Gadis Pantai
Original Story
Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer
Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Bagian Keempatbelas
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro Chanyeol yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang hina-dina.
Dan sepagi itu kepalan-kepalan udara sudah mulai memompa di dalam perutnya. Ia merasa malu, sangat malu, Di kampung nelayan sana tak ada wanita tergeletak seperti ini waktu mengandung. Dan ayam-ayam yang berkeruyuk seakan bersorak riuh-rendah menganjurkan kepalan-kepalan udara itu memompa lebih cepat, lebih gesit dan lebih sering. Ia teringat pada jagonya. Dia juga berkeruyuk setiap bapak berangkat ke laut. Tapi suaranya jago-jago kota ini kini dirasanya begitu aneh bunyinya, begitu menyindir.
Waktu matahari terbit dan seorang bujang wanita masuk ke dalam, ia mendapat kabar bahwa tamu wanita itu malam itu juga terus pergi.
Baekhyun mengucap syukur. Ia tahu, seorang Bendoro Chanyeol takkan usir istrinya yang sedang mengandung.
Dan dengan demikian ia menggeletak tiga bulan di dalam kamar yang selalu tertutup pintu dan jendelanya. Ia merasa seperti hidup di dalam gua. Dan ia pun merasa malu, sangat malu. Tak ada wanita kampung mengandung seperti dirinya. Mereka bangun setiap suami mereka turun ke laut. Mereka selalu hadir waktu perahu suami mereka berlabuh di muara. Dan mereka selalu turun ke dapur memasak buat anak-anak dan suami mereka. Tapi ia seorang diri menggeletak tanpa daya.
Waktu tiga bulan telah lewat, baru ia bisa bangun dan melakukan kewajibannya sehari-hari, tapi sementara itu Bendoro Chanyeol sangat jarang di rumah.
Orang bilang Bendoro Chanyeol selalu tinggal di mesjid. Makanannya pun diantarkan dari rumah. Dalam masa mengandung itu Baekhyun selalu diamuk rasa rindu. Ingin ia duduk atau tinggal lama-lama dengan suaminya, tapi ia hanya seorang budak sahaya. Kadang-kadang ia menangis seorang diri tanpa sesuatu sebab. Ah, seperti anak di bawah jantungnya ini bukan anaknya, tapi calon musuhnya.
Ia ingin berdoa pada Tuhan, mengadu tentang ketidakadilan yang dirasai, tapi ia tak mampu melakukannya. Ia tak tahu doa mana yang tepat buat itu. Ia tak pernah teruskan ngaji dan pelajarannya dengan naik. Dan ia menyesal. Ia serahlan segalanya pada nasibnya.
Tapi anak ini, anak ini, dia akan bernasib lebih baik dari ibunya. Dan takkan dilahirkan di sebuah kampung nelayan. Dia takkan diantarkan dari kampung pada seseorang Bendoro di kota. Dia akan dilahirkan di sebuah gedung besar yang kukuh, tak sepotong pun angin menerobosinya. Dia akan dilahirkan dalam kerajaan Bendoro Chanyeol, bapaknya sendiri. Dia akan ikut berkuasa bersama bapaknya, dia akan ikut memerintah. Dan dia akan turunkan bendoro-bendoro baru, tanpa perlu turun ke laut menangkap ikan, menantang ombak dan kegelapan malam, tak perlu rasai jilatan air laut pada kakinya.
Apabila perasaan kesunyian serta murung menyerangnya dengan mendadak tanpa sesuatu sebab, dengan sendirinya saja tangannya mengelus-elus mahluk baru yang aman terlindung di bawah jantungnya.
Selamatlah kau, anakku. Selamatlah kau, bawalah emakmu ini ikut selamat denganmu.
.
.
.
Masa-masa yang gelisah mengguncangkan telah lewat. Di depannya membentang masa indah, masa keibuan. Seorang mahluk kecil menghembus-hembuskan nafas di dalam pelukannya, seorang mahluk kecil akan menghisap dadanya. Yang kecil ini kelak akan menjadi besar, tapi dia harus dilahirkan dulu.
Dan pada suatu hari yang baik, tanpa saksi Bendoro Chanyeol, bayi itu lahirlah dengan pertolongan seorang dukun bayi mashur.
Dengan kelelahan dan terengah-engah Baekhyun menolong mahluk baru itu lahir ke dunia. Satu, dua, tiga, empat, lima menit tiada didengarnya mahluk baru itu bersuara. Mati?
"Mana, mana suaranya?" ia berbisik dan tangannya meraba-raba tubuh si jabang bayi. Ia rasai gumpalan daging yang hangat.
"Mana, suaranya?" ia berbisik dengan mata masih dipejamkan karena terlalu lelah.
Tak berjawab.
Suatu serangan ketakutan menyebabkan jantung Baekhyun berdebaran. Ia ingin bangkit dan meniupkan hidup ke dalam dada bayinya.
Bayi itu sama sekali tak bersuara, tak bergerak. Ia ingin menjerit mengguncangkan pendengaran si bayi supaya bangun, tapi tenaga itu tak ada padanya. Dan waktu ia buka matanya dan perhatikan si dukun, dilihatnya wanita itu sedang mengangkat-angkat kaki bayinya ke atas.
Begitu putih kulit si bayi, begitu kecil. Itulah anakku, anakku! Tapi mana suaranya, mana tangisnya?
Mulut si dukun berkomat-kamit membaca mantra. Baekhyun ingin menjerit. Matikah anakku diangkat-angkat begitu? Tapi tiada suara yang keluar dari mulutnya terkecuali lenguh kecil yang segera tenggelam dalam nafasnya sendiri.
"Sabar, Mas Nganten, sabar," dukun bayi berbisik.
"Ya, Allah, selamatkan dia."
"Demi allah, dia akan selamat."
"Mana suaranya?"
"Air tuban terlalu Banyak Mas Nganten," sambil terus mengangkat-angkat kedua belah kaki si bayi dengan tangannya.
Tiba-tiba terdengar bayi itu merintih, kemudian muncul jerit lemahnya.
"Anakku!"
"Dia sudah menangis Mas Nganten."
Baekhyun menarik nafas dalam, kemudian ia terlena, matanya tertutup dan tertidur kelelahan.
Beberapa menit kemudian waktu ia terbangun, seorang mahluk kecil tidur di sampingnya. Dengan sendirinya saja tangannya meraba-rabanya. Kedua tangannya lengkap, bisiknya. Kedua kakinya lengkap tanpa cacat. Hatinya lega. Kedua kupingnya pun lengkap. Matanya, bibirnya. Semua baik. Dan hidungnya ini, begini sederhana seperti hidungku.
Bayi itu tidur.
Di hadapannya dukun bayi itu masih menunggu duduk termenung di atas kursi rendah. Ia tersenyum padanya.
"Lelaki atau perempuan?" Baekhyun berbisik, dengan cemas-cemas berharap anaknya lelaki.
"Perempuan!" jawab dukun bayi.
"Bendoro Chanyeol sudah lihat?"
"Belum."
"Sudah keras nangisnya?"
"Belum."
Baekhyun menarik nafas panjang. Sekarang ia tunggu kedatangan Bendoro Chanyeol, dan seperti halnya dengan wanita-wanita kampung nelayan, ia akan bilang: Inilah anakmu, sembilan bulan lamanya aku besarkan dia di bawah ulu-hatiku. Terimalah dia, ini anakmu sendiri, aku cuma sekedar mengandungnya.
Pagi sebelum matahari terbit bayi itu mandi. Kini sudah jam sembilan pagi. Dan Bendoro Chanyeol belum juga datang menengok. Di kampungnya sana, seorang bapak takkan turun ke laut tiga hari sebelum anaknya lahir, dan tiga hari sesudahnya. Si bapak akan tunggu anaknya, akan jaga keselamatannya dan ibunya. Ia ingat tetangganya - baru sekali istrinya melahirkan. Ia berjaga siang malam di luar rumah. Dan waktu bayinya lahir menangis kencang, ia tubruk pintu, lupa pada wajahnya yang bercorengan air mata.
Sekarang kepada siapa anak ini kuserahkan kalau tidak pada bapaknya sendiri? Barangkali Bendoro Chanyeol tak pedulikan anaknya sendiri? Tidak, tidak mungkin, dia bapaknya, bapaknya sendiri. Tapi mengapa tak juga datang, sekalipun cuma buat menengok?
Dukun bayi itu turun dari kursinya, menghampiri Baekhyun dan menyeka air mata dari wajahnya.
"Bendoro akan datang."
"Sekarang sudah begini siang."
"Barangkali banyak pekerjaan."
Sore itu Bendoro Chanyeol datang membuka pintu kamar belakang Baekhyun, berhenti di samping daun pintu.
"Bendoro Chanyeol, ampunilah sahaya, inilah anak Bendoro..." tapi suara itu tak ke luar dari mulutnya. Ia terlalu takut.
"Jadi sudah lahir dia. Aku dengar perempuan bayimu, benar?"
"Sahaya, Bendoro."
"Jadi cuma perempuan?"
"Seribu ampun, Bendoro."
Bendoro Chanyeol membalikkan badan, keluar dari kamar sambil menutup pintu kembali.
Baekhyun memiringkan badan, dipeluknya bayinya dan diciumnya rambutnya...
.
.
.
Empat puluh hari kemudian si bayi membuka mata.
Dan Baekhyun mengagumi matanya sendiri di mata bayinya: agak sipit seperti matanya. Bibirnya pun ada di wajah bayi itu, hidungnya, resam tubuhnya yang kecil. Anak ini akan bertubuh kecil seperti aku, seenteng kapas.
Kini tak lagi ia merindukan Bendoro Chanyeol. Mata yang memandang dengan sopannya itu - apakah Bendoro Chanyeol tak ingin melihatnya? Ia ingin mempersembahkan anak ini pada bapaknya. Ia ingin anak dan bapak berpandang-pandangan mesra. Tapi Bendoro Chanyeol tak pernah menengoknya.
Demikianlah bulan demi bulan meluncur dengan cepatnya. Ia tak lakukan lagi pekerjaan-pekerjaanya yang dahulu. Tungku-batiknya sudah padam. Hanya kadang-kadang ia turun ke dapur memeriksa makanan.
Dan pada suatu hari tanpa diduga-duganya, bapak datang seorang diri dari kampung nelayan. Segera sang bapak mengangkat, menggendong dan mencium cucunya.
"Jadi sudah lebih tiga bulan umur bayimu?"
"Tiga setengah, bapak."
"Tak ada yang kasih kabar."
"Aku kira bapak datang buat lihat cucu."
"Tentu, tentu, kalau aku tahu. Sekarang aku datang buat melihatnya."
"Mau beli benang jala?"
"Tidak."
"Damar?"
"Juga tidak."
"Jarum?"
"Kau sudah kirimi kami sebanyak itu dulu. Tak perlu beli lagi."
"Emak, bagaimana emak?"
"Baik. Baik semua baik."
"Luhan?"
"Sedang mengandung."
"Syukur, Benar-benar si pendongeng turun ke laut?"
"Ya, benar. Dia ikut perahu kepala kampung sekarang. Semua orang suka padanya. Tapi sayang dia tak mau mendongeng lagi."
"Ada urusan datang ke kota, bapak?"
"Ada, tentu. Bendoro Chanyeol memanggil aku."
"Mungkin soal surau. Aku sudah hilangkan pada Bendoro Chanyeol, di sana sudah didirikan surau, guru ngajinya cukupan dan anak-anak sudah mulai belajar ngaji dan bahasa Arab."
"Mengapa tak dihilangkan tak ada yang sempat ngaji di sana? Sampai bocah-bocah kecil pun turun ke laut."
"Aku takut."
"Apa boleh buat."
"Jadi emak belum tahu, dia sudah bercucu sekarang."
"Belum, dia akan girang. Dia akan selamati cucunya."
"Bapak akan lama tinggal di kota?"
"Mungkin. Apalagi di dekat cucu."
"Bapak naik dokar?"
"Kemarin dokar dari kota datang. Kusir yang menyampaikan panggilan Bendoro Chanyeol. Dia nginap di sana, pagi-pagi kami berangkat ke mari."
"Bendoro Chanyeol sekarang jarang tinggal di rumah, bapak."
"Apakah bapakmu sendiri sering tinggal di rumah?"
"Sudah makan, bapak?"
"Sudah. Sudah. Emakmu bawakan aku nasi timbal."
"Apa yang kau bawa, bapak?"
"Bandeng. Di dapur sana. Bandeng sedang baik-baiknya sekarang."
Seseorang memberitakan Bendoro Chanyeol memanggil bapak.
Bapak menyerahkan si bayi pada Baekhyun dan menghadap. Tidak terdengar suara mereka di kamar belakang. Si bayi diletakkan kembali di ranjang oleh emaknya. Baekhyun kemudian duduk tepekur di kursi. Ia merasa bahagia dapat memberikan seorang cucu pada bapak. Kebahagiaan itu pun akan meningkat bila emak pun tahu akan kelahiran ini. Dan juga seluruh kampung. Mereka akan bangga: seorang di antara mereka telah dilahirkan dalam gedung besar di kota, jadi keturunan Bendoro Chanyeol.
Tak lama bapak pergi menghadap. Sebentar kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar. Wajahnya suram, langsung ia menuju ke ranjang si bayi dan menciuminya.
"Ada apa, bapak?"
Bapak meletakkan telapak tangannya lembut-lembut pada perut bayi.
"Mengapa bapak, mengapa diam?"
"Maafkan aku. Kumpulkan semua pakaianmu."
"Ada apa, bapak?"
"Jangan bertanya, nak, jangan bertanya. Kita akan pergi sekarang."
"Ke mana, bapak?"
"Pulang."
"Pulang?"
"Ya, pulang. Kau tak suka lagi pada kampungmu sendiri sekarang?"
"Mengapa tidak?"
"Mari pulang, nak. Ini bukan tempatmu lagi."
"Mengapa, bapak?"
"Mengapa? Kau telah dicerai."
Baekhyun menggigil di samping bapak. Bapak pun segera berdiri memapahnya.
"Tawakal, nak, Tawakal."
"Bapak!"
"Nak?"
"Aku belum persembahkan anak ini kepadanya."
"Persembahkanlah. Mari aku antarkan."
"Ini anak Bendoro sendiri, bukan anak orang lain."
"Aku antarkan. Mari."
Dengan bayi dalam gendongan, dengan bapak mengiringkan dari belakang mereka menghadap Bendoro Chanyeol yang sedang duduk di kursi goyang di ruang tengah. Segera Baekhyun duduk bersimpuh di atas lantai.
"Seribu ampun Bendoro. Sahaya dengar tuanku telah ceraikan sahaya."
Baekhyun terlupa pada ketakutannya demi bayinya.
"Apa kau tak suka?"
"Sahaya cuma seorang budak yang harus jalani perintah Bendoro."
"Apalagi?"
"Sahaya belum lagi mempersembahkan anak ini kepada Bendoro. Inilah putri tuanku Bendoro. Putri tuanku sendiri, bukan anak orang lain."
"Tidurkan dia di tempatnya."
"Sahaya adalah emaknya, sahaya yang hina ini, tuanku. Bagaimana sahaya harus urus dia di kampung nelayan sana? Ia anak seorang bangsawan, tak mungkin diasuh secara kampung."
"Aku tak suruh kau mengasuh anakku."
"Haruskah sahaya pergi tanpa anak sahaya sendiri, tuanku?"
"Kau tak pernah sebanyak itu bicara."
"Apakah yang takkan diperbuat seorang ibu buat anaknya?"
"Kau tinggalkan rumah ini! Bawa seluruh perhiasan dan pakaian. Semua yang telah kuberikan padamu. Bapakmu sudah kuberikan uang kerugian, cukup buat membeli dua perahu sekaligus dengan segala perlengkapannya. Kau sendiri, ini...," Bendoro Chanyeol mengulurkan kantong berat berisikan mata uang ... pesangon. "Carilah suami yang baik, dan lupakan segala dari gedung ini. Lupakan aku, ngerti?"
"Sahaya, Bendoro."
"Dan ingat. Pergunakan pesangon itu baik-baik. Dan ... tak boleh sekali-kali kau menginjakan kaki di kota ini. Terkutuklah kau bila melanggarnya. Kau dengar?"
"Lantas ke mana dia boleh pergi Bendoro?" bapak memprotes.
"Ke mana saja asal tidak di bumi kota ini."
"Sahaya, Bendoro."
"Apa lagi mesti kukatakan? Dokar itu sudah lama menunggu."
"Anak ini, tuanku, bagaimana nasib anak ini?" Baekhyun memekik rintihan.
"Anak itu? Apa guna kau pikirkan? Banyak orang bisa urus dia. Jangan pikirkan si bayi."
"Mestikah saya pergi tanpa anak sendiri? Tak boleh balik ke kota untuk melihatnya?"
"Lupakan bayimu. Anggap dirimu tak pernah punya anak." Baekhyun tersedan-sedan.
"Sahaya harus berangkat, Bendoro, tanpa anak sahaya sendiri?"
"Aku bilang kau tak punya anak. Kau belum pernah punya anak."
"Sahaya, Bendoro."
"Pergilah."
"Tanpa anak ini perhiasan dan uang pesangon tanpa artinya, Bendoro."
"Kau boleh berikan pada si bayi."
Baik bapak maupun Baekhyun terdiam kehabisan kata. Dan Bendoro Chanyeol menggoyang-goyangkan kursinya.
Baekhyun pun berjalan berlutut mundur-mundur kemudian pergi diikuti oleh Bapak. Sesampainya di kamar ia segera memeluk bayinya.
"Maafkan aku, anakku, tiada kusangka akan begini akhirnya."
"Kalau aku bersalah, apakah salahku, bapak?"
Bayi itu membuka matanya dan menangis.
"Kita pergi sekarang, nak."
"Ya, bapak, biarkan anakku minum dari dadaku buat penghabisan kali."
"Ya, biar dia minum. Barangkali buat penghabisan kali." Baekhyun membuka kutangnya, memberikan dadanya pada bayinya.
"Minum, nak, minum!" bisiknya.
Dan waktu bayi itu menyentuh kemudian menghisap ujung dadanya, diusap-usapnya rambut jarang si bayi dengan tangannya yang lain. Berbisik, "Apa yang takkan kuberikan kepadamu, nak? Apa yang takkan kukurbankan? Sekarang, sekarang hakku sebagai ibumu pun kurelakan buat kau!"
"Maafkan aku, nak," bapak berkata perlahan dari samping ranjang, "tiada kuduga sebelumnya seperti begini bakal jadinya."
"Ah, bapak, bapak orang baik. Bapak tidak salah, tidak keliru."
"Kau menangis tapi."
"Apa yang dapat bapak perbuat? Bapak cuma menangis begini."
"Ah, siapa tak sayang pada anak?"
"Ini anakku yang pertama, bapak."
"Maafkan bapakmu yang bodoh ini, nak."
"Kita maafkan semua dan segalanya, bapak, terkecuali satu..."
"Kau bijaksana, nak. Memang tak patut seorang ibu dibatalkan haknya sebagai ibu. Tidak patut. Tidak patut! Tapi cucuku itu, nak, dia bisa jadi priyayi, tidak seperti kita."
"Mengerikan, bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini. Ah, ah, mengapa bocah ini tak mau minum?"
"Tidak patut kita lebih lama tinggal di sini, nak. Kita tak punya sesuatu pun hak lagi di sini."
"Bapak benar, bapak benar. Anak ini, anak ini anakku. Kulahirkan dia dengan kesakitan. Lihat hidungnya. Bapak, itu hidungku. Dia anakku. Apa kurang darah yang telah kucucurkan? Duh-duuuh anak semanis ini - anak semanis ini! Pak, bapak, bapak kakeknya. Mengapa diam saja?"
"Apa mesti aku katakan, nak. Apa kurang cukup remasan di dalam hati melihat anak, anaknya sendiri seperti kau nasibnya. Seperti dia nasibnya? Kurang cukup itu?"
"Anakku, anakku, bayiku. Apa aku mesti bilang padamu?"
Kedua-duanya terdiam. Tapi keriuhan mengamuk di dalam hati masing-masing.
"Seperti kuburan rumah ini."
"Batu tanpa perasaan."
"Untuk ini mungkin kita harus dirikan surau?"
"Mari kita berangkat."
"Anakku ini... bagaimana anakku ini?"
Seseorang memanggil di depan pintu, kemudian:
"Dokar sudah tersedia di depan, Mas Nganten."
Baekhyun tersedan-sedan.
"Pakaianmu, nak, biar aku bereskan."
"Biar, bapak. Biarlah. Tambah banyak yang tertinggal di sini barangkali saja bertambah sering dia terkenang pada emaknya kelak."
"Apa kau pakai di kampung nanti?"
"Biarlah aku jadi seperti yang lain-lain."
"Ah, anakku."
Sekali lagi suara di depan pintu terdengar memanggil-manggil, "Dokar sudah tersedia di depan, Mas Nganten."
Bapak menatap Mas Nganten yang masih juga tergolek di ranjang memeluk bayinya.
"Jadi, bagaimana, nak, maksudmu?"
"Dia ini bayi, bapak, bayi. Biarlah dia minum dulu. Biarlah dia kenyang barang sedikit. Siapa tahu ini penghabisan kali dia menyusu emaknya sendiri."
"Tapi ini bukan rumahmu lagi, nak. Mari bawa si bayi ke luar rumah. Susui dia di bawah pohon tanjung di tepi alun-alun."
"Anak ini belum turun bumi. bapak, belum potong rambut, mana dia kuat menahan angin laut?"
"Aku ngerti, nak, sangat ngerti. Tapi kita tidak ada hak tinggal di sini lebih lama. Kau dengar sendiri, kuda dokar sudah siap menolong kita menjauhi tempat ini."
"Bagaimanapun dia pernah suamiku, bapak. Sebentar tadi dia masih suamiku. Mana mungkin dia begitu angkuh terhadap emak dari anaknya sendiri?"
"Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti."
"Tidak, bapak, kita tidak mengerti, tapi anak ini, anak ini."
"Dia akan dididik untuk tak mengenal kemiskinan, nak. Dia akan dididik untuk memerintah. Dia akan dididik untuk memerintah kau juga."
"Bayi ini anakku, bapak. Aku rela diperintahnya."
"Ah, bukan perintah itu yang menakutkan, nak. Kau tahu sendiri selain itu. Sayang aku baru tahu sesudah kejadian."
"Ini bayiku, bapak. Aku yang lahirkan dia. Biarlah aku lebih lama tinggal dengan dia. Biarlah dosaku pada Bendoro ku-perbanyak barang sedikit. Dia butuhkan dada emaknya. Ah, besok dia takkan minum susu emaknya lagi. Bapak tak mengerti ini?"
Bapak tak menjawab, hanya mondar-mandir gelisah. Akhirnya Baekhyun bangkit dari ranjang menghampiri bapak.
"Biar aku menghadap lagi, bapak. Bapak turunlah dulu dari rumah ini. Tunggu aku di depan mesjid, di alun-alun sana, di bawah pohon-pohon tanjung." Dilihatnya bapak jadi ragu-ragu, Baekhyun meneruskan, "Jangan kuatir, bapak. Turunlah."
Dengan pandang memerintah Baekhyun mengikuti gerak-gerik bapak.
Akhirnya bapak meninggalkan kamar, dan hilang dari pemandangannya. Baekhyun mengambil selembar selendang. Digendongnya anaknya. Beberapa kali diciumnya pada pipi, kening, jari-jarinya yang putih mungil.
Tiba-tiba ia tersedan-sedan seorang diri. Anak ini, anak ini bagaimana kau bakalnya, nak? Lambat-lambat ia melangkah ke pintu, menyeberangi ruang belakang memasuki ruang tengah. Dilihatnya Bendoro Chanyeol masih duduk di tempatnya dengan buku Hadith di tangan. Ia menghampiri tanpa meninggalkan suara, kemudian duduk di lantai di belakang kursi Bendoro.
"Seribu ampun, Bendoro."
Tanpa menengok Bendoro Chanyeol menurunkan Hadithnya. Ia mendaham.
"Seribu ampun, sahaya datang buat serahkan anak sahaya ini, anak sahaya sendiri, bukan anak orang lain, Bendoro. Terimalah dia Bendoro."
"Letakkan di ranjang!"
"Tidak mungkin, tuan."
"Kau tak dengar perintahku?"
"Sahaya ini emak si bayi. Kalau bapaknya pegang pun tak mau, apa pula merawatnya, Bendoro. Sebaiknya sahaya bawa pulang ke kampung."
Bendoro Chanyeol meronta bangun. Dan kursi goyang itu pun terayun-ayun tanpa penghuni. Ia berdiri menghadapi Baekhyun yang menunduk menekuri lantai.
"Murkailah sahaya ini, Bendoro. Bayi bukan perhiasan, bukan cincin, bukan kalung yang bisa dilemparkan pada setiap orang."
"Mulai kapan kau punya ingatan mau larikan bayi ini?"
Baekhyun mengangkat muka, menantang mata Bendoro Chanyeol. Perlahan-lahan ia berdiri tegak dengan bayi dalam gendongannya.
"Ayam pun bisa membela anaknya, Bendoro. Apalagi sahaya ini – seorang manusia, biar pun sahaya tidak pernah mengaji di surau."
"Pergi!"
Baekhyun memunggungi Bendoro, dan dengan bayi dalam gendongannya ia melangkah cepat menuju pintu.
"Tinggalkan anak itu!"
Baekhyun telah keluar dari pintu ruang tengah.
Bendoro Chanyeol meraih tongkat, meletakkan Hadith di atas meja kecil di sampingnya, lari memburu Baekhyun dan mendapatkannya di jenjang ruang belakang di tentang dapur rumah. Dan bujang-bujang telah berderet di depan pintu dapur dengan mata ketakutan.
"Tahan dia!" seru Bendoro Chanyeol sambil mengayun-ayunkan tongkatnya.
Seperti sebuah peleton serdadu, bujang-bujang - laki dan perempuan - lari menahan dan mengepung Baekhyun.
"Bukan pencuri aku!" teriak Baekhyun dengan lantang.
"Semua kutinggalkan di kamar. Aku cuma bawa anakku sendiri. Cuma anakku sendiri," kakinya menyepak tapi bujang-bujang lain mendesak.
"Maling!" bentak Bendoro Chanyeol.
"Ayoh. Lepaskan bayi itu dari gendongannya. Kau mau kupanggil polisi? Marsose?"
"Aku cuma bawa bayiku sendiri. Bayi aku! Bayi yang kulahirkan sendiri. Dia anakku, bapaknya seorang setan, iblis. Lepaskan!"
Seseorang memukul mulutnya hingga berdarah. Masih terdengar orang berbisik ke telinganya, "Kau hanya dipukul sedikit."
Ia tak tahu kepala tongkat Bendoro Chanyeol yang mengucurkan darah pada bibirnya. Bayi itu tahu-tahu telah lepas dari tubuhnya, dan selendang itu tergantung kosong di depan perutnya.
"Anakku sendiri dia!" raungnya.
"Lempar dia keluar!" Bendoro Chanyeol berteriak.
Satu gabungan tenaga telah mendorongnya ke pelataran tengah. Ia memberontak dan meraung. Waktu diangkatnya mukanya ke arah langit, dilihatnya pada jendela rumah tingkat di samping gedung seorang wanita melemparkan pandang kosong padanya. Dan Baekhyun mangadu:
"Dia bayiku sendiri! Biar bapaknya setan, biar iblis neraka, dia bayiku sendiri!"
Wanita di jendela itu menghapus matanya, membalikkan diri dan menutup jendela.
"Buat apa dia mesti rampas anakku? Selusin anak dia bisa buat dalam seminggu. Dia cuma siksa aku! Dia, Bendoromu itu. Dia cuma mau siksa bayiku, Bendoromu itu. Sini, mana bayiku. Berikan padaku."
Ia telah didorong melewati pintu pelataran tengah.
"Bayiku! Nak, anakku. Sini, kau, nak!"
Dengan kekuatan yang tersisa berusaha berjalan balik. Seseorang mendorongnya dengan kasar. Sebelum jatuh rubuh di pasiran ia masih sempat melihat pintu masuk ke pelataran tengah telah tertutup - tertutup buat selama-lamanya baginya. Ia dengar seseorang berbisik, "Maafkan kami, Mas Nganten."
"Aku tak boleh masuk ke sana lagi?"
"Tidak boleh, Mas Nganten, maafkan, beribu maaf. Kami telah berbuat kasar."
Baekhyun tersedan-sedan di atas pasiran.
"Putri Mas Nganten akan kami rawat. Percayalah."
"Sahaya akan gendong, sahaya bawa jalan-jalan kalau sore."
"Sahaya akan tunggui kalau malam."
"Terima kasih. Terima kasih."
"Mari sahaya antarkan ke dokar, Mas Nganten."
Seseorang menolongnya berdiri. Baekhyun tak melawan. Ia sandarkan diri pada orang-orang yang selama itu melayaninya sebagai bujang. Mereka membimbingnya keluar dari pelataran depan, turun ke jalan raya, ke tepian alun-alun. Dan bapak yang duduk bersandaran dengan lamanya pada pohon tanjung segera berdiri, terburu-buru menghampiri anaknya, kemudian memapahnya menaiki ke atas dokar.
Waktu dokar mulai berjalan, bapak berbisik menghibur. "Nasib kitalah memang, nak. Nasib kita. Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi."
"Kita ke mana, bapak?"
"Ke mana? Ke tempat kau dilahirkan. Ke tempat leluhurmu dikuburkan."
"Tak sanggup aku tentang mata mereka lagi, bapak."
"Tak ada tempat lain yang lebih pemurah dari kampung kita, nak."
Dan dokar berjalan terus menggelinding di atas jalan pos buatan Daendels. Cemara yang berkejar-kejaran tiada menarik perhatian semua yang ada di dalam dokar. Hutan-hutan jati dan bakau yang bergandeng-gandengan terkesan seakan gumpalan-gumpalan mendung yang melintas tanpa makna di malam hari.
"Apa mesti kukatakan pada emak?"
"Seorang emak, nak, biar tak lihat anaknya dia tahu apa yang ditanggungkannya!"
"Aku tahu penanggungan bayiku, bapak."
"Diamlah, tidurlah, nak. Tidur."
Ada masanya Baekhyun berusaha keras agar tak jatuh tertidur, menunggu kedatangan Bendoro Chanyeol. Kini bapak menyuruhnya tidur, dan ia tak mampu. Sedang bunyi telapak kuda yang berirama mengetuki daratan jalan raya yang keras itu, bergaung dalam hatinya, seperti ketukan-ketukan martil pada dinding-dinding jantungnya.
Dokar macam ini juga yang menyeret aku dari orang tuaku dan kampungku. Dan dokar macam ini pula yang menyeret aku dari perkawinanku dan anakku.
Ia rasai pelupuk matanya terlalu berat. Apa mesti aku kerjakan di kampung sana? Buat siapa aku mesti kerja?
"Bapak?"
"Ya?"
Tapi Baekhyun tak meneruskan. Ia teringat pada penduduk kampung yang menyusulnya dengan obor waktu ia pulang setelah kawin, ia ingat pada orang-orang yang menyebutnya Bendoro Putri. Ia ingat pada Baekhyun? Tapi segera ingatannya berbalik pada anaknya.
Sedang menangiskah dia sekarang, manisku itu? Ia raba dadanya yang sederhana. Dan kutangnya rasanya basah kena tetesan air susu. Betapa sia-sia buah dada ini diberikan kepadaku. Ah-ah, mengapa aku sesali buah dada yang telah dihisap anakku?
Kemudian ia teringat pada Bendoro Chanyeol: orang yang tinggi semampai tanpa otot - betapa besar kekuasaannya, biar pun tak pernah melihat laut! Disuruh apakah anakku kelak? Aku emaknya sendiri? Disuruh kelak hinakan emaknya sendiri? Ah-ah, dia bakal jadi serupa dengan bapaknya.
"Barangkali ini yang memang sebaiknya, bapak?"
"Nak"
"Kalau anakku besar nanti - kalau dia tahu emaknya cuma orang dusun dari kampung nelayan - barangkali dia malu punya emak seperti aku ini."
"Ah, anakku. Mengapa kau bilang begitu?"
"Aku, pikir, barangkali ini memang sebaiknya, biar begini berat rasanya. Biarlah ia tak perlu tahu emaknya. Dia akan jadi seperti bapaknya. Dia akan memerintah. Dia akan tinggal di gedung - tak perlu melihat laut. Ah, bapak, aku harus berikan semua itu. Aku harus berikan."
Matahari di atas sudah melewati puncak ketinggiannya sekarang. Beberapa gumpal mendung antara sebentar menutup matahari dan menyuramkan dunia.
"Hari sepanas ini dan hawa seberat ini. Hujan
bakalnya."
Betapa senang tinggal di gedung bila hujan jatuh. Tak setitik tampias menyinggung tubuh.
Dan mendung di langit semakin tebal. Kini guruh mulai menderu-deru berselingan dengan deburan laut. Waktu hujan turun kuda yang nampak kelelahan itu menjadi segar dan kuat kembali, lari gesit kedinginan.
Waktu hujan reda, dokar telah sampai di ujung jalan yang tak dapat lagi ditempuh oleh dokar. Baekhyun turun. Ia tebarkan pandangnya keliling. Ia masih hafal pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya. Tak ada sesuatu-pun perubahan pada pohon-pohon itu. Cuma air hujan membuat daun-daunnya nampak jadi lebih berat dan lebih hijau.
Ia dengar suara tangis bayinya. Buah dadanya dirasainya keras menekan dadanya, mendenyut. Ia mulai melangkah tanpa tenaga, kakinya telah lupa mengenakan sandal yang biasa dikenakan dalam tahun-tahun belakangan ini. Dirasainya pasir basah halus itu membelai telapak kakinya. Ditengoknya pasir-an di bawah kakinya. Ia terhenti.
Bekas telapak kaki yang ditinggalkan di pasiran itu, ruang jejaknya jauh lebih besar daripada yang pernah dicapkannya pada pasir kampungnya hampir empat tahun yang lalu. Sekali lagi buah dadanya mendenyut ngilu, sekujur punggungnya menggigil sedikit. Kembali ia dengar tangis bayinya.
Dia akan jadi priyayi. Dia anakku. Dia akan tinggal di gedung. Dia akan memerintah. Ah, tidak. Aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan. Tak ada orang mau dengarkan tangisnya. Kalau anak itu besar kelak, dia pun takkan dengarkan keluh-kesah ibunya. Dia akan perintah dan perlakukan aku seperti orang dusun, seperti abdi. Dia pelakukan aku seperti bapaknya memperlakukan aku kini dan selama ini. Ya, Allah, pergunakanlah kekuasaaanMu, buatlah dia tidak mengenal emaknya.
Buatlah aku takkan bertemu dengannya kelak. Tapi lindungilah dia. Dia anakku yang tak mengenal emaknya, tak kenal lagi air susu emaknya. Kembali ia merenungi tanah dan mengamati bekas telapak kakinya yang begitu besar. Waktu diangkat kepalanya ia lihat bapak berdiri di hadapannya.
"Kampung kita akan terima kau seperti dahulu waktu kau dilahirkan, nak. Semua orang datang dan memberikan berkahnya."
Indahnya orang-orang kampung di pinggir pantai itu. Baekhyun kembali teringat pada bayinya: tiada seorang menyambut kedatangannya terkecuali emaknya sendiri. Bapaknya sendiri pun tak acuh terhadap kelahirannya
"Memang berat di kampung, nak. Kau pernah mengalami hidup yang lain di kota."
Baekhyun melangkah dua tindak lagi. Tiba-tiba berseru pada kusir,
"Jangan jalan dulu, man!"
"Mengapa kau, nak?"
"Tidak, bapak, aku tak kembali ke kampung. Aku mau pergi jauh!"
"Nak."
Baekhyun bersimpuh mencium kaki bapak. Kainnya bergelimangan pasir basah.
"Ampuni aku, bapak. Aku tak dapat tentang mata emak, para tetangga dan semuanya. Ampuni aku, bapak. Aku akan pergi bawa diriku sendiri."
"Kau sudah janji takkan balik ke kota, nak?"
"Aku akan balik ke kota, bapak, tapi tidak menetap. Besok aku pergi ke selatan."
"Kau mau ke mana?"
"Ke Blora, Bapak."
"Kau, mau ikut siapa?"
"Dulu aku punya pelayan. Dia sudah diusir. Mungkin ke sana dia pergi, bapak." "Jangan, nak, mari tinggal di kampungmu sendiri. Kau tak kenal tempat
lain."
"Beribu ampun, bapak. Bapak pulanglah sendiri ke kampung. Belilah perahu besar model baru buatan Lasem. Dia akan gantikan aku sebagai anak bapak. Mintakan maafku pada emak, pada semua saudara, tetangga dan siapa saja. Anggaplah anak bapak sudah tiada lagi. Perahu buatan Lasem itu bakal jadi anak bapak yang paling ceria." Baekhyun berdiri, kemudian merangkul bapak.
"Beri aku uang sekedarnya, bapak."
Bapak masih berdiri termangu tak tahu apa mesti diperbuat. Baekhyun merogoh kantong bapak, mengambil beberapa mata uang perak, kemudian tanpa ragu-ragu menuju dokar dan naik ke atasnya.
"Kembali ke kota, man!"
"Bagaimana ini, kanca!" seru kusir itu pada bapak.
Bapak juga masih tak tahu apa mesti diperbuat. Baekhyun mengambil cambuk dan melecut kuda dari bawah perutnya. Kuda pun melompat dan lari. Roda-rodanya menggilas jalanan pasir, lari laju menuju jalan pos. Tanpa menengok ke belakang lagi Baekhyun memusatkan mata ke depan.
tbc...
