakah? *promosii* ditunggu reviewnya!
Rachel-chan uchiharuno hime : Risa juga ikutan ketawa kalo banyak readers yang suka adegan NejiSaso loh :D mau chap spesial mereka? *promosii*
Francoeur : Thanksss :D
Cheinnfairy : Risa juga mikir loh, tau2 kok bisa kayak gini O.O
Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC, TYPO, YAOI, GAJE, ALUR KECEPATAN, DLL…
# # # # #
Angin yang berhembus mengisi kekosongan diantara Sasuke dan Sakura yang saat ini berada di taman dalam rumah sakit. tidak ada yang membuka suara sejak mereka tiba di tempat itu, hanya tatapan bersalah Onyx milik Sasuke melirik ke lengan yang berbalutkan perban milik Sakura.
"Maafkan aku," gumam Sasuke
Sakura menoleh memiringkan kepalanya,"Karena aku terluka? Sekarang kau mengerti bagaimana rasanya saat aku melihatmu terluka jika berkelahi di sekolah, bukan?"
"Itu berbeda Sakura. Ini… karena aku."
"Sama saja, Sasuke."
Sasuke menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah ia merasa kacau. Banyak pernyataan yang harus ia keluarkan dari mulutnya, banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan pada Sakura, tetapi semua itu tertahan di ujung lidahnya.
Rasa bersalah mampu membuatnya terdiam dan tidak dapat mengeluarkan semua itu.
"Terima kasih."
Sasuke menoleh dan melihat Sakura tersenyum simpul padanya. senyuman yang pernah gadis itu tunjukan padanya dulu saat Sakura mengobatinya ataupun menjahilinya.
"Kau dan Sasori-nii sudah menolongku, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kalian tidak datang. Sepertinya aku-"
"Kau salah," potong Sasuke cepat
"Hah?"
"Kau salah, Sakura. Aku tidak tahu jika… kau menghilang. Jika saja Sasori tidak menyadari bahwa kau belum pulang dan menghubungiku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu."
"Dan? Tetap saja Itu semua tidak mengubah kenyataan yang ada untuk sekarang bahwa aku baik-baik saja. Kalian menolongku, itulah kenyataannya."
Sasuke menatap emerald Sakura yang menatapnya,"kau tidak baik-baik saja! Masalah ini terjadi karenaku! Selama kau bersama denganku, kau akan terus mengalami hal seperti ini!"
"Aku akan belajar cara untuk membela diri."
"Aku gay, Sakura! Kau tahu itu, bukan?!"
Sakura mengangguk,"Aku tahu. kau gay, tetapi kau juga manusia."
"Jarang sekali aku mendengar komentar seperti itu."
"Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang lain, tapi aku tidak masalah denganmu atau siapapun yang seorang gay. dan kenyataannya, aku jatuh cinta denganmu," ucap Sakura
Sasuke menatap emerald Sakura, mencari sebuah kesungguhan Sakura disana. Tetapi tetap saja, yang ia temukan lebih dari itu. lebih dari semua wanita yang melihatnya karena cetakan luar dirinya. Sakura mengetahui dirinya seutuhnya dan menerima itu semua.
Tetapi, yang membuat Sasuke merasa takut untuk menerima Sakura, bagaimana jika masalah ini kembali terulang?
Tiba-tiba Sasuke merasakan tangannya disentuh oleh kulit halus Sakura. Ia merasakan kelembutan disana dan mata emerald yang menatapnya teduh. Senyuman Sakura yang menghangatkan hatinya membuat Sasuke merasa luluh.
Entah atas dorongan apa, Sasuke memajukan tubuhnya mendekati Sakura hingga tiap senti jarak tereliminasi disana. Perlahan, Sasuke dapat mencium harum tubuh Sakura yang semakin mendekatinya. Harum rambutnya yang tersapu oleh angin malam dan tanpa butuh waktu yang lama, kelembutan akan bibir gadis itu kembali ia rasakan.
Basah namun manis, itu yang Sasuke rasakan dari Sakura. Berbeda saat ia melakukannya bersama pria teman 'bermainnya' selama ini. tubuh Sakura yang seorang wanita sangat lembut dan mengundang untuk ia sentuh lebih jauh.
"Sasuke… " bisik Sakura
Tanpa memperdulikan bisikan yang terdengar menggoda di telinga Sasuke, ia mencium Sakura lebih dan lebih lagi. Ia tidak perduli jika setelah ini Sakura akan membencinya. Karena saat ini Sasuke membutuhkan gadis itu, membutuhkan bibirnya yang manis dan harum tubuh gadis itu untuk dihirupnya.
Entah sejak kapan, tangan Sasuke memeluk tubuh Sakura tanpa memperdulikan erangan gadis itu saat ia menyentuh perbannya. Seolah ia terhisap dan semakin terhisap lebih jauh disana.
Hingga akhirnya kebutuhan oksigenlah yang membuat Sasuke melepas Sakura. Dengan nafas terengah-engah dan benang saliva mereka masih saling menyambung, Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang sudah memerah seperti yang pernah ia lihat pertama kali menolong Sakura.
"Kenapa… kau menciumku?"
Sasuke menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu. entah kenapa… aku merasa ingin mencicipinya. Maaf."
"Sebelumnya kau pernah menciumku juga saat aku menutup mata, bukan?"
"Sakura, maaf… "
"Kenapa kau meminta maaf terus?"
Sasuke memalingkan wajahnya,"Aku… entah sejak kapan, aku tertarik padamu. Sementara aku gay! aku… tidak pantas untukmu."
Sakura memeluk Sasuke. Merengkuh pria itu ke dadanya dan membenamkan wajahnya ke rambut biru gelap Sasuke seolah menyembunyikan wajah memerahnya.
"Aku mencintaimu. Kau dengar?"
Sasuke mengangguk.
"Untuk yang ke sekian kalinya, aku tidak perduli kau gay, banci atau apapun itu. karena kau, Uchiha Sasuke lah yang kubutuhkan. Pria gay itulah yang membuatku jatuh cinta."
"Dan pria gay inilah yang membuatmu terluka."
"Tidak! kau tahu Suigetsu yang melakukannya, Sasuke! Ah, aku tidak mau mengulang dialog yang sama lagi. Sekarang katakan, apakah kau mencintaiku, Uchiha Sasuke!"
Sasuke memperhatikan Sakura. Mata jernih namun teduh gadis itu yang saat ini menatapnya penuh dengan tuntutan dan keseriusan disana membuat Sasuke merasa geli sendiri. Ia tertawa keras hingga membuat Sakura sedikit terlonjak dari tempatnya duduk.
"Kenapa kau tertawa?!"
"Hahaha! Sakura, aku tidak pernah menyangka untuk mendapatkan sebuah pernyataan cinta dari seorang wanita. Apalagi jika wanita itu sudah mengetahui aku adalah gay. kau aneh sekali!"
"Well, sorry for being a weirdo!"
Sasuke yang masih menahan tawanya melirik Sakura yang mengerucutkan bibirnya seolah ia tersinggung oleh ucapan Sasuke barusan dan itu membuatnya benar-benar merasa gadis di sampingnya adalah sebuah hal yang pernah Itachi rasakan saat ini.
Kebahagiaan.
"Jadi, kau tidak akan mempermasalahkan kelainanku?"
Sakura memutar mata,"Pertanyaan dengan inti yang sama, lagi!"
"Apakah kau tetap akan menyukaiku saat kau tahu aku suka merokok, berkelahi dan minum-minum di klub malam?"
"Aku pikir itu adalah kebiasaan preman, dan kau adalah preman. Jadi ya, aku tetap akan menyukaimu."
"Kau yakin?"
"Tunggu, kau tidak menggunakan obat, bukan?" tanya Sakura curiga
Sasuke tertawa keras untuk kedua kalinya dalam beberapa menit memubuat Sakura membuang muka kesal.
"Tertawalah sepuasmu!"
"Maaf, maaf. Aku tidak menggunakan obat terlarang, Sakura. Apakah aku terlihat seperti itu?"
Sakura menoleh dan memperhatikan Sasuke lekat-lekat. Pria itu tampak segar bugar dan matanya terlihat normal sama sekali, tidak terlihat seperti para pecandu. Bahkan kulit tubuhnya tidak ada bekas seperti suntikan, yang ada hanyalah beberapa bekas luka berkat perkelahian.
"Baiklah, aku sudah mengerti sekarang. Katakan, apakah kau mempunyai perasaan yang sama padaku, Sasuke? Sedikit perasaan untukku sangat berarti bagiku."
Perlahan, Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura dan membisikkan sesuatu disana membuat Sakura mematung dengan wajah memerah. Gadis itu tidak bergerak sama sekali hingga membuat Sasuke kembali mencuri ciuman dari gadis itu.
Entah dari mana Sasuke mendapatkan keberanian seperti itu. sebelumnya, ia bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukannya bersama wanita. Ia mual, tetapi seperti yang Itachi katakan padanya. ia merasa sangat berbeda saat memikirkan dan melakukannya bersama wanita yang ia cintai.
"Aku juga mencintaimu, woman."
# # # # #
Beberapa hari berlalu dan musim ujian telah tiba.
Sasori berhasil mengerjakan ujiannya dengan baik dan begitu pula untuk Sasuke dan Sakura, meskipun gadis itu merasakan kesulitan dengan lengannya yang terkadang masih terasa sakit jika ia gunakan berlebihan.
Selama itu, Sakura tidak pernah menanyakan perihal penyimpangan seksual kepada Sasori agar kakak tersayangnya itu tidak terganggu konsentrasinya dengan ujian dan berusaha untuk bersikap normal seperti biasanya di hadapan semua orang.
Dan saat ini, tiba saatnya Sakura menanyakan tentang hal yang selama ini mengganjal pada hatinya tersebut.
"Sasori-nii, aku mau bicara."
Sasori berbalik dari tempatnya duduk dan mengangguk. seolah sudah mengetahui apa yang akan Sakura bicarakan padanya. setelah Sakura duduk di sebelah Sasori, ia merasa gugup. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat bersama Sasori.
"Kau mau menanyakan apakah aku gay?"
Sakura tidak menjawabnya, tetapi perlahan ia mengangguk.
"Aku gay."
Mendapat pernyataan secara langsung seperti itu membuat Sakura mengangkat kepalanya dan menatap hazel Sasori. Wajah pria itu tetap datar dan tidak menyiratkan apapun disana.
"Maaf, aku takut kau akan malu dan membenciku."
"Kau bercanda, Sasori-nii? Mana mungkin aku membencimu!"
"Selalu ada kemungkinan, Sakura."
"Tetapi itu tidak merubah kenyataan bahwa kau adalah kakakku. Oh, kenapa semua gay berpikiran sama? Sasuke juga mengatakannya padaku saat di rumah sakit dan berusaha untuk mendorongku agar menjauhinya."
Sasori tersenyum simpul dan menepuk kepala Sakura,"Ini berbeda. Ini kekhawatiran seorang kakak."
"Aku tahu. tapi, Nii-chan, aku menerimamu apa adanya. Aku menyanyangimu! Sasuke juga gay, tapi dia bisa mencintaiku. Kau juga pasti bisa berubah!"
"Aku tidak yakin."
Sakura mengangkat alis,"Kenapa tidak?"
Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah senyum misterius Sasori yang membuat Sakura semakin merasa mati kutu. Ia benar-benar penasaran dengan segala hal tentang kakaknya.
"Jadi, nii-chan sudah punya kekasih? Maksudku, kekasih 'itu'?"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Entahlah. Hanya menebak. Kau tidak pernah menceritakan apapun padaku dan selalu menyimpan semuanya sendiri. Oh! Apakah kau pernah berkencan dengan Sasuke? Mengingat aku melihat kau memakain pakaian wanita di ponsel Suigetsu, kau sangat cantik!"
Sasori memutar mata,"Ceritanya panjang. Dan kami tidak berkencan, meskipun aku pernah berharap sekali."
"APA?!"
"Itu masa lalu."
"Tidak! ceritakan padaku!"
"Sakura, tidak baik-"
"Nii-chan, aku mengatakan segalanya padamu. Aku tidak akan merasa cemburu atau apapun itu. aku janji!"
Sasori menghela nafas,"Ya, dulu aku menyu-, ah, mencintai Sasuke. Tapi setelah kau mengatakan kau mencintainya juga, aku berpikir ulang."
"Hanya itu?"
"Hanya itu," ucap Sasori,"Sisanya, bisa kau tanya sendiri pada Sasuke."
"Tunggu, jadi bagaimana kalian saling kenal? Bukan karena Sasuke terkenal di sekolah, bukan? Aku yakin ada alasan lainnya."
Sasori diam untuk beberapa detik. Kebiasaannya saat berpikir sesuatu tanpa memperdulikan orang yang bertanya menunggu dalam rasa penasaran yang menyiksa.
"Apakah kau tahu Sasuke suka pergi ke klub malam?"
Sakura mengangguk kemudian seolah menyadari sesuatu, ia membulatkan mata emeraldnya terkejut.
"Jangan katakan malam itu kau benar-benar menguntitnya! Oh, pantas saja kau mengatakan minum alkohol!"
Sasori mendesah,"Mengikuti, Sakura. Dan ya, saat itu aku minum sedikit."
"Kau sering ke tempat seperti itu?"
"Tidak terlalu. Kau tahu aku benci keramaian. Hanya saat aku butuh… kau tahu, selingan."
"Jadi, kau sekarang tidak mempunyai rasa apapun pada Sasuke?"
"Tidak. dia sudah kuanggap adikku. Setidaknya ia akan menjadi adikku."
Wajah Sakura memerah dan menyembunyikkannya dengan kedua tangannya membuat Sasori tersenyum simpul. Ia mengelus rambut Sakura yang lembut dengan kasih sayang menikmati bagaimana rasa menggoda adiknya hingga memerah.
Hingga Sasori merasakan getaran pada tubuhnya yang berasal dari ponsel yang sedari tadi berada di saku celana miliknya. Ia mengambilnya dengan malas dan membuka pesan yang masuk kemdian membacanya.
Sasori mendesah melihat siapa pengirim pesan tersebut beserta isinya. Ia kemudian menoleh pada Sakura.
"Apakah kalian libur besok?"
"Kalian?" tanya Sakura bingung
"Kau dan Sasuke."
"Oh, Ehm…. Ya, besok sabtu."
"Mau pergi ke suatu tempat?"
Sakura memiringkan kepalanya,"Kau mengajak kami jalan-jalan?"
"Bukan aku, tapi Neji."
"Neji?"
"Ingat pria yang mengantarkan kita ke rumah sakit?"
Sakura menganggukkan kepalanya mengingat siapa juga pria yang telah ikut menyelamatkannya saat ia tertahan di rumah Suigetsu. Saat itu ia masih shock dan tidak terlalu mengingat pria tersebut, bahkan saat ia kembali dari taman dalam rumah sakit bersama Sasuke ia tidak melihat pria itu dimanapun.
"Dia teman Nii-chan?"
"Mungkin. Dia teman Sasuke dan bartender klub malam."
"Perkumpulan yang tidak biasa," ujar Sakura
"Kekasihmu yang tidak biasa," sindir Sasori
"Dan dia luar biasa!"
.
Sasuke pov
Neji dan Sasori?
Aku ingin sekali melayangkan tinjuku pada Neji mendengar ia serius mengincar Sasori. tapi mengingat pria itu memiliki kelebihan tersendiri dengan mengerahkan orang-orangnya, lebih baik aku diam dan melemparkan tatapan kesal padanya. beraninya dia serius mengincar Sasori!
Semoga Sasori dan Sakura tidak berpikir yang aneh-aneh terhadapku karena sudah memiliki teman bi sepertinya. Pria berbahaya yang berlagak bagaikan bartender! Hah, aku ingin sekali berteriak pada semua orang siapa pria ini sebenarnya.
Terlebih pada Sasori.
Pria itu… aku tidak tahu jika Sasori akan dapat mengontrol Neji atau sebaliknya seperti yang Neji lakukan pada pasangannya di luar sana. Aku tidak ingin Sakura khawatir kakaknya yang ia sayangi bersama dengan seorang bartender dan berakhir di pemakaman.
Pria seperti Neji bisa mendapatkan apa yang ia mau hanya dengan memutar sedikit otak dan memperalat orang-orang yang ia punya. Ia bahkan memaksaku setelah Sakura keluar dari rumah sakit tentang kabar bagus yang ia nantikan.
Dan ya, ia mendapatkannya. Ia memaksaku dengan cara terkejam yang tidak ingin kukatakan. Ia membuatku mengatakan seluruh kejadian yang kualami di taman dalam rumah sakit bersama Sakura. Itu benar-benar… memalukan.
"Teme! Kita mendapatkan libur besok dan aku mulai bosan berada di Konoha. Hinata mengusulkan untuk liburan bersama, bagaimana menurutmu? Kau dan Sakura-chan sudah jadian, kenapa tidak double date saja?"
"Kau melupakanku, Naruto?" timpal Shikamaru
Naruto menoleh,"Kau belum jadian dengan ketua osis galak itu, pemalas! Berhentilah menggodanya dan katakan perasaanmu secepatnya! Jenius sepertimu harus diajarkan tentang mendekati wanita?"
"Orang jenius berpikir seperti ini, Apa asiknya mendapatkan sesuatu yang mudah sepertimu?"
"APA?!"
Aku menghela nafas melihat adu mulut mereka tentang percintaan wanita-pria lagi. Oh, aku sudah menjalaninya, tapi tetap saja terasa aneh jika aku bergabung dengan topik yang menyangkut hal seperti itu.
Entah kenapa, aku tidak terlalu suka membicarakannya. Rasanya hal itu tetap membuatku mual, kecuali aku membayangkan bagaimana Sakura bersamaku. Ia seperti obat dengan merek khusus untukku. Ya, so drama. I know.
"Aku setuju."
Tiba-tiba saja Neji yang sedari tadi melayani tamu-tamu datang dengan seragam bartendernya ke hadapan kami. ia tersenyum menyebalkan yang entah kenapa membuatku mendapatkan firasat buruk seperti kalimat selanjutnya yang akan ia katakan.
"Apa?" tanyaku
"Naruto, kuijinkan kau membawa Hinata berlibur besok. Sasuke, kau akan membawa Sakura untuk liburan kita besok!"
"Serius? Wohoooo!" sorak Naruto
Aku mengerutkan alis,"Kita?"
Ia menyunggingkan senyuman,"Siapa lagi? Aku juga ikut dan aku sudah mengajak Sasori. Bukankah aku perencana yang hebat?"
Oh, aku mengerti.
Dia memanfaatkan kami untuk mendekati Sasori!
"Kau… apakah kau serius dengan Sasori?"
"Tentu saja. Dia pria gay termanis yang pernah kulihat."
"Bagaimana dengan para pria dan wanitamu di luar sana, brengsek?!" geramku
Ia menghela nafas,"Dengan sangat disayangkan, aku memutuskan semuanya."
Apa katanya?
"Sepertinya kau keberatan akan itu," sindirku
"Oh, untuk pria mungil manis itu, aku bersedia untuk melepaskan segalanya. Termasuk pekerjaanku ini."
Aku membulatkan mataku mendengarnya. Terkejut dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan. Itu adalah hal terakhir yang kukira tidak pernah kudengar dari mulut seorang Neji!
"Kau… yakin?"
"Tentu saja."
Sakura, sepertinya kau tidak akan mempunyai keponakan besok. Aku harap kau mau memakluminya.
Tentang Sasori, aku tidak tahu jalan pikiran pria itu. aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depan. Pria itu sungguh seseorang yang di luar dugaan. Mungkin hal inilah yang menarik minat Neji.
"Jadi, kau sudah memutuskan akan kemana kita?" tanya Naruto
"Tentu saja. Untuk pria manis itu, aku bersedia melewatkan hari teramai di klub malam ini dan berlibur bersamanya dengan menggunakan salah satu villa ku di sebuah bukit."
"Wow, kau benar-benar yang terbaik, Neji! Kita akan menggunakan karavan milikmu, bukan?"
Yeah, Neji cukup kaya untuk memiliki karavan miliknya sendiri. Kuharap itu bukan milik orang lain yang ia sita dengan kejamnya.
"Tentu saja, Naruto. Kalian hanya butuh bawa pasangan masing-masing dan berkumpullah jam enam pagi di depan klub malam ini."
Neji benar-benar seperti apa yang ia katakan.
Perencana yang baik.
Dan pria yang seenaknya mengatur dan mengubah jadwal seseorang hanya untuk menuruti kemauannya.
Tetapi, jika besok aku bisa bersama Sakura setelah seminggu ini kami tidak memiliki kemajuan, aku merasa sangat senang. Perasaan yang tidak pernah kurasakan saat bersama wanita.
"Teme, teme."
Aku menoleh pada Naruto yang mendekatkan bibirnya pada telingaku seolah ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia.
"Aku punya barang bagus untukmu dan Sakura."
Aku memutar bola mata,"Jangan katakan kondom."
"Tidak! kau punya barang itu sendiri, aku tidak akan memberimu apa yang sudah kau punya!"
"Lalu apa?" tanyaku penasaran
Jarang sekali Naruto melakukan hal seperti ini untukku.
Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celana miliknya yang ternyata adalah benda kecil yang kusebut flashdisk.
"Kau memberiku flashdisk? Aku sudah punya, terima kasih."
"Teme bodoh! Ada data yang kuingin kau lihat di dalam sana!"
"Data apa?"
Ia menyeringai,"Kau harus melihatnya sendiri untuk tahu."
Ya, baiklah. jika ia ingin mengejutkanku dengan video hantu yang tiba-tiba muncul seperti yang ia lakukan padaku dulu, ia tidak akan berhasil. Aku sudah terbiasa dengan itu, terima kasih untuknya.
Aku memutuskan untuk menerima flashdisk tersebut dan menyimpannya di saku baju kemeja milikku. Aku akan menontonnya nanti setelah pulang dari klub. Kuharap bukan hal bodoh yang ada disana.
Karena jika Naruto memasukkan hal bodoh yang membuatku menontonnya, aku akan melakukan sesuatu pada tubuhnya hingga ia tidak bisa membuat Hinata merasa terpuaskan di ranjang kesayangan Naruto. Lihat saja.
# # # # #
Risa akan tetap melanjutkan fic BTY hingga tuntas, begitu pula dengan fic-fic lain yang akan di publish setelah ini.
Btw, Risa punya penawaran untuk readers semua. Silahkan jawab di review.
Setujukah kalian jika Risa buat chap spesial NejiSaso mengingat banyaknya yang penasaran dengan hubungan mereka?
Polling terbanyak akan Risa beritahu di chap depan. See ya!
