Title : Love Confused!

Pair : Main! KyuMin, Slight! SiMin.

Cast : Kyuhyun, Sungmin, Siwon, and Others. (akan bertambah seiring berjalannya cerita... )

Rate : T

Genre : Shounen-ai, Romance, Hurt (May be)

Warning : Boys Love, OOC, Abal, Gaje, Typos Gk nyambung, Ngebosanin. De eL eL. Don't Like Don't Read.

Summary : Cinta itu terkadang membingungkan. Sungmin mencintai Siwon, tapi Sungmin sendiri tidak mengetahui ada Kyuhyun yang diam-diam memperhatikannya. Sampai akhirnya Sungmin sadar bahwa intensitas Kyuhyun di sisinya begitu berarti. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? (Failed Summary -.-")

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, dan FF ini sepenuhnya milik saya. Don't Copas, Key~!

A/N : Saya tidak yakin, tapi ada baiknya sediakan tissue sebelum ingusan. Buat jaga-jaga sih #plak. Ok, langsung baca aja ya^^ part ini pajang loh~

.

.

.

enJOY~

.

.

.

Chap. 14

.

Raungan motor ducati berwarna hijau muda terdengar begitu keras di halaman Mansion keluarga Lee. Sesaat setelah itu perlahan memelan, dan kemudian menghilang.

Kyuhyun baru saja tiba. Beranjak turun dari motor, sesaat sebelumnya ia mematikan motornya terlebih dulu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar tersebut.

Pemuda berkulit pucat itu berjalan gontai melewati ruang tengah—tempat yang selama sepuluh tahun belakangan ini masih ia tinggali. Mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dan kemudian mengedarkan pandangannya pada sekitar ruangan.

Tampak sepi.

Ketika berada di luar tadi, Kyuhyun memang tidak menemukan mobil Yong Ahjussi di halaman rumah, itu berarti orang yang selalu berada di dalam pikirannya, belum tiba.

Mungkin sebentar lagi, pikirnya.

Di luar cukup terik. Kyuhyun merasa haus, dan Ia berniat beranjak ke dapur untuk menghilangkan dahaganya. Sambil berjalan, pemuda itu kembali mengedarkan pandangannya pada rumah besar tersebut. Sebenarnya sudah menjadi hal yang wajar jika rumah besar ini selalu tampak sepi.

Ibu yang seorang aktivis sekaligus menjabat sebagai pemilik beberapa panti asuhan, pasti selalu disibukan dengan berbagai undangan dan kegiatan sosial yang terkadang selalu menuntut kehadirannya. Tak jarang Seo Ahjumma juga ikut diajak oleh Beliau sebagai asisten untuk menemaninya. Sedangkan Tuan Lee, ia masih berada di Jepang. Tidak masalah, karena setiap waktu pria paruh baya itu akan selalu menyempatkan diri untuk menelepon sang istri tercinta. Yang terlihat saat ini hanyalah beberapa maid yang tengah sibuk mengerjakan tugas mereka.

Saat sudah berada di dapur, Kyuhyun sempat berpapasan dengan salah satu maid lainnya yang kebetulan saat itu tengah membersihkan peralatan dapur mereka. Wanita yang diperkirakan oleh Kyuhyun berusia berkisar seperempat abad itu berniat menawarkan dirinya untuk makan siang, namun karena ia merasa belum terlalu lapar, maka dengan halus ia menolak. Kemudian Kyuhyun hanya bisa tersenyum maklum saat maid tersebut memohon pamit undur diri. Mungkin merasa enggan jika harus berlama di satu ruangan yang sama dengan sang majikan.

Lelaki pucat berwajah tampan itu, menghembuskan napasnya dengan bosan. Hanya ada dia seorang di dapur yang besar ini. Sebelumnya Kyuhyun tidak pernah merasa sesepi ini. Jika ia bersama Sungmin, maka pemuda bertubuh mungil itu akan selalu berhasil menghidupkan suasana. Berkeluh kesah, menceritakan ini dan itu, dari hal konyol, sampai tak masuk akal sekalipun. Yeah... walau tak jarang terkadang sedikit menyebalkan.

Ah! Betapa ia sangat merindukan sosok itu.

Namun tiba-tiba saja Kyuhyun teringat dengan suasana kelas—tadi pagi—saat Ujian Nasional hari pertama sedang berlangsung. Well, tidak ada hambatan karena semuanya berjalan dengan lancar. Tapi entah kenapa Kyuhyun merasa sedih akan hal itu, mungkin karena tak lama lagi ia akan segera meninggalkan rumah besar ini, dengan segala macam kenangan manis di dalamnya.

Saat itu, kebetulan ia mendapat ruang kelas yang sama dengan sang hyung. Kyuhyun, disela-sela aktifitasnya mengisi lembar jawaban, tak luput terkadang obsidiannya selalu terarah untuk sekadar mencuri pandang kepada Sungmin. Lelaki manis itu terlihat tenang menghadapi soal-soal yang berada di hadapannya. Kyuhyun merasa senang, itu artinya Sungmin-nya benar-benar belajar dengan keras. Ah! Tentu. Itu juga berkat Siwon yang selalu datang membantu namja bergigi kelinci tersebut.

Bukankah itu bagus?! Dengan begitu langkahnya akan semakin mudah untuk meninggalkan sosok tercintanya. Dan lagi Kyuhyun tak perlu pusing untuk memikirkan Sungmin yang—mungkin—tidak akan kehilangan dirinya nanti. Kyuhyun tak perlu lagi merasa takut akan hal itu, karena ia pikir sudah Siwon yang akan menggantikannya.

Kemudian, yang perlu Kyuhyun lakukan hanyalah berusaha keras untuk meyakinkan dirinya, memberi kepercayaan—secara tidak langsung—kepada pemuda itu, dengan membiarkan Siwon menjalin hubungan dengan Sungmin-nya. Walau hatinya masih saja berdenyut sakit ketika membayangkan Sungmin lebih memilih Siwon—tapi Kyuhyun yakin, sang ketua kelas itu mampu membuat orang tercintanya itu bahagia. Rasa cinta yang benar-benar tulus, begitu terpancar jelas dari kedua bola mata pemuda bermarga Choi tersebut.

Huft! Bila dibandingkan dengan dirinya yang sekarang, Kyuhyun tidaklah ada apa-apanya. Siwon bisa bersikap gentle dengan melamar Sungmin dengan cara baik-baik. Sedangkan dirinya? Hanya karena gelap mata, segala impiannya untuk membina keluarga yang harmonis kini sirna tak bersisa. Nyaris saja! Seharusnya Kyuhyun bisa bersabar waktu itu.

Lihatlah! Walau Kyuhyun sudah berusaha menahan diri dengan memejamkan kedua bola matanya, namun air mata bodoh itu tak pernah bosan—kembali—menghiasi wajah pucatnya yang semakin tampak tirus. Kyuhyun memaksakan diri untuk tersenyum. Senyuman yang menggambarkan kesakitan dan keputus asaan.

Untuk beberapa menit, ia membiarkan dirinya terlihat rapuh. Belakangan ini Kyuhyun memang sering menangis.

"Heh? Haha..." tiba-tiba tawa sinis keluar dari bibir merahnya. Siapa yang akan peduli padanya? Jika pun ia menangis kencang saat ini juga, maka tidak akan ada satu orang pun yang peduli. Tidak akan ada yang peduli pada seorang berengsek seperti dirinya.

Kyuhyun menggepalkan sebelah telapak tangannya. Tidak! Ia harus kuat. Hanya tinggal beberapa hari lagi, maka semuanya akan selesai. Ia harus bertahan.

Berhasil mensugestikan diri, perlahan kedua kelopak matanya kembali terbuka. Kyuhyun menarik napas dalam, dan menghembuskannya pelan. Terlihat teratur, hingga akhirnya ia berhasil tersenyum.

Diusapnya kedua pipinya yang basah. Tersadar akan tujuan awalnya, Kyuhyun segera melangkahkan kakinya, mendekat pada lemari pendingin. Membukanya, dan berniat untuk mengambil minuman kaleng yang memang tersedia dalam jumlah banyak di dalamnya. Kyuhyun berpikir, mungkin dengan segera membasahi tenggorokannya dengan air dingin, maka luka hatinya akan lenyap.

Well, mungkin Kyuhyun berhasil meyakinkan dirinya sendiri, tapi tentu sorot matanya itu tidak bisa menipu. Pemuda pucat itu terlihat sedang melamun ketika meraih salah satu minuman kaleng yang berada di kulkas. Ketika jemarinya berusaha membuka kaitan pada bagian tutup kaleng tersebut, tanpa sadar Kyuhyun berhasil melukai jarinya, hingga berdarah.

Kulit dagingnya terkoyak, menimbulkan luka. "Akh!" Kyuhyun meringis, merasa perih ketika percikan dari minuman kaleng itu mengenai jarinya.

Darah mengalir turun ke sela-sela jemarinya. Kyuhyun terlihat panik, tapi ia bingung harus melakukan apa.

Dan tiba-tiba saja Kyuhyun harus dikejutkan dengan kedatangan Sungmin yang dengan cepat membawa tubuhnya ke westafel. Meraih jemarinya, dan mengalirinya dengan air yang memancur dari keran.

Kyuhyun tidak sempat bereaksi, tubuhnya terasa kaku begitu melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajah cantik itu. Begitu cairan pekat berwarna merah itu mulai menghilang dari jemari putih Kyuhyun, Sungmin segera mengeringkannya. Ia berlari—oh! Tidak perlu berlari sebenarnya, karena kotak P3K berada tidak jauh dari tempat tersebut. Tepat berada di sisi kulkas.

Apakah Kyuhyun boleh bahagia sekarang? Sedikit saja. Bisakah? Pemuda bertubuh mungil ini ternyata masih begitu perhatian padanya. Ya, Tuhan... rasanya Kyuhyun ingin memeluknya sekarang juga.

Jemari lentik yang lembut itu, begitu telaten meneteskan cairan pengering luka ke atas jarinya yang sakit. Dan setelahnya, dengan penuh kehati-hatian Sungmin meraih perban dan menempelkannya dengan plester hingga sobekan dikulit itu berhasil tertutup.

Tanpa sadar Sungmin mengembuskan napas, legah. Tapi Kyuhyun yang melihat semua kejadian nyata itu, tak tahan untuk segera membuka mulutnya.

"H-hyung..." suara Kyuhyun terdengar bergetar. Bolehkah kali ini ia menangis bahagia? Liquid bening itu sudah tampak berkumpul di sudut matanya.

Tapi ketika Sungmin menoleh, dan saat bola mata Kyuhyun bertemu pandang dengan magic eyes yang sangat mengagumkan itu, semua yang ia harapakannya pupus. Sungmin segera memalingkan wajahnya. Dan tanpa sempat Kyuhyun berucap, tubuh mungil itu segera berlalu meninggalkan tubuhnya yang membeku.

Kyuhyun menunduk, berusaha menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya. Akan tetapi senyum tulus di bibirnya kembali terukir, ketika matanya teralih pada jari telunjuknya yang sudah terbalut oleh plester. Kehangatan itu masih terisa di sana. Walau ternyata sang hyung masih saja menghindarinya, tapi Kyuhyun berhasil menutupi kenyataan itu dengan perhatian Sungmin yang baru saja ia dapatkan.

Diangkatnya tinggi-tinggi jarinya yang terluka itu. Kyuhyun memandangnya sambil tersenyum. Mengecupnya pelan, dan membawanya ke dada untuk ia dekap.

Kyuhyun nyaris mengharapkan kesempatan itu, kalau saja ia tidak menemukan sorot mata yang begitu dingin dari bola mata besar cantik sang hyung.

.

.

.

Sungmin berjalan mondar-mandir di sekeliling kamarnya. Ia panik. Oh, tentu. Itu karena pekikan Kyuhyun yang mengejutkan dirinya—yang baru saja pulang dari sekolah—ketika ingin menaiki tangga menuju kamarnya.

Mungkin Sungmin tak sadar, tapi rasanya ia ingin menangis ketika menemukan jari sang adik terluka dan berdarah.

"Bodoh. Kenapa Dia begitu bodoh?!" Sungmin menggigit jarinya, cemas. "Hanya membuka tutup minuman kaleng, kenapa bisa terluka seperti itu?!" katanya lagi, menggerutu seperti ibu-ibu.

"Kalau saja aku tidak mendengar, dan datang membantunya, apa yang akan terjadi dengannya?" tubuhnya terhempas ke atas tempat tidur, saat Sungmin mulai membayangkan keadaan Kyuhyun.

"Kyaaaaaaa~! Dasar Kyunie paboya..." ia menjerit, tapi tertahan oleh bantal yang menutupi wajah cantiknya.

Pemuda manis itu merasa kesal. Kenapa ia harus merasa khawatir pada orang yang telah menyakitinya? Apa yang barusan ia lakukan terhadap Kyuhyun, semuanya terjadi begitu saja. Sungguh diluar kendali.

Pada dasarnya, Sungmin memang tidak dapat menghindari Kyuhyun sepenuhnya. Ia hanya takut ketika bayang-bayang wajah Kyuhyun yang sangat menakutkan itu kembali menghantuinya—jika harus berdekatan dengan lelaki pucat itu dalam waktu yang cepat.

Sungmin butuh waktu. Demi Tuhan, ia hampir bosan ketika harus—selalu—berusaha menahan sesak saat rasa rindu itu datang melanda, dan membelenggu dirinya hingga ia harus merasa terpuruk.

.

~~Love Confused~~

.

Hari demi hari berlalu.

Ujian Nasional telah usai, dan Kyuhyun harus bersiap untuk segera meninggalkan Korea.

Tidak ada perkembangan yang berarti sejak kejadian beberapa waktu lalu ketika Sungmin memberinya perhatian kecil. Sedikit tidaknya, Kyuhyun masih terus berharap bahwa kesempatan itu akan ada. Tapi ternyata tidak.

Sungmin masih saja bersikap dingin, dan—tetap—terus menghindari Kyuhyun. Sudah tidak ada alasan untuk pemuda berkulit pucat itu harus bertahan lebih lama di tempat ini.

Kyuhyun berniat, sebelum ia benar-benar meninggalkan Korea beserta orang-orang yang ia sayang—terlebih kepada sosok tercintanya—maka untuk itu, Ia membiarkan dirinya berbicara atau sekedar menerima satu pelukan sebagai salah satu kenangan terakhir yang bisa ia ingat nanti. Kyuhyun sangat mengharapkan itu dari Sungmin, namun jika tidak ada...

"Hahh~~!" pemuda itu menghela napas. Tapi Kyuhyun kembali memaksakan diri untuk tersenyum. "Kyuhyun-ah, fighting!" serunya menyemangati diri.

Mungkin besok, pagi-pagi sekali ia akan berangkat. Segala keperluan keberangkatannya ke LA sudah diurus oleh sang kakak. Masalah kelulusan dan beberapa berkas yang berhubungan dengan sekolahnya, Kyuhyun lebih memilih menyerahkan semuanya pada sang Ayah—Tuan Cho. Lelaki berwibawa itu pasti akan sangat muda menyelesaikannya. Orang ternama seperti Ayah Kyuhyun pastilah mempunyai banyak relasi untuk masalah sepele seperti itu—yeah, itu menurut pria itu.

Lalu bagaimana tentang keluarga Sungmin dan pemuda itu sendiri? Kalau boleh jujur, tentu Kyuhyun sangat tidak siap untuk yang satu ini. Kyuhyun tidak mungkin mengatakan alasan yang sesungguhnya untuk kembali ke LA. Mungkin, kebanyakan para Ibu akan segera menikahkan anaknya begitu mengetahui alasan klasik tersebut. Tapi ini berbeda. Sungmin itu namja, dan dia sedang tidak dalam keadaan hamil. Dan... satu hal yang pasti kejadian itu tidak dilakukan suka sama suka, melainkan paksaan sepihak.

Oh, hell. Ternyata ini lebih sulit dari sekedar membantu Heechul seonsaengnim mencukur bulu Heebum, membantu Jong Woon seonsaengnim menyikat gigi Ddangko, menyambuti rumput—ketika Jung seonsaengnim memberi hukuman, dan mendengar teriakan Changmin yang begitu memecahkan gendang telinga.

Kyuhyun memejamkan matanya, dan menarik napas dalam. Saat ini ia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja—yang akan menghubungan dirinya pada seorang wanita yang selama ini sudah membesarkan, merawat, menjaga, juga mendidiknya dengan baik.

Tangannya mulai terangkat, mengetuk pintu dengan lambat. Berharap orang yang berada di dalam sana tidak mendengarnya.

Tok... tok... tok...

"Nuguseyo?"

Oh, Shit! Kyuhyun dapat merasakan jantungnya berdetak kecang. Mungkin ia terlalu panik, sampai-sampai telapak tangannya terasa lembab.

"Ini Kyuhyun, Eomma." Raut wajah Kyuhyun terlihat tegang.

"Ya, silahkan masuk, Sayang. Pintunya tidak dikunci." Suara Ibu terdengar menyahut dari dalam.

Kyuhyun mencoba menebak-nebak ekspresi yang tercetak pada wajah ibu. Apakah heran? Bingung? atau—aish! Sebaiknya ia melihatnya secara langsung.

Pintu terbuka, dan perlahan tubuh tinggi itu mulai terlihat dari sudut mata sang Ibu.

"Ada apa, Kyunie?" Ibu langsung memulai, saat tubuh Kyuhyun sudah berdiri di hadapannya. Bibir tipisnya mengulum senyum, melihat tingkah Kyuhyun yang menggaruk belakang lehernya dengan canggung.

"Duduk saja, Kau tak perlu malu seperti itu." kali ini Ibu terkikik kecil, atas ucapannya sendiri.

Ia jadi tak sabar. Tumben sekali calon menantunya yang tampan ini datang menghampirinya secara langsung saat ia sedang berada di ruang kerja. Ia tidak mempunyai firasat apapun.

Kyuhyun duduk dengan gelisah. Ya, Tuhan. Apa Ibu menghidupkan AC terlalu rendah? Kenapa dingin sekali?! Ia bertanya di dalam hati. Kemudian Kyuhyun berusaha berpikir untuk menjawab pertanyaan yang ada di benaknya. Lagi pula ia tidak akan berani bertanya hal yang tak begitu penting tersebut, tapi entah kenapa tubuhnya terasa seperti menggigil.

"E-eomma... a-ada—yang ingin aku katakan." Kyuhyun berkata dengan suara terdengar gugup.

Dahi Ibu berkerut, "Ada apa, Kyuhyunie?" tanyanya heran.

Di balik meja, Kyuhyun meremas kuat jari-jarinya, mencoba berusaha menghilangkan kecemasannya. "A-aku, mungkin besok akan berangat ke LA."

TAK!

Pena yang berada di tangan Ibu jatuh membentur meja. "Apa yang terjadi?" sorot mata Ibu berubah dingin.

.

~~Love Confused~~

.

Akhirnya dengan segala daya upaya Kyuhyun berhasil membujuk sang Ibu untuk membiarkannya pergi.

Saat ini Kyuhyun kembali ke kamarnya dan menangis terisak. Sesungguhnya ia merasa malu, bila seorang lelaki—yang selama ini dianggap sang Ibu sebagai lelaki bijaksana yang kelak bakal membahagiakan kehidupan putranya—harus menangis terisak seperti wanita.

Tapi Kyuhyun tidak bisa lagi menahan diri, ketika seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibu kandungnya sendiri, harus menangis dan memohon padanya untuk tidak pergi. Tubuh sang Ibu terjatuh, berlutut di bawah kakinya, dan Kyuhyun bersumpah bahwa itu adalah hal yang paling tidak ingin ia ingat disepanjang hidupnya.

Ibu menangis histeris. Untungnya ruangan kerja itu didesain sedemikan rupa, hingga sang pemilik dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dan yeah, bisa dipastikan suara tangis seorang Ibu dengan anak lelaki yang sangat ia sayang sama seperti putra kandungnya itu tidak akan terdengar sampai keluar.

Ia tidak pernah bermaksud untuk bersikap menjadi seorang anak durhaka. Tapi Kyuhyun kembali memohon untuk meminta pengertian sang Ibu.

Memang, pada dasarnya alasan yang ia ajukan sungguh tidak masuk akal. Bahkan salah satu dari orang tua dari lelaki pucat itu tidak mengatakan apapun kepada Ibu Sungmin. Lalu bagaimana bisa ia membiarkan Kyuhyun pergi dari hidupnya dan putranya.

Hanya sekadar keinginan Kyuhyun yang mengatakan, ingin menjadi seorang yang sukses agar kelak bisa membahagiakan sang putra tercinta—Lee Sungmin. Bukankah itu terdengar konyol? Ibu bahkan tidak peduli dengan kesuksesan bocah itu. Asal Kyuhyun tetap bersamanya, ia akan mengorbankan segalanya. Apa Ibu harus tersenyum, disaat hatinya terus berdenyut sakit ketika membayangkan kehilangan putranya untuk kedua kali? Apa Ibu akan sanggup melihat putra kandung satu-satunya itu berubah seperti sepuluh tahun yang lalu? Ibu bahkan berani berkata kepada Kyuhyun, agar Tuhan lebih baik mencabut nyawanya detik ini juga, dari pada ia harus merasa kehilangan karena pemuda itu pergi meninggalkannya.

"Hiks... hiks... mi-mian—mianhae, Eomma-ya..." Tubuh tinggi itu tersungkur di balik pintu. Kyuhyun bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.

Sulit sekali rasanya untuk bernapas. Dadanya terasa sesak, seperti diserang ribuan pisau yang menghunus tepat ke jantungnya.

Tidak! Keputusannya sudah bulat. Besok ia akan berangkat ke LA. Dari awal Kyuhyun sudah bisa menduga, akan tetapi ia sangat terkejut ketika sang Ibu langsung menuding dan mengatakan kalau ia bertengkar dengan sang hyung. Kalau hanya bertengkar, bukankah dari kecil itu sudah sering terjadi? Itu benar, tapi ia tak akan menjawab. Kyuhyun harus memastikan bahwa Ibu tidak boleh tahu masalah yang sesungguhnya. Mungkin sebab itulah Ibu merasa berat hati.

Kyuhyun kembali meyakinkan Ibu dengan berjanji pada sosok yang sudah merawatnya sepuluh tahun belakangan ini, bahwa ia akan segera kembali secepatnya dengan syarat ia harus sukses menjadi seorang Direktur Cho yang tampan. Sebagai alasan tambahan ia juga mengatakan bahwa Ayahnya di LA sangat membutuhkan bantuan dari otak jeniusnya itu. Yeah... itu mungkin bisa terjadi, bukan?! Biar bagaimana pun hal tersebut memang menjadi salah satu tujuan hidup Kyuhyun.

Dengan rasa keterpaksaan yang begitu besar, akhirnya Ibu mengizinkan. Akan tetapi rasa sesak itu masih saja terasa dan terus menumpuk di dadanya. Kyuhyun harus terpaksa meninggalkan Ibu yang sedang meraung di ruangannya.

"Hiks... hiks... ma-maaf—" kata itu terkunci di bibirnya. Ia pasrah. Kyuhyun tak akan sanggup untuk berbicara pada Sungmin, jika pada Ibunya saja rasanya sudah menyakitkan seperti ini.

Dengan lemah Kyuhyun memilih menjatuhkan tubuh kurusnya—sepenuhnya—pada lantai. Ia membiarkan dirinya menangis hingga lelah. Malam nanti ia harus udah bersiap.

.

~~Love Confused~~

.

Kyuhyun tak yakin Ahra akan merasa bahagia bila bertemu dengannya nanti.

Lihatlah kondisi tubuh pemuda itu! Kyuhyun semakin kurus saja sejak didiamkan oleh Sungmin. Meski ia sudah mandi, tapi raut kesedihan masih saja terlihat jelas di wajah pucatnya.

Kyuhyun sudah memutuskan, bahwa ia tidak akan berpamitan secara langsung kepada Sungmin. Selesai berpamitan dengan Ibu sejak pagi tadi, ia lebih memilih mengurung diri di dalam kamar.

Merenung.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada sosok tercintanya itu. Tapi Kyuhyun yakin, ia tidak akan sanggup. Terlebih jika yang bersangkutan menolak untuk berbicara padanya. Oh, itu akan sangat menyakitkan. Tapi Kyuhyun kembali berpikir, biar bagaimanapun ia harus mencari cara lain agar Sungmin mengerti tentang bagaimana perasaannya selama sepuluh tahun ini.

Kyuhyun tersenyum konyol. Selembar kertas dan pena sudah ia genggam dari tadi, "Aku harus melakukannya." Ujar Kyuhyun sembari memandang isi kamarnya. Mungkin hanya beberapa pakaiannya saja yang akan ia bawa, selain itu tidak akan ada satu benda yang ia bawa dari tempat ini, kecuali kenangan manis selama hidup bersama keluarga Lee yang tersemat di dalam kepalanya, juga satu kenangan buruk bersama sang tercinta.

Sekarang pukul tiga pagi. Sejak kejadian laknat siang itu, Kyuhyun tidak akan bisa tidur tenang. Malam-malamnya selalu dihantui rasa bersalah yang begitu besar. Kyuhyun mulai beranjak, turun dari tempat tidur dan melangkah menuju meja belajarnya.

Ia ingin menorehkan sesuatu pada lembar kertas putih ini. Kata demi kata mulai terangkai hingga menjadi sebuah kalimat panjang. Tapi Kyuhyun merasa kesal. Beberapa kali ia harus mengganti lembaran kertasnya, karena kotor dan basah oleh tetesan air dari bola matanya.

Seharusnya ia tidak boleh menangis. Kyuhyun hampir muak, setiap kali menemukan dirinya tengah menangis ketika membayangkan Sungmin. Fisik dan pikirannya juga letih setiap kali ia memikirkan hidupnya yang kelak akan berjauhan dengan orang tercintanya.

Kyuhyun berulang kali mensugestikan diri, bahwa ia pasti bisa. Ia harus membuktikan kepada Sungmin. Kelak bila nanti mereka berjodoh, maka ia harus sudah menjadi orang yang pantas mendampingi sosok pemuda berhati lembut itu. Tak hanya sekarung beras, dan sebongkah berlian yang akan ia berikan nanti. Kyuhyun akan memberikan lebih dari itu. Apapun yang Sungmin minta padanya, pasti akan ia sanggupi meski berkorban nyawa sekalipun.

Pemuda dengan berat tubuhnya yang semakin menyusut itu, terkekeh disela-sela pergerakan tangannya menulis surat. Ia mengusap air mata yang sesekali berhasil lolos dari orbs kelamnya. Sungguh konyol pikirannya itu.

Baiklah, Kyuhyun tidak berharap banyak sebenarnya. Asal orang tercintanya hidup bahagia, maka ia akan berusaha ikut bahagia dan menerima—walau sebenarnya ia merasa tak yakin dengan itu.

Kepalanya menengadah, menatap langit-langit kamarnya. Usaha yang sia-sia sebenarnya, karena air mata itu masih saja mengalir keluar.

"Ya, Tuhan..." Kyuhyun bergumam dengan suara terdengar parau. Cairan yang mengisi saluran pernapasannya, membuat ia kesusahan untuk menarik napas.

Surat—sudah selesai ia tulis. Jam sudah menunjukkan pukul empat. Kyuhyun akan berangkat pukul 5 pagi. Perjalanan dari Korea menuju LA, kurang lebih memakan waktu hampir 24 jam. Kyuhyun akan bertambah letih karena ia tidak tidur dengan baik malam ini.

"Sungmin... aku sangat, sangat, dan sangat mencintaimu." Kyuhyun berujar sambil mendekap kertas tersebut. Surat itu telah ia lipat dengan rapi. Dikecupnya secara berulang-ulang, seolah itu adalah Sungmin-nya yang sangat berarti.

Semuanya sudah beres.

Pemuda manis itu pasti masih tidur. Kyuhyun berniat melihatnya ke kamar, untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi.

.

.

.

Kedua lengan Kyuhyun terjatuh lemas di kedua sisinya. Pintu kamar Sungmin terkunci, lalu bagaimana bisa ia masuk untuk sekadar melihat wajah itu?

Tuk!

Kepala Kyuhyun jatuh, bersender pada dinding pintu. Matanya terpejam, demi menahan segala emosional yang bergejolak di dadanya.

"Kyuhyunie..."

Samar-samar Kyuhyun merasa seperti ada yang menyebut namanya?

"Nak..." suara itu kembali menyapa, bersamaan dengan tepukan lembut di bahunya.

Kepalanya menoleh, "Eomma." Kyuhyun berseru sedikit kaget dengan keberadaan Ibu yang tiba-tiba ada di belakang tubuhnya. Wanita paruh baya yang masih saja terlihat cantik itu tersenyum kecil. Sekilas, tergambar sebersit rasa luka di balik senyum lembut itu.

"Jam berapa kau akan berangkat?" tanya ibu.

"Sebentar lagi. sebenarnya aku ingin melihat Sungmin hyung, tapi ternyata pintunya tertutup."

"Apa perlu Eomma bantu?"

"Oh... tidak, Eomma." Kyuhyun menggeleng, cepat. "Sungmin hyung, aku yakin ia masih tidur. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya." Kyuhyun berkata sambil berusaha untuk tersenyum.

"Eomma akan meminta kunci cadangan pada Seo Ahjumma. Kau tunggu di sin—"

"Eomma, tidak!" Ucapan Nyonya Lee terhenti ketika Kyuhyun memotongnya dengan cepat. "Sebenarnya aku hanya ingin memberikan ini." tangannya terulur, memberikan sebuah kertas yang sudah tersimpan di dalam amplop. "Tolong berikan pada Sungmin hyung, Eomma. Katakan aku sangat mencintainya..."

Setetes air mata lolos dari sudut obsidian pemuda pucat itu, namun Kyuhyun dengan cepat menghapusnya, sehingga atau—mungkin—ibu tidak dapat melihatnya.

Ibu tidak bisa berkata apapun. Ia menarik tubuh kurus Kyuhyun ke dalam pelukannya, "Cepatlah kembali, Nak!" suaranya yang terdengar serak sedikit teredam di dada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk pelan sembari mengusap bahu kecil sang Ibu dengan penuh kasih sayang. Setelahnya mereka tidak berbicara lagi. Keduanya tampak menikmati momen tersebut.

Ibu tidak mengerti masalah apa yang tengah mendera kedua putranya. Kyuhyun tidak menyinggung masalah apapun, termasuk tentang perjodohan lelaki itu dengan putranya. Kasih sayangnya terhadap Sungmin maupun Kyuhyun, semuanya itu sama. Ibu tidak pernah membedakan, meskipun Kyuhyun bukan anak kandungnya. Mengenai perjodohan, ia tahu tentang itu.

Dari awal, Kyuhyun memang tidak mengizinkan Ibu memberi tahu kepada sang putra. Pemuda kurus yang berada di dalam pelukannya sekarang memang pernah berkata, bahwa ia sangat senang dengan perjodohannya itu. Kyuhyun juga pernah meyakinkan Ibu, bahwa Sungmin pasti akan membalas perasaan cinta yang sejak dulu sudah tumbuh dan bersemi seiring berjalannya waktu. Kemudian, bila saat itu tiba, ia ingin segera dinikahkan setelah lulus SMA.

Tapi kini yang terjadi malah sebaliknya. Apa itu artinya... putranya Lee Sungmin...

Tiba-tiba Ibu terisak, semakin kencang. Napas Kyuhyun tercekat ketika merasakan tubuh Ibu bergetar.

"Mianhae, Eomma..."

"Kyu—hiks~! Kyuhyunie—" Ibu tidak sanggup berkata. Ia hanya mampu memejamkan mata, menghapus semua pikiran yang membayang di kepalanya. Ia harus percaya pada Kyuhyun. Lelaki ini sudah berjanji padanya untuk segera kembali.

"Aku akan segera pergi, Eomma..."

.

~~Love Confused~~

.

Sungmin bangun telat pagi ini.

Tuan muda berwajah cantik itu segera turun ke lantai bawah, setelah sebelumnya ia membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Karena sudah libur sekolah, Sungmin menjadi malas bangun pagi.

Ketika sudah berada di bawah, bola mata cantiknya segera menemukan Ibu yang sudah duduk manis di meja makan. Tapi ada yang berbeda. Sosok itu... sosok orang yang—ah! Mungkin orang itu juga bangun terlambat seperti dirinya. Yeah, Sungmin hanya menduga saja.

"Selamat pagi, Eomma." Sungmin menyapa ketika bokong padatnya sudah mendarat di salah satu kursi. Akan tetapi Ibu tidak menanggapi, membuat dahi mulus pemuda itu berkerut samar.

Menatap Ibu dengan bingung, Sungmin kembali menyapa, "Eomma..." panggilnya lagi. Ibu masih saja diam.

"Eomma!" Sungmin meninggikan suaranya.

Sang Ibu terkejut, "A-apa?" tanyanya, bingung.

"Eomma melamun, eoh?"

"Ahniya." Ibu menggeleng. Detik selanjutnya tatapannya kembali berubah kosong.

Pemuda bermarga Lee itu mendengus, merasa kesal karena tidak diacuhkan.

Sungmin ingin bertanya kembali, tapi tertunda karena pandangannya segera teralih pada sarapan yang berjejer cantik di hadapannya. Tangannya dengan sigap menyendokkan nasi ke dalam piring. Niatnya untuk bertanya tentang Kyuhyun terlupakan oleh puding labu yang menjadi desserts untuk pagi ini.

Sungmin yang baru akan menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, segera menghentikan pergerakan tangannya saat mendengar Ibu membuka suara secara tiba-tiba. "Kyuhyunie..." ujarnya terdengar lirih. Pemuda manis itu terperangah.

Kenapa? Kenapa ia harus mendengar sang Ibu menyebutkan nama sosok itu dengan suara dan raut wajah terluka seperti itu?

"E-eomma..." panggil Sungmin, mencoba memastikan.

Ibu menoleh, menatap putranya dengan bola matanya yang tampak berkaca-kaca. "Kyuhyunie sudah pergi." Kata Ibu, dan berhasil membuat Sungmin terperanjat, hingga sendok yang berada digenggaman tangannya terlepas, jatuh membentur piring.

TRANG!

Sejenak meja makan itu berubah hening. Ibu kembali larut dalam kesedihannya, sedangkan Sungmin sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Kyuhyun pergi? Bukankah itu bagus? Jadi ia tidak perlu lagi merasa takut saat mereka berdua berada di satu tempat yang sama dengan waktu yang sama pula. Dengan begitu, mungkin trauma yang mendera dirinya akan hilang. Akan tetapi...

"Aku tidak peduli." Sungmin menyahut dengan suara dan ekspresi yang begitu dingin.

Ibu kaget. Ia menatap tidak percaya pada putranya. Sesak! Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Sebenarnya apa yang telah terjadi?

"Mi-Minnie—"

"Aku tidak peduli padanya, Eomma!" Suaranya meninggi.

"Hiks~! Ke-kenapa kau—"

Demi Tuhan, Sungmin tidak bermaksud membuat Ibunya menangis. Dalam hati, ia meyakinkan diri bahwa yang berbicara tadi bukanlah dirinya. Tapi ia begitu emosi ketika sang Ibu harus menangisi lelaki itu. Lelaki yang dengan kurang ajarnya sudah menodai dirinya.

"Aku tidak peduli dia mau pergi kemana!"

"LEE SUNGMIN!"

Beruntung Ibu masih bisa mengendalikan emosinya, sehingga tangannya yang sudah terangkat, berhenti dan mengambang di udara. Mata kecilnya terpejam demi menetralisir gemuruh di dadanya. Sesaat setelah itu, kepalan tangannya jatuh lemas di sisi tubuhnya.

Dengan mata yang masih terpejam, Ibu berkata, "Eomma tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kalian. Pagi tadi Kyuhyun sudah berangkat ke LA, dan dia meninggalkan ini untukmu." Surat itu ia lempar di atas meja.

Setelah berhasil mengatakan itu, Ibu segera beranjak meninggalkan sang putra yang terdiam, membeku.

.

~~Love Confused~~

.

Sungmin duduk gelisah di atas tempat tidurnya.

Mata dan hidungnya terasa panas. Dadanya terasa penuh, dan sesak. Ia tidak tahu kenapa harus merasakan ini. Sesaat setelah Ibu meninggalkannya di meja makan—dengan sebuah amplop yang terlempar di depan wajahnya—Sungmin seolah bisa merasakan nyawanya tercabut dari raga.

"Hiks~"

Dan ia tidak tahu kenapa mesti terisak? Kyuhyun pergi... bukankah itu harapannya?

"ANDWAE!"

Sungmin berteriak menolak keras pikirannya. Tidak! Ia tidak ingin Kyuhyun pergi, apalagi meninggalkan dirinya. Ia hanya butuh waktu untuk bisa kembali berbicara dengan Kyuhyun. Sampai waktu itu tiba, maka ia akan kembali menerima pemuda itu seperti dulu lagi.

"Arrrrgghhh! Ti-tidak—" helaian surai yang sewarna arang itu memenuhi sela jemarinya, ketika Sungmin menjambak rambutnya dengan kuat. Pemuda manis itu tampak seperti terkena penyakit yang membuat otaknya berpikiran aneh. Sungmin paranoid. Sorot matanya terlihat gelisah, takut dan panik.

Surat itu menyentuh ujung kakinya. Sungmin beringsut mundur, menjauhkan tubuhnya hingga punggung kecilnya membentur keras kepala ranjang.

"Kyuhyunie..." bibirnya bergetar. Ketakutan itu terpancar jelas di foxy cantiknya. Sungmin sudah mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Kyuhyun, tapi kenapa?

"Hiks~ Kyunie... Kyunie... K-Kyuhyunie... Kyu—" Sungmin merancau, menyebut nama Kyuhyun secara berulang-ulang.

Lelaki itu pasti bohong! Itu pasti. Kyuhyun pasti sedang mengerjainya agar ia segera berbicara. Tidak. Kyuhyun sudah berjanji padanya untuk tidak meninggalkan dirinya.

Dengan mengusap kasar wajahnya yang ternyata sudah basah akan air mata, Sungmin segera berlari menuju kamar sang adik untuk memastikan bawah lelaki itu benar-benar berbohong. Kalau ternyata dugaannya benar, maka ia akan melempar surat konyol itu pada Kyuhyun, dan bersumpah akan segera menghajar pemuda itu sampai babak belur.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Hantaman kaki kecilnya pada lantai itu begitu keras. Sungmin tidak peduli dengan rasa sakit pada telapak kakinya, ia harus menemukan Kyuhyun di balik pintu ini.

BRAK!

.

Kosong.

Bugh!

Tubuh kecil pemuda itu jatuh tersungkur bersamaan dengan linangan air mata yang jatuh semakin deras membasahi wajah piasnya.

Sungmin tidak sanggup berbicara. Bibirnya terlihat bergetar dengan pandangan kosong yang tertutupi kabut—air mata.

Untuk waktu yang cukup lama, tubuh kecil itu terus tergeletak tak berdaya di atas lantai. Sungguh sangat mengenaskan. Bila saja Sungmin sadar lebih awal, maka tak seharusnya semua kejadian ini terjadi.

Ibu terluka. Kyuhyun hancur, dan Sungmin...

"Hiks... hiks... eung~ uhuk—! Uhuk!" isakan yang disusul dengan batuk kecil itu kembali lolos dari bibir mungilnya. Sungguh tiada arti.

Pemuda manis itu tidak akan sanggup menjalani semua ini. Ia tidak akan sanggup menanggung malu bila sang Ibu mengetahui kebenarannya. Lelaki pucat itu, setelah berhasil melecehkannya sekarang telah pergi meninggalkannya.

Sungmin memaksa tubuhnya bergerak. Ia merangkak untuk bisa sampai ke atas tempat tidur Kyuhyun. Ia harus mengetahui alasan si brengsek yang telah berani meninggalkannya dengan segala luka dan trauma berat yang ia alami.

Bau tubuh Kyuhyun segera memenuhi indra penciuman Sungmin, saat lelaki manis itu sudah berada di atas tempat tidur Kyuhyun. Walau ia kesulitan untuk mengambil napas, tapi Sungmin masih bisa merasakan bau yang sangat ia hapal tersebut. Tubuh kecilnya terbaring lemas, dengan sebuah surat yang terdekap di atas dadanya.

Apa yang ada di dalam surat itu? Sungguh, Sungmin tidak mampu untuk menduganya.

Perlahan kedua tangannya mulai bergerak membuka sampul berwarna biru tersebut. Dengan jemari bergetar, Sungmin membuka lipatan dan mulai membaca isinya.

Sebelum benar-benar membacanya, pemuda manis itu berusaha menguatkan hati dengan menarik napas dengan kuat, dan menghembuskannya secara perlahan. Itu ia lakukan secara bertahap sampai Sungmin merasa yakin dan siap membaca barisan hangul yang berjejer rapi di kertas tersebut.

.

.

.

Annyeong~

Minnie... apa kau sedang membaca surat ini? Jika benar, maka aku akan sangat bahagia. Aku tidak akan bisa membayangkan bila akhirnya kau mau membacanya.

Aku bukanlah orang yang pintar dalam berkata-kata. Tapi, ku harap kau bisa memaklumi isi surat konyol ini.

Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu.

Minnie, aku minta maaf. Minnie, tolong maafkan aku. Maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat padamu. Yeah, aku tahu kalau kau tidak akan pernah mau memaafkanku. Aku memang tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Aku akan memaklumi itu.

Tapi aku akan tetap meminta maaf padamu. Kau harus tahu, aku sangat menyesal telah melakukan perbuatan keji itu terhadapmu. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu, Minnie. Aku sudah sangat lama mencintaimu. Mungkin kau akan menganggap ini sangat berlebihan jika aku mengatakan sudah mencintaimu sejak kecil. Kau boleh tertawa, tapi itu tidak bohong. Aku sudah jatuh ke dalam pesona seorang Lee Sungmin sejak sepuluh tahun yang lalu. Apa kau ingat ketika Ibu mempertemukan aku dan mengenalkan diriku padamu? Yeah... sejak saat itu aku tidak bisa berpaling dari foxy eyes yang sudah berhasil membuatku melangkah jauh hingga melewati batas kodrat.

Apa kau bisa menebak bagaimana perasaanku ketika melihat Siwon menciummu dan kau hanya diam saja? :'(

Aku seperti tidak bisa menduga dengan apa yang akan aku lakukan terhadapmu setelah itu. Aku begitu marah, hatiku hancur berkeping-keping hingga tak bersisa. Aku berani bersumpah demi apapun, bahwa itu semua diluar kendaliku. Tidak terlintas sedikitpun di benakku, bahwa aku berniat melakukan hal sekeji itu terhadapmu. Maka dari itu aku mohon maaf dan ampunmu.

Ketika kau mengatakan untuk melupakan itu semua, aku tidak yakin bisa melakukannya. Kau mendiamkanku, mengabaikanku seperti orang asing yang tiada arti. Jika benar kau tidak mencintaiku, mungkin aku tidak akan seluka ini. Aku akan menerimanya.

Mungkin ini juga salahku yang terlalu pengecut untuk mengakui semua perasaanku padamu. Dahulu aku sangat yakin bahwa kau juga mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu. Namun semenjak kedatangan siswa baru yang selalu kau banggakan itu, harapanku pupus. Tapi aku masih berusaha untuk bisa mendapat perhatianmu.

Dan ketika pada akhirnya aku mendapatkan jawaban dari bibirmu itu... maka semuanya telah usai. Kau tidak marah 'kan aku pergi? Tapi aku sedih meninggalkanmu, Minnie. TT_TT

Minnie... apa kau sedang menangis sekarang ini? Aku harap tidak. Tolong jangan menangis, Minnie! Surat ini sudah jelek dan kotor olehku, dan kau tidak perlu menambahinya.

Ah, iya! Aku akan menceritakan suatu rahasia padamu. Aku mendengar rahasia ini dari Ahra Noona. Kau pasti tidak pernah melihat wajahnya kan? Dia itu sosok wanita cantik, tapi ia juga sangat menyebalkan. Aku harap kau tidak berkeinginan untuk bertemu dengannya.

Waktu itu aku tidak mendengar secara langsung dari mulut yeoja itu, tapi aku begitu terkejut saat keesokan harinya melihat kedua orang tuaku sedang berbincang dengan orang tuamu. Apa kau bisa menebak rahasianya itu apa?

Cho Kyuhyun ternyata sudah dijodohkan dengan Lee Sungmin.

Apa sekarang kau terkejut? Aku menebak kau pasti sangat terkejut. Aku juga terkejut waktu itu. Maaf... aku harus merahasiakan ini padamu. Tapi... sepertinya kau harus tahu tentang ini.

Aku akan menceritakannya.

Sekitar setahun yang lalu. Waktu itu kita masih duduk ditingkat dua. Kau pasti tidak tahu tentang ini, karena kau waktu itu tertidur di punggungku setelah kelelahan usai jam olah raga pada pelajaran terakhir. Ish... kau harus segera menghilangkan kebiasaan itu, Minnie.

Menurut cerita yang aku dengar, ternyata kakekmu dan kakekku telah menjodohkan kita berdua. Waktu itu aku benar-benar terkejut, tapi di sisi lain aku begitu bahagai. Aku sudah membayangkan bagaimana jika aku menikah denganmu nanti. Menurut cerita yang aku dengar dari orang tua kita, sebenarnya kakekku yang sejak kecil bersahabat dengan kakekmu berniat menjodohkan anak-anak mereka. Seharusnya Ayahku menikah dengan Ibumu, tapi karena saat itu Eomma-ku tengah mengandung Cho Kyuhyun yang tampan, dan juga kebetulan Appa dan Eomma Lee baru akan mendapatkan anak kedua, maka kedua kakek tua itu berniat menjodohkan cucunya.

Aku tidak mengerti bagaimana kedua kakek tua itu bisa kehilangan komunikasi satu sama lain. Yang aku tahu, keduanya bertemu setelah ketika anak-anak mereka sudah membina rumah tangga.

Mereka tidak memikirkan gender bayi yang tengah berada di kandungan Eomma-ku waktu itu. Kakek begitu bodoh karena terlanjur mengucapkan janji dan sumpah pada kakekmu untuk menjodohkan cucu keduanya, dengan cucu pertama dari Appa Lee yaitu Kau. Aku pikir itu terjadi karena Ahra noona sudah menjadi gadis yang cantik. Dan kemudian, ketika aku terlahir ke dunia...

Hmm... apa kau tahu, jika orang tua akan selalu melakukan apapun untuk kebahagian anak-anaknya? Perjodohan ini sempat ditentang oleh kedua orang tua kita, karena ternyata aku terlahir bukan sebagai yeoja. Tapi mungkin ini sudah takdir. Ketika Lee Sungjin meninggal, Appa Lee datang kepada Appa-ku untuk memintaku dirawat oleh kedua orang tuamu. Kemudian secara sangat kebetulan, Appa harus ke LA demi mengembangkan bisnisnya di sana. Bukankah semua ini sudah seperti direncanakan? Dan yeah... aku menerima perjodohan itu, karena aku yang menginginkannya.

Dan dengan begitu, kedua orang Tua kita tidak perlu merasa bersalah kepada kakek^^v

Tapi kurasa itu sudah tidak berlaku. Kau tidak perlu takut, karena sebagai perwakilan, aku sudah meminta maaf kepada Almarhum kakek.

Ah! Aku sudah lelah, hyung. Oh, iya... Aku baru ingat, ternyata aku tidak memanggilmu dengan sebuatan 'hyung'. Apa kau marah? Baik. Aku minta maaf karena semua itu ada alasannya. Semenjak aku tahu bahwa aku dijodohkan denganmu, maka sekalipun aku tidak berniat memanggilmu seperti itu. Lidahku gatal ingin selalu memangilmu; yeobo.

Ternyata aku sudah menulis sepanjang ini. Aku akan mengucapkan selamat tinggal, SungminKu sayang. Berjanjilah padaku, bahwa kau selalu akan bahagia. Aku disini akan berusaha menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jika kesempatan itu ada, aku sangat mengharapkan kau kembali padaku. Dan jika memang sudah tidak ada, maka berbahagialah bersama orang yang kau cinta. Oh, iya. Aku lihat Siwon hyung itu ternyata orang yang baik^^,

SungminKu sayang~~ aku mencintaimu. Akan selalu dan terus seperti itu. Saranghae...

Annyeong yeobo^^

.

.

.

Cho Kyuhyun—calon Direkur tampan, 13 juli 2013.

Ps : Akhirnya aku bisa mengatakan 'yeobo' kepadamu :)

.

.

.

"Hiks... a-apa ini? Andwae! Ini tidak mungkin. Ti-tidak—" Sungmin menggeleng, menolak untuk mempercayai isi surat yang baru saja ia baca.

Bibir mungilnya tampak bergetar, tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun—lagi. Apa benar penyesalan itu selalu datang terlambat?

Tapi tidak seharusnya ini terjadi.

"Arrrrrrrgghhhh!" Sungmin menjerit, histeris.

Ia menangis senggugukan, berusaha keras menolak semua ini. Apa yang tertulis di dalam surat itu sungguh mengejutkan sekaligus menghancurkan hatinya. Sungmin tidak ingin mempercayainya, tapi ia tahu Kyuhyun tidak pernah berbohong padanya.

"Kyuhyuuunnn! Hiks... hiks... hiks..."

Perasaan marah, kesal, hancur juga kecewa dengan cepat memenuhi dada pemuda manis itu. Dia seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa. Bila seperti ini, siapa yang pantas disalahkan?

"Hiks... Kyuhyunie... aku mencintaimu... ke-kenapa kau pergi meninggalkanku." Surat itu ia peluk dengan kencang. Tak terkira entah seperti apa bentuknya sekarang.

Ia membayangkan betapa sakitnya Kyuhyun selama ini. Sungmin benar-benar mengutuk dirinya yang telat menyadari semua perasaannya. Ia masih ingat bagaimana Kyuhyun berbisik dengan lirih menyebutnya dengan panggilan itu.

Malam itu, Kyuhyun menciumnya dan mengucapkan selamat malam padanya. Selama ini Kyuhyun menutupi perasaanya demi dirinya agar bisa selalu tersenyum bahagia.

"Hiks... ma-maaf—"

Sungmin begitu hancur ketika membayangkan perasaan Kyuhyun yang melihat Siwon menciumnya. Pemuda itu salah paham. Kejadiannya bukanlah seperti yang dibayangkan Kyuhyun. Semunya terjadi begitu saja tanpa bisa ia tolak sebelumnya.

Dari awal semuanya sudah sangat membingungkan. Begitu rumit. Sungmin terlambat menyadari perasaannya, sedangkan Kyuhyun terlalu pengecut mengungkapkan perasaannya, hingga akhirnya kedua insan yang saling mencintai itu berhasil menghancurkan semuanya.

Sungmin masih saja menangisi kebodohannya. Pemuda itu begitu hancur dan sangat berantakan. Sampai akhirnya, karena ia sudah tak sanggup berpikir akan semua derita yang mendera hidupnya, Sungmin pun jatuh pingsan.

.

TBC.

.


Fuih~ maaf! Mungkin part ini menjadi part yang sangat membosankan disepanjang perjalanan FF ini. Saya minta maaf karena masih harus TBC. Next chap masih ada giliran(?) Sungmin. T_T

Semuanya harus benar-benar selesai.

Oh, iya buat Guest yang bertanya arti dari ASAP, adalah panjangan dari As Soon As Possible yang artinya secepat mungkin!

Nah, saya sudah asap lagi nih. Bagaimana? menguras bak mandi, eoh? :p

Next chap sepertinya agak lama, saya suda mulai sibuk senin nanti. Tapi tenang~ saya akan mengusahakan FF ini selesai sebelum bulan puasa. Kkkk~

Ok, ayo review lagi biar saya semangat! yang banyak yaaaaaaa...

Terimakasih untuk semua cintakuhhhh~~ eummmmaachh.. #dapat kiss dari saya XDDD