FINAL FANTASY VERSUS
014
RAVUS
14.09.744 M.E. | 07.27 PM
Tenebrae telah kehilangan statusnya sebagai negara merdeka hanya dalam kurun waktu delapan jam. Setelah menangkap Ravus dan Lunafreya di Ulwaat Forest, Niflheim mengerahkan lebih banyak tentara MT ke seluruh pelosok Tenebrae. Akses keluar dan masuk Tenebrae diblokir oleh Niflheim. Para penduduk lokal terkurung di negara itu. Para pasien yang berkunjung untuk menemui Ratu Sylva berkumpul di depan gerbang utama yang terkunci, mencoba mendobrak paksa gerbang sambil berteriak meminta mohon untuk masuk.
Sekelompok tentara MT menggiring Ravus dan Lunafreya menuju Fenestala Manor mengikuti Glauca yang memimpin di depan. Senapan tentara MT diacungkan di balik punggung sepasang saudara itu. Selama perjalanan menuju ke kastil, mereka melewati rumah-rumah penduduk. Para rakyat berkerumun di pinggir jalan. Langkah mereka sengaja dihalangi oleh barisan tentara MT untuk membuka jalan bagi para tahanan kerajaan. Para pria memaki-maki tentara Niflheim, para wanita menangis sambil melindungi anak mereka dalam dekapannya. Beberapa orang berusaha mendorong para tentara MT untuk mendekati Ravus dan Lunafreya. Senapan ditembakkan para tentara MT ke udara berkali-kali untuk mengendalikan situasi yang semakin ricuh, membuat para warga ketakutan dan berhenti memberontak.
Ravus ingin membebaskan diri, tapi luka tembak di bahu kirinya membatasi pergerakannya dan rapier andalannya telah dirampas darinya. Dia jelas merasakan mata rakyat tertuju padanya. Harga dirinya sebagai seorang Pangeran telah diinjak-injak oleh Niflheim. Kepercayaan Tenebraen padanya yang telah dibangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Merasa malu akan ketidakberdayaannya, Ravus tidak berani memalingkan wajah pada rakyat. Dia hanya dapat menundukkan kepala dan menggigit bibir untuk menahan emosi yang bergejolak dalam hatinya.
Dibandingkan Lunafreya, Ravus selalu dipandang sebelah mata oleh mendiang ayah dan Tenebraen karena dia tak memiliki peran suci sebagai Oracle seperti ibu dan adiknya. Dalam kawalan yang menyiksa itu, dia teringat akan satu malam ketika dia berusia tujuh tahun.
Ravus sudah dua puluh menit terakhir ini berdiri di depan pintu aula utama kastil, dia belum mau masuk. Angin sudah sedikit lebih tenang ketika hari berganti malam. Biasanya, tak ada yang bisa didengar dari antara deru angin, dan Ravus terkejut ketika sekarang dia bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang datang dari balik pintu. Dia bisa mendengar suara ayah dengan sangat jelas. Biasanya itu tak mungkin terdengar. Suara lelaki besar itu dalam dan bicaranya singkat. Sang Raja memang hemat dalam kata-katanya. "Langsung saja, Ravus. Selalu langsung ke intinya saja," itu yang dikatakan ayah setiap kali dia berpikir Ravus terlalu lama berada di dekatnya.
Di bawah gelagar suara ayah, Ravus dapat mendengar suara-suara para tamu bangsawan dari Altissia dan Insomnia. Hari ini adalah hari yang spesial, jadi banyak tamu kalangan atas dari segala penjuru Eos diundang ke Tenebrae. Baginya, suara mereka menyebalkan. Dia tidak menyukai para pendatang menginjak lantai Fenestala Manor.
Ravus menarik napas panjang. Sebenarnya dia ingin segera berbalik dan berjalan pergi, tapi dia tahu, setidaknya dia harus memperlihatkan diri. Ayah meminta dia datang, dan ketika itu permintaan Raja, kau harus melakukan apa saja yang dimintanya. Dalam hal ini, itu berarti hadir terakhir dalam antrean panjang untuk perjamuan makan malam yang dilangsungkan untuk merayakan ulang tahun ibu. Yang penting aku masuk, menyapa Ayah, dan memberikan ucapan sayangku pada Ibu, lalu aku bisa bebas, pikir Ravus. Lima menit, tidak lebih. Bisa seburuk apa lima menit? Dia bergidik. Bersama para tamu, lima menit bisa menjadi amat, sangat menyiksa.
Menarik napas panjang, Ravus mendorong pintu dan melangkah memasuki aula utama. Ruangan itu diterangi kandel di langit-langit dan lampu-lampu kecil yang ditempel di dinding. Di bagian depan ruangan, ayah duduk dan bicara dengan Camelia Claustra, sang Sekretaris Pertama Altissia. Keduanya tampak asyik mengobrol.
Ibu Ravus terlihat sibuk menimang Lunafreya yang baru berusia tiga tahun di dadanya. Dia memandang ke sekeliling ruangan dengan tatapan kosong sementara sebelah tangan menyuapi bayi kecil itu dengan botol susu. Melihat putranya, dia tersenyum tipis.
Begitulah ayah dan para tamu mengabaikannya seperti kertas dinding. Bahkan pesta dimulai tanpa menunggu kedatangannya. Tepat pada saat itu, ayah mengalihkan perhatian dari pembicaraannya. Tatapannya mendarat pada Ravus, tanpa emosi. "Baik juga kau ikut bergabung dengan kami," katanya. Dalam keheningan yang mengikutinya, Ravus dapat merasakan puluhan, bahkan ratusan pasang mata memandangnya rendah ketika akhirnya tamu-tamu menyadari kehadirannya. "Apa kau tidak berpikir ulang tahun orangtua kandungmu layak kauhadiri?"
"Maaf, Ayah," kata Ravus. Tapi sepertinya aku tidak melewatkan perayaan apapun, dalam hati dia menambahkan. Dari yang bisa dia lihat, tidak ada seorang pun yang sengaja menyambutnya. Pesta ini hanya untuk setor muka. Politik. Dengan ayahnya, itu memang selalu politik. Dan ayahnya selalu bercerita betapa tidak bergunanya Ravus kepada para tamu. Desas-desis tidak mengenakkan yang bisa dia rasakan dari para tamu membuatnya begitu benci berada di setiap perayaan Kerajaan. Kalau saja ayah bisa tutup mulut, atau setidaknya tidak menjatuhkan pamornya, hidupnya akan jauh lebih mudah.
"Mestinya kau minta maaf bukan padaku," kata ayah. "Kau mesti minta maaf pada ibumu. Bagaimanapun juga, hanya dia yang akan menyadari kalau kau tidak hadir."
Wajah Ravus bersemu merah ketika kebenaran kata-kata itu tepat menyindirnya. Dia bisa mendengar beberapa dari tamu terkekeh pelan. Menggumamkan maaf lagi, Ravus buru-buru berbalik dan berjalan ke meja di bagian belakang ruangan. Di panggung kecilnya, ayah mengalihkan kembali perhatiannya dari Ravus ke Camelia.
Betapa cepatnya aku dilupakan, pikir Ravus, memperhatikan cara ayah berbicara dengan antusias pada petinggi Altissia itu. Antusiasme yang sama ditunjukkan ayah ketika Lunafreya lahir, dan selalu begitu sampai detik ini. Dia tahu bahwa dia tidak akan mewarisi takhta Kerajaan ketika dewasa nanti.
Dari zaman nenek moyangnya, Kerajaan Nox Fleuret hanya akan diteruskan oleh wanita. Tidak ada cara lain bagi para pria selain menikah dengan keturunan Kerajaan lainnya jika dia ingin mempertahankan posisi bangsawannya menjadi seorang Raja. Satu-satunya Kerajaan lain di Eos yang ada hanya Lucis Caelum.
Mengetahui bahwa dua Kerajaan ini saling mengasingkan diri, maka mustahil bagi dia untuk menikahi keturunan Lucian itu. Apalagi Raja Regis dan Ratu Aulea belum memiliki anak. Ada kemungkinan anak mereka nanti berjenis kelamin laki-laki. Sepanjang sejarah Tenebrae—jika itu bisa dipercaya—dari generasi Ratu pertama hingga satu sebelum ibu, keturunan mereka selalu perempuan. Kesialan menimpa ibu karena melahirkan Ravus sebagai lelaki pertama yang memiliki darah murni Nox Fleuret. Oleh karena itu, Ravus merasa terbuang, tak diharapkan, dan asing di dalam keluarganya sendiri.
Ravus selalu membayangkan bagaimana rasanya jika tidak ada diskriminasi gender dalam Kerajaan Nox Fleuret, atau tak ada peran Oracle di Eos. Khayalan itu tak pernah berubah. Dia putra tunggal ayah. Ayahnya memujanya, dan keduanya menghabiskan berjam-jam bersama. Mereka akan pergi berburu, Ravus menunggang kuda jantan putih berukuran raksasa untuknya pada hari ulang tahunnya yang kelima belas. Di sampingnya, ayah akan selalu mendukungnya, dan ketika mereka membunuh seekor Behemoth, ayah akan bercerita dengan bangga dalam pesta yang diadakan setelah itu bahwa hanya putra sehebat Ravus yang bisa mengalahkan monster sekuat itu.
Ketika mereka tidak berburu, Ravus akan duduk di samping ayah sementara ayah mendiskusikan gejolak politik atau menyusun rencana untuk melawan pasukan Niflheim. Ayah akan berkata, "Ravus, apa yang akan kaulakukan terkait situasi ini? Aku menghargai pendapatmu lebih dari Komandan Tertinggi." Dan Ravus akan menjawabnya dengan fasih dan berpandangan ke depan, kata-katanya menggelegar hingga ke seberang ruangan dan membesarkan hati orang-orang yang mendengarnya. "Kau bijaksana sekali, Ravus," ayahnya akan berkata. "Aku sungguh beruntung bisa memiliki pewaris takhta yang begitu sempurna."
Biasanya, khayalannya akan diakhiri dengan ayah mewariskan Kerajaan padanya. "Sudah saatnya, anakku," ayah akan berkata. "Meskipun kau masih muda, aku tahu kau siap menggantikan aku sebagai Raja Tenebrae yang sah. Aku sangat bangga padamu, anakku. Amat, sangat bangga."
Selalu pada saat itulah Ravus menggeleng, dan khayalan itu sirna. Dia tahu dia hanya menipu dirinya sendiri. Tak peduli berapa malam dia habiskan untuk memandangi matahari terbenam di Tenebrae, Kerajaan dia tidak akan pernah menjadi miliknya. Bagaimanapun juga, Lunafreya akan menjadi ahli waris. Dia tak ada artinya. Hanya anak bawang. Bahkan pada titik ini pun dia bukan anak bawang. Dia buangan. Tak ada skenario, tak ada momen yang akhirnya dia akan dibutuhkan.
Seolah dengan aba-aba, dia tiba-tiba merasakan pundaknya disentuh. Berbalik, dia melihat ibunya tersenyum. Lunafreya telah dititipkan kepada Maria, pelayan setia Kerajaan mereka. "Ada apa, Ravus? Kau terlihat sedih."
"Aku tak apa-apa," katanya pelan. "Kepalaku sedikit pusing karena tak biasa berada dalam kerumunan orang asing."
"Beristirahatlah di kamarmu. Ayah dan ibu bisa mengatasi tamu-tamu ini berdua," ibunya menganjurkan.
Berbeda dari ayah, ibu tidak pilih kasih pada anak-anaknya. Ratu Sylva adalah seorang ibu dambaan, dia penuh kasih sayang, dan senyumannya menunjukkan hatinya yang suci. Di kala ayahnya mencemooh Ravus, ibu selalu menjadi tameng yang menghardik perkataan pedas ayah dan pihak yang siap sedia menghibur hati Ravus yang terluka.
"Baiklah, Bu. Aku pamit dulu," kata Ravus. Melangkah ke koridor, Ravus mengembuskan napas panjang, senang telah terbebas dari neraka itu.
Ketika memasuki usia sembilan, ayah meninggal tanpa pertanda apapun karena terbunuh di medan perang ketika melawan tentara Kekaisaran. Ada kelegaan yang dia pendam dalam hati menerima kematian ayahnya yang dia benci. Dia kira tak ada lagi neraka yang menyengsarakan dia di Tenebrae seusai tewasnya ayah.
Namun dia keliru. Pada detik ini, neraka itu muncul lagi secara mendadak. Teriakan seorang warga menjadi pencetusnya.
"Pangeran Ravus! Bagaimana nasib kami sekarang?" Dia mendengar seseorang berteriak.
"Apa yang terjadi dengan Ratu Sylva?" seru warga lainnya. "Di mana Ratu?"
Kemudian suara orang yang lebih tua berseru dengan lantang, hampir terkesan menuduh," Kenapa Pangeran membiarkan kejadian ini menimpa kami?"
Kata-kata itu membuat Ravus seolah disergap rasa dingin yang menggigit sampai ke tulang. Dia tidak terima dirinya dipersalahkan atas tragedi ini. Sudah dari jauh hari dia menolak keputusan mendiang ibunya untuk membuka pintu bagi Raja Regis dan Noctis ke tanah airnya. Dia sudah melalui perdebatan panas, berusaha membuat ibunya mempertimbangkan kembali dengan matang akan konsekuensi yang harus mereka tanggung. Dia tidak memedulikan gambaran dirinya menjadi buruk di mata keluarganya, terlebih bagi para Lucian itu. Semua itu dia lakukan untuk kepentingan Tenebrae, bukan demi mempertahankan kehormatannya sebagai seorang Pangeran Nox Fleuret. Tapi tidak ada seorang pun yang mengerti niat baiknya, malah sekarang dia menjadi objek olokan warga yang dilindunginya dengan sepenuh hati. Dia ingin membantah, tetapi di kondisi seperti sekarang, akan sulit untuk menyamakan persepsi dirinya dan para warga. Bahkan dia pun menganggap Lunafreya yang sepihak dengan ibu lebih mementingkan keselamatan Raja Regis dan Noctis daripada Tenebraen. Dia tidak mengerti trik manipulasi macam apa yang digunakan kedua Lucian itu selama seminggu terakhir untuk meracuni pikiran Lunafreya. Berpihaknya Lunafreya pada Lucian adalah sebuah penghinaan besar baginya yang sudah hidup bersama adiknya selama dua belas tahun.
Beberapa menit kemudian, langit sore itu menjadi mendung. Awan tebal menutupi matahari dan mulai meneteskan air hujan yang semakin lama semakin deras. Badai bertiup kencang dan petir menyambar. Seorang tentara MT terus mendorong Ravus untuk mempercepat langkahnya. Ravus menoleh kepada Lunafreya. Sang adik dari tadi tidak mengucapkan sepatah kata. Anehnya wajah adiknya tidak menunjukkan ekspresi takut, melainkan sebuah ekspresi kebulatan tekad.
Pada akhirnya mereka tiba di Fenestala Manor. Glauca mendrobrak pintu kastil hingga merusak kusen pintu. Mereka masuk ke dalam kastil, melewati koridor menuju ruang utama yang dipenuhi jendela tinggi. Ruangan itu gelap, air hujan menimpa jendela hingga menimbulkan rentetan suara yang bising. Halilintar menggelegar dengan nyaring, cahayanya berkilat menembus jendela.
Glauca membalikkan badan dan dengan cepat menarik lengan Lunafreya hingga terangkat ke udara. Satu jari pria berarmor itu menyentuh bawah dagu Lunafreya. "Perbuatanmu telah menggagalkan misiku," kata dia dalam suara robotiknya. "Sekarang lihatlah apakah para Astral yang kau puja-puja dapat melindungimu dari ganjaran atas keputusanmu yang bodoh."
"Pria sepertimu tidak akan mampu memahami kehendak para Astral," balas Lunafreya dengan tegas. Dia berusaha untuk melepaskan diri dari Glauca.
Dilanda kemarahan, Glauca mendorong dagu Lunafreya dengan kasar hingga menyebabkan tubuh gadis itu terhempas ke lantai. Petir kembali menyambar, menampakkan bayangan Glauca yang mengintimidasi di tepi jendela.
"Dasar brengsek! Berani-beraninya kau melukai adikku!" erang Ravus. Dia menyerbu para tentara MT yang melintang di hadapannya dan berlari kencang menuju Glauca. Ravus mengangkat tangan kanannya, hendak meninju sang Jenderal.
Glauca mengelak serangan Ravus dengan mudah. Dia memutar pedangnya dan meninju perut Ravus dengan gagang pedangnya. Ravus tersedak menerima hantaman sekeras itu. Dia sempoyongan dan jatuh berjongkok. Mulutnya memuntahkan seluruh isi lambungnya.
"Cinta seorang kakak pada adiknya. Sungguh sentimental," ejek Glauca. Dia menendang kepala Ravus hingga tubuhnya terpental ke tembok. "Aku sudah membunuh ibumu. Tidak ada bedanya kalau aku membunuhmu juga." Pedangnya diangkat dan dihunuskan kepada Ravus yang terbaring lemas di lantai.
"Kak Ravus!" teriak Lunafreya. Cepat-cepat adiknya bangkit dan melempar dirinya ke hadapan Ravus. Dia hanya punya sesaat untuk mengangkat lengan dalam upaya lemah untuk melindungi Ravus.
Pergi, Lunafreya! Kau tidak boleh bernasib sama seperti ibu! Ravus ingin berteriak, tapi tenggorokannya masih tersekat. Dia tidak dapat bersuara dengan jelas.
Ketika ujung pedang Glauca hampir mengenai Lunafreya, seorang pria berseru, "Cukup, Jenderal Glauca!" Teriakan itu berhasil membuat Glauca terdiam. Dia menoleh ke arah koridor, lalu menurunkan pedang yang menyisakan beberapa senti sebelum merobek telapak tangan Lunafreya.
"Kau harus belajar menghormati keluarga Nox Fleuret," kata pria itu. Suaranya bergetar seakan pita suaranya telah mengendur. Pria itu melangkah menuju ruang utama bersama dua pengawal pribadinya. "Pulanglah. Urusanmu di sini sudah selesai."
Glauca tidak berkomentar apa-apa. Dia mengangguk patuh dan meninggalkan kastil itu. Para tentara MT pergi mengikuti sang jenderal.
Pria itu menoleh kepada Lunafreya dan Ravus. Dia adalah seorang pria tua dengan rambut keperakan dan sepasang mata berwarna biru. Garis-garis keriput tampak jelas di dahi dan kantung matanya. Ada kumis dan jenggot tipis berwarna putih tumbuh di dagunya. Dia mengenakan dekoratif armor emas di atas kemeja putih yang dilapisi jubah berwarna senada. Jubah itu berkerah besar dan memiliki garis-garis merah memanjang di sisi kiri dan kanan.
"Iedolas…Aldercapt…," kata Ravus, masih kesulitan untuk berbicara dengan lancar. Dia mengelap sisa muntahan di pinggir bibirnya dan darah yang mengalir dari lubang hidungnya. "Seharusnya sejak awal.. aku sudah… mengantisipasi kedatanganmu…."
Walaupun Ravus baru pertama kali bertemu pria itu, dia telah mengenali Iedolas Aldercapt sebagai Kaisar Niflheim. Semua orang di Eos setidaknya pernah sekali membaca berita yang membahas penjajahan agresif yang dilakukan sang Kaisar. Tidak jarang juga berita-berita itu mencantumkan foto sang Kaisar.
"Oh, Ravus Nox Fleuret, Pangeran dari Tenebrae yang malang," kata Iedolas. Dia memberikan sorot mata penuh arti kepada Ravus, setengah mengasihani dan setengah berniat memperdayakan Ravus. Sang Kaisar membuka tangan lebar-lebar. Pandangannya mengitari seisi ruangan. Dia tersenyum bangga penuh kemenangan. "Sudah lama aku bermimpi untuk menginjakkan kaki di Tenebrae, di Fenestala Manor. Kastil kalian sungguh indah. Kotaku tidak ada apa-apanya dibandingkan Tenebrae. Kalian tidak perlu khawatir. Aku tidak akan merusak keindahan Tenebrae selama berada di bawah otoritas Niflheim."
Iedolas menoleh kepada gadis yang masih tersungkur di lantai, "Oh, dan kau, Lunafreya Nox Fleuret. Tidak lama lagi kau akan menjadi Oracle termuda sepanjang sejarah Eos. Sepatutnya kau bahagia memperoleh predikat itu."
"Dengan membunuh ibuku? Kurasa tidak," timpal Lunafreya. Dia membantu Ravus untuk berdiri. Satu pundaknya menyanggah lengan kanan Ravus.
"Aku selalu bersimpati pada Oracle," lanjut Iedolas. "Aku tidak pernah memerintahkan Jenderal Glauca untuk membunuh ibu kalian. Pria itu murni seorang monster. Dia melakukannya atas kehendaknya sendiri. Sedangkan aku… tidakkah kau sadar bahwa aku telah menolongmu di saat yang tepat? Aku membutuhkanmu hidup-hidup untuk mencapai misiku."
"Kau tidak akan pernah bisa memanfaatkan aku!" seru Lunafreya.
"Dengan posisimu saat ini, kau tidak punya kekuatan untuk membuktikan itu, Nona Lunafreya," balas Iedolas tenang. Dia tersenyum penuh kepercayaan diri kepada Lunafreya, lalu memberikan perintah kepada dua pengawal di belakangnya. "Nah, sebaiknya kau menenangkan diri di kamarmu. Kau telah melalui hari yang berat. Aku ingin berbicara empat mata dengan kakakmu."
Bersama Iedolas, Ravus memasuki ruang kerja peninggalan ibunya. Ruang itu minimalis, tapi ditata rapi dan indah. Seperti ruangan-ruangan lainnya di kastil itu, terdapat jendela tinggi yang menghadap ke taman bunga, namun badai yang sedang berlangsung hanya menampilkan kegelapan yang tidak mencemaskan. Lemari-lemari buku berjejer di sisi kiri ruangan. Ada pot bunga besar berisikan sylleblossom di setiap sudut ruangan. Tercium wangi menyegarkan dari bunga tersebut, yang bagi Ravus bukan sesuatu yang spesial. Tapi kali ini, bau itu langsung menstimulasi neuron otaknya untuk mengingat mendiang ibunya. Pemandangan mengerikan sang ibu yang terbakar hidup-hidup oleh seorang tentara MT dan tertusuk bilah pedang mematikan dari Jenderal Glauca terus terbayang dalam benaknya. Semakin lama dia mencium aroma itu, semakin besar dia membenci bunga biru itu.
Iedolas menghampiri satu-satunya meja di dalam ruang kerja itu. Dia mendorong kursi yang diselipkan di bawah meja dan duduk di sana. Kedua kakinya diangkat dan disandarkan di permukaan meja, sedangkan kedua tangannya saling bertautan dan ditidurkan di atas paha kirinya.
Pria jahanam. Dia benar-benar sudah menganggap dirinya sebagai pemimpin resmi Tenebrae sampai tidak ada rasa sungkan untuk duduk di meja kerja Ibu! Ravus memprotes dalam hati.
"Apa kau sudah bisa bicara dengan lancar?" tanya Iedolas. "Aku tidak mau membuang waktuku yang berharga untuk bercakap dengan orang gagap."
"Aku berharap menjadi bisu daripada berbicara denganmu," jawab Ravus. Lehernya terasa gatal. Dia berdehem tiga kali karena merasa masih ada muntahan yang terselip di kerongkongannya.
"Aku bisa merasakan aura kebencian yang kuat darimu," kata Iedolas dengan nada santai. "Jangan salah sangka. Aku datang kemari untuk memberikan penawaran yang saling menguntungkan kita berdua."
Ravus terguncang dengan perkataan sang Kaisar. Pria ini, Iedolas Aldercapt, sudah berpengalaman bernegosiasi dengan para pemimpin negara korban jajahannya. Tidak ada penawaran yang menguntungkan pihak yang kalah dalam perang. Pemenang selalu mencari cara untuk mengeksploitasi sumber daya dari pihak yang dikalahkannya. Aku tidak bodoh. Tidak akan semudah itu bagimu untuk memanipulasiku. Dia bertanya penuh kecurigaan. "Atas dasar apa aku harus memercayaimu?"
Sang Kaisar tersenyum culas. "Sebagai pemimpin Tenebrae, pastinya kau ingin melindungi kesejahteraan negaramu dan wargamu. Aku juga berbuat demikian. Niflheim, negara yang miskin sumber daya natural di samping teknologi magitek kami, membutuhkan asupan kekayaan dari negara-negara lain. Itu salah satu alasan kami melakukan dominasi di Eos. Kau akan lebih memahaminya ketika kau bergabung dalam militer Niflheim."
Kedua mata Ravus melebar, setengah tidak percaya pada kalimat terakhir yang didengarnya. Dia menyanggah dengan cepat, "Aku tidak sudi melayani Niflheim yang telah merampas rumahku!"
"Kau patut berterima kasih padaku atas tawaran ini. Aku tidak pernah memberikan posisi seistimewa itu pada negara-negara jajahanku lainnya. Tenebrae adalah satu negara yang memiliki pengecualian. Adikmu, Lunafreya Nox Fleuret, adalah penerus Oracle yang akan disanjung warga Eos. Dengan status adikmu yang penting, aku akan memberikan tingkat otoritas bagimu untuk memerintah negaramu dalam batas-batas tertentu. Hanya jika kau bersedia membantu negaraku. Kalau kau menolak, aku tidak bisa menjamin negaramu mampu berdiri kokoh dalam jangka waktu panjang."
Ravus mengepalkan tinjunya sekeras mungkin. Dia ingin memukul wajah keriput pria di hadapannya hingga batang hidungnya bengkok. "Bagiku, ini bukanlah suatu penawaran, tapi paksaan. Kau menggunakan istilah yang keliru."
Iedolas tidak mempedulikan komentar Ravus. "Seperti pepatah lama yang mengatakan bahwa 'untuk mencuri hati seseorang, kita harus memahami perihal yang bersifat personal baginya', aku telah mendapatkan banyak informasi mengenai dirimu dalam tingkatan personal. Pertama, kau membenci para Astral yang telah memilih keturunan Lucis Caelum untuk menjadi Raja Eos. Aku sepemikiran denganmu. Di sinilah adikmu akan memiliki peranan besar. Sebagai Oracle, hanya dia yang mampu membangunkan para Astral dari tidur panjangnya. Di momen itulah, kita akan membunuh Hexatheon agar mereka tidak memiliki kesempatan untuk memilih keturunan lainnya sebagai pengganti Lucis Caelum."
Ravus membisu. Dia tidak dapat menyangkal perkataan Iedolas. Pria itu sungguh mengenal dirinya melebihi almarhum ibunya dan adiknya sendiri.
Iedolas lanjut berbicara. "Tapi untuk mencapai impian yang begitu besar, selalu ada pihak yang bertentangan dengan kita. Inilah poin kedua yang perlu kuutarakan padamu. Kristal Agung memilih keturunan Lucis Caelum sebagai Raja Eos. Dan sebaliknya, mereka melindungi Kristal Agung di dalam Citadel Insomnia. Kita harus mengeliminasi Raja Regis dan Pangeran Noctis untuk mencuri Kristal Agung dari tangan mereka. Kau pastinya sangat membenci Raja Regis dan Pangeran Noctis yang telah membawa bencana ke Tenebrae. Aku bersedia membantu membalaskan dendammu pada mereka dengan senang hati."
Ravus membisu untuk kedua kalinya. Dia merasa pikirannya mulai terpengaruh oleh Iedolas seakan sedang menjalani proses pencucian otak. Dia tidak dapat menolak sugesti-sugesti yang ditanamkan ke dalam otaknya.
"Dan poin ketiga adalah yang terpenting. Akumulasi kekuatan para Raja Lucis terdahulu terangkum dalam sebuah cincin yang dikenal sebagai Ring of Lucii. Tanpa cincin itu, seseorang tidak dapat diakui Kristal Agung untuk menjadi Raja Eos. Kita harus merampas Ring of Lucii dari Raja Regis dan mencegah cincin itu diwariskan kepada Pangeran Noctis."
"Jadi itulah alasanmu yang sebenarnya untuk membiarkan Lunafreya tetap hidup. Demi mencapai misi besarmu," kata Ravus.
"Misi besar kita bersama," Iedolas mengoreksi. Seakan sang Kaisar yakin telah berhasil memengaruhi sang Pangeran, dia berdiri dan mengulurkan tangan kepada Ravus. Dia menatap dengan mata dipenuhi siratan kelicikan, lalu bertanya, "Apa kita sepakat untuk mencapai misi bersamaini? Atau kuperjelas lagi: untuk melindungi nyawa Lunafreya?"
Ravus memperhatikan dengan seksama satu jabatan tangan dari Iedolas yang dapat mengubah seluruh kehidupannya. Dia membayangkan kemungkinan yang akan dihadapinya jika dia menyetujui penawaran itu. Rakyat Tenebrae akan memandangnya sebagai pengkhianat negara atau seorang keturunan Nox Fleuret terburuk yang menjual harga dirinya demi mempertahankan posisinya sebagai seorang Pangeran. Dia akan bergabung, bahkan dipimpin langsung di bawah Jenderal Glauca, orang yang telah membunuh ibunya dengan keji dan membuatnya menjadi seorang yatim piatu. Dan yang terburuk adalah Lunafreya akan membencinya karena dia mungkin akan membunuh Raja Regis dan Pangeran Noctis dengan tangannya sendiri. Dia mengerti jika dia melakukan pembunuhan itu, Lunafreya tidak akan pernah memaafkan dirinya.
Namun pada kenyataannya, dia melakukan itu untuk melindungi Tenebrae dan Lunafreya. Orang-orang tidak akan memahami semua dilema yang dihadapinya ini. Tidak ada pilihan lain yang disediakan Niflheim baginya untuk menyelamatkan negara dan adik yang dicintainya. Biarlah semua orang menganggapnya sebagai pribadi yang jahat, asalkan dia dapat menjamin keselamatan Tenebraen dan Lunafreya.
Ravus mengendurkan kepalan tinjunya. Dia membalas tatapan Iedolas dengan tajam. Tangan kanannya terulur dan mereka saling berjabat tangan.
"Selamat bergabung di Niflheim, Wakil Komandan Ravus," tutup Iedolas.
