DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
.
A/N :
Akhirnya di tengah kesulitanku untuk membuat mataku terjaga lebih lama, chapter ini publish juga^^'
Ini salah satu chapter favoritku...yang menurutku adalah ide yang pertama muncul tentang masa lalu Kuroro. Aku suka bagaimana Runandra-senpai merancangnya! Kuharap kalian pun menyukainya...
CHAPTER 14 : LOOKING BACK PART 2 – OLD SCARS AND IGNORANCE
Kurapika menatap ke sekitarnya dengan hati-hati. Dalam sekali lirik, Kurapika dapat menyimpulkan rumah itu memiliki perabotan yang sangat kurang, dan penghuninya miskin. Hanya ada perabotan untuk keperluan-keperluan dasar. Hanya ada satu kamar tidur dengan sebuah tempat tidur besar di dalamnya, dan meja berkaki rendah. Ruang keluarga berdampingan dengan ruang makan, dengan hanya terdiri dari satu meja dan dua buah kursi. Dapurnya terlihat menyedihkan. Letaknya di belakang rumah, terbuka di halaman belakang. Di dapur itu hanya ada sebuah kompor tua, dengan satu wajan yang dipakai untuk memasak hampir semua makanan yang dimakan oleh keluarga di rumah itu. Cat dinding mengelupas, dan langit-langitnya terlihat seolah bisa ambruk kapan saja. Di samping kondisinya yang kekurangan, rumah itu masih termasuk salah satu rumah terbaik di Kota Bintang Jatuh. Kurapika menggelengkan kepalanya tak percaya; dia tak percaya bahwa rumah itu adalah tempat di mana Kuroro Lucifer dilahirkan lebih dari dua puluh enam tahun yang lalu.
Kurapika berdiri berlama-lama di kamar itu. Hampir tak ada apapun yang bisa dilihat di sana, tapi entah kenapa, berdiri sendirian dan melongo di tengah-tengah kamar tidur itu memberinya waktu untuk mencerna kenyataan yang ada di dalamnya. Seolah Kurapika benar-benar berada di sana pada saat yang penting ini. Seakan-akan nyata. Bahkan tak ada satupun foto keluarga di penjuru rumah itu.
Kurapika langsung tersentak dari lamunannya ketika tiba-tiba sebuah tangisan terdengar dari ruang keluarga. Dengan tergesa-gesa, Kurapika pergi ke ruangan itu, dia menyadari betul bahwa dia tak bisa dilihat oleh orang-orang dari masa lalu. Dia pun tak siap untuk melihat apa yang akan dilihatnya nanti.
Di sana, di ruang keluarga, seorang pria yang menurut Kurapika adalah Si Ayah—sedang mengayunkan ujung sebuah rantai besi dengan marah. Dia meneriakkan kata-kata kotor kepada wanita yang sedang bertengkar dengannya. Seorang wanita berambut hitam dan sangat cantik. Sayang penampilannya tak mampu untuk meningkatkan pesona kecantikannya.
"Dia anakmu!" Wanita itu berteriak sambil merentangkan kedua tangannya bagai memberi perlindungan, seperti seekor burung yang melindungi telur-telurnya.
"Bajingan itu bukan anakku! Biarkan aku membunuhnya!" Si Ayah menampar wajah wanita itu, Si Ibu, dengan keras hingga terjatuh.
Ketika wanita itu jatuh ke lantai, seorang anak laki-laki pun nampak. Dia masih berumur tiga tahun, dan dengan matanya yang besar dia menatap ayahnya yang tengah dikuasai iblis. Dengan polosnya, dia mengulurkan kedua tangannya yang mungil kepada Si Ayah. Kurapika menutupi mulutnya dengan tangan. Tak salah lagi, anak itu adalah Kuroro Lucifer; tanda di keningnya adalah ciri khasnya. Kurapika tak bisa menggambarkan apa yang dirasakannya saat itu; melihat musuhnya berada dalam kenangan masa kecilnya, begitu rapuh dan lemah. Sementara selama ini dia hanya baru mengetahui sisi yang kuat dan terkalahkan dari pria itu.
"Kau, Anak Iblis! Kembalilah ke tempatmu!" seru Si Ayah sambil mengayunkan tongkat besi seperti akan membelah sesuatu, siap menyerang anak itu hingga mati.
"TIDAAK!" Si Ibu, wajahnya dibanjiri dengan air mata, mengambil sekeping pecahan kaca jendela dan melompat ke arah pria itu.
Pecahan kaca yang sangat tajam itu menusuk bagian samping tubuh Si Ayah, membuatnya terluka parah. Dia menjerit kesakitan sambil terjatuh, istrinya berada di atasnya dengan tangan yang berlumuran darah. Dia bergegas pergi dari tubuh suaminya dan merangkak menghampiri anaknya, ketika pria itu memukul kepalanya dengan tongkat besi sebagai pembalasan terakhir, meretakkan tengkorak istrinya. Darah kental muncrat membasahi sekujur tubuh si anak laki-laki, mewarnai anak itu menjadi merah gelap dengan darahnya.
"Oh!" Kurapika tersentak dan menutup mulutnya kuat-kuat, berusaha untuk tidak muntah ketika mendengar suara yang menjijikkan dari tengkorak yang retak. Dia terhuyung-huyung ke belakang dan harus bersandar ke sebuah meja sambil terus menyaksikan peristiwa pembunuhan yang mengerikan itu.
"Kuro...ro...," Si Ibu berbisik, kedua matanya membelalak ngeri saat menatap wajah putranya yang tak berdosa.
Dia pun ambruk ke lantai...mati. Lantai kayu yang ada di bawahnya basah kuyup oleh cairan merah tua yang mengalir keluar dari luka di kepalanya. Tatapannya masih tertuju pada anak laki-laki itu bahkan ketika cahaya meninggalkan sepasang mata yang berwarna gelap itu. Si Ayah memuntahkan darah lebih banyak lagi, sebelum akhirnya bertemu dengan kematiannya sendiri, mengikuti istrinya. Si anak laki-laki menatap ibunya dengan tatapan kosong, dia masih terlalu kecil untuk memahami kematian. Bahkan dia tak mempedulikan rasa basah dan hangat dari darah Si Ibu yang membanjiri tubuhnya. Dia merangkak menghampiri ibunya dan menyentuh wajah wanita itu yang masih terasa hangat. Dia mengintip ke dalam matanya.
"Ibu?" anak itu memanggil ibunya, suaranya masih nyaring dan terdengar kekanakan.
Dia mengguncang tubuh ibunya beberapa kali, berpikir mungkin saja ibunya itu tidur dan dia harus membangunkannya. Tidak mendapat tanggapan apapun dari ibunya, anak itu berbaring di lantai di samping Si Ibu dan meringkuk mendekatkan tubuhnya ke tubuh wanita itu. Seolah dia baru saja akan tidur siang seperti yang biasa dia lakukan, bersama ibunya yang berbaring di sampingnya.
Jika anak itu bukanlah Kuroro Lucifer, mungkin Kurapika akan menangis untuknya. Namun, mengetahui bahwa dia adalah Kuroro Lucifer, apa yang paling bisa dilakukan Kurapika hanyalah bersimpati padanya.
"Ayahku pikir aku anak iblis...karena tanda lahir yang ada di keningku."
Dengan sangat tersentak, Kurapika membalikkan badannya, menatap Kuroro Lucifer dalam versi dewasa berdiri di ambang pintu menuju ke ruang keluarga. Dia bersandar di kusen pintu itu, dengan santai tangannya dimasukkan ke dalam saku seolah dia tidak sedang menyaksikan kenangan mengerikan masa kecilnya. Matanya menatap lurus ke dalam mata Kurapika, menantangnya untuk mengatakan sesuatu.
"Tambah lagi, perkembangan semua kemampuan psikologisku terlalu lambat. Aku jarang menanggapi apa yang dilakukan atau yang dikatakan orangtuaku." Dia menegakkan badannya dan mendekati Kurapika hingga tepat berada di samping gadis itu. Kurapika tetap waspada dengan pergerakan Kuroro, sementara Kuroro memandangi jasad orangtuanya di lantai.
"Belum lagi jika disebutkan bahwa ibuku memaksa untuk merawatku daripada membuangku di jalanan karena kecacatanku itu. Kurasa semua itu membuat ayahku berada di batas kegilaannya," Kuroro mengangkat bahu dengan cuek.
"Kenapa kau di sini?" bisik Kurapika pelan.
"Aku tidak takut dengan masa laluku...tidak seperti seseorang," tambah Kuroro dengan sebuah seringai tipis ditujukan kepada gadis itu.
Kurapika memalingkan wajahnya, merasa malu karena Kuroro benar. Dia takut untuk menyaksikan kembali pembantaian sukunya. Mereka ditempatkan di waktu yang berbeda oleh Phoenix karena wanita itu sadar sepenuhnya bahwa kekuatan mental Kurapika serapuh kaca. Kuroro hadir di rekaman sinematik masa lalunya karena dia tidak menghindarinya. Dia merengkuh masa lalunya, tak peduli betapa tragis dan dahsyatnya.
Sedetik kemudian, pemandangan itu berubah menjadi statis dan kabur seolah waktu tengah dimajukan dengan cepat, dan di detik selanjutnya menjadi normal kembali. Namun kali ini langit di luar sana sudah gelap ketika senja tiba, tambah lagi awan-awan mendung yang berkumpul disana. Suara petir menerpa rumah yang sepi itu, membangunkan si anak dari tidur siangnya. Dia memandangi sekitarnya dengan mata ngantuk, kemudian menatap tubuh Si Ibu yang masih diam tak bergerak. Jasad itu sudah sedingin es dan kaku. Si Kecil Kuroro mengguncangkan kepala ibunya lagi, dan masih tak ada respon apapun. Hujan lebat mulai turun di luar rumah itu. Kurapika melirik ke sebelahnya dan melihat Kuroro memandangi sosoknya yang masih kecil dengan raut wajah tenang.
"Dan inilah mereka," Kuroro berkata dalam suara yang lebih terdengar seperti bisikan.
Benar juga, segera saja Kurapika mendengar suara desisan ular yang khas. Dia melihat ke arah pintu lain sambil bersiaga, napasnya tertahan seolah menunggu monster lain untuk muncul. Seekor ular raksasa masuk melalui pintu depan, warnanya hijau gelap, dan basah akibat terkena hujan. Ular itu membaui udara dengan lidahnya yang bercabang seolah berusaha menemukan sumber aroma darah yang manis dan berbau logam.
Si Kecil Kuroro berbalik dan melihat seekor ular raksasa melata menghampirinya, kepalanya yang besar hanya berada dalam jarak beberapa meter darinya. Sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau terkejut hanya rasa ingin tahu, anak itu mengulurkan tangannya ke arah Si Ular dengan tangan kecilnya. Kurapika meringis ketika melihat keseluruhan adegan yang tak terduga itu. Kuroro sudah memberitahukan kebenaran; kemampuan psikologisnya mulai benar-benar terlambat berkembang. Bahkan sejak kecil, rasa takut sudah benar-benar menghilang dari dalam hati Kuroro.
"Apa yang sudah kau temukan, Basille?" Kurapika mendengar suara yang terdengar sangat familiar di telinganya. Kuroro memicingkan matanya sekilas ketika mendengar suara itu.
Lalu Ishtar muncur dari pintu di mana Basille masuk. Kurapika melihat wanita itu tak berubah sedikit pun walau peristiwa ini terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu sebelum dia mengenalnya. Rambutnya masih sekumpulan helaian rambut hitam ikal yang sama, kulitnya adalah kulit putih pucat seperti apa yang dilihat Kurapika ketika bertemu dengannya. Mungkin perbedaannya hanyalah sikap dingin di wajahnya. Kurapika tak pernah melihat wajah Ishtar dengan sikap dingin yang seperti itu sebelumnya. Ishtar mengamati sekitar kamar itu dengan santai seolah pertumpahan darah yang memalukan yang sebelumnya terjadi di sana tak berarti apapun baginya. Namun ketika dia melihat kepada si anak, dia berhenti sejenak dan akhirnya kedua ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Wah, wah...Lihat apa yang kita temukan di sini." Suara Ishtar terdengar seperti sebuah kicauan lalu dia pun menghampiri anak itu. Dia berjongkok di hadapan Si Kecil Kuroro dan menatap wajahnya yang bagi Kurapika terlihat seperti sikap yang menampakkan rasa senang namun dingin.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Si Kecil Kuroro menyentuh wajah ibunya dengan tangannya yang mungil. Ishtar terlihat sedikit terkejut, tapi dia membiarkan anak itu memuaskan rasa ingin tahunya. Si Kecil Kuroro membelai wajah wanita itu, menyentuh rambutnya lalu memandangi ibunya yang telah mati.
"Ibu..."
"Ibumu sudah mati, Sayang. Ayahmu juga." Ishtar membelai rambut basah anak itu dengan lembut. Tiba-tiba sebelah matanya yang berwarna gelap terlihat berbinar, seolah dia baru saja mendapat ide yang cemerlang. "Bagaimana kalau kau ikut bersamaku?"
Lady, kau serius?...sss... Ular itu mendesis dengan bertanya-tanya. Merupakan hal yang aneh, Ishtar mengadopsi seorang manusia.
"Tak apa-apa, Basille. Anak ini...istimewa."
Karena tanda lahir yang luar biasa di keningnya itu?...sss...
"Tidak. Itu hanya penampilan fisik belaka. Tak berarti apapun." Rambut ikal wanita itu bergoyang ketika dia menggelengkan kepalanya. Ishtar menyentuh wajah Si Kecil Kuroro dengan ujung jarinya. "Tapi aku bisa melihatnya...Dia lebih dari apapun yang pernah kulihat..."
Si Kecil Kuroro menatap Ishtar dengan matanya yang menakjubkan, lalu mengulurkan tangan padanya, seolah menerima tawarannya. Dengan sebuah senyum lembut, Ishtar meraih tangan itu dan mengangkatnya, menggendongnya seperti seorang ibu menggendong anaknya sendiri.
"Siapa namamu, Nak?" ia bertanya.
"...Kuro...ro..."
"Kuroro?" Ishtar mengulang nama itu, seolah sedang merasakannya. Lalu dia memandangi jasad kedua orangtua anak itu. "Dan ayahmu pikir kau adalah anak iblis? Begitu ya..."
Kurapika mengernyit mendengar kata-katanya. Bagaimana mungkin Ishtar bisa bicara seperti itu? Dia tak ada di sana ketika ayah Kuroro meneriakkan kata-kata itu.
"True Vision-nya bisa melihat apapun yang terjadi di suatu tempat," Kuroro menjelaskan pada Kurapika dengan matanya yang masih tertuju pada Ishtar. Rasanya Kurapika bisa melihat campuran dari hinaan dan sesuatu yang lain di matanya yang gelap dan seolah tak berdasar itu.
"Kalau begitu aku akan memberimu nama." Ishtar berbalik dengan Si Kecil Kuroro dalam gendongannya. "Namamu Lucifer. Malaikat perkasa yang turun dari Surga untuk memerintah Neraka. Kau akan menjadi kuat seperti dia, yang bertahan hidup meskipun kehilangan kekuasaan dan kemuliaannya."
Ishtar mengecup kening Si Kecil Kuroro, dan anak itu pun tertawa. Lalu dia menyandarkan badannya, memeluk leher jenjang Ishtar. Dengan senyum keibuan, Ishtar melangkah pergi dari kedua jasad yang ada di sana menuju ke pintu depan, ke dalam hujan yang deras. Lalu dia menghilang di balik tirai hujan, bersama basilisk itu dan Si Kecil Kuroro.
Semuanya menjadi statis dan Kurapika dapat merasakan udara bergetar. Dengungannya bergema dalam kekacauan itu, tapi Kurapika segera mendapati dirinya berada di tempat lain. Kuroro masih tetap berdiri di sampingnya, dia sudah terbiasa dengan pergantian ruang dan waktu dari rekaman sinematis masa lalu mereka.
"Kapan...Di mana?" Kurapika bertanya, masih bingung dan tidak fokus karena pergantian itu.
Kuroro melihat sekitarnya, mencoba mengingat kapan dan di mana mereka berada sekarang. Ketika dia mendengar suara benturan logam dan isakan seorang anak, dia langsung tahu.
"Bangun, Kuroro. Seorang petarung tak pernah menangis."
Suara yang terdengar familiar menyapa telinga Kurapika, tapi ketika dia mendongak dia tak bisa percaya apa yang sedang dilihatnya sekarang. Di atas lantai ada seorang anak laki-laki, lebih tua dari sebelumnya, tapi masih anak yang sama. Kuroro. Dia dipenuhi oleh luka memar dan luka sayatan yang berdarah. Matanya basah oleh air mata yang hampir mengalir tanpa kendali. Ada sebilah pedang di samping anak itu. Berdiri di hadapannya adalah Ishtar, pedangnya diacungkan dan wajahnya terlihat galak. Daripada seorang ibu, dia lebih seperti seorang ksatria dan guru yang keras.
Dengan mendengus dan menahan isak tangisnya, anak itu bangkit dan mengambil pedangnya. Dia bersiap dalam posisi bertempur, walau wajahnya menunjukkan betapa menderitanya dia dari siksaan itu. Kemudian Kurapika menyadari bahwa saat ini, Kuroro belum ahli dalam seni memasang 'topeng ketidakpedulian' yang selalu dikenakannya hampir setiap saat.
"Ini lima tahun setelah dia mengambilku. Sejak aku bisa berlari sendiri, dia melatihku bertarung." Kuroro menjelaskan, suaranya datar dan wajahnya tenang seperti biasanya.
Kurapika menatap wajah pria itu. Dia terlihat seperti patung yang terbuat dari batu hanya menatap lurus pada apapun yang ada di hadapannya, tanpa emosi. Bagi gadis itu Kuroro terlihat seperti dia telah membekukan hatinya, menyimpannya entah di mana sehingga dia tak akan merasakan apapun. Entah mengapa, setelah melihat hanya sekilas dari masa lalunya, Kurapika berduka untuknya. Betapa kasihannya pria itu.
TRANG!
Lagi-lagi, dalam sekejap saja Ishtar membuat Kuroro menjadi tak bersenjata. Ada sebuah tanda merah menyala di pergelangan tangannya di mana Ishtar memukulnya dengan sisi datar pedang itu. Anak itu memekik kesakitan.
"Lagi." Ishtar mengibaskan pedangnya dan bersiaga.
Mereka melanjutkan sesi itu hingga sesuatu yang mengerikan terjadi. Kelelahan, si anak pun lengah dan dalam jeda waktu itulah, Ishtar menyerangnya. Dengan mata terbelalak, Kurapika menyaksikan ketika senjata Ishtar menembus tubuh mungil itu dan mencabiknya.
Ishtar tersentak, terkejut atas apa yang telah dia lakukan. Bahkan anak itu tak punya kesempatan untuk menangis atau tersentak kesakitan. Dengan cepat Ishtar melepaskan gagang pedangnya dan menangkap tubuh sekarat anak itu ke dalam pelukannya.
"Kuroro, Kuroro!" Ishtar memeluknya dengan hati-hati dan mengguncangkan badan anak itu sedikit untuk membangunkannya. Mata si anak sudah setengah tertutup, seolah memasrahkan nyawanya pada Kematian.
"Ada apa ribut-ribut, Lady?" Sebuah sosok bungkuk berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong dan melangkah menghampiri mereka, masih tak menyadari adegan berdarah yang terjadi di sana. Ketika Hatsubaba mendongak, matanya membelalak hingga selebar mata burung hantu. "Demi Tuhan!"
Dokter tua itu cepat-cepat menghampiri mereka dan memeriksa Kuroro. Denyut nadinya masih ada, walau sangat lemah, namun napasnya pelan. Wanita tua itu berkata bahwa jika mereka tidak menemukan pendonor darah, anak itu akan mati.
"Berikan dia darahku," Ishtar memaksa dengan tegas.
"Tapi, Lady, kau pasti bercanda! Dengan melakukan itu, keabadianmu akan berakhir!" Hatsubaba mulai protes. "Itu peraturan bagi makhluk sejenismu! Kau tidak boleh berbagi darahmu dengan orang lain!"
Mata Kuroro membelalak. Dia tidak tahu adegan ini.
"Aku tak peduli!" Mata gelap Ishtar tertuju pada Kuroro, yang napasnya hampir tidak ada. "Jika darahku bisa menyelamatkan nyawanya, aku tak keberatan. Lagipula, aku sudah hidup terlalu lama..."
"Lady..." Hatsubaba menatapnya dengan perasaan yang bercampur antara simpati dan kesedihan yang mendalam.
Tiba-tiba, semuanya kembali menjadi statis dan udara pun bergetar lagi. Walaupun Kurapika merasa tidak nyaman dengan suara dengungan di telinganya, Kurapika mengambil kesempatan itu untuk memandangi wajah Kuroro. Ekspresi di wajahnya adalah ekspresi terkejut. Kurapika ingat bekas luka besar di perut Kuroro yang dia lihat beberapa minggu lalu di hutan tempat Centaur tinggal. Jadi luka itu karena kecelakaan ini. Kurapika mengernyit dan merasa gelisah memikirkan hal itu.
"Aku tak ingat..." Kuroro berbisik pada dirinya sendiri. Kurapika berkedip mendengar keraguan pria itu yang begitu tiba-tiba. Baginya, Kuroro terlihat terkejut oleh kepingan tertentu masa lalunya.
Keadaan yang statis terus berlangsung, sebelum tiba-tiba semuanya bersih menjadi sebuah cahaya putih yang terang. Secara naluri Kurapika menghalangi matanya dari pengaruh cahaya itu.
"Kita mau pergi ke mana?" sebuah suara yang terdengar kekanakan memperingatkan Kurapika untuk kembali ke rekaman sinematis masa lalu Kuroro.
Kurapika membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam hutan lebat. Ketika berbalik, Kurapika dapat melihat puncak kuil di mana Ishtar tinggal sekarang. Kemungkinan besar hutan ini berada di belakang kuil itu, kuil yang pernah diberitahu Ishtar ketika dia selamat dari racun Chimera. Ketika berbalik, dia melihat seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu berjalan di belakang Ishtar. Anak itu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, seolah ini adalah pertama kalinya dia memasuki hutan.
"Kau harus bertahan hidup di sini selama seminggu, carilah makanan sendiri, lawan hewan-hewan liar di sini. Setelah satu minggu, kembali ke kuil."
Ishtar berhenti berjalan dan berbalik. Mantelnya yang berwarna seperti langit malam bergerak di sekitarnya dengan anggun, berkilau di bawah sinar matahari yang penuh berkah. Mata anak itu membelalak terkejut. Tanpa menunggu jawabannya, Ishtar berjalan menjauh dan menghilang ke dalam gelapnya hutan. Anak itu berdiri sendiri di tengah-tengah hutan...tersesat dan kebingungan.
"Saat inilah...," Kuroro bergumam. "Pertama kalinya aku terkena racun."
Seolah menjawab perkataannya, adegan di hadapan mereka bergerak maju dengan cepat. Dalam pemandangan yang kabur, Kurapika dapat melihat sekilas anak itu mengais mencari makanan, membunuh hewan liar untuk makan dan bertahan hidup, menemukan air bersih untuk minum, dan seterusnya. Waktu berhenti bergerak maju ketika mencapai hari keenam. Anak itu kini kotor, dan dia tengah berjalan di antara semak rimbun yang penuh buah berry.
Dengan senang Kuroro memunguti buah-buahan yang manis itu dan memakannya, tidak menyadari bahwa sebuah sosok tengah mengintai di balik semak-semak.
"Aw!" Kuroro tersentak ketika merasakan rasa sakit yang tajam di betisnya. Dia menendang apapun yang mungkin menempel di tubuhnya, dan mendapati seekor kadal yang terlihat berbisa mendarat di atas tanah. Kadal itu bergegas pergi. Walau hewan itu nampak seperti hewan pemalu, namun memiliki racun yang kuat.
Dengan cepat betisnya berubah warna menjadi biru dan dalam sekejap saja kaki anak itu lumpuh. Dia mengambil pisau lipatnya dan menyayat luka gigitan itu, tanpa mau repot membersihkan pisaunya terlebih dahulu. Dia menekannya, mengeluarkan darah yang mengandung racun, tapi dia terlalu lambat. Racunnya mulai menyebar. Diam-diam mengutuk dirinya sendiri, sulit bernapas...anak itu merangkak, berusaha mencapai danau yang baru saja dia temukan kemarin. Letak danau itu sudah dekat sekali, dia tinggal merangkak sebentar lagi...tapi tubuhnya sudah tak tahan.
Kurapika tetap berdiri diam di samping Kuroro dewasa. Dia merasa terdorong untuk menyeret anak itu ke danau, walau mengetahui bahwa itu adalah perintah Kuroro Lucifer. Pada rentang waktu tersebut, Kurapika teringat akan kejadian waktu itu di gua, ketika Kuroro terserang tetanus. Menyadari sepenuhnya bahwa Kuroro adalah pembunuh dari saudara-saudara sesukunya, Kurapika masih membantunya. Mata Kurapika terbelalak.
Apa yang kupikirkan waktu itu? Kurapika mengalihkan tatapannya kepada bocah sekarat yang ada di hadapannya. Apa yang kupikirkan saat ini?
Untuk sesaat, semua menjadi kosong bagi Kurapika. Dia tak bisa berpikir lagi, seolah sistem otaknya sudah tidak berfungsi.
Dia adalah Kuroro Lucifer, pembunuh saudara-saudara sesukuku. Kenapa...sekarang aku memikirkan semua ini? Kenapa sekarang aku berdiri di sampingnya? Bukankah seharusnya aku...
Kurapika berkeinginan memunculkan rantainya, dan matanya sudah berubah warna menjadi merah cerah. Namun, tak ada yang terjadi. Gemerincing rantainya tak pernah terdengar. Rasa dingin dan padat dari besi itu tak pernah terbentuk di tangannnya. Namun kemudian, setelah beberapa detik berusaha, Kurapika menyadari bahwa Nen-nya dikunci. Lagipula mereka berada di dunia Phoenix. Kurapika benar-benar tak punya kekuatan di sana. Dengan sekuat tenaga, Kurapika membuka dan menutup kembali kepalan tangannya dan menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ketika Kurapika sadar kembali, entah bagaimana, dia melihat Ishtar sudah menggendong anak itu dalam pelukannya. Dia berjalan menuju ke danau dan berdiri di tepiannya.
"Aku minta maaf sudah mengganggumu, Morgan, tapi tolong bisakah kau membantuku?" tanya Ishtar pelan pada gadis yang berada di dalam air.
Tiba-tiba saja, danau itu bergerak dan membentuk sosok transparan seorang wanita. Sosok itu berubah padat menjadi seorang wanita yang mempesona dengan rambut bergelombang berwarna biru pucat. Tawa senangnya terdengar begitu nyaman.
Seberapa berharganya anak ini untukmu, beritahu aku, Milady, hingga kau meminta pertolonganku? Dia bertanya sambil tersenyum.
"Lebih berharga daripada keabadianku. Jadi bisakah kusimpulkan bahwa kau bersedia menolongnya?" tanya Ishtar lembut.
Bagaimana mungkin aku bisa menolak permintaanmu, apalagi bocah tampan itu begitu membuatku teringat pada Lancelot-ku? Lady Danau itu melayang di atas air dengan sedikit gejolak emosi lalu menghampiri Ishtar.
"Morgan, kau masih berduka atas kematian Lancelot," tuduh Ishtar dengan sedikit mengernyit.
Mata Kurapika membelalak.
"Dia Morgan Le Fay! Lady Danau!" Kurapika berkata ketika hal itu muncul di benaknya.
"Dia adalah orang yang sama dengan yang membersihkan racun chimera dari peredaran darahmu," Kuroro menambahkan.
Jadi itu wujudnya yang sebenarnya, pikir Kuroro. Dia tidak menyadari raut wajahnya melembut pada batas tertentu. Lagi-lagi, ini adalah adegan yang tidak ada dalam kenangan yang dimiliki Kuroro. Bukannya dia lupa; dia hanya tak menyadarinya. Lagipula, saat itu lagi-lagi tengah berada di ambang kematian.
Sekarang kau memiliki Lancelot-mu sendiri, kau akan tahu betapa dalamnya kesedihanku ketika aku kehilangan Lancelot-ku seperti kau kehilangan dia...Lady Medusa...Lady Danau bergumam sambil mengambil Kuroro yang sedang sekarat dari pelukan Ishtar.
Kuroro dan Kurapika sama-sama membeku untuk sesaat. Akhirnya, mereka tahu siapa Ishtar sebenarnya.
"Seorang Medusa...jadi itulah dia sebenarnya," Kuroro bergumam.
"Kau tak pernah tahu?"
Perlahan Kuroro menggelengkan kepalanya. "Aku tak pernah mau tahu."
Kurapika menatap pria itu dengan sedikit mengernyit. Lalu dia memutuskan untuk mengabaikan hinaannya terhadap Ishtar yang terlihat jelas. Itu masalah Kuroro, bukan masalahnya. Kurapika berusaha untuk tidak terlalu banyak mencampuri urusan pribadinya, lagipula dia memang sudah terjebak di dalamnya bahkan lebih dari apa yang sudah dia lakukan.
"Apa artinya ini?" Kuroro melemparkan sebuah VCR dengan kasar ke lantai tepat di hadapan Ishtar, yang sedang menghisap hookah-nya seperti biasa.
"Arti dari apa?" Ishtar balik bertanya dengan santai, seolah kemarahan Kuroro tidak penting sama sekali.
Kurapika melihatsambil menyaksikan awal mulakelahiran Genei Ryodan; atau begitulah yang diberitahukan Kuroro padanya. Awalnya, ketika mereka dikirim ke waktu beberapa tahun setelah peristiwa Lady Danau, mereka berakhir di sebuah gubuk di mana ada beberapa anak laki-laki di dalamnya; termasuk Kuroro Lucifer yang kemudian berusia sekitar enam belas tahun, tengah berkumpul.
"Aku hanya punya sedikit sekali teman," Kuroro memberitahu Kurapika dengan sengaja. "Karena mereka pikir aku anak yang dilindungi, maka aku sama sekali tak berharga dalam kelompok mereka. Dengan kata lain : tak berguna."
"Kekuatan stereotip, hah? Hanya karena kau punya Ishtar untuk menjagamu." Kurapika bergumam dengan sedikit mengejek. Dia sangat tidak menyukai stereotip. Kuroro tak berkomentar apapun, maka mereka menyaksikan keheningan yang terjadi saat itu dalam diam.
"Di dalam VCR ini adalah rekaman percakapan seorang bos mafia dari dunia luar, yang kusimpulkan adalah, Para Tetua." Kuroro yang telah remaja itu berkata dengan tegas, seolah dia berusaha mengendalikan amarahnya.
"...Dan?" tanya Ishtar dengan malas sambil menghembuskan rokok favoritnya yang beraroma sandalwood.
"Dia meminta pasukan elit dari sini. Prajurit yang dilatih khusus untuk melakukan pekerjaan kotor mereka." Pemuda itu melanjutkan, mata gelapnya berkilat marah.
Ishtar tak mengatakan apa-apa dan hanya menunggu Kuroro untuk melanjutkan 'tuntutannya'. Pemuda itu mengencangkan kepalan tangannya, bahunya gemetar karena marah.
"Aku salah satu dari mereka, bukan?" akhirnya Kuroro berkata.
Ishtar masih tidak menjawab untuk beberapa lama, namun ketika melihat tidak ada lagi kata-kata yang akan keluar dari mulut pemuda itu, dia menghela napas dan menegakkan badannya.
"Kau takut, Kuroro?"
Wajah Kuroro memucat seolah darah telah dihisap habis dari wajahnya, dan kemarahan itu langsung lenyap. Kurapika mengernyit bingung, dia tak mengerti apa yang tengah terjadi. Kuroro yang berdiri di sampingnya pun tak mengatakan apa-apa, yang artinya dia tak mau menjelaskan lebih lanjut. Dia akan memberi penjelasan ketika waktunya tiba; betapa suasana hatinya tergantung mood. Jelas sekali Kuroro Remaja kehilangan kata-kata untuk diucapkan, maka Ishtar pun melanjutkan ucapannya.
"Kau takut perhatian yang kuberikan padamu selama ini adalah murni karena tujuan itu; demi kepentingan pembentukan apa yang kau sebut pasukan elit itu. Kau tak mau dimanfaatkan, hah? Harga dirimu terlalu tinggi untuk menjadi pion orang lain." Dia berhenti sejenak dan memiringkan kepalanya, seolah mendengarkan sebuah suara yang sangat pelan. "Kau merasa dicurangi? Kau merasa bahwa semua latihan yang kejam itu bukan untuk apa-apa? Ayolah, Kuroro. Berpikirlah logis."
"DIAM!" Pemuda itu berteriak, tapi tak bisa dipungkiri terdengar kepanikan dalam nada suaranya.
Kuroro, orang yang berdiri di samping Kurapika, mengernyit melihat versi remaja dari dirinya itu. Betapa muda dan emosionalnya dia saat itu, dengan mudahnya terpengaruh oleh perasaannya yang bahkan Kuroro sendiri merasa malu untuk melihatnya.
"Apa kau tidak punya sopan santun, mengintip isi hatiku seperti itu?" Dia menggeram marah sambil menggertakkan giginya. "Dan lagipula, ini bukan yang pertama kalinya terjadi."
"Oh..." Ishtar terlihat sedikit terkejut. Dia merasakan kebencian dan kemarahan di dalam hati pemuda itu ketika menyebutkan tentang Ishtar mengintip isi hatinya tanpa ijin.
"Kau memalukan!" Kuroro Remaja berteriak lagi pada Ishtar dan menerobos keluar dengan benar-benar marah.
Namun tiba-tiba, setelah semua keributan yang disebabkan pemuda itu, keheningan di dalam ruangan itu terlihat begitu mencekik. Keheningan pun tak bisa dihindari, dan Ishtar sendiri tenggelam dalam refleksi dan introspeksi dirinya sendiri. Bahkan tanpa ada seorang pun yang memberitahu, Kurapika tahu bahwa ini merupakan sebuah titik balik bagi Kuroro; saat di mana dia memutuskan untuk bersikap dingin dan memasang raut wajah tanpa emosi. Dia melakukannya untuk perlindungan diri melawan hobi Ishtar; dan akhirnya menjadi begitu mengakar di dalam diri Kuroro.
"Sikapnya buruk sekali," sebuah suara nenek-nenek datang dari sudut ruangan itu. "Dan yang kau lakukan pun tidak baik."
Hatsubaba keluar dari kamar terdekat dan menghampiri wanita berbusana serba hitam yang tengah serius itu.
"Seharusnya kau tidak mengatakan bagaimana perasaannya tadi. Itu masalah yang sensitif. Aku tidak tahu kau bisa menjadi begitu bodoh, Lady." Si Wanita Tua berkata dengan nada suara yang sedikit terdengar seperti memarahi.
"Aku—" Ishtar ingin protes, tapi setelah dia berpikir lebih jauh lagi, dia mengakui kekeliruannya. "Ya...aku salah..."
"Tapi, kau bisa saja memberitahunya bahwa kau sama sekali tidak bermaksud untuk membesarkannya sebagai pasukan elit." Dokter tua itu merengut, seolah tidak memahami Ishtar. "Kau bahkan menolak ketika Para Tetua meminta untuk mengambil hak asuh anak itu."
Kali ini, Kuroro Dewasa menjadi pucat pasi walaupun sebenarnya wajahnya memang sudah pucat alami. Matanya sedikit membelalak, namun keterkejutan di wajahnya lebih jelas terlihat sehingga Kurapika pun tak bisa untuk tidak menyadarinya. Melihat Ishtar tidak akan segera menjawab, Si Dokter Tua melanjutkan omelannya,
"Kau membesarkan anak itu benar-benar karena rasa kasih sayangmu terhadapnya. Bahkan semua latihan itu demi kebaikannya, agar dia bisa bertahan di dunia yang keras ini. Kau pernah memberitahuku bahwa kau ingin ia menjadi yang terbaik, bukan? Karena potensi dan Nen-nya yang terpendam, lalu...Serius, Milady, kau seperti orangtua angkat."
"Aku tak punya kesempatan lain, 'kan?" Tiba-tiba Ishtar berkata dengan sebuah senyum sedih nampak di wajah pucatnya. "Dan lagi-lagi, rasanya aku pun tak akan memberitahunya bahkan jika aku punya kesempatan. Dengan kondisi seperti ini, dia tak akan mempercayai ucapanku sepatah kata pun."
Benar..., pikir Kuroro dengan pahit. Tiba-tiba saja, dia merasa begitu bodoh. Sekarang ketika dia sudah berusia dua puluh enam tahun, dia menyadari betapa keras kepalanya dia ketika berusia enam belas.
"Cepat atau lambat, dia akan tahu sendiri," kata Ishtar penuh harap.
Oh, dia hanya akan mengetahuinya setelah sepuluh tahun, Ishtar, pikir Kurapika sambil memutar kedua bola matanya.
Keheningan kembali memenuhi ruangan itu. Tatapan Si Wanita Tua jatuh ke lantai di mana Kuroro Remaja menerobos masuk dan keluar tadi. Ada tatapan yang menerawang jauh di dalam mata tuanya.
"Aku tak pernah melihat anak itu benar-benar kecewa sebelumnya," dia bergumam.
"Itu lebih dari kecewa, Hatsubaba. Hatinya..." Ishtar berhenti sejenak. "...memerlukan pemulihan.".
Suaranya menjadi lebih pelan hingga hanya seperti bisikan, tapi Kuroro dan Kurapika mendengar setiap kata yang diucapkan wanita itu. Udara bergetar lagi, tapi sesaat sebelum mereka kembali dibawa pergi dari tempat itu, Kuroro merasa dia sekilas melihat air mata Ishtar.
Ketika turbulensi di udara berkurang, Kuroro dan Kurapika mendapati diri mereka masih berada di Ryuusei-gai, tapi di bagian yang berbeda. Kuroro melihat sekelilingnya dan segera mengenali tempat itu.
"Kantor Para Tetua," dia berkata.
"Tetua?" Kurapika berkedip.
"Di Ryuusei-gai, Para Tetua seperti para pemimpin kota. Seperti gubernur. Tapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah tetap berhubungan dengan dunia luar. Tidak banyak." Kuroro mengangkat bahunya dengan cuek.
"Jadi kau benar-benar mempersiapkan anak-anak sepertiku untuk dibesarkan menjadi pasukan elit?"
Sebuah suara yang terdengar familiar menarik perhatian mereka, dan ketika keduanya melihat ke tempat di mana suara itu berasal, mereka melihat Kuroro Remaja menghadap seorang pria tua. Para Tetua terlihat ragu, dan sedikit waspada berada di sekitar Kuroro. Seolah mereka tak mau memberitahukan apapun padanya, tapi dipaksa untuk mengatakannya.
"Ya, ada anak-anak lain tapi—" salah satu dari mereka bicara, tapi segera disela oleh Kuroro.
"Aku ingin nama-namanya." Remaja itu mengangkat kedua lengannya dalam sikap menuntut. "Nama anak-anak itu."
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka nanti, Nak? Mencoba membebaskan mereka? Jangan jadi terlalu naif begitu." Orang yang lebih berani melangkah maju dan menghadapi pemuda itu. "Dengar. Kota ini, sebenarnya, didanai oleh para mafia. Tanpa mereka, kita sudah binasa sejak lama."
Kuroro mendengus jijik. "Jadi kita seperti anjing mereka, melakukan berbagai pekerjaan kotor tapi dibayar dengan sampah. Kau pikir aku tidak tahu? Ketika mereka selesai dengan kita, apa yang mereka lakukan? Mereka melimpahkan semua kesalahan pada kita, mengatakan bahwa kita adalah segerombolan penjahat dari kota yang didanai oleh orang-orang buangan dan orang-orang yang berada dalam daftar hitam. Itu benar, 'kan?"
Para Tetua terlihat terkejut, melihat pemuda itu cukup pintar untuk menyimpulkan hingga sejauh itu. Mereka mulai gelisah, dan Kuroro Remaja memicingkan matanya menjadi tatapan berbahaya.
"Betapa pecundangnya, kalian semua," dia menukas. "Aku tidak akan menoleransinya. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi kambing hitam dari bajingan-bajingan yang serakah itu. Kalian perlu dana? Baik, aku akan memberikannya. Sebagai gantinya, mereka yang dibesarkan untuk menjadi pasukan elit akan berada dalam pimpinanku."
"A-apa kau bilang?" salah seorang dari Para Tetua hampir pingsan seolah mendengar pemuda itu mengatakan semacam ide yang memalukan.
"Namanya," Kuroro Remaja menuntut, tangannya terulur.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa terbahak-bahak memenuhi ruangan itu. Para Tetua melihat ke sekitarnya dengan bingung, sebelum mereka semua berbalik ke arah tertentu. Seorang wanita tua keriput baru saja memasuki ruangan, dan dia sedang tertawa senang. Punggungnya yang bungkuk sedikit berguncang ketika dia tertawa. Dia berjalan ke depan dan menghampiri pemuda itu. Dia mengintip ke kedalaman matanya yang gelap, dan setelah melihat kebulatan tekad di mata obsidian itu, dia pun membulatkan tekadnya.
"Ini dia," wanita itu menggeledah sakunya dan memasukkan sehelai kertas ke tangan Kuroro.
"Jadi kau salah satu dari mereka," Kuroro berkata dengan dingin, dan suara yang terdengar seolah tak percaya. "Hatsubaba."
Wanita tua itu mendengus. "Jangan salah paham padaku, Nak. Aku menentang mereka, tapi apa yang bisa dilakukan wanita tua sepertiku untuk melawan orang-orang tua berkepala batu itu? Mereka cukup sulit dihadapi."
Kuroro tak berkata apapun dan hanya berbalik untuk melangkah pergi. Namun ketika dia mencapai pintu, Hatsubaba memanggilnya lagi.
"Kuroro. Tentang Ishtar—"
Tanpa menyempatkan diri untuk mendengarkan Hatsubaba hingga selesai, Kuroro bergegas keluar dari ruangan itu. Wanita tua itu hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas.
"Melarikan diri, hah?"
"Tepat sekali...," Kurapika bergumam, mengejek Kuroro. Kuroro menatapnya kesal, tapi tak mengatakan apapun untuk menyangkalnya. Dia, sejujurnya, mengakui bahwa dia seorang pemuda yang bodoh dan kekanak-kanakkan.
"Jadi...anak-anak yang lain itu adalah para anak buahmu? Laba-laba?" Kurapika bertanya, tapi tak ada sesuatu yang lain dalam nada suaranya ketika dia mengucapkan kata 'Laba-laba.'
"Ya, mereka yang langsung berasal dari Ryuusei-gai," jawab Kuroro singkat. Ya, aslinya hanya ada delapan orang dari kami semua : Machi, Uvo, Paku, Feitan Phinks dan Franklin, kenangnya.
Lagi-lagi untuk yang kesepuluh kalinya di hari ini, udara bergetar lagi dan suara berdengung memnuhi telinga mereka. Kali ini, bukannya tersapu dalam pusaran distorsi ketika ruang dan waktu berganti, mereka jatuh ke dalam kegelapan yang pekat sekali lagi.
Ketika Kuroro dan Kurapika sadar, keduanya mendapati diri mereka lagi-lagi berada dalam kegelapan tak berbatas. Sebintik kecil cahaya merah bersinar di suatu tempat yang jauh, dan cahaya itu terlihat membesar secara bertahap. Bahkan tanpa berpikir dua kali, mereka berdua tahu bahwa sinar itu adalah Phoenix yang mendatangi mereka. Benar juga, cahaya itu berubah bentuk menjadi sesosok wanita...Lady Merah.
"Merasa bodoh, ya?" Dia bertanya dengan suaranya yang selalu terdengar senang.
"Apa lagi sekarang?" tanya Kuroro, sedikit merasa lelah atas permainan yang dimanikan Lady Merah terhadap dirinya dan Kurapika.
"Yah, sebagai informasi, aku akan pergi sekarang. Aku punya urusan untuk dihadiri, jadi aku akan meninggalkan kalian. Lagipula, pekerjaanku di sini sudah selesai. Tugasmu adalah meninjau kembali semua masa lalu yang telah kalian kunjungi. Mudah, 'kan?"
Serius, cara wanita itu berbicara mulai mengesalkan kedua anak muda itu. Penampilannya yang megah dan caranya berbicara tidak cocok sama sekali. Rasanya seperti melihat seorang ratu yang dibesarkan di tempat kumuh oleh beberapa orang punk.
Tiba-tiba, kegelapan itu tersapu oleh kilatan kobaran api Phoenix. Ketika mereka terlalap dalam kobaran api, Lady Merah menampakkan diri di hadapan keduanya untuk yang terakhir kali. Dia masih mengenakan pakaiannya yang eksotis, namun wujudnya lebih transparan. Dia tersenyum pada Kurapika dalam sebuah seringai nakal, lalu sosoknya mulai berganti. Gaunnya menari di sekitarnya di tengah-tengah kobaran api dan berubah wujud menjadi bulu-bulu api. Kuroro dan Kurapika tak membuang waktu sedetik pun, mereka menyaksikan perubahan wujud Phoenix yang benar-benar menakjubkan.
Kalau begitu...aku akan pergi sekarang. Kurapika...Dia menoleh pada Kurapika, yang mengira ketika dia berubah wujud menjadi Burung Phoenix, tata kramanya dalam berbicara menjadi lebih baik.
Ketika anak itu lahir, bawa dia pada Ishtar.
Tanpa memberi penjelasan sedikit pun, burung api yang abadi itu pergi. Adalah keheningan yang begitu besar, terasa begitu mencekik di antara Kuroro dan Kurapika, sebelum teriakan Kurapika memecah keheningan itu dengan kasar,
"APAAA?"
Kemudian kobaran api menelan mereka seluruhnya.
TBC
.
A/N :
Ini balasan review di chapter sebelumnya^^
Natsu Hiru Chan :
Wah...makasih...iya, ini masa lalu Kuroro...semoga Natsu suka. Update seminggu sekali kyknya ga bisa, soalnya harus bergantian sama translated fic yang lain n fic aku sendiri...but I'll do my best xD
October Lynx :
Thank you so much for supporting me...always^^
Sends :
Hahahahaha, makasih xD iya ini udah update...hehe
Kay Lusyifnix :
Mungkin sengaja biar Kay penasaran n baca chapter lanjutannya, haha!
Kujo Kasuza Phantomhive :
I'll do my best^^ And I'm kinda miss the continuation of your fics, Kujo...*deathglare*
And finally...
Review pleaseee xD
