Sequel chap 13
"Nancy?"
Kai menaikkan sebelah alis, ekspresi wajahnya terlihat berfikir keras saat Kyungsoo menanyakan tentang nama itu. Lelaki itu mencoba menggali ingatannya, tapi sungguh dia tidak mengenal siapa itu Nancy –ah!
Apakah dia perempuan blasteran yang satu kelas dengannya saat sekolah dulu? Mungkin saja, karna Kai tidak pernah peduli untuk menghafal wajah atau nama teman-temannya. Tapi tunggu, kenapa Kyungsoo bisa mengetahui hal itu?
"Aku tidak mengenalnya." Jawabnya dengan jujur, mengamati raut wajah Kyungsoo yang terlihat masih belum percaya. "Well, dia seperti teman sekelasku dulu, tapi aku sudah lupa." Kemudian mendapati ekspresi lega di wajah kekasihnya.
"Ada apa?"
"Felix mengatakan, jika dia adalah orang pertama yang menamparnya karna membelamu."
"Maksudnya?" Kai kembali mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Apa maksudnya dengan orang pertama yang menamparnya karna membelamu itu?
"Jadi kau dan Nancy tidak memiliki hubungan di masa lalu atau apapun itu?"
"Tidak." Kai semakin dibuat tidak mengerti. "bisa jelaskan padaku?"
"Bukan hal penting, jangan difikirkan. Sekarang istirahatlah." Gadisnya itu mengangkat bahu, kemudian mendorongnya pelan agar berbaring dengan nyaman. Kai merasa ada sesuatu yang mengganjal disini, namun dia memilih diam dan memutuskan untuk menanyakannya kembali nanti, saat ini seluruh badannya serasa remuk redam.
"Kau akan tetap disini?"
"Aku akan menjagamu," Kyungsoo membalas dengan manis sembari menggenggam jemari panjang kekasihnya.
"Ayahmu memiliki jadwal yang tidak bisa ditinggal, jadi dia menyerahkanmu padaku. Oh, paman Yunho dan bibi Jaejoong juga sedang dalam perjalanan kesini."
"Apa?" Kai menatap Kyungsoo dengan pandangan terkejutnya, menatap kekasihnya dengan tidak percaya. Apakah gadisnya ini tengah melucu tentang Hakyeon?
"Kau dekat dengan Hakyeon?"
"Ayahmu, bukan Hakyeon." Dengan polosnya Kyungsoo mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Saat pertama kali bertemu dirumahmu, dia bicara padaku dan meminta nomor ponselku. Kai, beliau orang yang baik dan–"
"Jadi intinya kau dan orang yang aku benci berhubungan?"
"Dia Ayahmu."
"Terserah! Yang jelas aku tidak suka kau berhubungan dengannya." Lelaki tan itu berkata dengan kesal, kentara sekali jika dia sedang menahan amarah. Melihatnya Kyungsoo hanya menghela nafas dan memilih untuk mengalah.
"Oke, fine. Jangan melanjutkan pembicaraan ini, sekarang istirahatlah." Kyungsoo mendekatkan wajahnya, memberikan satu kecupan di dahi kekasihnya dengan wajah bersemu malu, hal itu tentu saja sedikit mengobati perasaan Kai. Well, seharusnya dia tidak perlu sekesal ini pada Kyungsoo, gadisnya itu lambat laun juga pasti akan mejadi menantu Hakyeon, tapi tolong jangan untuk sekarang, dia masih belum bisa memaafkan pria itu dan menemukan beliau dekat dengan Kyungsoo membuatnya sedikit kesal. Jadi setelah pertemuan pertama mereka, keduanya saling berhubungan?
"Sudahlah jangan memasang wajah kesal seperti itu, terimakasih untuk dressnya."
Perhatian lelaki itu sepenuhnya tertuju pada Kyungsoo, mau tak mau mengulas senyum tipis melihat ketulasan di mata kekasihnya.
"Kau menyukainya?" Kyungsoo mengangguk. "maaf tidak bisa memberikannya langsung padamu."
"Tidak apa," Kyungsoo menepuk lengan Kai dengan lembut. "tapi dress itu untuk apa? Aku kan sedang tidak berulang tahun."
"Itu–" Lelaki tan itu terdiam sejenak. Sebenarnya dress itu dia berikan untuk Kyungsoo sebagai hadiah hari Valentine, sekaligus permintaan maaf karna tidak mengajak gadis itu kemanapun di hari kasih sayang tersebut. Rencananya Kai ingin menebus kesalahan itu dengan mengajak Kyungsoo makan malam romantis dan memintanya memakai dress yang dia berikan. Tapi nyatanya rencana hanyalah tinggal rencana, semuanya gagal total karna Felix.
Ah, tentang si brengsek itu, kira-kira bagaimana keadaannya sekarang? Bagus sekali Kai sudah berhasil mematahkan hidungnya.
"Kai, kau mendengarkan aku kan?" Kai tersentak, sadar bahwa dia malah melamun tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya. Segera dia meraih jemari mungil Kyungsoo yang masih memegang lengannya dengan tangannya yang tidak patah, balas menggenggamnya dengan erat.
"Mungkin ini sangat terlambat, tapi selamat hari valentine. Setelah aku keluar dari rumah sakit ini, apa kau mau makan malam denganku menggunakan dress itu?" Kyungsoo tidak tahu harus bereaksi seperti apa, yang jelas saat ini dia merasa sangat senang sekaligus terharu. Astaga, Kai memang bukan orang yang romantis, meski dingin, tapi lelaki itu memiliki cara tersendiri untuk membahagiakannya, dan sekarang melihat Kai yang menjadi romantis seperti kebanyakan lelaki lainnya nyaris membuat Kyungsoo tidak percaya. Kai membelikannya dress untuk digunakan saat makan malam? Omg!
"Kau..serius?"
"Iya sayang, kau mau?" Lelaki tan itu masih menunggu, dan saat menemukan Kyungsoo mengangguk dia merasa lega.
"Terimakasih, aku janji akan sembuh dengan cepat."
"Kau memang harus cepat sembuh Kai."
.
.
.
Pintu rawat didepannya terbuka begitu seorang lelaki dengan wajah tanpa ekspresi itu menarik pintu hingga terbuka, ah itu Changbin. Dan ya, saat ini Kyungsoo memang sedang mengunjungi ruangan dimana Felix dirawat, yang mana masih satu rumah sakit dengan Kai bahkan bersebelahan.
"Hai," Sapa Kyungsoo mencoba seceria mungkin, ditangannya ada sekeranjang buah-buahan segar.
"Kau–" Changbin menyipitkan matanya, "untuk apa kau kesini?"
"Mengunjungi Felix tentu saja, apa lagi?" Kyungsoo mengangkat keranjang buahnya didepan Changbin yang sepertinya masih enggan membiarkannya masuk.
"Apa aku tidak boleh masuk?" Lelaki ber aura gelap itu mendengus, lantas membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan gadis mungil itu masuk.
"Terimakasih." Kyungsoo melangkah masuk dan mendapati keadaan ruangan yang cukup ramai, Felix ada diatas ranjangnya sedang menonton tivi sementara teman-temannya sedang bermain kartu diatas karpet.
"Felix, kau kedatangan tamu!" Suara Changbin membuat semua orang yang sedang fokus dengan kegiatan masing-masing itu sontak menoleh, menatap Kyungsoo yang tengah berdiri ditengah ruangan dengan berbagai ekspresi. Terlebih Felix, lelaki itu mengerutkan dahinya menemukan kekasih musuh bebuyutannya itu ada disini.
"Kau, apa yang kau lakukan disini?" Tanya lelaki blasteran itu sinis.
"Menjengukmu." Kyungsoo membalas dengan senyuman manis, mendekat kearah Felix yang keadaannya tidak jauh berbeda dari Kai, meletakkan keranjang buahnya di atas nakas. Lelaki itu memiliki banyak perban ditubuhnya, terutama pada bagian hidungnya yang mungkin sedang dipulihkan.
"Cih, kau datang hanya untuk menertawaiku eh?"
"Kenapa berburuk sangka sekali?" Gadis manis itu menarik salah satu kursi dan mendudukinya didekat ranjang pasien.
"Aku murni hanya ingin menjengukmu, aku serius." Felix menatapnya dan mendengus.
"Apa maumu?"
"Oh, kita belum berkenalan secara resmi, perkenalkan namaku Kyungsoo, Do Kyungsoo." Si lelaki memberikan lirikan anehnya, jadi gadis ini repot-repot datang ke kamarnya hanya untuk mengenalkan diri?
"Dan ya, Kai musuh bebuyutanmu itu adalah pacarku. Maaf telah menamparku waktu itu dan atas nama pacarku, aku ingin meminta maaf karna dia telah mematahkan hidungmu."
"Hahaha! Apa kau sedang membuat lelucon?" Felix tertawa tanpa sebab, dia kemudian menatap Changbin yang mengangguk, lantas lelaki itu membawa teman-temannya yang sedang bermain kartu untuk pergi keluar, Changbin fikir mungkin kedua manusia itu butuh ruang untuk bicara.
"Kenapa kau merendahkan dirimu untuk meminta maaf padaku eh? Apa pacarmu itu terlalu pecundang hingga menyuruh pacarnya untuk menemuiku?"
"Aku sedang meminta maaf dan tidak ada yang menyebutkan bahwa meminta maaf artinya merendahkan diri, lagipula Kai memang berbuat kesalahan dan kau nanti juga harus meminta maaf pada Kai."
Felix mendecih. "Meminta maaf padanya? Tidak." Kyungsoo menghela nafas, mencoba bersabar menghadapi lelaki didepannya yang sungguh keras kepala ini. Tidak tidak, kedatangannya kesini untuk menyelesaikan permasalahan antara Kai dan Felix, meski nanti keduanya tidak bisa berbaikan, setidaknya biarkan mereka saling memaafkan satu sama lain. Dan tentu saja apa yang sedang Kyungsoo lakukan ini tanpa sepengetahuan Kai. Tadi siang bibi Jaejoong dan paman Yunho datang berkunjung, jadi dengan alasan dia akan pulang kerumah untuk berganti pakaian, Kyungsoo memanfaatkan kesempatan ini untuk mengunjungi Felix dan meminta bibi Jaejoong untuk menjaga Kai.
"Tentang Nancy, aku sudah menanyakannya pada Kai dan ternyata dia tidak mengenalnya."
"Cih, tentu saja. Si brengsek itukan tidak pernah peduli pada apapun." Felix membawa arah pandangnya ke jendela kaca yang tertutup rapat namun tidak bisa menyembunyikan pemandangan kota yang gemerlap dengan lampu-lampu malam yang menyala, lelaki itu seperti tengah menerawang.
"Kai dan aku teman sekelas, saat itu dia baru bebas dari penjara. Orang-orang mencemoohnya, menjauhinya sehingga dia sendiri dan tidak memiliki teman, tapi sialnya dia bersikap santai seolah itu semua bukan lah hal yang besar." Felix mulai bercerita dan Kyungsoo siap memasang telinganya, sedari tadi dia memang menunggu hal ini.
"Si brengsek itu sangat cuek, bagaimana dia bisa tidak peduli pada sekitar, itu sedikit membuatku iri."
"Um, bisakah kau tidak menyebutnya brengsek? Namanya Kai." Si lelaki mendengus, berusaha tidak peduli dengan permintaan Kyungsoo itu, dia memilih melanjutkan bercerita. "Saat itu aku menyukai seorang gadis, namanya Nancy dan dia adalah cinta pertamaku. Aku berusaha mendekatinya, dan kau tahu apa?"
"Apa?" Felix menatapnya dan mendecih kesal entah sudah untuk yang keberapa kalinya.
"Dia mengatakan bahwa dia menyukai Kai, si pembunuh itu. Aku kesal, jadi saat dikantin aku mengolok si brengsek itu dan melemparkan tomat kearahnya. Kami lantas bertengkar dan aku mendapatkan hidungku yang patah, tapi bagian yang menyakitkan adalah Nancy mendatangiku di rumah sakit hanya untuk menamparku."
"Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Kai, bagaimanapun dia adalah orang yang aku suka!" Felix memejamkan matanya sejenak, mencoba menghapus kalimat Nancy yang diucapkan penuh amarah sehabis menamparnya dulu.
"Dia membela pacarmu dan itu menyakitiku!"
Jadi, Nancy adalah gadis yang mencintai Kai? Tapi Kai tidak pernah menyadarinya. Itulah kesimpulan yang Kyungsoo tarik.
"Lalu bagaimana dengan Nancy sekarang? Dimana dia?"
"Dia pindah ke Belanda setelah kami lulus."
"Lalu apa kau masih memiliki perasaan pada Nancy?"
"Entahlah." Felix mengangkat bahunya, dia kemudian menatap Kyungsoo lekat-lekat, yang diperhatikan pun membalas tatapan tersebut, lalu tanpa diduga meraih telapak tangan kanan lelaki itu untuk dia genggam.
"Hei, apa yang–"
"Maaf jika tamparanku waktu itu menyakitimu!" Kyungsoo memberikan senyuman manisnya, membuat Felix yang berniat menarik tangannya itu urung, dia memandang Kyungsoo dengan raut wajah berfikir keras.
"Mungkin Nancy tidak ditakdirkan untuk menjadi jodohmu, dan sebagai gantinya aku akan menjadi temanmu bagaimana?" Felix terdiam, mencerna perkataan gadis didepannya sebelum terbahak-bahak.
"Heh? Kau mabuk ya mengatakan itu?" Tapi Kyungsoo menggeleng.
"Sejujurnya, aku datang kesini dengan maksud memperbaiki hubunganmu dan Kai, aku hanya ingin kalian setidaknya melupakan dendam kalian satu sama lain dan melupakan masa lalu." Kyungsoo berkata dengan lembut, mencoba meyakinkan.
"Apa kau masih membenci Kai?"
"Hm,"
"Dia juga membencimu, karna kau mengejeknya sebagai pembunuh dulu." Kyungsoo menarik nafasnya kecil. "tapi tolong maafkan dia ya? Dan kubuat dia memaafkanmu." Felix kembali tertawa dan kali ini menarik tangannya dari genggaman Kyungsoo.
"Sekarang aku benar-benar iri pada si brengsek itu karna dia memiliki malaikat sepertimu."
.
.
.
"Kyungsoo, kau darimana saja?" Kyungsoo yang baru saja membuka pintu rawat itu tidak bisa menahan tawanya melihat wajah kesal kekasihnya. Sementara di sofa sudut ruangan bibi Jaejoong hanya menggeleng-geleng.
"Ini sudah malam dan kau baru datang, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Gadis manis itu menggeleng menjawab pertanyaan Jaejoong lantas meletakkan plastik berisi potongan cheese cake diatas nakas, dia memang membelinya setelah berkunjung dari kamar Felix.
"Apakah Ibu akan menginap?" Jaejoong bangkit dari duduknya dan mulai merapikan tas yang dibawanya.
"Mungkin malam ini tidak, Yunho memiliki urusan yang tidak bisa ditinggal. Kyungsoo, apa kau baik-baik saja menjaga Kai sendirian?"
"Tidak apa."
Jaejoong tersenyum, mengusap kepala Kyungsoo dengan sayang. "Jika begitu aku titipkan bayi besar itu padamu ya, sedari tadi dia marah-marah karna kau tidak kunjung datang." Wanita itu mengatakan kalimat akhirnya dengan berbisik, sambil memberikan tatapan jahil pada Kai yang memasang wajah datarnya.
"Sudah ya, aku pergi dulu dan akan kembali besok siang. Yunho sudah menunggu dibawah."
"Hati-hati Ibu."
Kyungsoo mengantar Jaejoong sampai didepan pintu dan menguncinya setelah wanita cantik itu menghilang ditikungan lorong, gadis manis itu lantas berbalik menuju kearah kekasihnya yang bersandar diranjangnya sambil menonton tivi. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya lelaki itu sedang kesal.
"Hei," Kyungsoo naik keatas ranjang lalu duduk menyamping diatas pangkuan kekasihnya. Kai terkejut awalnya, namun dia bisa menguasai diri, dia hanya sedikit terkejut pada Kyungsoo yang akhir-akhir ini lebih sering melakukan skinship terlebih dahulu, padahal biasanya Kai lah yang akan memulai. Tapi lelaki itu tentu saja menyukainya.
"Jangan memasang wajah seperti itu, aku hanya meninggalkanmu beberapa jam saja kan? Lagipula kau ditemani Ibu Jaejoong." Kyungsoo menusuk-nusuk kecil pipi kekasihnya yang saat ini membawa pandangan tepat kearahnya.
"Tapi aku ingin ditemani olehmu." Tangan kiri Kai yang bebas kemudian merangkul pinggang Kyungsoo, direbahkan pula kepalanya di bahu sempit si gadis, menghirup aroma manisnya dalam-dalam sebelum memejamkan matanya dengan nyaman.
"Memang apa yang kau lakukan hm? Kau bilang hanya pulang untuk berganti baju."
"Iya iya, sepertinya aku tadi mandi terlalu lama."
"Hn, kau akan menemaniku disini kan?"
"Sebenarnya tidak, tapi sepertinya kau akan memaksa jika aku menolak."
"Ck, kau harus tetap disini bersamaku."
"Kau jadi manja jika sedang sakit." Kyungsoo terkekeh kecil, lalu membalas dengan melingkarkan lengannya dileher Kai. Sebenarnya dia ingin sekali memberitahu tentang dirinya yang mengunjungi Felix tadi, tapi dia urungkan, mungkin nanti saja setelah Kai sembuh, yang terpenting dia sudah menangkap sinyal baik dari lelaki Australia tersebut, hanya perlu merayu Kai agar lelaki itu mau berdamai dengannya.
Keduanya masih dalam posisi yang nyaman tersebut sampai dering ponsel Kyungsoo memecahkan keheningan. Kyungsoo melepaskan pelukannya terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel di dalam tas tangannya.
"Siapa?" Kai bertanya dan kembali menyambut Kyungsoo yang duduk dipangkuannya. Dia melirik layar ponsel kekasihnya dan seketika mengerutkan dahinya.
"Ayahmu." Tanpa membuang waktu Kyungsoo menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tersebut ke telinga kanannya tanpa menghiraukan ekspresi kekasihnya.
"Halo Ayah Kim."
Oh bahkan Kyungsoo sudah memanggil Hakyeon dengan panggilan Ayah, sebuah panggilan yang bertahun-tahun ini enggan Kai sebutkan untuk lelaki tersebut. Lelaki tan itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia akhirnya hanya diam memperhatikan interaksi kekasihnya tersebut dengan Hakyeon.
"Aku masih dirumah sakit menemani Kai." Kyungsoo menjawab dengan senyuman lantas melirik Kai yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Ayah jangan khawatir, aku akan menjaganya. Keadaannya? Ah dia sudah membaik, Dokter sudah memastikan jika tangannya yang patah akan sembuh dengan cepat."
"…."
"Ayah dan Ibuku sehat. Mereka bilang tidak sabar untuk bertemu denganmu."
"…"
"Ayah juga harus menjaga kesehatan. London sedang dilanda musim dingin saat ini, jangan lupa memakai pakaian yang hangat." Kai melirik Kyungsoo. Ah, di bahkan tahu dimana sekarang Hakyeon berada.
"…."
"Baiklah, aku akan menjaga putramu dengan baik. Hm, sampai jumpa Ayah." Kyungsoo lantas mematikan sambungan setelah beberapa menit lamanya berbincang, diatatapnya wajah Kai yang dingin lantas terkekeh kecil.
"Ei, jangan bilang kau cemburu karna aku berhubungan dengan Ayahmu ya?" Kyungsoo mencoba menggodanya namun sepertinya Kai sedang tidak ingin bercanda saat ini.
"Kalian terlihat sangat akrab." Kai tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, dia terkejut saat Kyungsoo mengatakan jika dia bertukar nomor ponsel dengan Hakyeon, tapi dia tidak menyangka mereka akan se akrab ini. Kyungsoo yang paham situasi memasang senyuman dan menenangkan kekasihnya tersebut.
"Dia beberapa kali menghubungiku bahkan bicara dengan orang tuaku."
"Apa?" Kai sungguh tidak percaya Ayahnya sudah sejauh ini, entah kenapa rasanya dia sangat kesal. Apa yang diinginkan Hakyeon? Kenapa dia terkesan mencampuri urusannya.
"Jangan marah begitu, beliau itu orang yang sangat baik. Ayahku bahkan menyukainya."
"Cih, itu karna kau tidak tahu seperti apa dia di masa lalu."
"Untuk apa kita melihat kembali di masa lalu jika sekarang beliau sudah berubah hm? Kau harus tahu Kai, Ayahmu menyesal dan dia sangat menyayangimu." Kai mendecih, memalingkan wajahnya ke arah lain saat Kyungsoo memeluknya dengan erat.
"Kai, apa kau mencintaiku?" Pertanyaan Kyungsoo membuat lelaki tan itu meliriknya sejenak dengan alis berkerut. Pertanyaan macam apa itu? Tanpa ditanyapun sudah pasti semua orang tahu apa jawabannya.
Kai bahkan tidak bisa hidup tanpa Kyungsoo.
"Kenapa kau masih bertanya? Apakah selama ini apa yang kulakukan belum cukup untuk membuktikan jika aku mencintaimu?" Kyungsoo bergumam, semakin menelusupkan kepalanya di dada bidang lelaki tersebut.
"Karna kau mencintaiku, apa kau mau mengabulkan satu permintaanku?"
"Tentu saja, apa itu?"
"Hm, berdamailah dengan masa lalumu. Aku ingin kau bertemu dengan Felix dan Ayahmu."
.
.
.
.
Haiii, Laxy here. Do you miss me? Ehe.
Pertama, rest in place untuk ayah kai, have a good day in heaven Mr. Kim^^
Kedua, ada sedikit masalah internal yang buat aku pengen banget hiatus bahkan berhenti dari dunia per-fanfictionan, tapi… mungkin ngga sekarang^^
Sorry for thypo,
Good night and sleep well everyone, jangan lupa besok hari senin^^
Terimakasih
See you again.
