Bagi Sehun, Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.

~A Chance~

Chapter 13

"Bolehkah...?"

Luhan mengangguk yakin. Yakin dengan perasaannya yang mengatakan jika Sehun tidak akan mengecewakannya.

"Ya, Sehun. Aku mengabulkan keinginanmu-"

Mata Sehun menyiratkan kelegaan sebelum Luhan berucap lagi. "Tapi..."

"Tapi?"

Luhan tersenyum dan mencoba menghilangkan kernyutan di dahi Sehun dengan ujung jemarinya. "Satu minggu lagi. Kumohon untuk menahannya hingga kita benar-benar sah di hadapan Tuhan dan keluarga kita."

Kernyitan di dahi Sehun semakin dalam dan matanya melebar, ucapan Luhan mampu menghilangkan seluruh bayangan romantis di otaknya sekaligus gairahnya. Gairahnya lenyap, nafsunya telah dipadamkan tiba-tiba oleh dua kalimat sederhana Luhan, layaknya kobaran api yang tanpa sengaja tersiram oleh air es.

"A-apa?"

Tenggorokan Sehun-pun bahkan tercekat. Tubuhnya terdiam dan Luhan menganggap itu sebagai bentuk kekecewaan Sehun yang tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Maafkan aku, Sehun. Aku mendapat nasehat dari mendiang ibuku dan berjanji padanya untuk tidak memberikan 'milikku' sebelum menikah kepada siapapun, sekalipun untuk orang yang kucintai. Dan aku sendiri adalah tipe gadis kuno yang mengutamakan sebuah komitmen dibanding kesenangan pribadi. Jadi, maaf." Luhan meraih tangan Sehun yang sebelumnya terlingkar di pinggangnya. Mengelus lembut dengan ibu jarinya serta mata yang tak lepas dari mata tajam Sehun. Tatapan penuh penyesalan terlihat di binar matanya. "Kau pasti kecewa, atau marah kan?"

Sehun tidak mampu berkata-kata. Ia tidak kecewa, sungguh. Apalagi marah pada Luhan hanya karena Luhan menolak untuk memberikan miliknya yang berharga kepada Sehun yang memang belum sah menjadi suaminya.

Padahal bukan itu yang sebenarnya. Sehun hanya tidak mampu memberi respon selain terkejut dan merutuki kebodohan dirinya yang tidak mampu mengendalikan diri dan memilih mengesampingkan akal sehatnya.

"Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau tidak lagi marah? Aku akan melakukan semuanya semampuku, tapi aku tetap tidak akan melanggar batas itu."

Sehun sadar jika dirinya terlalu lama berdiam diri, membiarkan Luhan bersama rasa bersalahnya dengan cukup lama. Karena itu, ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Luhan hingga gadis itu berakhir di pelukannya. Membungkuk untuk mencapai daun telinga Luhan dan berbisik lirih, "Maafkan aku, Lu. Ini adalah kesalahanku yang tidak bisa mengendalikan diriku dengan baik. Seharusnya aku bisa menunggu sedikit lagi."

Perlahan ketegangan Luhan yang mengira Sehun akan marah dan tidak mau bicara kepadanya mulai luntur. Ia bernafas lega dan mulai tersenyum.

"Aku seharusnya tidak melewati batas. Terima kasih sudah memperingatkanku."

Pelan, Luhan mendorong tubuh Sehun hingga mereka berdua berakhir berhadap-hadapan dan mata yang saling menyelami satu sama lain. "Aku senang kau tidak marah padaku."

"Aku tidak seberengsek itu hanya karena kau tidak menyanggupi keinginanku. Dan sebaliknya, aku merasa bersyukur memiliki gadis penepat janji sepertimu. Kuharap kau juga tidak mengingkari janji kita di hadapan Tuhan nanti."

Keduanya saling tersenyum dan Sehun yang pertama kali menarik pergelangan tangan Luhan ke arah ranjang. "Tidur sambil berpelukan. Itu tidak apa-apa, kan?"

Luhan sempat tertawa sebelum menganggukkan kepalanya imut. Ia lantas bergelung ke dada Sehun ketika lelaki itu berbaring, dan Sehun menjadikan lengannya sebagai bantal bagi kekasihnya.

"Jaljayo, Baby."

...

Suasana kantor masih terlalu sepi di pukul enam pagi seperti ini. Embun masih menggantung di jendela kaca besar yang menghadap hiruk pikuk kota Seoul yang tidak pernah sepi. Tidak ada suara kehidupan selain suara Cleaning Service yang menggunakan alat kebersihan mereka. Membersihkan setiap sudut ruangan sebelum karyawan kantor mulai berdatangan untuk aktivitas hari ini.

Tap... tap... tap...

Langkah seorang pria menggema di sebuah gedung berlantai tiga itu. Ia berjalan ke arah suara Cleaning Service itu, dan menemukan seorang pria seumuran dengannya baru mengunci pintu Ruang Divisi Pemasaran. Pria itu tersentak kaget akan kedatangannya.

"Oh, s-selamat pagi Tuan Byun."

Petugas CS itupun membungkuk hormat kepada salah satu petinggi perusahaan itu. Dihatinya tersimpan pertanyaan mengapa pria itu datang sepagi ini di kantor. Tidak biasanya.

"Beri aku kunci ruangan Presdir.", perintah Byun Seung Ho dengan nada angkuhnya.

"M-maaf Tuan Byun, saya tidak diperkenankan untuk memberikan kunci ruangan Presdir kepada siapapun.", ucap pria itu dengan mimik ketakutan. Ia sering mendengar dari petugas CS yang lain jika Tuan Byun ini sangat kasar dan tidak bisa di bantah. Tapi harus bagaimana lagi? Pria itu tidak ingin ditegur oleh atasannya karena melanggar peraturan.

"Aku tidak butuh alasanmu! Cepat berikan kunci itu!"

Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Merasa ingin menolak namun takut secara bersamaan.

"Cepat berikan! Kau mau kupecat?!"

Pada akhirnya pria petugas CS itupun memberikan sebuah kunci yang berada di kantong celananya dengan tangan bergetar dan langsung disambar oleh Seung Ho. Biarlah ia mendapat teguran dari atasannya, yang penting ia tidak dipecat. Mau diberi makan apa anak dan istrinya nanti?

Tanpa banyak bicara lagi, Seung Ho lantas pergi dengan seringaian di wajahnya. Entah apa yang ada dipikiran pria itu hingga niat datang pagi-pagi untuk memasuki Ruang Presdir yang jarang dibuka semenjak kepergian pemilik jabatan itu untuk selama-lamanya, selain saat ada sesuatu hal yang diperlukan. Hanya Sekretaris Han dan Cleaning Service yang biasanya memasuki ruangan penuh kenangan mendiang Presdir Xi itu.

Cklek!

Seung Ho membuka pintu berkaca buram itu perlahan. Ruangan luas itu masih nampak gelap di pagi seperti ini namun Seung Ho berhasil menemukan saklar lampu.

Ruangan-pun menjadi terang menderang. Suara gema terdengar seiring langkah Seung Ho yang mendekati meja kekuasaan Xiao Group. Pria paruh baya itu kembali menyeringai, menelusuri meja penuh benda-benda penting itu dengan ujung jarinya. Sekretaris Han memang yang meminta untuk tidak membereskan benda-benda Tuan Xi, sebelum ada seseorang yang menjadi penerus jabatan itu nantinya.

"Sebentar lagi. Tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera menduduki kursi ini dan menguasai semuanya. Hahaha." gumam Seung Ho tidak lupa dengan tawa licik sambil menduduki kursi yang diagungkan itu.

Seringaian enggan luntur dari wajahnya dan ia mulai membayangkan dirinya setelah berhasil mendapatkan gelar Presdir dihadapan namanya. Membayangkan ratusan orang akan bertekuk lutut dihadapannya, takut kepadanya, dan tidak akan berani macam-macam lagi. Ia sudah muak dan gatal ingin membunuh siapapun yang selama ini menggunjingnya sebagai pria yang menghasut istrinya demi jabatan tertinggi. Meskipun sepenuhnya benar, tentu Seung Ho tidak menginginkan kenyataan itu akan memperburuk citranya.

"Apa yang Anda lakukan disini?"

Bayangan Seung Ho lenyap, terganti oleh keterkejutan yang hanya bertahan dalam beberapa detik. Setelah tahu siapa yang memergokinya, ia lantas tersenyum licik.

"Bagaimana? Bukankah aku sudah pantas menduduki kursi ini dan menjadi atasanmu?"

Sekretaris Han yang berdiri di depan pintu berkaca buram, hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia ingin berteriak bahwa Seung Ho tidak boleh seenaknya memasuki ruangan penting itu, namun ia tidak memiliki kuasa untuk mengusir pria itu.

"Maaf. Tapi tidak ada yang boleh mendatangi kursi itu selain Presdir."

Tawa Seung Ho terdengar memuakkan di telinga Sekretaris Han. Setelah mendengar dari Luhan bahwa Byun Seung Ho bukan orang baik-baik, ia langsung mempercayai ucapan putri atasannya itu. Ia tahu Luhan tidak mungkin sembarangan men-cap sifat seseorang tanpa alasan. Alhasil ia tidak terlalu menyukai Seung Ho meski sekali lagi ia tidak memiliki hak untuk membenci atasannya.

"Kau lupa aku akan menjadi Presdir tidak lama lagi?"

"Itu belum tentu, Tuan Byun. Masih ada calon Presdir lain yang menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Dan juga Dewan Direksi belum mengambil keputusan tentang hal itu.", ucap Sekretaris Lee tanpa sadar telah melibatkan kekesalan di setiap perkataannya.

Seung Ho berjalan mendekati Sekretaris Han yang mulai bergetar takut. Mengutuk mulutnya yang telah lancang berucap seperti itu padahal ia berhadapan dengan Byun Seung Ho, pria yang paling terobsesi untuk menyandang gelar Presiden Direktur Xiao Grup.

Seung Ho melangkah penuh percaya diri hingga kesan yang tertangkap adalah sebuah kesombongan yang besar. Langkahnya terhenti tepat dua langkah di hadapan Sekretaris Han, seraya memberi tatapan menusuk yang membuat tubuh Sekretaris Han semakin bergetar. "Tutup mulutmu, berengsek! Jangan kau fikir kau tahu apapun! Kau hanya seorang sekretaris disini dan kau tidak berhak ikut campur urusanku! Lihat saja, aku akan memecatmu setelah aku berhasil duduk disini!"

Seung Ho berlalu pergi tanpa mengucap sepatah katapun lagi. Syukurlah, kalau tidak, Sekretaris Han bisa pingsan saking takutnya ia menghadapi pria berwatak kasar itu.

Sekretaris Han sama sekali tidak takut jika Seung Ho benar-benar memecatnya. Yang ia takutkan adalah, jika nanti mengetahui kenyataan jika Byun Seung Ho berhasil memenuhi obsesinya. Maka Sekretaris Han tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan Xiao Group di tangan pria itu.

Perusahaan yang sudah susah-susah ia kembalikan kondisinya setelah menurun pasca meninggalnya Tuan Xi, dengan mengembalikan kepercayaan client-clientnya meskipun ia tidak memiliki hak untuk berbuat lebih dari itu. Dan jika perusahaan diambil alih oleh orang yang bahkan tidak memiliki pengalaman memimpin perusahaan, mungkin lebih baik Sekretaris Han berhenti bekerja dan menikmati sisa hidupnya di rumah.

Walaupun sampai kapanpun hal itu tidak terjadi. Sekretaris Han tidak akan meninggalkan perusahaan yang telah menyokong hidup keluarganya selama hampir sepuluh tahun itu. Ia akan berjuang demi mendiang Tuan Xi dan putri kecilnya yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.

"Paman akan berusaha mengembalikan semuanya, Luhan-ah." Pria itu mengambil ponselnya dan menelepon satu nomor yang sempat menghubunginya kemarin.

"Sekretaris Lee, bisakah aku bertemu Presdir Oh hari ini?"

'...'

"Apakah beliau memiliki jadwal yang padat?"

'...'

"Baiklah. Katakan pada Presdir Oh jika aku akan pergi kekantornya saat jam makan siang. Aku hanya ingin berbicara dengan beliau secepatnya."

'...'

"Baiklah. Terima kasih."

Klik!

Sekretaris Han memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya. Ia sempat menghembuskan nafas panjang sebelum keluar dan menutup pintu itu tanpa lupa menguncinya. Ia tidak akan membiarkan Byun Seung Ho kembali menyentuh barang-barang almarhum Tuan Xi.

...

"Kuliahmu sampai jam berapa hari ini?", tanya Sehun sambil mengancingkan lengan kemejanya di hadapan sebuah cermin besar di sudut ruangan. Sementara matanya tidak lepas dari Luhan yang terlihat di pantulan cermin, duduk di ranjang seraya memoleskan lipstick merah muda kesayangannya.

Luhan memang bangun lebih terlambat dibandingkan Sehun yang sekarang sudah bersiap ke kantor. Semua karena pelukan Sehun yang sangat nyaman hingga membuat Luhan terlena oleh mimpi panjangnya dan terbangun tepat ketika Sehun keluar dari kamar mandi. Kemudian Luhan membersihkan diri selagi Sehun mempersiapkan dokumen yang akan dibawanya ke kantor.

"Jadwalku kosong. Mungkin aku hanya akan ke perpustakaan kota nanti siang.", jawab Luhan turun dari ranjang lalu melangkah ke arah Sehun. "Butuh bantuan?"

Sehun menyerahkan dasi berwarna biru pekat kepada Luhan, dan Luhan tersenyum paham.

"Bagaimana jika nanti makan siang bersama?"

Tak perlu lama berfikir, Luhan mengangguk. "Dimana?"

"Kita bisa memikirkannya nanti."

"Bagaimana kalau di cafe Jin? Mereka memiliki beberapa menu makanan yang enak dan aku sudah lama tidak-"

Luhan memotong ucapannya melihat mata tajam Sehun dan aura tidak mengenakkan berhembus di sekitarnya. Sial, seharusnya Luhan tidak keceplosan mengatakan hal yang tidak disukai Sehun. Tentu Luhan masih ingat Sehun yang marah saat cemburu oleh Jin dan meminta Luhan menciumnya di tengah keramaian sebagai syarat agar Sehun tidak lagi marah. Luhan tidak akan mengulang hal memalukan itu lagi.

"O-oke, kau yang memilih tempatnya." Luhan memilih menyerah dan mulai sibuk dengan dasi di tangannya. Sembari menggigit bibir, ia berjinjit di atas kaki telanjangnya, menaikkan kerah kemeja Sehun sebelum melingkarkan ujung dasi itu di sekitar kerah. Luhan lalu menyimpulkan dasi itu dengan mudah dan selesai beberapa detik kemudian. "Selesai."

Ia menghadap Sehun yang masih tidak bergeming. Mata lelaki itu masih menjurus tepat di mata rusa Luhan yang kini berpendar ke sembarang arah -kikuk-. "T-tunggu apa lagi? Kau bisa terlambat ke kantor."

"Luhan,"

"Hm?" Sehun menyentuh dagu Luhan, memaksa gadis itu untuk mendongak ke arahnya. "Kau bisa datang kesana dulu, aku akan segera menyusulmu setelah pekerjaanku selesai."

Luhan melongo. Apa Sehun serius? Serius membiarkan Luhan datang ke cafe Jin sendirian dan otomatis akan bertemu lelaki yang dicemburui Sehun?

"D-dimana maksudmu?", tanya Luhan memastikan.

"Kau bilang di cafe milik temanmu? Kau sudah lama tidak kesana, kan?"

Luhan mengangguk kecil. Otaknya masih bertanya-tanya tentang alasan Sehun yang tidak terlihat keberatan sedikitpun. Padahal waktu itu Sehun terlihat seolah mengibarkan bendera perang kepada Jin.

"Y-ya. Tapi..."

"Ssst, tidak ada tapi-tapian. Ah ya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Sehun lantas menarik pergelangan Luhan dan membawa gadis itu menuju tempat ia menyimpan sesuatu itu. Di bawah meja kerjanya, sebuah kotak berukuran besar terlihat dan kening Luhan mengerut tanda ia penasaran apa isi di dalamnya.

"Apa itu?"

"Buka saja." Luhan meraihnya dari tangan Sehun dan membuka bagian atasnya pelan-pelan. Dan saat penutup itu terbuka, mata rusa Luhan membulat saking terkejutnya.

"Se-sehun..."

"Aku mendapat paket itu kemarin. Jessica merancang khusus gaun itu untukmu."

"Jessica?" Percayalah, Luhan tidak asing dengan nama itu. Dulu Mama memang sering membicarakan nama itu, meskipun Luhan tidak yakin ia adalah orang yang sama.

"Ya. Wanita yang merancang gaun saat pertunangan kita dulu." Mata rusanya kembali terpaku pada gaun itu dan ia tergoda untuk melihat gaun itu lebih detail dengan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Cantik sekali." Luhan berpaling pada Sehun dan Sehun membalasnya dengan senyuman bangga. Bangga telah berhasil menerbitkan senyum bahagia Luhan dengan begitu indahnya.

"Benar. Jessica sangat pandai merancang baju yang cocok untukmu." Itu adalah kalimat pujian untuk gadis lain tetapi Luhan tidak sedikitpun cemburu, ia justru membenarkannya. "Aku tidak sabar melihatmu memakainya enam hari lagi."

Semburat merah otomatis menjalar di pipi mulus Luhan. Gadis itu teringat dengan kegilaan Sehun yang satu itu. Ayolah, mempersiapkan pernikahan selama kurang dari seminggu tidaklah mudah, ditambah lagi dengan Sehun yang tetap sibuk dengan perusahaannya dan Luhan dengan perkuliahannya.

"Kau yakin bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu enam hari?" Terlintas sebuah keraguan dimata Luhan. Ia takut apabila semua dilakukan terburu-buru maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

"Aku yakin. Aku bisa mempersiapkannya.", tandas Sehun mencoba menghapus keraguan Luhan. Sehun maklum, dan sejujurnya ia tidak terlalu yakin dengan keputusan -sangat- mendadaknya itu.

Tapi sekali lagi, ini demi Luhan.

"Bagaimana jika nanti tidak berjalan lancar?"

"Percayalah aku bisa mengatur semuanya, Lu. Ada seratus anak buahku yang bisa ku beri tugas, ada ayah dan ibu yang bersedia membantu dan jangan lupakan jika hal terpenting di pernikahan kita sudah berada di tanganmu sekarang."

Luhan melirik gaun pengantin di tangannya. Benar, apalagi yang perlu ia ragukan? Sehun bukan lelaki biasa yang harus mengurus apa-apa dengan terjun langsung ke lapangan. Ada puluhan bawahan -karena ratusan terlalu berlebihan- yang bisa menggantikan Sehun untuk mengurus detil-detil persiapan pernikahan sementara lelaki itu sibuk mencari pundi-pundi uang di perusahaan.

"Cha~ ayo kita pergi."

Luhan mengangguk. Dengan hati-hati memasukkan kembali gaun indah itu ke tempatnya semula.

"Bagaimana jika kita sarapan dulu sebelum mengantarmu pulang?"

Luhan mengangguk kecil, memilih untuk tidak bertanya macam-macam yang akan membuat Sehun kesal. "Oke."

Sehun lantas mengambil jas abu-abu, tas kantor, serta kunci mobilnya. Sementara Luhan mengambil tas kecilnya yang tergeletak di atas meja nakas dan berjalan lebih dulu dari Sehun yang berniat menutup pintu apartment-nya.

...

Pluk!

Luhan baru saja meletakkan buku-buku yang tadi dibacanya ke rak nomor empat. Menyusunnya dengan rapi seperti sedia kala dan kembali ke bangku kayu yang didudukinya selama hampir tiga jam. Ia sedikit merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku sebelum merogoh tas untuk mencari ponselnya, melihat pukul berapa sekarang dan ia terkejut saat menyadari jam makan siang akan segera tiba sementara dirinya belum beranjak dari perpustakaan kota. Terlalu menikmati satu buah novel yang tidak sengaja ditemukannya saat ia cukup jenuh dengan deretan angka-angka di buku manajemen bisnisnya.

Luhan bergegas meletakkan ponselnya ke dalam tas dan beberapa detik kemudian melesat keluar dari perpustakaan kota. Tidak lupa mengucapkan selamat tinggal pada wanita penjaga perpustakaan sebelum ia berdiri di halte untuk menunggu bis umum.

Luhan tahu terakhir kali ia naik bis bukanlah momen yang baik, tapi ia tidak mungkin meminta Pak Lee menjemputnya dalam waktu sekian menit. Lagipula cafe Jin cukup dekat, Luhan hanya perlu melewati dua pemberhentian sebelum turun di halte di depan Cafe Jin.

Hanya beberapa menit, bis yang ditunggu akhirnya muncul. Luhan segera naik dan menduduki kursi dideretan paling belakang. Merogoh ponselnya ketika ia merasa perlu bertanya apakah Sehun mengingat cafe itu.

To : Sehun

Sehun, kau ingat tempatnya, kan?

Send!

Luhan mengalihkan atensinya pada jalanan dari jendela samping sembari menunggu balasan dari Sehun. Hampir tiga menit menunggu, lelaki itu tak kunjung menjawab. Mungkin kesibukannya belum bisa ditinggalkan walaupun hanya perlu menyisihkan waktu sebentar untuk membalas pesan Luhan.

Drrt... drrt...

Luhan tersentak merasakan getaran pada ponselnya. Nama Sehun tertera di sana.

"Hallo?"

'Maafkan aku, Lu. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan siang. Aku ada urusan penting yang tidak bisa kutinggalkan.'

"Oh..." Hanya itu yang menjadi respon Luhan saat Sehun mendadak membatalkan acara makan siang mereka. Secercah rasa kecewa menghampiri, namun apa lagi yang bisa Luhan lakukan? Seharusnya ia sudah paham dengan kesibukan Sehun dengan urusan bisnisnya bahkan di jam makan siang sekalipun.

'Luhan? Aku mohon maafkan aku. Aku tau ini memang mendadak, tapi-'

"Aku mengerti." Luhan berusaha menetralkan nada suaranya agar terdengar biasa saja. "Hanya membatalkan makan siang, kan? Lagipula aku masih di perpustakaan dan nanti aku bisa mengajak Yixing bersamaku."

Luhan berharap Sehun tidak mendengar suara laju bis di seberang sana.

'Bukannya Yixing masih di sekolah?'

"Sekolah memberikan kebebasan kepada siswanya untuk makan siang di luar selama jam istirahat."

'Hmm, baiklah. Sayang sekali aku harus mengingkari janji kita.'

"Gwaenchana. Yang terpenting adalah, jangan melupakan makan siangmu juga."

'Ya, aku mengerti. Sampaikan salamku pada Yixing."

"Oke."

Haahh!

Karbondioksida mengepul di udara saat Luhan menghembuskan nafas dalam-dalam. Bis yang ditumpanginya sudah berhenti di pemberhentian pertama, dan kini mulai berjalan kembali menuju pemberhentian berikutnya, tempat dimana Luhan akan turun dan menghabiskan waktu makan siangnya sendirian.

Ya, sendirian. Mungkin Yixing sedang menikmati makan siang dengan teman-temannya dan Luhan tidak ingin mengganggu adik kesayangannya itu hanya untuk menemani kakaknya yang sendirian.

...

Sambungan telepon dengan Luhan telah terputus. Sehun kembali menyimpan ponselnya di dalam saku jasnya dan fokus pada seseorang di hadapannya.

"Apa Anda memiliki janji dengan Nona Luhan?"

"Ya. Hanya makan siang bersama, tapi kami sudah membatalkannya."

"Maafkan saya karena telah meminta bertemu Anda secara tiba-tiba."

"Tidak apa-apa, Tuan Han. Luhan tentu mengerti dengan kesibukanku." Sehun membenarkan posisi duduknya."Jadi, apa yang ingin Tuan Han bicarakan?"

Sekretaris Han menghela nafas. Hatinya berdoa agar keputusannya kali ini adalah benar dan pada waktu yang tepat. "Sebenarnya ada dua orang yang saya ajak untuk bertemu dengan Anda juga. Beliau sekarang masih ada di mobil."

Kening Sehun berkerut. "Siapa?", tanyanya bingung.

"Beliau akan datang sebentar lagi."

Tok! Tok! Tok!

Sekretaris Han memberi tatapan 'mungkin itu orangnya' saat Sehun bertanya melalui pandangan matanya. Sehun lalu mengalihkan atensinya pada pintu ruangannya. "Masuk."

"Selamat siang, Tuan Oh Sehun."

Seseorang datang dan mengucapkan salam pada Sehun. Sosok pria empat puluh tahunan dengan setelan jas elegan dan mewah menandakan dirinya bukanlah orang kalangan biasa saja. Seseorang itu membawa tas kerja di tangan kirinya.

"Ya. Silahkan duduk." Sehun mengalihkan atensinya pada Sekretaris Han. Ekspresinya menunjukkan jika ia ingin tahu siapa orang didepannya. Sementara Sekretaris Han memberikan senyuman tenang, mengisyaratkan bahwa Sehun akan mengetahui pria itu sebentar lagi.

"Perkenalkan, saya Choi Siwon, pengacara pribadi mendiang Tuan Xi. Ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada anda." Pria dengan perawakan sempurna itu -Choi Siwon-, mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya, membuat Sehun mengerutkan dahinya semakin bingung.

"Ini adalah surat wasiat yang ditulis Tuan Xi dan memberikannya kepada saya beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi."

Dan kebingungan Sehun terjawab oleh perkataan Siwon, namun keterkejutan tidak lepas dari raut wajahnya.

"Surat wasiat?", tanya Sehun tidak percaya. Lebih tidak percaya dengan kenyataan bahwa Tuan Xi sudah mempersiapkan wasiat itu seolah beliau tahu peristiwa mengerikan itu akan terjadi kepadanya.

"Ya, Tuan Oh. Sebelum Pengacara Choi membacanya, izinkan saya memperkenalkan satu orang lagi kepada Anda."

Sehun mengangguk tanpa banyak berkomentar. Kepalanya sudah pusing oleh rasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya terlalu mendadak dan Sehun tidak mampu menebaknya.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk."

Pintu kembali terbuka dan seorang wanita masuk dengan langkah yang terlihat berat dan wajah menunduk dalam. Sehun tidak bisa melihat siapa pemilik wajah itu, tapi sepertinya ia pernah melihat postur tubuh itu.

"A-anyeong haseyo, Xi Li Juan imnida." Wanita itu memperkenalkan diri seraya mengangkat wajahnya.

Sehun mengenalnya! Ia hanya beberapa kali bertemu namun ia tahu siapa wanita itu! Sehun berdiri, sangat terkejut dengan kehadiran Nyonya Xi Li Juan yang merupakan adik kandung Tuan Xi. Seharusnya Sehun tidak terkejut jika pembacaan surat wasiat memang harus melibatkan anggota keluarga yang bersangkutan, meskipun untuk kali ini Sehun-lah yang mewakili Luhan karena dari awal Sehun tidak tahu menahu pertemuan ini. Tapi, yang menjadi masalah adalah- kenapa wajah Nyonya Xi terlihat membiru dengan luka lebam di sudut bibirnya? Apa yang telah terjadi pada wanita itu?

"A-anda baik-baik saja?", tanya Sehun, sangat khawatir dengan luka lebam Nyonya Xi yang bisa dikatakan parah itu.

"Saya baik-baik saja." Nyonya Xi berusaha menutupi wajahnya dengan selendang yang dibawanya. "Pengacara Choi, silahkan membacakan surat wasiat kakakku."

Sehun kembali duduk di sofanya setelah mempersilahkan Nyonya Xi duduk juga, dan ia melirik singkat ke arah Sekretaris Han. Pria paruh baya itu tidak mengucapkan sepatah kata-pun. Ia sendiri juga tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan adik mendiang Presdir-nya dan ia tidak ingin berkomentar karena itu bukanlah urusannya.

"Baiklah, saya akan membacanya." Ketiga orang lainnya terdiam, mempersiapkan diri untuk mengetahui keputusan Tuan Xi. " Aku, Xi Li Qiang , menulis surat wasiat ini tanpa paksaan dan ancaman dari pihak manapun. Menyatakan bahwa aku akan memberikan seluruh saham perusahaan atas namaku kepada putriku Xi Luhan. Dengan kata lain, aku mempercayakan putriku yang memimpin perusahaan Xiao Group dan tidak menginginkan siapapun menggantikannya dengan alasan apapun. Sementara Xi Yixing, putraku akan meneruskan kepemimpinan Xiao Group di masa depan."

"Dan untuk adik perempuanku, Xi Li Juan, aku memberikan aset kepemilikan tanah dan bangunan pribadiku di Gangnam untuknya. Juan-ah, aku harap kau baik-baik saja dengan keputusanku ini. Tertanda, Xi Li Qiang."

Begitu selesai dibacakan, hanya helaan nafas yang terdengar. Sehun mencoba memahami situasi, terlebih ekspresi datar yang ia tangkap dari Nyonya Xi. Nyonya Xi tidak menanggapi apapun meskipun surat itu ada hubungan dengannya. Bukankah seharusnya ia setidaknya menunjukkan ekspresi gembira, atau justru sedih dengan keputusan kakaknya? Namun Sehun tidak mampu membaca ekspresi wanita yang masih menutup sebagian wajahnya dengan selendang itu.

"Ini adalah keputusan Tuan Xi. Anda keberatan atau tidak, surat wasiat ini tetap tidak dapat diubah karena Tuan Xi telah membubuhkan tanda tangan beliau disini. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima keputusan beliau.", ucap Siwon seraya menatap orang-orang disana satu persatu. "Bagaimana, Nyonya Xi? Apakah anda keberatan?"

"Tidak.", jawab Nyonya Xi Li Juan tegas, seraya menerbitkan sebuah senyum di sudut bibirnya. "Aku tidak keberatan sedikitpun. Justru aku lega, karena perusahaan bisa di pimpin oleh orang yang tepat."

"Syukurlah jika seperti itu. Dan, Sekretaris Han, apa ada yang ingin anda tanyakan?"

"Tunggu, apa itu artinya, nona Luhan sudah bisa memimpin perusahaan dalam waktu dekat?", tanya Sekretaris Han.

"Benar. Sebenarnya tidak ada batasan umur seseorang dalam memimpin perusahaan. Selama nona Luhan bisa mengikuti pelatihan dan masa magang dengan baik, saya rasa nona Luhan bisa segera menggantikan jabatan mendiang ayahnya."

Sekretaris Han kemudian menatap Sehun. Ada sebuah kebahagiaan yang dapat Sehun tangkap di matanya. Ia tahu apa arti kebahagiaan itu.

"Nona Luhan pasti sangat bahagia mendengar kabar ini, Tuan Oh.", ucap Sekretaris Han dengan ekspresi kebahagiaan yang belum enggan pergi dari wajahnya. Dan mungkin, saat ini Sekretaris Han-lah yang paling lega dan bersyukur. Ia patut bersyukur, setidaknya bukan Byun Seungho yang akan menempati kursi jabatan tertinggi seperti yang diinginkan oleh pria itu. Dengan demikian ia tidak akan melihat Byun Seung Ho duduk di kursi kebesaran Xiao Group seperti tadi pagi. Sampai kapanpun.

Sehun tersenyum. Sebuah senyuman yang juga menyiratkan kebahagiaan, namun juga ada keraguan terselip di dalamnya. Bukan ragu jika Luhan akan gagal memimpin perusahaan, namun ragu bahwa dirinya tidak mampu melindungi Luhan dari ancaman yang mungkin mulai saat ini akan semakin besar mengintai calon istrinya.

Sebenarnya bukan sesuatu yang patut menjadi keraguan. Toh, sejak awal Sehun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memberi pelajaran kepada siapapun yang berani menyakiti Luhan dan membawa gadis itu dalam kondisi bahaya.

"Bukankah seharusnya Luhan tahu secara langsung?"

"Itu benar, Tuan Oh. Pembacaan surat wasiat memang harus dihadiri oleh anggota keluarga. Dan tujuan saya meminta Pengacara Choi untuk membacakannya sekarang adalah untuk memastikan sesuatu."

"Memastikan kalau suamiku tidak mendapatkan apapun di Xiao Group." Suara wanita menginterpusi membuat ketiga pasang mata menatap obyek yang sama. Nyonya Li Juan, satu-satunya wanita dalam ruangan itu. "Aku benar, kan?"

"Ny-nyonya…"

"Aku tahu, Sekretaris Han. Keberadaan suamiku memang membuatmu merasa takut jika Xiao Group akan jatuh kepadanya. Aku juga awalnya takut, tapi syukurlah, kakakku membuat pilihan yang sangat tepat untuk tidak mewujudkan keinginan–ah bukan, obsesi suamiku."

Tidak hanya Sekretaris Han yang merasakan keanehan dari kalimat Nyonya Xi Li Juan baru saja, namun Sehun juga demikian. Hanya wanita gila yang tidak mengharapkan keinginan suaminya terwujud dan bahkan sangat bersyukur. Dan kalaupun tidak gila, pasti ada sesuatu yang disembunyikan antara Nyonya Li Juan dan Byun Seung Ho –suaminya- yang tidak diketahui siapapun.

"Apa maksud anda, Nyonya Xi?", tanya Sehun, sebuah pertanyaan yang juga mewakili kebingungan Sekretaris Han.

"Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, terima kasih sudah mengundangku untuk datang kesini." Wanita itu berdiri, membungkuk singkat sebelum pergi dengan langkah sedikit tertatih.

Sehun ingin menahannya, dan memaksa wanita itu untuk mengatakan maksud ucapannya. Sebelum itu terjadi, Sekretaris Han lebih dulu menahan lengannya dan berucap, "Saya akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Pasti ada rahasia yang membuat Nyonya Li Juan terlihat sangat senang dengan isi surat wasiat itu."

"Baiklah.", ucap Sehun. "Dan jangan lupakan dengan luka-luka diwajahnya. Aku curiga itu adalah bekas pukulan."

"Hai, Jin!"

"Luhan-ah!"

Luhan tersenyum melihat ekspresi terkejut Jin yang melihatnya tiba-tiba. Awalnya lelaki itu sedang sibuk di meja kasir, dan Luhan berhasil mengagetkannya seperti tempo hari. Lelaki itu berbisik sebentar pada salah satu karyawannya dan karyawan itu pergi seperti perintah atasannya.

"Greentea latte?"

Luhan tertawa. "Sepertinya kau sangat hafal dengan favoritku."

"Tentu saja. Setiap kemari kau selalu memesan minuman itu."

Luhan duduk disebuah kursi dan tak lama Jin datang bersama dengan secangkir greentea late pesanan Luhan. Gadis itu menggumamkan kata terima kasih dan mulai menikmati minumannya.

"Bagaimana kabarmu? Ah, aku belum sempat berbicara banyak denganmu tempo hari."

Luhan tersenyum kecut. Ya, ia tahu apa yang membuat Jin tidak sempat berbicara banyak dengannya. Apalagi kalau bukan kehadiran Sehun yang tiba-tiba dan menarik tangannya untuk pergi?

"Aku baik-baik saja. Dan, maaf untuk hari itu. Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal."

Luhan tahu Jin adalah tipikal lelaki yang santai. Terbukti saat lelaki itu justru tertawa dan mengibaskan tangannya di hadapan wajah. "Santai saja. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika kekasihku berbincang dengan seorang pria."

Luhan mengangguk dan meminum green tea late-nya untuk yang kedua kali.

"Lelaki itu… Sehun, kan?" Dan Luhan sukses terbatuk mendengar pertanyaan Jin yang tidak diduganya.

"Bagaimana kau tahu?", tanya Luhan setelah berhasil mengendalikan diri.

"Tentu saja aku tahu. Dia yang pernah membuatmu menangis dulu, kan?"

Luhan meringis saat ia teringat dengan Sehun di masa lalu. Ya, Jin sangat benar jika Sehun pernah membuatnya menangis. Tidak hanya sekali, namun juga berulang kali.

"Tapi dia yang membuatmu tersenyum dan bahagia sekarang. Aku benar juga, kan?"

"Kau peramal, ya?"

Jin sontak tergelak dan menggeleng berulang kali. "Tidak-tidak. Aku hanya menebak dan yeah, mengintip saat kalian berciuman di depan café-ku."

Jangan salahkan Luhan jika sekarang wajahnya memerah malu. Salahkan Sehun yang dengan bodohnya meminta Luhan untuk menciumnya di tempat umum hanya agar lelaki itu tidak marah lagi.

"Sudah, sudah. Kenapa jadi membicarakanku?", elak Luhan dan Jin kembali tertawa.

"Oke, oke. Apa kau tidak mau memesan makanan? Aku ada menu baru sejak tiga hari yang lalu."

Luhan mengangguk. "Baiklah. Aku mau."

"Oke, tunggu sebentar."

Jin beranjak pergi dan Luhan memfokuskan diri pada suasana disekitarnya yang lumayan ramai. Pantas saja, sekarang jam makan siang.

Luhan memandang sekeliling sebelum matanya terpaku pada obyek diluar café Jin, tepatnya di sebelah kanan dimana ada kaca besar yang memperlihatkan pemandangan di luar. Seharusnya Luhan tidak harus terkejut seandainya hanya orang-orang yang mengobrol seperti biasa. Tapi yang membuat Luhan mencoba memastikan penglihatannya adalah ia mengenali seorang lelaki dan perempuan itu. Mereka kan…

"Baekhyun-ssi, dan… Taehyung?"

_TBC_

Rae tau ini terlalu pendek, berantakan, tidak jelas, dan sangat lama mempublish. Dan belum ada NC-nya pula. Awalnya memang ada niat buat NC di scene paling atas, tapi setelah dipikir dan membaca review dari kalian, lebih baik Rae bikin rated M pas HunHan udah married. Kapan marriednya? Mungkin chapter depan yang mungkin terlambat di publish lagi.

Rae gak tahu seberapa berantakannya chapter ini karena buatnya juga ngebut dan belum di editing lagi. Mohon maaf banget, atas masa hiatus yang cukup panjang kemarin. Silahkan salahkan pada tugas, praktikum, kuis, dan kesibukan anak kuliahan lainnya yang gak bisa ditinggal.

Anyway, bye! Bye!