SASUSAKU LOVERS! Buka profile ku yaaa :3 baca tentang Winterblossom di sana. Oke? Emuahhh :*
.
The most lovable one:
SasuSaku
.
Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's. This story is purely mine.
Warning: OOC, SasuSakuNaru, AU,
Anonymous review: Disabled.
.
Apa kau tahu apa itu 'cinta'?
...
Cinta itu,
...
...kau.
Cinta
By LuthRhythm
Matahari kini telah menunjukkan sosoknya. Sosok bercahaya yang memukau, sang pusat alam. Sosok yang mengeluarkan sinaran berwarna kuning, yang terkadang terlihat bagaikan kilatan emas, berkah dari Tuhan. Matahari adalah pusat dari rentetan planet, bukan? Layaknya dia. Sang dia yang kini tertidur di sampingku. Sang dia yang merupakan pusat dari hidupku. Sang dia yang merupakan tujuan mataku melihat, tujuan telingaku mendengar, dan tujuan benakku berpikir.
Melihatnya membuatku ingin membenamkan kepalaku dalam dada bidangnya, membuatku ingin melingkarkan lenganku di sekitar lehernya hingga membuatku harus berjinjit, membuatku tak henti tersenyum dengan mata ikut menyipit. Melihatnya membuat hatiku merasa, dialah satu-satunya. Dialah sang cinta. Pasti dan haruslah dia sosok yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani hidupku hingga akhir nanti.
Tak ada keraguan. Sedikit pun hatiku tak ragu akan pikiran untuk memintanya melamarku. Sedikit pun hatiku tak ragu meskipun baru mengenalnya selama tiga atau empat minggu. Sedikit pun hatiku tak ragu untuk menetapkan bahwa dialah satu-satunya. Haruslah dia.
Melihatnya yang masih tertidur di sebelahku membuatku berdoa pada Tuhan untuk menghentikan waktu sejenak. Aku memohon untuk berhentinya waktu agar dapat melihat wajahnya, matanya yang terpejam, dan dada naik-turun berirama dengan tenang, lebih lama. Aku ingin merasakan hal ini di setiap pagi kumembuka mata.
Lihat, bahkan tanganku tanpa disuruh sudah bergerak sendiri menuju dirinya, seolah dia adalah magnet alami yang ada untukku. Bola matanya yang hitam itu kini tersembunyi di balik kedua kelopak matanya yang sedang terpejam. Sang poni hitam kebiruannya itu menutupi keningnya, membuat jemariku bergerak dengan sendirinya untuk menyapunya agar mungkin dapat membuat tidurnya lebih nyaman––atau mungkin hanya alasanku belaka yang tidak dapat menahan hasrat untuk menyentuhnya.
Senyumku kembali merekah begitu aku mengingat bahwa kini aku sedang berbaring di sampingnya. Tentu saja kami tidak melakukan hal-hal di luar batas norma dan kepercayaan yang keluargaku pegang. Tapi tetap saja, kami ingin berpelukan lama––bahkan kalau bisa selamanya. Dan beberapa malam terakhir, hal tersebut menjadi kenyataan. Kami berpelukan, mencari kehangatan dalam sentuhan kelembutan dan dekapan satu sama lain hingga kami terlelap, hingga kesadaran memudar dan kami masuk di dalam dunia impian.
"Nggh…" desah kecil cintaku, Uchiha Sasuke, yang sepertinya akan bangun dari tidurnya. Ah, aku harap dia bangun bukan karena aku, mengingat sedari tadi tangan kiriku tak henti-hentinya membelai rambutnya lembut.
Sasuke bergerak sedikit, refleks mencari posisi nyaman untuk dirinya. Setelah selama tiga detik bergerak-gerak mencari posisi nyaman, Sasuke diam, lalu dengan perlahan ia membuka mata. Aku tersenyum melihatnya, manis. Memang matanya terbuka, tapi ia masih tetap terlihat menatap langit-langit dengan tatapan menerawang. Mungkin belum sepenuhnya bangun dari dunia mimpi, eh? Senyumku semakin melebar saat memikirkan apa yang ia impikan.
Apa mungkin aku?
Diriku terkikik halus memikirkannya. Ah, aku terlalu percaya diri, seharusnya aku merendah, bukan meninggikan diri. Diriku tersenyum menahan tawa.
Ah, jatuh cinta. Menyenangkan.
Sasuke menoleh ke arahku. Alisnya terangkat sebelah seolah bertanya tentang apa yang sedang aku pikirkan. Tentu saja aku tidak menjawab. Ish, memalukan sekali untuk mengatakan padanya bahwa aku berharap dan menerka bahwa ia baru bangun dari mimpinya tentangku.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.
Sasuke menghela nafas berat, mungkin sedikit sebal karena aku tidak menjawab pertanyaannya, lalu mengatakan, "Mau sarapan apa?"
Ah. Breakfast time! I like it!
.
.
"Mau bantu aku memasak atau hanya melihat?" tanya Sasuke sembari memasang celemek merah pada tubuhnya.
Mereka, Sasuke dan Sakura, sengaja memesan kamar hotel yang terdapat mini kitchen di dalamnya. Tentu saja karena Sasuke adalah seorang chef dan Sakura ingin sekali melihatnya memasak.
"Aku ingin melihat saja, ah." Sakura mengerutkan bibirnya sambil menumpukan kepalanya di atas kepalan tangannya di kitchen counter kamar hotel tersebut.
Sasuke terlihat membuka kulkas dan melihat-lihat isinya––menimbang-nimbang apa yang bisa di masak dengan bahan makanan yang mulai menipis sambil mengatakan, "Memanganya kau tak ingin belajar masak?" Tangan Sasuke mengambil tomat––satu, eh dua tomat ia ambil dari kulkas dan ia letakan di atas counter bersama dengan toples garam dan gula yang telah ada di sana terlebih dahulu.
"Tidak ah, untuk apa? Kan sudah ada pelayan." Sakura menjulurkan lidahnya pada Sasuke. Sasuke menatap Sakura geli. Setengah mati ia berusaha menahan senyumnya atas sikap kekanakkan Sakura.
"Kau harus belajar masak, Sakura. Naruto itu tipe yang sangat suka makan," jelas Sasuke sambil menepukkan tangannya ke kepala Sakura dengan halus. Menyentuh rambut merah jambu lembut itu sekaligus membuat rambut tersebut menjadi berantakan.
"Uh, dia sangat mencintaiku. Dia menerimaku apa adanya dan dia bukan tipe penuntut." Sakura kembali menjulurkan lidahnya––meledek. Sasuke kali ini tidak menahan senyumnya, sehingga bibirnya tertarik dan mengeluarkan senyuman lembut. Tangan Sasuke yang sebelumnya sedang mengambil pisau untuk mengiris tomat, kini ia angkat untuk sekali lagi mengelus rambut halus Sakura. Membungkukkan tubuhnya, Sasuke mengecup bibir Sakura lembut, lalu ia kembali berdiri tegak dan mengambil sebungkus roti gandum, memberikannya ke Sakura beserta pisau yang tadi ia pegang.
"Jangan banyak alasan. Potong empat roti gandum menjadi segitiga, lalu potong satu tomat kotak-kotak dan satu lagi kau iris tipis," ujar Sasuke yang kini menolakkan kedua tangannya di pinggangnya sambil tersenyum tipis pada Sakura. Ah, sepertinya sikap bossy-nya mulai keluar, eh?
"Aye-aye, captain," jawab Sakura sekenanya, berniat menyindir. Sejurus kemudian Sakura mengambil pisau dan mulai memotong roti gandum itu menjadi segi tiga siku-siku sembari cemberut.
Sasuke hanya menyeringai melihat itu sejenak, lalu melangkah kembali ke kulkas untuk sekali lagi mengumpulkan bahan makanan yang akan dipakai untuk isi roti.
Telur, ham, keju, dan errr... cabe rawit?
Seorang pria berambut blond dan bermata biru sedang mengecek berkas-berkas di mejanya. Terlihat serius dengan apa yang kini ia kerjakan. Mata birunya bolak-balik dan berkali-kali membaca berkas dengan teliti––seolah menelanjangi sang berkas malang dengan tatapannya.
Pendingin ruangan di ruangan itu terlihat membantunya berkonsentrasi, membuatnya merasa nyaman dari panas terik sinar matahari di luar ruangan yang ia pilih untuk hindari dengan menutup tirai jendela serta menyalakan lampu ruangan.
Alisnya sesekali terlihat bertautan satu sama lain––menunjukkan ia benar-benar serius mengerjakan pekerjakannya––atau lebih tepatnya terlihat memaksa dirinya untuk mengerjakan sesuatu dengan serius agar terlupa dengan masalah pribadinya yang sedari awal minggu mengganggu pikirannya tanpa henti. Setelah dalam beberapa menit serius bekerja, pria itu mengentikan pekerjaannya sejenak. Terlihat sang pria termenung setelahnya.
Brak!
Pria itu memukul meja kerjanya kencang––cukup kencang untuk membuat tangannya terasa nyeri atas benturan yang ia buat. Pria itu kini menarik nafas perlahan, lalu menghembuskan nafasnya panjang, sambil menggenggam pena yang kini berada di telapak tangannya dengan keras. Ia lalu berdiri, berjalan memutari ruangannya sambil berusaha menenangkan diri. Ia berjalan ke arah jendela, menyingkap tirainya untuk melihat pemandangan luar kantor yang mungkin dapat membuatnya lupa akan masalahnya. Namun ternyata pemandangan di luar gedung tidak membantu apa pun. Pemandangan di luar ruangan sama sekali tidak memperbaiki mood-nya yang kini kacau. Pada akhirnya, dia menjadi termenung dan kembali teringat masalahnya.
Gelisah. Ia begitu gelisah memikirkan pertunangannya yang akan digelar esok sore sedangkan ia tidak tahu di mana calon tunangannya kini.
"AHH!" Pria itu teriak mengeluarkan kekesalannya sembari mengacak-acak rambutnya cepat. Berharap dengan mengusap-usap kepala dan mengacak rambutnya dapat membuat kegelisahannya keluar dari otaknya.
Pria itu lalu menarik nafas dengan cepat dan menghembuskan nafasnya panjang. Lalu dengan segera ia melangkah kembali ke meja kerjanya––berharap setumpuk pekerjaan di atas meja kerjanya dapat membuatnya tenggelam.
Matahari bersinar terik menyinari permukaan bumi dengan semangatnya. Terlihat beberapa orang dengan kulit sawo matang berlalu-lalang di hadapan sepasang anak manusia. Tidak hanya berkulit sawo matang, kadang ada pula yang warna kulitnya pucat, kekuningan, dan bahkan ada pula yang warna kulitnya merona.
Mereka, pasangan tersebut, hanya duduk di bangku yang terletak di depan sebuah toko ice cream sembari melihat orang-orang dengan berbagai ras tersebut berlalu-lalang. Sang pria memakai celana cargo pendek dan kaus putih tipis yang dilapisi kembali oleh kemeja biru berlengan pendek bermotif pohon kelapa––khas pantai. Tak lupa pria tersebut memakai kacamata hitam dan sepatu converse putih yang memberi kesan santai, namun rapih.
Pria itu melipat kedua tangannya di dadanya, bersandar ke sandaran bangku kayu yang ia duduki sembari bahu kirinya disandari oleh seorang gadis yang memakai kaus berlengan pendek berwarna soft pink yang dimasukkan ke rok rampel biru langit bermotif bunga-bunga kecil putihnya yang panjangnya mencapai lutut dan memakai flat shoes putih di kakinya. Layaknya sang pria, sang gadis juga memakai kacamata untuk menghalangi sinar matahari untuk langsung memasuki matanya dan memaksa pupilnya mengecil. Kacamata penghalang matahari berwarna coklat itu bertengger manis di wajahnya, sembari sang pemilik wajah tersebut sibuk menghabiskan ice cream di tangannya.
Mereka berdiam diri di tempat itu selama beberapa menit––sepuluh menit tepatnya––tanpa saling bicara. Hanya diam dalam pikiran dan kesibukkan masing-masing. Tenggelam dalam kenyamanan yang kini mereka rasakan di samping sosok yang mereka cintai.
Melihat orang berlalu-lalang di hadapan mereka tanpa memperdulikan keadaan mereka benar-benar menenangkan. Seolah itu adalah suatu terapi bagi mereka. Terapi yang menenangkan karena tak ada yang memandang mereka dengan tatapan sinis walaupun mereka kini sedang melakukan perbuatan yang tak seharusnya dilakukan.
"Sasuke, ice cream-nya habis. Beli lagi, ya?" tanya sang gadis sambil menyolek lengan kiri sang pria––bermaksud meminta izin, mengingat sedari tadi sang pria hanya diam menunggunya memakan ice cream tanpa melakukan apa pun.
Tidak mendapat jawaban dari sang pria, sang gadis mengintip mata sang pria dengan mengangkat kaca mata hitamnya sedikit. "Ups, tidur," gumam sang gadis perlahan. "Aku ke dalam beli ice cream lagi, ya Sasuke," bisik sang gadis yang lalu berdiri dari bangku dan masuk ke dalam toko untuk kembali membeli makanannya tanpa membangunkan sang pria yang tertidur dengan nyenyak di bangku luar toko.
Seorang gadis dengan wedges sembilan senti di kakinya terlihat mondar-mandir di ruang tamu apartemennya sembari memencet beberapa tombol di handphone-nya dengan cepat. Wajahnya terlihat begitu kesal dan sesekali ia mengibaskan poninya ke belakang seolah itu dapat mengurangi kekesalan yang ia rasakan.
Rambut blond panjangnya yang ia kuncir tinggi di belakang kepalanya terlihat terayun seirama dengan hentakkan kakinya pada lantai apartemennya. Terlihat sekali ia kesal––dan bertambah kesal lagi dengan kenyataan bahwa seseorang yang ia telepon tidak kunjung mengangkat panggilannya.
Setelah lima belas detik menunggu pada panggilannya yang ke empat, akhirnya orang yang sedari tadi ia telepon menjawab panggilannya.
"Ha––"
"Naruto apa kau bodoh hah aku sudah meneleponmu empat kali dan kau tidak juga menjawab panggilan sialan ini dan tadi aku mengecek rumah Sakura dan ternyata ia belum juga pulang ke rumahnya sedangkan demi apa pun BESOK SORE KALIAN BERTUNANGAN!" Gadis itu berucap dengan cepat dan kesal, tanpa jeda. Setelah ucapannya selesai, barulah ia menarik nafas membiarkan oksigen mengisi tubuhnya yang terasa panas oleh emosi.
"Tenang I––"
"Kau ingin aku tenang, HAH? Bagaimana bisa tenang, bodoh! Ini semua karena KAU! Harusnya tak perlu kau kenalkan temanmu pada Sakura! Dan bagaimana bisa kau menyebutnya SAHABAT padahal ia merebut gadismu! Ia merebut orang yang kau cintai! Apa kau BODOH, Naruto?" Gadis itu kembali berucap tanpa membiarkan lawan bicaranya meredakan emosinya. Emosinya kini berada di puncaknya. Ia begitu kesal dengan sahabat baiknya, Sakura, yang bersikap kekanakkan dengan melarikan diri dari kenyataan. "Mereka pergi meninggalkan kenyataan. Mereka pikir ini dunia dongeng, apa? Kekanakkan!" bentak Ino lagi––entah pada siapa.
"Dengar, Ino-chan. Aku menge––"
"Kau tidak mengerti, Naruto!" gadis itu kembali memotong. "Memang semuanya tentang pertunangan sudah siap. Tapi apa kau tidak khawatir Sakura tidak akan da––"
"Sakura pasti datang, Ino––"
"––dia belum tentu––"
"DENGAR, INO!" bentak suara di seberang sana dengan keras. "Mereka pasti datang nanti saat pertunangan besok! Sasuke TAK MUNGKIN mengingkari janjinya padaku! Dan aku percaya pada SAHABATKU dan juga CALON TUNANGANKU! Terima kasih atas perhatianmu dan sebaiknya kau urus masalahmu sendiri!"
Sedetik kemudian panggilan terputus. Sang gadis yang habis dimaki terlihat begitu kesal dan geram.
"AH!" teriak gadis itu sembari melempar ponsel di tangannya hingga membentur tembok dengan keras dan jatuh berantakkan.
Gadis itu kemudian mengambil tasnya dan kunci mobil di atas meja lalu keluar dari apartemennya dengan cepat. Ia benar-benar harus mencari pelampiasan atas kekesalannya kini.
.
.
Hehehehehehee
Geje ya chapter ini? Ahahaha *gelundungan*
Gomeeen!
Tapi setidaknya aku sudah memutuskan ending fict ini, jadi mungkin selanjutnya akan jelas kelanjutannya.
Dan chapter selanjutnya last chapter ya?
THANKYOU untuk semua yang ngereview atau setidaknya membaca fict ini.
Saya harap, siapapun yang baca fict ini, akan mereview di chapter terakhir nanti to tell me bagaimana kesan fict ini untuk kalian. :D
Dan yap. Thankyou so much.
Mind to review, darl? Rawrrrr! *begaya kayak macan *ditoyor
