Title: Dating With The Dark

Cast:

-Kim Ryeowook

-Kim Yesung

-Lee Donghae

-Choi Kyuhyun

-Lee Eunhyuk

-Yoona and other

Genre: Romance, little bit Crime

Disclaimer: Ini ff remake karya Santhy Agatha. Saya hanya memberikan beberapa perubahan seperlunya.

Summary: Ryeowook merupakan target pembunuhan oleh "Sang Pembunuh". Tapi bagaimana jika "Sang Pembunuh" itu adalah orang terpenting dalam hidup Ryeowook di masa lalu?

Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?

.

.

[Satu tahun sebelum kecelakaan Ryeowook dan ayahnya]

"Kenalkan ini Yesung, dia akan mengawal ayah." Profesor Kim, ayah Ryeowook membawa lelaki tampan itu ke ruang tamu tempat Ryeowook sedang duduk dan membaca novel kesukaannya. Ryeowook terkesiap ketika melihat tamu yang dibawa ayahnya itu. Astaga! Lelaki itu sangat tampan, bagaikan ciptaan dewa, dengan mata gelap dan pekat serta garis wajah yang kuat, bagaikan dewa Yunani...

Lelaki itu mengulurkan tangannya dan Ryeowook langsung membalasnya dengan gugup, menciptakan senyum tipis di bibir lelaki itu, "Saya Yesung. Atasan ayah anda yang juga atasan saya, menugaskan saya untuk menjaga profesor Kim."

"Kenapa harus dijaga, ayah?" Ryeowook menoleh ke arah ayahnya sambil mengernyitkan keningnya, bingung.

Profesor Kim melemparkan tatapan bingung ke arah Yesung, tetapi lelaki itu malahan memasang wajah datar, tidak mau membantu, membuat profesor Kim sibuk sendiri memikirkan alasannya, "Ayah sedang menangani proyek penting dan rahasia, sayang."

"Proyek rahasia?" Ryeowook masih mengerutkan keningnya, ayahnya adalah profesor di bidang matematika yang sangat ahli. Tetapi apakah ada sesuatu yang berhubungan dengan matematika yang bisa dianggap penting, rahasia dan membahayakan?

Yesung menatap Ryeowook yang tampak bingung, lelaki itu lalu memasang senyumnya yang paling manis, "Apakah kau mau membantuku Ryeowook? Aku agak kesulitan mengucapkan beberapa patah kata bahasa di sini, mungkin kau bisa mengajariku. Aku memang masih memiliki darah Korea, tapi aku sama sekali tak mengerti bahasa Korea."

Yesung mengangkat alisnya dan melihat Ryeowook yang sedang mengawasinya, "Italia." Gumamnya santai, seolah mampu membaca pikiran Ryeowook dan seketika itu juga membuat pipi Ryeowook memerah karena tertebak apa yang sedang dipikirkan oleh benaknya.

Ah, orang Italia. Pantas saja. Ryeowook menahan senyum, "Aku akan membantumu." Jawabnya ramah, senyumnya begitu ceria membuat Yesung yang muram mau tak mau ikut tersenyum lebar.

Profesor Kim melihat perubahan ekspresi Yesung yang menjadi hangat itu, dia melirik Ryeowook, puterinya yang sangat cantik dan bercahaya, yah siapapun orangnya biasanya mereka akan mudah luluh kalau sudah mengenal Ryeowook. Lelaki itupun dalam hatinya tersenyum, Ryeowook, anugerah terbesar dalam hidupnya. Dia sangat beruntung bisa memiliki putri seperti Ryeowook.

xXxXx

Ketika mereka sedang berdua di ruang kerjanya, suasana berubah menjadi sangat serius. Profesor Kim duduk di sana, menatap dalam-dalam ke arah Yesung yang diam dan tenang, sungguh susah membaca ekspresi lelaki ini. Lelaki ini tiba-tiba dikirimkan oleh organisasi tempatnya menerima pekerjaan khusus, katanya untuk menjaganya, karena misinya

berbahaya dan melibatkan perubahan dunia, tetapi Profesor Kim bukan orang bodoh, dia tahu ada sesuatu yang aneh, yang direncanakan oleh orang-orang penting dalam organisasi berbahaya tempat dia bekerja sekarang.

Profesor Kim mendesah dan menghela napas panjang, dia sebenarnya tahu bahwa menerima pekerjaan dari organisasi ini cukup berbahaya, misi organisasi itu bukanlah misi biasa, melainkan rencana menggulingkan kekuasaan di sebuah negara. Tetapi Profesor Kim terjepit, dia terlilit hutang yang luar biasa besar, sebagai lelaki dia memang sangat jenius dan sempurna di bidang akademis, tetapi kejeniusannya itu membawa kelemahan pada dirinya, dia kecanduan berjudi. Berjudi membuat otaknya berputar, memikirkan rasio demi rasio

matematika dalam memperhitungkan kemenangannya, sayangnya, kepandaian analisa dan

matematikanya tidak selalu membawanya kepada kemenangan.

Dua bulan yang lalu, dia kalah berjudi dalam jumlah yang sangat besar. Begitu besarnya sampai jika seluruh hartanya dijual, tidak akan mencukupi untuk membayar hutang judinya. Profesor Kim putus asa, sampai akhirnya dia menghubungi organisasi itu, organisasi yang pernah menawarkan sejumlah uang yang cukup besar baginya, asalkan dia mau melakukan penelitian penting demi mencapai tujuan mereka. Deal kerjasama itu membereskan masalah hutang judinya, tetapi sekarang dia terikat perjanjian kerja dengan organisasi yang sangat berbahaya. Apakah pekerjaan ini akan membahayakan Ryeowook juga? Jantung Profesor Kim berdebar, Ryeowook puteri kesayangannya, dia harus menjaga Ryeowook sebaik-baiknya.

"Puterimu sangat cantik dan baik hati." Yesung bergumam, dari tadi matanya menelusuri seluruh bagian ruangan itu, seperti kebiasaannya, memperhatikan sampai detail yang sekecil-kecilnya.

Profesor Kim menatap lelaki di depannya itu, sikap Yesung tampak tenang, tetapi Profesor Kim tahu, ada yang begitu kelam tersembunyi di sana. Lelaki ini berbahaya. "Aku sangat menyayanginya." Dia lalu menghela napas panjang, memaksa Yesung memalingkan wajah kepadanya, "Apakah kau dikirim untuk membunuhku?"

Ekspresi Yesung tidak terbaca, dia hanya menatap Profesor Kim dengan mata cokelatnya yang dalam, "Kau seharusnya tahu, ketika kau mengikat perjanjian dengan organisasi itu, sama saja menyerahkan nyawa."

Jawaban tidak langsung. Tetapi Profesor Kim mengerti apa maksudnya. Dia telah menjual nyawanya kepada organisasi ini. segera setelah penelitiannya selesai, mungkin saja lelaki di depannya ini akan mencabut nyawanya. "Apakah kau juga akan membunuh Ryeowook?"

Ada kilat di mata Yesung, tetapi dengan cepat lelaki itu menghapusnya, senyumnya adalah senyum muram yang menakutkan, "Kita lihat saja nanti."

"Apakah kau bagian dari organisasi itu?" Profesor Kim tidak mau menyerah meskipun Yesung sudah memberi isyarat tidak mau bercakap-cakap lagi.

Yesung menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan. Aku hanya disewa untuk melaksanakan tugas." Matanya menyala, "Harga sewaku sangat tinggi, dan aku hanya mau menerima pekerjaan khusus."

Profesor Kim menelan ludahnya, dia berdehem untuk mencairkan suasana menakutkan kental yang melingkupi mereka. "Kau akan tinggal di sini?"

Yesung tersenyum, "Mungkin saja. Ini adalah tempat terbaik di mana aku bisa mengawasimu." Mata lelaki itu menatap ke luar, menerawang dan entah kenapa Profesor Kim tahu, Yesung sedang memikirkan Ryeowook.

xXxXx

"Hai." Ryeowook menoleh dan tersenyum lebar ketika mendapati Yesung sedang berdiri di ambang pintu dapur, bersandar di sana dan mengawasinya. Rambut lelaki itu basah sehabis mandi, "Bagaimana istirahatmu? Kuharap menyenangkan setelah melalui perjalanan panjang dari Italia?"

Yesung melangkah memasuki dapur, dan duduk di atas kursi dapur, "Aku naik pesawat jet." Gumamnya singkat. Lalu menuangkan kopi kental dan hitam dari mesin pembuat kopi ke mug putih yang sudah tersedia di sana. Lelaki itu meneguk kopi harum yang masih panas itu dan kemudian mengangkat alisnya melihat Ryeowook yang sibuk dengan sesuatu di atas kompor, "Kau memasak?"

Ryeowook terkekeh, "Ya. Aku memasak. Jangan menertawakanku ya, rumah ini sangat jarang kedatangan tamu, apalagi tamu menginap. Jadi untuk saat istimewa ini aku akan mempraktekkan keahlianku memasak."

"Aku bukan tamu istimewa." Yesung mengerutkan keningnya. Tetapi rupanya Ryeowook tidak mau di bantah, "Kau adalah tamu pertama yang menginap di sini setelah…" dahinya mengerut, berpikir, "Bahkan aku tidak ingat lagi kapan terakhir ada tamuvyang menginap di rumah ini." Ryeowook tertawa, suara tawanya begitu renyah, ceria, dan mau tak mau mempengaruhi suasana hati Yesung yang biasanya muram lelaki itu tersenyum tipis,

"Jadi kau masak apa?"

Ryeowook mengedipkan sebelah matanya, "Rahasia." Gumamnya ceria.

xXxXx

Yesung ternyata seorang penyendiri. Ryeowook mengamati dalam diam. Sudah hampir satu bulan lelaki itu tinggal bersama mereka. Dia memang sepertinya melaksanakan tugasnya untuk mengawal ayah Ryeowook, karena lelaki itu hampir setiap saat berada di dekat ayah Ryeowook, bahkan di saat ayah Ryeowook keluar, lelaki itu ada di sisinya. Tetapi kadangkala, Ryeowook merasa bahwa Yesung bukanlah pengawal biasa. Lelaki itu

kadang terdengar menelepon dengan bahasa italia atau bahasa inggris kepada seseorang yang sepertinya anak buahnya. Ryeowook tidak mengerti bahasa italia, tetapi dia mengerti bahasa inggris, dan kadang kala dia mendengar Yesung membahas tentang perkebunan dan perusahaannya.

Dari apa yang berhasil Ryeowook dengar, lelaki ini memiliki berhektar-hektar perkebunan yang sangat luas di Italia sana, itu berarti lelaki ini lelaki kaya. Kalau begitu, apa yang dilakukan Yesung di sini dan mengerjakan pekerjaan sebagai pengawal?

"Jangan melamun." Suara itu tiba-tiba terdengar di belakangnya, membuat Ryeowook melonjak kaget. Dia menoleh dan mendapati Yesung di sana, menatapnya dalam senyum misterius, dekat sekali di belakangnya. Ryeowook membalikkan tubuhnya mendadak dan menabrak Yesung, membuatnya terhuyung, untunglah Yesung memegang kedua pundaknya untuk

menyeimbangkannya. Jemari Yesung terasa kuat dan panas, di kulitnya, tiba-tiba saja membuat Ryeowook meremang.

"Hati-hati." Yesung berbisik pelan, dengan tatapan intens dan aneh yang tidak dimengerti oleh Ryeowook.

"Terima kasih." Tiba-tiba saja Ryeowook merasa canggung, "Aku eh... aku akan kembali ke kamar." Dengan langkah tergesa, Ryeowook menuju kamarnya, diiringi oleh tatapan tajam Yesung yang berdiri diam menatapnya sampai hilang dari pandangan.

xXxXx

Yesung duduk di kamarnya. Kamar ini berada tepat di seberang kamar Ryeowook, matanya mengawasi seluruh isi kamar. Yah, lumayanlah untuk rumah seorang profesor. Dia sebenarnya tidak terbiasa tinggal di kamar biasa seperti ini, apalagi di dalam sebuah rumah milik orang

biasa. Kamar yang disiapkan bagi Yesung biasanya kamar terbaik di hotel berbintang lima. Tetapi saat ini Yesung sedang menjalankan tugasnya. Yah. Orang seharusnya takut padanya, dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat berbahaya, terkenal di dunia gelap sana sebagai pembunuh yang tak pernah gagal. Sebenarnya Yesung tidak pernah menganggap pembunuh menjadi kariernya, dulu hidupnya keras, karena dia adalah anak yang berasal dari panti asuhan dengan nama Yesung, nama yang tertulis di kalung yang dikenakan ketika bayinya ditemukan menangis di depan pintu panti, hampir membiru karena udara luar yang dingin.

Ketika remaja, Yesung meninggalkan panti asuhan, melarikan diri untuk hidup mandiri, tetapi kemudian dia terjebak di dunia gelap yang kelam, yang memberlakukan hukum rimba. Siapa yang paling kuat dia yang berkuasa. Yesung dulu lemah, tetapi dia mempunyai semangat hidup yang kuat. Pada usia 13 tahun, dia diselamatkan dari rehabilitasi remaja oleh seorang lelaki penguasa yang sangat kejam, seorang lelaki yang sudah melihat potensinya dari kemampuan berkelahi alaminya. Lelaki itu adalah Kangta.

Kangta adalah seorang pengusaha setengah Yunani dan setengah Korea yang sangat sukes dan menguasai dunia bisnis di Italia pada masa itu, kekuasaannya menyeluruh, sampai menjangkau ke dunia gelap yang pekat dan kejam. Kangta menyelamatkannya ketika dia hampir mati, menjadi bulan-bulanan setiap hari, dihajar oleh kelompok remaja yang menguasai fasilitas rehabilitasi remaja itu, dia dibenci lebih karena sosoknya yang luar biasa tampan dan sikap angkuhnya yang mendorongnya tidak mau tunduk kepada pemimpin di dalam rehabilitasi itu, ketika Kangta melihatnya dan menyadari potensinya, lelaki itu mengatur dengan segala koneksinya untuk mengeluarkan Yesung dari pusat rehabilitasi itu.

Yesung dididik oleh Kangta dengan sedemikian kerasnya sampai hampir menyerah dan ingin mati saja ketika dia menjalani malam-malam penuh darah dan olah fisik yang mengerikan. Pada awalnya dia dijadikan pengawal kelas rendahan di dalam kekuasaan Kangta, sebagai tameng awal kalau terjadi baku tembak atau serangan dari musuh-musuh Kangta, kemudian karena kemampuannya bertahan, Yesung terus dan terus naik hingga akhirnya menjadi orang kepercayaan Kangta.

Sampai kemudian di suatu titik, Yesung bisa menjadi teman dan sahabat yang sangat dipercayai oleh Kangta. Ada ikatan pertemanan yang janggal tetapi kuat di antara mereka berdua, Yesung tidak akan mengkhianati Kangta, begitu juga sebaliknya.

Ketika itu Yesung baru tujuh belas tahun, tetapi pelatihan dan hidupnya yang keras itu telah membentuknya menjadi seperti sekarang, seorang pembunuh tangguh yang menakutkan bagi siapapun yang mengenalnya. Seorang pembunuh misterius yang selalu dikenal dengan

nama "Sang Pembunuh".

"Sang Pembunuh" sangat ditakuti karena tidak pernah gagal dalam menjalankan misinya, sesulit apapun itu. Semua orang pasti mati kalau dia dikatakan menjadi incaran"Sang Pembunuh". Meskipun begitu hampir tidak pernah ada orang yang mengetahui identitas sebenarnya, Yesung tidak pernah menemui kliennya hingga tidak ada yang pernah tahu wajah aslinya. Dalam menutupi penyamarannya, ia tetap bertugas sebagai pengawal dan orang kepercayaan Kangta, salah satu orang yang tahu identitas asli "Sang Pembunuh".

Dan tak disangkanya kemudian, seorang lelaki mencarinya, lelaki itu seorang pengacara yang mengatakan bahwa dia adalah pewaris darah Kim yang hilang, keluarga kaya asal Korea Selatan. Yesung ternyata adalah anak haram yang dibuang oleh ibunya, seorang pelayan yang dihamili oleh penerus utama keluarga Kim yang berkuasa.

Ayahnya, sang penerus keluarga laki-laki terakhir itu ternyata menderita sakit beberapa lama, yang menyebabkan dirinya impoten dan tentu saja tidak bisa menghasilkan keturunan. Hanya Yesunglah satu-satunya harapannya untuk meneruskan nama besarnya. Ayahnya kemudian menyewa detektif swasta untuk melacak Yesung dari panti asuhannya. Tentu saja dia tidak menyangka bahwa anak lelaki satu-satunya, yang dia

hasilkan dari kesalahannya di masa muda, tumbuh menjadi seorang lelaki yang bergelut di dunia hitam.

Setelah hasil tes DNA dipastikan, sang ayah memohon kepada Yesung untuk meninggalkan dunia gelap yang selama ini menjadi bagian hidupnya, dan masuk ke dalam keluarga Kim, menjalankan semua usaha di keluarga mereka, dan Yesung menuruti permintaan ayah kandungnya itu. Bukan karena dia menyayangi ayah kandungnya, keberadaan ayahnya yang muncul tiba-tiba ketika dia sudah dewasa malahan memunculkan rasa pahit di hatinya, mengingatkannya betapa ibu kandungnya sendiri dulu membuangnya karena tidak mampu menanggung akibat affairnya dengan tuan muda keluarga Kim.

Dari penyelidikannya, Yesung tahu bahwa ibunya bunuh diri, setelah melahirkannya, dia diusir dengan kejam karena dianggap merayu anak kesayangan keluarga Kim.

Yesung mundur dari dunia gelap lebih karena ingin beristirahat. Tangannya berlumuran darah, dan

nama keluarga Kim memberinya kesempatan untuk melarikan diri dan hidup normal seperti biasa. Pada akhirnya, dia menerima warisan seluruh harta ayahnya. Yesung benar-benar meninggalkan dunia hitam itu, menambahkan nama marganya menjadi Kim Yesung yang berkuasa, sang putera mahkota keluarga Kim yang sempat hilang begitu lama. Dan dia memastikan, tidak akan ada orang yang bisa menghubungkan Kim Yesung yang kaya dan berkuasa, dengan "Sang Pembunuh", hanya Kangta dan orang kepercayaannya seperti Kangin yang tahu tentang rahasia masa lalunya.

Tetapi rupanya masa tenangnya tidak berlangsung lama, Kangta, salah satu sahabatnya, di mana Yesung pernah berhutang nyawanya di masa lalu, ketika dia masih muda dan bodoh, meminta tolong padanya. Entah kenapa Kangta terlah terlibat hubungan rahasia dengan sebuah organisasi ekstrem yang merencanakan sebuah kudeta terselubung. Lelaki itu meminta tolong kepadanya untuk menjalankan sebuah pekerjaan kecil, menyangkut perjanjian kerjasamanya dengan organisasi

itu. Kalau Yesung mau membunuh salah satu incaran organisasi itu pada waktunya, maka ketika seluruh rencana organisasi itu berhasil dan mereka bisa menguasai negara itu dengan kudeta, maka Kangta akan dengan mudah memuluskan jalan untuk memperoleh jalan untuk perizinan tambang minyak buminya di sana.

Semula Yesung menolaknya, apalagi pekerjaan ini termasuk pekerjaan yang sangat remeh, bisa dilakukan oleh siapapun dengan level lebih rendah dari dirinya. Lagipula pekerjaan ini akan memaksanya meninggalkan masa pensiunnya dari dunia kegelapan yang tenang, berkutat lagi dengan darah. Tetapi Kangta memaksa, mengatakan bahwa hubungannya dengan

organisasi ini adalah hubungan rahasia, yang tidak boleh diketahui siapapun selain orang yang dipercaya oleh Kangta. Kangta bersikeras tidak mau memakai orang lain selain Yesung, karena tidak ada orang yang lebih dipercayainya selain Yesung, tidak peduli seberapa remeh dan mudahnya pekerjaan ini.

Tugas ini sama sekali tidak ada untungnya baginya, dari segi material maupun kepuasan. Dia sudah tidak butuh uang, dan hasratnya membunuh sudah hilang. Tetapi dia punya hutang kepada Kangta, hutang pertemanan kepada mentor sekaligus sahabatnya itu, hutang yang harus dibayar.

Maka berangkatlah Yesung ke sebuah negara asal keluarganya itu, menjalankan tugas untuk membunuh korbannya, yang seharusnya mencoreng harga

dirinya, karena kapasitas korban ini sangatlah mudah, seharusnya dilakukan bukan oleh pembunuh sekelas dirinya. Yesung mengira ini semua akan berjalan mudah. Nyatanya tidak. Ya meskipun penampilannya tak terlalu berbeda dari warga asli tapi kelemahan berbahasa membuatnya harus sangat berhati-hati.

Dia pada akhirnya memilih menghilangkan penyamaran, karena penyamaran tidak bisa dipakai di negara ini. Secara langsung dia menemui Profesor Kim, dan mengatakan tujuannya untuk mengawal lelaki itu atas suruhan organisasi tempat lelaki itu mengadakan perjanjian kerja. Tentu saja Yesung tidak pernah mengatakan secara langsung, bahwa sebenarnya dia menerima order untuk membunuh Sang Profesor dan puteri tunggalnya, segera setelah lelaki itu menyerahkan hasil penelitiannya yang sangat rahasia kepada organisasi itu.

Ryeowook. Yesung mengernyit. Ketika pertama kali melihat Ryeowook, dan senyumannya yang

begitu ceria, dada Yesung terasa ditonjok, sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Ada kemarahan luar biasa dari dadanya, mengutuki kenapa gadis

seceria dengan senyuman seindah itu harus segera berakhir nyawanya karena kebodohan ayahnya. Dan Yesung pula yang harus mencabut nyawanya!

Kadang dia merasa jengkel melihat sang Profesor yang dengan bodohnya mempertaruhkan nyawanya, menjalin kerjasama dengan organisasi yang dia tahu sangat kejam dan berbahaya, serta melibatkan Ryeowook yang tidak tahu apa-apa. Mungkin sang profesor mempunyai alasannya sendiri. Apapun itu... Jauh di dasar hati Yesung, dia mencemaskan Ryeowook.

Ryeowook...Perempuan itu selalu ada di benaknya, bahkan menghantui saat tidurnya, tubuhnya mungil dan menggairahkan, membuat Yesung merasakan gairahnya naik setiap melihatnya... ya Ryeowook dengan senyum cerianya telah menarik perhatian Yesung, menumbuhkan suatu rasa yang tidak pernah diberikan Yesung kepada perempuan manapun.

xXxXx

Sekali lagi tampaknya ada kesibukan di dapur, membuat Yesung mengerutkan keningnya. Dia sudah hampir dua bulan tinggal di rumah mungil ini dan merasakan perasaan yang aneh, seakan dia berada di rumahnya sendiri, dan seakan Ryeowook memang seharusnya berada dimanapun dia berada.

Yesung selalu menahan diri, meskipun kadangkala dia menatap Ryeowook dan merasakan

gairahnya tiba-tiba naik. Kadang dia bergegas mandi air dingin untuk meredakan gairahnya, tersenyum masam dan berharap ini hanyalah salah satu efek selibatnya selama beberapa lama tanpa perempuan. Yesung semula berpikir dia akan merasakan gairah ini pada wanita

manapun yang cocok dengan kriterianya. Tetapi ternyata tidak, banyak wanita cantik yang tentu saja bersedia memuaskan hasratnya, tetapi dia hanya ingin Ryeowook, dia tidak mau yang lainnya.

Dengan langkah tenang dan memasang ekspresi datar, Yesung melangkah memasuki dapur, "Ada apa ini?" dilihatnya Ryeowook sedang mengiris sepotong besar kue bolu lemon berbentuk lingkaran dan meletakkannya diwadah kotak-kotak. Di kotak yang lain ada nasi, mie goreng, ayam panggang yang tampak lezat dan berkilauan karena sausnya, dan juga beberapa botol jus jeruk,

"Kita akan piknik." Ryeowook tersenyum lebar. "Hari ini cuacanya cerah sekali dan ayah setuju untuk piknik di tengah kebun teh di pegunungan, kau pasti suka Yesung, mungkin selama ini kau kepanasan di sini, tapi aku jamin di kebun teh nanti, kau akan kedinginan."

Yesung hanya terdiam, mengamati Ryeowook yang tampak ceria, bersenandung sambil mengatur bekal-bekal pikniknya ke dalam tas berbentuk keranjang besar yang telah disiapkannya.

Piknik di ruangan terbuka, berbahaya. Apalagi Yesung mulai menemukan petunjuk bahwa beberapa agen pemerintah yang khusus melakukan maintenance terhadap hubungan luar negeri secara rahasia, mulai mengendus perjanjian kerjasama antara profesor Kim dengan organisasi asing tersebut.

Tetapi sekali lagi Yesung melirik ke arah Ryeowook dan merasa tidak tega harus mengatakan bahwa seharusnya mereka tidak pergi piknik. Yah... Yesung hanya harus mencoba tampil tidak mencolok. Dia melangkah keluar dapur, dan berpapasan dengan profesor Kim, mereka bertatapan penuh makna, "Kenapa kau menyetujui kegiatan piknik di luar itu?" Tatapan Yesung tampak mencela, "Kau tahu bukan bahwa itu berbahaya?"

Profesor Kim tampak menyesal, "Aku tahu ini berbahaya, tetapi Ryeowook menginginkannya dan dia tampak sangat bahagia dengan rencana itu hingga aku tidak tega untuk mencegahnya."

Yesung mengamati profesor Kim dan kemudian tersenyum pahit. Lelaki ini sama sepertinya, bersedia melakukan apapun demi mendapatkan senyum ceria Ryeowook.

xXxXx

Mereka memilih tempat berumput rendah di tengah kebun teh yang terbuka untuk umum, udara sejuk dan berangin, membuat Yesung meragukan acara makan siang di alam terbuka seperti ini. Dia melirik ke arah Ryeowook yang hanya mengenakan sweater tipis dan mengerutkan keningnya, Tetapi bagaimanapun juga acara piknik ini sepadan, Ryeowook begitu ceria hingga matanya berbinar-binar dan pipinya bersemu kemerahan, tampak amat sangat cantik. Meskipun udara dingin dan berangin, membuat rambut mereka berantakan, tetapi mau tidak mau Yesung menyukai acara ini, makanannya sangat lezat, dibuat sendiri oleh tangan mungil Ryeowook yang terampil.

"Ayo kita ke sungai, di belakang kebun teh ini ada sungai kecil yang mengalir, airnya bening sekali dan sedingin es." Ryeowook beranjak dengan bersemangat ketika mereka menyelesaikan makannya.

Yesung melirik ke arah profesor Kim, lelaki tua itu tampak mengantuk dan menggelengkan kepalanya, "Kalian saja yang ke sana, medan untuk pergi ke sungai itu terlalu berat untukku karena harus menuruni bukit yang licin. Mungkin aku akan menikmati udara dan tidur dulu."

Ryeowook mengalihkan tatapannya ke arah Yesung, "Apakah kau mau menemaniku?"

Yesung masih menatap profesor Kim, sambil mengernyitkan keningnya, "Anda tidak apa-apa sendirian di sini profesor?" Sebenarnya Yesung ragu. Bagaimana kalau lelaki tua ini melarikan diri? Tetapi kemudian dia menghapus kemungkinan itu dari benaknya. Dia memegang Ryeowook, dan dia tahu profesor Kim tidak akan pernah meninggalkan Ryeowook, lelaki itu terlalu mencintai puterinya.

"Aku akan baik-baik saja di sini." Profesor Kim melemparkan tatapan penuh makna, tampaknya mengerti apa yang sedang berputar di benak Yesung.

Yesung akhirnya mengikuti ajakan Ryeowook menuruni bukit itu, menuju sungai yang katanya sangat indah.

xXxXx

Ryeowook berdebar, tentu saja, dibalik sikap cerianya sebenarnya Ryeowook merasa gugup kalau

berada di dekat Yesung, lelaki itu memang jarang tersenyum dan selalu memasang ekspresi datar, tetapi kalau dia tersenyum meskipun hanyalah senyuman tipis ketampanannya makin luar biasa.

Yah, meskipun lelaki ini pada dasarnya luar biasa tampan, dengan wajah klasik ala bangsawan romawi jaman dahulu, dan mata cokelat gelap yang dalam. Ryeowook melirik ke arah Yesung yang berjalan dengan tenang di sisinya dan berusaha menetralkan detak jantungnya.

"Dingin?" Yesung sepertinya mengamati Ryeowook, membuat Ryeowook mendongakkan kepala

malu.

"Tidak kok, aku senang begini." Gumam Ryeowook dalam senyum. Dan kemudian tanpa disangkanya, lelaki itu melepaskan jaket warna cokelat gelapnya dan meletakkannya di bahu Ryeowook. "Eh...tapi kau yang akan kedinginan." Gumam Ryeowook protes.

Yesung tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, aku laki-laki aku yang lebih kuat."

Dada Ryeowook dipenuhi oleh perasaan asing yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, dia menatap Yesung malu-malu dan tersenyum, "Terima kasih ya."

Yesung menganggukkan kepalanya lalu jemari kuatnya menggandeng Ryeowook menuju sungai. Mereka sampai di tepian tebing yang tidak terlalu dalam, dan sungai itu ada di bawah, tampak bergemericik dengan aliran bening yang menyegarkan. Yesung mengerutkan keningnya, menuruni lembah menuju sungai tidak akanbmenyulitkannya, tetapi tanah yang landai itu licin dan basah dengan lumpur di ujungnya, dia

meragukan kalau Ryeowook bisa melaluinya, diliriknya Ryeowook yang mengenakan kemeja putih, celana pendek selutut warna hitam dan sandal datar... perempuan ini akan mengotori kemejanya yang putih bersih, gumamnya dalam hati.

"Kau bisa menuruninya?" Yesung mengangkat alisnya dan menatap Ryeowook yang tampaknya sangat bersemangat.

Ryeowook menganggukkan kepalanya, "Aku biasanya menuruninya sendiri, meskipun beberapa

kali aku terpeleset dan berguling-guling di lumpur yang empuk itu." Gumamnya lucu, membuat Yesung tidak bisa menahan diri untuk terkekeh, "Well kalau begitu mari kita coba." Jemarinya menggandeng jemari mungil Ryeowook, mengajaknya menuruni tanah yang landai itu dengan hati-hati.

Mereka bergerak pelan, menyadari betapa licinnya tanah itu di bawah alas kaki mereka, hingga kesalahan sedikit saja bisa membuat mereka tergelincir ke bawah. Ryeowook tanpa sadar mencengkeram erat-erat jemari Yesung... Tetapi tiba-tiba saja kakinya terantuk batu yang entah kenapa menyembul di balik lumpur, langkahnya terhuyung dan kemudian jatuh kehilangan keseimbangannya, membawa Yesung bersamanya.

Dengan cepat tubuh mereka berguling, dan baru berhenti setelah mencapai ujung lembah di tepi sungai. Tubuh dan pakaian mereka belepotan lumpur yang basah, bahkan ada beberapa di rambut dan wajah mereka.

Yesung yang bangun duluan duduk di atas lumpur dan mencoba membersihkan pakaian dan rambutnya, sebuah usaha yang sia-sia mengingat lumpur itu begitu banyaknya. Sementara itu Ryeowook masih terengah karena berguling tadi, tetapi kemudian ketika melihat keadaan Yesung yang belepotan lumpur, dia tidak bisa menahan diri untuk tertawa.

Bagaimana tidak? Sungguh pemandangan yang langka menemukan Yesung yang selalu

tampil sempurna sekarang benar-benar dilumuri lumpur kecokelatan. Tawanya membuat Yesung menoleh dan menatapnya dengan tatapan memperingatkan, "Kenapa kau tertawa?"

Tentu saja tatapan memperingatkan itu tidak mempan untuk Ryeowook, dia terlalu geli hingga tawanya makin keras, lalu tawa itu menular, membuat Yesung tersenyum dan senyumnya melebar menjadi kekehan pelan, dia mengangkat alis dan memandang dirinya sendiri, "Aku tidak membawa baju ganti." Gumamnya sambil melempar tatapan menuduh ke arah

Ryeowook. Matanya menatap ke arah keindahan di depannya, Ryeowook yang cantik dan tertawa

lepas, meskipun belepotan lumpur, tiba-tiba dada Yesung terasa hangat dan dia tidak bisa menahan diri.

Diraihnya Ryeowook ke dalam pelukannya dan diciumnya lembut. Semula Ryeowook terkesiap, matanya membelalak, tetapi Yesung sangat ahli, tahu bahwa Ryeowook tidak berpengalaman, dikecupnya bibir Ryeowook berkali kali dan kemudian dengan tanpa kentara dipagutnya lembut, seperti seorang kekasih yang mencoba meyakinkan pasangannya bahwa dia tidak akan

menyakitinya. Kemudian Yesung merasakan penyerahan diri Ryeowook dari matanya yang terpejam dan tubuhnya yang lunglai pasrah dalam pelukan Yesung, lelaki itu mengerang dengan perasaan memiliki dan memperdalam ciumannya, dengan lumatan penuh gairah yang tidak tertahankan lagi, dilumatnya bibir Ryeowook, dirasakannya kemanisan yang luar biasa dari bibir itu, dan kemudian lidahnya menelusup, menjelajahi seluruh bibir Ryeowook dan mengenalinya, dengan lembut tentu saja karena Yesung tidak maubRyeowook lari ketakutan akibat gairahnya yang bergejolak.

Lama kemudian, ketika Yesung merasakan Ryeowook megap-megap akibat ciumannya yang

terlalu dalam, dia melepaskan bibirnya. Kepala mereka masih beradu begitu dekat, napas mereka masih hangat dan menyatu, Yesung bisa melihat betapa bibir Ryeowook sedikit bengkak akibat ciumannya yang kuat. Lalu mata cokelat dalamnya menatap ke arah mata Ryeowook yang berkabut, membuat pipi Ryeowook bersemu kemerahan,

"Aku tidak akan minta maaf karena menciummu." Suara Yesung datar dan serak, "Karena aku sudah ingin melakukannya sejak lama."

Semu kemerahan di pipi Ryeowook makin nyata, jantungnya berdebar dengan kencangnya, oh Astaga! Yesung menciumnya! Lelaki itu menciumnya! Apakah itu hanyalah ungkapan gairah terpendamnya ataukah Yesung benar-benar tertarik kepadanya?

Mata Ryeowook mencoba menyelami mata cokelat Yesung yang dalam dan dia tidak

menemukan jawabannya, tetapi kemudian bibir Yesung tersenyum tipis, lelaki itu tiba-tiba mengecup ujung hidung Ryeowook dengan sayang, "Kuharap kau tidak marah padaku."

Ryeowook tidak marah, bagaimana mungkin dia bisa marah?

Perasaannya campur aduk dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi Ryeowook tahu pasti, 'marah' bukanlah salah satu di antaranya.

xXxXx

Sementara itu dari atas tebing, tanpa diketahui oleh dua sosok manusia yang berpelukan itu, profesor Kim berdiri mengamati dengan bingung campur lega. Bingung karena rasa bersalahnya menyeruak, membiarkan Ryeowook jatuh begitu saja dalam pesona Yesung tanpa

peringatan, tetapi sekaligus lega, lega karena Yesung tertarik kepada Ryeowook, kalau perasaan itu bisa tumbuh lebih dalam, itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa Ryeowook, Yesung sudah pasti tidak akan membunuh perempuan yang dicintainya bukan?

Profesor Kim rela melakukan apapun. Apapun, bahkan dengan taruhan nyawanya, asalkan Ryeowook bisa selamat.

xXxXx

Hubungan mereka berdua berubah sejak ciuman di tepi sungai itu, Ryeowook tidak menahan-nahan lagi rasa tertariknya yang bertumbuh dengan pesat kepada Yesung, begitupun sebaliknya, lelaki itu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada Ryeowook.

Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan sangat menikmatinya. Kadang mereka hanya berdiam di rumah, tidak kemana-mana, duduk membaca dengan secangkir kopi panas di meja. Setelah lama, Yesung akan menarik Ryeowook ke dalam pelukannya dan menciuminya, lalu mereka akan bercumbu. Tetapi rupanya Yesung masih menahan diri untuk melakukan sesuatu yang lebih. Ryeowook adalah perempuan polos yang belum berpengalaman, dan Yesung tidak mampu merusak kepolosan itu hanya karena ingin melampiaskan gairahnya.

Dia sudah memikirkannya sejak lama. Mereka memang baru bertemu sebentar, tetapi dorongan gairah mereka dan keterikatan di antara mereka begitu kuatnya, membuat Yesung yakin bahwa Ryeowook adalah tempatnya berlabuh, Kemudian di suatu malam, ketika Ryeowook pulang dia menemukan ruangan begitu gelap dan pekat, dahinya mengernyit.

Apakah mati lampu? Tetapi lampu jalanan menyala terang di sekeliling kompleks, berarti tidak mungkin mati lampu. Lagipula kenapa rumah begitu senyap, dimana Yesung dan ayahnya?

Ryeowook masuk ke ruang tengah, ruangan dengan karpet tebal dan sofa empuk, tempat dia sering menghabiskan waktu bersama Yesung, ruangan itu temaram, oleh cahaya lilin. Ryeowook melangkah semakin masuk ke tengah ruangan dan mendapati, pemandangan yang

sangat indah dan mencengangkan. Sembilan buah lilin biru yang diatur dengan posisi setengah melingkar, begitu indahnya menguarkan cahaya keemasan dengan nuansa biru, menimbulkan bayangan bergerak di seluruh ruangan yang temaram, membuat Ryeowook tersenyum.

"Kau menyukainya?" suara Yesung tiba-tiba terdengar dekat di belakangnya, membuat Ryeowook terlonjak kaget, dia menoleh dan mendongakkan kepalnya, menatap Yesung yang menatapnya lembut, cahaya lilin telah menciptakan siluet di sana, hingga membuat

Yesung kelihatan misterius.

Ryeowook tersenyum, "Ini bagus sekali."

Yesung lalu menghela Ryeowook mendekati lilin-lilin itu, "Aku sebenarnya ingin membeli bunga mawar, sembilan tangkai bunga mawar untukmu, yang artinya ' saling mencintai selamanya'. Tetapi kemudian aku melihat lilin biru ini, sangat indah, aku membayangkannya menyala di kegelapan, menyambutmu pulang, rasanya akan lebih romantis daripada ketika aku memberimu sembilan tangkai mawar merah." Ekspresi Yesung berubah serius, "Aku baru sebentar mengenalmu, tetapi aku tahu bahwa kau berbeda Ryeowook, kau memiliki hatiku begitu saja tanpa aku menyadarinya."

Ryeowook merasakan dadanya sesak. Terharu sekaligus bahagia, air mata menggenang di sudut matanya, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Kalimat Yesung itu…. Lelaki itu memang selalu bersikap lembut dan penuh sayang kepada Ryeowook, tetapi belum pernah satu ungkapan cintapun terungkap, apakah ini... apakah ini adalah pernyataan cinta Yesung?

Lalu tiba-tiba saja, sebuah kotak beludru terbuka, dengan cincin emas yang berhiaskan berlian putih berkilauan di dalamnya ada di tangan Yesung, Ryeowook menatap cincin itu, terpukau oleh keindahannya. Kemudian dia mengalihkan tatapan mata terkejut ke arah Yesung, ekspresi lelaki itu mengungkapkan maksudnya dan jantung Ryeowook berdebar kencang. Apakah Yesung ...

"Ryeowook, maukah kau menjadi isteriku?" Ucapan lamaran itu terucap dari bibir Yesung yang tipis dan indah, dengan suara serak dan penuh perasaan, membuat air mata Ryeowook membanjir. Dia menganggukkan kepalanya, tanpa pertimbangan apa-apa lagi.

Yang penting adalah Yesung mencintainya, dan dia mencintai laki-laki itu. Perasaan mereka begitu dalamnya, dan mereka harus bersama. "Ya Yesung, aku mau...aku mau…"

xXxXx

"Aku akan membawa Ryeowook ke Italia untuk menikah." Yesung bergumam pada tengah malam, setelah yakin bahwa Ryeowook terlelap dan tak akan bangun, dia menemui profesor Kim yang masih mengerjakan penelitiannya di ruang kerjanya Profesor Kim yang tadi setuju untuk sembunyi sementara di ruang kerjanya sementara Yesung melamar Ryeowook, menganggukkan kepalanya dengan serius,

"Itu bagus." Lelaki tua itu lalu menghela napas panjang, "Kurasa kau tahu kenapa aku menyetujui pernikahan ini."

Yesung menganggukkan kepalanya, "Aku akan melindungi Ryeowook dengan nyawaku sendiri."

Wajah Profesor Kim tampak sedih, menyadari kalau Yesung tidak mau membunuhnya, organisasi itu pasti akan mengirimkan orang lain untuk menghabisinya. Tetapi setidaknya Ryeowook tidak terlibat, setidaknya Ryeowook berada di tangan orang yang paling kuat untuk melindunginya, itu sudah cukup untuknya. "Terima kasih Yesung, aku bersyukur Ryeowook akan menikah dengan seseorang sepertimu." Profesor Kim mengucap restunya dengan lemah, merasakan sedikit pedih di dadanya karena Ryeowook, puterinya satu-satunya sebentar lagi akan dijauhkan dari dirinya.

xXxXx

Kemudian Yesung menelepon Kangta dan menceritakan semuanya, membuat lelaki itu tercengang. "Maksudmu...kau akan membatalkan semua tugas itu karena kau jatuh cinta dengan anak perempuan si profesor?"

"Kau sudah mendengar sendiri tadi." Jawab Yesung tenang.

Kangta tampak kehabisan kata-kata, lalu lelaki itu mendesah, masih tampak kaget, "Apakah kau yakin, Yesung? Kau tidak pernah gagal dalam tugasmu sebelumnya... Apalagi profesor dan puterinya ini adalah tugas yang sangat mudah... Reputasi 'Sang Pembunuh' akan tercoreng kalau itu terjadi."

"Aku tidak peduli dengan reputasi 'Sang Pembunuh', dia sudah lama mati, kau tahu aku sudah membuatnya pensiun sejak lama, dan menjalani hidupku sebagai Kim Yesung hanya karenamulah aku mau membangunkan lagi 'Sang Pembunuh', tetapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, Kangta. Aku mencintai Ryeowook dan aku akan menjaganya."

"Bagaimana dengan sang profesor?"

Yesung menghela napas panjang, "Aku sudah menawarkan untuk membawanya ke italia untuk melindunginya, tetapi dia menolak. Dia ternyata mengidap kanker hati, umurnya sudah tidak lama lagi, jadi dia pasrah menunggu apapun yang akan dilakukan oleh organisasi itu

kepadanya, lagipula dia berpikir kalau dia ikut ke italia, dia akan membawakan bahaya terus menerus kepada Ryeowook."

Kangta tercenung, lalu menghela napas panjang, "Oke, mau bagaimana lagi. Kau sepertinya

benar-benar serius dengan perempuan yang satu ini. Aku akan menginformasikan bahwa aku gagal melakukan yang mereka minta kepada organisasi itu, dan bersiap untuk kehilangan kesempatan besar membangun kilang minyakku di negara itu." Suaranya tampak mencela tapi tidak marah, malahan Yesung mendengar senyum di dalam suaranya, "Sebaiknya cepat kau bawa gadis itu pergi, Yesung, penelitian sang profesor sangat penting dan rahasia dan begitu aku menginformasikan kepada organisasi itu bahwa kau sudah melepaskan tugasmu, mereka akan berusaha mengirimkan pembunuh lain tanpa melalui aku, yang mungkin lebih kasar dan menggunakan cara rendahan daripada dirimu."

xXxXx

"Kenapa ayah tidak bisa ikut ke Italia untuk menghadiri pernikahan kami?" Ryeowook masih saja

mengerutkan keningnya rupanya hal itu masih mengganjal di benaknya meskipun mereka telah melalui adu argumentasi dan penjelasan-penjelasan yang panjang sehingga menemukanbkompromi, koper-koper sudah di packing rapi, dan mereka sedang menunggu taxi untuk mengantar ke bandara.

Profesor Kim tersenyum lembut, mengecup dahi puterinya itu dan menggelengkan kepalanya, dengan sabar mengulang kembali alasan yang selalu didengungkannya kepada Ryeowook, "Kau tahu ayah tidak bisa, ada pekerjaan yang mengharuskan ayah tetap tinggal. Toh kau bisa mengunjungi ayah nanti kalau sudah menikah." Profesor Kim mengernyit dalam hatinya, memandang wajah Ryeowook dalam-dalam, puteri kesayangannya yang mungkin tidak akan bisa dilihatnya lagi.

Ada alasan lain lagi yang tidak diberitahukannya kepada Ryeowook, kondisi kesehatannya benar-benar sudah buruk sekarang, mungkin karena gaya hidupnya yang tidak sehat, membuat tubuhnya yang sudah menua tumbang oleh berbagai penyakit, terakhir dia meriksakan diri, dokter sudah mendiagnosis dirinya mengidap kanker hati. Yah, bagaimanapun juga umur manusia ada batasnya, setidaknya dia bisa

meninggal dengan pengetahuan bahwa Ryeowook di jaga di tangan yang tepat.

Sebenarnya butuh waktu lama bagi Yesung untuk meyakinkan Ryeowook supaya mau meninggalkan ayahnya di sini untuk menikah di Italia. Ryeowook bersikeras mengajak ayahnya,

bahkan dia meminta supaya mereka menikah di negara ini saja sehingga tidak perlu meninggalkan porfesor Kim. Ketika Yesung menyerah dengan kekeraskepalaan Ryeowook,

profesor Kim turun tangan, dengan kasih sayang seorang ayah, dia menerangkan bahwa ada

pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya di sini, bahwa dia terlalu tua dan lelah untuk menempuh perjalanan jauh, bahwa dia akan baik-baik saja di sini selama Ryeowook berangkat ke Italia untuk menikah dan berbulan madu.

Profesor Kim menekankan bahwa setelah bulan madu mereka, Ryeowook dan Yesung bisa pulang lagi kemari - itu mungkin merupakan kebohongan putihnya pada Ryeowook karena jauh di

dalam hatinya, profesor Kim tahu bahwa Yesung mungkin tidak akan membawa Ryeowook pulang lagi, demi keselamatan Ryeowook. Pada akhirnya Ryeowook mau mengerti semua penjelasan profesor Kim dan mau berangkat ke Italia bersama Yesung meninggalkan ayahnya di sini.

Taxi mereka datang, dan Yesung yang sejak tadi membisu, menyalami profesor Kim dengan ekspresi datar, "Semoga kau baik-baik saja profesor." Gumamnya tenang, penuh makna.

Profesor Kim tersenyum, lalu tanpa diduga memeluk Yesung dengan cepat lalu menepuk bahunya, "Jaga Ryeowook baik-baik." Pesannya.

Ryeowook menangis, memeluk ayahnya dan mencium ke dua pipinya, "Ayah jaga diri ya, segera setelah menikah, aku akan pulang lagi bersama Yesung." Bisiknya dengan berurai air mata, tidak menyadari bahwa Profesor Kim melempar pandangan ke arah Yesung, pandangan penuh pengetahuan bahwa mungkin saja Ryeowook tidak akan pernah kembali ke negara ini.

xXxXx

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka mendarat di bandar udara internasional, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Tuscany, kawasan yang terkenal dengan perkebunan anggur dan zaitun. Meskipun lelah, Ryeowook sangat menikmati perjalanan itu dan merasa sayang jika sampai tertidur, dia sangat menyukai tempat, pemandangan, suasana, dan keindahan kota-kota kuno dan ladang bunga matahari damai dan tak berujung di pedesaan.

Yesung menjelaskan bahwa mereka sekarang berada di daerah antara Florence dan Siena yang juga mencakup wilayah anggur Chianti dan juga San Gimignano, di mana Yesung sendiri memiliki perkebunan anggur yang cukup luas di sana. Mereka harus menempuh sekitar 80 kilometer lagi menuju ke kota Lucca, sebuah kota yang berada di atas sebuah dataran tinggi dengan pegunungan Alpen menjulang di atasnya.

Selama beberapa jam kemudian, Ryeowook akhirnya tertidur, dan baru terbangun ketika Yesung menyentuh bahunya dengan lembut, dia tertidur pulas di pangkuan Yesung, "Kita sudah sampai di kotaku." Gumam Yesung serak, menatap Ryeowook dengan tatapan mata dalam dan bergairah.

Ryeowook terpesona. Kota ini hampir seperti bayangannya ketika melihat acara-acara yang membahas wisata Italia di televisi, kota ini terkenal oleh dinding yang dulunya merupakan benteng pertahanan, peninggalan dari arsitektur kuno yang megah, dan juga peninggalan

bangunan bersejarah lainnya. Tempat tinggal Yesung sendiri merupakan sebuah kastil yang indah bercat putih bersih, menjulang di tengah dataran rumput dan warna oranye pepohonan menjelang musim gugur.

Mereka turun dari mobil dan beberapa pelayan pria langsung datang dan mengangkut barang-

barang mereka. Kangin, sang pelayan utama berdiri menyambut di depan, menatap Ryeowook dengan senyum hangatnya,

"Selamat datang tuan Yesung, selamat datang nona Ryeowook." Lelaki itu membungkukkan badannya dengan hormat.

Yesung menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, "Apakah persiapan pernikahan sudah siap?"

"Semua sudah disiapkan tuan, berkas-berkasnya sudah diletakkan di meja anda oleh pengacara anda, besok dijadwalkan pernikahan jam sepuluh di sini."

Yesung menoleh, menatap ke arah Ryeowook dan tersenyum meminta maaf, "Maafkan aku atas pernikahan yang tergesa-gesa ini. Tetapi aku sungguh ingin menikahimu, dan tidak ingin diperlambat oleh urusan persiapan pesta dan yang lainnya. Kita bisa menikah dulu, diam-diam, rahasia. Dan kemudian menikmati bulan madu kita dalam ketenangan, setelah waktunya tepat, baru kita umumkan pernikahan ini dan kemudian merancang pesta yang sangat besar untuk merayakannya dan mengundang semua orang yang perlu diundang."

Ryeowook tersenyum, melemparkan tatapan mata memuja kepada Yesung, "Aku tidak peduli dengan pesta. Aku ingin segera menjadi milikmu, Yesung."

xXxXx

Dan begitulah, dalam upacara pernikahan yang sederhana, mereka terikat sebagai suami isteri,

hanya disaksikan oleh Kangta, pengacara dan beberapa orang kepercayaan Yesung, lelaki itu melingkarkan cincin tanda kepemilikannya di jemari Ryeowook, dan kemudian mengecup pengantinnya.

Meskipun sederhana dan tidak dirayakan dalam keramaian, Ryeowook sangat bahagia, dia tampak begitu cantik dan berbinar-binar sehingga Kangta pun menyenggol Yesung sambil mengamati Ryeowook, "Tak heran kau begitu terpesona kepadanya, dia begitu cantik.." Kangta tertawa, "Hei, aku memuji isterimu. Dia memang luar biasa cantiknya, apakah ibunya mirip dengannya? Kurasa Ryeowook tak memiliki kemiripan sama sekali dengan Profesor Kim."

Yesung mengernyitkan keningnya. Tidak. Dia melihat sendiri foto Profesor Kim dan

mendiang isterinya. Tidak ada sedikitpun terlihat kemiripan di antara mereka. Tetapi kata-kata Kangta ada benarnya juga, Yesung selama ini tidak pernah memikirkannya, tetapi jika dilihat dengan benar, Ryeowook benar-benar tampak berbeda dari

kedua orang tuanya. Dia akan menyelidikinya nanti. Nanti. Karena sekarang, waktunya dia memiliki isterinya.

Pesta sudah hampir usai, dan Yesung merangkulkan lengannya di pinggang isterinya, dengan bergairah dan penuh makna, hingga Ryeowook tersenyum malu-malu, lalu mengikuti Yesung dihela menuju kamar besar mereka yang telah disiapkan, meninggalkan para tamu

di belakang mereka. Kamar itu besar dan indah, cahayanya temaram, dan Ryeowook melihat satu-satunya cahaya itu berasal dari sembilan lilin biru yang diatur setengah melingkar dengan indahnya di sana.

Matanya menoleh ke arah Yesung dan tersenyum haru, teringat akan kenangan indah ketika Yesung melamarnya dalam buaian cahaya temaram dari sembilan lilin biru yang indah itu.

"Yesung." Ryeowook mendesah ketika lengan Yesung melingkari pinggangnya dari belakang, lelaki itu menundukkan kepalanya dan mengecup sisi leher Ryeowook, membuatnya menggelenyar, "Kau menyukainya?" Yesung berbisik serak, merasa puas ketika Ryeowook menganggukkan kepalanya, "Aku berharap ketika kau melihat lilin berwarna biru itu, kau akan selalu mengingat betapa aku mencintaimu Ryeowook, betapa aku sangat sangat menyayangimu dan ingin menjagamu selamanya."

Lelaki itu menurunkan gaun putih Ryeowook yang indah, yang khusus dipesan untuk pernikahan mereka. Kemudian mengecupi pundak Ryeowook dari belakang, membuat Ryeowook mendongakkan kepalanya, pasrah dah bersandar kepada Yesung, suaminya.

"Aku sangat ingin memilikimu. Kau membuatku hampir gila karena menahan gairahku, tetapi aku tidak ingin menodaimu, tidak sebelum kau resmi menjadi milikku." Yesung bergumam serak, mendongakkan kepala Ryeowook dari belakang, kemudian melumat bibirnya dari sana.

Kecupannya lembut, penuh penghargaan, membuat Ryeowook merasa begitu dihargai, begitu

dicintai sebagai seorang perempuan.

Jemari Yesung menyentuh buah dadanya yang hanya terlindung bra berwarna krem berenda yang mungil, karena gaun pengantinnya telah melorot sampai ke pinggang. Yesung membuka bra Ryeowook dengan lembut, lalu jemarinya menangkup payudara Ryeowook, memberikan kehangatan di sana sehingga tubuh Ryeowook menggelinjang atas sensasi pertama yang dirasakannya.

Ryeowook terkesiap ketika Yesung menggerakkan jemarinya sambil lalu namun penuh keahlian ke putting payudaranya, membuat puting itu menegang, menginginkan sentuhan lebihbdan lebih lagi. Dan Yesung memberikannya, jemarinya memilin putting Ryeowook dengan lembut, berhati-hati supaya tidak menyakitinya. Menikmati indahnya payudara isterinya yang begitu pas di tangannya.

Kejantanan Yesung menegang dan siap untuk Ryeowook, dia kemudian merengkuh tubuh mungil isterinya dan membawanya ke ranjang, dibaringkannya tubuh Ryeowook dengan lembut, lelaki itu setengah menindih Ryeowook, tangannya bertumpu pada tepi kepala Ryeowook, kepalanya menunduk dan menatap mata Ryeowook dengan mata teduhnya, "Nanti rasanya akan sakit." Gumam Yesung dengan tatapan memperingatkan.

Ryeowook tersenyum, menatap wajah Yesung di atasnya, jemarinya terulur lembut dan membelai wajah Yesung, membuat lelaki itu menelengkan kepala dan mengecup jemarinya dengan mata terpejam, "Tidak apa-apa." Ryeowook bergumam lembut, malahan membuat Yesung mengerutkan

keningnya, "Aku belum pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, semua orang bilang rasanya akan sangat sakit bagimu." Yesung menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Ryeowook dengan lembut, "Apapun yang terjadi sayang, kau harus tahu bahwa menyakitimu adalah hal terakhir

yang aku pikirkan."

Lelaki itu lalu menunduk dan menghadapkan bibirnya ke bibir Ryeowook, dia mengecup kehangatan bibir Ryeowook dengan lembut, kemudian melumatnya, membuat Ryeowook melingkarkan kepalanya di sekeliling leher Yesung, semakin merapatkan lelaki itu kepadanya. Bibir Yesung menjelajah, memberikan ciuman yang luar biasa lembut dan menggoda ke seluruh bibir Ryeowook, lidahnya berpilin dengan lidah Ryeowook, menggoda di sana, dan kemudian dengan sebelah tangannya, lelaki itu memelorotkan gaun Ryeowook yang sudah berada di pinggang, menurunkannya hingga menuruni pinggulnya, Ryeowook membantu dengan melemparkan gaun itu melalui kakinya. Sekarang dia sudah berbaring, setengah telanjang dengan hanya mengenakan celana dalam krem berenda yang senada dengan branya yang sudah dibuang Yesung ke karpet tadi.

Yesung menatap tubuh isterinya dan terpesona akan keindahan warna keemasan seperti zaitun di kulit isterinya. Jemarinya menelusuri di sana, kembali ke buah dadanya dan

mencumbunya lembut, tangannya memilin puting payudara Ryeowook dan membuatnya mengeras kembali. Lalu lelaki itu mendekatkan bibirnya, meniupkan uap napasnya yang hangat di puting itu, membuat Ryeowook tanpa sadar melengkungkan punggungnya dan meminta lebih, dan kemudian Yesung menjilatkan lidahnya menggoda di putting payudara Ryeowook, menimbulkan sensasi seperti tersengat listrik di sana.

Ryeowook mendesah pelan, dan mendorong kepala Yesung

makin mendekat, sampai kemudian lelaki itu menenggelamkan payudara Ryeowook ke mulutnya dan menghisapnya pelan. Gairah yang luar biasa pekat langsung menyelubungi Ryeowook, menimbulkan rasa aneh di pangkal pahanya. Tanpa sadar membuatnya mengangkat pinggulnya untuk semakin mendekatkan diri pada Yesung, mendekatkan diri pada kejantanannya yang makin terasa keras, mendesakkan diri ke pangkal paha Ryeowook.

Yesung lalu membuka dasi dan kemejanya, dan melemparkannya begitu saja ke karpet. Tubuh mereka yang telanjang berpadu, dada mereka bersentuhan, kulit dengan kulit, panas dengan panas, gairah dengan gairah, menimbulkan sensasi aneh yang menyelimuti Ryeowook, dia menggeliatkan tubuhnya, tidak tahu sensasi itu sebelumnya, hanya tahu bahwa dia ingin dipuaskan, entah dengan cara apa.

Lalu Yesung menurunkan celananya sekaligus, dan membuat Ryeowook terkesiap melihat kejantanan Yesung yang sudah siap untuk mata Yesung tajam agak berkabut oleh gairah, dia mengetahui Ryeowook sedikit ketakutan, dan lelaki itu lalu mengecup ujung hidung Ryeowook. "Kau akan bisa menerimaku, Sayang." Ciumannya turun ke leher, ke bahu dan ke payudara Ryeowook, menghadiahi setiap bagian tubuh Ryeowook dengan kecupan sayang. Lalu lelaki itu mengecup perutnya dan menyentuhkan lidahnya lembut, menimbulkan rasa panas dan menyengat di sana.

Dengan jemarinya, Yesung lalu menurunkan celana dalam Ryeowook, hingga bergulung sebelah pahanya dan berdiam di sana. Ryeowook memekik ketika Yesung membuka pahanya dan mencoba menutup pangkal pahanya, merasa malu luar biasa, tidak pernah sekalipun ada lelaki yang berbuat seintim ini dengannya. Tetapi Yesung malahan mengecup lembut jemari Ryeowook yang menutup pangkal pahanya dan menyingkirkan jemari Ryeowook ttu, senyumannya kepada Ryeowook benar-benar intens dan penuh rasa memiliki.

"Aku suamimu." Hanya satu kata, cukup satu kata untuk menunjukkan betapa Yesung memiliki setiap jengkal tubuh Ryeowook, membuat tangan Ryeowook lunglai, pasrah di samping tubuhnya, dan membiarkan Yesung menunduk, lalu mengecup kewanitaannya dengan lembut.

Ryeowook mengerang, meremas seprei dalam genggaman tangannya ketika kecupan Yesung di kewanitaannya makin intens, lelaki itu benar-benar menikmati seluruh sisi kewanitaan Ryeowook, mencumbunya, mencecap setiap rasanya dengan lidahnya yang hangat, dan ketika menemukan titik kecil di sana, lelaki ini memberikan seluruh perhatiannya membuat Ryeowook tidak bisa menahan erangannya, merasakan sensasi melayang akibat cumbuan Yesung di titik paling sensitif tubuhnya, titik yang bahkan tidak diketahuinya sebelumnya.

Ryeowook sudah basah, panas dan siap. Yesung tahu itu. Dia kemudian menaikkan tubuhnya, setengah ragu apakah Ryeowook benar-benar siap menerimanya untuk memasukinya. Disentuhkannya kejantanannya di sana, membuat Ryeowook mengerang, menatap mata Yesung dengan ketakutan yang dalam.

Yesung menatap Ryeowook dengan tajam, mereka saling bertatapan, dan kemudian Yesung menyatukan tubuh mereka, membuat Ryeowook mengerang karena rasa sakit yang amat sangat menyengatnya di bawah sana, jemarinya mencengkeram pundak Yesung dengan kuat, hampir mencakarnya. Merasakan betapa kencangnya kewanitaan Ryeowook, Yesung mengerang, napasnya terangah dan kepalanya menunduk, hidungnya menempel di hidung Ryeowook, tatapannya lembut penuh cinta.

"Tahan sayang." Dan kemudian, dengan satu hentakan tanpa ampun, Yesung menyatukan keseluruhan dirinya ke dalam tubuh Ryeowook, membuat perempuan itu memekik keras, menahan sakit dan perasaan aneh yang menyeruak di dalam dirinya.

Mereka terdiam dengan napas terengah, saling bertatapan. Yesung memberikan kesempatan kepada Ryeowook untuk menyesuaikan diri dengannya, dan ketika dirasakan betapa tubuh Ryeowook telah santai menerimanya, Yesung menarik tubuhnya pelan-pelan membuat Ryeowook mengernyitkan keningnya.

"Sakit ya." Yesung berbisik lembut, mengecup pelipis Ryeowook, mengecup hidungnya dan

kemudian mengecup kernyitan di dahinya, berusaha menghilangkannya. Ryeowook mengehela napas panjang, sedikit nyeri dan tidak nyaman di bawah sana, tetapi kesadaran bahwa tubuhnya telah menyatu dengan tubuh Yesung dan dia telah termiliki oleh lelaki itu membuat dadanya mengembang penuh cinta, dia tersenyum kepada Yesung, senyum yang sangat mempengaruhi lelaki itu karena membuatnya tidak bisa menahan diri lebih lama.

Tubuhnya bergerak semakin lama semakin cepat, membawa Ryeowook melewati batas yang tidak pernah berani dilompatinya sebelumnya. Rasa sakit dan pedih itu berbaur dengan kenikmatan, membuat Ryeowook melayang, tubuhnya mengikuti ritme tubuh Yesung sampai kemudian lelaki itu mengerang dalam-dalam karena kenikmatan tak tertahankan yang menghujani tubuhnya, menyatukan dirinya sedalam mungkin, dan kemudian mencapai puncak pelepasannya, membawa Ryeowook bersamanya.

Rasanya luar biasa nikmat, seperti dilemparkan ke dalam sumur yang sangat dalam dan nikmat penuh dengan stimulasi di setiap saraf tubuhnya. Darah Ryeowook berdesir oleh derasnya aliran kenikmatan yang memenuhi setiap pembuluh darahnya, dia mengerang ketika mencapai orgasmenya, mengangkat pinggulnya menerima tubuh Yesung yang menghujamnya sepenuhnya dan merasakan pelepasan lelaki itu yang hangat dan panas jauh di dalam

tubuhnya.

Yesung rebah di atas Ryeowook, dengan tetap menahan diri agar tidak menimpakan berat tubuhnya kepada Ryeowook, matanya menatap Ryeowook dalam, mereka saling tersenyum penuh cinta, kemudian Yesung bergumam serak, "Isteriku, aku akan mencintaimu selamanya. Kehidupan mungkin hanyalah sebuah perjamuan dan kematian adalah hidangan penutupnya, tetapi aku berjanji kepadamu, aku akan terus mencintaimu hingga kita menikmati hidangan penutup kita." Sebuah janji yang diwakili oleh sembilan lilin berwarna biru yang menyala redup menerangi ruangan. Lambang janji cinta Yesung kepada Ryeowook.

xXxXx

[Kembali ke masa sekarang]

Ryeowook membuka matanya dan terkesiap menatap bingung pada ruangan di sekelilingnya. Bau obat yang kuat dan seluruh dinding bercat putih membuatnya tahu dia sedang berada di mana. Ada infus di lengannya, dan ketika meraba kepalanya, ada perban di sana, terasa sedikit nyeri ketika disentuh.

Jantung Ryeowook bergolak cepat dan air matanya mengalir dengan derasnya. Dia sudah ingat semuanya... Semuanya dari awal sampai akhir, dari pertemuan pertamanya dengan Yesung sampai

perpisahannya akibat kecelakaan kemudian Ryeowook teringat ekspresi sedih Yesung ketika dia menembaknya. Ekspresinya begitu terluka meskipun lelaki itu memanggilnya 'sayang'

Ryeowook menangis keras-keras penuh penyesalan, menyadari bahwa dia telah menembak suaminya sendiri. Menyadari bahwa dia mungkin telah membunuh suami yang amat sangat dicintainya.

Kim Yesung adalah suaminya, belahan jiwanya yang selama ini terpisah jauh karena keadaan.

TBC

Fiuh... Ini chapter terpanjang loh, ada nc nya pula..Chap ini hampir semua flashback ya..

Makasih buat yang udah baca dan review..

Sampai jumpa di chap berikutnya..