Lelaki yang dipanggil Izaya itu bergegas ke dapur untuk menyeduh teh. Adiknya mengikuti dari belakang. "Ada kabar baik kah hari ini, Izaya-niisan?"
"Ada." Sang kakak tersenyum misterius, iris hitamnya bersinar-sinar dengan kilatan jahil. Si adik hanya memandangi kakaknya dengan tatapan penasaran.
"Aku mendapat tugas berjaga lagi di sel Sasori-san."
Kini, kedua iris hitam milik sang adik berkilat-kilat riang. "Benarkah? Wah, aku tak sabar ingin memberitahu Idate tentang hal ini!"
Kakaknya hanya mengangkat bahu melihat tingkah adiknya itu, sebelum kemudian tersenyum geli.
'Dasar maniak..'
Katalis
A SasoSaku (maybe..) fanfiction
Genre: Drama/Hurt/Comfort
Rate: T
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal. Beberapa adegan yang agak gelap dan mungkin dibawah umur di chapter kali ini. Anda sudah diperingatkan.
.
Disarankan membaca chapter ini sambil mendengarkan lagu Evanescence - My Immortal dan Naruto OST - Sasori Theme (Despair). Selamat membaca!
.
I'm so tired of being here
Suppresed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
'cause you presence still lingers here,
.
—and it won't leave me alone..
.
.
( Evanescence - My Immortal )
.
"Masuklah," bisik Gaara pelan pada dua orang pengetuk pintu di depan kantornya. Bulan sudah menampakkan diri di langit Suna, kali ini separuh diselimuti awan.
Dua orang shinobi itu segera masuk. Satunya adalah seorang pemuda berambut cokelat, sementara yang lainnya adalah seorang gadis berambut pirang berkuncir empat.
"Kau sudah makan malam, Gaara?" sang pemuda berambut cokelat yang agak jabrik itu berbasa-basi. Sang adik hanya mengangguk mengiyakan, ekspresinya sedikit tegang. Ia tak mengatakan apa-apa tentang insiden tadi siang. Mungkin, mereka tak perlu tahu..
"Oke, ayo kita mulai saja pertemuannya," sambung sang kakak tertua sambil tersenyum. Keduanya lalu mengambil tempat di hadapan adik mereka.
"Jadi.. apa yang mau kau katakan, Temari?" mulai Gaara tanpa berbasa-basi. Sang kakak terdiam, seakan berusaha merangkai kalimat di dalam pikirannya.
"Tentang Akasuna no Sasori.." balas gadis berambut pirang itu hati-hati. "Kau harus mengubah teknik interogasimu, Gaara."
"Mengapa?" tanyanya seraya mengangkat alis. Kankuro diam, memerhatikan mereka berdua dengan seksama.
"Karena..penyiksaan secara fisik tak akan mempan terhadapnya," tukas Temari langsung. "Begitulah yang dikatakan Haruno Sakura."
Hening sesaat.
"Hm.." Gaara meletakkan tangannya di dagu, iris jeruk nipisnya memandang langit-langit. "Bagaimana ia bisa mengambil kesimpulan itu?"
"Mudah saja," kali ini Kankuro yang ambil bagian, "Haruno Sakura melakukan interaksi lebih banyak dengannya daripada kita. Hampir setiap hari, malah," tambahnya.
Sang Kazekage muda meluruskan posisi duduknya, kali ini matanya kembali menatap langit-langit. "Hm. Baiklah. Kalau begitu, teknik apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya buka mulut?"
Hening kembali melingkupi ruangan itu.
"Aku tahu..kelemahannya," bisik Temari memecah keheningan. Ekspresinya serius.
Kedua adiknya mengalihkan fokus mereka kepadanya, tanpa berkata apa-apa.
"Kekerasan tidak akan mempan terhadapnya, jadi kita harus memakai cara lain." ujar gadis berambut pirang itu pelan, sembari mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke meja. "Jika siksaan fisik tak mempan, maka.."
"Apa?" potong Kankuro tak sabar. Firasatnya tak enak akan hal ini.
"..siksaan psikologis mungkin akan berefek lain," pungkas Temari. Gaara menaikkan alis, kelihatan sedikit tertarik akan usul ini.
"Siksaan psikologis? Secara psikis, maksudmu?" tanya pemuda berambut cokelat di sebelah Temari sembari mengernyitkan kening.
"Ya."
Kankuro mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap langit malam yang cerah di luar sana. 'Hmm..,' pikirnya dalam hati, 'sepertinya ini akan jadi hal yang buruk.'
"Kau tahu kelemahannya?" tanya Kazekage muda itu perlahan. Kedua tangannya dikatupkan.
Temari menaruh jemarinya di dagu, ekspresinya serius.
"Tenang saja.." bisik gadis berambut pirang itu pelan, "aku tahu caranya."
.
Iris hazel itu menelusuri sel tempatnya dikurung, tanpa suara. Sekarang sudah hari kedua ia berada di sel barunya ini. Dan—meski ia benci untuk mengakuinya—sedikit banyak ia memang lebih menyukai sel yang ini. Meski kalau malam dinginnya setengah mati..
Dilirikannya pandangannya ke samping. Ada semangkuk sereal (wow, sereal?) oat dan segelas air yang terabaikan disana. Ia menaikkan alis. Oke, sepertinya makan satu atau dua sendok tak akan membunuhnya..
Jemari kurusnya mengambil sendok yang terletak di samping mangkuk itu. Diangkatnya mangkuk itu, sebelum mencelupkan sendok ke dalamnya.
Teksturnya terlalu encer.
Ia mengaduk-aduk sereal dengan susu (wow, perbaikan gizi..) itu dengan iris hazel yang membulat. Seperti apa..rasanya? Mengapa encer seperti ini?
Menyedihkan. Bahkan untuk makanan sederhana seperti ini saja, rasanya aneh sekali untuk sekadar menyendok dan memasukkan sesuap ke mulutnya.
Seandainya Neneknya melihatnya sedang melakukan hal seperti ini, mungkin ia akan langsung diceramahi habis-habisan. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis pada pikiran itu. Disendoknya sesuap dari sereal di tangannya, dan dipejamkannya matanya. Ia menyuap sereal itu dengan perlahan.
Nyam, nyam.
Suapan pertama rasanya tidak terlalu buruk. Ia mengunyah dengan perlahan—sereal itu terasa manis di lidahnya. Manis, namun tidak terlalu berlebihan. Rasanya pas.
Ia menyendok sesuap lagi. Seperti yang pertama, suapan kedua dikunyahnya dengan perlahan. Ia menghirup susu dari mangkuk itu untuk mengurangi rasa kering di mulutnya.
Tanpa sadar, semangkuk sereal itu pun habis. Sang lelaki berambut merah menyeka mulutnya dengan lengan piyamanya—entah kenapa ia merasa puas. Diminumnya air di gelas itu sampai habis.
Hmm. Ia merasa kenyang. Sudah lama sekali..
Ia memejamkan mata. Diingatnya kembali keadaan seharian penuh ini dengan sedikit keheranan. Anbu yang aneh, medic-nin yang hiperaktif, sereal yang enak..
Ia menghitung-hitung hal yang sudah didapatkannya hari ini. Hmm, tidak buruk juga. Terlalu mewah bagi seorang tahanan sepertinya.
.
Kalau saja ia tahu hal apa yang menanti pada keesokan paginya..
.
"Akasuna no Sasori, ikut kami," dua Anbu berbadan tinggi membuka pintu sel kriminal berambut merah itu, kemudian melepas rantai yang melilit pergelangan tangannya. Sasori hanya memerhatikan dalam diam, tetapi tanpa sadar ia menggosok-gosokkan pergelangan tangannya itu ke piyamanya untuk mengurangi rasa panas akibat memar.
Ia berdiri dari duduknya, dan mengikuti kedua Anbu tersebut—dengan dikawal di kanan kirinya. Mereka terus berjalan hingga akhirnya tiba di lantai bawah menara itu. Didepan Sasori, berdiri sebuah pintu ruangan yang amat dikenalnya.
Ruangan interogasi.
Anbu di sebelah kanan kriminal berambut merah itu mengetuk perlahan.
"Masuk," sebuah suara yang sangat dikenal Sasori terdengar dari dalam. Kazekage tanpa alis itu.
Anbu itu membawa sang kriminal memasuki ruangan gelap itu, sebelum kemudian mereka memberi hormat dan berjalan keluar.
Kini, kriminal berambut merah itu terduduk setengah berlutut di hadapan sang Kazekage muda. Seorang shinobi berambut hitam—mungkin setingkat Jounin—tampak di sebelahnya, membawa dua buah gulungan. Lingkaran berhuruf kanji kecil-kecil serupa segel mengelilinginya.
Lilin-lilin bertengger di sudut ruangan, menimbulkan bayangan aneh yang bergoyang-goyang di tembok.
"Bagaimana kabarmu, Sasori?" tanya pemuda berambut merah itu dingin. Sang kriminal bergeming, tak sekalipun mengangkat wajahnya.
"Aku sedang berbicara padamu," Gaara mengontrol pasirnya hingga butiran-butiran cokelat itu berkumpul di bawah dagu sang tahanan, mengangkat wajahnya secara paksa.
Iris jeruk nipis bertemu dengan iris hazel.
"Hm," akhirnya sang kriminal buka suara. "Baik. Senang bertemu denganmu pagi ini, Kazekage-sama," desisnya sarkastis.
Gaara mengepalkan tangannya begitu mendengar kalimat tadi, berusaha menahan emosinya. "Jaga mulutmu, Sasori," katanya dengan nada berbahaya. Kriminal berambut merah itu tak merespon.
"Baiklah, kita mulai saja. Katakan hal yang kau ketahui tentang Akatsuki," perintah Kazekage muda itu langsung. Sang kriminal menundukkan wajahnya lagi, kali ini poni merahnya yang sedikit acak-acakan terurai menutupi iris hazel itu.
"Haruskah..?"
Kazekage muda itu menggeretakkan giginya. "Ini perintah, Sasori," desisnya tajam.
Sang kriminal berambut merah kembali terdiam. Entah dia mendengarkan atau memang hanya malas menjawab saja—sepertinya memang alasan yang kedua.
"Meskipun kau cucu Nenek Chiyo, aku tak akan bersikap lebih berhati-hati padamu," tambah Gaara pendek. Kali ini, laki-laki berambut merah itu mendelikkan matanya pada pemuda di hadapannya.
"Kau..ia menggunakan jurus itu padamu, hm?" tanya Sasori—meski diucapkan dengan nada yang lebih mirip sebuah pernyataan. Gaara terdiam. Ia tak bisa menebak kemana arah pembicaraan yang dimaksud kriminal berambut merah di depannya itu.
"..Ya. Aku sangat berterima kasih padanya," balas Kazekage muda itu perlahan. Tanpa diduga—seulas senyum tipis melintas di bibir pucat milik sang tahanan.
"Heh. Memang kaulah yang lebih pantas untuk mendapatkan jurus itu," komentarnya datar. Gaara menaikkan alis, tak mengerti mengapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu.
'Mungkinkah..?'
"Nenek Chiyo, ia..menciptakan jurus itu, untuk..?" tanya pemuda berambut merah itu, tak bisa menahan rasa penasarannya. Sang kriminal berambut merah hanya menyeringai tipis.
"—Untukku. Cucunya yang baik hati ini," balasnya sinis, sembari memejamkan mata. "Tapi..," ia tak meneruskan kalimatnya.
Hening sesaat melingkupi ruangan redup itu. Gaara hanya menunggu dalam diam, tanpa mengatakan apa-apa.
"..aku bersyukur jurus itu digunakannya padamu."
.
Kazekage muda itu tercekat.
'Kalimat tadi..mungkinkah seorang Akasuna no Sasori yang mengucapkannya?'
.
'Kalimat tadi..mungkinkah seorang Akasuna no Sasori yang mengucapkannya?'
Ya. Ia tak salah dengar. Gaara menatap sang kriminal di depannya itu dengan pandangan yang tak terlukiskan.
"Mengapa?" akhirnya sang Kazekage itu buka suara, meski dengan nada perlahan.
Kriminal berambut merah itu menundukkan wajahnya lagi.
"Dengan begitu, jurus itu akan jadi berguna." Tukasnya pendek. Ekspresinya datar, seakan-akan sedang membicarakan tayangan olahraga yang diputar kemarin malam. "Pengorbanannya tak jadi sia-sia.." nada suaranya memudar.
Gaara terdiam. Sebuah perasaan bersalah yang asing menelusup di dadanya.
'Mengapa?'
"Seharusnya, jurus itu diciptakan untukmu, kan—"
"Cukup." Potong Sasori tajam. Bibir tipisnya berubah menjadi segaris lurus dengan ekspresi yang berbahaya.
Pemuda berambut merah itu menaikkan alis, tapi tak mengucapkan apa-apa. "Oke, kita mulai saja interogasinya. Yuzume, kemari," panggilnya pada si pemuda berambut hitam yang daritadi diam di samping. Ia melangkah maju.
"Silakan dimulai, Yuzume."
"Baiklah, Kazekage-sama," shinobi itu memberi hormat, sebelum kemudian membuka gulungan di tangannya. Gulungan itu terbuka, disertai dengan bunyi 'plop' kecil.
Sasori memerhatikan dalam diam..
.
.
—sebelum sebuah kabut tipis muncul, dan ia tenggelam dalam ketidaksadaran.
.
Pemuda berambut cokelat itu berjalan mondar-mandir di kamarnya, ekspresinya tak terbaca. Selembar gulungan yang mulai menguning, serta sebuah daftar absensi tergeletak di mejanya.
'Mungkinkah..?'
Ia terdiam. Temari mungkin bisa diajak berkompromi tentang hal ini, tapi Gaara..
Ia mendecakkan lidah. Hm, sepertinya ini akan jadi hal yang sulit. Belum lagi bila orangtua para Genin itu memprotes..
Dilangkahkan kakinya kembali ke mejanya, dan ia kembali memandangi daftar absensi itu. Sembilan orang. Tujuh Genin, dan dua Chuunin. Termasuk jumlah yang sedikit untuk sebuah Divisi, tetapi mengingat kemampuan bekerja dalam tim mereka yang baik, sepertinya hal itu tak jadi masalah.
Ia membuka sebuah gulungan baru, dan mulai mencoret-coret sebuah skema.
.
Sepertinya, tak ada salahnya mencoba..
.
"Lama tak jumpa, Sasori."
Seorang wanita berambut cokelat tua tampak di tengah kegelapan yang mengelilinginya. Iris mata wanita itu berwarna hazel juga, sama seperti miliknya. Hanya saja bedanya, kulit wanita berusia sekitar duapuluh limaan itu terlihat begitu pucat.
Laki-laki berambut merah itu tercekat.
'Tidak mungkin..ini tidak mungkin..'
Rasa dingin yang aneh melingkupinya. 'Tak mungkin, ia..ia sudah meninggal,' ulangnya lagi dalam hati. Dipejamkannya matanya.
.
—Tapi ketika ia membukanya lagi, wanita itu tetap ada. Ia mengulurkan tangannya ke arah Sasori, dan menggenggamnya.
Tangan itu terasa begitu dingin. Laki-laki berambut merah itu segera menundukkan pandangannya.
"Bagaimana kabarmu, Sasori?" sapa wanita itu ramah. "Kau sudah tumbuh besar rupanya. Kau jadi semakin tampan seperti Ayahmu, ya," ia tertawa kecil. Tawanya terdengar begitu merdu, seperti suara lonceng emas yang digoyangkan dari kejauhan.
Sasori masih membeku. Lidahnya kelu—meskipun ada seribu hal yang ingin dikatakannya. Jawaban. Permintaan maaf. Janji. Jangan pergi..
"Mengapa kau diam saja?" wanita itu membungkukkan badannya, hingga matanya bertatapan sejajar dengan iris hazel milik laki-laki berambut merah itu. Tetapi, iris hazel itu langsung menundukkan pandangannya.
Sorot mata milik wanita itu melembut.
"Maaf aku pergi meninggalkanmu terlalu cepat, Sasori," katanya dengan rasa bersalah. "Tapi, aku selalu menunggumu.."
Cukup. Kata-kata itu.. Ia tak butuh permintaan maaf. Seharusnya ialah yang meminta maaf, bukan sebaliknya. Ia menggigit lidahnya, mencoba menghilangkan rasa kelu yang melumpuhkan itu.
Ia bukan pengecut.
"Kaa-san.." bisiknya susah payah. Setelah semua yang terjadi, mungkin ia masihlah seorang anak kecil. Anak kecil yang menunggu kepulangan kedua orang tuanya.
"Sasori," jemari lentik milik wanita itu terangkat, dan mengacak rambut sang laki-laki berambut merah dengan sayang. "Aku rindu sekali padamu."
"Gomen..gomen, ne.."
Sebuah telunjuk yang lentik menutup bibir pucat milik sang kriminal berambut merah itu, menahannya melanjutkan kalimat barusan. "Ssst. Sudahlah, tak ada yang perlu dimaafkan," kata wanita itu lembut. Sasori mengangkat wajahnya, kali ini memberanikan diri untuk menatap kedua iris hazel itu.
Tak ada kebohongan disana.
Sasori tercekat. Ini aneh.. Sesuatu terasa begitu ganjil disini.
Tapi apa?
"Nah, Sasori," kata wanita itu memecah keheningan di antara mereka. "Kudengar kau bergabung dengan sebuah organisasi bernama Akatsuki, ya?"
Laki-laki berambut merah itu terdiam. "Darimana..Kaa-san tahu?"
Ia tersenyum. "Tentu saja aku tahu. Aku selalu memerhatikanmu selama ini," jawabnya tenang. Sasori mengangkat wajahnya. Ini.. seperti bukan Kaa-san nya..
Ia menggelengkan kepala. Tidak, Kaa-san nya adalah orang yang tegas. Ia pasti akan segera memarahi Sasori bila ia sampai mengetahui apa yang telah dilakukan putranya itu.
Tapi mengapa..
Laki-laki berambut merah itu menatap wanita didepannya lekat-lekat.
"Apa tujuan organisasi itu, Sasori?" tanya wanita itu serius. Sasori membuka mulutnya untuk menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mereka..mengumpulkan monster berekor.."
—CRAT.
Laki-laki berambut merah itu terbatuk. Darah menetes dari sudut bibirnya, menodai lantai dingin di depannya. Tidak, ia masih kuat untuk melanjutkan..
"Selain itu?"
"Mereka.." ia terbatuk lagi, "mengumpulkan monster berekor itu untuk disegel.."
—CRAT.
Darah menetes lagi. Kali ini lebih banyak dari yang tadi. Sasori menggigit bibirnya, sebelum kemudian menyeka darah yang tersisa di sudut mulutnya dengan punggung tangan.
Ia masih kuat.
Tapi sejurus kemudian, pandangannya memudar. Oh, sial. Ketika ia sudah berhasil menguasai dirinya lagi, sosok wanita di depannya memudar, sebelum kemudian menggapai-gapai ke arahnya..
"Sasori.."
Laki-laki berambut merah itu tersentak. Tangan itu..tangan wanita itu berdarah. Darah melumuri telapak tangan dan lengan milik wanita itu, menetes-netes dengan mengerikan.
Iris hazel milik Sasori melebar.
.
Iris hazel milik Sasori melebar.
"Sasori.." panggil wanita itu lagi, kali ini dengan suara lemah. Sasori tercekat. Ia mundur selangkah dengan susah payah, ketika sosok wanita berambut cokelat yang sangat dikenalnya itu memudar dengan perlahan—sebelum kemudian berubah menjadi nyata lagi.
Sebuah pikiran gelap segera menyadarkan laki-laki berambut merah itu.
.
.
—Ini delusi.
Ia memejamkan matanya sambil mengernyitkan kening. Ini bukan kenyataan. Kedua orangtuanya sudah tak ada, dan ia tak akan bisa bertemu mereka lagi. Mengapa ia bisa-bisanya tenggelam dalam harapan kosong yang sama untuk dua kali?
Kali ini, dunia khayalan indahnya kembali hancur berkeping-keping.
Ia berusaha melakukan segel tangan untuk melepas ilusi itu. Jika ini adalah genjutsu, maka ia berjanji tak akan memaafkan orang yang telah menggunakan ilusi ini padanya. Kenangannya.
Menggunakan masa lalu orang lain sebagai senjata emosional adalah tindakan pengecut.
"Kai!"
Cih. Ia menggigit bibir. Tidak bisa. Chakra-nya tengah disegel, sehingga ia tak bisa melakukan apapun.
Dan sebuah pikiran horor hinggap di kepalanya. 'Berarti, satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini adalah menunggu si pengguna genjutsu untuk melepaskan jurus itu sendiri..'
Ia menggigit lidahnya. Mengerikan. Ia tak mau selamanya terperangkap dalam ilusi tanpa akhir ini. Jika ini adalah genjutsu, maka ini adalah genjutsu yang bisa membuat gila korbannya.
Sasori menghela nafas dengan susah payah, berusaha mempertahankan kewarasannya. 'Tidak, ia tak akan menyerah. Pasti ada cara..'
Sebuah ide horor mendadak terlintas di kepalanya.
Dengan satu gerakan cepat, diangkatnya tangan kirinya, dan ia menggigit nadinya. Keras.
.
.
—Darah segar segera mengalir deras, menetesi lantai dingin lantai ruangan interogasi itu.
.
.
Bersambung..
.
Notes: Chapter 14, update. This chapter is kinda dark, isn't it? :)
Terima kasih kepada kazusa kirihika, akasuna no ei-chan, Nohara Rin, Nyanmaru desu, Azizah, GwendyMary, n4na, Uchiha Tachi'4'Sora, Rosachi-hime, Ribby-chan, Sherry Hoshie Kanada, NaNo Kid, Kujyou SasoDei, sasa-hime, Guest, Mizuira Kumiko, Arum Junnie, Jb, Wowowow, Moku-Chan, milkyways99, hanazono yuri, Kim Keyna, dan Ritard. yang telah mereview chapter kemarin. Danke schon~ :D
.
Catatan tambahan: Katalis sudah ada side-story nya, loh. :)
.
Judul: Konstelasi
Genre: Hurt/Comfort
Rate: T
Setting: Katalis - chapter 12
Warning: 2nd PoV. Memakai sudut pandang Sasori. Bisa dilihat di profil untuk lebih jelasnya, ya. ^^
.
Terima kasih sudah membaca. :3
Mungkin Katalis sudah hampir mencapai ending, ya. Gimana kesan-kesan pembaca tentang chapter kali ini?
Tolong sampaikan saran, kritik, atau concrit teman2 lewat review ya. :)
